Kenapa Atap Aula Barat/Timur ITB Bergaya Gonjong Rumah Gadang? (d/h Abdoel Moeis Penggagas ITB)

Pernahkah anda berpikir kenapa atap Aula Barat dan Aula Timur ITB menyerupai bentuk gonjong rumah adat Minangkabau yang disebut Rumah Gadang? Kenapa bentuk atap itu tidak bergaya rumah adat urang Sunda? Saya menemukan jawabannya di dalam sebuah tulisan yang saya baca tadi(Abdoel Moeis ~Penggagas ITB).

Kartupos dengan foto afdruk Kodak ini memperlihatkan ITB bagian aula barat dari arah timur laut (Sumber foto: http://djawatempodoeloe.multiply.com/photos/photo/190/77)

Rumah Gadang Minangkabau (Sumber foto: http://hendraxsap.wordpress.com/2011/06/08/tradisi-merantau-dan-berdagang-urang-awak/)

Ternyata pendirian TH (Technische Hoogeschool) –yang sekarang bernama ITB– bukanlah inisiatif penjajah kolonial Belanda. TH adalah gagasan seorang tokoh sejarah bangsa bernama Abdoel Moeis. Abdoel Moeis (lahir pada tanggal 3 Juli 1883) datang ke Belanda bersama delegasi Indie Werbaar pada bulan Januari 1917. Mereka berangkat dengan kapal laut dan tiba di negeri Belanda pada bulan Meret 1917. Di sana Abdoel Moeis bernegosiasi dengan Pemerintah Belanda untuk mendirikan Sekolah Tinggi Teknik di Hindia-Belanda (sekarang Indonesia). Negosiasi itu membuahkan hasil sehingga dibentuklah komisi untuk pendidikan teknik di Hindia. Komisi tersebut disetujui oleh Ratu Belanda dan didukung secara finansial oleh 14 pengusaha Belanda. Seperti kita ketahui bersama Sekolah Teknik Tinggi itu didirikan di kota Bandung pada tahun 1920 di lokasi Jalan Ganesha yang sekarang bernama ITB.


Siapa Abdoel Moeis? Bagi siswa sekolah pasti mengenal nama ini. Dia seorang sastrawan terkenal yang salah satu masterpiece-nya adalah novel Salah Asoehan. Bagi orang Bandung, nama Abdoel Moeis dikenal dengan nama terminal Kebon Kelapa yang bernama terminal Abdoel Moeis. Ansa orang Bandung tentu tidak asing denga angkot jurusan Abdul Muis – Dago, Abdul Muis – Cicaheum, Abdul Muis – Ledeng, dan sebagainya. Itu karena Abdoel Moeis dulu pernah tinggal di sekitar Kebon Kelapa.

Dikutip ari artikel di atas, “Abdoel Moeis dilahirkan pada 3 Juli 1883 di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya pada sekolah Belanda tingkat persiapan Sekolah Stovia di Bukittinggi, Abdoel Moeis kemudian menuju Bandung dan tinggal lama di kota ini.”

Lalu bagaimana kisahnya sehingga atap Aula Barat dan Aula Timur itu berbentuk gonjong rumah adat Minangkabau? Dikutip dari artikel di atas: “Menurut keterangan puterinya, Dr. Diana Moeis, ayahnya pernah bercerita bahwa lokasi THS yang sekarang disebut sebagai Intitut Teknologi Bandung itu usulan ayahnya. Pembangunan gedung THS, juga mendapat masukan dari Abdoel Moeis, yang menginginkan agar ada unsur pribumi diterapkan dlm bangunan tsb. Jadilah, atap gedung yang disebut Aula Barat itu sekarang, berbentuk seperti atap rumah gadang di Sumatra Barat. Ya, betapapun, Abdul Muis adalah orang Minang…..jadi, tak mungkin mengusulkan atap julang ngapak bergaya Sunda”.

~~~~~~~~~~~~~

Di bawah ini saya kutipkan sebagian artikel pada tulisan di atas (Abdoel Moeis ~Penggagas ITB):

Abdoel Moeis ~Penggagas ITB~

Pada tahun 1913 di Hindia Belanda muncul suatu gagasan tentang pembentukan “Indie Weerbaar” (Pertahanan Hindia) yaitu milisi paruh waktu yang terdiri atas orang-orang bumi putera, karena milisi merupakan kekuatan pertahanan yang lebih murah daripada memperbesar pasukan professional. Namun demikian ide tentang pembentukkan “Indie Weerbaar” ditolak oleh pemerintah Belanda.

Ketika perang dunia I pecah pada tahun 1914 gagasan “Indie Weerbaar” muncul kembali. Boedi Oetomo yang mempunyai cabang-cabangnya di kalangan orang-orang Jawa yang berdinas pada tentara kolonial, bangkit dari tidurnya dan mulai mengkampayekan pembentukkan milisi semacam itu.

Ketika kampanye tentang perlunya suatu milisi pertahanan berlangsung, Sarekat Islam (SI) memunculkan tuntutan yang lain yaitu harus adanya perwakilan bumi putera dalam pemerintahan Hindia Belanda. Pada tahun 1915 Boedi Oetomo mendukung pandangan SI, sehingga dengan demikian kampanye “Indie Weerbaar” dengan cepat berubah menjadi isu perwakilan rakyat atau Volskraad

Sebagai kelanjutan kampanye Indie Weerbaar, muncul keputusan agar dikirim delegasi ke Negeri Belanda untuk menyampaikan mosi kepada Ratu Wilhelmina, Menteri Jajahan, dan Parlemen Belanda. Utusan terdiri atas enam anggota yaitu Pangeran Ario Koesoemodiningrat (mewakili Prinsen Bond), Bupati Magelang Raden Tumenggung Danoe Soegondo mewakili Regenten Bond, Mas Ngabehi Dwidjosewojo mewakili Boedi Oetomo, Abdoel Moeis mewakili Sarekat Islam, F Laoh mewakili Perserikatan Minahasa, dan W.V Rhemrev. Selain itu, ada seorang pendamping yaitu Dirk van Hinloopen Labberton, seorang tokoh pendukung Politik Etis

Rombongan berangkat ke Negeri Belanda pada bulan Januari 1917 dan tiba di sana pada awal Maret 1917 Sebelum tiba di Negeri Belanda, ketika perjalanan tertunda di Jenewa, Abdoel Moeis bersama Dirk van Hinloopen Labberton sudah menyampaikan gagasan-gagasan mereka dalam berbagai ceramah tentang perlunya percepatan kemandirian Hindia Belanda, meski tetap di bawah pimpinan Negeri Belanda. Untuk itu kemampuan bertahan di bidang militer, intelektual, dan ekonomi sangatlah penting .

