Kolega saya sesama dosen ITB, Ridwan Kamil, dicalonkan menjadi Walikota Bandung periode 2013 – 2018. Muhammad Ridwan Kamil atau panggilannya Emil adalah seorang arsitek kawakan, karya-karya arsitekturnya bertebaran di berbagai negara, seperti di Singapura, Thailand, Bahrain, Cina, Vietnam, Uni Emirat Arab, dan tentu saja di Indonesia sendiri (selengkapnya baca di sini dan di sini). Dua diantara karya arsitekturnya sudah pernah saya kunjungi. Yang pertama ketika saya ke kota Banda Aceh, di sini saya menyempatkan diri mengunjungi Museum Tsunami yang megah itu, dan yang kedua ketika saya ke Kota Baru Parahyangan di daerah Padalarang Bandung, di sini saya shalat di Masjid Al-Irsyad yang bentuknya unik.
Saya kenal si Emil sejak dia ikut Bimbel Karisma Salman ITB. Tahun 1989-1991 ketika saya duduk di tingkat akhir di ITB, saya menyibukkan diri (sok sibuk!
) sebagai pengajar Bimbel untuk siswa-siswi SMP/SMA di Bimbel Keluarga Remaja Islam Masjid Salman (Karisma) ITB. Murid-murid saya banyak dan salah satunya Emil itu. Kebetulan kakak Emil, yaitu Erwin (Astronomi ’88), adalah teman saya yang juga menjadi pengajar dan pengurus Bimbel Karisma. Waktu itu Emil masih duduk di kelas 3 di SMA Negeri 3 Bandung, dan dia ikut Bimbel sampai menjelang UMPTN pada tahun 1990. Meskipun sewaktu di Bimbel hasil tes try-out nya tidak pernah rangking atas, namun saya percaya dia anak yang cerdas. Lha siapa sih yang meragukan kualitas siswa SMA 3 Bandung, sekolah yang menyimpan murid-murid cerdas yang ketika masuk ITB seperti pindah kelas saja saking banyaknya.
Ayah Erwin (dan Emil, tentu saja) adalah seorang dosen di Unpad. Perumahan dosen Unpad letaknya di daerah Cigadung, kami para pengajar Bimbel sering kumpul di rumah Erwin (dan tentu saja rumah Emil, he..he.) untuk rapat atau sekadar main-main saja. Saya terkesan dengan keluarga Emil dan Erwin, saya menilai keluarga ini adalah keluarga yang taat menjalankan agama. Adik mereka yang paling bungsu malah disekolahkan ke pesantren agar ada dari salah satu anggota keluarganya menjadi ahli agama.
Menjelang pendaftaran UMPTN tahun 1990 saya sempat bertanya kepada Emil apa pilihan Perguruan Tingginya dan mau memilih jurusan apa. Ternyata Emil memilih ITB dan jurusan yang dia minati adalah Jurusan Arstektur. Dia berhasil lulus masuk Arsitektur ITB dan sejak dia kuliah saya sudah jarang bertemu dengannya di kampus. Tahun 1992 saya lulus dari ITB dan mengabdi menjadi dosen di tempat yang sama, beberapa tahun kemudian ketika Indonesia dilanda krisis moneter (sekitar tahun 1998) saya sempat bertemu dengannya dan menanyakan kemana rencananya setelah lulus dari Arsitektur. Dia menjawab mau ambil sekolah S2 di Amerika. Memang akhirnya dia ke Amerika dan sejak itu saya tidak pernah bertemu lagi dengan Emil.
Dari kakaknya saya baru tahu kalau Emil menjadi dosen di Arsitektur ITB. Meskipun satu kampus dan sama-sama dosen namun saya tidak pernah sekalipun bertemu Emil baik di jalan maupun pada acara-acara kampus, padahal kampus ITB itu kecil lho. He..he, mungkin Arsitektur terletak di sebelah tenggara sedangkan Informatika di tengah-tengah kampus makanya jarang ketemu kali.
Sekarang Emil sedang berkonsentrasi untuk memenangkan Pilwalkot Bandung, dia diusung oleh PKS dan Partai Gerindra. Banyak orang yang bertanya kenapa dia mau dicalonkan oleh PKS, partai yang tengah dilanda skandal isu suap yang melibatkan petingginya. Alasan Emil adalah karena hanya partai itu yang mau mengusung dirinya sebagai calon Walikota, sedangkan partai-partai yang lain hanya mau menjadikannya sebagai calon Wakil Walikota saja. Emil tidak mau menjadi Wakil Walikota, sebab dia punya obsesi untuk membenahi kota Bandung yang sekarang centang perenang karena memiliki banyak persoalan sebagai kota besar. Pengalamannya sebagai konsultan Jokowi (ketika menjadi Walikota Solo) dan konsultan Walikota Surabaya membuatnya berpikir kenapa tidak membenahi kotanya sendiri yaitu Bandung. Karena itulah dia terpanggil mencalonkan diri sebagai Walikota Bandung periode 2013-2018.
