Catatanku

Entries categorized as ‘Seputar ITB’

Soal Peringkat ITB yang “Turun”

30 Oktober 2009 · & Komentar

Suatu hari mahasiswa saya datang dengan pertanyaan yang gundah gulana. Ia menyoal tentang peringkat ITB yang berada di bawah peringkat UI dan UGM. Sepertinya dia tidak terima jika ITB berada di bawah UI dan UGM. Narsis juga dia, he..he.

Memang, baru-baru ini lembaga pemeringkat perguruan tinggi prestisius, Times Higher Education – QS World University Ranking (THE-QS World), mengumumkan secara resmi ranking 500 universitas terbaik dari 5.000 perguruan tinggi dunia yang disurvei. Publikasi dari Survei THE-QS World memang selalu menyita perhatian banyak orang, terutama dari kalangan akademisi Indonesia. Hasilnya, ITB berada pada peringkat ke-351 dunia pada 2009 ini. Tahun lalu, peringkat ITB sedikit lebih baik, yaitu ke-315. Sebagai pembanding, UI di peringkat ke-201 dunia, naik 86 peringkat dari tahun sebelumnya, ke-287. Sementara itu, UGM, yang tahun lalu berada di posisi ke-316, kini naik di peringkat ke-250 dunia.

Cuplikan peringkat universitas dunia menurut THE-QS (sumber dari sini):

1 HARVARD University (United States)
2 University of CAMBRIDGE (United Kingdom)
3 YALE University (United States)
4 UCL (University College London) (United Kingdom)
5 University of OXFORD (United Kingdom)

22 University of TOKYO (Japan)
23 KING’S College London (United Kingdom)
24 University of HONG KONG (Hong Kong)

30 National University of Singapore (NUS) (Singapore)

179 TEXAS A&m University (United States)
180 University of MALAYA (UM) (Malaysia)
181 Indian Institute of Technology Delhi (IIT) (India)
182 RWTH AACHEN University (Germany)

201 University of INDONESIA (Indonesia)

249 University of SURREY (United Kingdom)
250 GADJAH MADA University (Indonesia)
251 University of WOLLONGONG (Australia)

351 BANDUNG Institute of Technology (ITB) (Indonesia)
351 NATIONAL TAIWAN University of Science An… (Taiwan)
354 University of MARBURG Germany

(Catatan: Hanya tiga perguruan tinggi Indonesia yang masuk 500 besar dunia)

Saya tersenyum-senyum saja mendengar kegundahan mahasiswa saya itu. Tentu saja pemeringkatan itu bagi ITB dianggap kurang fair, karena ITB disejajarkan dengan universitas umum yang mempunyai lingkup jurusan yang beraneka ragam seperti di UI dan UGM. Pemeringkatan THE-QS memang menggunakan spektrum yang luas dan tidak membedakan antara universitas umum dan perguruan tinggi teknologi. Karakteristik pemeringkatannya didominasi oleh size (ukuran student body), scope (cakupan keilmuan), dan research intensity. Ini agak kurang menguntungkan untuk institut seperti ITB.

Contoh untuk scope, yang dinilai itu fully comprehensive untuk lima bidang keilmuan, yaitu life science, technology, biomodedicine, social science, dan arts and humanities. UI dan UGM mempunyai jurusan yang beraneka ragam, mulai dari ilmu-ilmu sosial, humaniora, ekonomi, kedokteran, hingga sains dan teknologi, sedangkan ITB adalah perguruan tinggi spesifik di bidang sains dan teknologi saja. Karena di ITB tidak ada bidang ilmu sosial dan humanities, maka skor untuk social sciences dan humanities tentu saja kecil, nah hal ini tentu membuat skor peringkat keseluruhan menjadi turun. Inilah yang membuat UI dan UGM unggul karena mereka memiliki semua kategori yang bisa dinilai. Apa ITB perlu membuat fakultas sastra ya supaya peringkatnya naik? Seperti joke teman saya, kuliah di ITB jurusan Sastra Mesin, katanya, he..he… Pernah ada angket yang diberikan kepada mahasiswa baru yang berisi pertanyaan fakultas baru apa yang perlu dibuka di ITB, banyak yang menjawab fakultas kedokteran. Nggak lah ya, kalau ITB buka kedokteran atau sastra, bukan institut lagi namanya, tetapi universitas.

Kembali ke soal peringkat, seharusnya pemeringkatan itu dibaca secara hati-hati, yaitu per kategori. Pada kategori teknologi (IT dan engeneering), ITB menempati 80 dunia, lebih tinggi daripada UI dan UGM. Jelas, ini meningkat dibandingkan tahun 2008 yang berada di urutan 90 dunia, dan tahun 2007 yang berada pada urutan 114, meskipun peringkat untuk bidang life science dan biomedicine, apalagi social science, masih belum baik dibandingkan dengan peringkat bidang teknologi.

Di Asia THE-QS juga melakukan pemeringkatan perguruan tinggi (lihat sumbernya di sini). Hasilnya, UI berada pada peringkat 50 besar Asia, kemudian UGM berada di peringkat 63, sedangkan ITB di peringkat 80. Walau ITB kalah di peringkat secara umum, namun ITB mendapatkan peringkat 21 di bidang Engineering & IT sementara UI dan UGM berada diperingkat 44 dan 51. Untuk bidang Natural Science, ITB mendapatkan peringkat 27. Kategori lainnya adalah adalah Arts & Humanities, Life Science & Biomedicine, dan Social Science. Selengkapnya (data diambil dari sini):

Bidang Studi: IT & Engineering:
1. ITB ranking 21
2. UI ranking 44
3. UGM ranking 51
4. Undip ranking 86
5. IPB ranking 87

Bidang Studi: Natural Sciences
1. ITB ranking 27
2. UGM ranking 37
3. UI ranking 58
4. IPB ranking 70

Bidang Studi: Life Sciences & Medicine
1. UGM ranking 16
2. UI ranking 29
3. ITB ranking 50
4. Unair ranking 59
5. Undip ranking 90
6. IPB ranking 92

Bidang Studi: Arts & Humanities
1. UGM ranking 14
2. UI ranking 15
3. ITB ranking 50
4. IPB ranking 86
5. Unair ranking 92
6. Undip ranking 96

Bidang Studi: Social Sciences
1. UI ranking 18
2. UGM ranking 25
3. ITB ranking 50
4. Unair ranking 64
5. Undip ranking 71
6. IPB ranking 88

Meskipun peringkat ITB secara umum di bawah UI dan UGM, masyarakat yang tidak kritis mungkin mempunyai penilaian lain. Mereka melihat prestasi ITB turun dan hal ini tentu saja bisa merugikan citra ITB sendiri. Dari segi marketing jelas ini kurang baik. Ini berbeda dengan UI dan UGM, kenaikan peringkat bagi mereka digunakan secara baik untuk memperbaiki citra dan tentu saja marketing. Memang tidak ada data apakah gara-gara peringkat itu terjadi penurunan minat masuk ke ITB. Setahu saya memang tidak ada hubungannya antara perringkat dan minat calon mahasiswa. Berdasarkan pengamatan saya terhadap siswa-siswa di daerah, ITB tetap menjadi tujuan utama para siswa daerah yang ingin menekuni bidang teknologi.

