Provokasi Lewat Media Sosial

Menjelang Pilpres yang tinggal dua minggu lagi saya mulai jengah membaca posting orang-orang pada media sosial. Maksud hati mereka memberi dukungan pada capres idola atau capres pilihannya, tetapi seringkali posting-an itu berisi kata-kata kotor, provokativ, kampanye hitam, dan menghina capres lainnya. Kalau sekedar membanggakan capres jagoannya sih nggak apa-apa, tetapi sampai merendahkan dan menghina capres yang lain itu sudah keterlaluan. Fanatik buta, begitu kira-kira istilah yang tepat untuk pendukung capres yang begini. Pendukung yang fanatik itu ada pada kedua kubu, baik kubu nomor 1 (Prabowo) maupun kubu Jokowi (nomor 2).

Memang Pilpres kali ini membuat bangsa Indonesia terbelah dua. Capres hanya dua saja, jadi polarisasi tidak terelakkan lagi. Sebagian mendukung Jokowi, sebagian lagi mendukung Prabowo. Tidak hanya rakyat yang terbelah dua, tetapi media baik yang mainstream maupun yang kacangan hampir semua sudah menjadi partisan, baik secara halus maupun terang-terangan. Sungguh sulit saat ini mencari media yang benar-benar berimbang dan netral dalam mengedukasi pembaca/pemrisanya. Menurut prediksi lembaga-lembaga survey, pertarungan Pilpres akan berlangsung sengit karena kedua calon memiliki kemungkinan menang fifty-fifty. Siapa yang menang tidak dapat diprediksi. Perbedaan elektabilitas keduanya semakin tipis meskipun Jokowi masih unggul sekitar tujuh hingga sepuluh persen.

Menurut yang saya amati, “pertengkaran” kedua pendukung dalam memenangkan jagoannya lebih banyak terjadi di jagad maya, khususnya di media sosial seperti Facebook dan Twitter. Sementara, rakyat sehari-hari di lapangan terlihat tenang-tenang dan rukun saja, mereka tidak meributkan perbedaan pilihan capres masing-masing. Yang ramai dan seru justru di media sosial. Tapi justru di media sosial itulah kebencian dan permusuhan terlihat sangat kentara.

Saking bernafsu mengkampanyekan jagoannya, netter menggunakan kata-kata kotor dan merendahkan lawan, serta mengolok-olok pendukung capres sebelah. Kasus Wimar Witoelar adalah contoh nyata, betapa seorang yang mengaku intelektual terkemuka mengirim posting berupa gambar yang melukai umat Islam melalui akunnya di Facebook dan Twitter. Gambar yang saya maksud dapat anda lihat pada berita lainnya di sini. Gambar yang di-posting oleh Wimar berisi gambar Prabowo yang disejajarkan dengan tokoh-tokoh teroris, mantan ketua partai-partai Islam, dan ustad seperti Aa Gym dan Gubernur Ahmad Heryawan. Celakanya logo Muhammadiyah dan beberapa ormas Islam lainnya yang netral dia masukkan ke dalam gambar tersebut, seolah-olah ormas-ormas tersebut adalah ormas jahat yang sejajar dengan teroris. Sungguh tidak bisa dimengerti orang sekelas Wimar melakukan perbuatan yang merendahkan dirinya sendiri.

Itu baru satu contoh saja, mungkin masih banyak kasus lain di dunia maya yang dilakukan oleh pendukung kedua kubu, baik pendukung yang nyata maupun siluman. Beberapa hari yang lalu saya menghapus pertemanan di Facebook dengan seorang friend yang sangat kelewatan. Saya sudah mengingatkan kepadanya tentang posting dia yang provokatif dan kata-kata yang merendahkan. Namun dia tidak peduli, dia tetap terus saja mengirim posting provokatif setiap hari. Tidak ada pilihan lain, saya terpaksa meng-unfriend dia daripada timeline saya berisi posting-an yang tidak bermanfaat dari pendukung capres yang fanatik buta dan membabi buta. Maaf ya teman, saya terpaksa menghapusmu di dunia maya, tetapi dalam dunia nyata kita baik-baik saja dan tetap berteman.

Dipublikasi di Indonesiaku | 4 Komentar

Masjid Salman 2 di Kampus ITB Jatinangor

Kemarin saya sholat Jumat di kampus ITB Jatinangor. Seorang teman mengajak sholat di Masjid Salman 2 yang terletak di depan kampus. FYI, bagi yang belum mengetahui, ITB sudah beberapa tahun ini mempunyai kampus 2 di kawasan Jatinangor, Sumedang (baca tulisan saya terdahulu: Berkunjung ke Kampus ITB Jatinangor).

