Direktur Baru PT Telkom dari IF-ITB

Ada kabar menggembirakan bagi alumni Informatika ITB minggu lalu. Manajemen PT Telkom Indonesia baru saja berganti wajah. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BUMN tersebut memutuskan pergantian direksi. Direktur Utamanya adalah Arief Yahya (Teknik Sipil Teknik Elektro ITB, angkatan berapa saya tidak tahu). Anda bisa membaca beritanya di sini: Arief Yahya Pimpin Telkom.

Salah satu direksi yang baru adalah Rizkan Chandra. Rizkan menjabat Direktut Network and Solution. Dia dulu adalah adik kelas saya di IF-ITB Angkatan 1987. Meski tidak mengenal Rizkan terlalu pribadi, yang saya tahu dia memang cerdas, hal itu terlihat dari cara bicaranya, selain itu juga humoris. Saya dengar dia mengambil master di bidang telekomunikasi di NUS Singapura. Sebelumnya Rizkan menjabat Dirut di Telkom Sigma, anak perusahaan PT Telkom. Selamat buat Rizkan Chandra, semoga anda dapat membawa PT Telkom Indonesia menjadi perusahaan yang lebih maju. Sebagai alumni Informatika ITB tentu kami merasa bangga ada wakil almamater kami di perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini. Selangkah lagi menjadi Dirut PT Telkom.

Tentu saja saya merasa surprise, sebab pelan-pelan alumni Informatika ITB sudah mulai menduduki jabatan direksi di perusahan besar seperti PT Telkom. Sebelumnya Irfan Setiaputra dari IF angkatan 1981, yang dikenal dengan panggilan Ayak, ditunjuk menjadi Dirut PT INTI di Bandung. Angkatan 1981 adalah angkatan pertama di IF ITB dan Ayak adalah Kahim pertama di HMIF ITB, sekaligus pendiri himpunan mahasiswa Informatika itu. Setahu saya sebelum di PT INTI Pak Irfan menjadi Direktur Manager Cisco Indonesia di Jakarta.

Sudah 30 tahun Informatika ITB berdiri, namun baru sedikit yang mencapai posisi yang penting di Pemerintahan dan BUMN. Setahu saya baru dua orang itu alumni IF ITB yang menjabat posisi puncak di BUMN. Sedikit sekali ya. Kalau menjadi direktur di perusahaan swasta pasti banyak, minimal direktur perusahaan start up company, he..he.

Memang baik menjadi orang penting, tapi jauh lebih penting menjadi orang baik (quote Ebet Kadarusman).

Blog Baruku, “Catatan Kriptografi”

Setelah sekian lama menulis di blog Catatanku, mulai hari ini saya mendedikasikan diri membuat blog baru bernama “Catatan Kriptografi” yang berisi berbagai tulisan saya tentang bidang kriptografi dan steganografi. Saya peminat dan penyuka kriptografi dan steganografi (disamping pengolahan citra, numerik, algoritma, dan matematika diskrit). Riset saya saat ini berkaitan dengan kriptografi. Ketika S3 saya juga mengambil topik yang masih berkaitan dengan kriptografi yaitu watermarking. Di Informatika ITB saya mengajar mata kuliah ini dan membimbing tugas akhir mahasiswa yang mengambil topik aplikasi kriptografi dan steganografi untuk keamanan komputer. Alhamdulillah saya juga telah menulis diktat dan buku berjudul “Kriptografi” yang diterbitkan oleh Penerbit Informatika, Bandung. Sekarang buku ini akan saya buat edisi keduanya yang lebih komprehensif.

Jika blog “Catatanku” (yang sedang anda baca ini) berisi tulisan-tulisan yang bersifat umum dan humanistik, maka blog Catatan Kriptografi ini lebih bersifat semi-teknis. Anda akan banyak menemukan istilah-istilah keilmuan (matematika, ilmu komputer, dan sebagainya), rumus-rumus, dan kode program di dalam tulisan saya nanti.

Melalui blog “Catatan Kriptografi” saya ingin berbagi ilmu dan pengetahuan bagi anak negeri. Sila kunjungi blog tersebut di http://catatankriptografi.wordpress.com.

“Hukum” Membuatkan Program TA Orang Lain

Mahasiswa saya pernah bertanya bagaimana “hukum” membuatkan program Tugas Akhir mahasiswa lain? Mahasiswa-mahasiswa saya sejak tingkat 2 sudah mahir membuat program aplikasi dari skala menengah hingga skala besar. Mereka sudah menguasai banyak kakas (tool) pemrograman sebagai efek manfaat dari pengerjaan tugas besar yang bejibun di Informatika ITB. Programming merupakan ketrampilan yang harus dimiliki mahasiswa kami, sama seperti ketrampilan menggambar bagi mahasiswa senirupa. Tanpa memprogram kuliah di Informatika itu rasanya hambar.

Nah, karena sudah mahir memprogram, mereka banyak yang bekerja nyambi sebagai pekerja part time di beberapa perusahaan, bahkan banyak pula yang merintis membuat start up company bersama teman-teman sekelompoknya. Saya memandang positif kegiatan mereka itu, kuliah di Informatika kalau dipraktekkan langsung terasa lebih bermakna dan bernas.