Meskipun para petinggi ITB tidak menganggap penting soal peringkat (baca berita ini), namun bagi saya sebaliknya. Kita tidak boleh menganggap remeh soal peringkat ini. Peringkat tetap penting, karena hal ini menunjukkan pengakuan dunia internasional terhadap perguruan tinggi di Indonesia.

Kategori: Seputar ITB

Cerita Tentang Gempa Besar Kemaren

3 September 2009 · & Komentar

Gempa besar berskala 7,3 SR yang terjadi kemaren sore di Jawa Barat meninggalkan banyak cerita. Baru kali ini saya merasakan gempa yang begitu hebat dan berlangsung dalam waktu yang lama (40 detik).

Ketika gempa terjadi, saya masih di kampus ITB. Saya dan dua rekan saya sedang melakukan sidang Tugas Akhir seorang mahasiswa Angkatan 2005. Ketika sampai pada giliran saya untuk bertanya, tiba-tiba saya merasakan lantai bergoyang, lama kelamaan makin keras. Wah, gempa! Refleks kami yang berada di ruang sidang (penguji, pembimbing, dan mahasiswa yang disidang), langsung berlarian melalui tangga ke bawah. Kebetulan ruang sidang ada di lantai dua. Para karyawan dan mahasiswa ikut berlarian ke bawah. Semua panik dan ketakutan. Kalau sudah panik begini, maka semua tips dan prosedur keselamatan jika terjadi gempa tidak terpikir lagi. Semua orang pikirannya cari selamat sendiri-sendiri. Ketika melewati tangga, goyangan gempa masih berlangsung dan plesteran dinding di LabTek V mulai berjatuhan. Suasana makin mencekam. Sesampai di luar, ternyata sudah banyak para dosen, mahasiswa dan karyawan yang berdiri di luar gedung. Mereka berjaga-jaga di luar sambil menatap gedung LabTek. Kampus ITB benar-benar heboh saat itu. Kuliah yang sedang berlangsung saat itu langsung bubar, mahasiswa dan dosennnya berlarian ke luar menyelamatkan diri. Benar-benar panik, karena gempanya terasa sekali besarnya.

Hampir semua orang mencoba menelpon dengan HP, mencoba mencari tahu nasib teman, keluarga, atau sekadar mencari informasi. Tetapi, jaringan seluler terputus dan tidak bisa digunakan. Apakah ada tower yang roboh atau bagaimana kok sinyal ponsel menjadi blank? Oh, saya baru tahu keesokan harinya, hal ini terjadi karena pada saat yang sama puluhan ribu atau ratusan ribu orang mencoba melakukan panggilan, akibatnya jaringan seluler sangat padat, macet, dan akhirnya blank.

Nah, setelah goyangan gempa berhenti, kami masuk kembali ke ruangan sidang. Sidang dilanjutkan kembali. Hanya sebentar saya duduk, tiba-tiba gempa susulan datang lagi, meja bergoyang. Secepat kilat kami pun berlarian kembali ke bawah.

Akhirnya, setelah gempa benar-benar mereda, kami kembali lagi ke ruang sidang untuk kedua kalinya. Karena kondisi psikologis tidak memungkinkan melanjutkan sidang, akhirnya sidang ditutup saja, tanpa perlu dilanjutkan tanya jawab lagi. Lalu, bagaimana “nasib” mahasiswa sidang? Tenang, tenang …, mahasiswanya tetap lulus kok, ini “berkah” dari gempa ‘kali :-) .

Saya berkeliling gedung Labtek V. Beberapa bagian LabTek V ada yang rusak, retak, lotengnya ambrol, dan plesteran dindingnya berguguran. Untung gedung tidak roboh, alhamdulilah konstruksinya kuat, mungkin waktu dibangun dulu tidak ada yang mengkorupsi dana pembangunannya sehingga bahan bangunan dan konstruksinya sesuai dengan perencanaan :-) .

Oh ya, ketika saya menengok Lab RPL, beberapa loteng eternitnya jatuh ke bawah. Kondisi yang sama juga terjadi di LabDas, Ini foto di Lab RPL (masih sempat-sempatnyanya membuat foto di tengah susasana yang masih mencekam itu :-) , naluri “wartawan blog”):

DSC00692

Kalau yang di bawah ini adalah plesteran dinding dekat tangga di lantai 2 yang berguguran ke bawah:

DSC00694

Tidak parah memang, tidak seperti gedung-gedung dan rumah yang roboh di Tasikmalaya. Alhamdulillah, saya bersyukur kami semua selamat, termasuk anak-anak yang berada di rumah.

Kategori: Seputar ITB

Jalur “Fast Track” S1 dan S2 di ITB

29 Agustus 2009 · & Komentar

Iri juga melihat mahasiswa zaman sekarang :-) . Masih muda — berkisar umur antara 22 dan 24 tahun — sudah menyandang gelar magister (S2). Saya masih ingat dulu untuk meneruskan S2 saja umur saya sudah kepala 3 , hi..hi..hi :-) .

Nah, sekarang ITB mempermudah lagi mengambil program S2. Tidak perlu lulus kuliah S1 dulu, sembari di S1 mahasiswa sudah bisa mengambil program S2 sekaligus. Jalur cepat ini dinamakan jalur fast track. Maksudnya, anda sudah bisa menjadi mahasiswa S2 ketika masih duduk pada tahun ke-4 di S1. Program S1 dan S2 cukup ditempuh dalam waktu 5 tahun saja (4 tahun S1 + 1 tahun S2) Ini merupakan suatu cara ITB untuk meningkatkan kualitas S2 dan memperbanyak lulusan ITB yang bergelar magister. Dengan semakin banyak mahasiswa ITB mengambil S2 di ITB sendiri, maka kualitas S2 akan mendekati kualitas S1. Untuk meningkatkan kualitas sebuah program pendidikan, bahan bakunya memang harus yang bagus. Bahan baku yang bagus itu sudah tersedia di S1, jadi kenapa tidak dilanjutkan saja ke jenjang S2?

