Catatanku

Entries categorized as ‘Seputar ITB’

Libur Panjang Telah Tiba (Cerita Tentang SP)

15 Juni 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Libur panjang telah tiba, libur kuliah maksudnya. Segenap keletihan selama kuliah satu semester akhirnya selesai di akhir bulan Mei. Nilai sudah disetor, semua urusan dengan mahasiswa sudah beres, apalagi. Mahasiswa libur selama 2,5 bulan, dosen juga (boleh) libur. Cukup lama liburnya dan ini kesempatan untuk berleha-leha dan mengerjakan urusan lain. Sayangnya libur panjang ini belum bisa saya nikmati dengan baik berhubung masih ada urusan sebagai mahasiswa S3. Mudah-mudahan libur panjang tahun depan bisa menikmatinya. ITB ini paling cepat awal perkuliahannya, juga paling cepat selesainya. Kuliah semester 2 ini dimulai pada akhir Januari 2009 dan selesai UAS pada minggu ketiga Mei. Total waktu efektif kuliah (termasuk UTS) adalah 15 hingga 16 minggu. Setelah itu libur panjang dan kuliah tahun ajaran baru akan dimulai lagi pada minggu ketiga bukan Agustus 2009. Lama bukan?

Libur panjang ini boleh dikata kampus relatif sepi. Ada segelintir mahasiswa yang lalu lalang di kampus, mungkin karena mengambil semester pendek atau mengerjakan Tugas Akhir. Tentang Semester Pendek yang dikenal dengan nama SP, saya sejak dulu termasuk yang anti semester pendek. Waktunya libur ya libur, kok masih ngajar lagi, makanya saya menolak membuka kelas semester pendek. Untunglah kuliah yang saya ampu termasuk irit nilai D dan E (nilai D di ITB termasuk tidak lulus kecuali di tahap TPB), jadi kalau mahasiswa mau mengulang siapa yang akan mengulang? Tidak ada pesertanya, he..he.

Saya baca pengumuman bahwa FMIPA tidak membuka kuliah TPB (yaitu kuliah Kalkulus, Fisika, Kimia) di SP ini. Baguslah. SP dulu pernah menjadi pro kontra di antara kita. Maksud awal SP itu baik, yaitu untuk mengurangi beban mahasiswa yang tidak lulus mata kuliah agar tidak mengulang pada semester reguler (yang dikhawatirkan kelas reguler itu penuh dengan mahasiswa gagal). Tapi akhirnya kebijakan itu sering disalahgunakan bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa Tingkat 1. Jika tidak lulus, ‘kan nanti ada SP, begitu kira-kira pikiran mereka. Jadi, mahasiswa memandang enteng persoalan. Tidak baik efeknya, memang, membuat buruk etos belajar. Akhirnya, ITB meniadakan semester pendek, dengan pesan moral optimalkan waktu belajar anda, jangan sampai mengulang.

Namun, bukan berarti SP tidak ada sama sekali. ITB memang masih membuka semester pendek, tetapi untuk kuliah khusus seperti Tugas Akhir (TA) dan untuk kasus-kasus yang sangat spesial lainnya (kalau SP yang gini nih saya setuju). Bagi mahasiswa yang akan wisuda pada bulan Oktober dan nilai kuliah TA nya sudah kadaluarsa (lewat 2 semester masih T alias tidak lengkap), maka mereka wajib mengambil kulah TA di SP ini. Kasus sangat spesial diberikan bagi mahasiswa yang terancam batas waktu studi, kepada mereka itu diberi kesempatan SP untuk menyelamatkan “telur di ujung tanduk” (alias terancam drop out). Jadi, ITB masih cukup baik juga kepada mahasiswa-mahasiswa kasus ini, dengan cara “menolong” mereka untuk menyelamatkan masa-masa kritisinya dari ancaman DO. Biar bagaimanapun, DO itu menyakitkan bagi mahasiswa.

Ceritanya begini. Ini pengalaman pribadi. Ada seorang mahasiswa yang terancam kasus tahap Sarjana Muda (dulu masih ada tahap TPB, tahap Sarmud, dan tahap Sarjana, sekarang tidak ada lagi, hanya ada tahap TPB dan tahap Sarjana saja). Tahap Sarjana Muda harus diselesaikan maksimal selama 5 tahun (termasuk tahap TPB) dengan IPK >= 2.0, jika tidak ya DO. Nah, mahasiswa ini sudah hampir 5 tahun masa Sarmud nya, tapi IPK sarmudnya masih kurang 2.0. Ancaman DO sudah tampak dipelupuk mata. Dosen Wali melihat apakah mahasiswa ini masih bisa ditolong, dilihat-lihat di transkip akademik ada beberapa mata kuliahnya yang bernilai D (nilai D masih lulus di tahap ini) dan E. Kalau mata kuliah yang D dan E ini diulang pada semester depan jelas tidak mungkin karena sudah melebihi batas waktu studi.

Dengan segala perjuangan, baik oleh Ketua Jurusan, bahkan Dekan Fakultas ikut kadang turun tangan, maka dosen mata kuliah tersebut dilobi, apakah bersedia memberikan kuliah di SP khusus untuk mahasiswa yang malang itu. Mungkin tidak perlu kuliah tatap muka, tetapi cukup dengan pemberian tugas-tugas saja. Nilai C tidak apalah, yang penting IPK nya bisa diatas 2,0. Jika ketemu dosen yang baik hati, maka urusan menjadi mudah, tetapi jika ketemu dosen yang saklek dan keras hati, maka urusan menjadi rumit bahkan bisa sangat sulit. Kalau sudah begini dan sudah mentok, sementara mahasiswa kasus ini sudah memasrahkan dirinya kepada kami dengan H2C (harap-harap cemas) dan tangis yang hampir membuncah, maka Ketua Jurusan mencoba melobi dosen lain yang pernah mengajar kuliah serupa agar memberikan kuliah tersebut di SP. Biasanya deal, dan pada banyak kisah ceritanya berakhir happy ending. Kasus yang sama juga terjadi pada mahsiswa yang terancam tahap Sarjana. Ceritanya miriplah. Sebenarnya “operasi penyelamatan” yang begini tidak ada aturan resmi atau tertulis, tetapi semua itu lebih pada pertimbangan kemanusiaan saja. Yang jelas tidak ada peraturan yang dilanggar, dan kami merasa semua berjalan tetap dalam koridor. Namun jangan pernah berharap “operasi penyelamatan” itu terulang pada diri anda yang masih kuliah, cukuplah buat abang-abangmu itu saja. Kami pun tidak berharap kasus ini terulang lagi. Capek.