Sebagai orang yang pernah menjadi ‘guru’ Emil di Bimbel dan juga sesama civitas academica ITB, tentu saja saya memberikan dukungan kepada Emil. Saya membaca daftar penghargaan yang dia peroleh sebagai buah kepakarannya dalam pengembangan wilayah urban, maka saya pikir semua penghargaan itu adalah bukti pengakuan dunia terhadap kemampuan dirinya.
Di bawah ini saya salin surel Emil yang dia kirim ke milis dosen ITB. Dari surel ini kita dapat membaca apa yang menjadi keprihatinannya terhadap perkembangan kota Bandung saat ini dan mimpi-mimpinya untuk membenahi kota Bandung.
Kawan-kawan yang penyabar
Hidup di Bandung hari ini adalah hidup penuh dengan kegelisahan sekaligus
membingungkan. Dulu saya berasumsi bahwa seiring detik, menit dan jam
kehidupan yang bergerak ke arah masa depan, tentunya hadir pula kemajuan
dan kegembiraan mengiringi hidup kita di kota ini. Ternyata saya terlalu
naif. Seiring waktu, justru penggalan demi penggalan kemunduran dan
kesemrawutan hadir membombardir nalar dan mata kita. Ada pertanyaan
penting yang setiap hari menggugat kita: Mau dibawa kemana hari esok dan
masa depan kita?
Berita tentang korupsi, setiap hari, adalah wajah buruk dari mundurnya
peradaban negeri ini. Negeri dan kota ini dimiskinkan oleh mereka-mereka
yang mencuri. Tanpa sadar mereka telah mencuri masa depan anak cucu mereka
sendiri. Hidup tanpa visi, mengakibatkan lingkungan kota ini pun perlahan
hancur atas nama lokomotif ekonomi. Kota Bandung memang sedang sakit. Ciri
kota sakit adalah pemerintahnya koruptif, pebisnisnya oportunis dan kaum
intelektualnya apatis. Kita tengah terjebak disana.
Bandung hari ini adalah Bandung yang padat, ramai juga mencemaskan. Kita
semua berlari berebutan di atas kapasitas infrastruktur kota yang sama
seperti dua puluh tahun lalu. Setiap kehadiran pembangunan baru akan
mendesak badan kota ke arah kesakitan. Setiap musim penghujan kita
dicemaskan oleh banjir melanda jalanan Bandung. Setiap akhir pekan kita
sering harus mengalah kepada tamu-tamu yang berdatangan. Ada kelelahan
demi kelelahan hadir di sudut sanubari kita. Sampai kapan?
Bandung hari ini adalah Bandung yang sakit dan sesak. Sepanjang mata
memandang yang terlihat adalah kesemrawutan dan pelanggaran aturan.
Pelanggaran menjadi hal yang lumrah di kota ini, karena semua berjamaah
melakukannya. Bandung hari ini ibarat sebuah rumah kecil yang sangat
sesak. Bandung dahulu hanya diimajinasikan sebagai ruang kehidupan bagi
300 ribu jiwa. Dengan migrasi dan ledakan penduduk sebanyak 2,4 juta hari
ini maka bermukim di Bandung adalah sebuah perlombaan survival. Tanpa
kendali kota ini akan meledak. Kota yang stres akan melahirkan generasi
yang stres.
Kawan-kawan yang bersemangat,
Ingatlah Sumpah Pemuda. Dahulu, 1928, pemuda bersatu mendobrak nilai-nilai
belenggu penjajahan karena kita dihinakan oleh yang lain. Sekarang kita
dihinakan oleh ulah kita sendiri. Karenanya di jaman yang sakit ini, kita
harus bergerak bersatu untuk merekonstruksi nilai-nilai baru masa depan.
Kita harus menjadi cerdas untuk mampu bersaing. Kita harus peduli untuk
menjadi solusi. Dengan kecerdasan dan kepedulian kita mampu mendorong
lompatan peradaban Indonesia ke garis batas baru. Ya kawan-kawan, kita
bangun Indonesia Baru melalui sebuah rumah bernama Bandung. Dari Bandung
untuk Indonesia.
Saat kita kecewa kita tidak boleh membisu. Saat kita dihinakan kita tidak
boleh diam. Kita harus bergerak cepat mencari jalan baru. Mengubah dunia
sudah tidak bisa dilakukan sendirian. Jalan baru mengubah dunia itu
bernama kolaborasi. Kolaborsi adalah kunci pintu sebuah rumah bernama
masyarakat madani. Kolaborasi adalah sebuah pola pikir bahwa hanya kita
sendiri yang seyogianya mengubah nasib buruk kita. Kota kita adalah
tanggung jawab kita sendiri.
