Sebenarnya para calon presiden yang akan berlaga pada Pilpres 2009 itu baik-baik saja, namun yang membuat masalah adalah para tim suksesnya. Tim sukses berperan untuk mengangkat pamor pasangan capres-wapres yang mereka dukung, baik dalam arena diskusi, debat, kampanye, dan sebagainya.
Namun ada tim sukses yang mulai membuat gerah dan menyulut kontroversi. Tim sukses yang paling bermasalah adalah tim sukses SBY-Boediono. Sebagai incumbent, SBY dan Boediono paling banyak diserang oleh lawan-lawan politiknya. Nah, Tim Sukses berusaha “mati-matian” membela tuannya dari serangan para lawan. Sayangnya, ada anggota tim sukses itu yang mencoba bermain api dengan membuat pernyataan yang dapat menyulutkan sentimen ras. Ruhut S, anggota tim sukses SBY-Boediono, baru-baru ini dalam suatu acara debat di TV swasta melontarkan pernyataan bahwa Arab tidak pernah membantu Indonesia, yang membantu Indonesia adalah Amerika. Mungkin sasaran tembak Ruhut waktu itu adalah Fuad Bawazier yang menjadi anggota tim sukses JK-Win. Kebetulan Fuad adalah warga keturunan Arab. Tapi yang menonton acara itu kan jutaan warga Indonesia yang diantaranya juga banyak keturunan Arab. Terlepas dari benar tidaknya pernyataan Ruhut itu yang masih perlu dibuktikan, yang jelas pernyataan sangat tidak santun dan berpotensi menyulut isu SARA. Kontan saja pernyataan Ruhut Sitompul mendapat kecaman dan reaksi keras sebagai ucapan rasis. Hingga hari ini, meskipun Ruhut sudah meminta maaf, namun kecaman dari berbagai pihak masih mewarnai diskusi di milis, forum online, maupun pemberitaan di media massa.
Di Indonesia warga keturunan Arab jutaan orang banyaknya. Ada kampung-kampung yang dihuni warga keturunan Arab, antara lain di Solo, Surabaya, Jakarta, Manado, Ternate, Semarang, Pekalongan, Medan, dan masih banyak lagi. Bahkan orang Aceh mempunyai darah campuran dari Arab juga. Orang keturunan Arab di Indonesia kebanyakan berprofesi sebagai pedagang. Mereka tentu tidak mau dilecehkan begitu saja. Meskipun yang disebut oleh Ruhut adalah Arab dalam pengertian bangsa, namun secara emosional hal itu menyinggung perasaan mereka juga sebagai warga negara Indonesia keturunan Arab. Lebih jauh lagi, meskipun Arab tidak identik dengan Islam, namun arah pernyatan itu bisa merembet kepada kebencian kepada suatu agama.
Setidaknya, pernyataan Ruhut tersebut dapat membuat dukungan kepada SBY-Boediono akan berkurang, utamanya dari warga keturunan Arab dan kaum muslimin yang punya ikatan emosional dengan negeri para nabi itu. Saya sendiri — yang bukan keturunan Arab tetapi nenek moyang saya dari Yunan Selatan, negeri China sana — kayaknya nggak akan memilih SBY deh, tetapi JK-Win.
Indonesia adalah negara yang plural: multi kultural, multi ras dan multi agama. Selain dihuni oleh suku-suku yang jumlahnya ratusan itu, Indonesia juga dihuni oleh warga keturunan Cina, India, Arab, dan Eropa. Kerukunan yang sudah terbangun bisa saja sewaktu-waktu meledak jika ada yang menyulut. Sedikit percikan api bisa membuat bangsa ini terbakar hebat. Pengalaman kerusuhan etnis dan agama sudah tidak terhitung di Indonesia. Penyebabnya kadang sepele, namun terbanyak adalah karena ucapan lidah yang tidak bertulang.
Ya, lidah memang tidak bertulang, tak terbatas kata-kata. Kata sebuah peribahasa, mulutmu harimaumu, akan menerkam dirimu sendiri. Karena keseleo ucapan dua orang bersaudara bisa bermusuhan. Karena salah ucap dua suku bangsa bisa berbunuh-bunuhan. Dalam forum-forum yang diikuti banyak orang, mengeluarkan pernyataan harus berhati-hati, salah-salah bisa fatal karena menyinggung perasaan orang lain, yang akhirnya bisa-bisa terjadi kerusuhan dan pertumpahan darah.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa ucapan yang sudah keluar dari mulut seseorang akan menjadi milik umum, ia menjadi bola liar yang sukar ditarik kembali. Kata yang keluar dari mulut sama kedudukannya dengan tulisan. Tulisan bisa tajam seperti lisan. Lisan dan tulisan hanyalah masalah media, intinya sama saja yaitu kata-kata, Meski sejuta maaf sudah diucapkan karena lisan dan tulisan, namun luka di hati pendengar atau pembacanya sulit disembuhkan.
Saya teringat sebuah kisah yang menawan. Begini kisahnya:
Ada seorang anak yang mempunyai watak yang buruk. Ayahnya memberi sekantung paku kepada anaknya itu. Ia meminta anaknya menancapkan satu paku ke pagar kayu setiap kali dia membuat ucapan yang menyakiti hati orang lain. Pada hari pertama ia menghabiskan 37 buah paku. Pada hari berikutnya ia bisa menahan diri untuk berkata buruk sehingga jumlah paku yang ia tancapkan tidak sebanyak hari sebelumnya. Begitu seterusnya, akhirnya pada hari ke-19 paku-paku tersebut habis. Ia melapor kepada ayahnya bahwa seluruh paku sudah habis. Lalu ayahnya meminta ia mencabut satu paku setiap kali dia bisa menahan diri untuk berkata buruk. Begitu seterusnya setiap hari hingga akhirnya seluruh paku itu berhasil ia cabut kembali.
Ia melapor kepada ayahnya bahwa ia sudah berhasil mencabut semua paku yang berarti berhasil menahan diri dari perbuatan yang menyakitkan hati hati orang lain. Ayahnya berkata: “Anakku, kamu sudah berlaku baik. Tapi, coba lihat berapa banyak lubang yang ada pada kayu itu. Meskipun kamu sudah mencabut semua pakunya, namun ia meninggalkan lubang. Pagar kayu itu tidak akan kembali seperti semula. Setiap kali kamu membuat ucapan yang menyakitkan, ia selalu meninggalkan luka seperti lubang pada pagar. “
“Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf, lukanya akan tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik. Renungkanlah itu, anakku”.
Ya, luka melalui ucapan sama sakitnya dengan luka karena tusukan pisau. Luka fisik bisa sembuh, tetapi luka batin lama sembuhnya.
Semoga kita bisa lebih berhati-hati dalam melontarkan ucapan atau menulis yang menyangkut banyak orang.






