Jualan Sepatu atau Jualan Kerupuk (Lulusan MIT dan Lulusan ITB)

Tidak perlu malu berkerja apapun, yang penting pekerjaan halal, apalagi kalau pekerjaan itu memberi manfaat bagi banyak orang. Meskipun lulusan perguruan tinggi ternama sekalipun, itu bukan halangan untuk berbuat yang berguna bagi diri, keluarga, dan orang banyak di sekeliling.

Saya terkesan ketika membaca sebuah tulisan di Kompasiana yang berjudul Lulus MIT, tapi Pilih “Jualan” Sepatu. Di dalam tulisan itu diceritakan kisah Ali Tanuwidjaya yang merupakan lulusan Aerospace Engineering di Massachusetts Institute of Technology (MIT) namun berwirausaha dengan membuat usaha produksi sepatu di kota asalnya, Pasuruan, Jawa Timur.

Siapa yang tidak kenal dengan MIT, perguruan tinggi teknik nomor wahid di dunia itu? Begitu hebatnya nama MIT itu, dulu (nggak tahu sekarang apa masih) kami yang menjadi mahasiswa ITB sering menjadikan MIT sebagai rujukan dan mengidentifikasikan ITB sebagai MIT-nya Indonesia. Kalau Amerika punya MIT, maka Indonesia punya ITB, begitu kebanggaan kami kala itu (maklumlah masih mahasiswa baru :-)). Pokoknya nama MIT top abis kata anak muda zaman sekarang.

Kembali ke cerita Pak Ali tadi. Pak Ali pernah berkerja di perusahaan Boeing, namun Presiden Habibie memanggilnya pulang. Ketika pulang ke Indonesia tahun 1991 dia justru merintis usaha membuat sepatu, sangat bertolak belakang dengan keahliannya sebagai enjinir pesawat terbang. Perusahaan sepatunya tumbuh menjadi perusahaan besar dan memiliki karyawan 5000 orang.

Satu hal yang saya kagumi dari orang ini adalah ucapannya yang rendah hati: “Hidup ini bagi saya yang terpenting adalah memberi manfaat bagi orang banyak. Di Pasuruan ini, saya bisa memberi pekerjaan pada ribuan orang. Kalau bekerja di luar negeri, manfaatnya hanya buat saya saja. Jadi saya memilih yang pertama“.

Orang hebat nih, kata saya dalam hati. Dia memilih hidup yang memberi manfaat kepada banyak orang ketimbang untuk dirinya sendiri saja.

~~~~~~~~~~

Dari MIT kita kembali ke ITB. Saya pun punya beberapa alumni (mantan mahasiswa saya) yang memilih hidup pulang ke kampung halaman dan berkarya pada bidang yang jauh dari dunia enjiniring di ITB. Seorang mahasiswa bimbingan saya memilih pulang ke Jawa Timur untuk meneruskan usaha ayahnya yang mempunyai pabrik kerupuk. Kerupuk jelas sangat jauh berbeda dengan dunia informatika. Kalau dia mau dia bisa bekerja di Jakarta di perusahaan besar dengan gaji yang jauh lebih besar dari jualan kerupuk. Tetapi dia memilih meneruskan usaha ayahnya karena pabrik kerupuk itu sudah menghidupi banyak orang, sayang jika pabrik ditutup karena tidak ada yang mengelola. Jika pabrik ditutup berarti ratusan orang akan kehilangan pekerjaan.

Seorang mahasiswa saya yang lain memilih pulang kampung untuk membina pesantren. Kesan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tertinggal ingin dipupusnya. Dia terjun langsung ke sana. Ada ratusan santri di pesantren itu, dan dia merasa kehadirannya mungkin lebih berguna bagi para santri itu. Bagi saya, pilihan hidupnya ini termasuk pilihan yang luar biasa. Bagi orang lain lulusan Informatika?komputer itu identik dengan gaji besar, namun dia memilih mengabdikan hidupnya di pesantren.

~~~~~~~~~~~

Ada lagi satu kisah luar biasa tentang alumni kampus ITB yang pernah saya baca di sebuah majalah. Sudah lama sekali saya baca kisah itu, tetapi saya tetap masih ingat dan akan selalu ingat, karena kisah hidup alumni ini sangat berkesan bagi saya. Begini ceritanya.

Anda pernah mendengar Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi? Tahu di mana letak Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi? Dua pulau kembar ini terletak di Selat Sunda (antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa), tidak jauh dari Pulau Krakatau yang terkenal dengan gunung apinya yang dahsyat itu. Secara administratif kedua pulau ini masuk ke dalam Propinsi Lampung.