Itulah untold stories he..he, sekarang sudah menjadi told stories hi..hi..hi. Kisah-kisah ini tidak tertulis di buku-buku sejarah, cukup menjadi kenangan yang pahit-getir-manis bagi yang terlibat dalam episode hidup itu. Sekarang mahasiswa-mahasiswa yang berhasil lolos dari lubang jarum itu mungkin sudah sukses menjadi “orang”. Entah dimana mereka, kami juga tidak tahu. Cukuplah hal ini menjadi perjuangan yang mencekam buat mereka dan menjadi pelajaran berharga untuk selalu lebih serius dalam menekuni apapun (tidak menganggap remeh, tidak takabur, bekerja keras dalam berusaha, dan sebagainya).

Kategori: Seputar ITB

Tempat Parkir Sepeda Beratap di Kampus

10 Juni 2009 · & Komentar

Kamu punya sepeda namun biasanya susah memarkirnya di kampus ITB? Takut hilang atau takut kehujanan? Jangan khawatir, pihak kampus sudah membuat beberapa tempat parkir sepeda beratap yang dapat dipindah-pindah. Ini dia fotonya saya jepret tadi siang (di samping dan di depan Gedung Ahmad Bakrie alias LabTek VIII Elektro).

Foto yang di bawah ini area parkir sepeda yang ditaruh di samping Gedung LabTek VIII, arah ke Bank BNI. Kosong. Saya kira letaknya kurang aman, rawan pencurian, jadi mahasiswa tampaknya enggan memarkirnya di sana.

DSC00534

Kalau yang di bawah ini area parkiran sepeda di depan gedung LabTek VIII, dekat parkiran motor dan mobil, setiap hari selalu penuh dengan parkiran sepeda karena dekat dengan orang yang lalu lalang ke gedung itu (yang mau nyolong sepeda pasti mikir 99 kali kali sebab tempatnya ramai :-) :

DSC00535

Akhir-akhir ini cukup banyak mahasiswa yang membawa sepeda ke kampus. Sehat, murah, dan praktis, itulah gaya hidup ke tempat aktivitas dengan naik sepeda. Saya kira bersepeda ke kampus adalah alternatif solusi untuk mengurangi padatnya parkiran mobil di area seputaran kampus. Prihatin saja, banyak mahasiswa yang kos dekat kampus namun membawa mobil pribadi jika hendak kuliah. Akibatnya kampus ITB menjadi macet, cet, cet, sempit, dan tidak nyaman lagi.

Dosen atau karyawan yang bersepeda ke kampus sangat jarang. Mungkin ada satu dua orang, tapi tidak terdeteksi oleh saya. Kalau pun ada, saya pikir hanya sesekali saja. Rumah dosen umumnya jauh dari kampus (seperti saya nih, di Antapani Bandung Timur, yang jarak dari rumah ke kampus 8 km). Kalau setiap hari naik sepeda pasti ngos-ngosan karena dari Timur ke Utara jalannya menanjak. Tiba di kampus pakaian sudah penuh dengan keringat. Bau. Harus mandi lagi di kantor supaya kawan dan mahasiswa tidak lari :-)

Namun saya sangat berkeinginan untuk sesekali membawa sepeda ke kampus. Sesekali saja, tidak setiap hari, kalau pas tidak ada kuliah, sidang, seminar, atau rapat-rapat.

Kategori: Seputar ITB

Kisah Ginan, Mahasiswa IF Angkatan 2006, dan “Perjuangannya” Kuliah di ITB

25 Mei 2009 · & Komentar

Ketika saya mengajar kelas kuliah Struktur Diskrit (mata kuliah tingkat II di Informatika ITB) pada tahun 2007, ada seorang mahasiswa yang menarik perhatian saya. Dia tidak duduk di kursi kuliah seperti teman-temannya, tetapi duduk di atas kursi roda. Berhubung kursi-kursi sudah disusun sedemikian rupa sehingga sulit digeser lagi, mahasiswa tersebut mengambil tempat setelah kursi paling ujung di barisan depan. Dia duduk dengan tekun mendengarkan kuliah saya di atas kursi rodanya itu, sekali-kali tampak mencatat dan membaca diktat kuliah yang saya tulis.

Setelah beberapa kali kuliah, saya baru tahu namanya Ginan. Di dalam daftar hadir tertulis hanya “Ginan” saja, tetapi sesungguhnya nama selengkapnya adalah Ginanjar Pramadita, sebuah nama khas Sunda. Sehari-harinya Ginan memang menggunakan kursi roda karena Allah SWT menakdirkannya mempunyai kaki yang (maaf) cacat sejak lahir sehingga dia tidak bisa berdiri dan berjalan. Praktis kemana-mana Ginan selalu mengandalkan kursi roda untuk berpindah dari satu ruang kuliah ke ruang kuliah yang lain, atau dari satu lab ke lab lain yang berbeda lantai.

Rasa penasaran membuat saya ingin mengenal Ginan lebih jauh. Beberapa kali saya bertemu dia di lorong gedung atau ketika menunggu naik anggung (lift). Saat itu saya sempatkan bertanya banyak hal tentang dirinya sembari meminta izin untuk menulis profil dirinya di blog ini. Bagi saya profil Ginan adalah luar biasa, karena dia mampu menembus kuliah di Informatika (IF) ITB yang terkenal paling susah masuknya. Masuk ITB saja sangat susah, apalagi masuk IF. Dan yang luar biasa adalah dengan kondisi fisiknya yang terbatas itu dia mampu eksis dan menunjukkan kemampuan yang tidak kalah dengan mahasiswa lainnya. Terakhir dia menorehkan prestasi karena dia dan teman-temannya (Team Leader: Garibaldi Mukti) mewakili Indonesia di final ASEAN XML Superstar Programming Contest (semacam Imagine Cup-nya Microsoft lah, tetapi yang ini penyelenggaranya dari IBM). Lihat pengumaman finalisnya dengan mengklik pranala ini. Mudah-mudahan saja kelompok Ginan menang yang hadiahnya — katanya — adalah jalan-jalan ke Cina.

Di bawah ini potret Ginan ketika berada di ruangan saya. Kemaren dia minta izin tidak bisa ikut ujian karena mengikuti lomba programming contest itu. Dengan seizin Ginan saya memotret dia lagi tersenyum.

