Minum Es Kelapa Ditemani Tawon

Di mana lagi di kota Bandung ini kita bisa minum es kelapa muda segar ditemani tawon-tawon (lebah kecil) yang beterbangan? Jawabannya adalah di kedai Es Kelapa Angrrek, letaknya di Jalan Anggrek (pertigaan jalan Riau/R.E Martadinata) Bandung. Kedai es kelapa ini cukup terkenal di kota Bandung, sebab berdampingan dengan kedai sate Anggrek yang laris dikunjungi pembeli.

Kedai Es Kelapa Anggrek

Kedai Es Kelapa Anggrek

Siang hari yang terik di kota Bandung pada bulan Agustus ini memang sungguh enak kalau minum es kelapa. Kedai es kelapa terdapat di mana-mana di kota kembang, namun dari sekian banyak yang pernah saya coba, maka kedai es kelapa Anggrek ini menurut saya yang paling enak. Kita dapat memesan es kelapa muda (airnya asli air kelapa tanpa ditambah air) dengan atau tanpa campuran. Campuran yang disediakan adalah nangka, candil delima (berwarna merah muda), agar-agar, jeruk, alpukat, dan susu kental manis. Tinggal pilih saja mau pakai campuran yang mana.

Tambahan campuran untuk es kelapa muda

Tambahan campuran untuk es kelapa muda

Kelapa muda di kedai ini didatangkan dari sentra kelapa di Jawa Barat seperti dari Subang dan Garut. Selain kelapa muda biasa juga ada kelapa hijau yang sering dicari untuk obat. Sebenarnya air kelapa muda apa saja sangat sehat untuk kesehatan, karena air kelapa dapat menghindari kita dari penyakit seperti infeksi saluran kemih, memperlancar buang air kecil, dan lain-lain.

Kelapa-kelapa muda yang siap untuk diambil air dan dagingnya.

Kelapa-kelapa muda yang siap untuk diambil air dan dagingnya.

Saya memesan satu mangkok es kelapa muda dengan campuran nangka yang dipotong kecil-kecil. ditambah susu kental manis. Siang hari yang panas sepulang dari jalan-jalan bersama anak saya sungguh nikmat sekali menyeruput es kelapa muda.

Semangkok es kelapa muda dengan campuran nangka manis.

Semangkok es kelapa muda dengan campuran nangka manis.

Seperti yang saya sebutkan di atas, banyak tawon mengerumuni wadah yang berisi bahan yang manis-mansis, seperti wadah gula, susu, dan nangka. Tawon-tawon itu entah datang dari mana, mungkin penciuman yang tajam membuat mereka mendekati kedai ini. Tawon-tawon itu juga mengerbungi sisa es kelapa muda yang tumpah di atas meja. Tidak usah takut, tawon-tawon itu tidak menggigit, mereka tampak asyik mengisap larutan manis yang tumpah di atas meja. Justru di sinilah sensasinya minum es kelapa muda ditemani tawon.

Beberapa tawon hinggap di kaca.

Beberapa tawon hinggap di kaca.

Mau mencobanya? Silakan datang ke Jalan Anggrek, Bandung.

Dipublikasi di Makanan enak | 3 Komentar

Mamang Penjual Tangga Bambu

Pagi tadi saya duduk di depan rumah setelah menikmati sarapan. Seorang mamang lewat berjalan kaki membawa dagangan dari bambu. Ada tangga, ada sapu panjang, dan penjolok buah-buahan. Sungguh tidak tega melihat dia membawa barang dagangan yang berat itu di bahunya. Saya membayangkan betapa berat sekali beban dagangan yang dipikul di pundaknya. Saya saja satu tangga pun tidak sanggup memikulnya, apalagi sepuluh buah. Dia berkeliling kampung memikul barang dagangan yang berat itu dengan berjalan kaki.

Mamang penjual tangga bambu, sapu panjang, dan penjolok buah lewat di depan rumah.

Mamang penjual tangga bambu, sapu panjang, dan penjolok buah lewat di depan rumah.

Mamang penjual tangga bambu itu berasal dari Cicalengka, tepatnya di daerah Curug Cinulang, yaitu daerah wisata yang terkenal dengan air terjunnya. Dari Cicalengka dia naik mobil elf membawa barang dagangannya dengan mobil elf (elf adalah sebutan orang Bandung untuk mobil angkutan umum berukuran kecil). Barang dagangan ditaruh di atap mobil elf, ongkos naik elf ke Bandung Rp7.500. Barang dagangan yang di atap mobil elf dihitung sebagai satu penumpang, jadi dia harus membayar Rp15.000 seluruhnya.

