Catatanku

Ada Apa Tanggal 9 Desember 2009?

8 Desember 2009 · & Komentar

Besok, 9 Desember 2009, saya berncana ke Jakarta untuk suatu urusan. Namun, setelah membaca berita bahwa tanggal 9 Desember 2009 akan ada demo besar-besaran dalam rangka Hari Anti Korupsi internasional, maka saya mengurungkan niat itu. Saya sih tidak takut ada kerusuhan di Jakarta, seperti isu yang dilansir di media ini. Yang yang saya khawatirkan adalah macet, cet, cet, …. yang ditimbulkan oleh ratusan ribu orang yang akan mengadakan aksi demo di jalan-jalan ibukota. Jadi, daripada terkurung kemacetan parah, ya udah tidak usah ke Jakarta saja.

Sebelumnya SBY sudah me-warning akan ada aksi sosial besar-besaran pada tanggal 9 Desember. Posisi SBY memang tidak nyaman saat ini, sebab kasus Bibit-Chandra dan terakhir kasus Bank Century seperti diarahkan kepada dirinya, partainya, dan keluarganya untuk menggoyang Pemerintahannya. Maka, wajar saja jika SBY “panas dingin” menunggu apa yang akan terjadi pada tanggal 9 besok.

Betulkah ada kerusuhan besok? Saya rasa tidak. Orang Jakarta sudah belajar dari peristiwa kerusuhan Mei 1998 yang telah menyusahkan banyak orang. Hanya orang-orang yang tidak senang Jakarta aman saja maka dilemparlah isu bakal ada kerusuhan, jangan keluar rumah pada tanggal 9 Desember, toko-toko tutup, kantor-kantor diliburkan. Para penentang SBY memang menggunakan tanggal 9 Desember 2009 sebagai momentum untuk menyiapkan “amunisi” melawan SBY. Dan perusuh juga memanfaatkan momen ini untuk menciptakan kerusuhan besar, yang pada ujungnya adalah melakukan penjarahan (motif ekonomi), menebar kebencian kepada etnis Tionghoa (motif rasial), dan entah apa lagi maksudnya. Para perusuh sepertinya tidak ingin Indonesia ini aman tentram sehingga sekali-kali melakukan shock therapy yang ongkos sosialnya sangat mahal.

Semoga saja Jakarta dan Indonesia aman-aman saja besok. Tidak ada yang perlu ditakutkan.

→ 3 CommentsKategori: Indonesiaku

Hanya di Indonesia yang Ada Begini

4 Desember 2009 · & Komentar

Mengisi akhir pekan, nikmati sejenak foto-foto unik yang lucu ini. Saya peroleh dari sebuah milis. Foto-foto tersebut bersumber di situs ini. Komentar saya: hanya di Indonesia yang ada beginian. Bisaaa… aja orang yang memotretnya ya.

Klik gambar untuk melihat lebih besar dan selamat tertawa.

1. Hanya di Indonesia yang jual ES PANAS

2. Hanya di Indonesia anak majikan dianggap sebagai herder

3. Hanya di Indonesia binatang malu difoto ama manusia

4. Hanya di Indonesia orang bisa jadi polisi dan tukang becak dalam waktu yg bersamaan

5. Hanya di Indonesia ada anjing yang berani gigit ketua RT

5. Hanya di Indonesia Nokia mendistribusikan produk sendalnya

6. Hanya di Indonesia kasih sayang seorang ibu bisa kalah dengan kasih sayang seorang pembantu

7. Hanya di Indonesia ada orang yg curhat saat banjir

8. Hanya di Indonesia yang mempuyai kembaran Presiden US

9. Hanya di Indonesia ada yang bisa menyaingi KFC (Kentucky Fried Chicken)

10. Hanya di Indonesia yg memadukan IT dengan cara Tradisional

11. Hanya di Indonesia kita bisa nabung sembari makan bakso

12. Hanya di Indonesia ada Bis Kota yg bisa dimakan

13. Hanya di Indonesia supirnya ada yg bekas penulis puisi

14. Hanya di Indonesia ada minuman berdosa

15. Hanya di Indonesia orang dilarang untuk tidur di bawah mobil

16. Hanya di Indonesia ada yg jual switter

17. Hanya di Indonesia motornya bisa dinaiki lebih dari 5 orang

18. Hanya di Indonesia yang punya nama tempat seperti ini

19. Hanya di Indonesia kotak suratnya sebesar gini

20. Hanya di Indonesia ada larangan merokok seperti ini

21. Hanya di Indonesia ada cabang Starbucks Coffee buat kalangan bawah

22. Hanya di Indonesia yang pakai peringatan meyakinkan pembelinya seperti ini

23. Hanya di Indonesia ada asbak terbesar sejagat raya

24. Hanya di Indonesia bisa parkir seenaknya

25. Hanya di Indonesia ada saingan Mak Erot

→ 5 CommentsKategori: Indonesiaku

“Counter Down” Prapatan Penghilang Ketidaksabaran

3 Desember 2009 · & Komentar

Akhirnya di Bandung dipasang juga pencacah hitung mundur (counter down) lampu lintas. Pengalaman banyak orang, kalau berhenti di jalan karena lampu merah sedang menyala, seringkali pengendara ngedumel, tidak sabaran menunggu lampu hijau menyala. Kok lama sekali lampu merahnya? Untunglah sekarang pada traffic light di beberapa prapatan jalan dipasang pencacah hitung mundur sehingga pengendara bisa tahu berapa lama lagi lampu merah akan berakhir.

Foto di bawah ini lampu lintas dengan pencacah hitung mundur di pertigaan Gedung Sate (cuaca lagi cerah):

Kalau yang ini di perempatan Jalan Merdeka (lagi mendung):

Keberadaan pencacah hitung mundur itu dapat mengurangi efek psikologis bagi pengendara yang sering dilanda ketidakpastian kapan lampu merah berakhir. Jadi, kalau melihat pencacah melakukan hitung mundur, pengendara tidak merasa bete lagi. Sebenarnya kota Bandung termasuk telat mengimplementasikan pencacah hitung mundur ini, di kota lain itu sudah biasa ditemukan (atau saya yang “kuper” sehingga baru tahu sekarang?). Emang sih, belum semua prapatan lampu lintas dipasang pencacah ini. Nggak apalah telat, lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

→ 7 CommentsKategori: Seputar Bandung

Tidak Patah Arang Menggoyang SBY

1 Desember 2009 · & Komentar

Duh, bumi Indonesia gonjang-ganjing lagi. Usai “sinetron” KPK atau yang lebih dikenal dengan kasus Bibit-Chandra, publik dihadapkan lagi dengan “sinetron” baru, yaitu Kasus Bank Century. Di gedung DPR yang megah sekarang ini sedang ramai pengguliran hak angket skandal Bank Century, sementara di “parlemen jalanan” berlangsung demo dan aksi unjuk rasa yang tidak kalah heboh terkait skandal ini.