Ketika datang di Belanda, mereka diterima dengan sedikit aneh: Untuk memimpin rombongan di Belanda, ditunjuk seorang mentor ; polisi juga ditugaskan untuk mengamat-amati mereka. Para anggota delegasi tidak memiliki kebebasan untuk bergerak sendiri-sendiri. Aturan ketat itu tidak berlangsung lama, beberapa anggota delegasi bergerak sendiri tanpa meminta idzin. (Kaoem Moeda, 28 Juli 1917). Meskipun demikian, secara formal mereka disambut secara simpatik oleh Ratu Wilhelmina, Menteri Jajahan, dan Staten Generaal (Parlemen Belanda)(Poeze, 1986: 113).

Dalam surat kabar Handelsblad yang terbit di Amsterdam, diberitakan tentang acara pertemuan Delegasi Indie Weerbaar yang diselenggarakan oleh perhimpoenan Koninklijke Nederlandsche Vereeniging ,,Onze Vloot” pada tanggal 1 April 1917 di Gedung Concereige Bouw. Dalam berita yang disarikan dalam surat kabar Oetoesan Hindia itu, disebutkan bahwa hadir dalam pertemuan itu beberapa bekas Menteri Kolonial, bekas Gubernur Jenderal Hindia Belanda J.C. van Heutszt, A.W.F. Idenburg, beberapa anggota parlemen, akademisi,dan para pengusaha.

Menjelang kepulangan ke Hindia Belanda, diadakan pesta besar yang diselenggarakan Jenderal Van Heutsz dan dihadiri oleh para tokoh terkemuka dari kalangan pemerintahan dan dunia usaha. Kemudian diselenggarakan pula satu pertemuan, di mana kalangan usahawan menjanjikan dukungan untuk didirikannya sebuah sekolah politeknik di Hindia (Poeze, 1986: 114).

Dirk van Hinloopen Labberton juga berpendapat bahwa jika ada perang, bumiputera pertama tama mesti melindungi kepentingannya sendiri. Labberton juga menjelaskan bahwa tidak lama lagi oleh usaha pihak partikulir di Hindia, kira kira di Bandoeng, akan didirikan Technische Hooge School (Kaoem Moeda, 16 Juli 1917).

Keinginan untuk mendirikan Sekolah Teknik Tinggi di Hindia Belanda, sebenarnya sudah menjadi pemikiran elite Bumiputera dan sementara pengusaha dan industriawan Belanda di Hindia sebelum 1917. Misalnya dalam Doenia Bergerak No. 18 (1914) sudah muncul tulisan berjudul “Pendapatan hal Techniche Hooge School di Hindia” . Soewardi Soerjaningrat yang ketika itu (1917) masih di Nederland gencar sekali mendukung pendirian Sekolah Tinggi Teknik itu. Akhirnya dengan kedatangan delegasi Indie Weerbaar, khususnya Abdoel Moeis berupaya melakukan negosiasi hingga berhasil dengan disetujuinya pembentukan komisi untuk pendidikan teknik di Hindia oleh Ratu Belanda dan 14 pengusaha Belanda yang memberikan dukungan penuh secara finansial Pada tahun 1920, sekolah yang diimpikan itu berdiri di Kota Bandung dengan nama Technische Hogeschool (THS).(Koloniale Studien 1917-1918, hal. 158).

Kantin Salman yang Tetap Lestari

Hampir semua mahasiswa ITB zaman dulu (1970-an) hingga sekarang tahu tempat makan yang bersih, murah, dan variatif di sekitar kampus, yaitu Kantin Salman. Kantin yang berada di lingkungan Masjid Salman ITB ini memang menjadi pilihan banyak mahasiswa ketika sarapan, makan siang, dan sekali-sekali makan malam. Kantin ini selalu ramai pada puncak jam makan siang (12.00 – 14.00).

Dulu ketika saya kuliah belum banyak kantin di dalam kampus. Hanya ada kantin Kokesma di gedung RSG yang sekarang telah dihancurkan dan bangun menjadi gedung Student Center, kemudian kantin GKU Barat dengan ibu kasir yang terkenal amat galak itu (he..he, saya masih ingat dulu pernah dibentak oleh ibu galak itu yang kemudian saya tahu dia adalah istri dosen Teknik Fisika. Gimana suaminya bisa tahan ya dengan perempuan galak itu, he..hee.). Kantin Borju di dasar LabTek V baru ada pada tahun 1996 (disebut borju karena dulu makanannya agak aneh dan mahal gitu). Kemudian bermunculan Kantin Gedung Bengkok dan kafe di Student Center sekarang. Di luar kampus juga muncul kantin pujasera yang berjejer di Jalan Gelapnyawang, kantin pujasera itu baru ada pada tahun 2000-an setelah para pedagang kaki lima di Jalan Ganesha direlokasikan ke sana. Ini belum termasuk kantin-kantin kaki lima di belakang kampus sekitar Jalan Tamansari dan Dayang Sumbi.

Untuk urusan makan memang ITB tidak menyediakan kantin yang cukup banyak, nyaman, murah dan sehat. Padahal setiap hari ada sekitar 15.000 orang lebih di dalam kampus yang perlu mencari makan siang. Kantin Salman adalah alternatif bagi mahasiswa yang ingin mencari makan siang yang murah, sehat, dan banyak variasinya, selain itu swalayan alias ambil sendiri menunya sesuai selera baru kemudian bayar. Memang perlu berjalan kaki ke luar kampus menuju Masjid Salman, tetapi sekalian shalat Dhuhur di masjid tentu tidak masalah.

Kantin Salman adalah tempat “pelarian” saya dulu untuk sarapan dan makan siang. Dengan uang kiriman yang pas-pasan dari orangtua, makan di kantin ini adalah alternatif yang tepat. Mulanya saya kurang sreg dengan menu masakan di sana, agak jawa dan nyunda gitu. Maklum selera makan saya agak payah bilamana tidak ketemu masakan Minang. Tapi, lama-kelamaan akhirnya bisa juga saya menyesuaikan asalkan masakannya tidak yang manis. Kalau di rumah makan Padang terus-terusan bisa tekor saya karena agak mahal untuk ukuran kantong mahasiswa seperti saya.

