Bila Dosen ITB Ikut Deklarasi Dukungan Capres

Ini berita yang sudah agak basi (minggu lalu), tapi tatap hangat dibincangkan di milis kami, milis dosen ITB. Menjelang Pilpres 9 Juli 2014 nanti alumni ITB terbelah tiga. Ada yang mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi-JK dengan mengatasnamakan alumni ITB, ada pula yang mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo-Hatta juga atas nama alumni ITB. Di antara keduanya ada yang netral atau silence mass alias diam tidak menyatakan pendapat (tetapi dalam hatinya tentu sudah memiliki pilihan Capres yang akan dipilih).

Spanduk dukungan alumni ITB  kepada Jokowi-JK di area Dago Car Free Day

Spanduk dukungan alumni ITB kepada Jokowi-JK di area Dago Car Free Daya

Saya tidak akan ngomong lagi soal dukung mendukung Capres dengan mengatasnamakan alumni ITB, sudah capek ngomongnya. Pasti ada pro dan kontra, masing-masing pihak merasa diri benar dengan tindakannya. Tapi yang akan saya bahas di sini adalah tentang keterlibatan dosen PNS ITB dalam dukung mendukunng.

Tanggal 21 Juni 2014 ada insiden di depan kampus, di jalan Ganesha. Sekelompok mahasiswa atas nama KM-ITB membubarkan deklarasi dukungan alumni lintas perguruan tinggi (termasuk alumni ITB) kepada pasangan capres Jokowi-JK (baca ini: Dosen ITB Diduga Terlibat Aksi Dukung Jokowi-JK). Yang menarik adalah rupanya ada beberapa orang dosen ITB yang ikut dalam deklarasi itu, seperti saya kutip dalam berita pada tautan tersebut:

Indra Djati Sidi, misalnya, membenarkan statusnya sebagai dosen aktif di ITB. Dia mengaku tidak sendirian. “Ada banyak dosen di sini.” (Baca juga: Alumni ITB: Saatnya Kampus Melek Politik)

Dia mengklaim aksi deklarasi dukungan itu sebagai bagian dari hak kebebasan menyatakan pendapat yang dilindungi undang-undang.

“Kami menyatakan pendapat. Kita enggak jelek-jelekin orang. Kenapa tidak (boleh)? Saya bukan tim sukses. Saya bukan (sedang) kampanye. Saya bukan orang PDIP atau NasDem. Saya dosen. Tapi saat ini kita terpanggil untuk mengatakan sesuatu yang harus didengar oleh masyarakat,” kata Indra, yang juga alumni ITB angkatan 1972.”

Pertanyaannya, bolehkah dosen ITB (yang bersatatus PNS) ikut dalam aksi dukung-mendukung tersebut? Masalah ini menimbulkan pro dan kontra di lingkungan kami.

Seorang rekan berpendapat begini di dalam milis:

“Pada satu sisi, ada larangan PNS untuk berkampanye. Kalau hadir dalam kampanye? Kalau hadir dalam deklarasi dukungan kepada salah satu kandidat? Tidak boleh! Hadir di situ sama saja dengan mengkampanyekan salah satu kandidat. Apakah benar demikian?

Di sisi yang lain, negara menjamin hak setiap warganya untuk berpendapat, hak untuk memilih. Apakah boleh seorang PNS menyatakan secara terbuka, bahwa dia lebih menghormati salah satu calon daripada yang lain? Apakah boleh seorang dosen menyampaikan pandangan positifnya tentang salah satu calon? Dalam obrolan bersama beberapa mahasiswa misalnya? Ada yang berpendapat, hak itu diwujudkan lewat pemilu 9 Juli nanti, tapi tidak dengan menyampaikan pandangan pribadi secara terbuka.

Jadi, pegangan mana yang kita pilih? Larangan PNS untuk berkampanye, atau jaminan hak setiap warga untuk menyampaikan pendapat?”

Benar, memang ada larangan PNS ikut dalam kampanye. Ada edaran dari rektorat ITB tentang larangan bagi PNS terkait pemilihan Presiden, sesuai Pasal 4 Peraturan Pemerintah RI No. 53 Tahun 2010. Surat edaran tersebut dapat diunduh di sini.

Di dalam larangan tersebut tertulis aturan sebagai berikut:

edaran

Pasal 4 butir 13(b) berbunyi: Mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum …dst.

