Ridwan Kamil yang Saya Kenal

emilKolega saya sesama dosen ITB, Ridwan Kamil, dicalonkan menjadi Walikota Bandung periode 2013 – 2018. Muhammad Ridwan Kamil atau panggilannya Emil adalah seorang arsitek kawakan, karya-karya arsitekturnya bertebaran di berbagai negara, seperti di Singapura, Thailand, Bahrain, Cina, Vietnam, Uni Emirat Arab, dan tentu saja di Indonesia sendiri (selengkapnya baca di sini dan di sini). Dua diantara karya arsitekturnya sudah pernah saya kunjungi. Yang pertama ketika saya ke kota Banda Aceh, di sini saya menyempatkan diri mengunjungi Museum Tsunami yang megah itu, dan yang kedua ketika saya ke Kota Baru Parahyangan di daerah Padalarang Bandung, di sini saya shalat di Masjid Al-Irsyad yang bentuknya unik.

Saya kenal si Emil sejak dia ikut Bimbel Karisma Salman ITB. Tahun 1989-1991 ketika saya duduk di tingkat akhir di ITB, saya menyibukkan diri (sok sibuk! :-) ) sebagai pengajar Bimbel untuk siswa-siswi SMP/SMA di Bimbel Keluarga Remaja Islam Masjid Salman (Karisma) ITB. Murid-murid saya banyak dan salah satunya Emil itu. Kebetulan kakak Emil, yaitu Erwin (Astronomi ’88), adalah teman saya yang juga menjadi pengajar dan pengurus Bimbel Karisma. Waktu itu Emil masih duduk di kelas 3 di SMA Negeri 3 Bandung, dan dia ikut Bimbel sampai menjelang UMPTN pada tahun 1990. Meskipun sewaktu di Bimbel hasil tes try-out nya tidak pernah rangking atas, namun saya percaya dia anak yang cerdas. Lha siapa sih yang meragukan kualitas siswa SMA 3 Bandung, sekolah yang menyimpan murid-murid cerdas yang ketika masuk ITB seperti pindah kelas saja saking banyaknya.

Ayah Erwin (dan Emil, tentu saja) adalah seorang dosen di Unpad. Perumahan dosen Unpad letaknya di daerah Cigadung, kami para pengajar Bimbel sering kumpul di rumah Erwin (dan tentu saja rumah Emil, he..he.) untuk rapat atau sekadar main-main saja. Saya terkesan dengan keluarga Emil dan Erwin, saya menilai keluarga ini adalah keluarga yang taat menjalankan agama. Adik mereka yang paling bungsu malah disekolahkan ke pesantren agar ada dari salah satu anggota keluarganya menjadi ahli agama.

Menjelang pendaftaran UMPTN tahun 1990 saya sempat bertanya kepada Emil apa pilihan Perguruan Tingginya dan mau memilih jurusan apa. Ternyata Emil memilih ITB dan jurusan yang dia minati adalah Jurusan Arstektur. Dia berhasil lulus masuk Arsitektur ITB dan sejak dia kuliah saya sudah jarang bertemu dengannya di kampus. Tahun 1992 saya lulus dari ITB dan mengabdi menjadi dosen di tempat yang sama, beberapa tahun kemudian ketika Indonesia dilanda krisis moneter (sekitar tahun 1998) saya sempat bertemu dengannya dan menanyakan kemana rencananya setelah lulus dari Arsitektur. Dia menjawab mau ambil sekolah S2 di Amerika. Memang akhirnya dia ke Amerika dan sejak itu saya tidak pernah bertemu lagi dengan Emil.

Dari kakaknya saya baru tahu kalau Emil menjadi dosen di Arsitektur ITB. Meskipun satu kampus dan sama-sama dosen namun saya tidak pernah sekalipun bertemu Emil baik di jalan maupun pada acara-acara kampus, padahal kampus ITB itu kecil lho. He..he, mungkin Arsitektur terletak di sebelah tenggara sedangkan Informatika di tengah-tengah kampus makanya jarang ketemu kali.

