Asrama Mahasiswa ITB Dalam Kenangan (2)

Pada tulisan yang kedua ini, saya menampilkan beberapa foto ketika saya tinggal di Rumah C. Wajah saya masih tampak culun saat itu, he..he. Kebanyakan foto saya di sana ketika saya ikut wisuda sarjana di ITB (April 1992).

Nah, yang di bawah ini foto bersama di depan asrama ketika kami baru pulang menghadiri pernikahan alumni Rumah C. Beberapa teman naik kuda, sebagian lagi bergaya.

Gaya di depan asrama. saya berdiri dekat kuda pakai baju batik.

Di bawah ini beberapa foto wisuda di depan Rumah C. Saya berdiri bersama (alm) ibu saya. Ayah saya tidak ikut serta karena ia sedang mempersiapkan manasik haji di Padang. Wisuda ITB dulu masih di GSG, jadi dari asrama saya cukup berjalan kaki ke dalam kampus terus ke belakang ke gedung GSG.

Saya berama (alm) ibu di depan Rumah C, siap-siap berangkat jalan kaki ke GSG.

Saya berfoto bersama teman-teman sebelum berangkat menuju GSG.

Bersama teman-teman asrama sebelum ke GSG

Foto buram di dalam ruang TV asrama, sesaat sebelum berangkat wisuda.

Tradisi di asrama adalah perayaan syukuran wisuda. Pada tradisi ini kami mengundang hanya mahasiswi asrama putri saja. Entah kenapa, pada zaman saya di sana hubungan yang erat justru dengan asrama mahasiswi putri Kalimantan Barat dan asrama mahasiswi asal Garut (Kamaga). Hubungan dengan Asrama Putri ITB malah tidak terlalu dekat, mungkin karena satu ITB kali ya, sudah biasa.

Syukuran wisuda di dalam asrama

Seringkali pada malam minggu kami beramai-ramai date ke asrama putri. Karena erat dengan asrama putri asal Kalimantan, maka beberapa kali kami main ke sana. Ini salah satu fotonya:

"Date" ke asrama putri Kalbar

Ketika Makalah Mahasiswaku “Nyangkut” di Situs Jasa Pembuatan Skripsi

Seorang mahasiswa saya — yang sudah menjadi alumni — melaporkan bahwasanya makalah teman seangkatannya yang mengambil kuliah Matematika Diskrit yang saya ampu tertera di dalam situs jasa pembuatan skripsi yang tautannya dapat diklik di sini. Makalah-makalah tersebut diambil dari situs saya yang laman webnya ini.

FYI, pada setiap kuliah yang saya ampu di ITB ada tugas membuat makalah pada akhir semester. Jika Dikti baru-baru ini mewajibkan mahasiswa S1 menulis makalah sebagai syarat kelulusan sarjana, maka mahasiswa-mahasiswa saya sudah lama membuat makalah yaitu sejak tahun kedua kuliahnya. Menulis makalah sudah saya biasakan sejak dini agar mereka trampil mengkomunikasikan pengetahuan yang diperolehnya kepada orang lain. Bentuk komunikasi pengetahuan yang tertulis adalah melalui penulisan makalah.

Agar makalah yang mereka buat bermanfaat bagi orang lain — jadi tidak hanya sekedar makalah yang setelah saya baca dan saya nilai dibuang atau ditumpuk di gudang — maka semua makalah itu saya publikasikan secara daring di internet melalui situs web saya. Istilahnya berbagai (sharing) ilmu kepada orang lain. Nah, makalah-makalah yang anda lihat di dalam situs jasa pembuatan skripsi di atas berasal dari situs web saya tersebut.

Bagi saya tidak masalah makalah-makalah itu diunduh oleh siapapun lalu dikoleksi ke dalam situs web lain asalkan sumbernya disebutkan. Kita pun kaum akademisi melakukan hal serupa, yaitu mencari makalah-makalah yang kita inginkan melalui mesin pencari, kemudian mengunduhnya untuk kebutuhan pembuatan skripsi, tesis, disertasi, atau makalah ilmiah. Hal yang harus kita pegang teguh adalah menuliskan semua referensi makalah yang kita gunakan sebagai bahan kutipan di dalam daftar pustaka. Begitulah cara kita menghargai karya orang lain, sehingga apa yang kita tulis memiliki keterkaitan dengan karya kecendekiaan orang-orang sebelumnya.

Jika makalah mahasiswa yang saya unggah ke Internet digunakan sebagai referensi saya pikir tidak apa-apa. Tetapi, jika disalahgunakan pihak lain, misalnya untuk plagiasi, disitulah masalahnya. Ada pelanggaran etika dan hukum di situ. Namun demikian, saya tetap merasa kurang nyaman kumpulan makalah mahasiswa tersebut nyangkut di situs jasa pembuatan skripsi, apalagi tidak menyebutkan sumbernya dari mana. Membaca nama situsnya saja saya sudah enek, apalagi melihat daftar makalah para mahasiswa saya ada di sana, tambah enek lagi. Namun saya juga tidak bisa mencegah siapapun mengunduh makalah tersebut, itu sudah resiko mempublikasikan makalah secara daring. Tanpa makalah para mahasiswa saya pun mereka bisa mengunduh makalah di situs lain lain yang jumlahnya ratusan ribu buah di Internet. Bedanya makalah para mahasiswa saya itu berbahasa Indonesia sehingga lebih mudah dipahami bagi mahasiswa yang kurang suka membaca tulian dalam Bahasa Inggris. Yang perlu diedukasi kepada kaum akademisi (mahasiswa, dosen, peneliti) adalah bagaimana menegakkan etika dalam penulisan karya ilmiah. Silakan unduh, baca, dan pelajari, taetapi jangan melakukan plagiasi.

Saya tidak bisa menghentikan proses publikasi makalah para mahasiswa saya ke Internet. Kegiatan publikasi ini sudah berlangsung hampir selama sepuluh tahun. Dengan cara mempublikasikan makalah secara daring di Interner, ada manfaat lain yang diperoleh. Plagiasi dapat dilacak dengan mudah, sebab dengan menggunakan mesin pencari maka seorang dosen atau reviewer dapat mendeteksi apakah makalah atau karya skripsi tersebut merupakan jiplakan dari karya orang lain.

Lebaran Idul Fitri Tahun 2011 Berbeda Hari (Lagi)

Tahun 2011 ini umat Islam di tanah air akan kembali berbeda hari dalam merayakan Idul Fitri (baca berita ini). Muhammadiyah sudah jauh-jauh hari mengumumkan lebaran jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011 karena posisi awal bulan (hilal) sudah terlihat di atas satu derajat (tetapi kurang dari dua derajat). Sementara Nahdhatul Ulama (NU) kemungkinan akan mengumumukan lebaran jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011 karena hilal kurang dari dua derajat sehingga puasa digenapkan menjadi 30 hari.