Peta Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi

Peta Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi

Di salah satu pulau ini (saya lupa di Pulau Sebuku atau Pulau Sebesi) ada seorang alumni Teknik Industri ITB (saya lupa namanya) yang memilih pulang kampung daripada bekerja di kota besar seperti Jakarta. Gemerlap Jakarta ditinggalkannya, Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi memanggilnya. Sebagai putra kelahiran Lampung, dia melihat potensi alam kedua pulau ini luar biasa, namun di sisi lain dia melihat para pemuda di kedua pulau tersebut masih banyak yang menganggur. Selama ini kalau tidak ke Bandar Lampung, para pemuda Sebuku dan Sebesi merantau ke Jakarta menjadi pekerja sektor informal.

Dia melihat di Sebuku dan Sebesi banyak tumbuh pohon kelapa, tetapi pemanfaatan kelapa selama ini hanya sekadar dijual ke daerah Lampung di daratan Sumatera. Dia berpikir bagaimana meningkatkan nilai tambah kelapa itu. Akhirnya setelah lama merenung dia terpikir untuk membuat pabrik minyak kelapa. Berbekal ilmu yang diperoleh di kampus, dia merintis usaha pengolahan buah kelapa menjadi minyak goreng. Dari usahanya ini dia bisa mempekerjakan para pemuda pulau yang selama ini cuma menganggur. Melalui usahanya itu dia sudah membantu penghidupan banyak orang, dan yang paling penting adalah dia memberi banyak manfaat kepada penduduk pulau. Saya sudah tidak tahu bagaimana kelanjutan pabrik minyak kelapanya itu, apakah masih ada atau sudah tutup. Saya sendiri belum pernah ke pulau Sebuku dan Sebesi, namun saya pernah melewati kedua pulau ini ketika dulu pulang kampung dengan kapal PT Pelni dari Tanjung Priok ke Teluk Bayur Padang.

~~~~~~~~~~~~~~

Bagi saya, kisah-kisah orang yang luar biasa itu adalah sumber inspirasi. Tidak harus bekerja di perusahaan besar untuk menjadi orang bahagia, justru berkarya yang memberikan manfaat bagi banyak orang adalah kebahagiaan yang tiada taranya. Seperti yang dikatakan oleh Musashi (seorang samurai Jepang):

Hidup lebih dari harus sekedar tetap hidup. Masalahnya, bagaimana membuat hidup itu bermakna, memancarkan cahaya gemilang ke masa depan, sekalipun harus mengorbankan hidup itu sendiri. Bila ini sudah tercapai, maka tidak ada bedanya dengan berapa lama hidup itu.

Dipublikasi di Indonesiaku, Seputar ITB | 3 Komentar

Nyepi di Tengah Lingkungan Muslim

Inilah indahnya di Indonesia ini, semua agama mendapat hari khusus libur nasional untuk perayaan hari besarnya tanpa memperhatikan besar kecilnya pemeluk agama tersebut, termasuk Hari Raya Nyepi yang berlangsung pada hari ini. Di mana lagi di dunia ini kita menemukan negara hebat selain di Indonesia yang menghormati semua hari besar keagamaan dan menjadikannya sebagai hari libur resmi agar pemeluk agama tersebut dapat menjalankan hari besarnya itu dengan tenang? Memang kadang-kadang ada gesekan antar umat beragama, itu wajar sebab namanya orang yang hidup berdampingan pasti pernah ada gesekan, namun soal hari raya keagamaan negara telah memperlihatkan jiwa besarnya dengan memberikan tempat dan hari khusus.

Pada Hari Raya Nyepi hari ini saya jadi teringat seorang tetangga yang beragama Hindu, Pak Nyoman namanya. Dia satu-satunya orang Hindu di RT saya. Ketika Hari Nyepi tiba, inilah satu-satunya rumah yang gelap gulita di kompleks kami sementara tetangga sekelilingnya masih terang benderang dan tetap beraktivitas. Pak Nyoman dan istrinya di dalam rumah sedang khusyuk menjalani catur brata penyepian, yaitu “amati karya” (tidak bekerja dan aktivitas lainnya), “amati geni” (tidak menyalakan api), “amati lelungan” (tidak bepergian), dan “amati lelanguan” (tidak mencari kesenangan) selama satu hari satu malam (mulai jam 6 pagi hingga jam 6 pagi keesokan harinya).

Waktu itu anak saya masih kecil-kecil dan suka main sepeda dengan teman-temannya di jalan-jalan kompleks, maka saya katakan jangan berisik di depan rumah Pak Nyoman karena Pak Nyoman sedang menjalani Nyepi.

Sekarang Pak Nyoman sudah pindah ke Bali, rumah itu sudah dijual kepada orang lain (bukan orang Hindu), dan saya pun tidak pernah melihat rumah itu gelap gulita lagi pada Hari Nyepi.