Di Informatika ITB, mahasiswa S1 Angkatan 2005 yang pertama kali mengambil jalur fast track ini. Saya dengar cukup banyak juga Angkatan 2005 yang mengambil jalur fast track. Syarat untuk mengambil jalur fast track ini tidak sulit kok. IPK sampai semester 6 harus di atas 3.0, lalu mengajukan permohonan ke ketua program studi atau sekretaris program S2. Selanjutnya, di tingkat 4 mahasiswa sudah mulai mengambil beberapa mata kuliah S2 sembari tetap mengambil kuliah S1. Di beberapa Prodi S2 mahasiswa tidak perlu mengambil seluruh mata kuliah S2, hanya beberapa saja yang diambil sebab beberapa kuliah S2 ada yang sama dengan S1 sehingga tidak perlu diambil lagi, tapi untuk kasus S2 Informatika, harus mengambil semua kuliah S2. Daftar mata kuliah S2 dapat ditanyakan ke sekretaris program S2 (sekarang ini untuk Program S2 Informatika sekretarisnya adalah Pak Oerip).

Yang harus diperhatikan adalah kuliah S1 anda harus diselesaikan dalam waktu 4 tahun tepat. Jika lulus S1 lebih dari 4 tahun maka status S2 nya gugur. Cukup berat memang, tapi saya kira ini konsekuensi dari jalur fast track itu. Setelah mereka lulus S1 (4 tahun), maka sisa dua semester di Program S2 dilanjutkan kembali sembari menyusun tesis magister sehingga sisa program S2 diselesaikan selama 1 tahun saja. Total semuanya, S1 dan S2, cukup 5 tahun saja. Singkat, namun tidak mengurangi kualitas keluarannya.

Kelebihan mengambil jalur fast track ini adalah selama 1 tahun pertama (di tingkat 4) mahasiswa tidak dikenakan biaya SKS maupun SPP S2. Jadi, ketika mereka mengambil mata kuliah S2 pada tingkat 4, mereka tidak perlu membayar biaya kuliah S2. Setelah mereka lulus S1 dan ingin menyelesaikan sisa program S2-nya yang 1 tahun lagi itu, barulah mereka dikenakan biaya SKS dan SPP S2. Namun, mahasiswa tidak perlu khawatir sebab ITB menyediakan vocer bagi mahasiswa S2 sehingga mahasiswa bebas dari biaya kuliah (syarat dan ketentuan berlaku untuk mendapatkan vocer ini :-) ).

Jika setelah lulus S1 mahasiswa membatalkan niatnya untuk meneruskan sisa program S2, atau gagal lulus S1 selama 4 tahun sehingga status fast strack nya dicabut, maka semua mata kuliah S2 yang pernah diambil dapat dimasukkan ke dalam transkip nilai (tentu saja ada persyaratan yang harus dipenuhi).

ITB mendorong agar sebanyak mungkin mahasiswa S1 nya mengambil S2 di ITB lagi, baik melalui jalur reguler maupun jalur fast track. Saya juga mendengar ada jalur fast track S2 dan S3 di ITB sehingga program S3 yang normalnya 3 tahun dapat diselesiakan dalam waktu 2 tahun saja. Wah, jika mahasiswa berhasil menempuh S1, S2, dan S3 di ITB melalui jalur fast track ini, maka di masa datang kita akan menemukan orang-orang bergelar doktor yang masih imut-imut dengan usia di bawah 27 tahun atau bahkan 25 tahun! Tidak seperti saya ini, mengambil S3 ketika umur sudah kepala 4, hi..hi :-) .

Kategori: Seputar ITB

Hari Pertama Kuliah di Bulan Ramadhan

25 Agustus 2009 · & Komentar

Kemarin, Senin 24 Agustus 2009, adalah hari pertama kuliah di bulan Ramadhan. Tanggal 1 Ramadhan sebenarnya jatuh pada hari Sabtu, tetapi berhubung Sabtu adalah hari libur di ITB, maka suasana kuliah pertama pada bulan Ramadhan justru baru dirasakan pada hari Senin kemarin.

Bulan Ramadhan atau bulan puasa sudah berkali-kali datang ke ITB. Karena kalender Islam mengikuti penanggalan Qamariyah (perhitungan berdasarkan penampakan bulan), maka bulan Ramadhan selalu bergeser setiap tahun masehi. Tahun ini awal Ramadhan bersamaan dengan pekan permulaan kuliah di ITB. Sepuluh tahun lalu bulan Ramadhan bersamaan dengan musim hujan di bulan Desember. Sepuluh tahun lagi Ramadhan akan mendekati perayaan tahun baru.

ITB adalah kampus yang plural, berbagai agama mahasiswa, dosen, dan karyawan ada di dalamnya. Sebagai kampus yang majemuk, tidak ada perubahan khusus dalam perkuliahan, utamanya soal waktu. Kuliah tetap dimulai pukul 7.00 pagi dan berakhir pukul 18.00 sore. Yang berbeda adalah ditutupnya semua kantin di dalam kampus, namun beberapa pedagang makanan di Jalan Gelapnyawang tetap ada yang berjualan. Tentu saja untuk melayani mahasiswa yang tidak berpuasa, khususnya yang non-muslim.

Sangat sukar membedakan mana mahasiswa yang berpuasa dan mana yang tidak, meskipun dia seorang muslim sekalipun. Puasa adalah ibadah yang unik dan bersifat privat. Kalau kita shalat, maka orang lain bisa melihatnya. Kalau kita bersedekah, orang lain bisa saja tahu. Apalagi kalau ibadah haji, orang sekampung bisa tahu karena ada acara syukuran baik di masjid maupun di rumah, dan diantar ramai-ramai ke asarama haji. Tapi ibadah puasa? Hanya dirinya dan Tuhan saja yang tahu. Seorang muslim sendiri belum tentu ikut berpuasa, mungkin karena lagi sakit, sedang datang bulan (bagi wanita), atau memang tidak mau menjalankan ibadah agama saja alias tidak taat. Kelompok yang terakhir ini cukup banyak juga jumlahnya. Aneka orang tentu dengan aneka cara dia meyakini dan menjalankan agamanya. Biar Allah SWT yang akan menilai, kita manusia tidak punya hak untuk menilai keagamaan seseorang. Setiap orang bertanggung jawab dengan amal perbuatannya masing-masing.

