Pernahkah anda berpikir kenapa atap Aula Barat dan Aula Timur ITB menyerupai bentuk gonjong rumah adat Minangkabau yang disebut Rumah Gadang? Kenapa bentuk atap itu tidak bergaya rumah adat urang Sunda? Saya menemukan jawabannya di dalam sebuah tulisan yang saya baca tadi(Abdoel Moeis ~Penggagas ITB).

Kartupos dengan foto afdruk Kodak ini memperlihatkan ITB bagian aula barat dari arah timur laut (Sumber foto: http://djawatempodoeloe.multiply.com/photos/photo/190/77)

Rumah Gadang Minangkabau (Sumber foto: http://hendraxsap.wordpress.com/2011/06/08/tradisi-merantau-dan-berdagang-urang-awak/)
Ternyata pendirian TH (Technische Hoogeschool) –yang sekarang bernama ITB– bukanlah inisiatif penjajah kolonial Belanda. TH adalah gagasan seorang tokoh sejarah bangsa bernama Abdoel Moeis. Abdoel Moeis (lahir pada tanggal 3 Juli 1883) datang ke Belanda bersama delegasi Indie Werbaar pada bulan Januari 1917. Mereka berangkat dengan kapal laut dan tiba di negeri Belanda pada bulan Meret 1917. Di sana Abdoel Moeis bernegosiasi dengan Pemerintah Belanda untuk mendirikan Sekolah Tinggi Teknik di Hindia-Belanda (sekarang Indonesia). Negosiasi itu membuahkan hasil sehingga dibentuklah komisi untuk pendidikan teknik di Hindia. Komisi tersebut disetujui oleh Ratu Belanda dan didukung secara finansial oleh 14 pengusaha Belanda. Seperti kita ketahui bersama Sekolah Teknik Tinggi itu didirikan di kota Bandung pada tahun 1920 di lokasi Jalan Ganesha yang sekarang bernama ITB.