DSC00501

Saya berbincang-bincang dengan Ginan. Mendengar perjuangan Ginan kuliah di ITB membuat saya kagum pada anak ini. Semangatnya yang tinggi untuk menuntut ilmu patut diacungi jempol. Ginan adalah orang Bandung asli. Setiap hari dia diantar oleh ayahnya ke kampus ITB dengan naik motor. Ginan tidak perlu repot-repot membawa kursi roda setiap hari dari rumah ke kampus, sebab kursi rodanya disimpan di sebuah ruangan di lantai dasar LabTek VI (gedung tetangga IF). Kunci ruangan itu dipegang oleh Ginan sendiri (terima kasih buat pengelola ITB yang memberikan kemudahan buat Ginan). Dengan kursi roda itu Ginan menjalani kuliah seharian di ITB. Sore hari ayahnya datang untuk menjemput pulang dan kursi roda itu disimpan kembali di ruangan yang sama. Begitu setiap hari yang dilakukannya dari Senin sampai Jumat.

Sebenarnya desain baru lanskap dan gedung ITB sudah menyediakan jalur khusus bagi kaum penyandang cacat (pemakai kursi roda), misalnya Gedung CC yang baru serta jalur khusus mendaki menuju area kawasan gedung oktagon. Gedung-gedung yang baru juga dilengkapi anggung (lift) sehingga Ginan tidak perlu naik turun menggunakan tangga lagi. Tetapi, gedung-gedung kuliah yang lama belum dilengkapi anggung, misalnya gedung GKU, Oktagon, dan TVST. Ketika tahap TPB (tingkat I), hampir semua perkuliahan dilakukan di gedung-gedung itu. Ruang-ruang kuliah bertebaran di lantai 1, 2, 3, dan 4. Ginan bercerita, setiap kuliah di gedung GKU, ayahnyalah yang menggendong dia dari bawah ke atas menuju ruang kuliah d lantai atas (waah, saya ingin sekali bertemu ayahnya yang hebat dan penyabar itu). Kadang-kadang temannya yang baik hati yang menolongnya turun naik ke ruang kuliah. Sungguh merepotkan jika membayangkan bagaimana perjuangan Ginan kuliah di gedung-gedung yang tidak punya fasilitas anggung itu.

Tetapi itu cerita masa lalu. Di tahun kedua, hampir semua kuliah dan praktikum dilakukan di Informatika sendiri, yaitu di Gedung LabTek V (yang sekarang berubah nama menjadi Gedung Benny Subianto). Sebagian besar hari-hari mahasiswa Informatika ITB dihabiskan di gedung ini, sebab ruang kuliah, ruang dosen, lab, ruang TU, ruang himpunan, dan lain-lain berada di lantai 1, 2, 3, dan 4, dan setiap lantai dapat dicapai dengan menggunakan tangga atau anggung. Praktis sejak tingkat II Ginan tidak mengalami kesulitan lagi menuju setiap lantai. Jadi, Ginan sungguh terbantu dengan kondisi gedung kami ini. Salah satu pertimbangan Ginan memilih Prodi Informatika adalah karena di gedung Prodi kami tersedia fasilitas anggung. Kata Ginan pula, dulu dia sempat mau memilih Prodi Matematika, tetapi karena di gedung Prodi Matematika tidak ada anggung, dia urung memilih Prodi ini. Akhirnya dia memilih IF, ternyata dia hepi kuliah di sini :-) . Pun untuk memilih tempat Kerja Praktek (KP) pada bulan Juni mendatang, pertimbangan anggung juga menjadi prioritas Ginan. Ginan memilih KP di Risti PT Telkom yang gedungnya ada anggungnya.

Bagaimana kalau listrik mati di ITB sehingga anggung tidak berfungsi?, tanya saya. Kalau sudah begini maka seringkali Ginan tidak bisa kuliah (tidak datang ke kampus).

Ketika SMA, Ginan sekolah di SMAN 5 Bandung di Jalan Belitung. Waah, ini salah satu SMA top di Bandung selain SMAN 3. Setahu saya gedung SMA 5 itu dua lantai, jadi bagaimana ceritanya ketika sekolah di sana? Ginan selalu meminta kepada pihak Sekolah agar selalu ditempatkan di kelas yang berada di lantai dasar. Kepala sekolah yang baik memaklumi hal ini, sehingga kelas 1, 2, dan 3 SMA kelas Ginan selalu ditempatkan di lantai dasar. Ketika sekolah di SD dan SMP 9 Bandung juga tidak masalah sebab gedung sekolahnya tidak bertingkat sehingga Ginan bisa menggunakan terus kursi rodanya.

Kata Ginan, sebenarnya dia tidak selalu duduk di kursi roda. Kursi roda hanya digunakan ketika kuliah atau keluar rumah. Kalau sudah di rumah dia cukup ngampar saja di lantai dan berpindah tempat dengan cara mengesot. Untuk menggunakan toilet Ginan juga tidak kesulitan sebab dia mampu melakukannya sendiri tanpa dibantu.

Kalau saya perhatikan, teman-teman kuliah Ginan juga tidak memperlakukan Ginan secara istimewa. Biasa-biasa saja. Begitu juga sikap para dosen. Saya yakin Ginan juga tidak menginginkan dia diperlakukan khusus atau dikasihani. Ginan mempunyai kemampuan akademik setara dengan yang lain, secara prestasi dia juga tidak kalah dengan teman-temannya itu. Itu kelebihan dia. Di ITB mahasiswa dinilai dari intelektualitas dan integritas moralnya, penampilan fisik seperti cantik, jelek, tinggi, gendut, pendek, cacat fisik, dan sebagainya tidak menjadi ukuran penilaian. Kehadiran Ginan di ITB menambah keragaman mahasiswa ITB, khususnya di Angkatan 2006, dan hal ini juga membuktikan tidak ada diskriminasi kepada siapapun untuk memperoleh pendidikan, karena pendidikan adalah hak setiap warga negara. Saya yakin ITB bangga mempunyai mahasiswa seperti Ginan.