~~~~~~~~~~~~

Sesungguhnya tidaklah mudah menjalankan ritual agama di tengah lingkungan yang berbeda, namun itulah seni dan tantangannya. Beberapa rekan dosen yang beragama Hindu di ITB mengatakan setiap hari Nyepi tiba mereka sudah “mengungsi” satu hari sebelumnya ke pura besar di daerah Cimahi, namanya Pura Wira Loka Natha. Di dalam pura mereka bersama-sama umat Hindu lainnya di Bandung Raya dapat melakukan amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan dengan tenang.

Jika di dalam pura suasana sangat hening, sementara di luar pura suasana sangat kontras, lalu lalang pengendara di depan pura tidak pernah sepi. Tidak jauh dari pura terdapat stasiun kereta api Cimahi, lengkingan suara kereta api yang lewat tentu dapat mengganggu aktivitas Nyepi di dalam pura, tetapi semua berjalan masing-masing seperti biasa, yang di dalam pura tetap khusyuk melakukan catur brata penyepian, di luar pura sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tidak ada yang saling mengganggu.

Perbedaan yang ada di dalam bangsa ini bukan alat untuk memecah belah. Dalam agama Islam, berbeda-beda itu sudah sunnatullah, maka tidak ada yang harus dipermasalahkan selagi semuanya berjalan dengan apa yang diyakini masing-masing. Yang terpenting adalah saling bertenggang rasa satu sama lain, hormat menghormati, dan menghargai perbedaan yang ada.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 3 Komentar

Nasib Partai-Partai Islam pada Pemilu 2014

Tulisan ini adalah perspektif saya sebagai seorang muslim yang kritis. Saya selalu mengamati perkembangan partai-partai Islam menjelang pemilihan umum. Yang saya maksud “partai Islam” adalah partai yang berideologi Islam, atau partai yang memiliki basis massa dari ormas Islam atau kaum muslimin lainnya. Pada pemilu 2014 ini partai-partai Islam tersisa lima buah saja, yaitu PKS, PPP, PAN, PKB, dan PBB. Menurut paparan beberapa survey, nasib partai-partai Islam itu akan terpuruk pada Pemilu 2014. Elektabilitas mereka rendah sekali. Mengingat batas ambang parlemen (parliamentary threshold ) adalah 3,5%, maka kemungkinan besar banyak partai-partai Islam itu yang tidak lolos masuk parlemen. Pemilu 2014 adalah kuburan massal bagi partai-partai Islam, begitu ancaman penuh takut dari lembaga-lembaga survey. Benarkah? Semua masih prediksi, hanya Tuhan yang tahu. Namun yang jelas jika tidak lolos masuk parlemen maka tamatlah sudah eksistensinya, mereka harus ikut seleksi lagi dari nol pada Pemilu 2019 yang akan datang.

Selain tidak punya tokoh yang kharismatis, kelemahan mendasar partai Islam adalah mereka tidak menggarap isu-isu populis dan strategis, seperti buruh, tenaga kerja, pengangguran, kemiskinan, petani, korupsi, lingkungan hidup, dan lain-lain. Padahal inilah masalah besar di dalam bangsa kita yang memerlukan solusi kongkrit. Partai-partai Islam baru mendekati konstituennya ketika Pemilu/Pilkada, usai Pemilu mereka seperti hilang dalam diam, mereka lebih sibuk dengan masalah internal mereka sendiri. Tidak jarang di dalam partai Islam sendiri sering gontok-gontokan memperebutkan kekuasaan dan menjadi konsumsi empuk media. Akhirnya rakyat menilai jika di dalam internal partai saja mereka tidak bisa mengurus rumah tangganya, bagaimana mereka mengurus bangsa yang besar ini?