Di Kampus ITB Jatinangor baru saja selesai dibangun masjid kampus yang diberi nama Masjid Salman 2. Disebut demikian karena masjid ini kembaran dari Masjid Salman di Kampus ITB Ganesha. Arsitekturnya mirip dengan Masjid Salman di Bandung, mulai dari bentuk bangunan hingga interior di dalamnya. Bentuk masjid Salman adalah kotak, tanpa kubah, dilengkapi dengan sebuah menara, dan lantainya yang khas dari kayu.

13062014169

13062014170

Tampak samping

Tampak samping

Nah, coba anda bandingkan dengan Masjid Salman di kampus Ganesha ini (Sumber foto: http://salmanitb.com/2012/08/06/masjid-terbaik/). Sekilas mirip.

Masjid Salman di kampus ITB Ganesha

Masjid Salman di kampus ITB Ganesha

Saya masuk ke dalam masjid untuk melihat interior di dalamnya. Kebetulan jamaah sholat Jumat belum banyak yang datang sehingga saya leluasa memotret beberapa sudut masjid dengan kamera ponsel.

Pintu masuk

Pintu masuk

Lantai dari kayu dan dinding depan (mihrab), persis seperti di Masjid Salman 1

Lantai dari kayu dan dinding depan (mihrab), persis seperti di Masjid Salman 1

Lantai 2 untuk jamaah wanita

Lantai 2 untuk jamaah wanita

Sisi sebalah kanan

Sisi sebalah kanan

Selasar depan yang lapang dan sejuk

Selasar depan yang lapang dan sejuk

Selasar samping

Selasar samping

Lantai dari kayu

Lantai dari kayu

Tangga ke lantai basement (tempat wudhu)

Tangga ke lantai basement (tempat wudhu)

Jamaah mulai datang

Jamaah mulai datang

Khusyu' mendengarkan khutbah Jumat

Khusyu’ mendengarkan khutbah Jumat

Jatos (Jatiangor Town Square) dan sebauh apartemen tampak dari kejauhan (dipandang dari samping masjid)

Jatos (Jatiangor Town Square) dan sebauh apartemen tampak dari kejauhan (dipandang dari samping masjid)

Jalan setapak menuju gedung-gedung di dalam kampus ITB

Jalan setapak menuju gedung-gedung di dalam kampus ITB

Semoga Masjid Salman 2 di Kampus ITB Jatinangor semakmur masjid induknya di Jalan Ganesha bandung.

Dipublikasi di Seputar ITB | 4 Komentar

Lompong Sagu, Kiriman dari Kampung Halaman

Teman saya yang baru pulang dari Padang membawa kiriman oleh-oleh yang tidak biasa, yaitu penganan tradisionil yang sudah lamaaaa sekali tidak saya temukan. Penganan itu bernama lompong sagu. Bagi generasi minang yang sudah lama hidup di perantauan, nama lompong sagu mungkin masih terkenang dengan baik. Lompong sagu adalah penganan yang terbuat dari tepung sagu, dicampur dengan gula merah, lalu dibakar di atas bara api. Sensasi bau harum dari pembakaran itulah yang membuat penganan ini menggugah selera.

Tiga bungkus lompong sagu di atas piring

Tiga bungkus lompong sagu di atas piring

Mau tahu isinya? Yuk, kita buka sebuah lompong sagu itu lalu potong dua untuk melihat bagain dalamnya. Ini dia:

Lompong sagu yang sudah dibelah

Lompong sagu yang sudah dibelah

Rasanya? Jangan ditanya lagi, rasa sagunya terasa banget, plus rasa manis dari gula merah. Konon gula merah yang terknal di Minangkabau adalah gula merah dari daerah Lawang, Kabupaten Agam. Saking terkenalnya lompong sagu dan gula lawang sampai ada lagu minang lawas yang populer pada tahun 60-an dan 70-an yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris, Oslan Husein, yang berjudul sama:

Lompong sagu

Lompong sagu, lompong sagu bagulo lawang – 2x
Di tangah-tangah, di tangah-tangah karambia mudo – 2x
Sadang katuju, sadang katuju diambiak urang – 2x
Awak juo, awak juo malapeh hao – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

Lompong sagu, lompong sagu bagulo saka – 2x
Elok dimakan, elok di makan lah jo tangan – 2x
Sadang katuju, sadang katuju kawan manyemba – 2x
Awak juo, awak juo mamangku tangan – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

