Medical Chek-up (lagi)

Bulan Juni yang lalu seluruh dosen-dosen ITB diikutkan dalam program full medical check-up gratis. Dosen itu harus sehat, sebab kalau tidak sehat tentu dia tidak bisa melakukan tugas-tugasnya seperti mengajar, membimbing, dan tugas akademik lainnya. Nah, kadang-kadang kita tidak sadar kalau penyakit sudah menggerogoti tubuh. Penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, stroke, kanker dan lain-lain dapat menghinggapi siapa saja, termasuk kami para pendidik. Jadi, mencegah sebelum sakit lebih baik daripada mengobati. Mengetahui gejala penyakit sejak dini lebih baik daripada nanti tiba-tiba sudah stadium berat.

Selama ini hanya para pejabat ITB yang diikutkan dalam program full medical check-up, tetapi mulai tahun ini seluruh dosen mendapat kesempatan yang sama. Seluruh biaya pemeriksaan medis ditanggung oleh ITB, jadi sayang kan kalau tidak dimanfaatkan kesempatan yang baik ini.

Saya pun dengan senang hati mengikuti pemeriksaan medis ini. Saya ingin tahu apakah diri saya sehat, berapa kadar kolesterol di dalam darah, lalu bagaimana kadar asam urat, gula darah, kondisi jantung, dan lain-lain. Beberapa tahun sebelumnya saya pernah melakukan pemeriksaan medis sendiri di sebuah klinik dekat rumah untuk mengetahui kondisi kolesterol, gula darah, dan asam urat tersebut. Hasilnya normal-normal saja, namun kondisi dulu dan sekarang tentu berbeda, umur kan bertambah juga, maka pemeriksaan medis perlu dilakukan kembali.

Malam hari sebelumnya saya sudah mulai puasa sejak jam 9 malam selama 10-12 jam sampai keesokan paginya. Pagi hari saya datang bersama anak saya, karena tidak ada yang menjaganya di rumah. Medical chek-up ini dilakukan oleh sebuah laboratorium klinik ternama di Bandung. Tenaga medis mereka yang datang ke kampus. Mereka membuka pelayanan di Gedung CC Timur.

Pagi itu sudah banyak dosen-dosen yang antri. Setelah menunggu, treatment pun dilakukan terhadap diri saya. Pengambilan sampel pertama adalah darah dan urin. Setelah darah dan urin diambil, selanjutnya pemeriksaan fisik seperti mata, teknan darah, dan EKG. Selanjutnya kami diberi sarapan pagi. Setelah makan kami diminta beraktivitas seperti biasa, namun tidak boleh yang berat-berat. Dua jam kemudian kita disuruh datang lagi untuk pengambilan sampel kedua berupa darah dan urin lagi. Besoknya saya menjalani foto rontgen untuk pemeriksaan paru-paru. Dah, udah cukup kan?

Beberapa hari kemudian keluarlah hasilnya. Eng ing eng, inilah saat yang mendebarkan. Hsilnya: fungsi liver normal, fungsi ginjal dalam batas normal, glukosa darah dalam batas normal, hematologi lengkap dalam batas normal, jantung (pemeriksaan ECG) dalam batas normal. Paru-paru juga normal, padahal saya ke mana-mana selalu pakai motor. Alhamdulillah.

Yang perlu menjadi perhatian adalah untuk profil lemak ternyata kadar kolesterol sedikit meningkat (218). Nilai rujukannya untuk laki-laki adalah normal jika kurang dari 200, batas tinggi jika 200 – 239, dan tinggi jika lebih dari 239. Walahh, saya tidak menyangka jika kadar kolesterol saya sedikit meningkat, padahal saya begitu rajin makan buah-buahan, jarang makan daging, banyak makan ikan, tapi mungkin akhir-akhir ini sering makan telur (kuning telur itu kolesterolnya tinggi) dan ayam. Untuk kolesterol HDL (kolesterol baik) masih stabil, yaitu 40 (rendah jika kurang dari 40 dan tinggi jika lebih dari 60), sedangkan kolesterol LDL (kolesterol jahat) adalah 160 (optimal jika kurang dari 100, mendekati optimal jika antara 100 – 129, batas tinggi jika antara 130 – 159, tinggi jika antara 160 – 189, dan sangat tinggi jika lebih dari 190). Kadar trigliserida masih bagus yaitu 92 (normal jika kurang dari 150, batas tinggi jika antara 150-199, tinggi jika antara 200 – 499, dan sangat tinggi jika lebih dari 500). Alhamdulillah asam urat hasilnya 5,5 (nilai rujukan 3,5 – 7,2) dan kadar glukosa darah 94 (nilai rujukan < 100).