Kasus-kasus korupsi dan moralitas lainnya (seks, pornografi, mesum) yang menimpa kader-kader partai Islam ikut membuat reputasi partai Islam menjadi buruk di mata masyarakat. Kasus korupsi pada sebuah partai Islam (teutama kasus di PKS) berimbas pada partai-partai Islam lainnya. Citra mereka hancur karena mereka sebagai partai yang berlandaskan agama namun kader-kader mereka menodai ajaran agama sendiri. Hukuman masyarakat kepada partai-partai Islam dalam kasus korupsi maupun kasus moralitas lainnya jauh lebih berat ketimbang hukuman terhadap partai nasionalis, karena partai Islam itu membawa nilai-nilai agama yang suci tidak boleh diciderai. Akhirnya masyarakat menilai tidak ada bedanya lagi antara partai Islam dan partai nasionalis, keduanya toh sama saja kelakuannya. Lihatlah di dunia maya, partai-partai Islam sering dihujat dan dicaci maki karena berbagai kasus yang membelit kadernya, termasuk dihujat oleh orang-oranng Islam sendiri.

~~~~~~~~~~~~

Di sisi lain, menghujat terus menerus partai-partai Islam tidak ada manfaatnya. Buat apa? Kita sadar bahwa partai-partai Islam itu punya kelemahan dan kekurangan, tidak ada partai Islam yang sempurna. Kalau kita terus menghujat dan mencaci maki mereka itu artinya kita ikut membuat mereka terpuruk lebih dalam. Apakah memang itu yang kita inginkan? Padahal kehadiran wakil-wakil rakyat dari partai Islam tetap diperlukan untuk memperjuangkan aspirasi yang terkait dengan masyarakat muslim Indonesia, misalnya tentang haji, zakat, sertifikasi halal, pendidikan siswa madrasah, pesantren, guru agama, dan lain-lain. Tentu kita tidak terlalu berharap banyak kepada wakil-wakil rakyat dari partai nasionalis untuk mengurusi msalah-masalah yang menyangkut hajat hidup masyakarat muslim, karena mereka terikat dengan platform partainya.

Kalau bukan kita yang memilih partai-partai Islam itu, lalu siapa lagi?

~~~~~~~~~~~~~

Sejak mengikuti beberapa kali Pemilu saya selalu memilih partai-partai Islam. Zaman awal-awal saya kuliah di ITB saya belum bisa memilih karena belum mempunyai KTP Bandung, sehingga tidak terdaftar sebagai pemilih. Saya lupa pada Pemilu 1997 saya ikut pemilu atau tidak. Tetapi pada Pemilu 1999 saya sudah mempunyai KTP Bandung dan sudah bisa memilih. Tahun 1999 itu nama Amien Rais melambung sebagai tokoh reformasi. Dia mendirikan PAN sebagai partai dengan basis massa dari Muhammadiyah. Karena saya punya latar belakang Muhammadiyah (pernah sekolah di Muhamamdiyah dan rumah saya di Padang di lingkungan masjid Muhamamdiyah), maka saya memilih PAN. Sayang PAN tidak sukses waktu itu, raihan suaranya kecil, tidak sampai 7%. Amien Rais pun gagal dalam eksperimen politiknya dan gagal pula menjadi calon presiden.

Pada Pemilu tahun 2004 partai PKS naik daun. Kader-kadernya banyak dari kampus, tokoh-tokohnya kalangan intelektual yang taat beragama. Partainya dikelola secara modern. Ini partai bersih, kata saya waktu itu. Semua itu menjadi daya tarik, dan pada Pemilu 2004 ini saya ikut memilih PKS.

Selanjutnya pada Pemilu 2009 pamor PKS sudah mulai menurun. Belum ada kasus korupsi yang menimpa partainya saat itu. Saya tetap masih bersimpati pada partai ini, namun pada Pemilu 2009 saya melakukan eksperimen politik yang berbeda. Suara saya dibagi-bagi kepada beberapa partai Islam. Untuk DPR pusat saya memilih partai Islam 1, untuk DPRD Propinsi saya memilih partai Islam 2, dan untuk DPRD Kota Bandung saya memilih partai Islam 3. Adil, semua kebagian. Prinsipnya saya bagi rata semuanya. Partai Islam 1, 2, dan 3 itu salah satu dari PKS, PPP, PBB, atau PAN (saya sudah lupa).

Pemilu tahun 2014 ini adalah waktunya untuk “menyelamatkan” partai-partai Islam agar mereka lolos ambang batas 3,5%. PKS memang akan mengalami degradasi karena kasus korupsi yang menimpa LHI, namun berbeda dengan prediksi beberapa lembaga survey, saya masih tetap yakin partai ini akan lulus ambang batas parlemen. Indikasinya dari kampanye mereka yang masih tetap dipadati massa, khussunya kampanye pertama di GBK yang dipadati lebih dari 150.000 orang. Ini artinya PKS tidak akan mati seperti yang diduga banyak orang.