Menurut pendapat saya, mengikuti deklarasi dukungan kepada pasangan capres dapat dikatakan melanggar Pasal 4 butir 13(b) ini, sebab kegiatan dukungan tersebut mengarah keberpihakan terhadap pasangan calon yang menajdi peserta pemilu. Tetapi karena dosen PNS tidak mengadakan kegiatan deklarasi dukungan tersebut, cuma mengikuti, yang mengadakan adalah sekelompok orang lain, maka pasal tersebut masih multitafsir juga. Beginilah Indonenesia, aturan hukumnya bisa ditafsirkan bermacam-macam karena seringkali ambigu atau tidak jelas.

Saya pribadi sudah menyatakan dukungan saya kepada pasangan capres yang akan saya pilih (Prabowo-Hatta), tetapi hanya sebatas tulisan di dalam blog ini saja, termasuk juga saya menyatakan secara implisit dan ekspilit di dalam posting-posting jejaring sosial seperti Facebook. Saya masih tahu diri untuk tidak ikut-ikutan dalam kampanye, apalagi dalam deklarasi dukung mendukung seperti yang diberitakan di atas. Tidak perlu.

Dipublikasi di Seputar ITB | 13 Komentar

Media Mainstream Pendukung Capres

Pada Pilpres 2014 kali ini hampir semua media arus utama (mainstream), baik media cetak maupun televisi, telah berubah menjadi partisan. Mereka bertransformasi menjadi pendukung Capres tertentu, baik terang-terangan maupun secara halus. Publik dapat menilai kemana arah media tersebut dalam pemberitaannya, siapa yang didukung dan siapa yang diopinikan negatif. Sebagian pemilik media itu memang sudah dari awal mendukung Capres tertentu (misalnya Metro TV sebagai pendukung utama Jokowi dan TV One sebagai pendukung utama Prabowo).

Dukungan kepada Capres dapat dilihat dari jumlah berita yang ditayangkan tentang Capres tersebut, durasi penayangan (pada televisi), pemilihan foto, cara penyampaian berita, dan pemilihan narasumber. Terlihat sekali ketidakberimbangan media dalam menyampaikan berita. Capres yang satu dikesankan positif, Capres yang satu lagi dikesankan negatif. Yang dirugikan jelas pemirsa/pembaca sebab fungsi media sebagai sarana edukasi kepada pemilih menjadi tidak ada artinya lagi. Media saat ini sudah terjebak dalam perang opini untuk menyudutkan Capres yang tidak mereka dukung, bahkan media pun sudah menjadi tempat untuk kampanye hitam yang merugikan publik. Independensi media tinggal menjadi slogan yang masuk ke tempat sampah, media sebagai pilar keempat demokrasi hanyalah semboyan manis yang tidak punya arti apa-apa saat ini.

Dari pengamatan saya sebagai pemerhati media, maka di bawah ini saya sebutkan daftar media arus utama yang memihak kepada Capres tertentu.

A. Media TV
1. Media TV pendukung Jokowi: Metro TV
2. Media TV pendukung Prabowo: TV One, Anteve, semua TV di bawah MNC Group (Global TV, RCTI, TPI)

B. Media Cetak
1. Suratkabar pendukung Jokowi: Semua media di bawah Kompas-Gramedia (Kompas, Tribun), media di bawah Dahlan Iskan (Jawa Pos group), Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Media Indonesia, Koran Tempo.
2. Suratkabar pendukung Prabowo: Inilah Koran, Koran Sindo.
3. Majalah berita pendukung Jokowi: Tempo
4. Majalah berita pendukung Prabowo: tidak ada

C. Media Daring
1. Media daring pendukung Jokowi: Detik.com, Kompas.com, Tribunnews.com
2. Media daring pendukung Prabowi: Vivanews.com, Okezone.com, Inilah.com

Mungkin daftar ini masih bisa bertambah atau berkurang. Daftar ini tidak memasukkan media kecil, media berbasis agama, dan media alternatif lainnya. Kompas dan Tempo boleh saja membantah mendukung Jokowi, namun pembaca dapat menilai sendiri apakah bantahan tersebut bisa dipercaya. Tempo misalnya, pendiri Tempo yaitu Goenawan Mohamad sudah sejak awal menolak Prabowo dan keluar sebagai pendiri PAN. Dari berita-berita yang mereka tulis di majalah maupun media daringnya, terlihat sekali bagaimana Tempo lebih menonjolkan kubu Jokowi dan mengkerdilkan atau menegasikan Prabowo. Hal yang sama juga pada Kompas dengan melihat ketidakberimbangan berita yang mereka buat dan sudut pandang (angle) terhadap seorang Capres.