Seperti yang kita baca, dengar dan lihat di media massa, ini kasus yang besar, sebab pengucuran dana senilai Rp 6,7 Trilyun (sekali lagi 6 T) untuk menyelamatkan sebuah bank yang tidak terlalu dikenal, yaitu Bank Century, ternyata menyalahi aturan. Sasaran bidik para anggota dewan maupun aksi unjuk rasa itu siapa lagi kalau bukan Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani. Boediono dianggap bertanggung jawab karena saat itu dia menjabat sebagai Guberbur Bank Indonesia, sedangkan Sri Mulyani adalah Menteri Keuangan saat itu.

Bagi para penentang SBY, mereka mendapat energi lagi untuk menggoyang –kalau bisa menjatuhkan — pemerintahan SBY, setelah sebelumnya usaha mereka untuk menciptakan people power melalui kasus Bibit-Chandra ternyata gagal. Pada kasus Bibit-Chandra, hampir saja terjadi people power seperti saat kejatuhan Presiden Soeharto dulu, namun ternyata SBY menyelesaikan kasus dengan cukup elegan, yaitu melalui jalur di luar pengadilan. Semula, yang diharapkan oleh penentang SBY adalah SBY mengintervensi pengadilan untuk menghentikan kasus ini, lalu mencopot Kapolri dan Jaksa Agung. Namun SBY tidak melakukannya, sebab jika SBY mengintervensi pengadilan maka berarti SBY melakukan pelanggaran hukum. Jika ini terjadi, maka para penentang SBY dengan mudah menyeret SBY sebagai seorang pelanggar hukum, dan ujung-ujungnya adalah impeachment.

Setelah gagal menggoyang SBY melalui kasus Bibit-Chandra, kini para penentang SBY kembali mendapat semangat baru melalui kasus Bank Century. Mereka mulai menyiapkan amunisi dan merapatkan barisan untuk membuat pemerintahan SBY menjadi tidak stabil. Usaha pertama adalah mewacanakan agar Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani menonaktifkan diri atau kalau bisa mengundurkan diri supaya proses investigasi kasus Bank Century bisa berjalan lancar. Argumen mereka adalah jika Boediono dan Sri Mulyani tidak mau non-aktif, maka kedua orang ini akan menjadi beban bagi Pemerintahan SBY.

Bagi orang atau kelompok orang yang tidak menyukai Boediono sejak kampanye Pilpres yang lalu — dengan berbagai isu yang mendera pribadinya — maka kasus ini juga membangkitkan kembali bara api ketidaksukaan yang sempat hampir padam. Mereka ikut bergabung dengan para penentang SBY, hanya saja tujuan mereka berbeda. Jika penentang SBY ujung-ujungnya ingin SBY jatuh, maka penentang Boediono hanya ingin Boediono saja yang terkapar, sembari menunjukkan bahwa memilih Boediono ternyata adalah pilihan yang salah. Tuh, mengapa dulu pilih Boediono, begitu kira-kira yang ingin mereka katakan.

Jika meminta Boediono dan Sri Mulyana mundur ternyata tidak mempan, maka usaha kedua adalah menghubungkan kasus Bank Century ini dengan Partai Demokrat dan keluarga SBY. Dibuatlah wacana bahwa tim kampanye Partai Denokrat, tim Sukses SBY, dan putera SBY menerima aliran dana dari kasus Bank Century ini. Meskipun SBY berkali-kali membantah, namun isu ini sudah terlanjur meletup menjadi bola panas.

Hiii… kalau sudah begini ceritanya, maka dipastikan dunia sosial politik di Indonesia makin tambah hingar bingar saja. Kita tidak tahu siapa yang benar dalam kasus ini, karena kita rakyat jelata ini hanya penonton “sinetron” yang baik saja. Setiap saat kita disuguhi “sinetron” skandal hukum yang tidak habis-habisnya, yang membuat citra Indonesia makin terpuruk di mata dunia. Indonesia sebagai negeri sarang koruptor dan makelar kasus. Wah…

→ 5 CommentsKategori: Indonesiaku

Ismail atau Ishaq yang “Disembelih” oleh Nabi Ibrahim?

28 November 2009 · & Komentar

Hari Raya Idul Adha sudah lewat satu hari. Tidak ada salahnya kita mengenang kembali peristiwa ribuan tahun yang lampau, ketika Nabi Ibrahim a.s melalui mimpinya diminta oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya yang sangat dia sayangi. Nabi Ibrahim memiliki 2 orang anak dari dua istri yang berbeda, yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishaq. Pertanyaannya, siapa yang disembelih oleh Ibrahim? Apakah Nabi Ismail atau Nabi Ishaq?

Seperti yang kita ketahui, Nabi Ibrahim adalah bapak dari 3 agama samawi, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam. Dari keturunannya melahirkan para nabi. Dari keturunan Ishaq lahir Nabi Musa dan Nabi Isa, dan dari keturunan Ismail lahir Nabi Muhammad. Karena itu, tidak heran jika kisah penyembelihan oleh Ibrahim (Abraham) juga terdapat di dalam kitab Perjanjian Lama yang diyakini sebagai (salah satu) kitab suci agama Yahudi dan Nasrani. Hanya saja, di dalam Kitab Perjanjian Lama dengan tegas disebutkan bahwa putera Ibrahim yang disembelih itu adalah Ishak(q).