Semangat hidup dan semangat belajar Ginan sangat tinggi. Terus terang saya kagum dengan tekad bajanya yang pantang menyerah itu. Satu hal yang dia pikirkan adalah mengenai masa depan, apakah ada perusahaan yang mau menerima dia bekerja nanti dengan kondisi fisiknya yang terbatas itu?, demikian yang disampaikan Ginan kepada saya.Tetapi saya yakin, pasti ada, Ginan. Indonesia ini negara maju, dan saya yakin orang-orang yang berpikiran modern pasti menilai seseorang dari kemampuan otaknya, bukan dari penampilan fisik semata. Tidak ada undang-undang yang melarang kaum penyandang cacat untuk bekerja menjadi PNS, pegawai BUMN, perusahaan swasta, dan sebagainya. Kalaupun tidak bisa bekerja di perusahaan orang lain, saya yakin menjadi enterpreuner adalah pilihan yang juga dipikirkan oleh Ginan. Menjadi enterpreuner di bidang teknologi informasi tidak sulit sebab pekerjaanya lebih banyak di depan komputer dan tidak memerlukan mobilitas di lapangan.

Sosok Ginan mengingatkan saya pada mahasiswa saya yang lama yang juga mempunyai disabbilities dengan kondisi yang mirip seperti Ginan. Dulu tahun 1993 ada mahasiswa IF namanya Taufik Hidayat. Kakinya juga (maaf) invalid dan untuk itu dia harus menggunakan sepasang tongkat untuk menyangga tubuhnya. Dengan bantuan kedua tongkat itu Taufik bisa berjalan pelan. Sekali lagi, untunglah di gedung jurusan kami ada anggung sehingga Taufik terbantu. Meski demikian, jika anggung tidak berfungsi, Taufik mampu berjalan naik turun tangga. Lulus S1 Taufik menjadi dosen di jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta hingga sekarang. Dia mengambil S2 di Jerman dan sudah mempunyai istri dan seorang anak. Waktu saya ke Yogyakarta saya ketemu Taufik. Setiap hari dia ke kampus dengan mengendari sepeda motor roda empat yang didesain khsusus untuk dia. Istri dan anaknya bangga dengan ayahnya itu. Salam buat Taufik Hidayat jika dia membaca tulisan ini.

Kembali ke Ginan. Satu hal yang menjadi impian Ginan adalah bisa hidup mandiri, artinya tidak selalu bergantung pada orang lain. Misalnya bisa berpindah secara mobile tanpa dibantu, bisa naik bis atau kendaraan umum yang menyediakan fasilitas bagi pemakai kursi roda, ada jalur khusus bagi pemakai kursi roda, dan sebagainya. Sayangnya negeri kita masih belum sepenuhnya menyediakan fasilitas buat kaum difabel. Kayaknya perlu waktu cukup lama baru ada fasilitas itu dijumpai di mana-mana.

Namun Ginan pantang menyerah. Sosok Ginan sekali lagi membuktikan bahwa Allah SWT sungguh Maha Adil. Dia tidak memberikan kekurangan pada makhluk-Nya tanpa ada kelebihan yang menyertainya. Di balik kekurangan yang ada pada Ginan, Allah SWT memberikan dia kelebihan yaitu otak yang cerdas sebagai modal bagi dia menapaki hidup kelak. Allahu akbar. Semangat hidup dan perjuangan Ginan patut ditiru dan semoga sosok Ginan memberi inspirasi bagi siapapun untuk meraih cita-cita. Kekurangan fisik bukanlah halangan untuk terus maju.

Kategori: Seputar ITB · Seputar Informatika

Cara Cepat DO: Menyontek! (Sebuah Karangan Bunga)

19 Mei 2009 · & Komentar

Tadi pagi waktu saya lewat gerbang kampus ada sebuah karangan bunga di depan patung Ganesha . Tempat ini memang sering dipakai untuk metetakkan karangan bunga, baik karangan bunga berisi ungkapan duka cita maupun suka cita. Saya sering berhenti sebentar di depan karangan bunga untuk membaca siapa yang meninggal dunia atau dalam rangka kegiatan apa sehingga ada karangan bunga di sana. Tapi karangan bunga yang ini lain dan cukup unik, isinya seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

DSC00495

Nah, berjalan sedikit ke arah lapangan basket ada lagi sebuah spanduk di depan Gedung Teknik Sipil:

DSC00498

Bisa dibaca dengan jelas ‘kan tulisan di spanduk paling atas: “Cara cepat DO: menyontek. Trust me, it works!

Ops, saya baru mengerti, minggu ini dan minggu depan ITB memasuki pekan Ujian Akhir Semester (UAS). Jadi, karangan bunga ini dimaksudkan untuk mengingatkan mahasiwa agar berperilaku bersih dalam ujian dengan tidak menyontek. Saya tidak tahu siapa yang memasang karangan bunga ini, apakah pihak ITB atau Keluarga Mahasiswa ITB. Siapapun yang memasangnya, gerakan anti menyontek atau gerakan kampanye UAS bersih patut didukung.

Bagi sebagian besar dosen ITB, menyontek dalam ujian adalah tindakan yang bisa berakibat fatal. Jika ketahuan, maka pelaku dapat terancam tidak lulus mata kuliah. Tapi ada juga yang agak ringan hukumannya, yaitu nilai 0 untuk ujian tersebut (ah, dipikir-pikir tidak ada bedanya ya, mendapat 0 dalam UAS bisa menjatuhkan akumulasi nilai akhir yang ujung-ujungnya E juga alias tidak lulus).

Menyontek kata dasarnya adalah “sontek” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya adalah (1) melanggar, atau (2) mengutip (tulisan dsb) sebagaimana aslinya; menjiplak. Menyontek dalam ujian adalah tindakan yang tidak terpuji sebab merupakan sebuah tindakan kecurangan. Mahasiswa ingin mendapat nilai bagus tapi menghalalkan segala cara dengan melihat kertas ulangan teman, melihat buku catatan, dan lain-lain. Maka, wajar jika hukuman terhadap pelaku menyontek adalah tidak lulus (bahkan yang mengerikan seperti tulisan di spanduk itu: DO).

Apakah mahasiswa ITB yang katanya cerdas-cerdas itu masih ada yang berani menyontek? Jawabannya cukup mencengangkan: ada! Menyontek adalah masalah moral, dan moral tidak ada kaitannya dengan cerdas atau bukan. Korupsi saja contohnya, banyak dilakukan oleh orang-orang pintar keluaran perguaran tinggi.