Di dalam laporan medis tersebut ada catatan saran agar saya olahraga minimal 3 kali seminggu (saya masih 2 kali seminggu), minimal 30 menit setiap kali. Lalu saya disarankan diet rendah lemak hewani dan diet tinggi sayuran dan buah-buahan. Kalau buah saya memang sudah tiap hari, tapi saya akui kalau makan sayuran jarang sekali (sayuran orang minang kebanyakan bersantan).

Setelah kita memperoleh hasil lab, kita dipersilakan mengkonsultasikan hasilnya dengan dokter yang disediakan oleh lab klinik ini. Herannya, dokter menyebut saya normal-normal saja, sehat-sehat saja, meskipun kadar kolesterolnya sedikit meningkat. Nggak usah khawatir, katanya, saya silakan makan apa saja, termasuk makanan yang bersantan-santan (maklum saya orang minang) silakan dimakan sebab itu lemak nabati. Justru yang harus dikurangi adalah seperti jeroan, kikil, yang kadar lemaknya tinggi (amit-amit, saya memang tidak suka).

Setelah semua teman-teman mendapatkan hasilnya, ternyata banyak kejutan. Ada teman yang badannya sedang-sedang saja ternyata asam urat dan kolesterolnya sangat tinggi, ada pula teman yang gemuk malah normal. Jadi orang kurus itu belum tentu sehat di dalam tubuhnya, tanpa sadar dia menumpuk kolesterol jahat dan asam urat berlebih di dalamnya.

Program medical chek-up ini adalah program yang bagus, kita jadi lebih aware dengan kesehatan kita, kita jadi lebih peduli dengan apa yang kita makan, karena kebanyakan penyakit itu berasal dari makanan yang kita makan. Jadi, lebih dini kita mengetahui kondisi tubuh kita, maka lebih cepat kita tahu apa yang salah dan apa yang baik-baik saja. Sakit itu mahal, tetapi sehat itu murah.

Dipublikasi di Pengalamanku | 2 Komentar

Malas Membaca dan Memirsa Media Akhir-Akhir Ini

Sejak kampanye Pilpres 2014 hingga sekarang saya jadi malas membaca media arus utama (mainstream), termasuk juga memirsa media elektronik seperti televisi berita. Apa pasal? Media-media arus utama saat ini sudah melacurkan dirinya untuk mendukung Capres tertentu. Media arus utama yang saya maksud adalah pendukung berat kubu Jokowi, misalnya Komp*s, Trib*n, Metr* TV, Berita S*tu, Det*k, dan Temp*. Saya tulis demikian karena media-media inilah yang sudah tidak lagi menjunjung netralitas, tetapi sudah berpihak sedemikian rupa sehingga jauh dari etika pers dan kode etiknya. Demi membela Capres yang didukung, media tidak lagi menggunakan prinsip check and recheck dan cover both side story. Saya sudah enggan membaca, membeli, atau memirsa media-media tersebut di atas.

Berita disampaikan media-media tersebut secara brutal, diplintir, dipotong, atau dilepas dari konteksnya. Tujuan dari pemuatan berita tersebut satu, yaitu untuk menyudutkan Prabowo dan Timsesnya (Baca ini curhatan Pak Mahfud MD: Pers Mengeroyok, Prabowo Harus Kalah). Kasihan pak Mahfud MD, orang lurus dan tulus seperti dia menjadi korban keganasan media.