Tidak sekali ini saja kita umat Islam berbeda dalam merayakan Idul Fitri. Antara NU dan Muhammadiyah sering terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Yang dipermasalahkan adalah angka dua derajat itu. Angka dua ini semacam threshold yang menentukan keputusan awal bulan baru. NU dan Muhammadiyah — dan juga ormas Islam yang lain — tentu mempunyai alasan yang sama kuat kenapa harus dua derajat, kenapa bukan 1 derajat, dan sebagainya. Bagi Muhammadiyah, jika bulan sudah “terlihat” (secara perhitungan) meskipun tingginya hanya nol koma sekian derajat maka sudah dianggap masuk bulan baru. Sementara bagi NU (dan juga beberapa ormas yang lain) menetapkan tinggi hilal harus di atas dua derajat sebagai pertanda dimulainya bulan baru.

Ormas-ormas Islam di Indonesia terlalu banyak jumlahnya dan masing-masing menetapkan cara perhitungan awal bulan sendiri-sendiri. Mereka sulit sekali bersatu untuk menyatukan kalender Hijriyah. Usaha-usaha untuk mempersatukan ormas itu dalam perhitungan tanggal-tanggal penting tidak pernah berhasil dari dulu hingga sekarang. Ada ego masing-masing kelompok yang dipertahankan oleh mereka. Alasan yang jamak dipakai — saya kira sudah “bosan” mendengar alasan ini — adalah “perbedaan itu adalah rahmat”. Mengapa tidak mencoba menghilangkan perbedaan itu untuk mencari persamaan demi persatuan dan kemaslahatan umat Islam? Perbedaan waktu hari raya hanya menyebabkan kebingungan di tengah masyarakat yang awam mengenai agama.

Diluar cara perhitungan tinggi bulan di antara kedua ormas besar itu, ada pula kelompokyang menetapkan waktu hari raya berdasarkan ketetapan di Mekah. Jika di Mekah shalat Ied pada hari X, maka jamaahnya di Indonesia juga mengikuti waktu Mekah itu. Menurut saya ini pandangan yang aneh, bukankah bumi itu bulat dan posisi bulan baru yang dilihat di Mekah dan di belahan bumi lain tidak selalu sama. Seharusnya penetapan waktu itu mengikuti kondisi di negara masing-masing.

Adanya perbedaan waktu hari raya itu tentu membuat perayaan lebaran di tengah masyarakat menjadi sumbing. Ada yang sudah lebaran pada hari Selasa, sementara sebagian lagi pada hari Rabu. Ada yang sudah takbiran, sementara sebagian lagi masih makan sahur. Inginnya kita merayakan hari raya bersama-sama, tetapi ego masing-masing ormas itu membuat umat terpecah-pecah.

Memang sih perbedaan hari raya itu disikapi biasa-biasa saja oleh umat Islam. Tidak ada gejolak pertentangan di tengah masyarakat. Semua memaklumi kondisi yang demikian sebab sudah sering terjadi. Namun alangkah elok kalau kita merayakannya bersama-sama. Janganlah jadikan “perbedaan itu rahmat” sebagai alasan pembenaran. Penyamaan itu tetap bisa dilakukan jika setiap ormas mengedepankan toleransi dan menghilangkan ego masing-masing kelompok. Lihatlah kenapa Mesir bisa satu suara dalam menetapkan waktu hari raya, atau Malaysia yang juga satu, kenapa di Indonesia tidak bisa?

Yang menarik adalah tidak ada perbedaan di antara ormas-ormas itu dalam menetapkan tanggal 1 Muharam (tahun baru Hijriyah), tanggal 27 Rajab (Isra’ dan Mi’rah), dan tanggal 12 Rabiul Awal (Maulid Nabi). Mereka kompak mengikuti penanggalan merah yang ditetapkan Pemerintah dalam menentukan hari libur nasional untuk hari-hari besar itu. Apakah anda melihat perbedaan hari antara NU dan Muhammadiyah dalam penetapan tahun baru Hijriyah? Saya belum pernah melihat berbeda, atau mungkin saya yang salah. Mungkin karena tanggal 1 Muharam, Maulid Nabi, dan Isra’ Mi’raj tidak berkaitan dengan ibadah seperti penentuan awal Ramadhan dan hari raya, maka tidak ada perdebatan dalam penentuan tanggalnya.

Yang hampir selalu menjadi pertanyaan saya yang bodoh ini dalam hal astronomi dan perkalenderan adalah, jika penetapan hari raya sering berbeda sejak zaman dulu hingga sekarang, seharusnya kalender hijriyah masing-masing ormas pun sudah bergeser jauh berhari-hari. Namun anehnya, perbedaan yang timbul hanya satu hari saja, bisa lebih dulu atau lebih lambat. Kenapa perbedaan awal bulan hanya satu hari saja? Saya tidak mengerti.

Penerbangan “Ramadhan Air”

Tanggal 1 Agustus 2011 ini awal dimulainya ibadah puasa Ramadhan 1432 Hijriyah. Puasa tahun ini tidak genap 30 hari, tetapi hanya 29 hari (begitulah bulan Arab, kadang-kadang 30 hari kadang-kadang 29 hari).

Bulan puasa tahun ini di Bandung adalah saat musim kemarau, jadi bisa dibayangkan agak berat dibandingkan beberapa tahun lalu, tapi seberat-beratnya keadaan cuaca tidaklah halangan untuk menjalankan ibadah puasa. Inilah perintah Tuhan untuk menguji iman manusia, seberapa kuat dia mampu menahan godaan hawa nafsu.

Bulan puasa artinya bulan sehat karena puasa itu menyehatkan badan. Benar, selama puasa saya tidak pernah sakit, meskipun di luar bulan puasa saya juga jarang sakit. Alhamdulillah. Selama siang hari berpuasa organ pencernaan kita istirahat mencerna, padahal selama 11 bulan sebelumnya perut ini tidak henti mencerna makanan apa saja sepanjang hari. Banyak penyakit bersumber dari makanan dan dari organ pencernaan. Insya Allah selama bulan Ramadhan ini kita terhindar dari sakit.

Dikutip dari sebuah milis, inilah penerbangan Ramadhan 1432 Hijriyah:

Selamat datang dalam penerbangan RAMADHAN AIR, Dengan tujuan Bandara
International IDUL FITRI, dengan nomor penerbangan 1432 H.
Tidak lama lagi kita akan menempuh penerbangan yang memakan waktu 29 HARI
dan anda akan memasuki wilayah PUASA.

Mohon Tegakkan kursi IMAN serta sandaran TAQWA, Bila terjadi guncangan
dalam perjalanan segera pasang sabuk DZIKIR, TAHAJUD & SEDEKAH JARIAH.

Pilot anda : AL-ISLAM, bersama
co-pilot 1 : AL-QURANUL KARIM
co-pilot 2 : AL-HADIST,
ditemani pramugari : RAHMAH & MAGFIRAH TO JANNAH

Kami berharap dapat menerbangkan anda kembali menuju Negara JANNATUN NAIM.