Dikutip dari tulisan ini, berbeda dengan Kitab Perjanjian Lama, Alquran tidak tegas menyebutkan siapa putra Nabi Ibrahim yang disembelih, apakah Ismail atau Ishaq. Sebagian besar para ahli tafsir meyakini — sebagaimana yang diyakini oleh hampir semua umat Islam — bahwa yang disembelih itu adalah Ismail. Namun, pendapat yang menyatakan bahwa Ishaq yang disembelih juga tidak bisa dikesampingkan. Siapapun yang disembelih, peritiwa ini menunjukkan betapa Allah SWT menguji Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra yang sangat dia kasihi. Pada akhirnya memang tidak terjadi penyembelihan anak manusia, karena Allah SWT menggantinya dengan qibas (semacam domba) sebagai bukti pengorbanan Nabi Ibrahim a.s dan sebagai bukti Nabi Ibrahim beriman kepada-Nya.

Di bawah ini saya kutip semua tulisan yang saya baca sebagai referensi tulisan ini. Sumbernya adalah pranala yang tadi saya sebutkan.

Drama Qurban: Ismail atau Ishaq?

Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar

Alquran tidak tegas menyebutkan siapa putra Nabi Ibrahim yang disembelih, apakah Ismail atau Ishaq? Sementara dalam hadis dan pendapat sahabat dan tabiin ada yang menyebutkan Ismail ada pula menyebut Ishaq.

Dalam kitab-kitab tafsir juga ada yang menyebut Ismail dan lainnya menyebut Ishaq. Dalam dunia Islam yang masyhur disembelih ialah Ismail sedangkan di dunia Yahudi dan dalam Kitab Perjanjian Lama tegas-tegas disebutkan yang disembelih ialah Ishaq.

Ayat yang berbicara khusus tentang kasus penyembelihan putra nabi Ibrahim ialah QS Al-Shaffat [37]:102-105. Ayat ini mengisahkan bahwa ketika putranya telah mencapai umur baligh, Ibrahim AS bermimpi mendapat perintah untuk menyembelihnya. Ketika itu, anaknya belumlah menjadi seorang nabi. An-Nasafi dan Ibnu Katsir mencatat bahwa putranya kala itu berumur 13 tahun.

Setidaknya, ada beberapa nama sahabat yang meriwayatkan bahwa yang disembelih adalah Ismail. Sahabat-sahabat tersebut adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan Abu at-Thufail ‘Amir bin Watsilah.

Adapun pendapat kedua yang menyebut Ishaq yang disembelih juga diriwayatkan oleh beberapa sahabat, yaitu: ‘Umar bin Khathab, Jabir, al-’Abbas, dan Ka’ab al-Akhbar. Dalam hal ini, sederet mufassir seperti Wahbah az-Zuhaili, ar-Razi, at-Thabrisi, Thabathabai, al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Thabathabai, an-Nasafi, Sa’id Hawa’, Thahir ibnu ‘Asyur dan selainnya menguatkan pendapat pertama.

Ada beberapa argumentasi yang dipaparkan untuk mendukung pendapat pertama itu, yaitu:

Pertama, anak yang menggembirakan Ibrahim untuk pertama kali atas kelahirannya adalah Ismail. Adapun Ishaq lahir setelah Ismail. Dengan demikian, Ismail adalah anak tertua dan yang disembelih. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Ismail dilahirkan, Ibrahim berumur 86 tahun, sedangkan sewaktu Ishaq lahir, Ibrahim berumur 99 tahun.

Kedua, riwayat dari al-Hakim dalam al-Manaqib yang menyebutkan bahwa Nabi SAW bersabda: saya adalah keturunan orang yang disembelih yaitu Ismail yang kemudian lahir Nabi Muhammad melalui jalur Abdullah.

Ketiga, riwayat dari al-Ashma’i bahwa Ismail yang berada di Makkah dan Ishaq tidak pernah di sana. Ismail membangun Ka’bah bersama ayahnya, Ibrahim.

Keempat, Allah menyifati Ismail dengan as-shabr (sabar), sedangkan Ishaq tidak demikian, sebagaimana tertera dalam QS Al-Anbiya’ [21]:85, ”Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli, semua mereka termasuk orang-orang sabar.”

Adapun pendukung pendapat kedua bahwa Ishaq yang disembelih mengajukan beberapa alasan, yaitu:

Pertama, pada ayat QS As-Shaffat [37]:99 disebutkan, ”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Maksudnya ialah Ibrahim berhijrah dari negeri kaum yang telah menyakitinya lantaran fanatik terhadap sesembahan-sesembahan yang berupa patung dan atas kekufuran kepada Allah dan kedustaan pada rasul-rasul-Nya.

Ibrahim hijrah ke Syam. Di sana ia berdoa agar dianugerahi seorang anak saleh yang dapat memotivasinya untuk senantiasa taat kepada Allah. Untuk itu, Allah menggembirakannya dengan seorang anak yang sangat sabar. Anak tersebut, menurut mereka, adalah Ishaq.

Kedua, tulisan Ya’qub ke Yusuf, ”Dari Ya’qub Israil Nabi Allah putra Ishaq yang disembelih Allah putra Ibrahim Khalilullah.”

Ketiga, sebuah riwayat shahih yang bersumber dari Abdullah bin Mas’ud bahwa seseorang berkata kepadanya: ”Wahai anak orang tua yang mulia.” Abdullah bin Mas’ud berkata: Orang itu adalah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq sembelihan Allah bin Ibrahim Khalilullah ‘alaihissalam. (Wahbah az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir, Juz XXIII, h. 126).

Perintah kepada Ibrahim untuk menyembelih anaknya adalah perintah ujian, bukan tasyri’ yang dimaksudkan untuk dilihat kesungguhan orang yang diuji dan meneguhkan ketinggian martabatnya dalam menaati Allah. Perintah tersebut diperoleh melalui mimpi.

Lazim diketahui bahwa mimpi para nabi merupakan wahyu. Adapun hikmah adanya semacam ‘musyawarah’ yang dilakukan Ibrahim terhadap putranya seputar mimpinya itu adalah untuk melihat sejauh mana kesabaran dan ketabahan putranya tersebut dalam menaati perintah Allah.

Dan hikmah terjadinya perintah ini dalam mimpi dan tidak dalam keadaan tersadar atau terbangun bisa dijelaskan dari beberapa sudut pandang, yaitu:

Pertama, perintah ini sangatlah sulit di sisi si penyembelih dan yang disembelih, sehingga dihadirkan dalam mimpi selama tiga malam sebelum dikuatkan dalam kondisi sadar. Dengan demikian, perintah itu tidak langsung diyakini sekaligus tetapi sedikit demi sedikit.