Ada “untungnya” berpuasa pada saat kita tetap kuliah atau bekerja. Yang paling terasa adalah tidak repot lagi memikirkan makan siang di mana, mau makan apa. Waktu istirahat makan siang yang biasanya digunakan untuk mencari makan, sekarang dapat digunakan untuk aktivitas lain, apakah itu melanjutkan pekerjaan, berleha-leha sejenak, atau mengaji (tadarus).

Bagi mahasiswa, bulan Ramadhan tentu dapat menghemat pengeluaran. Makan yang biasanya tiga kali sehari sekarang menjadi dua kali saja. Tapi bagi orang yang sudah berkeluarga seperti saya, bulan Ramadhan berarti menambah pengeluaran ekstra… he..he. Karena ini bulan istimewa, maka soal makan pun mau tidak mau juga ada perubahan menu. Makanan yang tidak pernah muncul pada hari-hari biasa, pada bulan Ramadhan ini tiba-tiba hadir di depan mata. Mau tidak mau tergoda juga untuk merasakan dan akhirnya membelinya, bukan? Jangan heran pada bulan Ramadhan ini orang-orang royal berbelanja. Menjelang sore, supermarket dan pasar swalayan penuh sesak dengan orang yang berbelanja aneka kebutuhan buka puasa. Padahal inti berpuasa adalah menahan hawa nafsu, termasuk di dalamnya nafsu belanja. Cuma ya itu, banyak orang — mungkin saya termasuk juga di dalamnya — tidak paham makna puasa, dan akhirnya yang terlihat di permukaan adalah bulan puasa identik dengan makan berlebih dan pengeluaran berlebih. Ya Allah, semoga Engkau mengampuni kekeliruan ummat-Mu ini.

Kategori: Agama · Seputar ITB

Ramai Pemilihan Ketua IA-ITB Jurusan “Tetangga Sebelah”

31 Juli 2009 · & Komentar

Beberapa hari ini kampus Ganesha diramaikan dengan puluhan spanduk yang bertebaran di berbagai sudut strategis. Ada apa gerangan? Ooo.. ada pesta pemilihan ketua Ikatan Alumni ITB Jurusan Teknik Elektro (EL) rupanya, tetangga sebelah Informatika. Walah..walah… pemilihan ketua ikatan alumni sebuah jurusan (program studi) saja begitu hebohnya di kampus, menyita perhatian bagi yang melewati jalan-jalan dalam kampus.

DSC00597

DSC00595

DSC00596

Saya tidak kenal siapa yang mencalonkan diri sebagai ketua ikatan alumni EL itu, maklum saya bukan alumni elektro. Namun swer..sungguh saya salut dengan ikatan alumni elektro, mereka begitu kompak, kuat, dan organisisasinya jalan. Teknik Elektro merupakan jurusan yang mahasiswanya paling banyak di antara jurusan lain di ITB, usia jurusan ini sudah 60 tahun lebih, maka wajar para alumninya paling besar dan sudah banyak yang menduduki jabatan penting di negeri ini (BUMN, swasta nasional, swasta asing, dsb). Maka, “pertarungan” memperebutkan ketua ikatan alumni jurusan ini terlihat begitu seru dan jor-joran. Prestise-lah. Pastilah calon ketua yang bertarung (2 orang rupanya) begitu habis-habisan berkampanye agar terpilih dengan mengeluarkan dana yang tidak sedikit, bahkan kampanyenya dilakukan hingga di kampus asalnya. Kemaren puluhan gadis-gadis cantik beraksi di depan LabTek V membagikan brosur dan merchandise salah satu calon (Pak Syakieb) kepada orang-orang yang lewat. Saya kebetulan kebagian. Maaf, mbak, saya bukan alumni Elektro, he..he..

Halo ikatan alumni Informatika, apa kabar? Jadi iri nih dengan ikatan alumni prodi tetangga sebelah itu. Jauh sekali bedanya antara ikatan alumni Informatika dengan ikatan alumni Elektro. Ikatan alumni Informatika nyaris tidak terdengar suaranya, seperti bunyi iklan Isuzu Panther :-) . Siapa ketua ikatan alumni Informatika sekarang? Dimana sekretariatnya? Apa saja kegiatannya? Banyak yang tidak tahu. Padahal alumni Informatika sudah di atas seribu orang, usia prodi ini sudah seperempat abad, tetapi ikatan alumninya antara ada dan tiada.

Kategori: Seputar ITB · Seputar Informatika

Dicari Rektor Baru ITB

23 Juli 2009 · & Komentar

Ada hajatan yang tengah berlangsung di ITB saat ini, yaitu pemilihan rektor baru. Rektor lama, Pak Djoko, akan habis masa jabatannya. Info pemilihan rektor ITB sila lihat di sini.

Sesuai dengan UU BHMN, pemilihan rektor bersifat terbuka, iklannya dipasang di media massa. Siapapun orang Indonesia yang merasa pantas menjadi rektor, silakan memasukkan lamaran. Namun, sejak masa pendaftaran dibuka pada tanggal 6 Juli dan akan berakhir tanggal 6 Agustus yang akan datang, hingga tulisan ini dibuat jumlah pelamar resmi baru 1 orang, yaitu orang luar bernama Dr.Ir. Irawan Muripto, M.Sc dari Sekolah Tinggi Perikanan – Jakarta. Walah… mana nih calon dari dalam sendiri?

Sewaktu masih menjadi dosen muda, ada seorang senior yang waktu itu disuruh-suruh oleh rekan-rekannya untuk maju menjadi calon rektor ITB. Apa katanya? Nggak ah…, nggak mau. Kenapa tidak mau? Menjadi rektor ITB itu bisa bikin stres. Cari-cari “penyakit” saja, katanya. Oh, begitukah?

Hmmm… pekerjaan apapun bisa membuat stres atau bikin sakit (termasuk sakit hati), tidak hanya rektor ITB saja. Memang menjadi rektor ITB tingkat stresnya akan lebih tinggi. Banyak persoalan yang harus diselesaikan oleh rektor baru, mulai dari target ITB menjadi WCU (World Class University), biaya pendidikan yang semakin mahal, kampus yang terasa semakin sempit saja, masalah kemahasiswaan yang tidak habis-habisnya, dan tentu masih banyak lagi masalah lain yang harus diselesaikan. Yang paling berat memang memimpin lebih dari 1000 dosen yang hebat-hebat itu. Biasanya orang pintar itu susah diatur, maunya mengatur terus, he..he :-) . Bercanda.