Selain bekerja part time atau start up company, sebagian lagi ada yang menerima order pembuatan program dari instansi atau lembaga yang membutuhkan, ada juga dari orang/pribadi. Untuk yang terakhir ini biasanya program yang berkaitan dengan skripsi, atau tugas akhir/thesis. Tidak hanya skripsi S1, tetapi juga S2,bahkan S3. Pada mulanya jasa pembuatan program tersebut murni menolong karena sesama teman, tetapi lama kelamaan ada yang menjadikannya sebagai bisnis.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini. Bagaimana hukum membuatkan program TA mahasiswa lain? Saya tidak menemukan aturan tertulis tentang ini di kampus, karena hal ini memang aspek normatif, tetapi saya menganggapnya sebagai sebuah persoalan etika yang serius dan perlu mendapat perhatian, karena hal ini menyangkut karya ilmiah yang harus jelas sumber dan sistematika pengerjaannya.

Membuatkan program TA mahasiswa yang core-nya bukan belajar komputer/informatika, atau tidak ada kuliah programming di dalam kurikulumnya, saya kira masih wajar dan bisa ditoleransi. Misalnya mahasiswa biologi, ilmu-ilmu sosial, kedokteran, dan sebagainya. Di dalam kurikulum mereka tidak ada kuliah programming, tetapi di dalam penelitian TA mereka memerlukan aplikasi pengolahan data untuk mendukung hipotesis atau tujuan penelitian. Jika kebutuhan pengolahan data tersebut bisa diselesaikan dengan aplikasi office, saya kira tidak perlu membuat program khusus. Toh tidak diperlukan antarmuka yang bagus, bukan? Mengolah data dengan aplikasi office seperti Microsot Excel, Microsoft Access, dll seharusnya sudah dapat dilakukan mahasiswa jurusan program studi apapun. Menggunakan komputer di dalam perkuliahan sudah menjadi keharusan saat ini, karena tugas-tugas kuliah minimal sudah mengharuskan menulis laporan, mencari bahan di internet, atau sekedar perhitungan sederhana. Sebagian besar kurikulum program studi sudah memasukkan kuliah Pengenalan Komputer atau Pengenalan Teknologi Informasi sebagai salah satu mata kuliah awal.

Namun, jika terpaksa harus dibuat program karena spesifikasinya yang unik, biasanya mereka yang bukan berasal dari core komputer ini meminta bantuan teman-teman mahasiswa dari Informatika/Ilmu Komputer/Sistem Informasi untuk membuatkan program. Biasanya ada “jasa” dalam bentuk uang setelah transaksi pembuatan program tersebut selesai. Masalah esensial di sini bukan uang tetapi etika. Karena laporan TA dan program adalah kesatuan yang terintegrasi, maka pembuatannya harus disebutkan dengan jelas. Menurut pendapat saya, mahasiswa pemberi order pembuatan program harus menyebutkan di dalam laporan skripsinya bahwa program pendukung penelitiannya dikerjakan oleh X. Penyebutan tersebut minimal ditulis di dalam Bab Kata Pengantar, sehingga orang yang membaca laporan skripsinya bisa memahami bahwa program komputer bukan buatan si penulis. Jika ditutupi atau tidak ditulis pembuat program tersebut maka dapat timbul kesan bahwa program buatan mahasiswa TA.

Bagaimana dengan mahasiwa dari program studi “abu-abu”, yaitu program studi yang memasukkan mata kuliah pemrograman dalam kurikulumnya? Di ITB beberapa program studi memiliki kuliah pemgrograman, misalnya Teknik Perminyakan, Teknik Industri, Teknik Pertambangan, Teknik Elektro, Fisika, Matematika, dan lain-lain. Mata kuliah pemrograman dimasukkan karena dalam studi lebih lanjut mereka perlu mengembangkan program sendiri sesuai kebutuhan bidang studinya. Nah, bagi kelompok mahasiswa dari program studi abu-abu ini, sebaiknya mereka membuat sendiri program untuk TA-nya, bukankah mereka sudah memiliki kemampuan dasar pemrograman. Pada kasus-kasus dimana dibutuhkan kemampuan programming in advance, misalnya adanya kebutuhan visualisasi/penggambaran grafis/animasi, interfacing dengan peralatan lain, sinkronisasasi, dan sebagainya, yang mana kemampuan memprogram seperti ini tidak dimiliki mahasiswa yang bersangkutan, maka bantuan pembuatan program dari mahasiswa komputer/informatika masih bisa dimaklumi. Namun, seperti pada kasus mahasiswa yang core-nya bukan komputer, maka penyebutan nama orang lain yang membantu membuat program aplikasi harus disebutkan di dalam laporan.

Bagi mahasiswa S2 dan S3 pendapat saya sama seperti mahasiswa S1. Khusus mahasiswa S3, topik penelitian biasanya dibagi menjadi beberapa sub-topik, setiap sub-topik dapat dijadikan Tugas Akhir mahasiswa S1 atau S2. Di dalam kurikulum S3 di manapun ada kewajiban menulis makalah untuk dipublikasikan di dalam prosiding konferensi atau jurnal ilmiah. Maka, nama-nama mahasiswa yang terlibat di dalam penelitian –termasuk mahasiswa yang membantu membuat program penelitian– harus dimasukkan namanya di dalam makalah tersebut.

Bagaimana jika mahasiswa komputer/informatika dibuatkan programnya oleh orang lain? Kata salah seorang mahasiswa saya, dia mendengar cerita –bahkan pernah ditawari– membuat program TA mahasiswa Informatika dari perguruan tinggi lain. What? Mahasiswa Informatika dibuatkan program TA-nya oleh mahasiswa lain? Apa kata anak negeri kalau sudah begini? Menurut saya kasus ini sungguh sangat tidak etis dan termasuk pelanggaran fatal. Perlu dipertanyakan kemana saja dia selama kuliah?