Contoh bagaimana Kompas terlihat berpihak kepada Jokowi dapat dilihat pada berita kampanye kubu Jokowi di Lampung. Hari Selasa yang lalu Kompas.com menurunkan berita dengan judul “Pilih jokowi kalau tidak mau masuk neraka” (lihat gambar kiri di bawah). Kampanye yang aneh ini ramai dibincangkan di jejaring sosial. Tentu saja berita di Kompas tersebut dapat memberi stigma negatif kepada Jokowi. Mungkin Kompas menyadari mereka telah melakukan blunder yang merugikan Jokowi, maka beberapa waktu kemudian berita tersebut diubah judulnya menjadi “Pilpres 9 Juli, jangan beli kucing di dalam karung” (gambar kanan). Isi beritanya sama, hanya judulnya saja yang diganti tanpa ada penjelasan atau ralat (Dua gambar tersebut saya peroleh dari milis).

kompas
Khusus untuk Republika, media ini tampak masih abu-abu dalam Pilpres. Meskipun Republika adalah media Islam, tetapi tidak serta merta koran ini mendukung Prabowo (dengan asumsi Prabowo didukung oleh banyak partai Islam). Republika masih agak berimbang, tetapi mungkin saja dugaan saya tidak benar.

Untuk media TV, dua TV berita seperti TV One dan Metro TV terlihat sekali nyata keberpihakannya. TV One sering menyerang kubu Jokowi dan mengambil narasumber yang menegasikan Jokowi. Sebaliknya Metro TV terlalu menyanjung-nyanjung Jokowi dan sangat frontal mengkerdilkan Prabowo.

Kalau media cetak berpihak masih bisa dimaklumi, sebab untuk mendapatkan beritanya kita harus membeli medianya. Tetapi untuk media TV keberpihakan ini menyalahi undang-undang, sebab saluran frekuensi yang dipakai oleh TV adalah saluran publik. Televisi tidak boleh menyalahgunakan frekuensi publik untuk kepentingan pemilik stasiun TV tersebut. Mereka harus menyajikan berita secara berimbang dan tetap netral. Namun di Indonesia masalahnya lain, sebab aturan dibuat untuk dilanggar.

Media, terutama media arus utama, mempunyai pengaruh besar membentuk opini publik. Ada sebagian orang yang termakan dengan penggiringan opini oleh media, namun sebagian lagi tetap tidak terpengaruh. Kunci utama menghadapi serangan media adalah kita harus cerdas membaca atau memirsa media. Jangan lekas percaya, namun jangan pula cepat menyimpulkan salah. Harus banyak mendengar dan membaca dari sumber lain sebagai penyeimbang.

Dipublikasi di Indonesiaku | 19 Komentar

Provokasi Lewat Media Sosial

Menjelang Pilpres yang tinggal dua minggu lagi saya mulai jengah membaca posting orang-orang pada media sosial. Maksud hati mereka memberi dukungan pada capres idola atau capres pilihannya, tetapi seringkali posting-an itu berisi kata-kata kotor, provokativ, kampanye hitam, dan menghina capres lainnya. Kalau sekedar membanggakan capres jagoannya sih nggak apa-apa, tetapi sampai merendahkan dan menghina capres yang lain itu sudah keterlaluan. Fanatik buta, begitu kira-kira istilah yang tepat untuk pendukung capres yang begini. Pendukung yang fanatik itu ada pada kedua kubu, baik kubu nomor 1 (Prabowo) maupun kubu Jokowi (nomor 2).

