Catatanku

Entries categorized as ‘Seputar Bandung’

Bahasa Gaul Sampai ke dalam Kelas

11 November 2008 · & Komentar

Mengamati mahasiswa dan anak muda zaman sekarang berkomunikasi membuat kita senyum-senyum sekaligus miris. Saat ini hampir jarang kita mendengar mahasiswa berbicara dengan kata “saya” dan “kamu”, mereka lebih sering menggunakan “lu” dan “gue”, atau dalam beberapa variasi seperti “elo”, “lo”, “gua”, atau “gw”. Mungkin penggunaan kata “saya” dan “kamu” dirasakan mereka terlalu formal ‘kali ya atau terlalu kaku. Oh iya, penggunaan kata “lo” dan “gua” bercampur baur dengan dialek betawi. Misalnya seperti di bawah ini:

Eh, gue mau pinjem catetan kuliah probstat lo dong?”
“Boleh, nih, entar lo balikin nanti malem ya, gua belon bikin tugasnya nih?”
“Tugas apaan? Kok gue enggak tahu?”
Makenye lo jangan sering bolos dong

He..he..he, itulah bahasa gaul anak muda di Bandung masa kini, khususnya di kalangan mahasiswa (utamanya lagi di ITB). Yang mengucapkannya bukan hanya mahasiswa dari Jakarta dan sekitarnya, tetapi mahasiswa yang berasal dari daerah-daerah bukan Jakarta juga enjoy saja berbicara dengan teman-temannya menggunakan bahasa gaul ini. Jakarta minded. Jadi jangan heran kalau kita mendengar logat medok Jawa dalam ucapan seperti di atas, atau dialek Sunda yang khas, atau logat Minang/Melayu yang kental dalam mengucapkannya. Kadang-kadang salah lagi dalam pengucapannya. Itulah yang membuat saya tersenyum geli mendengarnya. Misalnya begini:

Gua nggak bisaan euy ujiannya” (Sunda banget ya)

Di Bandung yang pengaruh Jakarta begitu kental karena dekatnya jarak kedua kota ini, penggunaan bahasa gaul sudah menjadi hal yang biasa, tidak hanya di kalangan mahasiswa tetapi juga siswa-siswi SMA/SMP. Coba sekali jalan-jalan ke Jl. Belitung dekat SMA 3 dan 5, dengarkan bagaimana siswa-siswa SMA itu bercanda dan bercakap-cakap. Anda akan menemukan fenomena yang sama seperti di kampus-kampus lain di Bandung.

Sepanjang bahasa gaul itu untuk memperlancar komunikasi dan membuat lebih akrab tentu sah-sah saja digunakan. Bahasa memang bertujuan untuk berkomunikasi, bukan?

Namun yang membuat miris adalah ketika bahasa gaul itu masuk ke area formal seperti kelas kuliah, seminar, diskusi, dan bahasa tulis. Ketika saya memimpin sebuah diskusi di dalam kelas, seorang mahasiswi tidak sadar menggunakan kata seperti: “Kalau kata gue sih … “, atau ucapan seperti: “pendapat lo gak salah..”. Nah, bingung ‘kan kita kenapa bahasa mahasiswa kita jadi kacau begini ya?

Dalam seminar Tugas Akhir yang dihadiri oleh dosen dan mahasiswa, si mahasiswa TA tanpa sadar menanggapi pertanyaan dari temannya dengan bahasa gaul seperti “menurut gua…dst”. Seisi kelas tersenyum geli mendengarnya. Lupa ya mas ini di dalam kelas seminar? Yang paling sering adalah pengucapan kata-kata informal seperti “ukuran datanya lumayan gede“, atau “waktu eksekusinya lama banget“. Kata-kata slank yang mengandung akhiran “in” tidak terhitung terlontar dari mulut si mahasiswa TA, seperti “dimasukin”, “ditambahin”, “digabungin”, “dihilangin”, dan sebagainya. Tambah parah saja, bukan?

Itulah pentingnya belajar berbahasa yang benar, bukan sekadar belajar Bahasa Indonesia, tetapi belajar menggunakannya secara baik dan benar serta tahu tempat dan situasinya.

Kategori: Seputar Bandung · Seputar ITB

Banjir Spanduk Caleg

30 Oktober 2008 · & Komentar

Pemilu 2009 masih lama, tetapi masa kampanye sudah dimulai sejak bulan September yang lalu. Pada Pemilu kali ini kita tidak lagi mencoblos gambar Parpol, tetapi mencontreng (V) calon anggota legislatif (caleg) di parpol yang kita pilih. Ini berarti Pemilu 2009 ada kemajuan dibandingkan dengan Pemilu sebelumnya.

Konsekwensi dari sistem Pemilu seperti ini adalah para caleg melakukan kampanye untuk memperkenalkan dirinya (sosialisasi) kepada masyarakat. Media kampanye yang dipilih adalah poster atau spanduk. Spanduk yang menampilkan foto caleg dalam ukuran besar terpajang di tempat-tempat strategis (seperti foto di bawah ini, dipotret di depan Lapangan Gasibu, klik foto untuk melihat lebih besar).