Hanya sayangnya, pemilihan rektor berlangsung di tingkat elit saja. Sesuai dengan UU BHMN, hanya anggota Senat Akademik dan Majelis Wali Amanat (MWA) yang dapat memilih (lihat prosedur pemilihan). Dosen biasa seperti saya tidak bisa ikut memilih rektor baru, hanya bisa mengusulkan calon saja. Aneh saja menurut saya, padahal kepala desa hingga presiden saja dipilih melalui pemilihan secara langsung oleh rakyat di bawahnya, tetapi untuk rektor tidak (atau belum) berlaku.

Hayo, siapa yang berminat menjadi rektor ITB yang baru?

Kategori: Seputar ITB

Menjadi Joki = Menceburkan Diri ke Lubang D.O

7 Juli 2009 · & Komentar

Berita memalukan datang minggu lalu. Tiga belas orang mahasiswa ITB tertangkap di Makassar karena menjadi joki SNMPTN. Malu, karena mereka menyandang nama almamater kami, meskipun tindakan mereka tidak ada hubungannya dengan institusi pendidikan. Para mahasiswa itu sudah menggadaikan otaknya dengan uang. Mereka dijanjikan uang Rp 30 juta (baca beritanya di sini). Boro-boro uang yang akan mereka dapat, mereka keburu tertangkap dan diserahkan ke Poltabes Makassar.

Dapat dipastikan para mahasiswa yang tersangkut perjokian itu terancam dikeluarkan dari ITB. Untuk kasus seperti ini ITB tidak kenal ampun, sebab perbuatan mereka itu sudah mengandung unsur pidana. Mahasiswa itu tidak pernah belajar dari sejarah, bahwa tahun 1995 ada belasan orang mahasiswa ITB yang terpaksa dikeluarkan karena terlibat joki. Sebelum tahun 1995, juga pernah ada mahasiswa saya yang cerdas dan punya potensi menjadi mahasiswa terbaik, tetapi dia tersandung nasib sial, dia diketahui menjadi joki UMPTN, dan setelah terbukti benar dia melakukan itu, maka SK D.O pun turun dari kantor Tamansari (rektorat).

Menjadi joki macam-macam motifnya, ada karena motif uang, ada juga karena ingin membantu teman agar dapat kuliah di PTN. Apapun alasannya, menjadi joki ujian tetap salah, sebab perbuatan tersebut sudah tergolong tindakan curang. Umumnya para joki adalah mahasiswa yang cerdas secara akademis, namun secara moral belum tentu demikian. Ratusan ribu orang susah payah untuk mendapatkan kursi di PTN, tetapi ada orang yang tidak fair dengan melakukan jalan pintas dengan menyewa joki. Secara moral tindakan perjokian itu merugikan peserta lain yang tetap berusaha jujur. Jika menjadi joki dengan niat membantu teman juga tidak pada tempatnya.

Jangan mudah tergiur melakukan tindakan nekat menjadi joki ujian. Terlalu besar resikonya bagi mahasiswa. Uang yang didapat tidak sebanding dengan hukuman moral yang diberikan oleh lingkungan sekitar. Keluarga anda pasti kecewa berat, ITB mem-black list nama mahasiswa tersebut, teman-teman berubah sikap, anda semakin depresi, masa depan bisa suram.

Menjadi jujur dan bersih jauh lebih berharga, tidak bisa diukur dengan materi sebesar apapun. Sikap jujur dan bersih adalah modal menjadi orang yang baik di masa depan.

Kategori: Seputar ITB

Libur Panjang Telah Tiba (Cerita Tentang SP)

15 Juni 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Libur panjang telah tiba, libur kuliah maksudnya. Segenap keletihan selama kuliah satu semester akhirnya selesai di akhir bulan Mei. Nilai sudah disetor, semua urusan dengan mahasiswa sudah beres, apalagi. Mahasiswa libur selama 2,5 bulan, dosen juga (boleh) libur. Cukup lama liburnya dan ini kesempatan untuk berleha-leha dan mengerjakan urusan lain. Sayangnya libur panjang ini belum bisa saya nikmati dengan baik berhubung masih ada urusan sebagai mahasiswa S3. Mudah-mudahan libur panjang tahun depan bisa menikmatinya. ITB ini paling cepat awal perkuliahannya, juga paling cepat selesainya. Kuliah semester 2 ini dimulai pada akhir Januari 2009 dan selesai UAS pada minggu ketiga Mei. Total waktu efektif kuliah (termasuk UTS) adalah 15 hingga 16 minggu. Setelah itu libur panjang dan kuliah tahun ajaran baru akan dimulai lagi pada minggu ketiga bukan Agustus 2009. Lama bukan?

Libur panjang ini boleh dikata kampus relatif sepi. Ada segelintir mahasiswa yang lalu lalang di kampus, mungkin karena mengambil semester pendek atau mengerjakan Tugas Akhir. Tentang Semester Pendek yang dikenal dengan nama SP, saya sejak dulu termasuk yang anti semester pendek. Waktunya libur ya libur, kok masih ngajar lagi, makanya saya menolak membuka kelas semester pendek. Untunglah kuliah yang saya ampu termasuk irit nilai D dan E (nilai D di ITB termasuk tidak lulus kecuali di tahap TPB), jadi kalau mahasiswa mau mengulang siapa yang akan mengulang? Tidak ada pesertanya, he..he.

Saya baca pengumuman bahwa FMIPA tidak membuka kuliah TPB (yaitu kuliah Kalkulus, Fisika, Kimia) di SP ini. Baguslah. SP dulu pernah menjadi pro kontra di antara kita. Maksud awal SP itu baik, yaitu untuk mengurangi beban mahasiswa yang tidak lulus mata kuliah agar tidak mengulang pada semester reguler (yang dikhawatirkan kelas reguler itu penuh dengan mahasiswa gagal). Tapi akhirnya kebijakan itu sering disalahgunakan bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa Tingkat 1. Jika tidak lulus, ‘kan nanti ada SP, begitu kira-kira pikiran mereka. Jadi, mahasiswa memandang enteng persoalan. Tidak baik efeknya, memang, membuat buruk etos belajar. Akhirnya, ITB meniadakan semester pendek, dengan pesan moral optimalkan waktu belajar anda, jangan sampai mengulang.