Memang Pilpres kali ini membuat bangsa Indonesia terbelah dua. Capres hanya dua saja, jadi polarisasi tidak terelakkan lagi. Sebagian mendukung Jokowi, sebagian lagi mendukung Prabowo. Tidak hanya rakyat yang terbelah dua, tetapi media baik yang mainstream maupun yang kacangan hampir semua sudah menjadi partisan, baik secara halus maupun terang-terangan. Sungguh sulit saat ini mencari media yang benar-benar berimbang dan netral dalam mengedukasi pembaca/pemrisanya. Menurut prediksi lembaga-lembaga survey, pertarungan Pilpres akan berlangsung sengit karena kedua calon memiliki kemungkinan menang fifty-fifty. Siapa yang menang tidak dapat diprediksi. Perbedaan elektabilitas keduanya semakin tipis meskipun Jokowi masih unggul sekitar tujuh hingga sepuluh persen.

Menurut yang saya amati, “pertengkaran” kedua pendukung dalam memenangkan jagoannya lebih banyak terjadi di jagad maya, khususnya di media sosial seperti Facebook dan Twitter. Sementara, rakyat sehari-hari di lapangan terlihat tenang-tenang dan rukun saja, mereka tidak meributkan perbedaan pilihan capres masing-masing. Yang ramai dan seru justru di media sosial. Tapi justru di media sosial itulah kebencian dan permusuhan terlihat sangat kentara.

Saking bernafsu mengkampanyekan jagoannya, netter menggunakan kata-kata kotor dan merendahkan lawan, serta mengolok-olok pendukung capres sebelah. Kasus Wimar Witoelar adalah contoh nyata, betapa seorang yang mengaku intelektual terkemuka mengirim posting berupa gambar yang melukai umat Islam melalui akunnya di Facebook dan Twitter. Gambar yang saya maksud dapat anda lihat pada berita lainnya di sini. Gambar yang di-posting oleh Wimar berisi gambar Prabowo yang disejajarkan dengan tokoh-tokoh teroris, mantan ketua partai-partai Islam, dan ustad seperti Aa Gym dan Gubernur Ahmad Heryawan. Celakanya logo Muhammadiyah dan beberapa ormas Islam lainnya yang netral dia masukkan ke dalam gambar tersebut, seolah-olah ormas-ormas tersebut adalah ormas jahat yang sejajar dengan teroris. Sungguh tidak bisa dimengerti orang sekelas Wimar melakukan perbuatan yang merendahkan dirinya sendiri.

Itu baru satu contoh saja, mungkin masih banyak kasus lain di dunia maya yang dilakukan oleh pendukung kedua kubu, baik pendukung yang nyata maupun siluman. Beberapa hari yang lalu saya menghapus pertemanan di Facebook dengan seorang friend yang sangat kelewatan. Saya sudah mengingatkan kepadanya tentang posting dia yang provokatif dan kata-kata yang merendahkan. Namun dia tidak peduli, dia tetap terus saja mengirim posting provokatif setiap hari. Tidak ada pilihan lain, saya terpaksa meng-unfriend dia daripada timeline saya berisi posting-an yang tidak bermanfaat dari pendukung capres yang fanatik buta dan membabi buta. Maaf ya teman, saya terpaksa menghapusmu di dunia maya, tetapi dalam dunia nyata kita baik-baik saja dan tetap berteman.

Dipublikasi di Indonesiaku | 4 Komentar

Masjid Salman 2 di Kampus ITB Jatinangor

Kemarin saya sholat Jumat di kampus ITB Jatinangor. Seorang teman mengajak sholat di Masjid Salman 2 yang terletak di depan kampus. FYI, bagi yang belum mengetahui, ITB sudah beberapa tahun ini mempunyai kampus 2 di kawasan Jatinangor, Sumedang (baca tulisan saya terdahulu: Berkunjung ke Kampus ITB Jatinangor).

Di Kampus ITB Jatinangor baru saja selesai dibangun masjid kampus yang diberi nama Masjid Salman 2. Disebut demikian karena masjid ini kembaran dari Masjid Salman di Kampus ITB Ganesha. Arsitekturnya mirip dengan Masjid Salman di Bandung, mulai dari bentuk bangunan hingga interior di dalamnya. Bentuk masjid Salman adalah kotak, tanpa kubah, dilengkapi dengan sebuah menara, dan lantainya yang khas dari kayu.

13062014169

13062014170

Tampak samping

Tampak samping

Nah, coba anda bandingkan dengan Masjid Salman di kampus Ganesha ini (Sumber foto: http://salmanitb.com/2012/08/06/masjid-terbaik/). Sekilas mirip.