Bila saya mau kuliah dan tidak sempat sarapan di sekitar kosan, maka saya makan di kantin ini dengan menu favorit adalah telur dadar gulung. Saya sarapan sekitar jam 9 pagi gitu, seusai jam kuliah pertama. Kalau makan siang saya suka pecelnya, pecel khas Jawa yang enak dan pedas, sedangkan untuk lauknya favorit saya adalah ayam goreng tepung dan tempe goreng garing.

Meskipun saya masih tetap di ITB, saya sudah sangat jarang saya makan di kantin Salman. Apalagi sejak saya menikah, lebih banyak saya membawa bekal makan siang sendiri dari rumah. Kadang-kadang saya dapat makan karena ada rapat atau sidang tugas akhir di kampus, oleh karena itu saya jarang makan di luar. Kalau tidak dapat makan siang, biasanya saya menyuruh pramukantor membeli nasi kapau (masih Padang juga, he..he) atau mi goreng aceh di jalan Dago.

Sekali-sekali saja saya masih makan di Kantin Salman. Mbak-mbak pelayannya ada yang masih saya kenal bertahan hingga sekarang. Minggu lalu saya membeli makan siang di sana. Saya sempat foto-foto suasana dan menu masakannya seperti di bawah ini:

Pembeli memilih sendiri makanannya (self service). Jalur untuk pria dan wanita dipisah sesuai syariat agama.

Aneka ragam masakan yang bisa dipilih sendiri sesuka hati

Aneka minuman mulai dari yoghurt, cendol, kacang hijau, teh manis, dll. Silakan tambahkan es batunya sendiri.

Puluhan jenis kue basah yang menggoda selera

Silakan ambil nasi sendiri, banyak atau sedikit. Jika anda punya perut dengan porsi besar, anda bisa mengambil nasi dengan porsi banyak. Harganya dianggap satu porsi.

Ruang makan. Tidak terlalu ramai, maklum saya ke sana jam 10 pagi.

Kantin Salman tampak dari luar

Sampai sekarang menu-menu favorit saya masih ada di sana yaitu telur dadar gulung, ayam goreng tepung, pecel, tempe goreng tepung, soto ayam, dan lain-lain. Tentu sudah banyak menu-menu baru yang mengindonesia sehingga rasanya tidak lagi dominan Jawa.

Agar anda bisa menilai seberapa murah makan di Kantin Salman, menu makan siang yang saya pilih untuk dibungkus adalah nasi satu porsi, satu potong ayam goreng tepung (dada), sayur tahu, sambal, buah pisang dan buah semangka, semuanya hanya Rp8.500 rupiah saja. Relatif murah untuk ukuran makan di seputaran kampus dengan menu sejenis itu.

Meskipun berada di lingkungan Masjid Salman, namun mahasiswa yang makan di sana siapa saja, baik yang muslim atau bukan, baik suku jawa, sunda, minang, batak atau etnis cina. Alasan mengapa banyak orang makan di sana tak lain karena hal-hal yang saya sebutkan di atas: murah, sehat, dan variatif. Hingga kini kantin Salman tetap eksis dan menjadi andalan mahasiswa perantauan.

Foto-Foto Kampus ITB Tempo Doeloe (1920 – 1930)

Foto-foto zaman dulu banyak bercerita tentang situasi saat itu. Kata sebuah peribahasa terkenal a picture is more than words. Melihat foto-foto kampus ITB zaman dulu terbayang kesederhanaan orang-orang kala itu.

Saya menemukan beberapa foto kampus ITB tempo doeloe (antara tahun 1920 – 1930) yang saya unduh dari beberapa sumber di Internet, yaitu Babad Tanah Ganesha di Kaskus dan laman akun fesbuk Mahanagari.

1. Dikutip dari sini: “Foto udara kampus Technische Hoogeschool (TH) — sekarang ITB — sekitar tahun 1924-1933, dari kanan ke kiri adalah 2 buah hulpgebouwen (bangunan tambahan) di belakang Barakgebouw B (tahun 1990-an dibongkar jadi Gedung FSRD yang sekarang) (selesai tahun1920); sebelah kirinya adalah Barakgebouw B (sekarang Aula Timur) (selesai tahun 1920); area gerbang; Barakgebouw A (sekarang Aula Barat) (selesai 1920-akhir); Gedung Kelas & Ruang Gambar (sekarang Jurusan Teknik Sipil) (selesai tahun 1923); Bosscha-Laboratorium Natuurkunde (sekarang Jurusan Fisika) (selesai tahun 1922)”.

2. Dikutip dari sini: “Foto udara kampus TH sekitar tahun 1924-1933-an yang pasti lbh muda dari foto sebelumnya karena sudah ada proefbaan (jalur uji coba – lihat kanan atas) di belakang hulpgebouwen (bangunan tambahan). Tapi yg pasti sebelum tahun 1935 dimana Laboratorium Technische Hygiene & Assaineering (laboratorium teknik lingkungan) berdiri.”

3. Gerbang Utara sedang dibangun. Sumber foto: Mahanagari.

4. Lapangan di sekitar Aula Barat atau Aula Timurkah ini? Sumber foto: Mahanagari.

5. Pembangunan Aula Timur. Dari kejauhan atap Aula Barat sedang dipasang.

6. Aula Timur sudah selesai dengan tanaman perdu di depannya

7. Taman Ganesha dengan latar belakang kampus ITB.