Namun, bukan berarti SP tidak ada sama sekali. ITB memang masih membuka semester pendek, tetapi untuk kuliah khusus seperti Tugas Akhir (TA) dan untuk kasus-kasus yang sangat spesial lainnya (kalau SP yang gini nih saya setuju). Bagi mahasiswa yang akan wisuda pada bulan Oktober dan nilai kuliah TA nya sudah kadaluarsa (lewat 2 semester masih T alias tidak lengkap), maka mereka wajib mengambil kulah TA di SP ini. Kasus sangat spesial diberikan bagi mahasiswa yang terancam batas waktu studi, kepada mereka itu diberi kesempatan SP untuk menyelamatkan “telur di ujung tanduk” (alias terancam drop out). Jadi, ITB masih cukup baik juga kepada mahasiswa-mahasiswa kasus ini, dengan cara “menolong” mereka untuk menyelamatkan masa-masa kritisinya dari ancaman DO. Biar bagaimanapun, DO itu menyakitkan bagi mahasiswa.

Ceritanya begini. Ini pengalaman pribadi. Ada seorang mahasiswa yang terancam kasus tahap Sarjana Muda (dulu masih ada tahap TPB, tahap Sarmud, dan tahap Sarjana, sekarang tidak ada lagi, hanya ada tahap TPB dan tahap Sarjana saja). Tahap Sarjana Muda harus diselesaikan maksimal selama 5 tahun (termasuk tahap TPB) dengan IPK >= 2.0, jika tidak ya DO. Nah, mahasiswa ini sudah hampir 5 tahun masa Sarmud nya, tapi IPK sarmudnya masih kurang 2.0. Ancaman DO sudah tampak dipelupuk mata. Dosen Wali melihat apakah mahasiswa ini masih bisa ditolong, dilihat-lihat di transkip akademik ada beberapa mata kuliahnya yang bernilai D (nilai D masih lulus di tahap ini) dan E. Kalau mata kuliah yang D dan E ini diulang pada semester depan jelas tidak mungkin karena sudah melebihi batas waktu studi.

Dengan segala perjuangan, baik oleh Ketua Jurusan, bahkan Dekan Fakultas ikut kadang turun tangan, maka dosen mata kuliah tersebut dilobi, apakah bersedia memberikan kuliah di SP khusus untuk mahasiswa yang malang itu. Mungkin tidak perlu kuliah tatap muka, tetapi cukup dengan pemberian tugas-tugas saja. Nilai C tidak apalah, yang penting IPK nya bisa diatas 2,0. Jika ketemu dosen yang baik hati, maka urusan menjadi mudah, tetapi jika ketemu dosen yang saklek dan keras hati, maka urusan menjadi rumit bahkan bisa sangat sulit. Kalau sudah begini dan sudah mentok, sementara mahasiswa kasus ini sudah memasrahkan dirinya kepada kami dengan H2C (harap-harap cemas) dan tangis yang hampir membuncah, maka Ketua Jurusan mencoba melobi dosen lain yang pernah mengajar kuliah serupa agar memberikan kuliah tersebut di SP. Biasanya deal, dan pada banyak kisah ceritanya berakhir happy ending. Kasus yang sama juga terjadi pada mahsiswa yang terancam tahap Sarjana. Ceritanya miriplah. Sebenarnya “operasi penyelamatan” yang begini tidak ada aturan resmi atau tertulis, tetapi semua itu lebih pada pertimbangan kemanusiaan saja. Yang jelas tidak ada peraturan yang dilanggar, dan kami merasa semua berjalan tetap dalam koridor. Namun jangan pernah berharap “operasi penyelamatan” itu terulang pada diri anda yang masih kuliah, cukuplah buat abang-abangmu itu saja. Kami pun tidak berharap kasus ini terulang lagi. Capek.

Itulah untold stories he..he, sekarang sudah menjadi told stories hi..hi..hi. Kisah-kisah ini tidak tertulis di buku-buku sejarah, cukup menjadi kenangan yang pahit-getir-manis bagi yang terlibat dalam episode hidup itu. Sekarang mahasiswa-mahasiswa yang berhasil lolos dari lubang jarum itu mungkin sudah sukses menjadi “orang”. Entah dimana mereka, kami juga tidak tahu. Cukuplah hal ini menjadi perjuangan yang mencekam buat mereka dan menjadi pelajaran berharga untuk selalu lebih serius dalam menekuni apapun (tidak menganggap remeh, tidak takabur, bekerja keras dalam berusaha, dan sebagainya).

Kategori: Seputar ITB

Tempat Parkir Sepeda Beratap di Kampus

10 Juni 2009 · & Komentar

Kamu punya sepeda namun biasanya susah memarkirnya di kampus ITB? Takut hilang atau takut kehujanan? Jangan khawatir, pihak kampus sudah membuat beberapa tempat parkir sepeda beratap yang dapat dipindah-pindah. Ini dia fotonya saya jepret tadi siang (di samping dan di depan Gedung Ahmad Bakrie alias LabTek VIII Elektro).

Foto yang di bawah ini area parkir sepeda yang ditaruh di samping Gedung LabTek VIII, arah ke Bank BNI. Kosong. Saya kira letaknya kurang aman, rawan pencurian, jadi mahasiswa tampaknya enggan memarkirnya di sana.

DSC00534

Kalau yang di bawah ini area parkiran sepeda di depan gedung LabTek VIII, dekat parkiran motor dan mobil, setiap hari selalu penuh dengan parkiran sepeda karena dekat dengan orang yang lalu lalang ke gedung itu (yang mau nyolong sepeda pasti mikir 99 kali kali sebab tempatnya ramai :-) :

DSC00535

Akhir-akhir ini cukup banyak mahasiswa yang membawa sepeda ke kampus. Sehat, murah, dan praktis, itulah gaya hidup ke tempat aktivitas dengan naik sepeda. Saya kira bersepeda ke kampus adalah alternatif solusi untuk mengurangi padatnya parkiran mobil di area seputaran kampus. Prihatin saja, banyak mahasiswa yang kos dekat kampus namun membawa mobil pribadi jika hendak kuliah. Akibatnya kampus ITB menjadi macet, cet, cet, sempit, dan tidak nyaman lagi.

Dosen atau karyawan yang bersepeda ke kampus sangat jarang. Mungkin ada satu dua orang, tapi tidak terdeteksi oleh saya. Kalau pun ada, saya pikir hanya sesekali saja. Rumah dosen umumnya jauh dari kampus (seperti saya nih, di Antapani Bandung Timur, yang jarak dari rumah ke kampus 8 km). Kalau setiap hari naik sepeda pasti ngos-ngosan karena dari Timur ke Utara jalannya menanjak. Tiba di kampus pakaian sudah penuh dengan keringat. Bau. Harus mandi lagi di kantor supaya kawan dan mahasiswa tidak lari :-)

Namun saya sangat berkeinginan untuk sesekali membawa sepeda ke kampus. Sesekali saja, tidak setiap hari, kalau pas tidak ada kuliah, sidang, seminar, atau rapat-rapat.