Di hari Rabu yang dingin di tahun 2013 ini, di sebuah kota bernama
Pennsylvania, saya diamanati sebuah penghargaan. Di atas panggung, Eugenie
Birch, Direktur IUR, organisasi pemberi award ini, berkata: “Kami
terinspirasi oleh semangat Bandung”. Semangat ini tercermin ketika sebuah
kampung, Blok Tempe, di Bandung, 2 tahun lalu mampu menyelesaikan sendiri
masalah banjirnya. Warga Blok Tempe mampu mengelola sampah, air dan
asuransi kesehatannya sendiri. Di sisi lain, sekumpulan anak muda kreatif
dalam wadah Bandung Creative City Forum (BCCF) terus bergerak mencari
ragam solusi kreatif untuk masalah kota Bandung.
Semangat Bandung hari ini adalah semangat survival dan kekompakan
warganya. Semangat ini adalah energi luar biasa. Gotong royong par
excelence. Dan dunia pun mengamatinya. Dan dunia pun menghargainya dengan
Urban Leadership Award yang dititipkan kepada saya. Award ini adalah untuk
semangat Bandung. Semangat yang menginspirasi dunia.
Kawan-kawan yang peduli,Selama tiga tahun terakhir, mungkin lebih dari
seratus kali saya bersilaturahmi dengan ragam warga, komunitas dan
sesepuh-sesepuh kota Bandung. Yang saya lakukan hanya satu: mencoba
menjadi pendengar yang baik. Kesimpulannya juga satu: mereka punya
aspirasi dan mimpi untuk hidup, bernapas, beraktivitas di kota Bandung
yang nyaman dan bermartabat. Dan sejujurnya, mimpi sederhana ini pula yang
hari ini belum hadir di kota ini.
Juni tahun 2013, tahun ini, Bandung akan menyelenggarakan pergantian
kepemimpinan kotanya. Di hari-hari ini kita berdiri pada sebuah
persimpangan nasib. Apakah kita hanya berdiri di pinggir mengamati
kemunduran kota yang melahirkan Indonesia ini? Atau memberanikan diri
melompat ke barisan depan untuk ikut menentukan masa depan kota yang
pernah menginspirasi Asia dan Afrika ini?
Dengan segala keterbatasan dan kerendahan hati, ijinkan saya berjuang
untuk mewujudkan mimpi sederhana nan mulia tadi dengan berkompetisi dalam
pemilihan Walikota Bandung 2013-2018. Ibu saya selalu memberi pesan,
jadilah manusia terbaik. Manusia yang sudah cukup dengan ego dirinya.
Manusia yang konsisten untuk selalu bermanfaat bagi mereka di luar
dirinya. Niat saya ingin berkerja, memberikan yang terbaik untuk negeri
ini, negeri tempat saya menyusu dan meminum air tanah bumi pertiwi ini.
Kawan-kawan yang baik,Mewujudkan mimpi ini tidak bisa dilakukan sendirian.
Saya butuh Anda semua. Kita butuh kita semua. Kita optimis bisa merebut
masa depan kita yang lebih baik. Apa guna hidup jika kita tidak optimis.
Saya yakin kita bisa!
Selama 100 hari ke depan kita akan bergerak bersama. Selama 100 hari ke
depan kita akan merapatkan barisan. Selama 100 pagi ke depan kita akan
menyingsingkan lengan baju kita. Selama 100 siang ke depan kita perkuat
tekad kita. Selama 100 sore ke depan kita perterteguh niat baik kita.
Selama 100 malam ke depan kita curahkan gagasan-gagasan kita. Dan selama
100 subuh ke depan kita perbanyak doa-doa kita. Allah selalu bersama
mereka yang berusaha.
Dari lubuk hati yang terdalam, saya mengucapkan berjuta terima kasih bagi
kawan-kawan yang mau percaya: dengan menyisihkan waktu dan energi,
bergabung dalam barisan ini.
Kata orang bijak, daripada selalu mengutuki kegelapan lebih baik
menyalakan lilin-lilin kecil. Sekarang saatnya kita hadirkan nyala
lilin-lilin itu untuk masa depan yang terang bagi anak-anak kita. Saya
bermimpi, jika di suatu pagi di hari Minggu yang cerah di tahun 2018, di
saat kita mengantar anak-anak kita bermain di taman kota, saya ingin Anda
berkata: “Ya Allah, Tuhanku, ternyata 5 tahun lalu itu waktuku untuk jadi
relawan tidaklah sia-sia”.
Mari bergerak kawan-kawan. Ada kereta mimpi yang harus kita kejar.
Malam sunyi, Maret 2013
Jabat Erat
Ridwan Kamil
Selamat ‘bertarung’ dalam Pilwalkot Bandung, Emil, saya doakan semoga kamu terpilih!

