Lompong sagu, lompong sagu bagulo lawang – 2x
Di tangah-tangah, di tangah-tangah karambia mudo – 2x
Sadang katuju, sadang katuju diambiak urang – 2x
Awak juo, awak juo malapeh hao – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

(Sumber lirik lagu: http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/07/31/lompong-sagu/)

Kalau ingin mendengar lagunya di Youtube, klik video ini:

Selama saya pulang kampung hampir tidak pernah bersua lompong sagu ini dijual di pasar-pasar tradisionil. Tapi untunglah sekarang ini, kata teman saya yang datang dari Padang itu, makanan tradisionil yang lama-lama itu sudah mulai dimunculkan kembali dan dijual di sentra tertentu di Padang. Contohnya lompong sagu yang dia beli itu.

Mau?

Dipublikasi di Cerita Ranah Minang, Makanan enak | 3 Komentar

Pilihan Capres Menurut “Orang-Orang Kecil” Di Sekitar Saya

Ini masih cerita tentang Pemilu ya. Siapa presiden yang akan dipilih oleh orang-orang kecil di sekitarmu pada Pilpres 2014? Saya akan menceritakan pilihan Presiden orang-orang kecil yang berinteraksi dengan saya. Orang-orang kecil yang saya maksud adalah loper koran langganan, tukang antar gas, penjual tahu keliling, dan pramukantor (office boy). Menarik juga mengetahui siapa capres yang akan dipilih oleh mereka. Apakah mereka terpengaruh oleh hasil-hasil lembaga survey yang selalu mengopinikan bahwa Jokowilah yang elektabilitasnya paling tinggi dan diprediksi akan menag?. Apakah pilihan mereka juga sama?

******************

Suatu pagi loper koran langganan mengantarkan koran ke rumah seperti biasanya. Hari itu saya membayar uang langganan bulanan. Sembari menulis kwitansi, dia bertanya kepada saya.

Loper koran langganan: “Milih siapa nanti, Pak.”

Saya: “Yang tegas, berani, dan berwibawa.”

Loper koran: “Sama pak, saya juga pilih Prabowo.”

Heran, padahal saya tidak menyebut nama lho, tapi kok tukang koran itu tahu saja. Selanjutnya dia menjelaskan kenapa dia memilih Prabowo. Alasanya mungkin naif bagi sebagian orang, tetapi itulah pandangan dia (tidak saya kemukakan di sini alasannya).

****************

Suatu siang di kantor, ketika saya naik lift ke lantai empat, seorang pramukantor (OB) juga ikut di dalam. Dia sedang membawa sebuah majalah TEMP* edisi terbaru yang cover-nya menggambarkan capres yang disebut satria berkuda (Prabowo menunggang kuda). Majalah itu pesanan seorang teman yang meminta tolong kepadanya dibelikan di kios koran. Tertarik dengan cover majalah itu, saya pun iseng-iseng bertanya siapa “jagoannya”.

Say: “Eh pak, nanti milih siapa, nih?”

OB: “Yang ini pak” (sambil tangannya menunjuk gambar seorang satria berkuda di majalah TEMP* edisi terbaru).

Saya: “Kenapa?”

OB: “Tegas orangnya. Sekeluarga saya akan milih dia”.

Apakah kebanyakan orang kecil di sekitarmu berpikiran sama dengan OB tadi? Artinya, ketegasan dan kewibawaan adalah pesona yang pertama dinilai mereka ketimbang visi dan misi, program, pencitraan, blusukan, apapun itu. Visi misi dan program mungkin hanya konsumsi yang orang-orang “pintar”, sedangkan bagi orang kecil seperti dia yang dilihat adalah sisi lain (ketegasan dan keberanian) yang selama ini mungkin tidak ada pada presiden sekarang yang dikenal peragu.

*******************

Gas di rumah saya habis. Saya pun menelpon tukang gas langganan untuk mengantarkan gas ke rumah. Sembari dia memasang gas, naluri rasa ingin tahu saya pun muncul, sekadar ingin tahu saja.

Saya: “Siapa jagoan mang waktu Pilpres nanti?”

Tukang gas: “Ya Prabowo lah”.

Mantap sekali dia menjawab. Dia sudah punya pilihan rupanya. Sepertinya orang-orang kecil itu sudah punya pilihan dan preferensi masing-masing, maka kampanye dan pemberitaan masif di media tentang seorang capres tidak punya pengaruh apa-apa pada pilihannya.

*****************

Tadi pagi saya ngobrol dengan tukang tahu keliling yang selama ini mengantarkan tahu ke rumah. Saya pun iseng ingin tahu siapa capres yang ada dalam pikirannya.