Kedua, Allah menjadikan mimpi para nabi sebagai sebuah kebenaran, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat Alquran seperti mimpi Yusuf, Ibrahim, dan Muhammad. Maksud dari mimpi tersebut adalah untuk menegaskan akan kebenaran mereka.

Pasalnya, kondisi yang dialami oleh setiap insan–pada umumnya–adalah tertidur atau tidak tertidur. Jika kedua kondisi tersebut menunjukkan kebenaran, maka itu menjadi bukti nyata bahwa mereka adalah benar dan jujur di setiap keadaannya.

Dari satu sudut pandang, referensi syariah terhadap penyembelihan adalah mimpi. Hanya saja mimpi para nabi pada umumnya benar, apalagi sudah dilegitimasi dalam bentuk wahyu Alquran. Yang dipegang adalah ayatnya, bukan asal-usulnya dari mimpi.

Ketika Nabi Ibrahim berusaha untuk menyembelih anak kesayangannya (Ismail atau Ishaq) akhirnya juga tidak bisa dilaksanakan karena ketajaman pisau tidak sanggup melukai kulit leher anaknya. Akhirnya, malaikat diutus untuk mengganti sembelihan Ibrahim dari putranya ke dalam bentuk seekor kambing.

Dengan demikian, peristiwa hari raya Idul Adha atau Idul Kurban merupakan simbol penghargaan jiwa manusia yang ditebus dengan seekor binatang. Makna simbolik lain yang bisa kita pahami dari peristiwa ini ialah kesediaan seseorang untuk mengurbankan sesuatu yang paling berharga baginya.

Bagi Nabi Ibrahim, putra gantengnya yang sudah lama didoakan keberadaannya diminta untuk dikorbankan pada jalan Allah dan dia pun bersedia dan sudah melaksanakan perintah itu. Bagi kita, boleh jadi sesuatu yang paling kita cintai adalah harta kekayaan, semisal deposito, rumah mewah, dan kekayaan lainnya. Sudahkah kita bersedia melepaskan itu semua ke jalan Allah?

→ 7 CommentsKategori: Agama

Prof. Akhmaloka, Ph.D., Rektor Baru ITB 2010-2014

24 November 2009 · & Komentar

Tadi pagi baca berita di koran PR: rektor baru ITB sudah terpilih. Beliau adalah Prof. Ahkmaloka, Ph.D. Gelar profesor baru saja diperolehnya satu minggu yang lalu, dan anugerah (atau lebih tepatnya amanah) bertambah lagi dengan jabatan baru sebagai rektor ITB.

Proses pemilihan rektor ITB ini pada mulanya diikuti oleh 22 calon, kemudian dipilih 10, lalu, 3, dan akhirnya 1. Banyak calon yang bertumbangan di tengah jalan sebelum akhirnya dihasilkan 3 finalis. Yang berhak memilih adalah anggota MWA dan SA. Kita-kita dosen “jelata” ini (apalagi mahasiswa) hanya sebagai penonton yang baik saja, tidak punya hak suara. :-(

Ada tiga finalis yang terpilih, yaitu Pak Akhmaloka 9dari Kimia-FMIPA), Pak Adang Surrachman (dari Teknik Sipil-FTSL), dan Pak Indra Djati Sidi (juga dari Teknik Sipil-FTSL). Pak Akhmaloka mendapat 19 suara, Pak Adang 5 suara, dan Pak Indra 3 suara. Berita acara pemilihan selengkapnya dapat dilihat di sini.

Kalau boleh memilih di antara finalis itu (kapan ya dosen boleh memilih rektor secara langsung, mungkin UU BHMN harus diubah dulu), memang saya cenderung akan memilih Pak Loka. Pak Adang dan Pak Indra sudah “uzur”, usianya 54 dan 56 tahun, dan menurut saya sudah menjadi bagian dari cerita masa lalu. Pak Akhmaloka ini yang paling energik, umurnya 48 tahun. Pak Adang dan Pak Indra sudah punya rekam jejak sebagai Wakil Rektor, jadi kita semua tahulah kinerja mereka. Kalau Pak Loka belum pernah jadi Wakil Rektor, baru sebatas dekan FMIPA, tetapi saya dengar kinerjanya luar biasa. Selama menjadi dekan, dia sudah berhasil “menggolkan” 10 profesor baru dari FMIPA. Mimpinya adalah mewujudkan 200 orang profesor di ITB. Asal tahu saja, menjadi profesor di ITB itu “sulit” dan prosesnya lama.

Selamat bekerja Pak Akhmaloka, tugas berat menantimu. Sering-seringlah “turun gunung” mengunjungi “rakyat jelata” (dosen, mahasiswa, karyawan) di kampus — sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh rektor sebelumnya, sering-seringlah tur mengelilingi fasilitas kampus (lab, ruang kuliah, dll) apakah masih layak, perlu ditingkatkan, dsb, sering-seringlah menulis, sering-seringlah mendengar aspirasi civitas academica, sering-seringlah …(masih banyak lagi). Terlalu banyak harapan yang disandangkan kepada anda, Pak. Semoga tetap tabah sampai akhir.

→ 8 CommentsKategori: Seputar ITB

Sholat pada “Injury Time”

23 November 2009 · & Komentar

Ini, dapat tulisan bagus yang saya peroleh dari sebuah milis. Nggak ada pranalanya, tapi setelah tanya ke Mbah Google, tulisan ini ternyata diambil dari sini: http://umum.kompasiana.com/2009/09/11/injury-time/. Isinya kocak, tetapi menarik untuk direnungkan, terutama bagi yang sering melalaikan shalat. Kepada Budiman Hakim, mohon izinnya memuat tulisan anda ya…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

SHOLAT DI INJURY TIME

Oleh: Budiman Hakim

Kalo denger terminology di atas, pastilah otak kita langsung mengacu ke
pertandingan sepakbola. Soalnya istilah injury time sangat sering dipake
dalam olah olahraga itu. Gak usah heranlah kalo istilah ini jadi sangat
populer. Hampir setiap hari ada pertandingan bola di Televisi. Baik yang
langsung, recorded atau hanya highlight berupa analisa pakar bola terhadap sebuah Liga tertentu. Sehingga istilah injury time sangat sering disebut dan dijejalkan pada kita secara terus menerus, terutama orang-orang yang gila bola.