TAQABALLAHU MINNA WA MINKUM, MOHON MA’AF LAHIR dan BATIN…

Bila Sarjana Informatika ITB Jualan Mie Kocok

Alumni Informatika (IF) ITB jualan mie kocok Bandung? Apa sudah tidak ada lagi pekerjaan di bidang informatika (IT) yang bisa dikerjakan alumni, he..he? Apakah proyek pembuatan perangkat lunak sudah sepi order sehingga alumni IF ITB banting stir jualan mie kocok? Bukan saudara-suadra, tentu saja bukan karena itu alasannya. Bidang informatika masih tetap termasuk “madece” alias masa depan cerah. Proyek di bidang teknologi informasi tidak habis-habisnya, selalu saja banyak permintaan untuk mengerjakan proyek di bidang ini. Lalu, kenapa ada lulusan Informatika jualan mie kocok Bandung? (Emangnya nggak boleh?, ha..ha)

Kemarin sore saya menyinggahi warung mie kocok Bandung yang dikelola oleh lulusan Informatika, mantan mahasiswa saya dulu. Namanya Doni Hernawan, dulu Informatika ITB angkatan 1996. Doni ini men-tag saya di fesbuk pada gambar lokasi warung mie kocoknya yang bernama Larizo. Ia mengabarkan bahwa dirinya sekarang berjualan mie kocok di jalan Rontgen, pertigaan Jalan Dr. Radjiman. Setengah berrpromosi dia menceritakan mie kocoknya ini beda dengan mie kocok yang yang lain, kuahnya lebih kental sebab berisi kaldu dan sumsum tulang sapi sehingga terasa gurih. Daging kikilnya juga asli, katanya (Emang ada kikil yang palsu?, tanya saya. Ada, kata Doni, yaitu kikil yang terbuat dari kulit sapi yang biasanya digunakan untuk membuat sepatu. Sampah kalau gitu.).

Wah..wah..wah, siapa yang tidak ngiler mendengar promosi mie kocoknya ini, apalagi saya ini seorang pencinta dan pengamat kuliner. Lebih menarik lagi dia mantan mahasiswa saya dulu di Informatika ITB, kok jualan mie kocok? Ada yang “salah” kah dengan pendidikannya di Informatika? He..he..he… . Saya pun meluncur ke lokasi yang dia sebutkan. Penasaran. Tidak susah mencari warungnya itu yang terletak di depan Dinas Pendidikan Kota Bandung.

FYI, mie kocok adalah jajanan khas Bandung sehingga sering dinamakan mie kocok Bandung. Bentuknya mirip mie bakso, tetapi ada beberapa perbedaan. Mie kocok Bandung ini kuahnya adalah kaldu dan sum-sum dari kaki sapi dan kikil yang direbus dengan bumbu-bumbu (makanya sering dinamakan “mie kocok kaki sapi”). Urang Sunda sangat doyan makan kikil (hati-hati kolesterol lho, he..he). Oh ya, mienya juga khusus yaitu mie gepeng. Nah, untuk menghidangkan satu mangkok mie kocok Bandung, mie dicampur dengan sayur tauge, bawang daun, bawang goreng, selederi, tongcai, lalu ditambah dengan kikil sapi yang dipotong dadu. Selanjutnya campuran tadi disiram dengan kuah kaldu, tambahi perasan jeruk, sambal cabe rawit, dan kecap. Mantaaapp! Mie kocok ini dimakan selagi panas ditemani es jeruk atau teh hangat. Karena Bandung berhawa sejuk/dingin maka mie kocok ini populer sebagai pengisi kehangatan selain makan mie bakso, batagor, dan minum bajigur tentunya. Tidak heran pada resepsi pernikahan di Bandung selalu ada stand mie kocok yang diserbu tamu undangan. Di Bandung mie kocok yang terkenal itu terletak di Jalan Macan (dekat Jalan Banteng) dan di jalan Kebon Jukut.

Kembali ke mie kocok Larizo milik si Doni ini. Segera saja saya dihidangkan semangkok mie kocok. Karena saya tidak suka kikil, maka saya minta mie kocok pakai bakso saja, nggak pakai kikil. Wah, sudah tidak sabar saya ingin mencicipi mie kocok Doni ini. Hmm… baru dimakan satu dua sendok, memang terasa gurih. Gurihnya bukan karena bumbu penyedap, tetapi berasal dari kuah kaldunya yang kental litu. Enak, euy, mantap. Ternyata resep mie kocok ini hasil eksperimen ibunya Doni yang memang hobi memasak. Cerita si Doni, warung mie kocok ini dia yang memodali, sementara yang memasak adalah ibunya, jadi boleh dibilang ini usaha keluarganya.

Ini mie kocok Larizo, potongan yang putih-putih itu adalah kikil sapi:

Hei Don, apakah kamu memang kerjanya cuma jualan mie kocok?, tanya saya. Ternyata tidak juga, jualan mie kocok hanya usaha sampingan. Doni ini masih tetap “on the track” di bidang Informatika, dia punya perusahaan konsultan IT bareng teman-temannya, proyeknya di bidang GIS. Sekali-sekali saja dia datang ke warungnya untuk memantau perkembangan usaha jualan mie kocok. Sudah ada yang mau jadi waralaba, katanya senang. Saya pun ikut senang. Oh iya, saya jadi ingat, mantan mahasiswa saya bernama Latif angkatan 1999 juga saya dengar jualan mie bakso di Bandung, tetapi saya belum pernah coba baksonya itu. Rasa-rasanya jualan bakso ini lebih menyenangkan daripada coding deh…

Ini Doni di depan warung mie kocoknya. Mana yang sapi dan mana Doni nih? He..he…

Slurp, slurp…olala, mie kocok Bandung sudah habis saya makan. Karena enak, saya pesan dua bungkus lagi untuk anak dan sitri di rumah. Harganya juga tidak terlalu mahal, antara Rp10.000 sampai Rp13.000 per porsi. Saya rekomendasikan nih mie kocok Larizo ini kalau anda sempat melewati jalan-jalan yang bernama para dokter itu, boleh dicoba rasanya memang beda dengan mie kocok yang pernah saya coba.

Nasib TKI di Penjara Malaysia

Supaya ada keseimbangan berita antara orang Indonesia yang merasakan “hidup senang” di Malaysia (terutama bagi yang mendapat beasiswa di Malaysia) dengan para TKI yang merasa “hidup menderita” di sana, saya kutipkan sebuah berita dari koran ini. Ternyata perilaku polisi di Malaysia tidak selamanya baik. Para pembaca di Malaysia mungkin tidak tahu hal yang begini, karena tidak mungkin berita semacam ini muncul di media Malaysia.