Saya: “Sudah punya jagoan di Pilpres nanti, Mang?”

Tukang tahu: “Ah, belum. Nanti wae, tergantung siapa yang bisa menjanjikan yang menarik. Kalau bapak, siapa?”.

Saya: “Prabowo”

Tukang tahu: “Oh iya, saya juga mau milih yang itu”.

Saya: “he..he..he” (rupanya mang tukang tahu malu-malu mau menyebutkan).

********************

Dari cerita-cerita di atas, saya menangkap kesan jangan-jangan banyak orang kecil di sekitar kita diam-diam punya pilihan ke satria berkuda. Mungkin saja kesimpulan saya tidak benar, mungkin saja perampatan (generalisasi) saya terlalu naif. Saya hanya memotret realita yang ada di sekitar saya. Sebagai pembanding, cobalah anda melakukan survey kecil-kecilan dengan bertanya kepada orang-orang kecil di sekitarmu, seperti pembantu, tukang ojek, mang becak, kuli bangunan, ibu-ibu arisan, dan lain-lain, kira-kira pilihan mereka condong kemana?

Selama ini lembaga survey paling getol mengopinikan capres tertentu (Jokowi), seolah-olah capres inilah yang akan menang mutlak. Namun, berkaca dari hasil Pileg kemarin, ternyata Jokowi effect sama sekali tidak terbukti. Kemana silent majority yang selama ini tidak dibidik oleh lembaga-lembaga survey? Ternyata suara silent majority tidak bersesuaian dengan keinginan lembaga-lembaga survey itu.

Apakah pada Pilpres 2014 nanti silent majority yang mayoritas masyarakat kecil akan mengambil pilihan berbeda dari yang selama ini diopinikan media dan banyak lembaga survey? Wallahu alam bissawab, kita akan melihat hasilnya pada tanggal 9 Juli nanti.

Dipublikasi di Indonesiaku | 102 Komentar

Jokowi-JK atau Prabowo-Hatta, Pilih yang Mana?

Inilah pertanyaan yang menyelimuti banyak orang Indonesia menjelang Pilpres ini: siapa yang akan dipilih? Dua calon Capres-Cawapres akan adu head-to-head karena hanya ada dua pasang calon Presiden dan Wakil Presiden yang bertarung pada Pilpres 2014. Jokowi dan Jusuf Kalla diusung oleh PDIP, Nasdem, PKB, dan Hanura, sedangkan Prabowo dan Hatta Rajasa diusung oleh Gerindra, PAN, PKS, PPP, Golkar, dan PBB. Agaknya format Jawa-Luar Jawa masih menjadi jurus ampuh untuk memilih pasangan dan menarik pemilih.

Capres

Terus terang kedua pasang Capres dan Cawapres ini adalah pilihan yang kurang bagus, punya plus dan minus. Agak sulit menentukan mana yang akan dipilih, tetapi pada akhirnya nanti kita harus memilih yang terbaik dari yang terburuk.

Jokowi memang pemimpin yang tampil sederhana, tetapi bukan berarti dia tanpa kekurangan. Dia dipersepsikan sebagai pemimpin yang ingkar janji. Belum selesai menjalankan amanahnya sebagai Walikota Solo, loncat ke Jakarta, baru dua tahun di sebagai Gubernur Jakarta dia sudah loncat menjadi Capres. Kinerjanya sebagai Gubernur DKI belum terlihat benar hasilnya, tetapi dia tinggalkan tanggung jawabnya sebagai gubernur karena tergiur menjadi Presiden RI. Belum lagi isu Jokowi yang disetir oleh Megawati, seakan-akan Jokowi adalah presiden boneka. Setidaknya itu yang terekam dalam benak publik tentang sosok beliau.

Dari pengamatan saya selama ini, CMIIW, banyak kelompok Islam tidak menyukai Jokowi karena lingkaran orang-orang disekelilingnya. Jokowi diusung terutama oleh PDIP. Bagi kelompok Islam, PDIP adalah partai yang dinilai tidak akomodatif terhadap aspirasi ummat Islam karena di partai ini berkumpul orang-orang berpaham sekuler liberal (sekarang ditambah dengan kelompok Syiah). Partai ini di parlemen sering menjegal RUU yang berkaitan dengan kelompok muslim, misalnya RUU Sisdiknas, RUU Pornografi, RUU Jaminan Produk Halal, RUU Perbankan Syariah, dll. Karena itu kelompok-kelompok Islam selalu menjaga jarak atau menjauhi PDIP. Untuk sebagian alasan juga dapat disangkutkan pada partai Nasdem besutan Surya Paloh.