Injury time dalam sepakbola mempunyai makna detik-detik akhir dari
pertandingan. Entah kenapa sangat sering kejadian, sebuah goal tercetak justru di detik-detik akhir tersebut. Dan yang menyakitkan, goal tersebut terjadi di menit 92, menit 93 bahkan di menit 96. Padahal pertandingan sepakbola resminya kan cuma 90 menit. Kelebihan waktu itu diberikan oleh wasit karena adanya pelanggaran atau kejadian-kejadian yang memaksa pertandingan berhenti sejenak.

Di kantor saya, istilah injury time juga sangat terkenal. Tapi istilah ini
ga ada hubungannya dengan sepakbola. Istilah injury time di kantor justru berhubungan erat dengan jadwal sholat. Memang istilah ini diadopsi dari istilah sepakbola sih. Karena istilah injury time di kantor saya ditujukan buat temen-temen yang selalu mendirikan sholat di saat-saat waktu sholat hampir berakhir hehehehe…

Misalnya, ada beberapa temen yang selalu sholat lohor pas udah deket banget sama sholat ashar. Jadi misalnya sholat Ashar jam 3.30, maka mereka sholat lohor jam 3.25. Pokoknya sengaja sampe mepet banget. Kalo ditanya kenapa sholat kok ampe mepet-mepet gitu waktunya? Jawabannya macem-macem.

Ada yang bilang ‘sibuklah,’ ada yang nyaut ‘keasyikan kerja tau-tau udah deket Ashar.’ Ada juga yang jawabnya asal njeplak, ‘Biar efisien! Jadi sholat lohor sama ashar bisa kita lakukan hanya dengan satu kali wudhu.’ Hahahahahaha sinting! Tapi yang paling spektakuler adalah yang jawabannya kayak gini, ”Kalo di sepakbola ada injury time masa waktu sholat ga boleh?” Ancur!!!!!

Kebiasaan menunda sholat itu seringkali melahirkan kejadian-kejadian kocak. Misalnya ada seorang temen, namanya Sarip. Dia yang paling seneng beraksi di saat-saat injury time. Suatu sore di hari Jumat, dia lagi brainstorming sama teamnya. Jam udah menunjukkan Pukul 3. lewat.

Tiba-tiba salah satu teamnya ngomong, ”Rip, lu ga sholat lohor? Udah jam 3.20 loh.” Sambil menunjukkan jam tangannya.

Si Sarip kaget terus langsung ngabur ke musholla. Ambil wudhu secepat kilat langsung sholat. Saking takut keburu Ashar, dia sholatnya cepet banget. Ga tau ada surat-surat yang dikorbankan atau tidak, yang jelas dia bisa menyelesaikan sholatnya hanya dalam waktu kurang dari 1 menit. Wah hebat banget! Bisa masuk museum rekor Muri tuh.

Selesai sholat, dengan kepala masih basah oleh air wudhu dan sambil
mengenakan kembali jam tangannya dia balik lagi ke teamnya. Dengan
senyum-senyum puas karena masih sempet lohor dia nanya ke yang lain, ”Lu semua ga sholat? Udah injury time loh?”

Mendadak semua orang pecah ketawanya. Ada yang ngakak sambil megang perut saking gelinya, ada yang ketawa sambil mengeluarkan suara jejeritan pokoknya heboh bangetlah. Si Sarip bingung dong? Apanya yang lucu? Bukannya udah biasa semua orang sholat di saat injury time?

Setelah suasana agak tenang, salah seorang staff, namanya Agus ngomong, ”Rip. Ngapain lu sholat lohor? Sekarang kan hari jumat? Pan tadi lu udah sholat jumat bareng gue?”

Huahahahaha…Ternyata saking kebiasaan sholat di injury time, Si Sarip lupa kalo dia udah sholat jumat. Padahal kan kita ga perlu lagi sholat lohor kalo udah sholat jumat. Beginilah jadinya kalo orang suka sholat di injury time.

Di kantor ada beberapa orang yang sering ga sholat. Biasanya temen-temennya suka neror mereka, khususnya pas sholat jumat. Ada-ada aja cara meneror mereka. Yang paling sering kena terror di kantor adalah Edo.

“Edo, lu kan abis menang tender, masa sih lu ga mau sujud syukur sekali aja sekalian sholat jumat?” kata salah seorang teroris.

“Gue ada janji sama temen jam 1, takutnya ga sempet. Lain kali deh gue usahain.” Sahut Edo berusaha berkelit.

“Jadi lu lebih memilih temen daripada Allah? Itu udah sirik namanya. Lu udah menempatkan temen lebih penting daripada Tuhan. Astaghfirulah…” kata Si Peneror lalu dia bergaya kayak orang lagi berdoa, “Ya Allah hindarilah Edo dari siksa api neraka. Amin!” Kata si peneror sambil mengusap kedua tangannya ke wajah.

Kalo udah digituin biasanya Si Edo langsung ga enak. Akhirnya dia mau juga ikutan sholat jumat. Tapi, namanya juga langka ke mesjid, ada aja
kejadian-kejadian lucu yang ga terpikirkan oleh yang biasa sholat.

Misalnya ketika banyak orang mengajak bersalaman *(Umumnya sehabis sholat orang suka ngajak kita salaman kan?)*, Si Edo langsung keheranan. Dia kira orang yang ngajak salaman itu ngajak kenalan. Makanya sebagaimana layaknya orang kenalan, Edo menyambut tangan orang yang ngajak salaman sambil menyebut namanya. ‘Edo’. Salaman lagi sama yang lain, dia ngomong lagi ‘Edo’
Salaman lagi, ngomong lagi ‘Saya Edo.’

Pas pulang dari mesjid, di perjalanan menuju kantor, dia ngomong gini, ”Wah gue nyesel banget ga bawa kartu nama.. Tadi di Mesjid banyak banget yang ngajak kenalan.” Huahahahahahahahaha…..