Yang terbaik tentu membuat program aplikasi sendiri untuk kebutuhan penelitian di dalam skripsi/thesis/disertasi, sebab yang lebih memahami “ruh” penelitian adalah mahasiswa yang bersangkutan. Selain lebih bisa dipertanggungjawabkan secara akademis, secara etis juga lebih baik daripada dibuatkan orang lain. Namun, jika terpaksa pembuatan program dikerjakan pihak lain, maka etikanya seperti yang saya sebutkan di atas yaitu harus disebutkan nama penulis program di dalam laporan, tulisan, atau makalah. Di zaman era teknolologi informasi yang serba komputer sekarang ini, saya kira kuliah pemrograman sudah menjadi mata kuliah wajib pada hampir sebagin besar program studi, terutama program studi eksakta. Membuat program sendiri sesuai kebutuhan bidang studi sudah tidak bisa dielakkan lagi.

Purna Tugas Membimbing Kemahasiswaan

Mulai tahun 2012 ini saya tidak lagi menjabat menjadi aggota tim koordinator kemahasiswaan di Prodi Informatika ITB. Tugas saya sudah selesai seiring dengan pergantian Ketua Program Studi Informatika ITB yang baru. Sudah 15 tahun sejak saya menjadi dosen mendapat tugas sebagai pembina kemahasiswaan di Informatika, sudah saatnya harus regenerasi dengan dosen yang lain. Ketika diminta untuk kembali diamanahi sebagai Tim Kemahasiswaan saya tidak menyanggupinya lagi.

Saya juga tidak tahu kenapa dulu saya ditunjuk untuk mengurusi kemahasiswaan. Mungkin karena saya cukup dekat dan bergaul dengan para mahasiswa makanya saya yang ditunjuk. Sejak dulu memang saya menyenangi dunia anak muda. Pengalaman saya menjadi pengajar di Bimbel Salman yang bergaul dengan siswa SMP dan SMA sangat berbekas bagi saya. Maka, ketika saya menjadi dosen di ITB saya menemukan kembali dunia anak muda yang ceria itu bersama para mahasiswa. Saya merasa tidak sungkan mengobrol dan bergaul bersama mereka. Mungkin karena dekat itu pula maka saya yang ditunjuk sebagai pembina kemahasiswaan. Oke deh, saya terima.

Mengurusi kemahasiswaan di Informatika ITB tidak terlalu sulit. Mahasiswa Informatika ITB tidak neko-neko, mereka bukan tipe orang yang suka berbuat anarki dan onar. Kultur mahasiswa di Informatika ITB adalah orang yang senang belajar dan eksplorasi, mereka tidak terlalu tertarik dengan organisasi mahasiswa. Boleh saya katakan kebanyakan mahasiswa Informatika ITB itu makhluk yang “soliter” namun tidak pula anti sosial. Mereka mahasiswa yang cerdas dan kreatif, patuh, dan relatif sopan. Tidak pernah ada masalah kemahasiswaan yang krusial terjadi di lingkungan kami. Tidak ada acara OS (Orientasi Studi) Himpunan yang “aneh-aneh” atau mengandung unsur kekerasan. OS yang dulu agak hard telah berevolusi menjadi soft, sesuai dengan karakteristik dunia Informatika yang soft(ware).

Jadi, dengan karakteristik mahasiswa semacam itu, saya tidak mempunyai kesulitan untuk mengontrol dan memantau mereka. Prinsip saya yang terpenting mahasiswa itu diberikan trust, maka mereka akan memegang amanah trust dosen itu dengan baik. Mereka tidak perlu banyak diatur, sebab mereka self running sesuai dengan tipikalnya sebagai anak cerdas.

Saya berpikir begini, karena tidak ada kasus yang menonjol dalam dunia kemahasiswaan di Informatika ITB, maka saya merasa cukup santai sebagai pembina kemahasiswaan. Lebih banyak tugas saya itu administratif belaka seperti menandatangani surat izin acara Himpunan Mahasiswa, menerima kunjungan dari SMA dan perguruan tinggi lain, mengkoordinir pemilihan mahasiswa berprestasi, mengikuti acara perayaan wisuda, dan lain-lain. Sekali-sekali saja saya memantau acara OS (di sini disebut Sparta) untuk memastikan semua baik-baik saja. Mereka mudah bertemu dengan saya, dan saya pun tidak sulit untuk memegang komitmen mereka.

Namun, saya merasa belum sepenuhnya berhasil menjadi pembimbing kemahasiswaan. Saya menyadari masih banyak kelemahan di dalam diri saya, masih banyak yang perlu dibenahi di kemahasiswaan Informatika ITB. Salah satu persoalan klasik yang belum punya solusi hingga saat ini adalah bagaimana meningkatkan tingkat partisipasi mahasiswa dalam acara-acara kemahasiswaan. Ritme kuliah di Informatika ITB yang berat dan ketat serta tugas yang berlimpah ruah membuat mahasiswa kami harus memilih untuk lebih mengutamakan akademis ketimbang kemahasiswaan. Akibatnya, mereka yang aktif di Himpunan Mahasiswa hanyalah yang itu-itu saja dan bisa dihitung jumlahnya tidak banyak. Mungkin itu pula sebabnya mengapa alumni Informatika ITB tidak punya organisasi Ikatan Alumni hingga saat ini. Soliditas mereka tidak sekuat mahasiswa di Prodi lain seperti Perminyakan, Tambang, Mesin, Geologi, dan lain-lain.