Meskipun Pilpres sudah selesai dan pemenangnya sudah diumumkan, namun media-media yang saya sebutkan di atas tetap saja melakukan provokasi berita untuk menjatuhkan Prabowo dan Timsesnya. Saya kira berita negatif tentang copras-capres akan berakhir dengan selesainya Pilpres, eh ternyata masih berlanjut sampai sekarang. Ini bukan karena saya dulu mendukung Prabowo lho, bukan karena itu alasannya. Saya sih tidak mempermasalahkan lagi siapa pemenang Pilpres, siapa pun yang menang, baik di KPU atau di MK, semuanya harus diterima dengan lapang dada. Saya sudah katakan akan mendukung Jokowi atau Prabowo jika menang. Namun, berita yang tiada hentinya menjelekkan kubu Prabowo tetap saja brutal sampai sekarang. Seakan mendapat angin, berita-berita semacam itu ramai dikomentari oleh Panasbung (istilah buat pendukung Jokowi) sehingga Prabowo dan Timsesnya dibuli-buli dan dicaci maki oleh mereka. Saya tidak suka dengan pers macam ini, yang menanamkan kebencian dan memprovokasi masyarakat, padahal pers itu seharusnya mengedukasi masyarakat.

Salah satu media yang brutal itu adalah Metr* TV dan korannya, Medi* Indonesia. Ini televisi berita yang dalam pandangan saya sudah turun kelas (downgrade) menjadi media gosip. Isinya melulu menyanjung-nyanjung Jokowi secara berlebihan dan menyudutkan atau mengkerdilkan kubu Prabowo. Saya sudah lama berhenti menonton televisi ini, kalau perlu saya hilangkan saja dari remote control. Tayangannya hanya membuat orang sakit hati. Rekam jejak TV ini sejak dulu juga tidak baik, terutama jika sudah menyangkut tentang agama tertentu, kelompok agama tertentu, atau partai tertentu (you know lah). Sedangkan korannya setali tiga uang dengan televisinya.

Media yang masih saya baca hingga sekarang adalah media Republika (koran cetak maupun online-nya). Ini bukan karena media Republika ini berbasis suatu agama, tetapi saya perhatikan berita-beritanya tentang Pilpres masih berimbang dan tidak berpihak ke mana-mana. Berita tentang Jokowi dan Prabowo dimuat secara proporsional dan tidak berlebih-lebihan. Tautan (link) berita-berita di Republika online sering disebar oleh netters di jejaring sosial, pertanda media ini masih dipercaya oleh banyak orang.

Saya berharap masa pasca Pilpres ini cepat berlalu. Semoga MK cepat memutuskan siapa sesungguhnya pemenang Pilpres 2014. Semoga pelantikan Presiden baru tanggal 20 Oktober 2014 terlaksana dengan baik. Saya mendambakan suasana tenang seperti sebelum Pemilu, bangsa yang damai, dan tidak terpecah belah. Saya ingin semua media kembali beradab lagi. Janganlah anda mengulangi lagi melacurkan integritas anda untuk sesuatu kekuasaan yang bukan kewenangan anda.

Dipublikasi di Indonesiaku | 10 Komentar

Di Gaza Hidup dan Mati Tidak Ada Bedanya

Pada malam hari kami menunggu datangnya siang. Pada siang hari kami menunggu malam, seperti menanti giliran kematian di rumah pembantaian,” kata seorang wanita di Jalur Gaza seperti dikutip Haaretz, Ahad (13/7). (Sumber: Warga Gaza Menunggu Kematian di Rumah Pembantaian).

Seperti itulah keadaan di Jalur Gaza, Palestina, saat ini. Hidup warganya penuh ketakutan, karena mereka tidak tahu kapan terkena bom, peluru, atau mortir yang berjatuhan secara acak di atas kepala mereka. Kebrutalan Israel untuk menghancurkan tentara Hamas telah menyebabkan lebih dari 1600 orang warga Gaza syuhada. Dari subuh hingga ke subuh lagi ratusan bom dimuntahkan dari darat, laut, dan udara ke daratan Gaza oleh tentara Israel. Dengan ganas tentara Israel menembaki apa saja: rumah, sekolah, masjid, rumah sakit, dan warga sipil yang tidak berdosa menjadi korbannya, sebagian besar anak-anak dan wanita. Sementara tidak satupun warga sipil Israel yang menjadi korban, sebab sasaran Hamas adalah tentara Israel, bukan warga sipilnya.