Barang dagangan si Mamang.

Barang dagangan si Mamang.

Di terminal Cicaheum dia turun, kemudian berjalan kaki menyusuri jalan-jalan pemukiman di Bandung Timur menawarkan dagangannya. Jika tidak habis sehari, dia tidak akan pulang-pulang ke kampungnya di Cicalengka dan menginap di mana saja bersama dagangannya. Satu hari bisa saja tidak laku satu buah pun. Barang dagangan itu biasanya baru habis dua hingga empat hari, barulah setelah habis dia pulang kembali ke Cicalengka.

Mamang sedang membuka tali yang mengikat dagangannya.

Mamang sedang membuka tali yang mengikat dagangannya.

Saya membeli sapu panjangnya satu buah, harganya Rp35.000. Kalau tangga bambu harganya Rp60.000. Sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan sapu itu, saya membelinya karena tidak tega saja melihatnya. Menurut si mamang, seluruh dagangannya itu tidak dibuatnya sendiri, tetapi diambil dari perajin di Cicalengka. Untuk setiap sapu yang dia jual dia hanya mendapat keuntungan sekitar Rp5.000. Jika seluruh barang dagangannya habis, maka keuntungannya tidak sampai 100 ribu rupiah, diluar biaya makan dan lain-lain. Seratus ribu rupiah untuk berkelana selama empat hari. Saya sungguh terharu mendengarnya. Seorang asisten pelatihan di sebuah workshop saja bisa mendapatkan minimal Rp50.000/jam, sementara untuk si mamang mendapatkan Rp50.000 perlu waktu berhari-hari berjalan kaki.

Sapu panjang yang saya beli dari si Mamang.

Sapu panjang yang saya beli dari si Mamang.

Mamang yang tidak tamat SD itu mempunyai dua orang anak. Anak pertamanya yang gadis sudah dinikahkan ketika berumur 16 tahun. Di kampung-kampung anak perawan dinikahkan pada usia demikian muda untuk meringankan beban orangtuanya. Satu orang anak lainnya masih sekolah di SD. Istri si mamang tidak bekerja, jadi dialah yang menjadi tiang keluarga. Dialah yang menjadi tumpuan hidup keluarganya. Di rumah anak istrinya tentu menanti kepulangannya menunggu rezeki si bapak yang tidak banyak itu. Entah kapan dia pulang, entah hari itu, atau dua hari lagi.

Mamang kembali berjalan kaki menawarkan memikul dagangannya.

Mamang kembali berjalan kaki memikul dagangannya.

Barakollah untuk rezeki yang tidak seberapa itu, Mang.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 4 Komentar

Sekolah Favorit Akan Hilang? (PPDB Kota Bandung 2014)

Walikota Bandung Ridwan Kamil membuat gebrakan baru dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Kota Bandung awal tahun ajaran baru 2014 yang lalu. Penerimaan siswa baru SMP dan SMA negeri tidak lagi berdasarkan cluster, tetapi berdasarkan rayon tempat tinggal. Siswa hanya dapat memilih dua sekolah. Untuk pilihan satu, siswa diberi kebebasan memilih sekolah di luar rayonnya, tetapi untuk pilihan kedua harus berada di dalam rayonnya. Jika siswa memilih pilihan satu di dalam rayonnya, maka siswa mendapat bonus nilai, yaitu penambahan nilai NEM sekitar beberapa poin. Intinya siswa yang memilih sekolah di dalam rayonnya lebih diutamakan diterima daripada di luar rayon.

Tentu banyak pihak yang pro dan kontra dengan sistem rayonisasi ini, ada yang menyebut tidak adil dan sebagainya. Terlepas dari semua itu, saya menangkap maksud baik dari kebijakan walikota ini. Pertama, untuk mengurangi kemacetan di dalam kota. Siswa tidak perlu jauh-jauh pergi sekolah, cukup sekolah yang dekat lingkungannya. Salah satu penyumbang kemacetan adalah mobil pengantar/jemputan anak-anak sekolah. Ada siswa yang rumahnya jauh di Cimahi tetapi sekolah di dalam kota Bandung. Dengan sekolah di sekitar rumahnya, maka penyumbang kemacetan dapat dikurangi.