Masalah tingkat partisipasi yang terjadi di Informatika ITB ini sebenarnya juga menjadi masalah klasik kemahasiswaan di ITB secara umum. Dunia kemahasiswaan di ITB saat ini terasa melempem dengan tingkat peran serta mahasiswa yang relatif sedikit, baik di Himpunan dan KM (Keluarga Mahasiswa). Mungkin yang cukup bergairah adalah di Unit-unit Kegiatan Mahasiswa. Mudah-mudahan ke depan kemahasiswaan di Informatika ITB dan di ITB umumnya berkembang lebih dinamis dan lebih baik lagi dari sekarang. Amiin.

Permasalahan Mahasiswa TA

Membimbing mahasiswa Tugas Akhir (TA) itu pekerjaan rutin setiap tahun bagi saya. RaTA-raTA saya membimbing 10 orang dalam satu TAhun pengerjaan TA. Ada mahasiswa yang rajin mengerjakan TA, ada pula yang sanTAi, dan ada pula yang agak malas. KaTA “TA” bagi sebagian mahasiswa adalah kaTA yang menyenangkan, sebagian lagi menganggapnya sebagai kaTA yang sensitif. Disebut menyenangkan bila ia berjodoh dengan topik TA tersebut yang membuatnya bersemangat dan termotivasi agar bisa cepat lulus. TApi bagi sebagian lagi menganggapnya sensitif untuk dibicarakan, karena kemajuan TA-nya mandek, tidak maju-maju, dan malu untuk menemui dosen pembimbing.

Bagi yang begitu semangat dan cepat mengerjakan TA-nya, saya harus menyesuaikan diri dengan kecepaTAnnya itu. Menyenangkan bila bisa membuat mereka lebih bersemangat lagi. TeTApi bagi yang mandek dan tidak pernah muncul-muncul untuk bimbingan, saya bisa mengerti. Pahamlah sebabnya.

Penyebabnya tidak melulu masalah teknis, tetapi menTAl. Kalau masalah teknis, saya percaya solusinya pasti bisa ditemukan. TApi kalau masalahnya pada menTAl, alamat akan panjang permasalahan dan waktunya. Waktu studi maksimal selama 6 tahun di ITB mungkin akan terpakai habis. Kalau perlu, pada saat-saat kritis (ketika batas waktu studi hampir habis) orangtua akan “turun gunung” untuk ikut urun rembug ke Dosen Wali dan Dosen Pembimbing, kira-kira bagaimana penyelesaian TA anaknya itu. Saya sudah kenyang dengan pengalaman berurusan dengan orangtua mahasiswa tentang per-TA-an ini. Pada intinya mereka sendiri juga kebingungan bagaimana membantu anaknya itu. Harapan mereka ada pada kami, dosen Pembimbing. Kalau mau diceriTAkan dalam buku, mungkin tidak akan habis-habisnya untuk dikisahkan ya.

Mahasiswa yang memiliki masalah menTAl ini umumnya mahasiswa angkaTAn “tua”, yaitu yang telah mengambil TA lebih dari satu TAhun. Menurut saya nih, masalah menTAl lebih berat daripada masalah teknis. Motivasi untuk mengerjakan TA tidak ada. Hari-harinya habis untuk berkurung diri di dalam kamar kos dengan menyalurkan tingkat stresnya dengan main game. Kalau tidak, ya menghabiskan waktu dengan aktivitas lain seperti organisasi. Jangan tanya soal TA kepada mereka, itu adalah hal yang sensitif, he..he..

Masalah menTAl ini akan semakin berat bila ia merasa “sendirian”, karena teman-teman seangkaTAnnya sebagian besar sudah lulus. Dia merasa seperti ditinggalkan, dan kondisi ini sangat bepengaruh terhadap kemajuan TA-nya. TA-nya teTAp mentok tidak maju-maju. Sebagai dosen pembimbing, saya merangkap sebagai “psikolog” dadakan sekaligus buat mereka. Rasanya saya perlu membaca banyak buku-buku psikologi nih….

Permasalahan mahasiswa TA yang lain adalah uang. KenikmaTAn memperoleh uang sendiri dari hasil kerja “mroyek” telah mengacaukan skala prioriTAs. Bagi mahasiswa Informatika, pada tingkat 3 mereka sudah bisa mengerjakan proyek perangkat lunak skala kecil. Dengan bayaran yang cukup menggiurkan dan pekerjaan yang menanTAng, habislah waktu dan tenaga mereka untuk proyek. Tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk mengerjakan TA. Saya akui, pekerjaan membuat program itu melenakan, sebab waktu bisa habis berjam-jam di depan komputer karena diburu tenggat penyelesaian. Jika tidak sering diingatkan untuk berhenti atau mengurangi, mereka mungkin bisa lewat batas waktu studi.

Mahasiswa TA model begini mudah penyelesaiannya, karena persoalannya bukan masalah menTAl, teTApi tidak bisa membuat prioriTAs. Mereka umumnya mahasiswa yang cerdas, secara skill bagus, hanya larut dalam proyek saja yang telah melenakan mereka. Asal mereka diminTA komitmennya untuk menyelesaikan TA, mereka pasti mau.

Begitulah suka-dukanya membimbing mahasiswa TA. Pada akhirnya semua kejadian di atas saya jalani saja laksana air mengalir, anggap saja sebagai sebuah bentuk ibadah. Moral dari ceriTA ini adalah bahwa kuliah itu tidak hanya masalah kemampuan otak, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor menTAl. Jika menTAl bagus, maka kuliah insya Allah akan sukses. Sangat penting bagi seorang mahasiswa menyelaraskan anTAra otak dan jiwa.

(Keterangan: semua “ta” sengaja diubah menjadi “TA”, lebay kali….)