8. Foto Taman Ganesha yang lain. Tampak gunung Tangkubanperahu di kejauhan.

9. Beberapa bangunan: Aula Barat, Aula Timur, teknik Sipil, dan Jurusan Fisika

10. Beberapa orang meneer berfoto di depan Aula Timur

Nonton Malam Pagelaran Seni Budaya Minang, UKM-ITB 2012

Minggu malam yang lalu saya hadir kembali untuk menyaksikan pentas kesenian minang yang diselenggarakan oleh mahasiswa-mahasiswa ITB yang tergabung di dalam Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB di Sasana Budaya Ganesha. Pentas seni ini adalah dalam rangka dies unit mereka yang ke-37 pada tahun 2012. Sebagai seorang pemerhati budaya tentu saja saya suka menyaksikan pentas-pentas seni budaya (apa saja) yang diadakan oleh mahasiswa-mahasiswa ITB. Nilai plusnya adalah karena mereka bukan mahasiswa perguruan tinggi seni karawitan, tetapi mereka adalah mahasiswa perguruan tinggi sains dan teknologi, yang sehari-harinya bergelut dengan ilmu eksakta. Disela-sela waktu kuliah mereka menyempatkan diri bergabung dan berlatih seni dan budaya daerah, salah satunya seni budaya minang. Hidup di kampus ITB memang tidak hanya otak saja yang dilatih, tetapi rasa dan karsa juga harus diperhalus agar lulusan ITB nantinya menjadi manusia yang berjiwa lembut disamping perannya sebagai seorang saintis dan enjinir. IQ, EQ, dan ESQ memang harus dilatih secara bersamaan agar hidup ini seimbang.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, malam pegelaran seni budaya minang yang diselenggarakan oleh UKM-ITB ini selalu ditunggu-tunggu oleh mahasiswa dan perantau minang di Bandung. Terbukti tiket pagelaran sudah sold-out empat hari sebelum pertunjukan. Masih ratusan orang lagi yang masuk daftar tunggu tiket. Informasi penjualan tiket melalui jejaring sosial (facebook dan twitter) sangat efektif membuat tiket habis terjual dalam waktu yang singkat. Sayang ya auditorium Sabuga hanya digunakan seperempat saja, kalau digunakan setengah lingkaran (ukuran audiorium yang sebenarnya yang dapat menampung 4000 orang), mungkin calon penonton yang tidak kebagian tiket bisa terakomodasi. Btw, penonton tidak hanya orang Minang saja, banyak juga saya bertemu mantan mahasiswa saya asal Jawa yang tertarik dengan acara keseniang minang ini.

Memasuki ruang audotorium Sabuga kita sudah disambut dengan lorong pelaminan yang dijaga oleh anak daro dan marapulai. Pegelaran budaya ini memang diset sepeti perhelatan sehingga dekorasinya seperti orang baralek saja.

Penonton berfoto bersama penerima tamu yang berpakaian pengantin adat minangkabau.

Seperti pagelaran seni tahun-tahun sebelumnya, pagelaran seni yang dibuat oleh adik-adik mahasiswa UKM-ITB tahun ini tidak jauh dari pakem , yaitu cerita drama klasik yang diselingi dengan musik dan tari-tarian tradisionil Minangkabau. Sebagai orang yang rutin menonton acara ini setiap tahun saya tidak melihat ada yang baru atau yang membuat surprise. Sepertinya ada keengganan bagi adik-adik mahasiswa untuk membuat sesuatu yang baru yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Toh acara puncak dies Unit Kegiatan Mahasiswa tidak harus berupa pegelaran cerita drama, bisa juga berupa bentuk lain seperti festival lagu minang yang finalnya pada malam dies. Tari-tarian dan musik talempong bisa dipakai untuk meramaikan acara. Kalau tidak ada tarian minang dan musik talempong memang hambar rasanya.

Seperti biasa pembukaan acara selalu dimulai dengan Tari Galombang Pasambahan. Mereka menarikannya dengan manis dan apik. Betul-betul rancak.

Tari Galombang Pasambahan

Ceritra drama kali ini adalah kisah masa lalu yang bercerita tentang seorang lelaki dan gadis minang yang saling jatuh cinta. Diantara kisah cinta itu ada prahara dan aneka pergulatan yang bertujuan untuk membuat cerita menjadi dramatis, diselingi lawakan beberapa pemain pendukung untuk membuat gelak tawa penonton. Seperti jamak cerita hitam-putih, yang baik yang akan menang dan yang jahat yang akan kalah. Tidak penting benar jalan cerita itu bagi penonton, sebab yang ingin dinikmati adalah hiburan mata dan telinga berupa pertunjukan yang rancak, tarian yang bagus, pakaian yang indah, dan musik yang enak.

Pertarungan pencak silat di dalam cerita drama

Seperti yang saya duga, tarian yang dibawakan tidak banyak dan sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu Tari Rantak, Tari Kipeh Marawa, Tari Indang, dan Tari Piring (Manggaro). Belum ada tarian baru nih. Untunglah para penari memainkan tari dengan pas dan ciamik.

Tari Kipeh Marawa

Tari Indang

Tari Piriang Manggaro

Gerakan Tari Piriang Manggaro yang lain

Pujian saya berikan pada Tari Indang dan Tari Piring Manggaro yang benar-benar heboh. Kapan-kapan Tari Piriang Manggaro ini jangan ditampilkan pada bagian akhir, tetapi pada bagian awal acara untuk “membius” dan memikat penonton agar tetap betah duduk. Pakem tarian yang biasa-biasa saja lalu berakhir dengan tari pemuncak bisa dibalik, yaitu tari yang heboh dulu di awal, yang biasa-biasa di tengah, dan yang heboh berikutnya sebagai penutup. Misalnya Tari Piriang Manggaro di awal, lalu Tari Piriang klasik yang menginjak-injak kaca sebagai penutup. Tari piriang sempat saya rekam videonya, insya Allah akan saya berikan tautannya di web saya.

Seluruh penari dan pemain menutup acara dengan manis

Beberapa hal lain yang mencuri perhatian adalah opening art berupa video persiapan panitia yang bagus, dan closing art yang kocak. Bagus deh, sayang sekali saya lupa memotretnya.

Okay, students, anda sudah melakukan yang terbaik, sudah bekerja keras dan berlatih selama berbulan-bulan, two thumbs up buat anda. Semoga tahun depan anda dapat membuat acara menarik dan lebih bagus lagi dari tahun sekarang. Asah terus kreativitasmu dan jangan takut membuat sesuatu yang baru dan beda.

Punya Profile di “Google Scholar”

Rekan saya dari Teknik Telekomunikasi STEI-ITB, Kang Eueung Mulyana, mengabarkan bahwa saat ini setiap penulis (author) makalah/artikel dapat membuat profile sendiri di Google Scholar. FYI, Google Scholar adalah salah satu mesin pengindeks untuk makalah, buku, dan karya-karya kecendekiaan lainnya asalkan dalam bentuk tertulis. Mesin pengindeks yang lain adalah Scopus, Index Copernicus, ProQuest, IEEXplore, dan sebagainya.

Profile di Google Scholar berisi daftar semua tulisan seorang penulis (buku, makalah, artikel, dsb) yang dikutip (citation) oleh penulis lain. Tulisan karya penulis tersebut diacu sebagai referensi yang disebutkan di dalam daftar pustaka. Daftar semua kutipan tersebut berasal dari search.scholar yg secara otomatis di-crawl oleh Google apabila artikel/makalah terkait bisa ditemukan oleh Google.