Kedua, tidak ada lagi kasta sekolah favorit dan non favorit. Penyebaran siswa berdasarkan kemampuan akademik akan merata di semua sekolah. Selama ini siswa-siswa pintar berkumpul di sekolah-sekolah favorit saja, sedangkan sekolah non favorit menerima sisanya. Dengan sistem rayoniasasi ini sekolah favorit akan hilang. Semua sekolah negeri akan sama kompetitifnya satu sama lain.

Seorang teman mengajukan pertanyaan kepada saya. Selama ini penerimaan mahasiswa jalur SNMPTN undangan di ITB berdasarkan nilai rapor siswa. Siswa-siswa dari sekolah favorit umumnya mempunyai peluang lebih besar untuk diterima di ITB karena akreditasi sekolah dan rekam jejak sekolah serta alumninya sudah tercatat dengan baik. Contohnya siswa dari SMA 3 atau SMA 5 Bandung paling banyak diterima di ITB karena rekam jejak tersebut. Nah, dengan sistem rayonisasi yang menghilangkan sekolah favorit tsb, maka dalam beberapa tahun yang akan datang semua sekolah mempunyai peluang sama diterima siswanya melalui jalur undangan. Nah, apakah ITB akan kesulitan dalam menyeleksi calon mahasiswa baru jika semua sekolah sama saja kualitasnya? Saya belum bisa menjawabnya, namun saya melihat ada rasa keadilan yang tercipta dengan pemerataan seperti ini.

Dipublikasi di Pendidikan | 2 Komentar

Rempeyek si Bapak “Buatan Istri Sendiri”

Pada hari minggu pagi ketika saya berdiri di depan rumah, lewatlah seorang pria paruh baya dengan sepeda motornya. Di belakang motornya ada kotak plastik besar berisi barang dagangan berupa rempeyek.

Melihat saya berdiri di depan rumah, bapak itu menghentikan motornya, lalu menawarkan rempeyek. Saya menggelang dan menjawab tidak kepada bapak itu, maksudnya tidak akan membeli. Namun dia tampaknya belum menyerah.

“Rempeyeknya pak, ada yang pakai kacang, ada pakai teri, ada yang pedas, dan ada yang asin. Minyak gorengnya asli. Ini buatan istri, dimasak oleh istri saya sendiri di rumah”, kata dia berpromosi.

Di rumah sebenarnya masih banyak cemilan, jadi saya memang tidak berniat membeli. Tetapi mendengar dia menyebutkan “buatan istri sendiri” saya merasa tersentuh dan tergerak membelinya.

Saya hampiri dia yang membuka kotak plastik besar tadi. Dari tampangnya terlihat dia bukan pedagang biasa, terlihat agak intelek, berkacamata, seperti bekas orang kantoran. Mungkin dia seorang bapak yang kena PHK, lalu berusaha menyambung hidup dengan berjualan rempeyek. Istrinya sendiri yang menggoreng, dia yang menjajakan dengan berkeliling menggunakan sepeda motor. Sebuah perjuangan yang mengharukan. Saya pun membeli rempeyeknya itu beberapa buah.

Rempeyek si bapak

Rempeyek si bapak

Si bapak penjual rempeyek mengucapkan banyak terima kasih karena saya membeli dagangannya. Dari rumah saya dia beralih ke rumah tetangga menawarkan rempeyeknya. Betapa gigihnya dia.

Saya akui rempeyeknya memang enak, terasa sekali kalau tepung berasnya dari tepung yang berkualitas. Lebih dari itu, ini adalah rempeyek hasil kerjasama sepasang suami istri yang mencari rezeki secara halal. Si istri yang membuat, sang suami yang menjajakan. Barakollah, Pak.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 1 Komentar

Sholat di Masjid Sultan Singapura

Ketika jalan-jalan ke Singapura pada akhir Juni yang lalu (menjelang bulan puasa), saya dan teman-teman menyempatkan diri mengunjungi masjid terbesar di negeri singa tersebut untuk sholat jamak Dhuhur dan Ashar. Namanya Masjid Sultan, letaknya di daerah Kampung Gelam.