Semakin tebal isi kantong si caleg, semakin besar ukuran spanduknya dan banyak jumlahnya di berbagai sudut kota. Caleg yang kantongnya pas-pasan cukup puas membuat spanduk yang berukuran mini, bahkan yang menggelikan juga ada yang hanya seukuran kertas A4 yang ditempel di tembok-tembok, mirip seperti iklan pemilihan Ketua RW. Pemilu kali ini juga makin menegaskan bahwa yang bisa menjadi caleg hanyalah orang-orang kaya saja. Untuk menjadi caleg di parpol saja mereka tentu telah menyetor “uang mahar” yang besar agar dapat nomor “jadi” (beberapa partai masih menerapkan jatah kursi DPR/DPRD berdasarkan nomor urut caleg, sebagian lagi berdasarkan suara terbanyak yang diraup sang caleg). Setelah terdaftar menjadi caleg di Parpol, mereka harus mengeluarkan uang lagi untuk kampanye parpol dan kampanye dirinya. Betul-betul menguras kekayaan pribadi caleg (tak apalah, nanti juga bakal tergantikan dengan gaji dan tunjangan caleg yang jumlahnya tidak terhitung, mulai dari yang resmi hingga yang tidak resmi :-) )

Kembali ke spanduk tadi. Semakin mendekat hari H tentu pemasangan spanduk caleg akan semakin banyak. Bisa kita bayangkan kota Bandung akan menjadi lautan spanduk. Jumlah caleg dari berbagai Daerah Pemilihan Bandung dan Cimahi saja ada ratusan. Itu baru caleg DPR RI, belum lagi caleg DPRD Tk I dan DPRD Tk II (kota Bandung). Setiap caleg mungkin membuat lebih dari satu spanduk sehingga diperkirakan jumlah spansuk mencapai ribuan. Pemasangan ribuan spanduk caleg dapat merusak estetika kota. Hidup kita selama setahun ke depan akan dipenuhi oleh gambar orang-orang yang sebagian besar tidak kita kenal. Mereka mengumbar janji-janji yang manis-manis untuk merayu orang memilih mereka pada Pemilu 2009 nanti.

Saya berpikir, apakah Pemerintah Kota tidak membuat beberapa tempat pemasangan media kampanye Pemilu 2009 yang dapat memuat foto-foto ratusan caleg itu, jadi kalau kita ingin tahu wajah sang caleg cukup datang ketempat itu untuk melihatnya dan membaca janji-janji manisnya. Tapi saya pesimis, mungkin Pemkot tidak sampai berpikiran begitu ya, sebab gemerincing uang dari pemasangan iklan luar ruang akan lenyap jika spanduk kampanye caleg disederhanakan seperti itu.

Ada pendapat?

Kategori: Seputar Bandung

MQTV Bangkrut, Tayangan Tilawah Hilang

23 Oktober 2008 · & Komentar

Malang benar nasib stasiun MQTV di Bandung. Sejak pudarnya pamor Aa Gym (yang langsung atau tidak langsung disebabkan oleh pernikahan kedua Aa Gym), satu per satu bisnis milik Pesantren Daarut Tauhid (yang identik dengan milik Aa Gym juga) bangkrut, salah satunya MQTV.

MQTV ini unik, karena ia satu-satunya stasiun TV dakwah yang seluruh acaranya ditujukan untuk mengajak orang berbuat kebaikan (amar ma’ruf nahi munkar). Yang saya paling suka dari stasiun TV ini adalah acara tilawah Alquran, yaitu pemutaran VCD murottal Al-Quran. Menjelang dan sesudah shalat Maghrib dan satu jam sebelum tutup siaran, ada pembacaan murottal dari qari yang bersuara enak. Setiap ayat yang dibaca oleh qari selalu ada teks arab dan terjemahannya, dan sebagai latar belakang adalah video yang berhubungan dengan kandungan ayat. Ketika ayat yang sedang dibaca bercerita tentang hari kiamat, maka tayangan video memperlihatkan tentang bencana alam dahsyat, gunung meletus, dan sebagainya.

Saya di rumah jarang menonton TV, karena sebagian besar acara TV di Indonesia tidak bermanfaat, tidak mendidik, hedonis, penuh kepalsuan, dan konyol. Menjelang tidur, saya biasanya menghidupkan TV untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-quran dari MQTV. Di keheningan malam melihat tayangan murottal ini sungguh menenteramkan hati. Saya jadi terhanyut mendengarkalan lantunan ayat suci dan tayangan video yang menarik itu.