gaza4

gaza5

Setiap hari korban jiwa terus berjatuhan di Gaza. Tubuh-tubuh yang terkoyak, berdarah-darah, anak-anak yang mati terkapar adalah pemandangan yang mengerikan untuk dibayangkan. Apa salah warga Gaza sehingga mereka harus menjadi korban keganasan Israel? Tentara Hamas menembakkan roket ke Israel sebagai pesan kepada negara itu untuk mencabut blokade yang telah menyengsarakan rakyat Gaza bertahun-tahun. Tetapi, Israel membalas roket itu dengan bom-bom pembunuh yang merenggut banyak nyawa warga tak berdosa. Satu warga Israel terbunuh harus dibalas dengan kematian puluhan atau ratusan warga Gaza.

Gaza1

Dunia? Hanya diam membisu. Kematian anak-anak dan wanita Gaza tidak diratapi dunia, bahkan tubuh anak-anak dan wanita yang hancur berdarah-darah tidak mampu melunakkan hati Obama. Amerika akan terus membela Israel dengan mengirimkan senjata dan mesin pembunuh anak-anak, wanita Gaza, dan para orangtua tak berdosa. Kongres AS baru-baru ini menyetujui usulan penambahan dana untuk membantu Israel melawan Hamas. Dalam pandangan Amerika, aksi Hamas adalah terorisme, sedangkan aksi Israel adalah tindakan membela diri.

PBB? Jangan harap, lembaga itu macan ompong, karena Amerika sebagai pelindung utama dan pendukung Israel akan selalu memveto segala upaya pemberian sanksi kepada Israel. PBB tidak berkutik dengan Amerika. Sekjennya hanya bisa mengecam saja, tetapi tidak melakukan tindakan apa-apa kecuali mengusulkan gencatan senjata yang tidak punya arti apa-apa.

Seperti kata wanita di atas, setiap orang di Gaza merasa tinggal menunggu kematian, mati dari bom, mortir, dan peluru penjajah zionis yang datang secara random. Kemanakah mereka mau lari? Tidak ada tempat untuk lari, sebab semua perbatasan sudah diblokade oleh penjajah Israel. Gaza bagaikan kandang penjara raksasa, dan warga Gaza bagaikan kelinci yang berlarian ke sana kemari di dalam kandang itu menghindari mesin pembunuh yang mengejar mereka. Bagi warga Gaza, beda hidup dan mati itu sangat tipis. Antara hidup dan mati tidak ada bedanya, karena sewaktu-waktu mereka bisa tewas oleh serangan bom pembunuh.

Dunia hanya menonton Gaza, dan saya hanya bisa menangisimu.

(Keterangan: sumber foto dari kompas.com, councilforthenationalinterest.org, twitter.com)

Dipublikasi di Dunia oh Dunia | 9 Komentar

Marshanda dan Jilbabnya

Marshanda melepas jilbabnya. Itulah berita yang menyita perhatian publik seminggu menjelang lebaran. Sebagai serang artis, tentu saja keputusan Marshanda tersebut mendapat reaksi yang beragam. Banyak yang menyayangkan, mengecam, maupun mendukung sebagai pilihan hidup artis yang bersangkutan.

Saya sih tidak kaget. Sudah jamak dan sudah teramat sering artis yang bermasalah dengan rumah tangganya (dengan suaminya) lalu menanggalkan jilbabnya. Selain Marshanda, ada beberapa artis lain yang saya ingat menanggalkan jilbabnya setelah prahara rumah tangga mereka, sebut saja Trie Utami, Tya Subiyakto, Dewi Hughes, Reza, Sarah Vi, istri Pasha Ungu, dan lain-lain. Karena aksi menanggalkan jilbab itu dilakukan setelah atau dalam masa perceraian, maka wajar saja jika publik menghubung-hubungkan aksi tersebut dengan masalah rumah tangga mereka. Sebagai public figure tentu segala tingkah laku artis menjadi sorotan publik. Mungkin aksi menanggalkan jilbabnya itu sebagai bentuk kekecewaan atau sebagai bentuk protes (kepada suaminya atau kepada Tuhan?), atau sebagai aksi untuk menunjukkan eksistensinya bahwa dia bisa mandiri mengambil keputusan sendiri tanpa bergantung lagi kepada (mantan) suaminya. Entahlah, kita hanya bisa menduga-duga saja namun tidak berhak menghakimi, sebab hal itu sudah menjadi ranah privat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Sama tidak kagetnya saya ketika membaca Iriana, istri Jokowi, pemenang Pilpres 2014, terlihat tampil tanpa menggunakan jilbab ketika mudik ke Solo. Padahal, selama kampanye Pilpres dia tampil menggunakan Jilbab. Apa maksudnya? Untuk menarik simpati ummat Islam kah, pencitraan kah? Wallahu alam, hanya Allah yang tahu hati seseorang. Sekali lagi kita hanya bisa berdiri di pinggir, tidak berhak menghakimi atau menilai iman seseorang.