Mencoba Ujian Tanpa Diawasi

Hari Jumat minggu lalu saya memberikan Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mata kuliah yang saya ampu. Ini adalah mata kuliah tingkat ketiga. Mahasiswa tingkat tiga saya anggap sudah lebih dewasa dan sudah memahami iklim kehidupan di Informatika yang menghargai kejujuran. Nah, kali ini saya mencoba memberikan ujian tanpa diawasi. Ini merupakan kelanjutan dari tulisan yang saya terdahulu (Kalau Perlu, Ujian Tidak Usah Diawasi). Saya ingin mengetes kejujuran mahasiswa dengan tidak menyontek atau berbuat curang lainnya dalam ujian. Bisakah?

Seharusnya bisa kalau kita memegang komitmen mereka sejak awal bahwa mahasiswa Informatika ITB tidak akan mau berbuat curang dalam ujian. Malu dong sebagai mahasiswa ITB melakukan perbuatan menyontek, apa kata dunia? Mahasiswa Informatika (IF) ITB punya harga diri, mereka tidak akan mau menodai kepercayaan (trust) dosen yang diberikan kepada mereka. Kepercayaan itu sangat mahal, lebih mahal dari harta benda sebanyak apa pun. Sebelum ujian saya sudah menekankan bahwa anda (mahasiswa) menghadapi dua ujian sekaligus, ujian mata kuliah dan ujian keimanan.

Ujian keimanan? Ya, tentu saja. Iman mereka diuji, sejauh mana ujian yang tidak diawasi itu menggoda mahasiswa untuk berbuat curang. Peluang untuk menyontek, melihat catatan, berbisik-bisik meminta jawaban kepada teman, atau bekerjasama dalam ujian terbuka lebar. Tiada mata pengawas yang melihat, tetapi “mata” Tuhan dan malaikat-Nya tidak bisa dibohongi.

Kami (dosen pengampu) memasuki ruang ujian bersama asisten mata kuliah. Ujian diadakan di tiga ruang kelas yang berbeda, karena jumlah peserta kuliah 100 orang lebih. Lembar soal dan lembar jawaban dibagikan kepada mahasiswa. Setelah memberikan petunjuk umum, kami pun meninggalkan ruang ujian dengan modal kepercyaaan tadi. Saya yakin mahasiswa akan memegang teguh kepercayaan yang kami berikan. Tidak perlu ada CCTV, tidak perlu ada mata kamera yang mengawasi mereka. Mata kepercayaanlah yang mengawasi diri mereka sendiri.

Tentu saja ujian tersebut tidak kami lepas begitu saja. Setengah jam kemudian kami memasuki ruang ujian untuk memastikan semua baik-baik saja, sekaligus untuk memberi kesempatan bertanya apakah ada yang tidak jelas pada soal ujian. Setelah itu kami kembali ke ruangan kerja masing-masing.

Saya sempat mengintip dari jauh, dan benar saya melihat mereka mengerjakan soal dengan tenang. Tidak ada tanda-tanda mereka melakukan kecurangan. Memang lembar jawaban belum saya periksa untuk lebih memastikan lagi tiada jawaban yang persis sama. Namun mata batin saya mengatakan mereka tidak menyalahgunakan kepercayaan yang kami berikan. Jika terbukti ada kecurangan, saya siap kembali ke cara konvensional lagi, yaitu mengawasi ujian.

Semoga saya tidak salah duga.

Mengapa Mahasiswa “Veteran” Tidak Lebih Baik Nilainya daripada Mahasiswa Yunior?

Barusan saya sudah menyelesaikan pekerjaan memeriksa berkas ujian UTS. Satu keprihatinan yang selalu saya temui setiap tahun adalah mahasiswa yang mengulang mata kuliah. Pada setiap semester selalu saja ada mahasiswa yang mengulang mata kuliah. Sebut saja mereka mahasiswa “veteran”, yaitu mereka yang sudah pernah mengambil kuliah tersebut pada tahun sebelumnya. Mereka mengulang mungkin karena tidak lulus atau ingin memperbaiki nilai (misalnya tahun lalu dapat C, sekarang diambil lagi karena berharap dapat B atau sukur-sukur A). Mereka yang mengambil mata kuliah ini pertama kali, meskipun angkatan yang lebih tua, tidak saya sebut sebagai mahasiswa veteran.

Nah, masalahnya hasil ujian mahasiswa veteran ini tidak lebih baik dari nilai ujian mahasiswa reguler, yaitu yunior mereka. Kebanyakan hasilnya jelek-jelek, memang ada satu dua yang lumayan bagus, tetapi kebanyakan buruk. Bahkan, bagi mahasiswa yang mengulang karena ingin memperbaiki nilai, nilai mereka bisa lebih buruk lagi dari tahun sebelumnya.

Nilai tugas-tugas kuliah juga setali tiga uang, sama jeleknya. Di Prodi saya setiap mata kuliah ada tugas besar (Tubes) dan tugas kecil (Tucil). Tubes-tubes itu umumnya dikerjakan berkelompok. Nah, masalahnya mahasiswa veteran ini tidak sekelompok dengan mahasiswa yunior, sangat jarang mahasiswa yunior mau sekelompok tugas dengan mereka. Akhirnya mereka sekelompok dengan sesama veteran sendiri. Hasilnya ya begitulah, kadang tugasnya tidak selesai, kadang seadanya saja. Tidak jarang mereka tidak mengerjakan tugas sama sekali karena sulitnya membangun komunikasi dan kebersamaan tim (team work).