Tetapi sekarang siap-siap saja publik Bandung tidak dapat menikmati MQTV lagi. Krisis keuangan pada staisun TV ini memaksa mereka mem-PHK karyawan dan mungkin saja mereka tutup siaran. MQTV memang paceklik iklan yang merupakan ‘nyawa’ dari sebuah media massa. Tanpa iklan hampir tidak mungkin stasiun TV bisa bertahan. Sebenarnya kalau mau jujur, kemasan sebagian besar acara MQTV memang kurang menarik, monoton, kaku, dan tidak punya nilai jual. Jangankan bersaing dengan stasiun TV nasional, dengan stasiun TV lokal lain pun mereka kalah. Dulu MQTV dibangun dengan semangat yang tinggi, memanfaatkan nama besar Aa Gym yang tengah naik daun. Ketika pamor Aa Gym redup, redup pula nafas stasiun TV ini.

Menurut saya, Aa Gym boleh redup, dia kan manusia biasa, fana. Tiada yang abadi di dunia ini, termasuk kejayaan dan popularitas. Meski Aa Gym redup, tetapi dakwah harus tetap jalan. Saya berharap stasiun TV ini tetap eksis untuk menyiarkan program acara yang mengajak orang berbuat amal shaleh, di tengah kepungan siaran TV lain yang menayangkan hedon.

Kategori: Seputar Bandung

Bandung Panaaass

22 Oktober 2008 · & Komentar

Siapa bilang Bandung sejuk? Waaah…. zaman baheula kali Bandung sejuk. Sekarang ini Bandung panaaass pisan. Pagi jam 8 saja sudah panas, siang apalagi, kalau malam terasa gerah. Sudah panas, banyak nyamuk lagi sehingga tidak bisa tidur. :-(

Saya baca di koran, suhu kota Bandung saat ini sudah 32 hingga 33 derajat Celcius, sudah sama dengan suhu kota Jakarta. Kapan lagi suhu kota Bandung seperti dulu kala yaitu 26 derajat Celcius yah? Apa harus menunggu musim hujan dulu?

Efek pemanasan global kah? Mungkin saja.

Saya masih ingat pada zaman masih kuliah tahun 85-an dulu. Saya kos berpindah-pindah, mulai dari Cisitu Lama, Tubagus Ismail, sampai Pelesiran. Semuanya masih di Bandung Utara, dekat kampus. Kalau pagi hari mau mandi atau mau wudlu untuk shalat Subuh, wuiihhh… air di bak mandi terasa bagaikan air es. Dingiiin sekali (jadi ingat Bukittinggi). Tapi setelah diguyur air, badan terasa segar.

Nah, kalau pergi kuliah, kami kebanyakan mahasiswa ITB pakai jaket (kalau sekarang memang ada beberapa orang mahasiswa tampak pakai jaket, tetapi itu jaket Himpunan, yang dipakai bukan untuk mengusir hawa dingin, tetapi untuk menunjukkan jatidiri dan kebanggaan terhadap Himpunanannya). Dulu saya sampai memiliki jaket beberapa buah. Saat melewati lapangan bola di tengah kampus (sekarang sudah jadi LabTek V, VI, VII, dan VIIII), kabut turun menutupi lapangan (jadi ingat kebun teh di Puncak). Lurus mata memandang terlihatlah Gunung Tangkubanperahu yang elegan.

Nostalgia dinginnya Bandung pada zaman saya kuliah sudah hampir tidak ditemukan lagi saat ini. Sekarang saja kalau menaruh tangan ke dalam bak kamar mandi di dalam kampus sudah tidak terasa dingin seperti air es. Biasa-biasa saja.

Ya, ya… wajar Bandung suhunya sudah tidak sejuk lagi. Bandung sudah padat penduduk (3 juta jiwa di siang hari), kendaraan bertambah banyak, pabrik bertebaran di dalam dan pinggiran kota, polusi udara, dan lain-lain. Semuanya ikut menyumbang kenaikan suhu kota.

Meskipun demikian, Bandung masih tetap nyaman buat hidup dibandingkan Jakarta. Tidak heran jika banyak orang yang tetap memilih tinggal di Bandung tetapi mencari nafkah di Jakarta. Jakarta-Bandung hanya 2 jam, bo! Jakarta hanya dianggap ladang tempat mencari sepiring berlian, sepiring nasi tetap dimakan bersama keluarga di Bandung.

Kategori: Seputar Bandung

Oh, Bapak Penarik Gerobak Sampah

20 Oktober 2008 · & Komentar

Mungkin hidup ini terasa begitu berat bagi bapak penarik gerobak sampah ini, mungkin lebih berat daripada sampah yang memenuhi gerobaknya. Untuk menarik gerobak sampah itu dua tangan saja tidaklah cukup, masih harus ditambah dengan tali yang dikalungkan ke dada, persis seperti seekor kerbau yang menarik pedati, bedanya pada kerbau tali dikalungkan ke leher. Dengan kekuatan tarikan tangan dan hentakan tali di dada itu, Bapak di bawah ini terengah-engah menarik gerobak sampahnya di antara deru mobil dan sepeda motor di Jalan Dago. Dipotret di Jalan Juanda Dago Bandung tadi siang (klik foto untuk melihat lebih besar).

Hati siapa yang tidak tersentuh melihat pemandangan yang kontras seperti ini?