Hmmm… sebenarnya menyontek tidak hanya waktu ujian saja, bukan? Pengerjaan tugas-tugas kuliah juga rawan terhadap penyontekan. Istilah populernya adalah copy-paste. Salin dan tempel. Mahasiswa menyalin makalah orang lain yang diunduh dari internet tanpa menyebutkan sumbernya termasuk tindakan menyontek. Mahasiswa menyalin laporan tugas temannya itu juga menyontek. Menyalin kode program teman dan mengubahnya sedikit supaya tidak kentara (ketahuan), itu juga menyontek. Pada kasus seperti ini, maka tiada ampun lagi, nilai tugas yang menyontek dan nilai tugas yang memberi sontekan sama-sama 0.

Dalam pandangan saya, tindakan menyontek adalah awal dari perbuatan korupsi dan bentuk manipulatif lainnya. Orang yang terbiasa menyontek maka lama-lama di dalam dirinya terbangun paham bahwa menyontek itu hal yang biasa saja. Karena dianggap biasa, maka jika nanti menduduki jabatan ia pun menganggap bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya juga perbuatan biasa. Saya kira pejabat-pejabat yang melakukan korupsi itu dulu semasa sekolah mungkin terbiasa melakukan menyontek ‘kali. Segala cara dihalakan untuk mencapai tujuan.

Jadi,menyontek itu memang parah banget, karena konsekuensi ke depannya bisa berakibat fatal. Jika semua mahasiswa menyadari menyontek itu sama bahayanya dengan korupsi, maka ujian-ujian tidak perlu diawasi lagi. Warung kejujuran tidak hanya menjual makanan tanpa pengawas, tapi warung kejujuran juga di dalam ruang ujian, di rumah, dan di mana saja kita berada. Trust me, let it works!.

Kategori: Seputar ITB

Selamat Jalan Prof. Benny Chatib

7 Mei 2009 · & Komentar

benny-chatibKemaren siang saya mendapat SMS dari Ketua UKM (Unit Kesenian Minang) ITB), Ismul, yang mengabarkan bahwa Prof. Benny Chatib telah meninggal dunia. Dari berita yang saya baca di milis dosen ITB, ternyata Pak Benny Khatib meninggal dunia dalam perjalanan dengan mobil travel Cipaganti dari Bandung ke Jakarta. Di atas mobil Pak Benny terlihat seperti orang yang tertidur, tetapi setelah mobil sampai di pool, Pak Benny tidak turun-turun juga meski telah dibangunkan. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Obituari Prof. Benny Chatib dapat dibaca di sini.

Beliau adalah urang Bukittinggi dan alumni SMA 1 Bukittinggi. Pak Benny adalah mahasiswa angkatan pertama jurusan yang dulu bernama Teknik Penyehatan ITB. Jurusan Teknik Penyehatan adalah jurusan yang berhubungan dengan penyediaan air minum. Dulu, ingat Teknik Penyehatan jadi ingat PAM (Perusahaaan Air Minum). Pak Benny pula yang mengusulkan pergantian nama Teknik Penyehatan menjadi Teknik Lingkungan sekarang dan bidang garapan jurusan ini tidak hanya tentang air bersih tetapi juga isu-isu lingkungan lain seoperti pencemaran udara, limbah, dan sebagainya. Riwayat hidup Pak Benny dapat dibaca pada pranala ini.

Saya tidak terlalu mengenal Pak Benny, tetapi ada faktor ’sejarah’ mengapa saya pernah mengenal Pak Benny barang sebentar. Waktu itu beberapa mahasiswa dari unit UKM mendatangi saya dan meminta kesediaan saya menjadi dosen pembina unit tersebut berhubung Pak Benny sudah memasuki masa pensiun dari ITB. Pak Benny meminta kepada pengurus UKM agar dicarikan pengganti dirinya sebagai dosen pembina UKM. Entah kenapa pilihan mahasiswa itu jatuh kepada saya — padahal saya dulu semasa mahasiswa tidak aktif di unit ini. Saya mempertimbangkan permohonan mahasiswa tersebut, apalagi saya juga mendapat tugas sebagai dosen pembina kemahasiswaan di Prodi Informatika. Setelah beberapa hari berpikir barulah saya bersedia menjadi dosen pembina unit tersebut menggantikan Prof. Benny Chatib.

Nah, sebelum resmi menjadi dosen pembina UKM menggantikan Pak Benny, saya bertemu dengan Pak Benny beberapa kali. Dia ‘menitipkan’ UKM kepada saya dan memberi beberapa masukan. Nah, berhubung saya awam dalam menjadi dosen pembina, maka saya meminta waktu untuk bertemu dengan beliau guna berbicara lebih banyak tentang unit ini. Namun hingga hari ini pertemuan tersebut tidak pernah terlaksana, dan sekarang beliau sudah dipanggil oleh Allah SWT, kembali ke sisi-Nya yang damai.

Kemaren sore jenazah almarhum dishalatkan di Masjid Salman, kemudian dibawa ke Aula Barat untuk dilepas secara resmi oleh ITB (FYI, hanya dosen yang menyandang gelar profesor yang boleh dilepas jenazahnya di Aula Barat). Berikut beberapa foto pelepasan jenazah dari Aula Barat ITB pada Hari Rabu sore 6 Mei 2009 pukul 16.00:

dsc00487

dsc00486

Selamat jalan Pak Benny Chatib, semoga arwahmu diterima oleh Allah SWT dan diberikan tempat yang layak di sisinya. Amiin.

Kategori: Seputar ITB

Nonton Malam Pagelaran Seni Budaya UKM 2009

27 April 2009 · & Komentar

Hari Minggu siang saya ketemu Catra, mahasiswa Teknik Mesin Angkatan 2006, di Sabuga (baru kali ini saya ketemu muka sama kamu, Cat, biasanya cuma di blog). “Pak, mana ulasannya di blog tentang malam pagelaran UKM?”, tanya si Catra ini. He..he, sepertinya ‘wajib’ bagi saya untuk menulis setiap kali pertunjukan UKM ya, Cat. Memenuhi permintaan Catra, saya tuliskan hasil pandangan mata tentang malam pagelaran seni budaya Unit Kesenian Minang ITB tanggal 25 April 2009.

Malam itu saya datang dengan anak saya, untunglah acara belum dimulai (semoga bukan karena menunggu kedatangan saya ya). Secara tidak sengaja di sebelah saya duduk Dirut Excelcomindo (XL), Pak Hasnul. Pak Hasnul yang urang Bukittinggi dan pernah menjadi Dirut PT Indosat itu ternyata orangnya mungil :-) . Biar mungil tapi cerdas, karena itulah alumni Elektro ITB ini dipercaya menjadi dirut Indosat, salah satu BUMN besar.