Sekarang Emil sedang berkonsentrasi untuk memenangkan Pilwalkot Bandung, dia diusung oleh PKS dan Partai Gerindra. Banyak orang yang bertanya kenapa dia mau dicalonkan oleh PKS, partai yang tengah dilanda skandal isu suap yang melibatkan petingginya. Alasan Emil adalah karena hanya partai itu yang mau mengusung dirinya sebagai calon Walikota, sedangkan partai-partai yang lain hanya mau menjadikannya sebagai calon Wakil Walikota saja. Emil tidak mau menjadi Wakil Walikota, sebab dia punya obsesi untuk membenahi kota Bandung yang sekarang centang perenang karena memiliki banyak persoalan sebagai kota besar. Pengalamannya sebagai konsultan Jokowi (ketika menjadi Walikota Solo) dan konsultan Walikota Surabaya membuatnya berpikir kenapa tidak membenahi kotanya sendiri yaitu Bandung. Karena itulah dia terpanggil mencalonkan diri sebagai Walikota Bandung periode 2013-2018.

Sebagai orang yang pernah menjadi ‘guru’ Emil di Bimbel dan juga sesama civitas academica ITB, tentu saja saya memberikan dukungan kepada Emil. Saya membaca daftar penghargaan yang dia peroleh sebagai buah kepakarannya dalam pengembangan wilayah urban, maka saya pikir semua penghargaan itu adalah bukti pengakuan dunia terhadap kemampuan dirinya.

Di bawah ini saya salin surel Emil yang dia kirim ke milis dosen ITB. Dari surel ini kita dapat membaca apa yang menjadi keprihatinannya terhadap perkembangan kota Bandung saat ini dan mimpi-mimpinya untuk membenahi kota Bandung.

Kawan-kawan yang penyabar

Hidup di Bandung hari ini adalah hidup penuh dengan kegelisahan sekaligus
membingungkan. Dulu saya berasumsi bahwa seiring detik, menit dan jam
kehidupan yang bergerak ke arah masa depan, tentunya hadir pula kemajuan
dan kegembiraan mengiringi hidup kita di kota ini. Ternyata saya terlalu
naif. Seiring waktu, justru penggalan demi penggalan kemunduran dan
kesemrawutan hadir membombardir nalar dan mata kita. Ada pertanyaan
penting yang setiap hari menggugat kita: Mau dibawa kemana hari esok dan
masa depan kita?

Berita tentang korupsi, setiap hari, adalah wajah buruk dari mundurnya
peradaban negeri ini. Negeri dan kota ini dimiskinkan oleh mereka-mereka
yang mencuri. Tanpa sadar mereka telah mencuri masa depan anak cucu mereka
sendiri. Hidup tanpa visi, mengakibatkan lingkungan kota ini pun perlahan
hancur atas nama lokomotif ekonomi. Kota Bandung memang sedang sakit. Ciri
kota sakit adalah pemerintahnya koruptif, pebisnisnya oportunis dan kaum
intelektualnya apatis. Kita tengah terjebak disana.

Bandung hari ini adalah Bandung yang padat, ramai juga mencemaskan. Kita
semua berlari berebutan di atas kapasitas infrastruktur kota yang sama
seperti dua puluh tahun lalu. Setiap kehadiran pembangunan baru akan
mendesak badan kota ke arah kesakitan. Setiap musim penghujan kita
dicemaskan oleh banjir melanda jalanan Bandung. Setiap akhir pekan kita
sering harus mengalah kepada tamu-tamu yang berdatangan. Ada kelelahan
demi kelelahan hadir di sudut sanubari kita. Sampai kapan?