Ada lagi peristiwa yang juga kocak. Saat sholat jumat rakaat pertama,
tiba-tiba handphone si Edo bunyi. Suara handphonenya kenceng banget dan berasal dari Nada sambung pribadiku. Lagunya lagu dangdut berjudul ‘Kucing garong.’

Semua orang pastinya kesel dan geli mendengar suara HP itu. Si Edo juga panik, sehingga entah nyadar atau tidak, dia mengambil Hpnya dari kantong celana. Dengan suara berbisik dia menjawab panggilan telpon, “Ntar gue telpon lagi ya, gue lagi sholat.” Klik. HP langsung dimatiin. Dan dia melanjutkan sholatnya tanpa memulai lagi dari awal. Hahahahahahaha….

Pernah juga Si Edo sholat jumat bareng sama saya. Pas lagi khotbah, dia berbisik, ”Bud gue mau nanya. Lu kan biasanya orangnya byabyakan, cerewet dan heboh. Kenapa sih kalo di dalem mesjid kok lu sok wibawa?”

Saya nyaut bisik-bisik juga, ”Sok wibawa? Kok lu bisa punya pikiran gitu?”

”Buktinya dari tadi lu ga ngomong sepatah kata pun. Lu ga cerita atau bikinjoke, gue perhatiin lu dieem aja dari tadi.”

Ampir saya ketawa ngakak. Setelah mengerahkan energi untuk menahan tawa, saya nyaut lagi ke dia, ”Emang aturannya gitu, kalo khotib lagi khotbah kita ga bole ngomong.”

Edo langsung sadar, ”Oh gitu ya? Wah maap deh gue ga tau. Kalo gitu kita smsan aja yuk? Gimana? Kan ga ngeluarin suara?”

Ga semua orang kayak Edo. Ada beberapa orang yang sama sekali ga terpengaruh sama ajakan atau teror temennya. Setiap kali ada yang ngajak sholat jumat, ada yang nyautnya gini, ”Sholat Jumat? Ga ah. Udah pernah.” Atau “Udah khatam gue.” Ada lagi yang ngomong “Dari kecil gue udah sholat jumat, sampe sekarang ga ada inovasi, gerakannya gitu-gitu aja dari dulu.” Hahahahaha…pokoknya macem-macem jawabannya.

Bahkan seorang anak magang nyautnya lebih gila lagi. Setiap kali diajak
sholat, sahutannya bener-bener unexpected. Dia bilang gini, ”Sholat? Sholat itu mah nomor dua!”

Temen-temennya kaget dong sama jawabannya. Kok bisa-bisanya dia punya pemahaman seperti itu. Tapi mereka nanya juga ”Kok sholat nomor dua? Yang nomor satu apa?”

Si Magang nyaut lagi, ”Yang nomor satu, mengucapkan dua kalimat shahadat. Nomor dua, sholat 5 waktu. Nomor 3 berpuasa di Bulan Ramadhan.. Nomor 4 berzakat. Nomor lima, pergi haji jika mampu.” Hehehehehe dia malah bacain rukun islam loh, ada-ada aja….

Asep, seorang copywriter sering berkomentar terhadap orang yang susah diajak sholat. Komentarnya menarik, ”Gue kagum sama Si Uli. Imannya kuat banget! Diajak sholat sama temennya nolak. Dihimbau sholat sama atasannya, ogah. Dipaksa sholat sama istrinya malah ngamuk. Dia susah dipengaruhi? Kuat banget imannya…”

Kembali ke masalah injury time. Pernah ada peristiwa yang sangat
menghebohkan dan sulit dilupakan oleh siapa saja yang mengalaminya. Jadi ceritanya begini.. Seperti biasa, jam 5.58, Sarip mau sholat Ashar. Sholat Ashar loh ya, bukan sholat Magrib. Baru aja wudhu, tiba-tiba ada 6 orang yang datang ke mushola. Dan sesuai perkiraan, mereka mau sholat ashar semua. Penyakit injury time memang udah susah disembuhkan kalo udah stadium 8.

Nah ceritanya mereka pun mulai sholat. Dimulai dengan qomat atau adzan kecil dulu oleh salah seorang makmum. Sarip yang menjadi imamnya. Mungkin karena sholat berjemaah, Sarip ga enak kalo harus ngebut sholatnya. Dia sholat dengan kecepatan normal. Suasana sholat terlihat cukup khusuk.

Belum selesai mereka menyelesaikan sholat Asharnya, tiba-tiba suara adzan Magrib bergema menggetarkan selaput gendang telinga semua orang. Semua yang sholat terlihat gelisah. Kayaknya mereka bingung apakah sholat Asharnya harus diteruskan atau tidak. Akan tetapi sang Imam, Sarip, terus saja melanjutkan sholat.

Kebingungan makin menjadi ketika Sarip tiba-tiba duduk di raka’at ketiga dan melakukan tahiyat akhir. Sholat Ashar kan 4 raka’at, seharusnya tahiyat akhir harus dilakukan di raka’at keempat. Tapi namanya juga makmum, mereka ngikutin aja apa yang dilakukan si Imam.

Setelah mengucapkan dua kali salam kiri dan kanan, semua makmum langsung protes, ”Rip, baru 3 rakaat nih. Sholat Ashar kan 4 rakaat?”

Yang lainnya juga bilang, ”Iya Rip lu salah itung. Baru 3 raka’at.”

Yang lain lagi punya ide, ”Yuk kita tambahin lagi 1 rakaat. Biar pas jadi
empat.”

Dan apa jawaban Sarip? Dengan tenang dan dengan mimik seakan seorang pakar agama, dia menjawab, ”Sebetulnya tadinya emang kita mau sholat Ashar, tapi di tengah perjalanan tiba-tiba waktu magrib udah masuk kan?”

“Terus gimana maksud lu?” Tanya yang lain.

”Nah, begitu gue denger adzan magrib, gue memutuskan untuk ngeganti sholat kita ini; dari Ashar jadi Magrib. Makanya pas rakaat ke tiga tadi, gue langsung tahiyat akhir. Sholat magrib cuma 3 rakaat kan?”