Secara umum, malam pagelaran budaya UKM tahun ini tidak berbeda dengan format acara tahun-tahun sebelumnya. Acara dikemas berupa drama Minang yang dibaluti dengan aneka tarian dan musik tradisional talempong, saluang, dan pupuik sarunai. Penonton membludak memenuhi Sabuga. Padat, malah luber ke lantai dasar panggung. Diperkirakan jumlah penonton mencapai 2000 lebih. Penonton tidak hanya anak-anak muda (mahasiswa rantau), tetapi juga orang-orang tua yang ingin melepaskan rasa lapeh taragaknyo dengan kampuang halaman. Sepertinya pertunjukan UKM ITB selalu mempunyai daya pikat, terbukti yang datang tidak hanya urang awak, tetapi juga mahasiswa non-Minang lainnya. Dari ukuran jumlah penonton, boleh dibilang penonton pertunjukan UKM ITB adalah nomor 2 terbanyak setelah unit Ludruk ITB.

Di bawah ini satu foto hasil jepretan kamera ponsel, sayang tidak terlalu jelas karena lupa memakai modus malam.

dsc00448

Secara umum pertunjukan kali ini berhasil memuaskan penonton. Dukungan peralatan multimedia membuat aura pertunjukan terasa megah. Layar di sisi panggung membantu penonton yang tidak mengerti Bahasa Minang untuk mamahami jalan cerita, dengan menayangkan teks dalam Bahasa Indonesia untuk menjelaskan apa yang terjadi. Meski demikian pertunjukan kali ini tetap tidak bebas kritik. Ada beberapa kekurangan yang saya perhatikan. Pertama, pertunjukan terlalu panjang sehingga baru selesai pukul 23.15 WIB (anak saya sampai ketiduran di kursi, tak kuasa menahan kantuk, he..he). Penyebab panjang adalah karena ada adegan yang memakan waktu berlebihan, yaitu adegan bagarah-garah (banyolan) 1 dan adegan bagarah-garah 2 (saya mencatat 2 jam untuk kedua scene ini). Mungkin pemain bagarah-garah ini terlalu tersanjung karena banyolannya berhasil mengocok perut penonton sehingga mereka semakin semangat untuk terus maota lamak.

Kedua, nah ini dia, soal tari. Hampir semua tarian adalah kreasi baru, termasuk tari piriang nan legendaris itu. Sayangnya, karena terlalu banyak dimasuki unsur kreativitas, akhirnya keluar dari pakem. Padahal, penonton yang datang tidak hanya anak muda, tetapi juga para orangtua yang rindu melihat tarian yang masih klasik (asli). Oh ya, tarian yang dikeluarkan gerakannya nyaris seragam, jadi terasa agak menjemukan.

Yah, mudah-mudahan pertunjukan tahun yang akan datang lebih bagus dan lebih menarik lagi untuk semua kalangan.

Kategori: Seputar ITB

Beasiswa “ITB Untuk Semua” (Sekolah Gratis di ITB)

21 Maret 2009 · & Komentar

Tahun 2009 ini ITB akan menerima mahasiswa baru melalui jalur ujian seleksi mandiri (USM) lebih besar porsinya dibandingkan dengan jalur SNMPTN (klasikal). Perbandingannya sekitar 60% : 40%. Alasan yang dikemukakan pihak rektorat adalah kualitas mahasiswa jalur USM jauh lebih baik daripada mahasiswa jalur SNMPTN (lihat kapasitas penerimaan mahasiswa di sini). Tampaknya pada tahun-tahun yang akan datang porsi jalur USM akan lebih besar lagi dari SNMPTN.

Jalur USM menjaring mahasiswa golongan “the have”, sebab sumbangan biaya pendidikannya (diluar SPP) tahun ini meningkat yaitu sekitar Rp 60 juta (tahun lalu Rp 45 juta). Artinya, kalangan calon mahasiswa yang tidak mampu akan semakin kecil peluangnya kuliah di ITB. Bagi kalangan ini, satu-satunya harapan (dengan sumbangan biaya pendidikan yang jauh lebih murah tergantung kemampuan orangtua, bahkan bisa Rp 0,-) adalah melalui jalur SNMPTN yang sayangnya porsinya semakin kecil saja setiap tahun.

Menurut hemat saya, ITB tetap perlu memiliki mahasiswa dari kalangan tidak mampu, sebab kelompok mahasiswa inilah yang umumnya lebih peka memperjuangkan nasib rakyat kecil karena mereka pernah merasakannya. Jika mereka lulus dari ITB nanti dan menjadi pemimpin bangsa, mereka tidak akan lupa dengan “kacang dengan kulitnya”. Ehm.., bukan berarti mahasiswa “the have” tidak peka, tetapi tingkat sensitivitasnya — menurut pengamatan saya– masih di bawah mahasiswa “miskin”. Di lingkungan program studi saya sebagai contoh, fenomena yang saya saksikan adalah banyak mahasiswa yang terbiasa hidup dengan kegiatan borju alias senang-senang (makan di tempat mahal, hiburan seperti karaoke, nonton film terbaru, kumpul-kumpul d kafe, main bilyar, jalan-jalan, ke kampus pakai mobil pribadi, dll) yang intinya menghabiskan banyak uang. Dengan pola hidup seperti itu, sangat susah kita harapkan kepedulian mereka pada nasib bangsa ini (yang sebagian besar hidup di bawah garis kemiskinan).

Untunglah beberapa pihak di ITB memikirkan juga hal ini sebelum ITB menjadi semakin elitis dan semakin tidak terjangkau oleh kaum miskin. ITB tidak hanya untuk kalangan berada saja, tetapi juga untuk kalangan tidak mampu. ITB untuk semua. Baru saja saya membaca situs web “Beasiswa ITB Untuk Semua”. Ini adalah program sekolah gratis bagi mahasiswa baru ITB tahun 2009 yang ditujukan khusus kepada mahasiswa dari kalangan tidak mampu.

Bagi yang tidak bisa membuka situs web tersebut, di sini saya kutipkan isi leaflet-nya:

Beasiswa ITB untuk semua

Program “ITB Untuk Semua” adalah suatu skema penerimaan mahasiswa baru Institut Teknologi Bandung yang secara khusus menyediakan bangku kuliah bagi para lulusan sekolah menengah umum dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi (penghasilan kedua orang tua di bawah Upah Minimum Regional setempat). Uang pendidikan, ongkos tempat tinggal, dan biaya hidup selama menempuh kuliah di Bandung akan didanai beasiswa “ITB Untuk Semua”. Sekitar 100 bangku kuliah disediakan secara khusus bagi para lulusan SMU angkatan 2009 dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi.