Di Bandung, gerobak sampah terlihat tidak manusiawi. Gerobak harus ditarik dengan tenaga manusia. Bapak penarik sampah mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah. Sampah yang telah menggunung di di dalam gerobak diangkut ke TPS (tempat pembuangan sementara). Untuk menarik gerobak sampah yang berat itu (beberapa gerobak sampah di pemukiman jauh lebih besar daripada gerobak di dalam foto di atas), penarik sampah menambahkan tali dari kain kasar yang diikatkan ke gerobak sampahnya dan ditarik dengan kekuatan badan. Maka, seperti yang saya tulis di atas, bapak penarik sampah menghela gerobak sampahnya dengan tangan dan dadanya.

Mengapa gerobak sampah itu tidak dlengkapi saja dengan motor supaya terkesan lebih manusiawi? Entahlah, barangkali Bapak Walikota Bandung mungkin tidak punya uang untuk membeli motor buat ratusan gerobak sampah itu.

Honor bapak penarik sampah itu tidak seberapa, mungkin lebih kecil dari honor seorang pembicara pada sebuah seminar, bahkan mungkin lebih kecil dari honor mahasiswa yang memberi pelatihan singkat di sebuah tutorial.

Yang pasti merekalah pahlawan kota ini, tanpa bantuan mereka kota Bandung mungkin menjadi lautan sampah lagi.

Kategori: Seputar Bandung

Anak Tersayang Itu Tewas Mengenaskan

9 September 2008 · & Komentar

Duh, hati siapa yang tidak pilu mendengar kejadian yang mengenaskan ini. Seorang bocah kecil, perempuan 3 tahun, Abia namanya, tewas terseret kuda yang ditungganginya di Jalan Tamansari Bandung hari Sabtu 6 September 2008 kemaren. Kejadiannya di lokasi wisata seputaran kampus ITB, tempat yang sering dijadikan arena berkuda bagi anak-anak. Seperti yang ditulis oleh koran PR, Abia diantar kakeknya naik kuda yang biasa mangkal di seputaran jalan Ganesha. Abia naik kuda, sementara pemilik kuda berjalan mengiringinya di samping. Kakek Abia kemudian menunggu di Jalan Gelapnyawang. Malang tidak dapat ditolak, ketika melewati Jalan Tamansari (depan BNI), sebuah mobil Kijang Innova menabrak pemilik kuda hingga berlumuran darah. Karena kaget, sang kuda lepas kendali dan berlari cepat. Abia yang berada di atas kuda jatuh, tetapi kakinya tersangkut pada tali pegangan kaki. Kuda berlari sepanjang 500 meter menyeret tubuh bocah malang dengan kepala ke bawah membentur-bentur jalan aspal. Pengemudi Kijang yang menabrak pemilik kuda pun kabur (menurut kabar terakhir polisi berhasil menangkap orang ini).

Bayangkan, bocah kecil itu pasti menjerit-jerit histeris ketika diseret kuda yang tidak terkendali sepanjang 500 meter sebelum akhirnya dia tewas secara mengenaskan. Duh, saya yang membaca berita ini tidak bisa menahan mata yang basah mengenang jeritan bocah malang ini. Anak seusia 3 tahun itu lagi lucu-lucunya, dia permata ayah bundanya. Saya saja yang mempunyai 3 orang anak kecil mengetahui persis betapa kasih sayang orangtua tumpah pada anak-anak yang masih lucu-lucu itu. Anak-anak adalah harta yang tidak ternilai harganya. Maka, jika mendengar ada bocah kecil yang tewas karena kelalaian orang lain, saya tidak bisa menahan air mata kepiluan meskipun dia bukan anak saya. Terbayang anak sekecil itu harus menghadap illahi demikian cepat. Pada akhir bulan Agustus yang lalu seorang bocah kecil jatuh dari jendela apartemen lantai 20 di Jakarta. Tubuhnya menghempas bumi dan remuk seperti tape yang dijatuhkan dari atas. Lalu, masih ingat di benak saya dua tahun lalu, ketika seorang ibu (alumni ITB juga) membunuh 3 orang anaknya yang manis-manis dengan cara menyekap wajah anak-anaknya yang sedang tidur dengan bantal, saya tidak bisa tidur satu minggu karena terbayang-bayang kekejian orang tua pada anaknya itu. Mata saya basah berkali-kali dan ketika menuliskan posting-an itu tangan ini bergetar membayangkan nasib naas yang menimpa mereka. Heran, padahal saya tidak mengenal anak-anak itu. Saya yakin setiap orangtua yang punya anak kecil pasti mempunyai perasaan yang sama dengan saya.

Abia, semoga kamu sudah berada di taman surga ya. Ayah ibumu sudah merelakan kepergianmu. Mungkin sudah takdir hidupmu pergi begitu cepat. Allah SWT sangat sayang kepadamu sehingga dia memintamu kembali.

Bagi saya yang tertinggal adalah rasa ngeri melepas anak kecil naik kuda di Jalan Ganesha. Tidak hanya naik kuda, tetapi melepas anak-anak yang masih kecil tanpa pengawasan orang dewasa besar sekali risikonya. Semoga kita yang diberi amanah titipan ilahi dapat menjaga dan melindungi anak-anak kita dengan baik.