Namun untuk Pemilu 2014 saya tidak akan menitipkan suara saya kepada partai ini (PKS). Alasannya bukan karena tidak suka atau tidak percaya, tetapi seperti yang saya katakan tadi saya ingin membantu “menyelamatkan” partai-partai Islam lain yang terancam tidak lolos ambang batas parlemen. Cara menyelamatkannya adalah dengan memberikan suara kepada mereka. Entah partai apa yang saya pilih, yang jelas bukan PKS deh (maaf ya teman-teman atau pembaca dari PKS). Kalau tidak PPP, PAN, PKB, atau PBB, namun diantara keempat partai itu PBB yang peluang lolosnya paling kecil (yuk mari bantu!). Semua masih ditimbang-timbang hingga detik-detik terakhir menjelang pencoblosan.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku, Renunganku | 12 Komentar

Pak JK Lawan Tangguh Pak Jok

Mumpung tahun politik dan menjelang Pileg dan Pilpres, maka saya jadi lebih sering menulis tentang politik. Politik bagi saya tidak harus dijauhi, karena politik menentukan bangsa ini mau dibawa kemana. Siapa yang menjadi wakil rakyat dan siapa yang akan memimpin bangsa ini sangat menentukan arah bangsa ini ke depan.

Meski belum digelar dan tanpa bermaksud mendahului takdir, Pilpres 2014 menurut saya sudah selesai apabila capres yang muncul adalah nama-nama yang beredar saat ini: Pak Jok(owi), Pak Prabowo, dan Pak ARB (Aburizal Bakrie). Diatas kertas sudah bisa diprediksi pak Jok yang akan menang, sebab Pak Prabowo dan Pak ARB kalah jauh dari Pak Jok. ARB elektabilitasnya rendah, salah satunya karena faktor lumpur Lapindo sebagai titik lemahnya dan sasaran empuk serangan pihak lawan. Pak Prabowo juga sama, beliau tidak bisa menyaingi Pak Jok akibat “dosa” masa lalunya pada tahun 1998 terkait kasus penculikan dan pembunuhan aktivis mahasiswa oleh Kopasus.

Kalau Pak Prabowo dan pak ARB tetap maju terus, maka mereka akan buang-buang uang saja. Percuma. Tapi kalau hanya Pak Jok saja yang elektabilitasnya paling jauh meninggalkan capres yang lain, lalu apa menarik lagi Pilpres? Pak Jok harus punya lawan tangguh agar persaingan Pilpres seimbang, tetapi nama-nama lawan tangguh itu belum muncul juga. Sebenarnya ada Pak Anies Baswedan yang secara kualitas lebih bagus dari pak Jok, tetapi Pak Anies belum resmi menang konvensi Partai Demokrat. Demokrat juga sangat kecil peluangnya mencalonkan capres sendiri karena raihan suaranya merosot tajam akibat kasus korupsi elitnya.

Jika boleh mengusulkan, saya menjagokan Pak Jusuf Kalla (JK) sebagai Capres yang terbaik. Pak JK adalah tokoh yang disegani, namanya populer di Indonesia Timur karena dia berhasil mempersatukan rakyat Indonesia bagian timur yang beraneka suku dan agama itu. Prestasinya yang menonjol adalah merukunkan konflik Ambon dan Poso yang berbau SARA. Dia turun tahta sebagai Wapres dengan cara yang khusnul khotimah (baik). Setelah tidak menjadi Wapres lagi dia tetap dirindukan banyak orang, malah dia masih tetap sibuk dalam berbagai aktivis sosial antara lain Palang Merah Indonesia (PMI) dan Dewan masjid Indonesia (DMI).

Dari segi kualitas Pak JK lebih unggul dari Pak Jok. Baru-baru ini Survei Pol-Tracking Institute merilis hasil survey pakar yang terdiri dari 330 Guru Besar (profesor). Menurut hasil survey pakar tersebut, Pak JK secara personal unggul dari Pak Jok (baca ini: Ungguli Jokowi, Ini Kelebihan JK dan Kualitas Personal Jusuf Kalla Lebih Baik Dibanding Jokowi).

Dikutip dari sini:

Pada aspek integritas, JK mendapatkan nilai 7,83 sementara Jokowi 7,80. Aspek kompetensi dan kapabilitas, JK diberikan nilai 7,66 diikuti Jokowi 7,58. Pada aspek visi dan gagasan, JK mendapatkan nilai 7,71 sedangkan Jokowi 7,59.

Begitu pula pada aspek leadership skill dan keberanian mengambil keputusan. JK unggul dengan nlai 7,93, dan Jokowi 7,83. Pada aspek pengalaman dan prestasi memimpin, JK diberikan nilai 7,79 sementara Jokowi 7,68. Aspek kemampuan memimpin dan mengelola koalisi parpol pendukung, JK mendapatkan nilai 7,46 sementara Jokowi 7,38.