Masjid Salman di kampus ITB Ganesha

Masjid Salman di kampus ITB Ganesha

Saya masuk ke dalam masjid untuk melihat interior di dalamnya. Kebetulan jamaah sholat Jumat belum banyak yang datang sehingga saya leluasa memotret beberapa sudut masjid dengan kamera ponsel.

Pintu masuk

Pintu masuk

Lantai dari kayu dan dinding depan (mihrab), persis seperti di Masjid Salman 1

Lantai dari kayu dan dinding depan (mihrab), persis seperti di Masjid Salman 1

Lantai 2 untuk jamaah wanita

Lantai 2 untuk jamaah wanita

Sisi sebalah kanan

Sisi sebalah kanan

Selasar depan yang lapang dan sejuk

Selasar depan yang lapang dan sejuk

Selasar samping

Selasar samping

Lantai dari kayu

Lantai dari kayu

Tangga ke lantai basement (tempat wudhu)

Tangga ke lantai basement (tempat wudhu)

Jamaah mulai datang

Jamaah mulai datang

Khusyu' mendengarkan khutbah Jumat

Khusyu’ mendengarkan khutbah Jumat

Jatos (Jatiangor Town Square) dan sebauh apartemen tampak dari kejauhan (dipandang dari samping masjid)

Jatos (Jatiangor Town Square) dan sebauh apartemen tampak dari kejauhan (dipandang dari samping masjid)

Jalan setapak menuju gedung-gedung di dalam kampus ITB

Jalan setapak menuju gedung-gedung di dalam kampus ITB

Semoga Masjid Salman 2 di Kampus ITB Jatinangor semakmur masjid induknya di Jalan Ganesha bandung.

Dipublikasi di Seputar ITB | 4 Komentar

Lompong Sagu, Kiriman dari Kampung Halaman

Teman saya yang baru pulang dari Padang membawa kiriman oleh-oleh yang tidak biasa, yaitu penganan tradisionil yang sudah lamaaaa sekali tidak saya temukan. Penganan itu bernama lompong sagu. Bagi generasi minang yang sudah lama hidup di perantauan, nama lompong sagu mungkin masih terkenang dengan baik. Lompong sagu adalah penganan yang terbuat dari tepung sagu, dicampur dengan gula merah, lalu dibakar di atas bara api. Sensasi bau harum dari pembakaran itulah yang membuat penganan ini menggugah selera.

Tiga bungkus lompong sagu di atas piring

Tiga bungkus lompong sagu di atas piring

Mau tahu isinya? Yuk, kita buka sebuah lompong sagu itu lalu potong dua untuk melihat bagain dalamnya. Ini dia:

Lompong sagu yang sudah dibelah

Lompong sagu yang sudah dibelah

Rasanya? Jangan ditanya lagi, rasa sagunya terasa banget, plus rasa manis dari gula merah. Konon gula merah yang terknal di Minangkabau adalah gula merah dari daerah Lawang, Kabupaten Agam. Saking terkenalnya lompong sagu dan gula lawang sampai ada lagu minang lawas yang populer pada tahun 60-an dan 70-an yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris, Oslan Husein, yang berjudul sama:

Lompong sagu

Lompong sagu, lompong sagu bagulo lawang – 2x
Di tangah-tangah, di tangah-tangah karambia mudo – 2x
Sadang katuju, sadang katuju diambiak urang – 2x
Awak juo, awak juo malapeh hao – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

Lompong sagu, lompong sagu bagulo saka – 2x
Elok dimakan, elok di makan lah jo tangan – 2x
Sadang katuju, sadang katuju kawan manyemba – 2x
Awak juo, awak juo mamangku tangan – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

Lompong sagu, lompong sagu bagulo lawang – 2x
Di tangah-tangah, di tangah-tangah karambia mudo – 2x
Sadang katuju, sadang katuju diambiak urang – 2x
Awak juo, awak juo malapeh hao – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

(Sumber lirik lagu: http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/07/31/lompong-sagu/)

Kalau ingin mendengar lagunya di Youtube, klik video ini:

Selama saya pulang kampung hampir tidak pernah bersua lompong sagu ini dijual di pasar-pasar tradisionil. Tapi untunglah sekarang ini, kata teman saya yang datang dari Padang itu, makanan tradisionil yang lama-lama itu sudah mulai dimunculkan kembali dan dijual di sentra tertentu di Padang. Contohnya lompong sagu yang dia beli itu.