Untunglah kelemahan dan kekurangan Jokowi ini sebenarnya dapat ditutupi oleh kehadiran Jusuf Kalla. Jusuf Kalla yang berlatar belakang muslim taat (dia mantan HMI, pengurus DMI, dan juga berlatar belakang NU) dapat melengkapi Jokowi apabila nanti dia terpilih menjadi Presiden. Jusuf Kala dapat mengingatkan Jokowi apabila kebijakannya dianggap merugikan kelompok muslim. Andai saja Capresnya Jusuf Kalla dan wapresnya Jokowi, pasti pasangan ini yang akan saya pilih. Untuk sementara cukup “amanlah” meninggalkan Jokowi dengan Jusuf Kalla andai benar mereka yang terpilih nanti.

Namun Jusuf Kalla bukannya tanpa kelemahan. Usianya yang mendekati 70 yang sudah melewati 70 dianggap sudah terlalu tua menjalankan tugas sebagai Wapres, khawatir saja kinerjanya tidak maksimal.

Lain Jokowi lain pula masalah dengan Prabowo. Prabowo selalu dikaitkan dengan isu pelanggaran HAM, yaitu kasus penculikan aktivis pada tahun 1998. Bahkan seolah-olah seluruh peristiwa kerusuhan 1998 selalu ditimpakan kepadanya. Meskipun kasus itu sendiri masih misteri dan simpang siur, namun kelompok penolak selalu menggunakan isu ini untuk menghantamnya. Ini sebenarnya isu basi yang selalu diulang-ulang setiap lima tahun. Anehnya ketika dia menjadi Cawapres Megawati pada tahun 2009 isu penolakan tidak sekencang hari ini, dan Megawati pun tidak mempermasalahkannya waktu itu. Wallahu alam, saya sendiri juga tidak tahu tahu kebenaran apakah memang dia terlibat dengan kasus penculikan tersebut atau hanya isu. Yang dapat kita ketahui hanyalah tulisan-tulisan yang menuduhnya sebagai otak pelaku penculikan. Ah, biarlah, sejarah ditentukan oleh orang-orang yang menuliskannya, dan sejarah ditulis oleh orang-orang dengan berbagai kepentingan. Meskipun demikian, bagi kelompok Islam Prabowo dianggap orang yang banyak jasanya pada Islam pasca lengsernya Pak Harto tahun 1998 itu 80-an.

Hatta Rajasa sebenarnya dapat melengkapi kekurangan Prabowo dari segi Pemerintahan. Hatta adalah teknokrat yang handal, selain itu dia berlatar belakang agama yang kuat seperti halnya Jusuf Kalla (dari Muhammadiyah dan aktivis Masjid Salman ITB). Namun Hatta juga punya titik lemah, yaitu kasus kecelakaan anaknnya yang terkesan diistimewakan oleh polisi.

Sudah saya paparkan plus minus kedua pasang capres dan cawapres tersebut. Tidak ada pasangan yang ideal untuk dipilih, namun saya juga tidak mau golput. Salah satu pasangan pasti saya pilih. Inysa Allah saya menjatuhkan pilihan pada Prabowo-Hatta untuk saya pilih nanti karena pertimbangan negara ini membutuhkan pemimpin yang tegas, berani, dan berwibawa. Indonesia yang besar sudah lama menjadi bulan-bulanan negara asing, tidak berdaya, dan tidak berdaulat. Bahkan terhadap negara kecil seperti Singapura saja kita takut. Pada era globalisasi yang kompleks dan penuh tantangan berat kita butuh pemimpin yang berani mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, tidak seperti Pak Beye yang lembek dan tidak tegas. Apalagi pada tahun depan kita memasuki era pasar bebas, jika pemimpinnya mencla-mencle, maka bukan mustahil negara kita menjadi halaman belakang Asia. Jokowi saya lihat tidak punya keberanian seperti itu. Bagaimana memilih prsiden yang merupakan petugas partai jika untuk mengambil keputusan nanti dia berada dalam bayang-bayang Megawati.

Sosok yang tegas, berani, dan berwibawa itu saya lihat ada pada diri Prabowo. Insya Allah.

Dipublikasi di Indonesiaku | 87 Komentar

Ketika 70 Kepsek dan Guru-Guru SMA Mencuri Soal UN

Apa yang ada dalam benak anda setelah membaca berita di Jawa Pos ini? Sungguh memalukan dan menodai dunia pendidikan di Tanah Air. Guru-guru yang seharusnya memberikan contoh teladan malah melakukan tindakan kriminal: mencuri soal-soal Ujian Nasional (UN) Tingkat SMA tahun 2014. Tidak tanggung-tanggung jumlahnya, 70 orang guru dan kepala sekolah (Kepsek) di Lamongan, Jawa Timur, berkomplot mencuri soal UN dari mobil yang dikawal polisi. Modusnya sungguh rapih dan sudah direncanakan dengan matang, terstruktur, dan sistematiks (baca berita selengkapnya di bawah).

Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Speechless. Sedih dan prihatin bercampur aduk. Mencuri soal UN yang merupakan rahasia negara saja sudah merupakan tindakan kriminal, apalagi membocorkan kunci jawaban kepada para siswanya.

Saya menduga motivasi guru-guru melakukan perbuatan mencuri soal UN itu bukan untuk tujuan mencari uang, tetapi untuk menolong para siswanya agar banyak yang lulus UN, disamping mendapat nilai UN yang bagus. Jika semua siswa lulus UN atau rata-rata nilai UN siswa bagus, maka sekolah jua yang akan mendapat nama. Itu berarti para kepala sekolahnya akan mendapat penilaian bagus dari Dinas Pendidikan, seolah-olah kelulusan yang tinggi atau nilai UN yang bagus tampak sebagai hasil kerja keras para guru dan kepala sekolah bersangkutan.

Namun sayangnya, untuk memperoleh nama baik sekolah mereka melakukannya dengan cara yang salah. Ingin menolong para siswa tetapi caranya tidak benar. Akhirnya begini jadinya, bukan nama baik yang diperoleh, tetapi arang hitam dan kepercayaan yang sudah hilang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

70 Kasek-Guru Berkomplot Curi Soal Unas

SURABAYA – Sikap keras pemerintah bahwa soal ujian nasional (unas) SMA tidak bocor akhirnya terpatahkan. Berdasar keterangan pihak-pihak yang telah ditangkap dan diperiksa polisi, diketahui bahwa soal unas SMA benar-benar telah bocor dan kunci jawabannya sudah menyebar ke mana-mana.

Naskah soal unas itu bocor karena dicuri. Tidak main-main, pencurian tersebut melibatkan sekitar 70 kepala sekolah (Kasek) dan guru yang bekerja secara terstruktur. Semua adalah Kasek dan guru SMA negeri maupun swasta dari Lamongan.

’’Kunci jawaban bukan aslinya. Ini tidak bocor dari pusat. Tapi, ini adalah hasil menjawab sendiri oleh sekelompok guru di Lamongan setelah mereka mencuri naskah soal,’’ kata Kapolrestabes Surabaya Kombespol Setija Junianta Senin (12/5).

Para giuru mencuri? Setija menyatakan bahwa itulah kenyataannya. ’’Pencurian ini dilakukan dengan modus mengelabui polisi yang mengawal proses distribusi naskah soal ketika menuju polsek,’’ terangnya.

Sebelum pelaksanaan unas, naskah soal di setiap kabupaten/kota memang disimpan di mapolres setempat. Dua hari sebelum pelaksanaan unas, naskah soal lantas didistribusikan ke polsek-polsek jajaran. Mekanisme yang sama berlaku di Lamongan. Pada Sabtu (12/4), naskah soal didistribusikan dari Polres Lamongan ke polsek-polsek di seluruh Lamongan.

Distribusi umumnya menggunakan mobil kepala sekolah atau guru. Satu mobil dikawal seorang polisi. Selain itu, ada tiga sampai lima guru yang ikut serta mengawal. Saat perjalanan menuju polsek itulah, naskah soal dicuri. Guru yang turut dalam pengawalan mengajak berhenti polisi untuk makan di rumah makan. Karena yang mengajak adalah guru, polisi pengawal tidak curiga. ’’Pada saat makan, ada salah seorang guru yang mengambil sebundel amplop naskah soal,’’ papar Setija. Sebundel ampol berisi 20 model naskah soal.

Pencurian tidak hanya dilakukan di satu tempat. Sesuai dengan skenario jahat yang telah mereka susun, agar pencurian itu tidak mencolok, setiap satu tempat (satu rombongan guru) hanya kebagian mengambil satu amplop soal. Lantaran unas SMA mengujikan enam mata pelajaran, pencurian dilaksanakan di enam titik dengan sasaran enam mobil berbeda. Setiap tempat (rombongan guru) mengambil satu naskah soal yang berbeda. Karena itu, ketika dikumpulkan, naskah soal enam mata pelajaran yang mereka dapatkan sudah lengkap.