Kategori: Seputar Bandung · Seputar ITB

Tiga Alasan Kenapa Pak Taufik Kalah di Pilwalkot Bandung

11 Agustus 2008 · & Komentar

Pemilihan walikota Bandung sudah usai dilaksanakan hari Ahad 10 Agustus kemaren. Hasil quick count pun sudah sama-sama kita ketahui baik dari media online maupun dari koran lokal Bandung. Pasangan Dada-Ayi (Pak Dada Rosada calon incumbent sekarang) mendapat suara mutlak sekitar 60 persen lebih, pasangan Taufikurrahman-Abu Syauqi hanya mendapat 22 % sedangkan pasangan calon independen Hudaya-Nurhadi hanya mendapat 9%. Hasil quick qount ini sepertinya tidak akan berubah hingga selesai perhitungan nanti. Pemenangnya sudah bisa dipastikan Pak Dada Rosada.

Kemaren waktu nyoblos saya memilih pasangan Trendi (Pak Taufik dan Abu Syauqi). Alasannya sederhana saja, pertama Pak Taufik adalah sesama rekan kolega dosen di ITB, dan kedua karena partai pengusungnya adalah PKS (he..he, simpatisan nih ceritanya). Di TPS tempat saya memilih di kawasan Antapani, yang menang adalah pasangan Trendi, tetapi ketika jalan-jalan mengecek di TPS lainnya, mayoritas yang menang adalah Pak Dada. Dari beberapa TPS itu saja saya sudah menyimpulkan Pak Taufik bakal kalah. Ternyata prediksi ini terbukti benar setelah hail quick count keluar.

Saya tidak kaget Pak Taufik kalah. Seminggu sebelum hari H saya sudah melihat kemungkinan Pak Taufik tidak mungkin menang. Awalnya sih, kira-kira sebulan sebelum hari H, saya memprediksi Pak Taufik yang akan menang dengan beberapa alasan: (1) pengalaman Pilkada menunjukkan calon incumbent biasaanya selalu kalah dalam berbagai Pilkada di Indonesia, tapi hal itu ternyata tidak berlaku buat Pak Dada, (2) di Bandung jaringan PKS sangat solid, maklum waktu Pemilu 2004 lalu PKS adalah partai pemenang di Bandung, (3) Pak Taufik dan Pak Abu Syauqi adalah pasangan paling muda usia (ini warning buat PKS yang sering melontarkan wacana pemimpin muda, ternyata muda atau tua bukan jaminan bisa terpilih). Ternyata alasan saya ini terbukti salah untuk Pilkada Bandung.

Menjelang hari H beberapa hasil jajak pendapat memenangkan Pak Dada. LSI (Lembaga Survey Indonesia) misalnya, secara mencolok memasang iklan secara sporadis di koran lokal Bandung dan secara “berani” menetapkan pemenangnya adalah Pak Dada (menilik hasil survei selama Juni, Juli dan Agustus). Iklan ini memang mampu mempengaruhi psikologis pemilih atau setidaknya menggiring opini publik bahwa Pak Dada yang paling unggul.

Dari segi program sebenarnya program kerja Pak Taufik-Abu Syauqi lebih berbobot dibandingkan pasangan lain. Debat di televisi juga memperlihatkan kualitas Pak Taufik yang doktor ini terlihat unggul. Tetapi, sebagus apapun programnya, pemilih tetap melihat figur. Pemilih di Indonesia tidak melihat gelar akademis atau program sang calon sebagai referensi memilih. Yang dilihat adalah ketokohan, dikenal apa tidak. Ini pula yang menjadi alasan kenapa Heryawan-Dede Yusuf yang menang waktu PilGub Jabar kemaren. Orang Jabar tidak kenal siapa itu Heryawan, tetapi mereka sangat tahu siapa itu Dede Yusuf, seorang artis yang wajahnya malang melintang di layar kaca. Heryawan bisa menang karena faktor figur Dede Yusuf yang sudah lebih dulu populer khususnya di kalangan kaum ibu.

Nah, berdasarkan beberapa data yang saya terima, maka saya menyimpulkan sedikitnya ada 3 alasan kenapa Pak Taufik kalah dalam Pilwalkot ini:
1. Popularitas. Figur Pak Taufik belum dikenal oleh warga Bandung. Dari ketiga pasangan calon, pak Dada yang tingkat pengenalan oleh warga Bandung paling tinggi. Ya benar juga sih, dia kan wallikota sekarang, nama dan wajahnya sering muncul di media massa. Pak Taufik hanyalah seorang dosen di ITB, belum menjadi siapa-siapa. Meskipun PKS memasang ribuan poster Pak Taufik-Abu Syauqi hampir di semua tembok, dinding, tiang listrik, pagar pembatas, dll, sebagai cara untuk sosialisasi, tetap saja ribuan poster itu tidak mampu mengangkat popularitas Pak Taufik. Saya pikir alasan pertama ini adalah penyebab utama mengapa Pak Taufik gagal meraih dukungan.