Namun, pada aspek kemampuan menjalankan pemerintah dan memimpin negara terutama di bidang penegakan hukum/pemberantasan korupsi dan bidang ekonomi/peningkatan kesejahteraan, Jokowi mengungguli JK.

“Jokowi diberikan penilaian pada angka 7,77, diikuti Mahfud MD 7,64, dan JK 7,56,” kata Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute, Hanta Yuda di Jakarta, Ahad (23/3).

Dari satu sisi Pak Jok populer karena pendekatannya yang kerakyatan (blusukanisme) selain itu sederhana dan rendah hati. Titik lemah Pak Jok adalah mendustai janji-janji kampanyenya pada waktu Pilgub DKI, lalu belum ada prestasi yang menonjol selama menjadi Gubernur DKI selain blusukannya itu. Pak Jok menjadi besar karena pemberitaan media ( media darling), bukan karena prestasi-prestasinya.

Menurut saya Pak JK adalah lawan tangguh buat Pak Jok. Bagi yang tidak suka dengan Pak Jok, Pak Parbowo, dan Pak ARB, maka Pak JK adalah calon kuat yang mampu bersaing ketat dengan Pak Jok. Analisis saya dari sudut pandang kultural adalah begini. Pak JK memang bukan orang Jawa, tetapi tentu tidak semua orang Jawa suka dengan Pak Jok. Pemilih dari Jawa adalah 60% dari total pemilih (yang diasumsikan akan memilih Jokowi karena kedekatan suku), tetapi harus diingat 60% itu termasuk suku Sunda yang secara emosional tidak punya kedekatan dengan Pak Jok. Pemilih dari etnis Sunda sangat besar yaitu sepertiga dari penduduk Pulau Jawa. Tentu saja tidak semua orang Indonesia Timur suka dengan pak JK, tetapi bagi orang di belahan Indonesia bagian barat (Sumatera, Kalimantan, dan sebagian Jawa), nama Pak JK sudah melekat di dalam hati.

Kekurangan Pak JK adalah usianya yang mulai sepuh, selain itu dia tidak punya kendaraan politik. Pak JK memang sesepuh Golkar, tetapi Golkar sudah mencalonkan Pak ARB. Namun saya membaca perkembangan politik terbaru bahwa jika elektabilitas ARB tetap saja stagnan, maka setelah Pileg 2014 pencapresan ARB akan dievaluasi kembali. Bukan tidak mungkin ARB diganti dengan calon lain, siapa tahu penggantinya Pak JK.

Jika skenarionya ternyata Golkar tidak mencalonkan Pak JK sebagai pengganti ARB, maka saya mengharapkan skenario kedua, yaitu didukung oleh koalisi berbagai parpol tengah yang jumlah suaranya jika ditotal mencapai syarat threshold untuk capres (20%). Jika JK dicalonkan oleh koalisi berbagai parpol ini, maka peta persaingan Pilpres 2014 akan sangat seru. Apalagi jika wapres yang diusung untuk JK adalah Pak Mahfud MD atau Bu Risma, maka pasangan ini menjadi sangat kuat.

Jika JK jadi maju sebagai capres, maka Pilpres 2014 akan menjadi sangat menarik, tidak hanya “dimonopoli” oleh Pak Jok. Mungkinkah? Wallahu alam, Dia yang lebih tahu daripada saya.

Dipublikasi di Indonesiaku | 7 Komentar

Sejarah Selalu Berulang (Pak Beye dan Pak Jok)

Tiap zaman punya tokoh dan ceritanya masing-masing. Bersinarnya Pak Jok(owi) sebagai Capres paling populer pada Pemilu 2014 ini mengingatkan kita pada tahun 2004 yang lalu. Masih ingat?

Tahun 2004 politik di negeri kita diwarnai dengan euforia terhadap Pak Beye sebagai Capres paling populer saat itu. Pak Beye muncul sebagai antitesis terhadap Presiden incumbent Megawati yang pemerintahannya dianggap mengecewakan rakyat. Ketika kepercayaan rakyat kepada Mega melemah dan kader-kader partainya terlibat skandal korupsi, maka muncullah Pak Beye yang dielu-elukan oleh masyarakat. Sikap Pak Beye yang santun, cerdas, juga pandai menyanyi pada waktu kampanye, membuat rakyat negeri ini kepincut dan memilihnya sebagai Presiden pilihan rakyat.