TKI: Pemerintah Harus Protes Penghinaan Malaysia
Sabtu, 28 Agustus 2010, 11:35 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,TANJUNGPINANG–Ratusan TKI bermasalah yang diusir Pemerintah Malaysia melalui Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau mengharapkan pemerintah Indonesia melayangkan nota protes terhadap penghinaan yang dilakukan petugas Malaysia selama mereka di penjara.”Kami berharap pemerintah bertindak tegas, karena setiap hari bangsa kita dihina petugas penjara maupun polisi Malaysia selama kami ditahan,” kata salah seorang TKI bermasalah, Sahiradin (39), ketika sampai di pelabuhan internasional Sri Bintan Pura Tanjungpinang, Jumat malam.

Sahiradin yang berasal dari Nusa Tenggara Barat mengatakan, hinaan dan cacian setiap hari didengar oleh ratusan bahkan ribuan TKI bermasalah yang ditahan di penjara Malaysia.”Mereka menuduh bangsa Indonesia sebagai bangsa pencuri, padahal merekalah pencuri karena seluruh harta benda kami diambil saat di penjara. Bukan itu saja, kami dipukul dan ditelanjangi jika sedikit melawan,” ujarnya yang dipenjara selama satu bulan di penjara Keluang, Johor Bahru, Malaysia dengan satu kali hukuman “sebat” (cambuk) dengan rotan.

TKI bermasalah asal Aceh, Jumirin, mengatakan bendera Indonesia juga diinjak-injak petugas penjara Malaysia dengan mengeluarkan berbagai cacian.”Ini bendera Indonesia yang diinjak petugas penjara Malaysia,” ujarnya sambil menunjukkan replika bendera Merah Putih kecil yang dikeluarkan dari kantong celananya.

Jumirin menyatakan mendapat pukulan lima kali hanya gara-gara meminta obat karena sakit selama di penjara Kluang, Malaysia.”Saya hanya minta obat karena sakit, namun lima kali pukulan yang saya dapatkan,` katanya.

Riski (22), mengatakan warga Indonesia yang mencapai ribuan di penjara Malaysia tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi penyiksaan yang dilakukan petugas penjara.”Sedikit saja kami protes akan disiksa dengan cara dipukul dan dijemur di bawah terik matahari dengan baju dibuka,” ujarnya yang mendapat hukuman cambuk satu kali pada hari Kamis (19/8).

Riski menunjukkan bekas hukuman cambuk yang masih tampak basah di bagian pantatnya seukuran satu jari.Ratusan TKI yang diusir Malaysia serentak menjawab merasakan hukuman cambuk ketika ditanyakan apakah pernah dihukum cambuk atau tidak.”Semuanya pernah mengalami hukuman cambuk, jumlahnya tergantung keputusan “mahkamah” (pengadilan),” ujar TKI.

Ratusan TKI tersebut sempat menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan meneriakkan kata-kata Merdeka dengan bersemangat.”Kami berharap pemerintah lebih memperhatikan nasib warganya yang disiksa dan dihina di penjara Malaysia,” harap Riski.

TKI yang diusir Malaysia Jumat malam terdiri dari laki-laki sebanyak 69 orang, perempuan sebanyak 68 orang dan anak-anak sebanyak 18 orang. Salah seorang laki-laki dewasa di antaranya diduga mengidap HIV/AIDS dan dilarikan ke Rumah Sakit Daerah Tanjungpinang untuk perawatan karena tidak bisa lagi berjalan.
Red: Krisman Purwoko
Sumber: ant

Duh, si Zul Terancam Skorsing 3 Semester

Kasus si Zul dan tulisan rasisnya tentang Papua di fesbuk masih menjadi isu hangat di ITB. Kekagetan civitas academica muncul setelah mendengar hasil rekomendasi Komisi Disiplin ITB. Komisi ini merekomendasikan si Zul dikskorsing selama 3 semester. Selain itu, ada lagi hukuman tambahan seperti kerja sosial, tugas keilmuan/keprofesian, dan bimbingan konseling (baca berita ini). Mendengar skorsing 3 bulan semester itu si Zul langsung menangis (baca berita ini).

Ancaman sangsi hukuman yang dijatuhkan komdis berbalik menimbulkan simpati dari kalangan dosen ITB. Sebagian pihak menilai hukuman itu terlalu berlebihan dan tidak adil. Sama saja membunuh harapan masa depan dia, dengan kata lain men-DO dia dari ITB. Komentar rekan saya di milis menanggapi hukuman itu: tiga semester? Yang bener aja… semua harus nangis pak, katanya. Terhadap yang menyontek dalam ujian saja hukumannya adalah pengurangan 10 SKS, tetapi untuk tulisan emosionalnya di fesbuk dia harus mendapat hukuman yang sangat berat itu. Rekan yang lain menilai, kenapa masalah ini tidak diselesaikan dalam ranah hukum saja, tidak perlu ITB memberi hukuman karena apa yang dilakukannya tidak terkait ITB. Kan ada UU ITE, kalau dia bersalah maka dia cukup dijerat dengan pasal-pasal di dalam UU ITE dengan ancaman hukuman penjara, tetapi tidak perlu sangsi akademis. Sangsi hukuman yang dijatuhkan buat si Zul tidak pada tempatnya. Tidaklah adil jika seorang bertindak rasis yang kejadiannya di luar kampus lalu dijatuhi sangsi akademis. Nggak ada relevansinya.

Si Zul memang salah, perbuatannya tidak benar. Dia telah melukai hati rakyat Papua. Masalah ini sebenarnya cukup diselesaikan dengan mediasi dan permintaan maaf kepada rakyat Papua. Toh kita semua sama satu bangsa dan satu negara. He is just a bad boy.

Ketika Orang ITS Menilai ITB

Ada tulisan yang bagus dari seorang mahasiswa ITS Surabaya tentang ITB. Menarik juga untuk mengetahui bagaimana pandangan orang luar tentang ITB dan bagaimana ia membandingkan ITB dengan institusi pendidikannya sendiri. Menurut saya sebagian besar apa yang dikatakannya tentang ITB ada benarnya, meskipun sebagian lagi ada yang kurang tepat (ayo, tunjukkan yang mana?). ITS sebenarnya tidak perlu “minder” begitu terhadap ITB. Lagipula ITB, ITS, UI, UGM, dan semua perguruan tinggi lain yang ada di Indonesia diciptakan bukan untuk bersaing memperebutkan yang terbaik, tetapi bagaimana semuanya bersama-sama memajukan bangsa Indonesia yang besar ini.

Tulisan diambil dari sini.

Melawan Hegemoni ITB
Oleh: Bahtiar Rifai Septiansyah
Mahasiswa Teknik Perkapalan
12 April 2010 16:49:01

Malam itu, saya pergi berselancar bersama Eyang Google. Mata saya terbelalak melihat kata-kata berbunyi ”Melawan Hegemoni ITB” tercecer di milist alumni ITB. Padahal niat awal hanya mencari kabar tentang Dies Emas ITB setahun lalu (nama ITB resmi dipakai 2 Maret 1959). Karena penasaran, saya malah menelusuri perdebatan ini, tanpa suatu tendensi apapun. Sampai pertanyaan, siapa kampus teknik terbaik di Indonesia? Kakaknya atau adiknya?