2. Pak Dada manjabat sebagai incumbent, maka dia menggunakan posisinya itu untuk merebut simpati warga Bandung dengan berbagai proyek realistis sesuai dengan fungsi dan kewenangannya. Pak Dada lah walikota yang berani menutup lokalisasi Saritem di Bandung. Orang Bandung pasti mahfum dengan Saritem. Makanya tidak heran ormas-ormas Islam seperti MUI, FPI, Muhammadiyah, Persis, NU, dll mendukung Pak Dada sebagai bentuk “terima kasih” karena telah mengabulkan tuntutan mereka agar Saritem ditutup. Trus, seminggu sebelum hari H, Pak Dada pula yang menambal jalan-jalan berlubang di berbagai pelosok kota. Jalan Purwakarta Raya di kawasan Antapani Bandung misalnya, yang selama ini banyak bolong-bolongnya dan sering bikin ngedumel warga perumahan di sana, eh. tiba-tiba diaspal bagian yang berlubang itu sehingga menjadi mulus. Pengaspalan dikerjakan malam-malam, pagi-pagi warga sudah kaget kok jalannya sudah tidak berlubang lagi, sudah mulus. Siapa lagi yang punya kerjaan begitu kalau bukan Pak Dada. Proyek semacam ini jelas tidak bisa dilakukan oleh Pak Taufik dan Pak Hudaya karena tidak punya uang dan wewenang untuk itu.

3. Pasangan Trendi dilanda kampanye hitam. Menurut saya nih PKS “salah” memilih calon wakil walikota. Kalau Pak Taufik sih sudah tepat. Masalahnya ada pada Abu Syauqi. Abu Syauqi yang dicalonkan mendampingi Pak Taufik menurut saya bukan pilihan yang bagus karena rentan dengan cobaan fitnah. Abu Syauqi adalah pengelola Rumah Zakat yang sudah mapan dan cukup besar di Bandung. Dan ternyata dugaan saya benar, selebaran gelap beredar di tengah masyarakat yang melontarkan fitnah bahwa Abu Syauqi menggunakan dana zakat untuk kampanye Pilwalkot. Saya sih tidak percaya, tetapi yang namanya fitnah pasti ada yang termakan. Nampaknya kedepan PKS perlu lebih berhati-hati mencalonkan orang yang punya lembaga amal. Ternyata cobaan belum berakhir. Abu Syauqi dilanda isu poligami. Saya tidak tahu apa benar Abu Syauqi melakukan poligami, tetapi isu poligami sangat sensitif terutama buat kaum ibu dan perempuan yang merupakan kelompok pemilih terbanyak. Di jalan Dago saya lihat spanduk besar yang berisi ajakan jangan memilih pemimpin yang melakukan poligami. Spanduk itu mengatasnamakan kaum perempuan Bandung. Semula saya tidak ngeh siapa yang dimaksudkan, tetapi dari berita di media online isu poligami itu diarahkan kepada Abu Syauqi. Tampaknya PKS tidak belajar dai kasus Aa Gym yang pamornya meredup sejak melakukan poligami. Menurut saya sih poligami dan Pilwalkot adalah dua masalah berbeda. Itu hak sang calon melakukannya, tetapi kita juga tidak bisa menyalahkan orang jika mereka antipati kepada pelaku poligami. Sikap saya tentang poligami sudah jelas: dihalalkan oleh agama tetapi dengan sejumlah syarat yang sangat berat yaitu berlaku adil. Abu Syauqi dan Aa Gym mungkin mampu memenuhi syarat itu, tetapi jika berhadapan dengan opini publik yang masih memandang negatif poligami, mereka akan tersudut. Seberapa besar isu poligami ini mempengaruhi pemilih memang belum ada penelitiannya.

Kalah atau menang biasa dalam demokrasi. PKS saya rasa cukup terhibur dengan raihan 22 % suara, dibandingkan 60% suara Pak Dada yang merupakan koalisi dari 6 partai. 22% adalah modal minimal untuk meraih suara pada Pemilu 2009 nantii.

Kategori: Seputar Bandung

Pilwalkot Bandung, Pilih Siapa nih?

21 Juli 2008 · & Komentar

Usai Pilkada Jabar bulan April 2008 yang lalu, orang Bandung akan “direpotkan” lagi dengan pemilihan walikota Bandung. Kota Bandung yang besar, sejuk (duluuuu, sekarang mah panas), padat, mempunyai banyak masalah yang rumit yang hingga sekarang tidak jelas bagaimana solusinya. Beberapa masalah itu adalah:

1. Kemacetan. Lebar jalan yang sempit, ruas jalan yang pendek-pendek (tiap ketemu perempatan ada lampu merahnya), angkot yang bejibun jumlahnya, dan pertumbuhan jumlah kendaraan yang luar biasa, membuat macet hampir di semua jalan. Apalagi kalau sudah Sabtu dan Minggu, atau long weekend, mobil-mobil orang Jakarta menguasai hampir semua ruas jalan di Bandung. Maceeeet…. pisan. Lebih baik tidak keluar rumah pada akhir pekan.