Kepopuleran Pak Beye diikuti oleh partainya, Demokrat. Pada tahun 2004 Demokrat sebagai partai baru mendapat suara 7%, dan pada tahun 2009 meningkat drastis menjadi 21% dan menjadi pemenang Pemilu. Pada Pemilu 2009 Pak Beye cukup menang Pilpres dalam satu putaran saja. Sebaliknya PDIP yang pada tahun 1999 meraih 33% suara dalam pemilu, pada tahun 2004 tutun menjadi 18,5%, dan pada Pemilu 2009 turun lagi menjadi 14%.

Sepuluh tahun kemudian….

Pada tahun 2014 sekarang terjadi euforia terhadap Pak Jok. Pak Jok muncul sebagai Capres paling bersinar untuk Pemilu 2014. Kemunculan Pak Jok adalah sebagai antitesis terhadap presiden incumbent Pak Beye yang pemerintahannya mengalami degradasi kepercayaan oleh rakyat.

Dugaan saya, kepopuleran Pak Jok akan diikuti oleh partainya, PDIP. Pada Pemilu 2014 ini saya prediksi suara PDIP akan naik drastis karena efek Jokowi. PDIP kemungkinan besar akan menjadi pemenang Pemilu 2014. Sebaliknya Partai Demokrat diprediksi akan menurun raihan suarnya (begitulah kata survey-survey). Kasus korupsi yang melanda Demokrat telah membuat kredibilitas Demokrat hancur.

~~~~~~~~~~~~~~~

Demikianlah, sejarah selalu berulang, history repeat itself. Tiap zaman punya tokohnya masing-masing. Dulu Pak Beye, sekarang Pak Jok. Hal ini sudah sunnatullah sebagaimana di dalam Al-Quran Allah SWT berfirman bahwa kejayaan dan kehancuran suatu ummat itu akan dipergilirkan kepada manusia di muka bumi.

Dan (masa kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (sebagai iktibar/ pengajaran)” (QS. Ali-Imran ayat 140).

Sejarah telah mengajarkan kita dalam memilih pemimpin. Sayangnya masyarakat kita lebih sering memilih pemimpin dari faktor popularitas semata. Seharusnya dalam memilih pemimpin kita juga melihat prestasinya, rekam jejak partai pengusungnya di masa lalu, integritasnya, dan lain-lain. Kalau memilih pemimpin dari popularitas semata akibatnya ya begini, negara kita masih tetap mengalami keterpurukan dalam segala bidang. Pemimpin yang dielu-elukan itu akhirnya menjadi pecundang, partainya korup, negara hancur. Akankah hal ini akan terulang pada Pak Jok dan partainya jika menang Pemilu 2014?

Dipublikasi di Indonesiaku | 3 Komentar

Etika Politik Pak Jok(owi)

Pak Jok sedang berada di atas angin. Pencapresannya oleh PDIP membuatnya makin percaya diri. Berbagai survey mengunggulkan dirinya akan menjadi pemenang Pilpres 2014. Bahkan para pendukungnya sudah bersikap seolah-olah Pak Jok sudah menjadi RI-1 yang baru. Pilpres 2014 dianggap sudah selesai karena para pesaing Pak Jok tidak ada yang sepadan atau melebihi kepopuleran dirinya.

Saya bukan fans atau pendukung Pak Jok, dan bukan pula orang yang anti Pak Jok. Saya hanya ingin bersikap kritis saja terhadap pencalonannya itu. Menurut saya pak Jok adalah orang yang baik dan sosok yang sederhana. Dia memenuhi syarat-syarat sebagai (calon) pemimpin yang merakyat. Namun, keputusannya menjadi Capres tidak sesuai dengan etika dan fatsun politik. Pak Jok kali-kali menegaskan pada waktu kampanye Gubernur DKI 2012 yang lalu bahwa dia tidak akan loncat menjadi Capres

Saya sudah jawab berkali-kali. Sampai sepuluh kali, mungkin yang sekarang ini sudah belasan kali bilang soal komitmen saya. Masa diomongkan lagi, wong sudah bolak balik bilang Jokowi itu komitmen“, ujarnya. Pernyataan tersebut dia lontarkan dalam jumpa pers di kediaman Megawati Soekarnoputri, Kebagusan, Jakarta Selatan, Kamis (20/9/2012) siang. Komitmen tersebut sekaligus menegaskan bahwa dirinya tidak akan maju dalam pencalonan presiden pada Pemilihan Umum 2014. Joko Widodo atau Jokowi berkomitmen memimpin DKI Jakarta selama lima tahun. Ia menjamin tidak akan menjadi “kutu loncat” dengan mengundurkan diri sebelum masa jabatannya usai. (Sumber: Jokowi Janji Pimpin Jakarta Sampai Tuntas). Baca pula Inilah 19 Janji Jokowi Saat Kampanye.