Saya juga mencatat mahaisiswa veteran sering bolos kuliah. Isian daftar hadir mereka relatif sedikit. Nah, sebagai kombinasi dari nilai ujian dan nilai tugas yang “lepas makan” itu, akhirnya nilai akhir mereka rata-rata jelek juga. Kalau tidak D ya E, satu dua ada juga yang dapat C dan B (tetapi persentasenya kecil). Di ITB nilai D tidak lulus. Maka, tahun depan mereka dipstikan mereka mengulang lagi.

Saya jadi bertanya-tanya apa penyebabnya dan ingin mencoba memperbaiki. Seharusnya sebagai mahasiswa veteran mereka sudah punya pengalaman menghadapi “medan” yang sama yang sudah dilalui pada tahun lalu. Kalau sudah punya pengalaman seharusnya lebih baik dong daripada yunior mereka yang baru pertama kali mengambil kuliah tersebut. Namun kenyataannya malah sebaliknya.

Kalau mereka disebut bodoh saya tidak yakin. Kalau bodoh kok bisa masuk ITB? Masuk ITB kan seleksisnya sangat ketat dan susah. Melalui diskusi dengan para alumni di fesbuk, termasuk yang pernah menjadi mahasiswa veteran, saya mendapatkan jawabannya. Ternyata masalahnya bukan pada skill atau knowledge, tapi masalah mental. Mental mereka sudah jatuh duluan karena merasa rendah diri dengan yuniornya, disamping ada perasaan menjadi minoritas di dalam yuniornya, sifat malas, dan sebagainya.

Padahal, perasaan rendah diri itu tidak perlu dipelihara. Kalau dipelihara malah menjadi kekhawatiran yang akhirnya merembet kemana-mana, ya ujian, ya tugas kuliah. Gagal semua deh. Seharusnya yang dibangun adalah semangbat untuk bangkit dari kegagalan, semangat untuk fight, semangat untuk maju. Orang gagal pasti tidak mau gagal kedua kalinya, bukan?

Saya juga percaya tidak semua mahasiswa veteran punya kinerja yang buruk seperti di atas, ada juga anomalinya. Satu dua orang ada yang mendapat nilai lebih bagus dari hasil tahun sebelumnya, malah ada yang lebih bagus dari yuniornya. Nah mahasiswa veteran yang begini yang pantas dijadikan model. Jika saya tanya kepada mereka yang “anomali” ini apa rahasianya, ternyata jawabannya adalah mereka mengulang kuliah dengan mental fight, mental berjuang dan bekerja keras untuk mendapat hasil yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Overall, ini tidak berarti jika anda mahasiswa veteran yang IPK nya hancur maka masa depannya juga sama buruknya dengan kisah akademis selama kuliah. Malah, sebagian mereka banyak yang sukses setelah lulus, mungkin karena mereka termotivasi untuk menjadi lebih baik dari yang mereka alami sebelumnya.

Moral darai cerita saya ini, untuk sukses tidak hanya butuh modal skill dan knowledge, tetapi juga perlu kesiapan mental, yaitu menumbuhkan mental juara agar selalu fight dan maju. Tidak ada yang dapat mengubah nasib kecuali diri kita sendiri.

Kalau Perlu, Ujian Tidak Usah Diawasi

Ingat kantin kejujuran? Masih adakah kantin kejujuran itu sekarang? Kemungkinan masih ada, sebab masih ada kelompok orang yang mempercayai bahwa pada dasarnya manusia itu baik. Manusia tidak akan mau melakukan kecurangan kalau mereka sadar bahwa kejujurannya sedang diuji dengan keberadaan kantin tersebut.

Ide kantin kejujuran itu pada prinsipnya bertujuan mendidik manusia untuk selalu berperilaku jujur dalam hal apapun, tidak hanya dalam urusan belanja. Kalau anda berbuat curang (tidak mau membayar), maka di manakah Allah? Mungkin orang lain tidak melihat anda mengambil barang tanpa membayar, tapi Allah dan malaikatnya tidak pernah tidur.

Hari-hari ini di kampus saya sedang diadakan Ujian Tengah Semester. Jika ada kantin kejujuran, mengapa tidak dicoba ujian tanpa ada pengawas? Itulah yang saya pikirkan saat ini, memberi ujian tanpa perlu diawasi. Pengawas (atau dosen) cukup datang pada saat awal ujian untuk membagikan berkas soal dan jawaban, selanjutnya pergi meninggalkan kelas. Biarkan saja mahasiswa menyelesaikan soal ujian sendiri. Dua menit menjelang ujian berakhir, pengawas (atau dosen) datang lagi untuk mengambil berkas ujian.

Bila diperlukan, dosen cukup datang sekali saja di tengah ujian untuk menanyakan apakah ada soal yang tidak jelas, atau memberi ralat jika ada. Tapi jika semua spek soal sudah sangat jelas dan tidak multitafsir, ya tidak perlu dosen datang di tengah ujian.

Ini foto para mahasiswa sedang serius mengerjakan soal ujian mata kuliah saya di ruang 7602 Labtek V:

Mungkinkah melaksanakan ujian tanpa perlu diawasi? Mungkinkah ada yang menyontek? Kalau untuk lingkup mahasiswa di Informatika ITB saya rasa bisa saja dilaksanakan ujian tanpa diawasi, dengan catatan hanya untuk mahasiswa tahun ketiga keatas. Ritme kuliah di Informatika sangat padat, tugas-tugas kuliah berjejalan sampai-sampai mahasiswa “sesak napas” dibuatnya. Dengan tugas yang bejibun seperti itu, kami sudah memberikan arahan kepada mahasiswa kami untuk menaati rambu-rambu berikut: mengerjakan tugas sendiri, dilarang plagiasi, dilarang copy-paste dari Internet (tanpa menyebutkan sumbernya), dilarang copy paste program kelompok lain, dan sebagainya.