2. Pedagang kakilima yang bikin semrawut. Hampir semua trotoar jalan sudah dikuasai oleh gerobak dan lapak pedagang kakilima. Tidak ada tempat yang aman buat pejalan kaki. Bagaimana menata para PKL ini secara elegan? Di satu sisi mereka butuh makan, di sisi lain kehadiran mereka membuat kesemrawutan.

3. Sampah. Kota Bandung menjadi lautan sampah dalam beberapa tahun terakhir. Hampir semua kelurahan di kota Bandung menolak tanahnya dijadikan tenpat pembuangan sampah. Mau dikemanakan sampah itu? PLTSa? Orang Bandung Selatan sudah menolak pembangkit listrik sampah itu.

4. Bobotoh Persib. Terpaksa deh bobotoh Persib dimasukkan ke dalam daftar masalah. Fanatisme mereka terhadap Persib terlalu berlebihan dan sering merugikan warga kota. Kalau Persib menang main di kandang, orang Bandung akan merasa lega. Tapi kalau kalah? Siap-siap saja minggir dari jalan. Mobil-mobil yang melintas akan ketiban apes menjadi mangsa keberingasan mereka untuk meluapkan kemarahan. Seperti kemaren tuh Persib kalah melawan Persija (yang dianggap sebagai “musuh” bebuyutan Persib) dengan skor 2-3, para bobotoh merusak mobil-mobil berplat B yang melintas. Dikiranya pemilik mobil ini orang Jakarta; jadi jika mereka tidak bisa melampiaskan kemarahan kepada pemain Persija, maka mobil-mobil orang yang tidak tahu apa-apa menjadi sasaran kemarahan mereka.

5. Lahan di Bandung utara yang dijajah menjadi kawasan pemukiman mewah sehingga dapat mengancam sumber air tanah yang menjadi andalan warga kota. Sekarang ini air tanah semakin menipis, mata air banyak yang hilang, debit air berkurang. Untuk menggali sumur orang perlu bermeter-meter dalamnya. Suatu hari nanti air akan menjadi sangat mahal karena sukar diperoleh.

6. Pengamen jalanan dan anak jalanan. Perhatikan setiap kali melintas perempatan, kita akan diserbu oleh para pengamen dan anak jalanan yang mengais sedikit uang. Kasihan anak-anak itu, mereka terpaksa mencari uang di jalan tapi uang yang diperoleh sering digunakan untuk miras, rokok, dan ngelem (istilah untuk menghirup lem Aica Aibon).

7. Geng motor. Ulah geng ini bikin bulu kuduk merinding. Mereka kalau sudah bergerombol menjadi beringas, siapapun yang mereka temui di jalan entah lagi berdiri, duduk-duduk,a tau lewat dengan sepeda motor, akan mereka sikat. Toko 24 jam seperti Circle-K juga berani mereka jarah. Sudah banyak korban yang jatuh, yang mati juga ada.

Apalagi ya yang termasuk masalah kota ini? Pengangguran, pasti itu. Urbanisasi, jelas. Masalah yang mencemaskan namun luput dari perhatian adalah minuman keras yang mudah diperoleh, prostitusi, dan kemaksiatan.

Dengan masalah yang segudang itu, siapakah calon walikota yang mampu menyelesaikannya?

Ada tiga pasangan calon yang akan bersaing memperebutkan kursi panas ini. Yang pertama adalah calon incumbent yang tidak lain walikota sekarang, Pak Dada Rosada, berpasangan dengan Pak Ayi Vivananda (nama belakangnya unik). Pasangan ini dicalonkan oleh Golkar-PDIP. Lihat situs web mereka di sini.

Pasangan kedua adalah dosen Biologi ITB Pak Dr. Taufikurrahman yang berpasangan dengan pengelola Rumah Zakat, Abu Syauqi. Pasangan ini dicalonkan oleh PKS. Lihat situs webnya di sini.

Pasangan terakhir adalah dari jalur independen, non partisan. Namanya masih asing, tetapi foto-foto, spanduk, dan posternya sudah memenuhi tembok-tembok dan jalan-jalan. Namanya Hudaya Prawira dan Nahadi. Nama yang terkahir ini juga dosen, tetapi dari UPI (lihat situs web mereka di sini).

Nah, siapa ya yang akan menang? Menurut saya ketiga pasangan calon sama-sama kuat. Pak Dada, dia walikota sekarang, sudah dikenal namanya. Tingkat pengenalan warga kota terhadap Pak Dada diatas 2 pasangan calon yang lain.Tetapi, dikenal saja itu bukan jaminan bisa menang. Pengalaman menunjukkan calon incumbent di Pilkada manapun selalu kalah.