Hahahahahaha ancur banget ya anak-anak kantor saya *(Termasuk saya juga sih hehehehehe) *. Karena itulah secara berkala, presdir kantor kami suka manggil ustadz ke kantor. Dalam acara siraman rohani itu semua kelakuan dan pertanyaan yang ada langsung jadi topik bahasan. Semua ditanyakan pada ustadz tersebut. Dari smsan di mesjid, HP berdering pas lagi sholat dan tentu saja penyakit yang paling akut di dalam diri kita semua ; Sholat di injury time. Hehehehehehehe

→ 12 CommentsKategori: Agama

“Rendang Runtiah”, Rendang Padang Laksana Abon

21 November 2009 · & Komentar

Ini oleh-oleh yang tersisa waktu pulang ke Padang pasca gempa yang lalu. Ketika membeli oleh-oleh di toko keripik balado Christine Hakim di Jalan Nipah (suer, ini bukan artis film Cut Nyak Dien itu lho, tetapi orang Tionghoa-Padang yang namanya kebetulan sama dengan artis film itu), saya menemukan kemasan rendang yang unik yaitu rendang runtiah. Saya tidak sempat memfoto rendang runtiah ini sebab di rumah sudah keburu habis :-) , tetapi di internet saya temukan gambar kemasan rendang runtiah yang saya beli:

Runtiah artinya disuwir-suwir. Jadi, rendang runtiah adalah rendang yang dagingnya sudah disuwir-suwir seperti daging abon. Kalau anda pernah melihat abon sapi, nah seperti itulah rendang runtiah, jadi rendang runtiah = abon dalam bumbu rendang. Rasanya renyah dan garing, tidak terlalu pedas, cocok buat anak-anak yang tidak suka rendang tetapi suka abon.

Setelah dibeli, walah-walah…anak saya di Bandung ketagihan, makannya jadi nambah euy :-) . Sayang ya, cuma beli satu bungkus. Harganya relatif mahal juga, Rp 40.000/bungkus dengan berat 200 gram.

Wah..wah, menurut saya ini inovasi bisnis yang menarik, yaitu membuat kemasan rendang yang berbeda dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh orang lain. Rendang yang asli jika dibuat sampai hitam sebenarnya bisa tahan berbulan-bulan, namun jika dijadikan rendang runtiah bisa tahan lebih lama lagi, utamanya lagi disukai anak-anak.

Pembuat rendang runtiah ini ternyata orang dari kota Payakumbuh (Sumbar). Menariknya, mereka sudah memasarkan rendang lewat internet. Ini situs web (blog) nya: http://produksimasyarakatminang.blogspot.com/. Selain di situs ini, saya juga menemukan rendang runtiah di situs oleh-oleh Minang lainnya. Klik di sini.

Selain rendang runtiah juga ada rendang ayam, rendang telur, dan rendang paru. Di toko Christine Hakim saya juga menemukan rendang daun singkong. Wah, makin variatif saja rendang padang ini.

Ntar kalau pulang lagi ke Padang saya mau beli rendang runtiah lagi ah… (di Bandung ada nggak ya supermarket yang menjual rendang runtiah ini?)

→ 5 CommentsKategori: Cerita Ranah Minang · Makanan enak

Mengambil Kuliah Agama Berbeda

19 November 2009 · & Komentar

Seorang rekan saya, sesama dosen ITB, meminta pendapat. Ia bercerita bahwa salah seorang mahasiswa perwaliannya berkonsultasi tentang kuliah agama yang akan dia ambil di semester ini. Mahasiswa itu berencana mengambil mata kuliah agama dan etika (mata kuliah wajib 2 SKS), namun yang dia pilih adalah kuliah Agama dan Etika Budha, sementara dia sendiri bukan pemeluk agama Budha. Mahasiswa minta pendapat dosen Wali tentang rencananya itu.

Ini kasus yang umum di ITB. Mahasiswa bebas memilih mata kuliah yang dia inginkan, termasuk mata kuliah agama. Setiap tahun ada saja mahasiswa yang non-Budha mengambil kuliah Agama dan Etika Budha. Kebanyakan mereka yang non-Budha itu beragama Islam atau Kristen. Macam-macam alasan dan motivasinya. Ada yang karena motivasi nilai, sebab beredar rumor sejak dulu kala bahwa kuliah Agama Budha ini “sistem paket A”, alias sebagian besar mahasiswa yang mengambil kuliah mendapat nilai A. Ini yang paling banyak alasannya. He..he, saya harus konfirmasi nih kepada dosen mata kuliah Agama Budha, benarkah begitu? Ada juga yang karena ingin sekedar menambah pengetahuan saja tentang apa dan bagaimana agama Budha itu. Atau, ada juga yang sudah bosan dengan “indoktrinasi” di dalam agamanya sendiri, lalu mencari “udara baru” dengan mengambil kuliah agama Budha. Mungkin ada lagi alasan lain, misalnya kuliahnya ringan, tidak banyak tugas, dan lain-lain, pragmatislah pokoknya.

Zaman saya kuliah ada teman saya yang beragama Islam tetapi mengambil kuliah agama Budha. Dia tidak mau mengambil kuliah agama Islam karena dia sadar dirinya sangat awam soal Islam. Jelas saja begitu, karena sejak kecil hingga SMA dia disekolahkan oleh orangtuanya di sekolah Katolik. Dia sama sekali tidak bisa membaca Al-Quran. Dia khawatir kalau di kelas kuliah dia seperti “orang bodoh”, disuruh membaca Al-Quran ternyata tidak bisa, atau ditanya soal agama dia tidak bisa menjawab. Malu-maluin nanti, katanya. Jangan-jangan tidak lulus pula kuliah agama itu, katanya.

Sekarang, setelah menjadi dosen –apalagi menjadi dosen Wali– saya harus memecahkan masalah ini, seperti masalah rekan saya di atas. Bagaimana menjawab pertanyaan mahasiswa saya yang ingin mengambil kuliah agama berbeda? Pada intinya, dosen Wali tidak melarang mahasiswa mengambil kuliah agama apapun, keputusan ada di tangan mahasiswa itu sendiri. Aturan ITB sendiri soal mata kuliah agama juga tidak ada, sebab mahasiswa dianggap sudah dewasa untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya.