Kategori: Seputar ITB

Kisah Ginan, Mahasiswa IF Angkatan 2006, dan “Perjuangannya” Kuliah di ITB

25 Mei 2009 · & Komentar

Ketika saya mengajar kelas kuliah Struktur Diskrit (mata kuliah tingkat II di Informatika ITB) pada tahun 2007, ada seorang mahasiswa yang menarik perhatian saya. Dia tidak duduk di kursi kuliah seperti teman-temannya, tetapi duduk di atas kursi roda. Berhubung kursi-kursi sudah disusun sedemikian rupa sehingga sulit digeser lagi, mahasiswa tersebut mengambil tempat setelah kursi paling ujung di barisan depan. Dia duduk dengan tekun mendengarkan kuliah saya di atas kursi rodanya itu, sekali-kali tampak mencatat dan membaca diktat kuliah yang saya tulis.

Setelah beberapa kali kuliah, saya baru tahu namanya Ginan. Di dalam daftar hadir tertulis hanya “Ginan” saja, tetapi sesungguhnya nama selengkapnya adalah Ginanjar Pramadita, sebuah nama khas Sunda. Sehari-harinya Ginan memang menggunakan kursi roda karena Allah SWT menakdirkannya mempunyai kaki yang (maaf) cacat sejak lahir sehingga dia tidak bisa berdiri dan berjalan. Praktis kemana-mana Ginan selalu mengandalkan kursi roda untuk berpindah dari satu ruang kuliah ke ruang kuliah yang lain, atau dari satu lab ke lab lain yang berbeda lantai.

Rasa penasaran membuat saya ingin mengenal Ginan lebih jauh. Beberapa kali saya bertemu dia di lorong gedung atau ketika menunggu naik anggung (lift). Saat itu saya sempatkan bertanya banyak hal tentang dirinya sembari meminta izin untuk menulis profil dirinya di blog ini. Bagi saya profil Ginan adalah luar biasa, karena dia mampu menembus kuliah di Informatika (IF) ITB yang terkenal paling susah masuknya. Masuk ITB saja sangat susah, apalagi masuk IF. Dan yang luar biasa adalah dengan kondisi fisiknya yang terbatas itu dia mampu eksis dan menunjukkan kemampuan yang tidak kalah dengan mahasiswa lainnya. Terakhir dia menorehkan prestasi karena dia dan teman-temannya (Team Leader: Garibaldi Mukti) mewakili Indonesia di final ASEAN XML Superstar Programming Contest (semacam Imagine Cup-nya Microsoft lah, tetapi yang ini penyelenggaranya dari IBM). Lihat pengumaman finalisnya dengan mengklik pranala ini. Mudah-mudahan saja kelompok Ginan menang yang hadiahnya — katanya — adalah jalan-jalan ke Cina.

Di bawah ini potret Ginan ketika berada di ruangan saya. Kemaren dia minta izin tidak bisa ikut ujian karena mengikuti lomba programming contest itu. Dengan seizin Ginan saya memotret dia lagi tersenyum.

DSC00501

Saya berbincang-bincang dengan Ginan. Mendengar perjuangan Ginan kuliah di ITB membuat saya kagum pada anak ini. Semangatnya yang tinggi untuk menuntut ilmu patut diacungi jempol. Ginan adalah orang Bandung asli. Setiap hari dia diantar oleh ayahnya ke kampus ITB dengan naik motor. Ginan tidak perlu repot-repot membawa kursi roda setiap hari dari rumah ke kampus, sebab kursi rodanya disimpan di sebuah ruangan di lantai dasar LabTek VI (gedung tetangga IF). Kunci ruangan itu dipegang oleh Ginan sendiri (terima kasih buat pengelola ITB yang memberikan kemudahan buat Ginan). Dengan kursi roda itu Ginan menjalani kuliah seharian di ITB. Sore hari ayahnya datang untuk menjemput pulang dan kursi roda itu disimpan kembali di ruangan yang sama. Begitu setiap hari yang dilakukannya dari Senin sampai Jumat.

Sebenarnya desain baru lanskap dan gedung ITB sudah menyediakan jalur khusus bagi kaum penyandang cacat (pemakai kursi roda), misalnya Gedung CC yang baru serta jalur khusus mendaki menuju area kawasan gedung oktagon. Gedung-gedung yang baru juga dilengkapi anggung (lift) sehingga Ginan tidak perlu naik turun menggunakan tangga lagi. Tetapi, gedung-gedung kuliah yang lama belum dilengkapi anggung, misalnya gedung GKU, Oktagon, dan TVST. Ketika tahap TPB (tingkat I), hampir semua perkuliahan dilakukan di gedung-gedung itu. Ruang-ruang kuliah bertebaran di lantai 1, 2, 3, dan 4. Ginan bercerita, setiap kuliah di gedung GKU, ayahnyalah yang menggendong dia dari bawah ke atas menuju ruang kuliah d lantai atas (waah, saya ingin sekali bertemu ayahnya yang hebat dan penyabar itu). Kadang-kadang temannya yang baik hati yang menolongnya turun naik ke ruang kuliah. Sungguh merepotkan jika membayangkan bagaimana perjuangan Ginan kuliah di gedung-gedung yang tidak punya fasilitas anggung itu.

Tetapi itu cerita masa lalu. Di tahun kedua, hampir semua kuliah dan praktikum dilakukan di Informatika sendiri, yaitu di Gedung LabTek V (yang sekarang berubah nama menjadi Gedung Benny Subianto). Sebagian besar hari-hari mahasiswa Informatika ITB dihabiskan di gedung ini, sebab ruang kuliah, ruang dosen, lab, ruang TU, ruang himpunan, dan lain-lain berada di lantai 1, 2, 3, dan 4, dan setiap lantai dapat dicapai dengan menggunakan tangga atau anggung. Praktis sejak tingkat II Ginan tidak mengalami kesulitan lagi menuju setiap lantai. Jadi, Ginan sungguh terbantu dengan kondisi gedung kami ini. Salah satu pertimbangan Ginan memilih Prodi Informatika adalah karena di gedung Prodi kami tersedia fasilitas anggung. Kata Ginan pula, dulu dia sempat mau memilih Prodi Matematika, tetapi karena di gedung Prodi Matematika tidak ada anggung, dia urung memilih Prodi ini. Akhirnya dia memilih IF, ternyata dia hepi kuliah di sini :-) . Pun untuk memilih tempat Kerja Praktek (KP) pada bulan Juni mendatang, pertimbangan anggung juga menjadi prioritas Ginan. Ginan memilih KP di Risti PT Telkom yang gedungnya ada anggungnya.