Kampus ITS, ITS Online – Soal SNMPTN baru saja dibagikan. Mata Andi melirik Tono. “No…Pilih apa nih, B atau S?”. “B aja. B itu pasti Bahagia”. “Kalau S?”. “S itu Sengsara Ndi. ” sekejap gigi Tono berderet tampil di bawah bibirnya yang mengembang. Sementara alis Andi mengerut keheranan. Cita-cita keduanya memang jadi insinyur. Setahu mereka, hanya ada dua sekolah yang secara jantan bisa memberi mimpi itu. Tidak sedikit anak seperti Andi yang selalu bingung memilih kampus tambatan hatinya. Akhirnya image-lah yang menuntun mereka menempatkan B dulu baru S. Benar salah?

Saat ini, hampir tiap kampus memiliki jurusan teknik, kecuali Akademi Kebidanan. Tapi kalau bicara masalah dedengkotnya teknik, hanya ada dua: ITB dan ITS. Nama besar keduanya jadi rebutan anak-anak SMA sederajat. ITB terkenal dengan nama harum alumninya, salah satunya Ir Soekarno, sedangkan ITS terkenal dengan industri maritim dan dunia robotikanya.

Sayang, di mata masyarakat luas, keberadaan ITS masih di bawah bayang-bayang saudara tuanya. Seperti bayang-bayang klub sepak bola Manchester United di atas Manchester City. Wajar saja, sejak SNMPTN masih bernama UMPTN sekitar 20 tahun lalu, nama ITB tak pernah bergeser dari posisi puncak nilai rata-rata terbaik untuk kelompok IPA. ITB tetap paling favorit sedang ITS hanya mampu menggoda siswa SMA sederajat di wilayah Jawa Timur dan sebagian Indonesia Timur. Bahkan di wilayah barat, nama ITS hanya terdengar sayup-sayup.

Terbukti, tiap kali saya pulang kampung ke Depok, Jawa Barat, banyak tetangga yang bilang, “ITS ya, swasta atau negeri tuh?”. Dalam hati saya membalas,”Swasta dari Hongkong!!!”. “Wah…hebat kamu ya bisa kuliah di Hongkong.” ternyata ia bisa baca kata hati saya. Lain tetangga, lain pula tusukan teman lama saya yang polosnya luar biasa. ”Kuliah dimana sekarang?” tanyanya. “Ehm…jadi nggak enak nih nyebut-nya,” gaya saya agak sombong. “ITS dong bro!” jawab saya bersemangat. “Wah…ITS, pinter juga lu bro! Di Semarang nge-kos apa sama saudara?”. Yah…

***
Sekali lagi, tanpa tendensi dan tiap fakta di bawah ini tak bisa digeneralisasi. Saya juga tak mau disebut seperti kata pepatah: istri tetangga lebih cantik dari istri sendiri. Oh salah, rumput tetangga maksudnya. Saya hanya pengamat dari perdebatan everything about ITS dan ITB di dunia maya. Saya laporkan di sini dengan kerendahan hati, semoga kita semakin terpacu.

Percaya Diri
Banyak blog (malah dari anak ITB sendiri) menyimpulkan bahwa sombong adalah sifat yang paling kentara dari anak ITB. Kalau saya menilainya bukan sombong tapi percaya diri. Simpulan lain, anak ITS malah down ketika berhadapan dengan nama besar UI, ITB, dan UGM. Pada poin terakhir ini, 80 % saya sepakat. Entah mengapa, aura mereka begitu menyilaukan.

Saya punya teman SMA di ITB, ketika sekelas di SMA dulu levelnya sepadan lah dengan saya. Kelas terbang menengah. Artinya rangking selalu melayang, bodoh tidak, pintar apalagi. Tapi ketika terakhir bertemu, wah…berubah! Kepercayaan dirinya menanjak drastis terlihat dari caranya berbicara. Katanya, menyandang gelar “anak ITB” membuatnya percaya diri. Padahal dulu, kalau ada tugas presentasi bawaannya izin ke belakang terus.

Ada sebuah idiom unik di sebuah blog,”Kalau orang ITB mikirnya negara, kalau orang ITS mikirnya bagaimana mengalahkan ITB,”. “Yah…kalau ITS mah nggak level,” tambahnya. Kalau ITS masih coba melangkahi ITB. Kami (ITB), tulisnya, sudah berpikir bagaimana bersaing dengan Todai, Kyodai, Beijing, Nanyang, NUS, Chulalongkorn dkk. “Lewatin dulu tuh UI sama UGM!” lanjutnya.

Saya sama sekali tidak marah. Malah saya bergumam,”Oh iya, kenapa tidak berpikir sejauh itu?”. Kalau sparring partner kita Tokyo Daigaku bahkan MIT, mungkin kita bisa lari lebih cepat. Mudah-mudahan saya sedang tidak bermimpi.

Contoh lain adalah masalah gaji. Di banyak forum diskusi dunia maya, banyak cerita kalau anak ITS ketika ditanya tentang gaji oleh interviewer, menjawab dengan malu-malu,”Terserah Bapak saja,” . Lantas kemudian dibalas Sang HRD “Di bawah UMR ya?”. Dalam hati saya mencandai, “Oh iya Pak, tidak apa-apa, yang penting bisa makan. Ngomong-ngomong UMR itu apa Pak?”

Beberapa posting menyebut bahwa fresh graduate ITB terkenal berani pasang tarif tinggi. Benar atau tidak tak jadi masalah. Bagi saya bukan masalah uangnya, tapi keyakinannya. Seperti beberapa ekspatriat di Indonesia. Berapa persen sih dari mereka yang punya ”kemampuan sebenarnya”. Kadang malah hanya menang penampilan, percaya diri, dan bahasa Inggris cas-cis-cus.

Lulusan bermutu ibarat Mercy SL Class. Dua milyar atau sebanding dengan dua Alphard pun jadi impas untuk mobil dengan spesifikasi seperti itu. Nah, anak ITS bisa kasih harga bersaing seperti anak ITB. Kalau cocok, membayar berapa pun perusahaan mau. Usut punya usut, beberapa survey top university juga melakukan penilaian terhadap “harga jual” fresh graduate dalam menentukan world rank.

Apresiasi
Saya membaca dua tulisan tentang perkembangan robot ITB di website ITB. Sangat apresiatif. Walaupun seumur hidupnya tak pernah mampu mengalahkan PENS-ITS, mereka punya tekad besar dan dukungan besar untuk maju. Namun di beberapa blog, terpuruknya ITB di bidang robotika jadi bulan-bulanan civitasnya. Dari kritik sampai hujatan, lengkap. Maklum, Robot sudah seperti lambang supremasi anak teknik. Salutnya, walau ada beberapa yang tetap tak mau mengakui dengan menunjukkan prestasi ITB di bidang lain, tapi masih lebih banyak yang bilang,”Kita harus belajar dari mereka,”.