Siang itu cuaca di Singapura sangat panas. Setelah keliling-keliling city tour, kami makan siang di restoran minang yang terkenal di Singapura, yaitu Restoran Hj. Maimunah, letaknya di Kampung Gelam juga. Hj. Maimunah ini dulunya adalah pendatang dari Indonesia, saya tidak tahu persis apakah dia orang Minang atu bukan. Kini restorannya dikelola oleh anaknya. Menurut pendapat saya setelah makan di sana, rasa masakannya biasa-biasa saja dan tidak persis rasa masakan minang, sudah tercampur dengan rasa masakan melayu, he..he.

Restoran Hj. Maimunah di Kampung Glam

Restoran Hj. Maimunah di Kampung Glam

Selesai makan siang kami berjalan kaki ke Masjid Sultan untuk menunaikan sholat. Letak masjid tidak jauh dari restoran tadi, kira-kira dua ratus meter saja. Dari kejauhan sudah terlihat Masjid Sultan sangat cantik. Ornamen-ornamennya memperlihatkan campuran unsur Arab, Turki, India, dan Melayu.

Masjdi Sultan di pinggir jalan yang ramai di Kampung Glam.

Masjdi Sultan di pinggir jalan yang ramai di Kampung Gelam.

Menurut catatan yang saya baca di Wikipedia, Masjid Sultan termasuk masjid tua di Singapura. Masjid ini dibangun pada tahun 1826, empat tahun setelah pembangunan masjid tertua di Singapura, yaitu Masjid Omar Kampung Melaka. Masjid Sultan dibangun oleh Sultan Hussain Shah dari Johor yang merupakan penguasa di Pulau Singapura kala itu. Struktur masjid dibuat oleh masyarakat Jawa yang tinggal di Singapura zaman itu. Bentuknya belum menyerupai masjid yang sekarang, tetapi berupa masjid dengan atap berbentuk limas bersusun tiga seperti masjid di Pulau Jawa umumnya.

Saya segera mengambil wudhu dan segera masuk ke dalam masjid. Interior masjid sungguh menawan, lantainya berkarpet semua, dan kipas angin yang besar-besar selalu berputar untuk menghasilkan sirkulasi udara yang sejuk di dalam masjid, sungguh kontras dengan cuaca terik di luar.

Interior yang  menawan di dalam masjid

Interior yang menawan di dalam masjid

Selesai sholat jamak, saya mengambil gambar beberapa sudut masjid yang sungguh indah dan menawan, sayang dilewatkan tanpa diabadikan dalam bentuk foto. Berikut ini beberapa foto sudut masjid yang saya ambil.

Interior bagian belakang

Interior bagian belakang

Lantai dua tampak dari samping

Lantai dua tampak dari samping

Tangga ke lantai dua masjid

Tangga ke lantai dua masjid

Teras masjid

Teras masjid

Singapura sungguh pandai merawat bangunan-bangunan tua untuk menarik wisatawan asing, termasuk masjid-masjid tua seperti Masjid Sutan ini. Masjid Sultan banyak dikunjungi turis asing, termasuk yang non muslim sekalipun. Mereka diperbolehkan masuk sampai area tertentu di dalam masjid (serambi belakang), tentu saja dengan berpakaian sopan. Pengelola masjid meminjamkan pakaian muslim semacam gamis kepada mereka untuk menutup auratnya.

Turis asal Jepang sedang melihat-lihat ke dalam masjid

Turis asal Jepang sedang melihat-lihat ke dalam masjid

Selesai sholat saya berjalan ke bagian belakang masjid. Majid Sultan bentuknys simetris sehingga dilihat dari belakang pun tampak mirip dengan bagian depan.

Majid Sultan tampak dari belakang

Majid Sultan tampak dari belakang

Papan nama masjid

Papan nama masjid

Foto lain dari belakang masjid

Foto lain dari belakang masjid

Jalan di belakang masjid

Jalan di belakang masjid

Pintu masjid dari belakang

Pintu masjid dari belakang

Menara masjid

Menara masjid

Kawasan belakang masjid adalah perkampungan melayu. Bangunan-banguan tua di sana sudah berubah fungsi menjadi toko-toko suvenir, restoran, termasuk rumah makan padang. He..he, rumah makan padang ada di mana-mana, termasuk di Singapura ini. Orang Singapura menyukai masakan minang yang pedas dan bersantan.