Beberapa waktu yang lalu publik juga penah dikagetkan oleh pelaku korupsi (perempuan) yang selama proses pengadilan tampil berkerudung, bahkan sampai menggunakan cadar segala. Keheranan itu muncul karena sehari-harinya tidaklah demikian, namun tiba-tiba tampil rapat menutup aurat. Kalau saya berbaik sangka sajalah, mungkin saja selama di dalam tahanan si koruptor tersebut mendapat hidayah dari Allah SWT. Wallahu alam.

Jilbab yang asalnya pakaian penutup aurat, bagi sebagian orang sekarang ini sudah berubah makna menjadi fashion penutup kepala belaka, yang dapat dibuka pasang semau pemiliknya. Makna jilbab tersebut sebagai hijab sudah menjadi kabur. Coba saja anda perhatikan di sekeliling, ada remaja yang memakai jilbab namun terlihat mesra dengan pacarnya di depan umum tanpa malu-malu. Sudah sering juga kita baca ada remaja putri yang tertangkap berbuat mesum dengan pacarnya, dan yang membuat kita mengurut dada si remaja putri itu menggunakan busana muslimah, berjilbab, bahkan berasal dari sekolah agama pula. Dia telah merusak image bahwa pengguna jilbab itu adalah orang yang sholeh yang mengerti agama.

Jadi, selama jilbab dimaknai sebagai fashion belaka, maka Anda tidak boleh terlalu cepat bersimpati kepada public figure yang diberitakan menggunakan jilbab, jika anda tidak ingin kecewa apabila suatu hari nanti mereka melepaskan jilbab itu kembali.

Dipublikasi di Agama | 9 Komentar

Setelah Jokowi Terpilih

KPU semalam menetapkan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih Pilpres 2014. Setelah dua minggu rakyat menunggu rekapitulasi berjenjang di KPU, nyatalah sudah pasangan Jokowi-JK memperoleh suara 53% dan Prabowo-Hatta 47%. Perolehan suara pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa sebanyak 62.576.444 suara, sedangkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla memperoleh 70.997.833 suara. Selisihnya tipis, hanya sekitar 6 persen, yaitu sekitar 8 jutaan suara. Hasil selengkapya dapat anda baca pada berita ini. Untuk adu head-to-head, angka 47% itu adalah jumlah suara yang sangat besar dan tidak bisa dianggap remeh begitu saja, sebab ada 62 juta lebih rakyat Indonesia tidak menyukai Jokowi menjadi Presiden. Dengan raihan “hanya” 53% itu berarti Jokowi-JK tidak memperoleh kemenangan mutlak.

Saya memang tidak memilih Jokowi-JK dalam Pilpres kemarin, alasannya sudah saya kemukakan pada tulisan-tulisan terdahulu. Prabowo-Hatta menang di TPS saya, menang di kelurahan saya, menang di kecamatan saya, menang di kota saya, dan menang pula di propinsi saya, namun dia kalah di tingkat nasional. Meskipun pilihan saya buka Jokowi-JK, namun, sebagai seorang yang menjunjung demokrasi, saya mengucapkan selamat kepada Jokowi-JK, karena inilah Presiden pilihan rakyat Indonesia. Sekarang tinggal saatnya bagi kita bangsa Indonesia menunggu realisasi janji-janji pasangan Capres-Cawapres ini.