Bandung hari ini adalah Bandung yang sakit dan sesak. Sepanjang mata
memandang yang terlihat adalah kesemrawutan dan pelanggaran aturan.
Pelanggaran menjadi hal yang lumrah di kota ini, karena semua berjamaah
melakukannya. Bandung hari ini ibarat sebuah rumah kecil yang sangat
sesak. Bandung dahulu hanya diimajinasikan sebagai ruang kehidupan bagi
300 ribu jiwa. Dengan migrasi dan ledakan penduduk sebanyak 2,4 juta hari
ini maka bermukim di Bandung adalah sebuah perlombaan survival. Tanpa
kendali kota ini akan meledak. Kota yang stres akan melahirkan generasi
yang stres.

Kawan-kawan yang bersemangat,
Ingatlah Sumpah Pemuda. Dahulu, 1928, pemuda bersatu mendobrak nilai-nilai
belenggu penjajahan karena kita dihinakan oleh yang lain. Sekarang kita
dihinakan oleh ulah kita sendiri. Karenanya di jaman yang sakit ini, kita
harus bergerak bersatu untuk merekonstruksi nilai-nilai baru masa depan.
Kita harus menjadi cerdas untuk mampu bersaing. Kita harus peduli untuk
menjadi solusi. Dengan kecerdasan dan kepedulian kita mampu mendorong
lompatan peradaban Indonesia ke garis batas baru. Ya kawan-kawan, kita
bangun Indonesia Baru melalui sebuah rumah bernama Bandung. Dari Bandung
untuk Indonesia.

Saat kita kecewa kita tidak boleh membisu. Saat kita dihinakan kita tidak
boleh diam. Kita harus bergerak cepat mencari jalan baru. Mengubah dunia
sudah tidak bisa dilakukan sendirian. Jalan baru mengubah dunia itu
bernama kolaborasi. Kolaborsi adalah kunci pintu sebuah rumah bernama
masyarakat madani. Kolaborasi adalah sebuah pola pikir bahwa hanya kita
sendiri yang seyogianya mengubah nasib buruk kita. Kota kita adalah
tanggung jawab kita sendiri.

Di hari Rabu yang dingin di tahun 2013 ini, di sebuah kota bernama
Pennsylvania, saya diamanati sebuah penghargaan. Di atas panggung, Eugenie
Birch, Direktur IUR, organisasi pemberi award ini, berkata: “Kami
terinspirasi oleh semangat Bandung”. Semangat ini tercermin ketika sebuah
kampung, Blok Tempe, di Bandung, 2 tahun lalu mampu menyelesaikan sendiri
masalah banjirnya. Warga Blok Tempe mampu mengelola sampah, air dan
asuransi kesehatannya sendiri. Di sisi lain, sekumpulan anak muda kreatif
dalam wadah Bandung Creative City Forum (BCCF) terus bergerak mencari
ragam solusi kreatif untuk masalah kota Bandung.

Semangat Bandung hari ini adalah semangat survival dan kekompakan
warganya. Semangat ini adalah energi luar biasa. Gotong royong par
excelence. Dan dunia pun mengamatinya. Dan dunia pun menghargainya dengan
Urban Leadership Award yang dititipkan kepada saya. Award ini adalah untuk
semangat Bandung. Semangat yang menginspirasi dunia.

Kawan-kawan yang peduli,Selama tiga tahun terakhir, mungkin lebih dari
seratus kali saya bersilaturahmi dengan ragam warga, komunitas dan
sesepuh-sesepuh kota Bandung. Yang saya lakukan hanya satu: mencoba
menjadi pendengar yang baik. Kesimpulannya juga satu: mereka punya
aspirasi dan mimpi untuk hidup, bernapas, beraktivitas di kota Bandung
yang nyaman dan bermartabat. Dan sejujurnya, mimpi sederhana ini pula yang
hari ini belum hadir di kota ini.