Dosen Wali cukup memberi saran saja. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, apakah mahasiswa siap secara psikologis jika di transkip nilainya nanti tertulis nilai agama x, sementara dia beragama y? Apakah tidak ada masalah nanti di kemudian hari, misalnya dengan keluarga atau orangtua. Kedua, jika alasannya karena “takut” tidak bisa dengan kuliah agamanya sendiri (seperti kasus teman saya itu), justru inilah kesempatan untuk memperdalam agamanya itu, bukan? Ada banyak teman dan asisten yang bisa membantu. Belajar baca tulis Al-Quran misalnya.

Yang terbaik adalah mengambil kuliah agama sendiri sebagai bukti keistiqamahan (konsistensi). Itu saja. Kamu punya pendapat?

-

→ 6 CommentsKategori: Seputar ITB

Film “2012″ dan Kontroversi dari MUI Malang

18 November 2009 · & Komentar

Saat ini film 2012 sedang menggemparkan dunia. Film bertema bencana yang bercerita tentang kehancuran bumi (kiamat?) itu sedang menjadi film box office dan menjadi pembicaraan banyak orang, termasuk di Indonesia. Saya belum sempat sih menonton film ini.

Klik trailer video film 2012 di YouTube di bawah ini:

Di Indonesia film 2012 menjadi tambah ramai karena ada kontroversi yang muncul akibat pemutaran film ini. MUI Malang (kota atau kabupaten Malang ya?) mengeluarkan larangan bagi ummat Islam untuk menonton film ini (baca beritanya di sini). Alasannya, film 2012 bisa menyesatkan dan membuat orang yang lemah iman percaya bahwa kiamat itu memang akan terjadi pada tahun 2012. Padahal di dalam ajaran Islam kapan datangnya hari kiamat itu tidak ada seorangpun — termasuk nabi atau malaikat sekalipun — yang tahu. Hari kiamat adalah rahasia Allah SWT. Selain itu, menurut kata para ulama yang melarang film itu, penggambaran kiamat di film 2012 tidak sama dengan persepsi ajaran agama. Kiamat dalam ajaran Islam adalah kehancuran alam semesta dan seluruh isinya, bukan hanya planet bumi saja seperti yang digambarkan dalam film tersebut.

Setelah berita itu muncul di media online, kecaman pun datang dari masyarakat. Mereka menilai MUI Malang terlalu berlebihan menanggapi film tersebut. Saya baca komentar-komentar mereka di media online, tersirat jelas ejekan dan sinisme mereka kepada lembaga yang berisi para ulama yang dihormati itu. Bahkan ada komentar-komentar yang bernada menghina dan merendahkan martabat para ulama. Tentu saja saya sedih melihat ulama direndahkan, namun pada sisi lain saya bisa mengerti mengapa sinisme itu terjadi.

Saya sendiri berpendapat bahwa para ulama yang mengecam film itu tidak bisa disalahkan seluruhnya, namun tidak bisa juga dibenarkan semuanya. Kesalahannya ada pada ketidaktahuan mereka mengenai film 2012. Saya yakin ulama yang melarang belum pernah menonton film tersebut (termasuk saya, he..he), mereka mungkin hanya tahu dari berita yang berseliweran saja. Padahal jelas-jelas diceritakan di dalam film bahwa itu bukan kiamat sungguhan, sebab pada bagian akhir film digambarkan masih ada sekelompok manusia yang selamat di dalam kapal (kapal Nabi Nuh?). Lha, kalau yang namanya kiamat jelas seluruh kehidupan musnah, alam semesta hancur tidak bersisa. Menurut saya film ini murni fiksi belaka dan merupakan hasil imajinasi dari serangkaian efek visual hasil program komputer yang canggih. Angkat topi deh bagi produser film ini karena mereka berhasil membuat para penonton terkesima dengan efek visual tentang kehancuran bumi.

Tapi, ulama yang melarang film 2012 tidak juga bisa disalahkan sepenuhnya. Mereka, para ulama itu, hanya khawatir saja jika setelah menonton film 2012 orang-orang jadi percaya dengan perhitungan kalender bangsa Maya kuno — yang mendasari film 2012 itu — bahwa kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012 (yang juga merupakan tanggal kelahiran anak saya yang ketiga tuh, he..he). Tanggal 21 Desember 2012 adalah akhir kalender bangsa Maya. Adakah setelah menonton film ini orang-orang bakal percaya bahwa kiamat benar-benar terjadi pada tahun 2012? Mungkin saja ada, tapi saya rasa itu tidak banyak jumlahnya. Saya yakin sebagian besar orang tidak percaya dengan ramalan 2012 itu, sebab hampir semua umat Islam sepakat bahwa akhir dunia ini tidak ada yang tahu pasti kapan terjadi, semuanya adalah rahasia Ilahi. Jangankan kiamat, gempa saja tidak bisa diramalkan kapan persisnya.

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S. Al A’raaf 187)

Sebagai bentuk kekhawatiran sih boleh-boleh saja, namun kalau diikuti dengan larangan menonton fim 2012, apalagi meminta Pemerintah melarang peredaran film itu, jelas tindakan yang tidak bijak. Berlebihan. Justru lebih bijak menyatakan: silakan menonton filmnya tetapi jangan percaya. Malah, larangan menonton akan membuat film ini semakin laris sebab orang-orang semakin penasaran saja untuk melihatnya, dan ini jelas kontraproduktif dengan tujuan larangan tadi. Memang yang mengusulkan larangan itu hanya MUI beberapa daerah saja, sementara MUI Pusat tidak pernah membuat larangan atau semacam itu, namun masyarakat menilai seolah-olah MUI telah membuat fatwa haram film 2012. Jelas hal ini dapat merugikan citra MUI itu sendiri dan dapat membuat ulama makin dilecehkan ummat, seperti yang tergambar pada komentar-komentar di forum online.

Masyarakat menilai, ketimbang film 2012 mengapa para ulama tidak melarang menonton film-film porno berkedok film hantu atau film komedi yang banyak diproduksi oleh para sineas berselera rendah? Justru film-film bermutu rendah itulah yang harus dibasmi, bukan film sains-fiksi semacam 2012 itu. Saya justru melihat bahwa film bertema bencana seperti Deep Impact, The Day After Tomorrow, dan 2012, malah membuat orang teringat akan mati dan sadar bahwa kehidupan ini suatu saat akan berakhir. Jadi, tidak usah terlalu dianggap seriuslah, itu film hiburan semata. Just a fun!

→ 21 CommentsKategori: Agama · Indonesiaku