Para calon penerima beasiswa akan mengikuti Penelusuran Minat, Bakat, dan Potensi ITB (PMBP) jalur bea siswa penuh. Sebelum kuliah, para calon yang diterima akan mengikuti masa persiapan untuk membantu penyesuaian diri dengan suasana kuliah serta kehidupan di Bandung.

Selama kuliah, para mahasiswa program “ITB Untuk Semua” akan mendapat pembimbing khusus untuk membantu menyelesaikan kendala studi dan mengatasi persoalan personal yang mungkin muncul selama menempuh kuliah di ITB. Para mahasiswa juga akan diberi kesempatan mengikuti ceramah-ceramah inspirasional, studi banding ke lokasi-lokasi penerapan teknologi tepat guna, dsb. Para lulusan program “ITB Untuk Semua” diharapkan kelak akan menjadi agen perubahan di daerah asal mereka

Persyaratan
Para calon penerima beasiswa “ITB Untuk Semua” harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Calon lulusan sekolah menengah umum pada tahun ajaran 2009 (bidang studi IPA untuk fakultas Sains dan Teknik).
2. Berasal dari keluarga yang tak mampu secara ekonomi (penghasilan kedua orangtua di bawah Upah Minimum Regional setempat)
3. Memiliki prestasi akademik yang sangat baik.
4. Aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler sekolah (lebih diutamakan yang memiliki bakat memimpin)
5. Mendapat rekomendasi dari kepala sekolah
6. Bersedia mengikuti ujian penerimaan yang dilakukan ITB

Bidang Studi yang Dapat Dipilih
Fakultas/Sekolah yang dipilih oleh calon peremina beasiswa adalah sbb:
* Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)
* Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)
* Fakultas Teknologi Industri (FTI)
* Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)
* Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD)
* Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM)
* Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI)
* Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK)
* Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
* Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)
* Sekolah Farmasi (SF)
* Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM)

Cara Mendaftar
Kirimkan berkas formulir pendaftaran (pada halaman terakhir leaflet ini, boleh di-fotocopy) dengan dilengkapi dokumen sbb:
* Fotocopy halaman depan rapor SMU dan halaman-halaman nilai (dari semester I hingga V) yang telah dilegalisir pihak sekolah
* Surat keterangan berasal dari keluarga yang secara ekonomi tak mampu dengan ditandatangani Ketua RT/RW (Yang dimaksud keluarga yang secara ekonomi tak mampu adalah penghasilan kedua orangtua per bulannya di bawah atau sama dengan Upah Minimum Regional setempat. Kami akan melakukan survey lapangan secara random untuk mengetahui kondisi keluarga calon mahasiswa)
* Surat dukungan/referensi dari kepala sekolah
* Tulisan 1 halaman kertas HVS (boleh diketik atau tulis tangan) yang menjelaskan mengapa pendaftar ingin mengikuti program “ITB Untuk Semua”
* Tulisan 1 halaman kertas HVS (boleh diketik atau tulis tangan) yang menggambarkan kondisi keluarga pendaftar [misalnya menceritakan pekerjaan orang tua, kegiatan pendaftar di luar bersekolah, kondisi masing-masing anggota keluarga, dsb]

Berkas pendaftaran lengkap dimasukan amplop coklat ukuran besar dan dikirim ke:

Panitia Penerimaan Beasiswa “ITB Untuk Semua”
Direktorat Pendidikan ITB
u.p. Kasubdit Penjaringan Mahasiswa/Ketua Lembaga TPB
Gd. CCAR ITB Lt.4
Jl. Tamansari 64 Bandung
*Berkas paling lambat dikirimkan pada 20 April 2009 (cap pos)

Ujian Penerimaan
Panitia seleksi tahap awal program “ITB Untuk Semua” akan melakukan penilaian berdasarkan berkas yang masuk. Penilaian meliputi:
* Kemampuan akademik
* Motivasi (dilihat dari tulisan mengapa pendaftar ingin mengikuti program “ITB Untuk Semua”)
* Kondisi keluarga (dilihat dari tulisan kondisi keluarga pendaftar)
* Pengujian kebenaran data yang diberikan kepada pihak sekolah

Dari hasil penilaian tersebut, panitia tahap awal akan memanggil (melalui surat) calon-calon potensial untuk mengikuti ujian saringan mahasiswa (USM) jalur PMBP terpusat dan interviu di kampus ITB di Bandung. Seluruh biaya transportasi dan akomodasi selama ujian akan disediakan oleh ITB. Ujian ini akan berlangsung pada 29 Mei- 31 Mei 2009.

Panitia akan mengumumkan penerima beasiswa (hanya calon potensial, yang diterima yang akan dikirimi surat) pada pertengahan bulan Juni 2009. Penerima beasiswa akan berkumpul kembali di Bandung pada akhir Juni 2009 untuk mengikuti program penyesuaian diri.

Agustus 2009, penerima beasiswa “ITB Untuk Semua” mulai mengikuti kuliah di ITB.

Semoga ini awal sebuah program mulia yang menghimpun mutiara-mutiara terpendam dari berbagai wilayah daerah di Indonesia yang mempunyai hasrat yang tinggi sekolah di ITB namun apa daya terbentur dengan permasalahan klasik: uang. Tidak punya uang, anda tetap dapat kuliah di ITB.

Tambahan informasi (diambil dari situs ITB):
Untuk beasiswa ini, alokasi dana yang disediakan ialah 100 juta per anak untuk lima tahun. Dana akan diperoleh dari alumni ITB, baik perseorangan atau berkelompok. Alumni yang sudah bersedia menjadi orang tua asuh diantaranya Ir. Benny Subianto, Ir. Martiono Hadianto, Ir. Betty Alisjahbana, Ir. Karen Agustiawan. Sekitar 100 bangku kuliah disediakan secara khusus bagi para lulusan SMU angkatan 2009.

Kategori: Seputar ITB

Kunjungan Wapres Muhammad Hatta Tahun 1959 ke ITB

3 Maret 2009 · & Komentar

Jangan bosan-bosan lihat foto jadul ya. Ini masih terkait 50 tahun ITB.

Peristiwa 50 tahun yang lalu kembali terulang. Kata orang, sejarah memang selalu berulang.