Juni tahun 2013, tahun ini, Bandung akan menyelenggarakan pergantian
kepemimpinan kotanya. Di hari-hari ini kita berdiri pada sebuah
persimpangan nasib. Apakah kita hanya berdiri di pinggir mengamati
kemunduran kota yang melahirkan Indonesia ini? Atau memberanikan diri
melompat ke barisan depan untuk ikut menentukan masa depan kota yang
pernah menginspirasi Asia dan Afrika ini?

Dengan segala keterbatasan dan kerendahan hati, ijinkan saya berjuang
untuk mewujudkan mimpi sederhana nan mulia tadi dengan berkompetisi dalam
pemilihan Walikota Bandung 2013-2018. Ibu saya selalu memberi pesan,
jadilah manusia terbaik. Manusia yang sudah cukup dengan ego dirinya.
Manusia yang konsisten untuk selalu bermanfaat bagi mereka di luar
dirinya. Niat saya ingin berkerja, memberikan yang terbaik untuk negeri
ini, negeri tempat saya menyusu dan meminum air tanah bumi pertiwi ini.

Kawan-kawan yang baik,Mewujudkan mimpi ini tidak bisa dilakukan sendirian.
Saya butuh Anda semua. Kita butuh kita semua. Kita optimis bisa merebut
masa depan kita yang lebih baik. Apa guna hidup jika kita tidak optimis.
Saya yakin kita bisa!

Selama 100 hari ke depan kita akan bergerak bersama. Selama 100 hari ke
depan kita akan merapatkan barisan. Selama 100 pagi ke depan kita akan
menyingsingkan lengan baju kita. Selama 100 siang ke depan kita perkuat
tekad kita. Selama 100 sore ke depan kita perterteguh niat baik kita.
Selama 100 malam ke depan kita curahkan gagasan-gagasan kita. Dan selama
100 subuh ke depan kita perbanyak doa-doa kita. Allah selalu bersama
mereka yang berusaha.

Dari lubuk hati yang terdalam, saya mengucapkan berjuta terima kasih bagi
kawan-kawan yang mau percaya: dengan menyisihkan waktu dan energi,
bergabung dalam barisan ini.

Kata orang bijak, daripada selalu mengutuki kegelapan lebih baik
menyalakan lilin-lilin kecil. Sekarang saatnya kita hadirkan nyala
lilin-lilin itu untuk masa depan yang terang bagi anak-anak kita. Saya
bermimpi, jika di suatu pagi di hari Minggu yang cerah di tahun 2018, di
saat kita mengantar anak-anak kita bermain di taman kota, saya ingin Anda
berkata: “Ya Allah, Tuhanku, ternyata 5 tahun lalu itu waktuku untuk jadi
relawan tidaklah sia-sia”.
Mari bergerak kawan-kawan. Ada kereta mimpi yang harus kita kejar.

Malam sunyi, Maret 2013

Jabat Erat
Ridwan Kamil

Selamat ‘bertarung’ dalam Pilwalkot Bandung, Emil, saya doakan semoga kamu terpilih!

Ditulis pada Seputar Bandung | 21 Komentar

Tips Ketika akan Mengambil Program S3

Beberapa kali saya mewawancarai calon mahasiswa program S3 (program Doktor) di ITB, beberapa kali itu pula saya menemukan bahwa banyak calon mahasiswa S3 yang tidak siap dengan judul penelitian yang akan menjadi riset disertasinya nanti. Ada yang masih mencari-cari judul atau masih meraba-raba, dan ada yang sudah punya judul tapi masih belum yakin. Dalam pandangan saya calon mahasiswa S3 seperti itu sebenarnya belum siap, tetapi mememaksakan diri ikut.