Bangunan-bangunan tua di belakang masjid yang menjadi toko-toko suvenir.

Bangunan-bangunan tua di belakang masjid yang menjadi toko-toko suvenir.

Toko-toko suvenir

Toko-toko suvenir

Rumah makan padang, salah satu restoran yang terletak di belakang masjid Sultan.

Rumah makan padang, salah satu restoran yang terletak di belakang masjid Sultan.

Gapura utara, pintu masuk  menuju kawasan masjid

Gapura utara, pintu masuk menuju kawasan masjid

Gapura selatan

Gapura selatan

Foto narsis di deoan masjid Sultan

Foto narsis di depan masjid Sultan

Tidak jauh dari Masjid Sultan, terdapat Istana Kampung Gelam. Ini bekas istana Sultan Hussain yang menjadi penguasa Singapura zaman dulu. Sekarang istana ini menjadi pusat warisan budaya melayu (Malay Heritage Center).

Gapura istana

Gapura istana

Istana Kampung Gelam I

Istana Kampung Gelam
I

Demikianlah pengalaman saya di Masjid Sultan, masjid kebanggan muslim Singapura. Kalau nanti ke Singapura lagi, saya akan sempatkan sholat di sini lagi.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 4 Komentar

Uban

Tidak terasa uban di rambut kepala saya sudah mulai banyak bertebaran. Tahun lalu ubannya tidak sebanyak sekarang, tetapi sekarang ini… wah sudah tidak terhitung jumlahnya, he..he. Saya suka mematut diri di depan cermin melihat uban-uban yang bertaburan itu. Merasa gagah? Bukan. Merasa berwibawa dengan uban itu? Bukan. Yang saya rasakan adalah bahwa waktu terus berputar, anak-anak saya semakin besar, dan tanda-tanda perjalanan waktu itu diperlihatkan dengan uban.

Memang uban tidak selalu identik dengan ketuaan. Ada senior saya yang usianya sudah 60-an yang sampai sekarang rambutnya tetap hitam semua, belum ada uban satupun. Ketika lebaran kemarin saya bertemu teman satu SMP yang sebaya dengan saya, rambutnya pun tidak ditumbuhi uban satu helaipun. Zaman sekarang banyak kita temukan anak-anak muda yang rambutnya sudah memutih. Saya sendiri sudah sering menemukan mahasiswa saya yang rambutnya ditumbuhi uban. Kata orang, uban pada anak-anak muda itu disebabkan oleh salah penggunaan shampo, atau berganti-ganti menggunakan merek shampo sehingga menimbulkan efek yang merusak zat melanin (yang memberi warna hitam) pada rambut. Entah benar entah tidak anggapan itu.

Ada juga sebagian orang yang beranggapan bahwa pertumbuhan uban itu disebabkan karena terlalu banyak mikir yang ujung-ujungnya stres, efek stres terpantulkan pada pertumbuhan rambut putih. Kalau pendapat ini mungkin ada benarnya, rekan-rekan saya sesama dosen di kampus, meskipun usianya lebih muda dari saya, ubannya lebih banyak daripada saya, bahkan ada yang sudah hampir memutih semua. Mereka orang-orang yang banyak membaca buku, meneliti di lab, mencurahkan segenap daya dan pikirannya untuk ilmu pengetahuan, jadi wajar kalau para akademisi dan peneliti banyak yang sudah beruban.

Sebaliknya orang-orang biasa yang kita temui di pasar-pasar, di kampung-kampung, di sawah-sawah, dan lain-lain, rambut mereka masih hitam legam, meskipun usianya sudah di atas 40 tahun atau 50 tahun. He..he, mungkin para bapak-bapak dan ibu-ibu itu tidak terlalu banyak mikir seperti para dosen sehingga tingkat stresnya tidak membuat uban bermunculan.

Dalam renungan saya, uban adalah cara Tuhan untuk “menegur” kita secara halus bahwa tua akan datang menjelang. Dengan uban di kepala kita diingatkan dengan waktu yang terus berputar. Pertambahan usia tidak bisa dihalangi, dan kita diingatkan bahwa kematian pasti akan datang. Sudahkah kita mempersiapkan bekal ke akhirat? Bekal itu adalah amal sholeh selama hidup di dunia.