Cara membuat profile di Google Scholar adalah sebagai berikut:

1. Anda hanya hanya perlu login dengan akun gmail

2) Buka alamat http://scholar.google.com atau http://scholar.google.co.id/

3) Klik link “My Citation” atau “Kutipan Saya” (jika di http://scholar.google.co.id) di kanan atas atau kanan bawah

4) Ikuti 3 langkah pada halaman tersebut

5) Edit data bila perlu (foto, affiliation dll.), kemduian klik “Make Public” agar bsia dilihat oleh orang lain.

Nah, saya mengikuti algoritma yang diberikan oleh Kang Eueung Mulyana di atas, maka jadilah seperti gambar di bawah ini:

Anda dapat melihat profile saya di Google Scholar pada alamat ini: http://scholar.google.com/citations?hl=en&user=ugYa9lEAAAAJ&oi=sra

Profile scholar punya Kang Eueung Mulyana yang ini: http://scholar.google.com/citations?user=-wXTUQoAAAAJ&hl=en

Wah, betapa kaget saya melihat profile saya sendiri, tidak menyangka sebanyak itu. Ternyata Google Scholar tidak hanya berhasil mengumpulkan semua citation terhadap makalah-makalah saya, tetapi juga semua citation buku dan diktat kuliah yang saya tulis. Buku saya yang sederhana, yaitu Pengolahan Citra Digital dengan Pendekatan Algoritmik tenyata mempunyai citation tertinggi, yakni dikutip oleh 169 makalah (status saat tulisan ini dibuat). Dengan mengklik angka cite maka anda dapat melihat makalah-makalah apa saja yang mengutip suatu tulisan/artikel.

Selain buku dan diktat, makalah-makalah saya di berbagai konferensi dan jurnal ilmiah juga mendapat citation, baik oleh penulis di dalam negeri maupun di luar negeri. Bahkan, beberapa makalah penulis tersebut sudah terindeks pula di dalam IEEXplore. Memang tidak semua makalah saya mendapat citation

Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah SWT bahwa apa yang saya tulis memberi nilai tambah bagi orang lain. Jika semua karya kecendekiaan (scholar) kita di-online kan di internet, maka akan banyak manfaat bagi orang lain yang membacanya. Jazakallah.

Dengan menaruh makalah/artikel kita di Internet, maka mesin-mesin pencari akan mengindeks tulisan kita tersebut. Dampaknya, selain terhadap si penulis, secara tidak langsung juga akan meningkatkan penilaian oleh lembaga pemeringkat perguruan tinggi dunia seperti THES, sebab salah satu kriteria pemeringkatan perguruan tinggi adalah jumlah citation index yang dikumpulkan oleh mesin pencari. Hmmmm… saya berpikir alangkah baiknya para akademisi (mahasiswa, dosen, peneliti) di seluruh Indonesia juga membuat scholar profile di Google.

Apakah anda sudah membuat profile di Google Scholar?

Asrama Mahasiswa ITB Dalam Kenangan (1)

Sewaktu tingkat akhir di ITB tahun 1990 hingga 1992 saya memutuskan tinggal di Asrama Mahasiswa ITB. Asrama mahasiswa ITB terletak persis di depan kampus Ganesha, berupa rumah-rumah peninggalan Belanda yang diberi nama Rumah A hingga H. Rumah A yang paling depan, Rumah B dan Rumah C di Jalan Skanda (jalan di samping Taman Ganesha itu), Rumah D alias barrac di Jalan Gelapnyawang, Rumah E alias Villa Merah, dan Rumah F di samping Bank BNI ITB.

Dua rumah yang terpisah jauh adalah Rumah G di Jalan Sawunggaling yang sekarang menjadi Hotel Sawunggaling, dan Rumah H di Jalan Cisitu. Satu lagi asrama khusus putri di pertigaan Jalan Gelapnyawang (belakang Masjid Salman) yang sekarang menjadi Klinik Medika Ganesha. Saya dulu tinggal di Rumah C yang berwarna oranye. Tiap rumah punya warna cat sendiri (Rumah B berwarna biru, rumah E berwarna merah sesuai namanya, dan lain-lain).

Setiap Rumah mempunyai alumni ITB yang dibanggakan dan telah menjadi tokoh nasional. Di rumah E (Villa Merah) pernah dihuni Azwar Anas (mantan menteri dan Gubernur Sumbar), di rumah D (barrac) pernah dihuni Aburizal Bakrie, di rumah C ada Fadel Muhammad, dan lain-lain. Senior saya, Prof Iping juga aumni Rumah C.

Tinggal di asrama sangat berkesan bagi saya. Di sana saya menemukan banyak kawan dengan aneka sifat dan karakter. Status saya di asrama adalah sebagai penghuni tamu. Kapasitas di asrama jarang penuh, sehingga pengelola asrama menyewakan kamar bagi mahasiswa ITB dengan status sementara (misalnya mahasiswa yang sedang TA/Thesis seperti saya, orang luar yang mengikuti pelatihan selama beberapa bulan di ITB, wisudawan yang habis masa kosnya dan menunggu panggilan kerja, dan sebagainya). Meskipun berstatus “tamu” namun saya cukup lama tinggal di Rumah C yaitu sekitar 2 tahun dan diperlakukan sama dengan penghuni lainnya.

Karena asrama persis di depan kampus, maka mau ke kampus cukup jalan kaki. Makan ikut catering di dalam dengan harga yang sangat murah. Karena penghuni asrama cukup banyak maka makan secara kolektif jatuhnya murah. Ada bibik yang disewa untuk memasak. Fasilitas di asrama sangat berlimpah, air dan listrik sepuasnya, udara segar karena banyak pepohonan, ada fasilitas olahraga (tenis meja, voli, basket). Asrama-asrama ini disubsidi oleh ITB sehingga penghuni membayarnya cukup murah, hanya Rp15.000/bulan saat itu. Wah, pokoknya menyenangkan hidup di asrama ITB. Oh iya, satu kamar diisi dua sampai empat orang. Penghuni yang senior mendapat kamar sendiri agar mereka dapat mengerjakan TA dengan tenang. Saya sebagai penghuni tamu tetap puas sekamar bertiga. Kamarnya besar-besar dan luas sehingga tetap lapang meskipun dibagi empat partisi.