Meskipun tidak ada aturan yang dia langgar karena menjadi Capres dan tidak ada pula larangan menjadi Capres, tetapi secara etika dia seperti orang yang menjilat air ludahnya sendiri. Apa yang Pak Jok lakukan tidak sesuai dengan apa yang dia ucapkan dulu. Para pendukung dan fans Pak Jok melakukan pembelaan dengan menyatakan bahwa bila Pak Jok menjadi Peesiden maka kewenangannya jauh lebih besar lagi membenahi Jakarta ketimbang sekarang menjadi Gubernur DKI. Meskipun demikian tetap saja dalam pandangan banyak orang pak Jok adalah pendusta (baca juga: Pengamat: Jika Gubernur DKI Maksa Nyapres, Gubernur DKI Langgar Janji).

Pak Jok menjadi Capres karena perintah partai, bukan karena kehendak pemilihnya. Ingat ada 56 persen lebih pemilih di DKI yang memilihnya menjadi Gubernur, mereka menitipkan suaranya kepada Pak Jok agar Pak Jok dapat membenahi masalah Jakarta yang ruwet. Sekarang bagaimana pertanggungjawaban kepada pemilih tersebut? Memang masalah Jakarta tidak akan bisa selesai sampai akhir jabatan Pak Jok, karena masalah di Jakarta (banjir, macet) adalah warisan masalah kepemimpinan sebelumnya, namun komitmen Pak Jok untuk menyelesaikan amanah itu sampai akhir jabatan sekarang dipertanyakan, seolah-olah ia lari dari tanggung jawab.

Berkali-kali Pak Jok tidak pernah tuntas menyelesaikan amanah yang dia emban. Belum selesai menjabat sebagai Walikota Solo, dia loncat menjadi Gubernur DKI. Sekarang belum tuntas amanahnya sebagai Gubernur DKI, dia loncat menjadi Capres.

Karena Pak Jok orang Islam, maka saya kutipkan ayat Al-Quran dan beberapa Hadis Nabi tentang keharusan menjaga amanah (sumber dari sini).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS 8:27).

Suatu ketika Ali r.a duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, lalu muncul seorang daripada keluarga al-Aliyah dan bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Beritahulah kepadaku apakah sesuatu yang paling berat dalam agama dan apakah yang ringan?”. Maka jawab Rasulullah: “Yang paling ringan dan mudah adalah mengucap dua kalimah syahadat,dan yang paling berat ialah amanah. Sesungguhnya tidak ada agama bagi orang yang tidak amanah.” (Hadis Riwayat al-Bazar at-Tabrani)

Tidak sempurna iman bagi sesiapa yang tiada amanah pada dirinya dan tiada agama bagi orang yang tidak dipercayai janjinya”. (Hadis Riwayat Imam Ahmad,al-Bazar at-Tabrani).

Nasi sudah menjadi bubur, pak Jok tentu tentu tidak akan mundur menjadi Capres dari PDIP. Kekuasaan itu bagaikan emas yang berkilauan, begitu menggoda orang-orang di sekeliling Pak Jok, bahkan mungkin termasuk pak Jok sendiri, sedangkan janji, sumpah, dan amanah adalah barang yang bisa dipermainkan. Wallahu alam.

Dipublikasi di Indonesiaku | 8 Komentar

Nasib Bebek Itu Berakhir di atas Meja Makan

Difoto di lampu merah Jalan Supratman, bebek-bebek yang lucu ini dibawa dengan keranjang di atas sepeda motor. Leher mereka yang panjang berjelujuran keluar. Mereka tidak tahu mau dibawa kemana.

bebek1

bebek2

Kemungkinan besar mereka akan dibawa ke restoran bebek dan akan berakhir di atas meja makan. Di kota Bandung banyak sekali restoran yang menyajikan menu bebek, ada menu bebek garang (segar merangsang), bebek bakar, bebek sambal cobek, bebek cabe hijau, bebek saus madu, dan lain-lain. Sejak kapan orang Bandung doyan bebek?

Sebuah restoran bebek (bebek garang) di Bandung

Sebuah restoran bebek (bebek garang) di Bandung

Saya suka telur bebek terutama bila dijadikan telur asin. Terhadap daging bebek saya kurang suka, terbayang dagingnya yang kenyal dan baunya yang lebih amis daripada daging ayam. Namun alasan sebenarnya adalah karena saya tidak tega membayangkan bebek dipotong. Kasihan, gitu.

Dipublikasi di Gado-gado | 2 Komentar