Saat saya main ke UI, waktu itu UI bikin baliho besar ucapan selamat atas masuknya UI di peringkat 250 besar world’s top university. Saya hanya membayangkan sambil tersenyum, itu baliho bisa sebesar apa ya kalau UI peringkat satu universitas terbaik sedunia-akhirat.

Penghormatan yang mungkin kurang dari diri kita. Banyak mahasiswa yang mendapat juara “cuma diambil pialanya saja”. Padahal berapa sih ongkos bikin spanduk untuk membuat ucapan selamat. Bunyi “Selamat kepada Tono atas Juara bla bla bla” itu sudah cukup. Si pemilik nama yang dipampang di sudut jalan itu wes bangganya minta ampun.

Kurang apresiasi atau memang tak ada yang berprestasi, saya tidak tahu. Saya jadi ingat kawan saya di salah satu organisasi yang sering lomba ke luar negeri. Ia mengeluh,”Kalau kita sukses saja, baru dibangga-banggakan. Tapi giliran dimintai bantuan (moril atau materil) pada ngilang semua,”. Ya, mahasiswa butuh apresiasi atas tiap ukir prestasi mereka.

Bukan hanya satu, saya sering dengar banyak mahasiswa ITS baik yang mewakili organisasi ataupun pribadi, ketika lomba pakai kantong sendiri dengan segala keterbatasannya. Tapi ketika pulang bawa piala dianggap usaha bersama satu ITS. Istilah kebahasaannya “Totem Pro Parte”.

Saya yakin sekali, sebenarnya segmen profil dalam website ITS dapat terus di-update. Namun terkadang, prestasi tersebut sampai ke meja redaksi hanya dari mulut ke mulut. Sedangkan sangat tidak mungkin bagi 12 reporter ITS Online untuk menanyakan satu per satu ke jurusan, siapa civitas yang berprestasi minggu ini.

Masalah jumlah doktor dan profesor juga jadi perdebatan. Kata mereka dalam forum, jumlah doktor pengaruh pada kualitas pengajaran. ITB masih menang jauh dari ITS. Dari 1056 dosen, ITB punya 800 doktor. Sedangkan dari data Laporan Rektor ITS, sampai Oktober 2008 (maaf kurang update) dosen ITS yang bergelar doktor hanya 200 dari 1125 orang. Belum lagi melihat produktivitas ITB dalam jurnal ilmiah internasional. Kurun Juni 2009, ITB masih peringkat teratas, bahkan di atas LIPI. Sedangkan nama ITS belum nongol di lima besar se-Indonesia versi Scopus.

Beberapa tahun lalu, seorang pejabat ITS pernah mengeluh pada media lokal kalau ITS susah menambah doktor dan profesornya karena kurangnya motivasi dan sibuk “ngantor” di luar. Tapi sekarang (mungkin) beda, ITS sedang produktif menghasilkan profesor baru. Para dosen juga “dipaksa” jadi doktor, kalau tidak bisa dibilang terpaksa karena malu dosen-dosen muda sekarang sudah banyak yang doktor. Sekali lagi, motivasi dan apresiasi.

Dr Nieuwenhuis berkata “Suatu bangsa tidak akan maju sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkurban untuk keperluan bangsanya,”. Saya mengartikannya sebagai sosok guru yang tulus mengembangkan ilmu untuk muridnya. Melalui muridnya itulah bangsa ini maju. Walaupun guru itu yang akhirnya menjadi korban dengan kesederhanaannya.

Pola pikir terbuka
Walaupun (katanya) sombong, alumni ITB secara terbuka ramai mengkritik almamaternya sendiri. Lihat milis dan blog bertema ITB. Terkadang kritiknya pedas, sehingga debat kusir sering terjadi di dunia maya. Uniknya, pemikiran terbuka dan perdebatan itu berjalan konstruktif.

Mereka juga membahas guyonan Jusuf Kalla saat memberi pidato saat Dies Emas ITB 2009 kemarin. “Kalau negeri ini gagal, maka ITB harus bertanggung jawab,”. Argumen Kalla waktu itu karena ITB menempatkan tujuh alumninya di kabinet SBY-JK. Cukup logis, apalagi dua orang ITB juga pernah meraih kursi RI 1. Hati saya nyeletuk, untung ITS cuma taruh Pak Nuh.

Termasuk pola pikir ”Saya harus kerja jadi insinyur, karena saya lulusan ITS!” itu cukup terpatri kuat. Apa memang hukumnya wajib ketika saya lulus nanti saya harus bergaul dengan alat-alat pertukangan? Apa tidak ada pilihan lain? Jujur, terkadang hal ini menghambat pola pikir kreatif. Tapi saya sadar, saya tak boleh mengingkari ”kodrat” sebagai (nantinya) alumni institut teknologi.

Dalam beberapa blog, civitas ITB begitu bangga dengan pesebaran alumninya. Mereka bernostalgia dengan nama besar Soekarno dan Habibie. Mereka juga bercerita bagaimana apiknya Hatta Radjasa membanting setir dari Kepala BPPT menjadi Ketua Parpol lalu sekarang jadi Ketua Ikatan Alumni ITB. Atau Ahmad Bakrie dan Arifin Panigoro dengan raksasa bernama Bakrie Group dan Medco Group yang mereka rintis dari nol. Mungkin lebih mencengangkan adalah kisah hidup anak desa dari Sulawesi: Ciputra.

Tak jarang alumni ITB yang justru keluar jalur. Seperti bagaimana fasihnya seorang Fadjroel Rahman dan Rizal Ramli beretorika tentang sistem ekonomi negara. Lain hal, tentu para pecinta sastra tak lupa ketika Nirwan Dewanto mengagetkan dunia sastra Indonesia saat ia tampil di kongres kebudayaan 20 tahun silam. Atau bagaimana seorang Purwacaraka pandai menggubah partitur walau latar pendidikannya Teknik Industri.

Sebenarnya pola pikir ini harus sedikit demi sedikit tertanam. Mungkin sudah mulai tampak dalam dunia akdemik dan kemahasiswaan di ITS. Munculnya pelatihan ESQ, mata kuliah Technopreneurship, seminar-seminar softskill, dan semakin banyak mahasiswa yang cum laude dan lulus tepat waktu (walau saya tak termasuk di dalamnya) bisa jadi bukti. Geliat kegiatan mahasiswa juga mulai tampak kreatif dan tepat guna. Beberapa tahun terakhir, dari mahasiswa muncul sebuah gerakan dinamisasi untuk mendobrak jauh keluar pattern yang kolot.