Mau?

Dipublikasi di Cerita Ranah Minang, Makanan enak | 3 Komentar

Pilihan Capres Menurut “Orang-Orang Kecil” Di Sekitar Saya

Ini masih cerita tentang Pemilu ya. Siapa presiden yang akan dipilih oleh orang-orang kecil di sekitarmu pada Pilpres 2014? Saya akan menceritakan pilihan Presiden orang-orang kecil yang berinteraksi dengan saya. Orang-orang kecil yang saya maksud adalah loper koran langganan, tukang antar gas, penjual tahu keliling, dan pramukantor (office boy). Menarik juga mengetahui siapa capres yang akan dipilih oleh mereka. Apakah mereka terpengaruh oleh hasil-hasil lembaga survey yang selalu mengopinikan bahwa Jokowilah yang elektabilitasnya paling tinggi dan diprediksi akan menag?. Apakah pilihan mereka juga sama?

******************

Suatu pagi loper koran langganan mengantarkan koran ke rumah seperti biasanya. Hari itu saya membayar uang langganan bulanan. Sembari menulis kwitansi, dia bertanya kepada saya.

Loper koran langganan: “Milih siapa nanti, Pak.”

Saya: “Yang tegas, berani, dan berwibawa.”

Loper koran: “Sama pak, saya juga pilih Prabowo.”

Heran, padahal saya tidak menyebut nama lho, tapi kok tukang koran itu tahu saja. Selanjutnya dia menjelaskan kenapa dia memilih Prabowo. Alasanya mungkin naif bagi sebagian orang, tetapi itulah pandangan dia (tidak saya kemukakan di sini alasannya).

****************

Suatu siang di kantor, ketika saya naik lift ke lantai empat, seorang pramukantor (OB) juga ikut di dalam. Dia sedang membawa sebuah majalah TEMP* edisi terbaru yang cover-nya menggambarkan capres yang disebut satria berkuda (Prabowo menunggang kuda). Majalah itu pesanan seorang teman yang meminta tolong kepadanya dibelikan di kios koran. Tertarik dengan cover majalah itu, saya pun iseng-iseng bertanya siapa “jagoannya”.

Say: “Eh pak, nanti milih siapa, nih?”

OB: “Yang ini pak” (sambil tangannya menunjuk gambar seorang satria berkuda di majalah TEMP* edisi terbaru).

Saya: “Kenapa?”

OB: “Tegas orangnya. Sekeluarga saya akan milih dia”.

Apakah kebanyakan orang kecil di sekitarmu berpikiran sama dengan OB tadi? Artinya, ketegasan dan kewibawaan adalah pesona yang pertama dinilai mereka ketimbang visi dan misi, program, pencitraan, blusukan, apapun itu. Visi misi dan program mungkin hanya konsumsi yang orang-orang “pintar”, sedangkan bagi orang kecil seperti dia yang dilihat adalah sisi lain (ketegasan dan keberanian) yang selama ini mungkin tidak ada pada presiden sekarang yang dikenal peragu.

*******************

Gas di rumah saya habis. Saya pun menelpon tukang gas langganan untuk mengantarkan gas ke rumah. Sembari dia memasang gas, naluri rasa ingin tahu saya pun muncul, sekadar ingin tahu saja.

Saya: “Siapa jagoan mang waktu Pilpres nanti?”

Tukang gas: “Ya Prabowo lah”.

Mantap sekali dia menjawab. Dia sudah punya pilihan rupanya. Sepertinya orang-orang kecil itu sudah punya pilihan dan preferensi masing-masing, maka kampanye dan pemberitaan masif di media tentang seorang capres tidak punya pengaruh apa-apa pada pilihannya.

*****************

Tadi pagi saya ngobrol dengan tukang tahu keliling yang selama ini mengantarkan tahu ke rumah. Saya pun iseng ingin tahu siapa capres yang ada dalam pikirannya.

Saya: “Sudah punya jagoan di Pilpres nanti, Mang?”

Tukang tahu: “Ah, belum. Nanti wae, tergantung siapa yang bisa menjanjikan yang menarik. Kalau bapak, siapa?”.