Menjelang pengumuman KPU kemarin terjadi peristiwa antiklimaks. Prabowo menyatakan mundur dari proses Pilpres, serta menolak hasil Pilpres dengan alasan banyak kecurangan yang masif (baca alasan selengkapnya pada berita ini). Tentu saja pernyataan keras Prabowo ini mengejutkan banyak orang. Tak pelak dia dihujat di media sosial, para pengamat pun mengecam sikapnya yang dianggap tidak siap kalah, bertolak belakang dengan pernyataanya sebelumnya yang siap menerima apapun hasil Pilpres.

Saya pun menyayangkan sikap Prabowo yang kurang elegan, namun saya tidak ikutan menghujat atau mengecamnya seperti yang dilakukan banyak netter di media sosial. Bukan, bukan karena saya memilihnya waktu Pilpres kemarin, tetapi menurut saya itu adalah hak politiknya untuk menolak hasil Pemilu. Satu hal yang kurang dipahami para pengecam adalah bahwa di negara kita ada saluran hukum yang legal. Ketidakpuasan terhadap hasil Pemilu dapat ditindaklanjuti dengan melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Saya meyakini bahwa ujung dari Pilpres ini akan berakhir di Mahkamah Konstitusi, Prabowo dan timnya pasti akan menggugat ke sana. Selama Prabowo menempuh jalur-jalur hukum yang legal formal, dan menghindari tindakan anarki, maka saya pikir kenapa kita harus mengecamnya.

Biarkan proses hukum berjalan. Mahkamah Konstitusi harus dapat membuktikan apakah tuduhan Prabowo tersebut benar atau tidak terbukti. Nanti setelah MK memutuskan hasil sengketa, maka itulah hasil final yang membuat Presiden dan Wakil Presiden terpilih memiliki legitimasi. Siapapun Presiden dan Wakil Presiden yang sudah diputuskan oleh MK, maka itulah Presiden-Wapres yang menjadi pemimpin bangsa Indonesia.

Dipublikasi di Indonesiaku | 7 Komentar

Gambar Pemandangan Anak-Anak yang Nyata Adanya

Masih ingat dengan gambar pemandangan di bawah ini? Kebanyakan kita dikala masih anak-anak jika disuruh menggambar pemandangan, maka gambarnya pastilah berupa:
– dua buah gunung yang berjajar
– matahari terbit di antara dua gunung tersebut
– ada jalan yang menuju ke antara dua gunung
– di kiri kanan jalan terhampar sawah, rumah, dan pohon
– di langit ada awan dan burung

Gambar pemandangan yang umum dibuat anak-anak (Sumber: hasil pencarian via Google)

Gambar pemandangan yang umum dibuat anak-anak (Sumber: hasil pencarian via Google)

Hampir semua orang pernah menggambar pemandangan seperti di atas dengan berbagai variasi. Kebanyakan kita menganggap gambar seperti itu hanya imajinasi belaka, terlalu sederhana, dan seragam. Tetapi, ternyata pemandangan seperti gambar tersebut sungguh nyata, memang benar adanya. Lihatlah pemandangan dua gunung kembar, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing di Temanggung, Jawa Tengah, di bawah ini, mirip dengan gambar pemandangan anak-anak di atas.

Pemandangan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing (Sumber: http://www.temanggungkab.go.id/potensi.php?mnid=100)

Pemandangan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing (Sumber: http://www.temanggungkab.go.id/potensi.php?mnid=100)

Inilah kehebatan para leluhur kita. Mereka dapat menggambarkan hal-hal besar menjadi sederhana seperti gambar pemandangan anak-anak yang selalu diwariskan dari generasi ke generasi.

Mungkin masih banyak lagi pemandangan serupa yang kita temukan di tanah air kita. Jadi, anak-anak itu memang tidak “salah menggambar”.

Dipublikasi di Gado-gado | 8 Komentar

Setelah 22 Juli 2014

Tanggal 22 Juli 2014 akan datang seminggu lagi. Itulah hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Pada hari itu KPU akan mengumumkan siapa pemenang Pilpres 2014.