Sekarang rumah-rumah itu tidak lagi dijadikan asrama mahasiswa, tetapi digunakan sebagai kantor-kantor oleh ITB. Villa Merah yang dulu terkenal dengan Bimbelnya sekarang menjadi Gedung Alumni, rumah barrac menjadi sekolah MBA ITB, Rumah B dan Rumah C menjadi kantor LAPI ITB, Rumah F menjadi Pusat Inkubator Bisnis, dan Rumah A menjadi Gedung Kemitraan. Setahu saya rumah-rumah itu dipakai sebagai asrama hingga akhir tahun 90-an. Sejak itu tidak ada lagi asrama mahasiswa yang dikelola ITB. Sekarang memang ada beberapa asrama mahasiswa ITB tetapi dikelola oleh pihak swasta, yaitu asrama di Jalan Kanayakan dan Jalan Cisitu.

Di bawah ini beberapa foto kondisi bekas asrama mahasiswa ITB saat ini yang sudah menjadi kantor-kantor unit ITB yang lain. Setiap hari saya selalu lewat di depan asrama itu. Setiap kali memandang Rumah C saya selalu terkenang masa-masa pernah hidup di dalamnya.

Rumah A dilihat dari samping

Rumah A dari sudut kiri

Rumah B

Jalan antara Rumah A dan Rumah B

Rumah C. Di sinilah saya dulu pernah tinggal selama dua tahun.

Jajaran pohon palem sepanjang jalan masuk ke rumah C masih tetap ada hingga saat ini.

Bekas lapangan voli di belakang Rumah C. Pintu yang terlihat di sebelah kanan adalah pintu kamar saya waktu pertama kali tinggal di asrama ini dulu.

Rumah D (barrac). Sekarang menjadi sekolah MBA-ITB

Rumah E (Villa Merah). Konon warna merah itu adalah warna asli batu bata yang didatangkan dari Belanda.

Bangunan terpisah dari Villa Merah. Dulu dijadikan kamar senior asrama.

Rumah G (sekarang Hotel Sawunggaling di Jalan Sawunggaling)

Asrama Putri ITB (sekarang menjadi Klinik Medika Ganesha ITB).
Sumber foto: http://www.itb.ac.id/gallery/1349

Dari TK Hingga Mahasiswa Ada Bimbel-nya

Bimbingan Belajar atau Bimbel sekarang ini ada di mana-mana, terutama di kota-kota. Para siswa mulai dari SD hingga SMA mengikuti Bimbel untuk mendongkrak prestasi belajar mereka di sekolah. Bimbel ada karena siswa merasa pelajaran di sekolah masih kurang dimengerti sehingga mereka merasa perlu ikut Bimbel. Orangtua juga sibuk di luar sehingga tidak bisa membimbing anak-anaknya belajar di rumah. Baiklah, itu alasan yang bisa dipahami meskipun tidak bsia selalu menjadi pembenaran.

Tidak hanya untuk siswa SD hingga SMA, untuk anak prasekolah (TK) pun juga ada Bimbel-nya. Saya sering membaca iklan di koran atau yang ditempel di pohon-pohon tentang bimbingan belajar membaca, menulis, dan berhitung bagi anak TK. Bahkan banyak orangtua yang telah memasukkan anak-anak mereka yang masih TK ikut les matematika Kumon. Kasihan anak TK, belum waktunya mereka dipaksa untuk belajar menulis, membaca, dan berhitung, tetapi orangtua sudah memasukkan mereka ke Bimbel lebih dini.

Menarik menyoroti fenomena bahwa Bimbel bukan hanya untuk siswa yang merasa diri lemah, tetapi siswa-siswa yang otaknya pintar pun ikut-ikutan Bimbel. Mereka ini menurut saya adalah anak-anak yang merasa kurang percaya diri (PD) sehingga ikut trend teman-temannya yang les di Bimbel. Persaingan memperebutkan sekolah favorit di tingkat SMP dan SMA berdasarkan nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) telah membuat banyak siswa-siswa yang sebenarnya tidak perlu Bimbel akhirnya merengek-rengek kepada orangtuanya agar ikut Bimbel.

Bagi Bimbel, memperoleh siswa yang pintar adalah berkah atau aset yang berharga, sebab keberhasilan siswa tersebut masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi (SMP/SMA/PTN) akan mengangkat nama lembaga mereka. Bimbel akan mengklaim inilah siswa-siswa mereka yang berhasil masuk sekolah atau PTN favorit. Kadang-kadang siswa yang mendapat ranking di sekolah dibebaskan dari biaya Bimbel atau diberi potongan harga yang besar agar mereka tertarik masuk.

Jangan dikira Bimbel itu hanya sampai SMA saja. Bahkan hingga menjadi mahasiswa pun masih ada Bimbel. Setidaknya ini saya temukan di ITB, ada Bimbel yang dikhususkan bagi mahasiswa TPB (tingkat 1 ITB) dengan harga yang mencapai jutaan rupiah, bahkan pakai garansi nilai A lagi. Lihat foto di bawah ini:

Sumber foto dari sini: http://wa2010.ee.itb.ac.id/content/bimbingan-test-tpb-itb

Bimbel buat mahasiswa ITB ini muncul diduga sebagai “kerasnya” efek persaingan memilih Program Studi pada tahun kedua di ITB. Peminat Prodi tertentu di suatu fakultas sangat banyak tetapi jumlah kursi terbatas, akhirnya seleksi terpaksa dilakukan berdasarkan IPK TPB. FYI, di ITB mahasiswa masuk Prodi pada tahun kedua. Ketika menjadi mahasiswa baru ITB statusnya adalah sebagai mahasiswa di fakultasnya. Jadi, ketika ikut SNMPTN calon mahasiswa yang memilih ITB hanya bisa memilih fakultas saja (gal ini berbeda di PT lain dimana mahasiswanya sudah memilih jurusan/Prodi ketika baru masuk). Nanti pada tahun kedua mereka berada pada Prodi pilihannya sesuai dengan minat (dari kuisioner yang diisi sebanyak 3 kali), daya tampung, dan IPK. Karena itu “wajar” jika mahasiswa TPB-ITB berlomba mendapat IPK tinggi agar bisa lolos masuk Prodi pilihannya.