Alumni
Sadar atau tidak, IKA ITS jadi panutan bagi ikatan alumni lainnya. Bahkan di milis IA ITB, IKA ITS benar-benar disanjung. Bukan sebuah khayalan, ikatan alumni bisa jadi kendaraan politik yang cukup solid dan bernilai. Hal itu yang terjadi pada Joko Kirmanto (Menteri PU) mantan Ketua KAGAMA, Sofyan Djalil (mantan Menkominfo) juga bosnya ILUNI, dan Hatta Radjasa (Menko Ekuin) adalah Ketua IA ITB.

Alumni ITB tersebut kagum dengan kedewasaan para alumni ITS. Alumni ITS, katanya, tidak ambisius dan saling sikut. Padahal Pak Nuh, saat masih Menkominfo, berpeluang besar jadi ketua. ”Apa ia nggak mau ikut jejak temannya di kabinet?” katanya. Tapi IKA ITS mampu mendorong agar Pak Nuh fokus pada amanahnya sehingga kursi Ketum jatuh ke Dwi Sutjipto, Dirut Semen Gresik, tanpa “pertumpahan darah”.

Bukan isapan jempol. Saya pernah kerja praktek di galangan. Ketika itu banyak alumni ITS (bukan banyak tapi semuanya), saya serasa hidup di rumah sendiri. Pembimbing saya sangat membantu, termasuk memudahkan saya membuat laporan. Kalau bertemu alumni ITS rasanya seperti kawan lama tak bersua.

Kekuatan alumni inilah yang sering terlupa. ITB dan UI terkenal punya jaringan yang menggurita di pemerintahan, BUMN, dan BUMS. Kesolidannya terihat dimana ketika ada alumninya yang promosi jabatan, maka semua alumni serentak mendukung. Mereka juga secara aktif menempatkan alumni terbaiknya di institusi penting itu dan merekrut juniornya untuk turut mewarnai institusi. ”Alumni ITS kelihatannya kalau sukses sendiri-sendiri,” tulis dalam milis itu. Belum lagi tentang loyalitas mereka pada almamater.

Alumni ITS? Diam-diam menghanyutkan. Baru-baru ini terbit buku berjudul Inspire to Succes: Menuju Kemandirian Bangsa Ide 100 tokoh alumni ITS. Entrepreneur, Pejabat BUMN/BUMS, Pemerintahan, Pendidikan, LSM/Organisasi, dan peneliti. Pucuk-pucuk pimpinan dan posisi strategis itu sudah pernah kita pegang. Bahkan tak sedikit, alumni ITS yang keluar jalur dan sukses. Walau tak sepopuler alumni ITB, nyatanya alumni ITS juga tak bisa dipandang remeh.

Semua poin tadi adalah sedikit perbandingan saja. Masing-masing punya karakter dan nilai positif. Agar tak tergelincir, maka belajarlah merunduk seperti padi. ITB dan ITS memang kampus teknik terbaik, tapi baru di kandang sendiri. Ketika di Asia apalagi dunia, nama keduanya masih ”di bawah garis kemiskinan”. Bagi saya, lulusan apa pun kita atau bahkan tak pernah mencicipi bangku kuliah sekalipun, akan lebih bernilai ketika kita mampu berkontribusi bagi masyarakat luas di sekitar kita. Dengan cara apapun.

”Dik, Kakak beri kamu sebungkus hadiah untuk ulang tahunmu November besok,”.
”Jangan Kak. Beri saja hadiah itu pada Ibu. Dialah yang berjasa sampai kita berumur 50,”
”Sekarang Ibu mana?”
”Itu…” Sang Adik menunjuk gubuk-gubuk reot di balik kemegahan gedung berteknologi tinggi yang dibangun para insinyur cerdas.

Tim Sukses Capres Sudah Bermain Api (Lidah Memang Tidak Bertulang)

Sebenarnya para calon presiden yang akan berlaga pada Pilpres 2009 itu baik-baik saja, namun yang membuat masalah adalah para tim suksesnya. Tim sukses berperan untuk mengangkat pamor pasangan capres-wapres yang mereka dukung, baik dalam arena diskusi, debat, kampanye, dan sebagainya.

Namun ada tim sukses yang mulai membuat gerah dan menyulut kontroversi. Tim sukses yang paling bermasalah adalah tim sukses SBY-Boediono. Sebagai incumbent, SBY dan Boediono paling banyak diserang oleh lawan-lawan politiknya. Nah, Tim Sukses berusaha “mati-matian” membela tuannya dari serangan para lawan. Sayangnya, ada anggota tim sukses itu yang mencoba bermain api dengan membuat pernyataan yang dapat menyulutkan sentimen ras. Ruhut S, anggota tim sukses SBY-Boediono, baru-baru ini dalam suatu acara debat di TV swasta melontarkan pernyataan bahwa Arab tidak pernah membantu Indonesia, yang membantu Indonesia adalah Amerika. Mungkin sasaran tembak Ruhut waktu itu adalah Fuad Bawazier yang menjadi anggota tim sukses JK-Win. Kebetulan Fuad adalah warga keturunan Arab. Tapi yang menonton acara itu kan jutaan warga Indonesia yang diantaranya juga banyak keturunan Arab. Terlepas dari benar tidaknya pernyataan Ruhut itu yang masih perlu dibuktikan, yang jelas pernyataan sangat tidak santun dan berpotensi menyulut isu SARA. Kontan saja pernyataan Ruhut Sitompul mendapat kecaman dan reaksi keras sebagai ucapan rasis. Hingga hari ini, meskipun Ruhut sudah meminta maaf, namun kecaman dari berbagai pihak masih mewarnai diskusi di milis, forum online, maupun pemberitaan di media massa.

Di Indonesia warga keturunan Arab jutaan orang banyaknya. Ada kampung-kampung yang dihuni warga keturunan Arab, antara lain di Solo, Surabaya, Jakarta, Manado, Ternate, Semarang, Pekalongan, Medan, dan masih banyak lagi. Bahkan orang Aceh mempunyai darah campuran dari Arab juga. Orang keturunan Arab di Indonesia kebanyakan berprofesi sebagai pedagang. Mereka tentu tidak mau dilecehkan begitu saja. Meskipun yang disebut oleh Ruhut adalah Arab dalam pengertian bangsa, namun secara emosional hal itu menyinggung perasaan mereka juga sebagai warga negara Indonesia keturunan Arab. Lebih jauh lagi, meskipun Arab tidak identik dengan Islam, namun arah pernyatan itu bisa merembet kepada kebencian kepada suatu agama.

Setidaknya, pernyataan Ruhut tersebut dapat membuat dukungan kepada SBY-Boediono akan berkurang, utamanya dari warga keturunan Arab dan kaum muslimin yang punya ikatan emosional dengan negeri para nabi itu. Saya sendiri — yang bukan keturunan Arab tetapi nenek moyang saya dari Yunan Selatan, negeri China sana — kayaknya nggak akan memilih SBY deh, tetapi JK-Win. :-)

Indonesia adalah negara yang plural: multi kultural, multi ras dan multi agama. Selain dihuni oleh suku-suku yang jumlahnya ratusan itu, Indonesia juga dihuni oleh warga keturunan Cina, India, Arab, dan Eropa. Kerukunan yang sudah terbangun bisa saja sewaktu-waktu meledak jika ada yang menyulut. Sedikit percikan api bisa membuat bangsa ini terbakar hebat. Pengalaman kerusuhan etnis dan agama sudah tidak terhitung di Indonesia. Penyebabnya kadang sepele, namun terbanyak adalah karena ucapan lidah yang tidak bertulang.