Tanggal 2 Maret 1959 (kalau nggak salah) Wapres Muhammad Hatta datang ke kampus ITB sesaat setelah peresmian ITB oleh Presiden Bung Karno (lihat fotonya pada tulisan terdahulu). Pada waktu itu rupanya ITB juga mengadakan pameran besar-besaran.

Tanggal 2 Maret 2009 Wapres Jusuf Kalla datang ke kampus ITB guna menghadiri peringatan Dies Emas 50 tahun ITB.

Bung Hatta datang untuk melihat pameran yang diadakan oleh ITB dan open house di berbagai Jurusan/Program Studi pada saat itu. Bedanya, Pak Jusuf Kalla hanya datang sampai ke Sabuga saja dan tidak sempat melihat keramaian pameran Inovasi IPTEKS di yang tengah berlansung di dalam kampus (baca tulisan sebelum ini).

Foto-foto jadul kunjungan Bung Hatta berikut ini semoga dapat membangkitkan kenangan bagi para pelaku sejarah yang masih hidup atau sekedar mengingatkan sejarah bagi mahasiswa ITB saat ini. (Sumber foto: album foto milik Prof. TM Sulaiman yang dipindai oleh T.U STEI ITB dalam rangka peringatan Dies Emas ITB)

1. Bung Hatta berjalan memasuki gerbang di depan Aula Barat.

80

2. Bung Hatta melihat sebuah stand pameran di Aula Barat

85

yang ini juga:

97

3. Mahasiswa ITB jadul melihat stand pameran di Aula Barat

111

atau yang ini:

128

Kalau yang ini mahasiswa di Lab Hidrolika Teknik Sipil sedang menunggu kedatangan Bung Hatta:

132

4. Bung Hatta memasuki Gedung Arsitektur. Lihat para menwa (atau pramuka?), seragamnya masih celana pendek kala itu.

78

dan yang ini:

325

5. Sebuah Lab di Teknik Mesin bangunannya masih seperti yang dulu, lengkap dengan kolam di depannya.

164

6. Dara-dara Jurusan Biologi ITB di stand pameran di sebuah lab Biologi.

295

Bung Hatta melihat fosil Dinasaurus di Lab Geologi:

277

7. Bung Hatta menyimak penjelasan seorang dosen di sebuah Lab. Kursi rotan di lab itu mengingatkan kursi di rumah saya dulu.

237

8. Bung Hatta melihat mesin-mesin pembangkit listrik di Lab Konversi Energi Jurusan Teknik Elektro.

253

Kategori: Seputar ITB

Foto-Foto Dies Emas ITB

2 Maret 2009 · & Komentar

Tadi siang saya dengan Bu Harlili dan Pak Dwi menyempatkan diri melihat-lihat pameran dan suasana keramaian dalam rangka Dies Emas ITB yang ke-50. Sayang jika dilewatkan karena hanya 50 tahun sekali. Sementara itu di Sabuga ada acara resmi yang dihadiri oleh Wapres. Selama Wapres di kampus, Jalan Tamansari ditutup. Aduh, susah benar hari ini mau ke kampus sebab beberapa ruas jalan macet akibat penutupan jalan Tamansari.

Pameran Dies Emas diadakan di area terbuka di dalam kampus, yaitu jalan-jalan utama kampus, lahan parkir LabTek V dan VIII (saya tetap belum ngeh menyebutnya Gedung Benny Subianto dan Gedung Achmad Bakrie, he..he), lapangan basket, lapangan depan PL, Gedung SC, dan selasar LabTek V dan LabTek VIII. Pameran diikuti puluhan (atau ratusan) perusahaan swasta, BUMN, instansi pemerintah, pokoknya di tempat-tempat yang diisi oleh banyak alumni ITB. Selain pameran, ada juga pertunjukan band, bazaar, dan lain-lain. Ramailah pokoknya selama seminggu ini, sebab pameran da acara Dies berlangsung hingga Hari Sabtu depan.

Saya sempat memotret suasan keramaian dengan kamera ponsel. Di bawah ini beberapa foto-fotonya:

1. Gajah dari rotan (menurut saya inilah maskot acara Dies Emas yang menarik banyak perhatian, yaitu aneka gajah Ganesha dengan berbagai gaya tidak lazim).
dsc00389

2. Para gajah siap menyambut tamu di gerbang utama kampus.
dsc00388

3. Bola emas dies di lapangan basket
dsc00408

4. Mendaki “janjang ampek puluah”
dsc00411

5. Dua fakultas dengan setia “menjaga” sebuah program televisi swasta
dsc00406

6. Umbul-umbul di sepanjang jalan utama kampus
dsc00401

dan yang ini:
dsc00407

atau yang ini layar besar di tengah jalan:
dsc00403

7. Stand pameran di Gedung Student Center (nanti namanya menjadi gedung apa ya? Menunggu alumni yang berani bayar mahal, ho..ho)
dsc00400

8. Panggung musik di depan kolam “Indonesia tenggelam”
dsc00413

Kategori: Seputar ITB

Nama-nama Mereka Sudah Terpatri

25 Februari 2009 · & Komentar

He..he, akhirnya nama-nama mereka — para alumni ITB itu — sudah terpatri dengan megahnya di empat gedung LabTek, di tengah pro dan kontra yang mengiringinya (baca tulisan sebelum ini). Ternyata ada perubahan nama. Aburizal Bakrie meminta nama ayahnya, Achmad Bakrie, yang dipatrikan di Gedung LabTek VIII (Elekto), begitu pula Arifin Panigoro meminta nama ayahnya, Yusuf Panigoro, yang diabadikan di Gedung LabTek VII (Prodi Farmasi). Hmm…penghargaan anak kepada orangtua mereka, kali. Tapi, Yusuf Panigoro dan Achmad Bakrie tidak pernah mengenyam pendidikan di ITB, bukan? Jadi aneh!

Di bawah ini foto-foto gedung yang telah bernama itu (dipotret ditengah cuaca mendung). Dengar-dengar peresmian nama ini akan dilakukan pada acara Dies Emas ITB pada tanggal 2 Maret 2009 nanti.

Gedung Benny Subianto (LabTek V):

bennysubianto

Gedung Teddy P. Rachmat (LabTek VI):

tprachmat

Gedung Yusuf Panigoro (LabTek VII):

panigoro

Gedung Achmad Bakrie (LabTek VIII):

bakrie

Kategori: Seputar ITB