Bagaimana kalau listrik mati di ITB sehingga anggung tidak berfungsi?, tanya saya. Kalau sudah begini maka seringkali Ginan tidak bisa kuliah (tidak datang ke kampus).

Ketika SMA, Ginan sekolah di SMAN 5 Bandung di Jalan Belitung. Waah, ini salah satu SMA top di Bandung selain SMAN 3. Setahu saya gedung SMA 5 itu dua lantai, jadi bagaimana ceritanya ketika sekolah di sana? Ginan selalu meminta kepada pihak Sekolah agar selalu ditempatkan di kelas yang berada di lantai dasar. Kepala sekolah yang baik memaklumi hal ini, sehingga kelas 1, 2, dan 3 SMA kelas Ginan selalu ditempatkan di lantai dasar. Ketika sekolah di SD dan SMP 9 Bandung juga tidak masalah sebab gedung sekolahnya tidak bertingkat sehingga Ginan bisa menggunakan terus kursi rodanya.

Kata Ginan, sebenarnya dia tidak selalu duduk di kursi roda. Kursi roda hanya digunakan ketika kuliah atau keluar rumah. Kalau sudah di rumah dia cukup ngampar saja di lantai dan berpindah tempat dengan cara mengesot. Untuk menggunakan toilet Ginan juga tidak kesulitan sebab dia mampu melakukannya sendiri tanpa dibantu.

Kalau saya perhatikan, teman-teman kuliah Ginan juga tidak memperlakukan Ginan secara istimewa. Biasa-biasa saja. Begitu juga sikap para dosen. Saya yakin Ginan juga tidak menginginkan dia diperlakukan khusus atau dikasihani. Ginan mempunyai kemampuan akademik setara dengan yang lain, secara prestasi dia juga tidak kalah dengan teman-temannya itu. Itu kelebihan dia. Di ITB mahasiswa dinilai dari intelektualitas dan integritas moralnya, penampilan fisik seperti cantik, jelek, tinggi, gendut, pendek, cacat fisik, dan sebagainya tidak menjadi ukuran penilaian. Kehadiran Ginan di ITB menambah keragaman mahasiswa ITB, khususnya di Angkatan 2006, dan hal ini juga membuktikan tidak ada diskriminasi kepada siapapun untuk memperoleh pendidikan, karena pendidikan adalah hak setiap warga negara. Saya yakin ITB bangga mempunyai mahasiswa seperti Ginan.

Semangat hidup dan semangat belajar Ginan sangat tinggi. Terus terang saya kagum dengan tekad bajanya yang pantang menyerah itu. Satu hal yang dia pikirkan adalah mengenai masa depan, apakah ada perusahaan yang mau menerima dia bekerja nanti dengan kondisi fisiknya yang terbatas itu?, demikian yang disampaikan Ginan kepada saya.Tetapi saya yakin, pasti ada, Ginan. Indonesia ini negara maju, dan saya yakin orang-orang yang berpikiran modern pasti menilai seseorang dari kemampuan otaknya, bukan dari penampilan fisik semata. Tidak ada undang-undang yang melarang kaum penyandang cacat untuk bekerja menjadi PNS, pegawai BUMN, perusahaan swasta, dan sebagainya. Kalaupun tidak bisa bekerja di perusahaan orang lain, saya yakin menjadi enterpreuner adalah pilihan yang juga dipikirkan oleh Ginan. Menjadi enterpreuner di bidang teknologi informasi tidak sulit sebab pekerjaanya lebih banyak di depan komputer dan tidak memerlukan mobilitas di lapangan.

Sosok Ginan mengingatkan saya pada mahasiswa saya yang lama yang juga mempunyai disabbilities dengan kondisi yang mirip seperti Ginan. Dulu tahun 1993 ada mahasiswa IF namanya Taufik Hidayat. Kakinya juga (maaf) invalid dan untuk itu dia harus menggunakan sepasang tongkat untuk menyangga tubuhnya. Dengan bantuan kedua tongkat itu Taufik bisa berjalan pelan. Sekali lagi, untunglah di gedung jurusan kami ada anggung sehingga Taufik terbantu. Meski demikian, jika anggung tidak berfungsi, Taufik mampu berjalan naik turun tangga. Lulus S1 Taufik menjadi dosen di jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta hingga sekarang. Dia mengambil S2 di Jerman dan sudah mempunyai istri dan seorang anak. Waktu saya ke Yogyakarta saya ketemu Taufik. Setiap hari dia ke kampus dengan mengendari sepeda motor roda empat yang didesain khsusus untuk dia. Istri dan anaknya bangga dengan ayahnya itu. Salam buat Taufik Hidayat jika dia membaca tulisan ini.

Kembali ke Ginan. Satu hal yang menjadi impian Ginan adalah bisa hidup mandiri, artinya tidak selalu bergantung pada orang lain. Misalnya bisa berpindah secara mobile tanpa dibantu, bisa naik bis atau kendaraan umum yang menyediakan fasilitas bagi pemakai kursi roda, ada jalur khusus bagi pemakai kursi roda, dan sebagainya. Sayangnya negeri kita masih belum sepenuhnya menyediakan fasilitas buat kaum difabel. Kayaknya perlu waktu cukup lama baru ada fasilitas itu dijumpai di mana-mana.

Namun Ginan pantang menyerah. Sosok Ginan sekali lagi membuktikan bahwa Allah SWT sungguh Maha Adil. Dia tidak memberikan kekurangan pada makhluk-Nya tanpa ada kelebihan yang menyertainya. Di balik kekurangan yang ada pada Ginan, Allah SWT memberikan dia kelebihan yaitu otak yang cerdas sebagai modal bagi dia menapaki hidup kelak. Allahu akbar. Semangat hidup dan perjuangan Ginan patut ditiru dan semoga sosok Ginan memberi inspirasi bagi siapapun untuk meraih cita-cita. Kekurangan fisik bukanlah halangan untuk terus maju.

Kategori: Seputar ITB · Seputar Informatika