Dipublikasi di Renunganku | 9 Komentar

Kisah Herayati, Anak si Tukang Becak yang Lulus Seleksi ITB 2014

Saya selalu terharu membaca kisah mahasiswa pejuang seperti di bawah ini, walaupun orangtuanya miskin, tetapi tidak menghalangi tekadnya masuk ITB, dan alhamdulillah dia diterima tahun 2014 ini.

Saya ingin bertemu dan memegang telapak kasar tangan ayahnya, tukang becak yang hebat itu. telapak tangan yang kasar akibat ditempa kerasnya hidup untuk menyekolahkan anaknya hingga berhasil masuk ITB.

Kalau anda tahu, sungguh banyak anak-anak cemerlang namun berasal dari keluarga tidak mampu seperti Herayati itu di ITB. Ada anak buruh cuci, ada anak tukang kayu bakar, dan sebagainya (salah satunya baca kisah yang pernah saya tulis dulu: Anak Penjual Kayu Bakar dari SMA 1 Pariaman Itu Diterima di ITB). Begitu banyak kisah inspiratif semacam ini setiap tahun, sungguh menyentuh, dan memberi semangat bagi siapa pun. Di ITB, ada ribuan beaisiswa yang bisa diraih oleh mahasiswanya. Yang penting masuk dulu, soal biaya dan uang belakangan.

~~~~~~~~~~~~

Herayati, Anak si Tukang Becak Lulus Seleksi ITB

Sumber: http://bantenraya.com/metropolis/7066-herayati-anak-si-tukang-becak-lulus-seleksi-itb

Herayati bersama ayahnya Sawiri tampak gembira menerima surat keterangan lulus tes dari ITB, Minggu (3/8).  (Sumber: http://bantenraya.com/metropolis/7066-herayati-anak-si-tukang-becak-lulus-seleksi-itb)

Herayati bersama ayahnya Sawiri tampak gembira menerima surat keterangan lulus tes dari ITB, Minggu (3/8). (Sumber: http://bantenraya.com/metropolis/7066-herayati-anak-si-tukang-becak-lulus-seleksi-itb)

GROGO -Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi Herayati untuk menambatkan cita-citanya setinggi langit. Bersatus sebagai anak tukang becak, Herayati (19) ternyata mampu lulus di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tinggal bersama keluarga kurang mampu menjadikan kebanyakan seseorang kurang bersamangat dalam meraih cita-cita setinggi langit dan memiliki pendidikan tinggi. Namun berbeda dengan Herayati, justru dengan latar belakang kurang beruntung, dia menjadi lebih bersemangat untuk terus belajar demi meraih cita-citanya. Tinggal di rumah sederhana di Lingkungan Masigit, Kelurahan Kotasari, Kecamatan Grogol dara berkerudung itu mempunyai cita-cita mulia. Meski penghasilan orangtuanya bisa dibilang sangat kurang, namun Hera begitu panggilannya bisa membuktikan kalau dirinya juga mampu bersaing dengan para pelajar lainnya yang lebih beruntung. Hal itu dibuktikannya dengan lolos tes di ITB Bandung.

Tentu tidak mudah untuk bisa lolos di institut ternama yang sudah banyak melahirkan para intelektual di Indonesia itu. Bahkan bagi para pelajar berduit sekalipun. Hanya bagi orang yang memiliki prestasi terbaik saja yang bisa masuk ke perguruan tinggi tersebut. Dalam sehari-harinya, Sawiri ayahanda Hera berprofesi sebagai tukang becak di sekitar wilayah Kecamatan Grogol. Penghasilannya pun tidak seberapa yakni hanya sebesar Rp 15.000. Jumlah tersebut tentu tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Apalagi untuk bisa menyekolahkan anaknya hingga bisa ke perguruan tinggi. Namun tidak ada yang tidak mungkin bagi Hera, dia percaya Allah maha kaya. Berkat kegigihannya dan semangat yang cukup kuat, Hera juga menginspirasi masyarakat sekitar dengan memberikan bantuan kepadanya agar bisa menggapai cita-citanya besarnya itu.”Selama ada ada kemauan, Insya Allah ada jalan. Saya yakin Allah maha kaya,” kata Hera kepada Banten Raya mantap, kemarin.

Bukan kebetulan Hera bisa diterima di ITB. Sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Pulomerak dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pulomerak, Hera selalu meraih rangking pertama. Hal itu berkat kerja keras dan semangat belajarnya selama ini. Dia juga tidak patah semangat ketika dirinya tidak lolos dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) ITB akibat nilai mata pelajaran raport yang nilainya cukup besar diragukan kebenarannya. “Waktu ikut SNMPTN ITB, panitianya tidak percaya kalau nilai saya di raport besar-besar. Akhirnya saya ikut tes tertulis dan akhirnya saya diterima,” terangnya.

Keberhasilan dirinya dalam belajar tidak lain karena inspirasi orangtuanya yang selama ini hidup dalam kesusahan. Dia menginginkan orangtuanya bisa hidup lebih baik. “Saya ingin merubah hidup orangtua saya dan ingin membangun daerah kelahiran saya,” kata Hera seraya menyatakan cita-citanya selama ini menjadi konsultan perusahaan. Sementara itu, Sawiri, ayahanda Hera mengaku sangat bangga terhadap anaknya tersebut. Dia mengaku tidak bisa berkata-kata apapun ketika Hera dinyatakan lulus di ITB Bandung. “Saya tidak bisa berbuat banyak selain berdoa kepada Allah untuk kesuksesan Hera,” ucapnya seraya meneteskan air mata.

Dibagian lain, Ketua Rukun Tetangga (RT) Masigit, Munirudin menyatakan, masyarakat sekitar sangat terinspirasi oleh kegigihan Hera yang begitu bersemangat dalam belajar, Sehingga dia bisa diterima di ITB. “Masyarakat sekitar dengan sukarela memberikan bantuan kepada Hera agar bisa berangkat ke Bandung melanjutkan kuliahnya. Saya juga akan ikut serta memperjuangkan Hera supaya mendapatkan beasiswa,” katanya. (USMAN TEMPOSO )