Saya: “Prabowo”

Tukang tahu: “Oh iya, saya juga mau milih yang itu”.

Saya: “he..he..he” (rupanya mang tukang tahu malu-malu mau menyebutkan).

********************

Dari cerita-cerita di atas, saya menangkap kesan jangan-jangan banyak orang kecil di sekitar kita diam-diam punya pilihan ke satria berkuda. Mungkin saja kesimpulan saya tidak benar, mungkin saja perampatan (generalisasi) saya terlalu naif. Saya hanya memotret realita yang ada di sekitar saya. Sebagai pembanding, cobalah anda melakukan survey kecil-kecilan dengan bertanya kepada orang-orang kecil di sekitarmu, seperti pembantu, tukang ojek, mang becak, kuli bangunan, ibu-ibu arisan, dan lain-lain, kira-kira pilihan mereka condong kemana?

Selama ini lembaga survey paling getol mengopinikan capres tertentu (Jokowi), seolah-olah capres inilah yang akan menang mutlak. Namun, berkaca dari hasil Pileg kemarin, ternyata Jokowi effect sama sekali tidak terbukti. Kemana silent majority yang selama ini tidak dibidik oleh lembaga-lembaga survey? Ternyata suara silent majority tidak bersesuaian dengan keinginan lembaga-lembaga survey itu.

Apakah pada Pilpres 2014 nanti silent majority yang mayoritas masyarakat kecil akan mengambil pilihan berbeda dari yang selama ini diopinikan media dan banyak lembaga survey? Wallahu alam bissawab, kita akan melihat hasilnya pada tanggal 9 Juli nanti.

Dipublikasi di Indonesiaku | 105 Komentar

Jokowi-JK atau Prabowo-Hatta, Pilih yang Mana?

Inilah pertanyaan yang menyelimuti banyak orang Indonesia menjelang Pilpres ini: siapa yang akan dipilih? Dua calon Capres-Cawapres akan adu head-to-head karena hanya ada dua pasang calon Presiden dan Wakil Presiden yang bertarung pada Pilpres 2014. Jokowi dan Jusuf Kalla diusung oleh PDIP, Nasdem, PKB, dan Hanura, sedangkan Prabowo dan Hatta Rajasa diusung oleh Gerindra, PAN, PKS, PPP, Golkar, dan PBB. Agaknya format Jawa-Luar Jawa masih menjadi jurus ampuh untuk memilih pasangan dan menarik pemilih.

Capres

Terus terang kedua pasang Capres dan Cawapres ini adalah pilihan yang kurang bagus, punya plus dan minus. Agak sulit menentukan mana yang akan dipilih, tetapi pada akhirnya nanti kita harus memilih yang terbaik dari yang terburuk.

Jokowi memang pemimpin yang tampil sederhana, tetapi bukan berarti dia tanpa kekurangan. Dia dipersepsikan sebagai pemimpin yang ingkar janji. Belum selesai menjalankan amanahnya sebagai Walikota Solo, loncat ke Jakarta, baru dua tahun di sebagai Gubernur Jakarta dia sudah loncat menjadi Capres. Kinerjanya sebagai Gubernur DKI belum terlihat benar hasilnya, tetapi dia tinggalkan tanggung jawabnya sebagai gubernur karena tergiur menjadi Presiden RI. Belum lagi isu Jokowi yang disetir oleh Megawati, seakan-akan Jokowi adalah presiden boneka. Setidaknya itu yang terekam dalam benak publik tentang sosok beliau.

Dari pengamatan saya selama ini, CMIIW, banyak kelompok Islam tidak menyukai Jokowi karena lingkaran orang-orang disekelilingnya. Jokowi diusung terutama oleh PDIP. Bagi kelompok Islam, PDIP adalah partai yang dinilai tidak akomodatif terhadap aspirasi ummat Islam karena di partai ini berkumpul orang-orang berpaham sekuler liberal (sekarang ditambah dengan kelompok Syiah). Partai ini di parlemen sering menjegal RUU yang berkaitan dengan kelompok muslim, misalnya RUU Sisdiknas, RUU Pornografi, RUU Jaminan Produk Halal, RUU Perbankan Syariah, dll. Karena itu kelompok-kelompok Islam selalu menjaga jarak atau menjauhi PDIP. Untuk sebagian alasan juga dapat disangkutkan pada partai Nasdem besutan Surya Paloh.