Semua hal di atas bertujuan untuk mendidik mahasiswa menghargai kejujuran. Mahasiswa dinilai dari integritasnya lho, tidak semata-mata hanya dari hasil (output) yang telah dikerjakannya. Bagi saya pribadi proses lebih penting daripada produk akhir.

Mekanisme reward and punishment perlu ditegakkan. Reward-nya adalah nilai, punishment-nya adalah hukuman jika terlambat mengumpulkan atau jika ketahuan berbuat curang. Sekali berbuat curang maka hukumannya bisa beragam: nilai 0, tidak lulus mata kuliah tersebut, atau D.O dari ITB. Ada kode etik ITB yang berisi pasal-pasal hukuman yang diberikan karena pelanggaran kecurangan dalam ujian.

Sampai saat ini pendidikan kejujuran itu saya kira cukup berhasil. Pada tahun pertama di Informatika (atau tahun kedua di ITB), mereka sudah memahami “aturan integritas” seperti itu. Jadi, kalau dilaksanakan ujian buat mereka pada tahun ketiga (UTS atau UAS), saya percaya mereka tidak akan menyontek. Dijamin. Kalau ada yang berani menyontek, mereka seharusnya malu sebagai mahaisswa Informatika ITB. Harga diri mereka akan jatuh di mata teman-teman, di mata dosen, apalagi di mata Tuhan. Malu dong mahasiswa ITB nyontek.

Saya belum berani menjamin untuk mahasiswa tahun kedua. Mereka baru masuk Program Studi, jadi kita tidak tahu bagaimana performance mereka selama di TPB sebab kita tidak punya rekam jejak mereka selama satu tahun di ITB. Jadi, ujian buat mahaiswa tahun kedua tetap perlu diawasi. Cukuplah selama satu tahun kedua di IF-ITB mereka akan memahami bahwa alangkah malunya berbuat curang dalam perkuliahan. Semoga.

Semoga saya tidak over estimate dengan mahasiswa kami sehingga saya sampai pada kesimpulan: kalau perlu ujian di tempat kami tidak perlu diawasi. Pada dasarnya setiap orang itu baik.

R.I.P Dennis M Ritchie, Si Pembuat Bahasa C dan Sistem Operasi UNIX

Di tengah riuh rendah berita kematian Steve Jobs, “si raja” komputer Apple, yang memenuhi dunia maya selama 3 minggu terakhir, dunia ilmu komputer kehilangan lagi seorang tokoh pentingnya, yaitu Dennis M. Ritchie.

Siapa Ritchie? Jangankan orang awam, mahasiswa Informatika/Ilmu Komputer tentu tidak terlalu mengenal nama orang ini, tetapi kalau menggunakan karyanya pasti sering. Dennis M. Ritchie adalah pembuat Bahasa C, bahasa pemrograman yang simpel. Dia juga adalah salah satu pengembang sistem operasi UNIX bersama koleganya, Ken Thompson. Antara C dan UNIX tidak dapat dipisahkan karena UNIX menggunakan bahasa C sebagai sarana pemrograman di lingkungan sistem operasi tersebut. Turunan Unix yang terkenal saat ini adalah Linux dan Free BSD, yang merupakan sistem operasi open source.

Dennis M. Ritchie meninggal dunia pada tanggal 8 Oktober 2011 karena kanker prostat, artinya hanya berjarak beberapa hari setelah kepergian Steve Jobs. Berita kematian Ritchie dapat dibaca di sini. Agak telat sih saya menuliskan posting tentang Ritchie ini, tapi tak apalah daripada tidak.

Saya tidak terlalu mengenal Steve Jobs karena saya tidak pernah menggunakan produknya seperti Apple dan yang terbaru iPhone. Karena itu, saya tidak menuliskan memoar khusus untuk Steve Jobs. Sudah banyak tulisan di Internet yang dibuat orang untuk mengenang Steve Jobs. Namun saya akrab dengan nama Ritchie melalui bukunya. Saya belajar Bahasa C dari buku karangan Ritchie bersama Brian W. Kernighan yang berjudul The Ansi C Programming Language. Ini buku yang bagus, meskipun bagi pemula yang ingin belajar Bahasa C agak sulit memahami isi buku ini.

Seperti dikutip dari laman Wikipedia.org:

Ritchie was best known as the creator of the C programming language and a key developer of the UNIX operating system, and as co-author of the definitive book on C, The C Programming Language, commonly referred to as K&R (in reference to the authors Kernighan and Ritchie).

Ritchie’s invention of C and his role in the development of UNIX alongside Ken Thompson has placed him as an important pioneer of modern computing. The C language is widely used today in application, operating system, and embedded system development, and its influence is seen in most modern programming languages. UNIX has also been influential, establishing concepts and principles that are now precepts of computing.

Ritchie was elected to the National Academy of Engineering in 1988 for “development of the “C” programming language and for co-development of the UNIX operating system.”

Awards
Thompson (left) and Ritchie (center) receiving the National Medal of Technology from President Clinton in 1999.
Turing Award

In 1983, Ritchie and Thompson jointly received the Turing Award for their development of generic operating systems theory and specifically for the implementation of the UNIX operating system. Ritchie’s Turing Award lecture was titled “Reflections on Software Research”.