Ya, lidah memang tidak bertulang, tak terbatas kata-kata. Kata sebuah peribahasa, mulutmu harimaumu, akan menerkam dirimu sendiri. Karena keseleo ucapan dua orang bersaudara bisa bermusuhan. Karena salah ucap dua suku bangsa bisa berbunuh-bunuhan. Dalam forum-forum yang diikuti banyak orang, mengeluarkan pernyataan harus berhati-hati, salah-salah bisa fatal karena menyinggung perasaan orang lain, yang akhirnya bisa-bisa terjadi kerusuhan dan pertumpahan darah.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa ucapan yang sudah keluar dari mulut seseorang akan menjadi milik umum, ia menjadi bola liar yang sukar ditarik kembali. Kata yang keluar dari mulut sama kedudukannya dengan tulisan. Tulisan bisa tajam seperti lisan. Lisan dan tulisan hanyalah masalah media, intinya sama saja yaitu kata-kata, Meski sejuta maaf sudah diucapkan karena lisan dan tulisan, namun luka di hati pendengar atau pembacanya sulit disembuhkan.

Saya teringat sebuah kisah yang menawan. Begini kisahnya:

Ada seorang anak yang mempunyai watak yang buruk. Ayahnya memberi sekantung paku kepada anaknya itu. Ia meminta anaknya menancapkan satu paku ke pagar kayu setiap kali dia membuat ucapan yang menyakiti hati orang lain. Pada hari pertama ia menghabiskan 37 buah paku. Pada hari berikutnya ia bisa menahan diri untuk berkata buruk sehingga jumlah paku yang ia tancapkan tidak sebanyak hari sebelumnya. Begitu seterusnya, akhirnya pada hari ke-19 paku-paku tersebut habis. Ia melapor kepada ayahnya bahwa seluruh paku sudah habis. Lalu ayahnya meminta ia mencabut satu paku setiap kali dia bisa menahan diri untuk berkata buruk. Begitu seterusnya setiap hari hingga akhirnya seluruh paku itu berhasil ia cabut kembali.

Ia melapor kepada ayahnya bahwa ia sudah berhasil mencabut semua paku yang berarti berhasil menahan diri dari perbuatan yang menyakitkan hati hati orang lain. Ayahnya berkata: “Anakku, kamu sudah berlaku baik. Tapi, coba lihat berapa banyak lubang yang ada pada kayu itu. Meskipun kamu sudah mencabut semua pakunya, namun ia meninggalkan lubang. Pagar kayu itu tidak akan kembali seperti semula. Setiap kali kamu membuat ucapan yang menyakitkan, ia selalu meninggalkan luka seperti lubang pada pagar. “

“Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf, lukanya akan tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik. Renungkanlah itu, anakku”.

Ya, luka melalui ucapan sama sakitnya dengan luka karena tusukan pisau. Luka fisik bisa sembuh, tetapi luka batin lama sembuhnya.

Semoga kita bisa lebih berhati-hati dalam melontarkan ucapan atau menulis yang menyangkut banyak orang.

Demi Uang Rp 30.000, Puluhan Nyawa Melayang

Entah bagaimana perasaan hati kita melihat foto dan tayangan di TV semalam yang memperlihatkan wanita dan ibu-ibu yang terjepit di tengah massa yang mengantre zakat. Mereka berharap amplop berisi uang zakat senilai Rp 30.000 di rumah seorang dermawan, H. Syaichon, di Pasuruan, Jawa Timur, Senin kemaren. Sebanyak 21 orang akhirnya tewas terinjak-injak atau kekurangan oksigen, semuanya perempuan. Lebih 5 ribuan orang berdesak-desakan di gang sempit menuju rumah H.Syaichon, sang dermawan itu. Mereka tidak mau sabar mengantri, saling mendorong, dan akhirnya terjadilah peristiwa yang memilukan di bulan Ramadhan ini.

Foto di bawah ini diambil dari www.hariansinggalang.co.id dan dari www.kompas.co.id. Lihatlah seorang wanita yang menjerit-jerit histeris karena terjepit di tengah massa yang mengantri zakat di rumah H.Syaichon itu. Sungguh memilukan.


Uang Rp30.000 mungkin kurang berarti bagi orang-orang kota yang biasa royal mengeluarkan uang untuk makan dan belanja, tetapi bagi orang-orang desa, uang segitu besar nilainya. Orang-orang desa yang kebanyakan berprofesi sebagai buruh tani, mang-mang beca, pedagang pikulan, mbok jamu, tahu benar uang Rp30.000 sangatlah berarti. Dengan uang segitu mereka bisa membeli beras buat makan keluarganya, apalagi sekarang bulan Ramadhan dan menjelang lebaran dimana harga-harga kebutuhan hidup melambung tinggi. Maka, ketika ada pembagian gratis, entah itu berupa uang, sembako, makanan, maka orang-orang dhuafa ini secara naluriahi akan terpanggil untuk ikut berdesak-desakan mengharap pemberian itu. Seluruh anggota keluarga, mulai dari istri, anak, nenek, dan menantu mungkin dikerahkan agar mendapat bagian yang banyak.

Pemandangan yang memilukan ini adalah potret sedih kemiskinan yang menimpa rakyat Indonesia. Peristiwa ini menyadarkan bahwa jutaan rakyat kita hidup di bawah garis kemiskinan. Jurang antara kaya dan miskin semakin lebar. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Sungguh ini sebuah ironi, kemiskinan begitu luas, berbanding terbalik dengan segelintir orang yang bergelimang kemewahan. Sungguh marah kita melihat kejadian ini, namun tidak tahu marahnya kepada siapa.

Zakat adalah satu bentuk ibadah yang diwajibkan kepada orang-orang kaya untuk berbagi kepada orang-orang miskin. Bukan zakatnya yang membawa musibah, tetapi cara pembagiannya yang mungkin salah. Niat H.Syaichon mungkin baik, tetapi dia tidak memprediksi situasinya berubah menjadi kacau dan orang-orang tewas sebelum mereka memperoleh uang zakat. Kalau saja H.Syaichon mempercayakan pembagian zakatnya melalui lembaga amil zakat, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Kalau saja H.Syaichon membagi zakat dengan sistem kupon, mungkin korban tewas bisa dihindari. Kalau saja, kalau saja, dst, Kita hanya bisa berandai-andai, tetapi nasi sudah menajdi bubur.

Melihat lagi ke arah foto di atas, hati ini serasa diiris-iris. Perih.