~~~~~~~~~~~~~~

Anak Tukang Becak Lolos Seleksi di ITB

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2014/08/07/250386/Anak-Tukang-Becak-Lolos-Seleksi-di-ITB-

Herawati menumpang becak orang tuanya. Foto: Radar Banten/JPNN.com

Herayati menumpang becak orang tuanya. Foto: Radar Banten/JPNN.com

CILEGON – Sawiri (62), seorang pengayuh becak asal RT 03 RW 01, Lingkungan Masigit, Kelurahan Kotasari, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon seperti tak percaya.

Putrinya, Herayati (19) dinyatakan lolos seleksi di Fakultas Matematika dan IPA Institut Teknologi Bandung (ITB). Prestasi itu membuat Walikota Cilegon Tb Iman Ariyadi rela meluangkan waktunya untuk menyambangi kediaman mereka.

“Awalnya setelah dia lulus sekolah itu, saya bingung dan tidak tahu harus berbuat apa karena dia (Herayati-red) kepingin kuliah,” ujar seperti dilansir Radar Banten, Kamis (7/8).

Namun berkat dorongan dari pihak Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pulomerak, tempat anaknya sekolah, ia nekad menuruti permintaan putri keduanya itu.

“Bagaimana mungkin menguliahkannya, sedangkan penghasilan saya saja dari narik becak cuma Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu per hari, itu juga tidak tentu. Kadang malah gak dapat sama sekali,” imbuhnya.

Potensi dan prestasi yang dimiliki Herayati selama iyang akhirnya meyakini pihak sekolah untuk memperjuangkannya masuk ITB.

“Tadinya ketika melihat nilai rapor Herayati, pihak ITB tidak mempercayainya. Tapi setelah lolos ujian tulis barulah mereka percaya,” ungkap Munirudin, Kepala MAN Pulomerak.

Pihak sekolah mencatat, sejumlah prestasi pernah diraih Herayati yang cukup membanggakan sekolah dan nama baik Pemerintah Kota Cilegon.

“Ia juga memiliki prestasi yang baik saat mengikuti olimpiade matematika tingkat nasional di Bandung beberapa waktu lalu,” bebernya.

Sementara itu, Herayati sendiri kepada awak media menerangkan prestasi yang ia raih selama ini merupakan bentuk bakti dan kecintaannya kepada orang tuanya selama ini.

“Kerja keras orang tua sebagai penarik becak sudah memotivasi saya selama ini. Dan saya meyakini, setiap ada keinginan pasti akan selalu ada jalan,” ucapnya. (**)

Dipublikasi di Seputar ITB | 11 Komentar