Dalam pandangan saya Bahasa C adalah bahasa yang banyak mengubah gaya pemrograman. Bahasa C simpel karena menyederhanakan gaya penulisan program dibandingkan bahasa terdahulu, seperti Pascal misalnya. Hal ini dapat dilihat dari keyword yang digunakannya seperti int untuk integer, begin end diganti dengan pasangan kurung kurawal, dan sebagainya. Salah satu kelebihan Bahasa C terletak pada pengelolaan type pointernya yang powerfull. Bahasa C juga memperkenalkan konsep ADT (Abstract Data Type) yang menjadi dasar class dan object pada Object Oriented Programming.

Bahasa C juga menjadi pijakan dasar dalam pengembangan bahasa pemrograman sesudahnya, seperti C++, Java, C#, Perl, dll yang sintaksnya mirip-mirip C. Asumsi yang dipakai oleh pengembang next language tersebut adalah pemrogram sudah familiar dengan C, jadi tidak perlu susah-susah memahami the new languages. Kalau sudah mengerti Bahasa C, maka memahami Java, C++, C#, dan sebagainya menjadi lebih mudah.

Itulah kontribusi penting Dennis M. Ritchie dalam bidang pemrograman. Selamat jalan Ritchie.

Tarian Dansa Algoritma “Sorting” Gaya Rumania dan Hungaria

Ini tulisan yang IF-banget, namun tak salah kalau dibaca bagi yang bukan berlatar belakang Informatika. Bagi anda mahasiswa Informatika, contoh algoritma apa yang pasti selalu diajarkan di dalam kuliah algoritma dan pemrograman? Salah satunya pasti tentang algoritma pengurutan (sorting), bukan? Persoalan pengurutan adalah masalah yang sangat menarik sebab hingga saat ini terdapat puluhan algoritma pengurutan yang sudah pernah dihasilkan orang. Padahal persoalannya hanya satu, yaitu bagaimana mengurutkan sekumpulan nilai sehingga tersusun secara menaik (ascending order) atau menurun (descending order), namun algoritma untuk mengurutkannya sudah banyak dibuat orang. Misalnya sekumpulan nilai yang tersusun acak seperti ini: 41, 15, 8, 11, 20, 19, dan 24 harus disusun terurut menaik menjadi 8, 11, 15, 19, 20, 24, dan 41.

Saya tidak akan membicarakan teknis algoritma pengurutan di dalam tulisan ini. Silakan gugling di Wikipidea tentang bermacam-macam algoritma sorting. Bagi mahasiswa Informatika, memahami logika algoritma sorting cukup sulit. Sebagai orang yang mengajar materi algoritma hingga sekarang, maka saya paham dengan kesulitan tersebut. Untunglah saat ini sudah banyak perangkat bantu yang memvisualisasikan bermacam-macam algoritma pengurutan tersebut. Cukup ketikkan “visualisation of sorting algorithm” di halaman Mbah Google, maka anda akan menemukan banyak situs web yang menyediakan aplikasi visualisasi algoritma sorting secara gratis.

Visualisasi algoritma sorting umumnya berbentuk animasi, dan itu sudah biasa. Nah, apa yang dibuat oleh dosen-dosen Ilmu Komputer di Sapientia University, Tirgu Mures (Marosvásárhely), Romania, ini lain dari yang lain. Mereka membuat video tarian yang mensimulasikan algoritma sorting. Dosen pengajar kuliah melatih para mahasiswa Ilmu Komputer memperagakan mekanisme beberapa algoritma sorting dalam bentuk tarian dansa rakyat Hungaria dan Rumania. Video tersebut diunggah ke situs YouTube dan kita pun dapat menikmatinya. Lucu dan kreatif, begitu penilaian saya. Semua video tersebut saya unduh untuk saya putar di dalam kelas. Mahasiswa saya tertawa-tawa menyaksikannya, mudah-mudahan dalam ketawanya itu juga dimengerti algoritmanya ya mas…

Video pertama adalah tarian algoritma Bubble Sort. Pengurutan dengan cara apung ini diperagakan dengan sangat baik melalui tarian tersebut. Klik video di YouTube di bawah ini:

Video kedua adalah tarian algoritma Selection Sort. Pengurutan dengan cara seleksi nilai maksimum atau nilai minimum ini lazim kita terapkan kalau mengurutkan setumpukan kartu. Tarianya berupa dansa orang Gipsi.

Video ketiga adalah tarian algoritma Insertion Sort. Para penari baik pria dan wanita menggunakan rok. Insertion sort menurut saya adalah algoritma yang paling sulit dijelaskan. Mahasiswa lebih mudah menuliskan algoritma bubble sort dan selection sort, tetapi untuk insertion sort banyak yang gagal menuliskannya.

Nah, video yang di bawah ini adalah dansa algoritma Shell Sort. Shell sort adalah varian dari algoritma Insertion Sort.

Keempat algoritma di atas adalah algoritma klasik yang naturalnya adalah secara iteratif. Bagaimana dengan algoritma sorting lainnya yang secara natural bekerja secara rekursif? Kedua algoritma sorting yang rekursif tersebut adalah Merge Sort dan Quick Sort. Kalau kedua algoritma tersebut diperagakan dalam bentuk tarian dansa tentu menjadi rumit dan kacau. Memang para mahasiswa tersebut mampu mempergakan tarian Merge Sort dan Quick Sort namun tidak semua aksinya tampak rekursif.

Ini dia tarian Merge Sort:

dan ini tarian Quick Sort:

Sebagai “hiburan” untuk mengisi materi kuliah algoritma, semua video dansa tersebut lumayan menghibur. Btw, ada yang tertarik membuat video tarian suku bangsa di Indonesia untuk memperagakan algoritma lainnya?