Untunglah kelemahan dan kekurangan Jokowi ini sebenarnya dapat ditutupi oleh kehadiran Jusuf Kalla. Jusuf Kalla yang berlatar belakang muslim taat (dia mantan HMI, pengurus DMI, dan juga berlatar belakang NU) dapat melengkapi Jokowi apabila nanti dia terpilih menjadi Presiden. Jusuf Kala dapat mengingatkan Jokowi apabila kebijakannya dianggap merugikan kelompok muslim. Andai saja Capresnya Jusuf Kalla dan wapresnya Jokowi, pasti pasangan ini yang akan saya pilih. Untuk sementara cukup “amanlah” meninggalkan Jokowi dengan Jusuf Kalla andai benar mereka yang terpilih nanti.

Namun Jusuf Kalla bukannya tanpa kelemahan. Usianya yang mendekati 70 yang sudah melewati 70 dianggap sudah terlalu tua menjalankan tugas sebagai Wapres, khawatir saja kinerjanya tidak maksimal.

Lain Jokowi lain pula masalah dengan Prabowo. Prabowo selalu dikaitkan dengan isu pelanggaran HAM, yaitu kasus penculikan aktivis pada tahun 1998. Bahkan seolah-olah seluruh peristiwa kerusuhan 1998 selalu ditimpakan kepadanya. Meskipun kasus itu sendiri masih misteri dan simpang siur, namun kelompok penolak selalu menggunakan isu ini untuk menghantamnya. Ini sebenarnya isu basi yang selalu diulang-ulang setiap lima tahun. Anehnya ketika dia menjadi Cawapres Megawati pada tahun 2009 isu penolakan tidak sekencang hari ini, dan Megawati pun tidak mempermasalahkannya waktu itu. Wallahu alam, saya sendiri juga tidak tahu tahu kebenaran apakah memang dia terlibat dengan kasus penculikan tersebut atau hanya isu. Yang dapat kita ketahui hanyalah tulisan-tulisan yang menuduhnya sebagai otak pelaku penculikan. Ah, biarlah, sejarah ditentukan oleh orang-orang yang menuliskannya, dan sejarah ditulis oleh orang-orang dengan berbagai kepentingan. Meskipun demikian, bagi kelompok Islam Prabowo dianggap orang yang banyak jasanya pada Islam pasca lengsernya Pak Harto tahun 1998 itu 80-an.

Hatta Rajasa sebenarnya dapat melengkapi kekurangan Prabowo dari segi Pemerintahan. Hatta adalah teknokrat yang handal, selain itu dia berlatar belakang agama yang kuat seperti halnya Jusuf Kalla (dari Muhammadiyah dan aktivis Masjid Salman ITB). Namun Hatta juga punya titik lemah, yaitu kasus kecelakaan anaknnya yang terkesan diistimewakan oleh polisi.

Sudah saya paparkan plus minus kedua pasang capres dan cawapres tersebut. Tidak ada pasangan yang ideal untuk dipilih, namun saya juga tidak mau golput. Salah satu pasangan pasti saya pilih. Inysa Allah saya menjatuhkan pilihan pada Prabowo-Hatta untuk saya pilih nanti karena pertimbangan negara ini membutuhkan pemimpin yang tegas, berani, dan berwibawa. Indonesia yang besar sudah lama menjadi bulan-bulanan negara asing, tidak berdaya, dan tidak berdaulat. Bahkan terhadap negara kecil seperti Singapura saja kita takut. Pada era globalisasi yang kompleks dan penuh tantangan berat kita butuh pemimpin yang berani mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, tidak seperti Pak Beye yang lembek dan tidak tegas. Apalagi pada tahun depan kita memasuki era pasar bebas, jika pemimpinnya mencla-mencle, maka bukan mustahil negara kita menjadi halaman belakang Asia. Jokowi saya lihat tidak punya keberanian seperti itu. Bagaimana memilih prsiden yang merupakan petugas partai jika untuk mengambil keputusan nanti dia berada dalam bayang-bayang Megawati.

Sosok yang tegas, berani, dan berwibawa itu saya lihat ada pada diri Prabowo. Insya Allah.

Dipublikasi di Indonesiaku | 87 Komentar