Adanya Bimbel buat mahasiswa itu tentu fenomena yang ganjil karena terjadi di ITB. Dulu belum pernah ada Bimbel seperti ini, toh kami-kami bisa juga lulus dengan baik. Mungkin lain dulu lain sekarang. Dengan tingkat ekonomi mahasiswa baru ITB yang sebagian besar dari kelas atas, maka hal ini ditangkap sebagai peluang bisnis bagi mahasiswa lain. Tentu saja hal ini sah-sah saja, namun bagi saya tetap merasa aneh karena terjadi di kampus saya. Apakah kualitas mahasiswa baru sekarang ini semakin menurun sehingga sampai ada Bimbel? Atau karena sengitnya pemilihan Prodi? Atau karena faktor lain? Yang saya khawatirkan adalah jangan sampai mahasiswa menganggap segala persoalan bisa diselesaikan dengan uang. Tidak baik.

Etika (Sebagian) Mahasiswa Kami

Ini kejadian di ITB tempat saya mengajar dan sempat ramai dibincangakn di milis dosen. Seorang dosen Fisika mempunyai pengalaman buruk dengan attitude (sebagian) mahasiswa kami. Ketika dia mengajar, di ruang kuliah sebelah sekelompok mahasiswa membuat ribut hingga mengganggu konsentrasinya mengajar. Dia pun keluar ruangan dan menegur para mahasiswa tersebut, tetapi mereka tetap ketawa-tawa dan bersorak. Hingga akhirnya dosen tersebut menulis e-mail di milis mengeluhkan kelakuan mahasiswa kami itu. Cerita selengkapnya dan komentar-komentar para mahasiswa dan alumni bisa dibaca di blog Pak Budi Rahardjo ini.

Seorang dosen lain menulis di milis pengalamannya tentang sopan-santun mahasiswa. Ketika dia akan masuk kelas, sekelompok mahasiswa duduk-duduk tepat di depan pintu sehingga menghalanginya masuk. Dia pun menegur para mahasiswa tersebut dan menyuruh mereka duduk di teras samping pintu agar tidak mengganggu orang yang keluar masuk. Hanya ada dua-tiga orang yang duduk di mulut pintu yang bergeser. Yang lebih buruk, ketika dia baru masuk melewati pintu di belakangnya terdengar celetukan, “Lu yang ganggu kita!”.

Lu yang ganggu kita? Astaghfirullah, ditegur baik-baik malah mendapat celutukan asbun yang membuat sakit hati, pakai kata “lu” lagi.

Kalau dikumpulkan tentu banyak pengalaman dosen yang tidak berkenan dengan sikap mahasiswa. Saya juga mempunyai beberapa pengalaman yang tidak mengenakkan dengan mahasiswa. Ketika saya sedang berbicara dengan teman, datang seorang mahasiswa yang memotong pembicaraan tanpa permisi dan berkata:”Pak, minta tanda tangan”. Sopan nggak sih memotong pembicaraan orang lain? Atau pengalaman naik lift dengan seorang mahasiswa yang selama di dalam lift dia pura-pura seperti orang tidak kenal dan memasang wajah jutek tanpa sapaan sama sekali. Mahasiswa(i) kayak gini mungkin tidak diajar sopan santun oleh orangtuanya di rumah, tegur sapa dengan orang lain itu penting, apalagi kepada orangtua atau guru.

Sikap yang tidak sopan semacam cerita di atas tentu tidak bisa digeneralisasi kepada semua mahasiswa kami. Itu hanyalah ulah oknum saja, hanya sebagian mahasiswa saja yang begitu. Mungkin mereka ini yang EQ-nya di bawah IQ. Otak pintar tetapi kelakuan jelek jangan harap bisa sukses dalam hidup bermasyarakat.

Tentu saja — meminjam kata-kata Pak Budi — kami para dosen tidak gila hormat atau meminta penghormatan yang berlebihan seperti menunduk-nunduk atau cium tangan. Yang wajar-wajar saja sesuai dengan norma umum kesopanan yang berlaku. Zaman boleh semakin maju, kepintaran mahasiswa boleh semakin hebat, tetapi yang namanya tata krama, etika, budi pekerti, attitude atau apalah namanya tetap di atas semua hal itu.

Plang “Area Merokok” Yang Aneh

Kampus ITB mencanangkan diri sebagai kampus bebas asap rokok. Memang kurang tepat di kawasan pendidikan ada orang yang bebas merokok. Tetapi, tentu saja kampus ITB tidak benar-benar bebas rokok sama sekali. Tidak mudah juga menghilangkan kebiasaan sebagian orang di kampus (mahasiswa, dosen, karyawan) yang mempunyai kebiasaan merokok. Oleh karena itu, bagi orang yang tidak bisa hidup tanpa rokok, maka di beberapa tempat di dalam kampus di pasang plang area boleh merokok seperti yang tampak di dekat Aula Barat pada foto di bawah ini.

Nah, kalau anda ingin merokok, silakan dulu berjalan kaki ke samping Aula Barat yang rimbun pohonnya itu (depan parkiran Teknik Spil). Silakan merokok sepuasnya di dekat plang “Area Merokok” ini. Ada dua asbak besar yang berdiri tegak untuk menampung abu rokok dan sisa puntung rokok anda. Sengaja dibuat di tempat yang rimbun pohon, sebab daun-daun pohon itu berfungsi sebagai paru-paru untuk memfilter CO2 dari asap rokok

Plang tersebut tujuannya bagus, yaitu untuk membatasi orang merokok di sembarang tempat di dalam kampus. Tetapi, menurut saya ada yang aneh. Siapa pula orang yang mau merokok di dekat plang itu? Tidak ada tempat duduk di dekat plang itu, sehingga orang yang akan merokok tidak akan betah berlama-lama di sana. Kemudian, tempatnya yang terbuka membuat orang malu atau enggan untuk merokok di area tersebut. Siapa pula orang mau merokok sambil dilihat oleh orang yang lalu lalang di sana?

Pokoknya tidak asyiklah merokok di dekat plang ini. Karena perokok merasa tidak nyaman di area tersebut, akhirnya ia kembali lagi merokok di sembarang tempat di dalam kampus. Maka, area merokok di ruang terbuka itu menjadi percuma saja. Kecuali kalau hukuman ditegakkan kepada orang yang merokok di sembarang tempat, maka barulah area merokok yang dibuat itu berguna. Tapi, yaaa…. tidak ada hukuman buat perokok di dalam kampus ITB.