Pak Taufik calon dari PKS juga diprediksi akan menang. Dia dicalonkan dari PKS. Di Bandung jaringan PKS sangat kuat, dan solid maklum di Bandung banyak mahasiswa, anak muda, aktivis mesjid/dakwah, dan simpatisan PKS. PKS berhasil mengantarkan Heryawan sebagai Gubernus Jabar, dan mereka akan mencoba mengulang kesuksesan itu untuk pemilihan walikota. Bisakah?

Hudaya-Hadi juga tidak bisa dianggap remeh. Karena mengusung jalur independen, maka jalur ini relatif masih terbilang baru dalam Pilkada. Cara baru pasti mengundang perhatian, bukan? Pak Hudaya dikabarkan calon terkaya, hartanya bernilai milyaran rupiah. Sebelumnya nama ini masih asing di telinga orang Bandung, siapa sih dia? Namun, foto-foto dan posternya yang memenuhi penjuru kota membuat kepopulerannya mulai meningkat. Sudah banyak simpati yang datang untuk pasangan independen ini. Mampukah mereka menarik pilihan orang Bandung?

Kita tunggu saja hasilnya tanggal 10 Agustus nantii.

Kategori: Seputar Bandung

Tidak Lulus Pelajaran Geografi

17 Juli 2008 · & Komentar

Di perempatan jalan Diponegoro-Juanda-Sulanjana Bandung, tepatnya di dekat lampu stopan, saya melihat sebuah billboard iklan koran Bisnis Indonesia. Iklan itu mempromosikan edisi Jawa Barat dari koran tersebut.

Ada yang janggal pada iklan tersebut. Masa Laut Jawa terletak di selatan Pulau Jawa? Sengaja atau pura-pura tidak tahu ya? Kayaknya perancang iklan ini dapat nilai jelek deh pada pelajaran Geografi sewaktu di SD. Coba lihat lagi peta Pulau Jawa, Laut Jawa ada di utara pulau, sedangkan di selatan adalah Samudera Hindia. Duh, kalau iklan itu dilihat oleh anak-anak SD, mereka pasti ketawa.

Kategori: Seputar Bandung

Bandung Krisis Listrik

10 Juni 2008 · & Komentar

Setelah krisis gas berlalu, Bandung sekarang krisis listrik. Pemadaman bergilir dilakukan di sejumlah kawasan. Pada minggu terakhir UAS di ITB, kawasan sekitar Dago, termasuk ITB, mendapat giliran pemadaman.

Bisa dibayangkan kalau listrik tidak ada di kampus? Semua peralatan yang menggunakan listrik, terutama komputer, tidak bisa beroperasi.  Di lab-lab lain praktikum terhenti karena ruang lab gelap, atau instrumen yang menggunakan listrik tidak berfungsi. Kuliah juga terpaksa bubar karena ruang kuliah lebih gelap, selain itu peralatan presentasi juga tidak bisa digunakan. 

Ketika listrik mati, mahasiwa bimbingan saya akan mengadakan seminar TA. Listrik mati berarti peralatan infokus untuk presentasi tidak bisa digunakan. Menjadwalkan kembali seminar TA juga agak merepotkan karena harus mencari jadwal kosong antara dosen penguji, pembimbing, dan mahasiswa. Selain itu tidak ada jaminan kalau pada hari pengganti nanti listrik akan padam lagi.

Tak ada kayu jenjang dikeping. Maka, dicarilah akal agar seminar TA tetap bisa jalan. Kebetulan sekarang ini zaman laptop. Hampir setiap mahasiswa memiliki laptop. Laptop sudah menjadi kebutuhan penting saat ini, terutama bagi orang yang sering bergerak (mobile). Mahasiswa bekerja dengan laptop di sudut-sudut kampus, entah berinternet ria karena tersedianya area hot-spot atau asik mengerjakan tugas kuliah, sudah menjadi pemandangan biasa. Nah, saya meminta kepada mahasiswa yang akan seminar untuk meminjam beberapa laptop pada teman-temannya. File presentasi dikopikan ke masing-masing laptop. Peserta seminar (dosen dan mahasiswa) berhadapan dengan setiap laptop. Mahasiswa mempresentasikan TA nya, sedangkan kami menyimak paparan presentasi pada laptop masing-masing. Pendek cerita, presentasi TA tetap berjalan lancar meskipun kurang nyaman karena tidak ada proyektor. Tidak apa-apalah, yang penting seminar TA berhasil dilaksanakan. 

Entah sampai kapan pemadaman listrik akan berakhir. Pemadaman listrik merugikan banyak pihak, teruatama kalangan pelaku usaha. Saya baca di koran lokal, pabrik tekstil di Bandung Selatan berhenti beroperasi karena pemadaman mendadak merusak mesin pencelup. Mesin pencelup dihubungkan dengan pipa-pipa yang berisi larutan pewarna. Jika listrik mati 5 menit saja, larutan pewarna di dalam pipa itu akan menggumpal kemudian membeku. Untuk membersihkannya dibutuhkan waktu 1 minggu. Bayangkan kerugian yang dihasilkan oleh pengusaha.

Setelah krisis listrik, lalu krisis apa lagi ya berikutnya?

Kategori: Seputar Bandung · Seputar ITB