’’Sesungguhnya itu bisa dijawab saat ini. Tapi, kami lakukan gelar perkara dulu dengan Polda Jawa Timur. Yang jelas, naskah soal itu dicuri sekelompok guru,’’ tegas Setija.

Berdasar penelusuran Jawa Pos di Lamongan, kebocoran tersebut tidak terjadi di satu titik. Tetapi, kebocoran itu terjadi di enam titik sekaligus atau sesuai dengan jumlah mata pelajaran yang diujikan dalam unas SMA. Enam titik tersebut adalah Lamongan Kota, Babat, Bluluk, Ngimbang, Kedungpring, dan Karang Binangun.

Di enam titik itu, guru SMA negeri dan swasta saling berkolaborasi. Setiap titik mencuri satu naskah soal sesuai dengan yang disepakati. Misalnya, di Lamongan Kota mereka sepakat mencuri naskah bahasa Indonesia. Jadi, yang dicuri adalah naskah soal bahasa Indonesia.

Naskah tersebut lantas dikumpulkan di dua posko. Yakni, posko Bluluk dan Babat. Di dua posko itu, sudah menunggu puluhan guru terpilih dari SMA negeri dan swasta untuk mengerjakan naskah soal yang sudah dicuri. Karena yang mengerjakan merupakan guru-guru terpilih, pengerjaannya tidak memakan waktu lama. Pengerjaan soal selesai pada Sabtu (12/4) atau saat itu juga.

Jawaban yang dihasilkan tersebut kemudian disimpan dalam bentuk CD dan flashdisk. CD dan flashdisk lantas diberikan kepada semua kepala sekolah yang telah sepakat berkomplot dan berbuat curang. Baik kepala sekolah negeri maupun swasta. ’’Alurnya memang dari pencurian, lalu dikerjakan bersama-sama oleh sekelompok guru dan kemudian diberikan kepada kepala sekolah,’’ jelas Setija.

Dari kepala sekolah itu, jawaban digandakan guru-guru yang ditunjuk di setiap sekolah untuk kemudian dibagikan kepada siswa. ’’Ini sudah direncanakan sangat matang dan sistematis. Ini tidak hanya dilakukan tahun ini, tapi minimal sudah dua tahun. Sebab, tahun lalu ada peredaran kunci jawaban juga,’’ papar Setija.

Lalu, bagaimana nasib naskah soal yang dicuri? Lantaran pencurian itu sudah direncanakan sangat matang, sekelompok guru dan kepala sekolah tersebut membuat alur cerita yang cantik. Begitu naskah soal kembali dihitung di polsek, sekelompok guru telah kongkalikong menjawab bahwa naskah soal komplet. Demikian pula ketika saat pemeriksaan dan perhitungan saat naskah soal diambil dari polsek ke sekolah pada hari H pelaksanaan unas. Padahal, sejatinya naskah itu kurang satu amplop.

Agar ketika dibagikan kepada siswa tidak ada yang kurang, naskah soal yang dicuri tadi dibawa langsung ke sekolah bersangkutan dan disatukan kembali dengan naskah soal lain. ’’Ini melibatkan banyak guru dan kepala sekolah. Jadi, terlihat seperti tidak ada yang ganjil. Yang jelas, ada cukup banyak guru dan kepala sekolah yang terlibat,’’ ungkap Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Farman.

Kunci jawaban yang disebar di Lamongan dibagikan secara gratis. Tetapi, tidak dengan di Surabaya. Kunci jawaban tersebut dikomersialkan Muhammad Nasrun Abid. Nama itulah yang membawa kunci jawaban dari Lamongan ke Surabaya. Abid memperoleh kunci jawaban dari pamannya yang guru SMAN 3 Lamongan Edy Purnomo. Selain itu, dia dapat dari kerabatnya yang lain, yaitu Wakil Kepala MTs Putra Putri Lamongan Ibnu Mubarrok.

Sebagaimana halnya siswa-siswa di Lamongan, Abid mendapatkannya secara gratis. ’’Abid lalu menjualnya kepada Joki Gosok seharga Rp 150 juta,’’ kata Farman. Joki Gosok atau DN Bagus Danil Bimantara merupakan pengedar kunci jawaban di Surabaya. Joki Gosok mengenal Abid dari pengedar sebelumnya, Bung T.

Di tangan Joki Gosok, kunci jawaban dijual kepada siswa di delapan SMAN di Surabaya. Harganya mencapai Rp 25 juta sampai Rp 35 juta untuk setiap sekolah. Jaringan Joki Gosok akhirnya dibongkar anggota Unit Kejahatan Umum (Jatanum) Satreskrim Polrestabes Surabaya saat pelaksanaan unas SMA hari ketiga 16 April lalu.