Siapa Abdoel Moeis? Bagi siswa sekolah pasti mengenal nama ini. Dia seorang sastrawan terkenal yang salah satu masterpiece-nya adalah novel Salah Asoehan. Bagi orang Bandung, nama Abdoel Moeis dikenal dengan nama terminal Kebon Kelapa yang bernama terminal Abdoel Moeis. Ansa orang Bandung tentu tidak asing denga angkot jurusan Abdul Muis – Dago, Abdul Muis – Cicaheum, Abdul Muis – Ledeng, dan sebagainya. Itu karena Abdoel Moeis dulu pernah tinggal di sekitar Kebon Kelapa.
Dikutip ari artikel di atas, “Abdoel Moeis dilahirkan pada 3 Juli 1883 di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya pada sekolah Belanda tingkat persiapan Sekolah Stovia di Bukittinggi, Abdoel Moeis kemudian menuju Bandung dan tinggal lama di kota ini.”
Lalu bagaimana kisahnya sehingga atap Aula Barat dan Aula Timur itu berbentuk gonjong rumah adat Minangkabau? Dikutip dari artikel di atas: “Menurut keterangan puterinya, Dr. Diana Moeis, ayahnya pernah bercerita bahwa lokasi THS yang sekarang disebut sebagai Intitut Teknologi Bandung itu usulan ayahnya. Pembangunan gedung THS, juga mendapat masukan dari Abdoel Moeis, yang menginginkan agar ada unsur pribumi diterapkan dlm bangunan tsb. Jadilah, atap gedung yang disebut Aula Barat itu sekarang, berbentuk seperti atap rumah gadang di Sumatra Barat. Ya, betapapun, Abdul Muis adalah orang Minang…..jadi, tak mungkin mengusulkan atap julang ngapak bergaya Sunda”.
~~~~~~~~~~~~~
Di bawah ini saya kutipkan sebagian artikel pada tulisan di atas (Abdoel Moeis ~Penggagas ITB):
Abdoel Moeis ~Penggagas ITB~
Pada tahun 1913 di Hindia Belanda muncul suatu gagasan tentang pembentukan “Indie Weerbaar” (Pertahanan Hindia) yaitu milisi paruh waktu yang terdiri atas orang-orang bumi putera, karena milisi merupakan kekuatan pertahanan yang lebih murah daripada memperbesar pasukan professional. Namun demikian ide tentang pembentukkan “Indie Weerbaar” ditolak oleh pemerintah Belanda.
Ketika perang dunia I pecah pada tahun 1914 gagasan “Indie Weerbaar” muncul kembali. Boedi Oetomo yang mempunyai cabang-cabangnya di kalangan orang-orang Jawa yang berdinas pada tentara kolonial, bangkit dari tidurnya dan mulai mengkampayekan pembentukkan milisi semacam itu.
Ketika kampanye tentang perlunya suatu milisi pertahanan berlangsung, Sarekat Islam (SI) memunculkan tuntutan yang lain yaitu harus adanya perwakilan bumi putera dalam pemerintahan Hindia Belanda. Pada tahun 1915 Boedi Oetomo mendukung pandangan SI, sehingga dengan demikian kampanye “Indie Weerbaar” dengan cepat berubah menjadi isu perwakilan rakyat atau Volskraad
Sebagai kelanjutan kampanye Indie Weerbaar, muncul keputusan agar dikirim delegasi ke Negeri Belanda untuk menyampaikan mosi kepada Ratu Wilhelmina, Menteri Jajahan, dan Parlemen Belanda. Utusan terdiri atas enam anggota yaitu Pangeran Ario Koesoemodiningrat (mewakili Prinsen Bond), Bupati Magelang Raden Tumenggung Danoe Soegondo mewakili Regenten Bond, Mas Ngabehi Dwidjosewojo mewakili Boedi Oetomo, Abdoel Moeis mewakili Sarekat Islam, F Laoh mewakili Perserikatan Minahasa, dan W.V Rhemrev. Selain itu, ada seorang pendamping yaitu Dirk van Hinloopen Labberton, seorang tokoh pendukung Politik Etis
Rombongan berangkat ke Negeri Belanda pada bulan Januari 1917 dan tiba di sana pada awal Maret 1917 Sebelum tiba di Negeri Belanda, ketika perjalanan tertunda di Jenewa, Abdoel Moeis bersama Dirk van Hinloopen Labberton sudah menyampaikan gagasan-gagasan mereka dalam berbagai ceramah tentang perlunya percepatan kemandirian Hindia Belanda, meski tetap di bawah pimpinan Negeri Belanda. Untuk itu kemampuan bertahan di bidang militer, intelektual, dan ekonomi sangatlah penting .
Ketika datang di Belanda, mereka diterima dengan sedikit aneh: Untuk memimpin rombongan di Belanda, ditunjuk seorang mentor ; polisi juga ditugaskan untuk mengamat-amati mereka. Para anggota delegasi tidak memiliki kebebasan untuk bergerak sendiri-sendiri. Aturan ketat itu tidak berlangsung lama, beberapa anggota delegasi bergerak sendiri tanpa meminta idzin. (Kaoem Moeda, 28 Juli 1917). Meskipun demikian, secara formal mereka disambut secara simpatik oleh Ratu Wilhelmina, Menteri Jajahan, dan Staten Generaal (Parlemen Belanda)(Poeze, 1986: 113).
Dalam surat kabar Handelsblad yang terbit di Amsterdam, diberitakan tentang acara pertemuan Delegasi Indie Weerbaar yang diselenggarakan oleh perhimpoenan Koninklijke Nederlandsche Vereeniging ,,Onze Vloot” pada tanggal 1 April 1917 di Gedung Concereige Bouw. Dalam berita yang disarikan dalam surat kabar Oetoesan Hindia itu, disebutkan bahwa hadir dalam pertemuan itu beberapa bekas Menteri Kolonial, bekas Gubernur Jenderal Hindia Belanda J.C. van Heutszt, A.W.F. Idenburg, beberapa anggota parlemen, akademisi,dan para pengusaha.
Menjelang kepulangan ke Hindia Belanda, diadakan pesta besar yang diselenggarakan Jenderal Van Heutsz dan dihadiri oleh para tokoh terkemuka dari kalangan pemerintahan dan dunia usaha. Kemudian diselenggarakan pula satu pertemuan, di mana kalangan usahawan menjanjikan dukungan untuk didirikannya sebuah sekolah politeknik di Hindia (Poeze, 1986: 114).
Dirk van Hinloopen Labberton juga berpendapat bahwa jika ada perang, bumiputera pertama tama mesti melindungi kepentingannya sendiri. Labberton juga menjelaskan bahwa tidak lama lagi oleh usaha pihak partikulir di Hindia, kira kira di Bandoeng, akan didirikan Technische Hooge School (Kaoem Moeda, 16 Juli 1917).
Keinginan untuk mendirikan Sekolah Teknik Tinggi di Hindia Belanda, sebenarnya sudah menjadi pemikiran elite Bumiputera dan sementara pengusaha dan industriawan Belanda di Hindia sebelum 1917. Misalnya dalam Doenia Bergerak No. 18 (1914) sudah muncul tulisan berjudul “Pendapatan hal Techniche Hooge School di Hindia” . Soewardi Soerjaningrat yang ketika itu (1917) masih di Nederland gencar sekali mendukung pendirian Sekolah Tinggi Teknik itu. Akhirnya dengan kedatangan delegasi Indie Weerbaar, khususnya Abdoel Moeis berupaya melakukan negosiasi hingga berhasil dengan disetujuinya pembentukan komisi untuk pendidikan teknik di Hindia oleh Ratu Belanda dan 14 pengusaha Belanda yang memberikan dukungan penuh secara finansial Pada tahun 1920, sekolah yang diimpikan itu berdiri di Kota Bandung dengan nama Technische Hogeschool (THS).(Koloniale Studien 1917-1918, hal. 158).








