Seperti yang kita ketahui, usai Pilpres 9 Juli 2014 masyarakat Indonesia diombang-ambingkan dengan berbagai klaim dari kedua kubu capres. Masing-masing kubu, baik Prabowo maupun Jokowi, mengklaim sebagai Pemenang Pilpres berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) dari lembaga-lembaga survey yang berafiliasi dengan masing-masing Capres. Ditambah dengan pemberitaan dari media pendukung Capres yang sejak awal Pemilu memang sudah partisan, lengkaplah sudah rakyat Indonesia dibuat semakin bingung.

Saya pikir setelah 9 Juli 2014 rakyat ini akan hidup tenang setelah selama dua bulan lamanya negeri ini terbelah dua akibat perbedaan dukungan kepada Capres jagoan masing-masing. Akibat berbeda pilihan Capres masyarakat kita telah hilang rasa persaudaraannya. Yang dulunya kawan menjadi lawan, yang dulunya akur menjadi bermusuhan. Caci maki dan perang kata-kata bertebaran di media dan jagad maya. Sungguh tidak enak berada pada situasi seperti ini. Kemana saja rasa sebangsa dan setanah air yang digaungkan selama ini?

Segala perbedaan ini semoga lambat laun hilang setelah KPU mengumumkan siapa Presiden terpilih pada tanggal 22 Juli nanti. Siapapun yang menang wajib kita dukung, karena itulah kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Kalau Capres sudah terpilih menjadi Presiden, maka dia bukan lagi Presiden kelompok pendukungnya, tetapi Presiden seluruh rakyat Indonesia.

Asas demokrasi itu adalah suara terbanyak. Jika suara terbanyak itu yang menang, maka siapa pun yang kalah maka dia wajib mengikuti suara terbanyak itu. Meskipun secara pribadi saya menyatakan dukungan kepada Capres-Cawapres nomor 1 (Prabowo-Hatta), namun jika Prabowo kalah nanti maka saya akan memberlakukan asas demokrasi ini, saya wajib mendukung Jokowi-JK. Begitu pula sebaliknya, jika Prabowo-Hatta yang menang, maka pendukung Jokowi-JK harus menerimanya dengan lapang dada. Namun dukungan tersebut tidaklah pasif belaka, sebagai rakyat kita tetap harus mengawal kebijakan Presiden yang akan datang. Wakil-wakil kita di Parlemen harus kuat dan harus selalu memantau kinerja Presiden terpilih agar selalu berada on the track. Jangan sampai parlemen kita lemah tetapi Presiden kita sangat kuat. Jika itu yang terjadi maka tunggulah zaman otoriter bangkit kembali. Sebaliknya jika parlemen terlalu kuat dan Presiden lemah maka hilanglah wibawa Pemerintah. Presiden hanya macan ompong.

Menjadi pendukung Capres tidak perlu terlalu fanatik, biasa-biasa sajalah. Terlalu fanatik bisa berakibat tidak baik, yaitu tidak bisa menerima kekalahan dan akhirnya melakukan hal yang destruktif. Ketahuilah bahwa dunia ini hanya senda gurau belaka, mengapa kita terlalu memikirkan dunia ini? Sudahkah anda mempersiapkan bekal ke akhirat kelak?

Saya menutup tulisan ini dengan mengutip surel dari rekan saya di milis, sesama dosen ITB juga. Kata-katanya perlu kita renungkan.

Siapapun pemenang Prabowo vs Jokowi, hanya berpengaruh SEBENTAR pada penggemar fanatik salah satu calon. Penggemar fanatik Capres yang menang akan senang hatinya, dan penggemar fanatik Capres yang kalah akan sedih hatinya. Hanya SEBENTAR teman!! Pada masa selanjutnya yang panjang, sangat mungkin terjadi situasi berbalik 180 derajad:

1.”Mantan” penggemar capres yang menang, justru jadi sebal, karena ternyata capres ini TIDAK SEBAIK yang mereka yakini sebelum pilpres.

2.”Mantan” penggemar capres yang kalah, justru berbalik menjadi penggemar capres yang menang, karena ternyata capres ini TIDAK SEBURUK yang mereka yakini sebelum pilpres

Adakah situasi ketiga?

Dipublikasi di Indonesiaku | 5 Komentar