Joki Gosok dan empat anggotanya kemudian dibekuk polisi di tempat pelariannya di Jogjakarta pada 26 April lalu. Dari penangkapan Joki Gosok, terungkap nama pemasoknya, yakni Abid, dan kemudian berkembang ke penangkapan Edy serta Ibnu. ’’Dari pengungkapan itu, kami kembangkan. Hasilnya, kami mendapati fakta bahwa kunci itu berasal dari pencurian naskah soal di Lamongan,’’ ucap Setija.

Polisi sudah memeriksa semua yang terlibat. Bukan saja mereka yang mengedarkan di Surabaya, tetapi juga kelompok kepala sekolah dan guru di Lamongan yang mencuri serta menyebarkannya. ’’Semua sudah kami periksa. Tapi, kami tidak menahannya. Kami masih harus melakukan gelar perkara dengan Polda Jawa Timur. Yang pasti, pengusutan kasus ini sudah kami tuntaskan,’’ tandas Setija. (fim/c14/nw)

Sumber: http://www.jawapos.com/baca/artikel/876/70-Kasek-Guru-Berkomplot-Curi-Soal-Unas

Dipublikasi di Indonesiaku, Pendidikan | 7 Komentar

Pas Butuh, Pas Ada (Mobil SAMSAT Keliling)

Hidup yang menyenangkan itu adalah hidup yang pas-pasan. Pas lagi butuh, eh pas ada barangnya. Pas butuh uang, eh ada saja yang memberi uang. Pas mau ke tempat kerja, eh ada saja yang memberi tumpangan.

STNK motor saya sudah habis masa pajak tahunannya. Bulan Mei ini sudah harus membayar pajak kendaraan lagi. Mau ke kantor SAMSAT jauh, letaknya di Jalan Soekarno-Hatta sana. Mau mencari mobil SAMSAT keliling yang hari ini mangkal di mal mana juga enggan. Memang ada layanan SAMSAT keliling untuk mengurus pajak kendaraan bermotor atau untuk memperpanjang STNK atau SIM, tetapi biasanya mobil SAMSAT keliling itu hanya mangkal di tempat-tempat keramaian seperti mal dan plaza. Nah, kalau mobil SAMSAT mangkal di mal urusannya jadi repot, sebab kita harus memarkir kendaraan ke basement, lalu jalan lagi ke atas ke tempat mobil SAMSAT.

Entah apa keberuntungan saya hari itu, ketika melewati Jalan Diponegoro ada mobil SAMSAT keliling sedang parkir di pinggir jalan, tepat di seberang masjid PUSDAI. Wah, pas benar ini, pas sedang membutuhkan mobil SAMSAT eh pas ada di depan mata. Saya memang sedang membutuhkan SAMSAT untuk membayar pajak motor yang sudah jatuh tempo.

Mobil SAMSAT keliling sedang melayani masyarakat di pinggir jalan Diponegoro

Mobil SAMSAT keliling sedang melayani masyarakat di pinggir jalan Diponegoro

Mobil SAMSAT keliling

Mobil SAMSAT keliling

Langsung saja saya berhenti dan memarkirkan motor matic kesayangan yang berwarna merah itu. Ini motor yang membawa saya sehari-hari dari rumah ke kampus. Saya lebih senang memakai motor ke mana-mana karena lebih praktis dan cepat.

Motor matic yang selalu membawa saya ke mana-mana

Motor matic yang selalu membawa saya ke mana-mana

Kebetulan saat itu antrian sedang sepi, hanya ada dua orang yang sedang dilayani. Saya segera memasukkan STNK dan KTP. Tidak sampai lima menit kemudian saya dipanggil, langsung bayar. Beres deh. Begitu cepat dan mudah urusannya. Benar-benar praktis, mangkus dan sangkil.

Petugas SAMSAT melayani masyarakat

Petugas SAMSAT melayani masyarakat

Pajak kendaraan sudah dibayar, slip pajak yang baru menggantikan slip pajak yang lama di STNK. Senangnya jika sudah membayar pajak.

Slip pajak motor

Slip pajak motor

~~~~~~~~~~~~~

Ngomong-ngomong, saya suka layanan “jemput bola” seperti ini. Dulu kita yang harus datang untuk melunasi kewajiban, sekarang mereka yang mendekati kita untuk langsung menjemput kewajiban itu. Coba kalau pola pikir instansi pegawai pemerintah seperti ini, rakyat pasti senang. Abdi negara itu tugasnya melayani, bukan dilayani.

Dipublikasi di Gado-gado | 4 Komentar