Menjadi Alumni ITB yang Rendah Hati dan Tidak Sombong

Setelah membaca tulisan seorang head-hunter tentang alumni ITB, saya cukup lama termenung. Kalau mau baca tulisannya, klik ini: Kata Mereka Tentang ITB. Sebenarnya kritik terhadap alumni ITB yang dikesankan arogan, sombong, songong, kaku, dan sederet cap negatif lainnya sudah sering saya dengar. Apalagi jika alumni ITB itu dibanding-bandingkan dengan lulusan perguruan tinggi lain. Namun karena sekarang ini zaman digital, tulisan semacam itu sangat cepat beredar di dunia maya, maka saya pun terhenyak untuk berpikir kembali.

Tanpa bermaksud bertindak defensif, kritik di dalam tulisan tersebut harus diterima dengan hati lapang sebagai bahan introspeksi. Tidak perlu pula kita sebagai orang ITB merasa panas dan bersikap reaktif. Justru kalau disikapi dengan reaktif akan makin membenarkan pandangan bahwa alumni ITB memang seperti yang dituduhkan.

Ambil saja yang positifnya, santai aja lagi. Yach, mungkin begitulah kesan (sebagian) orang tentang (sebagian) alumni ITB, jadi tidak perlu pula alumni ITB membela diri. Saya katakan “sebagian” karena tidak semua alumni ITB mempunyai sifat negatif seperti yang disebut di dalam tulisan tersebut, dan tidak semua orang punya pandangan stereotype negatif seperti demikian. Sebagian yang dikatakan di dalam tulisan tersebut mungkin ada benarnya, tetapi tidak bisa dirampatkan (digeneralisasi) semua alumni ITB bersifat demikian. Merampatkan (generalisasi) suatu kasus di lapangan dengan keseluruhan alumni ITB jelas berbahaya. Yang ditemukan di lapangan itu tidak mewakili karakteristik keseluruhan alumni.

Setiap mahasiswa yang diterima di ITB pasti merasa bangga karena berhasil masuk perguruan tinggi sains dan teknologi terbaik di negeri ini. Rasa bangga itu wajar saja karena tidak semua siswa SMA di negeri ini mempunyai kesempatan menanam impian masuk ITB. Sejarah ITB yang panjang (sejak 1920) dan reputasi para alumninya menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi mahasiswanya. Hal ini juga ditunjang dengan tradisi ITB sejak dulu yang selalu memilih calon mahasiswa terbaik, sehingga kesan ITB itu perguruan tinggi hebat tidak bisa dielakkan. Di setiap negara pasti ada kebangaan perguruan tinggi seperti ini, tengolkah Harvard University di Amerika, Cambridge University di Inggris, Tokyo Institute of Technology di Jepang, dan lain-lain. Bahkan tidak usah jauh-jauh melihat perguruan tinggi, kebanggaan bersekolah di SMA terbaik pun melekat pada setiap alumninya.

Bangga sih boleh, tetapi sombong jangan. Sebenarnya saya kurang suka menyebut istilah sombong itu. Istilah yang lebih tepat adalah sangat percaya diri (very confidence) kalau tidak bisa disebut over confidence. Para mahasiswa dan alumni ITB pasti setuju kalau mereka memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kalau berhadapan dengan lulusan perguruan tinggi lain dalam suatu ajang kompetisi mereka sangat PD, tiada rasa takut, malu, rendah diri, dan sebagainya. Nah, sikap rasa percaya diri yang sangat itu terlanjur dipahami orang luar sebagai bentuk kesombongan. Apa boleh buat, itulah persepsi masyarakat, meskipun mahasiswa dan alumni ITB tidak pernah punya niat atau terpikir menyombongkan diri. Amit-amit deh.

Namun, saya tidak memungkiri memang ada alumni ITB yang sombong, kaku, dan arogan. Ada dan itu pasti, sebab yang masuk ITB itu kan orang yang bermacam-macam sifat dan perangainya. Sikap merendahkan dan meremehkan orang lain terihat dari ucapan dan cara berpikir alumni yang dikatakan sombong itu. Tetapi berapa jumlahnya? Apakah semua? Mereka ini adalah sebagian alumni (saya tidak mau menyebut semuanya) yang “lupa diri lupa tempat” sebab meneruskan kebanggaan sebagai warga Ganesha menjadi kesombongan di luar. Mereka sudah terbiasa bergaul di lingkungan ITB yang penuh dengan orang-orang hebat, maka setelah di luar mereka lupa kalau lingkungan mereka bukan ITB lagi, tetapi masyarakat yang beraneka ragam. Nah, orang luar yang “kaget” dengan sikap angkuh itu akhirnya menilai tipikal lulusan ITB seperti itu.

Di antara alumni ITB yang dikesankan sombong dan arogan itu, saya yakin justru masih lebih banyak alumninya yang biasa-biasa saja dalam bersikap, rendah hati, tidak sombong, tidak arogan, dan pandai menempatkan dirinya di tengah orang lain. Mereka dulu adalah mahasiswa yang memang sejak kecil sudah mempunyai sifat-sifat yang baik. Jadi, pendidikan selama 4 tahun di ITB tidak melunturkan sifat asli yang memang sudah baik dari sononya. Yang sombong sejak kecil mungkin akan makin sombong setelah masuk ITB, apalagi setelah lulus. Namun emas tidak bisa bercampur dengan besi, besi berbeda dengan loyang, bukan? Yang sombong ada, yang baik dan rendah hati juga ada di mana-mana.

Saya sendiri sebagai dosen di ITB pada setiap kesempatan kuliah selalu berpesan kepada mahasiswa saya agar mereka memakai ilmu padi, yaitu semakin berisi semakin merunduk. Saya katakan tidak ada tempat bagi orang sombong di muka bumi. Di atas langit masih ada langit. Menjadi sombong itu percuma sebab akan dijauhi oleh orang lain. Buat apa manusia itu menyombongkan diri kalau ia menyadari bahwa dirinya sebenarnya adalah tempat penimbunan kotoran. Di hidung ada kotoran, di mata ada kotoran, di gigi ada kotoran, di kulit ada daki, begitu juga di rambut, di kuku, dan di dalam perut ada kotoran. Jadi, manusia yang berjalan di muka bumi dengan kesombongan seharusnya merasa malu bahwa dirinya sebenarnnya adalah gudang kotoran berjalan.

Maka, sifat terbaik bagi siapapun, termasuk mahasiswa dan alumni ITB, adalah rendah hati. Rendah hati itu adalah sifat yang mulia, sebaliknya rendah diri adalah sifat tercela.