Kalau anda belum punya topik penelitian yang pasti namun anda dinyatakan diterima menjadi mahasiswa S3, maka saya yakin akan banyak waktu terbuang untuk mencari judul penelitian. Selama setahun menjelang ujian kualifikasi, anda masih berkutat membaca banyak paper sampai menemukan judul yang mantap. Sayang toh, sebab masa studi S3 itu hanya 3 tahun, jika waktu setahun habis untuk mencari judul penelitian, maka waktu yang tersisa untuk menyelesaikan penelitian tinggal dua tahun. Kalau mau berlama-lama S3 memang masih boleh maksimal 5 tahun (di ITB), tetapi anda tentu mengeluarkan tenaga, waktu, dan uang yang lebih besar lagi. Kebanyakan biaya S3 adalah dari jalur beasiswa, dan beasiswa hanya diberikan selama 3 tahun sesuai masa studi S3. Jika anda S3 selama lima tahun, maka dua tahun selanjutnya anda harus membiayai sendiri, syukur-syukur kalau beasiswa bisa diperpanjang.

Saya sendiri ketika mengambil S3 di ITB mengalami hal di atas. Ketika melamar S3 saya belum mantap dengan judul penelitian yang akan saya lakukan. Selama setahun saya masih mencari-cari judul yang pasti, rugi waktu selama setahun, dan akhirnya saya tidak bisa menyelesaikan S3 tepat waktu. Nah, saya tidak ingin pengalaman saya terulang kembali pada calon mahasiswa S3, maka saya berbagi dua tips ini.

Tips pertama, kalau anda mau mengambil S3 sebaiknya anda sudah mempunyai judul penelitian yang sudah jelas. Jangan datang melamar S3 dengan “tangan kosong atau berharap judul penelitian dari dosen anda. Anda seharusnya sudah menyiapkan apa yang menjadi research question anda, sehingga ketika seleksi wawancara anda dapat menjawab dengan mantap apa yang menjadi persoalan yang akan anda teliti. Ini penting sebab pada seleksi S3 anda diminta mempresentasikan rencana penelitian andan, nah pada sesi presentasi itu pertanyaan yang selalu ditanyakan penguji kepada anda adalah salah satu dari dua hal berikut:
a. Apa yang menjadi research question anda?
b. Kontribusi baru apa atau kebaruan apa yang akan anda hasilkan dari penelitian anda?

Research question itu sangat penting, dan kebanyakan calon mahasiswa S3 yang saya wawancara tidak dapat mendeksripsikan apa masalah penelitian yang dia angkat. Kurang meyakinkan dan sering bingung sendiri, padahal presentasinya demikian semangat menceritakan topik penelitian yang akan dia kerjakan.

Tips kedua, sebaiknya anda sudah melakukan studi dan riset mandiri selama setahun sebelum anda melamar S3. Penelitian selama setahun itu sudah memberikan hasil-hasil pendahuluan (preliminary results) yang menjadi “modal” untuk dikerjakan pada tahap selanjutnya. Jadi, ketika anda sudah diterima menjadi mahasiswa S3, anda tinggal melanjutkan saja riset pendahuluan tadi. Ini dapat membuat penelitian anda menjadi lebih fokus dan dapat mempercepat waktu studi S3 anda. Hasil riset pendahuluan juga bermanfaat untuk meyakinkan anda bahwa riset yang anda kerjakan sudah menampakkan arah yang jelas.

Mudah-mudahan dua buah tips di atas berguna bagi anda yang akan menempuh S3, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Ditulis pada Pendidikan | Tinggalkan Komentar

Nonton Kesenian Minang pada Dies UKM-ITB ke-38

Pekan lalu saya diundang menghadiri pementasan kesenian Minangkabau yang dipersembahkan oleh adik-adik mahasiswa dari Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB. Pegelaran keseniang minang yang bertajuk Minang Rhapsody itu adalah dalam rangka ulang tahun UKM yang ke-38. Tempat pementasannya adalah di gedung pertunjukan megah, Sabuga ITB.

Tata panggung yang apik

Tata panggung yang apik

Saya sudah datang pukul 19.00 dan pertunjukan dimulai pukul 19.10 dengan menampilkan Tari Galombang Pasambahan. Seperti pagelaran tahun-tahun sebelumnya, pementasan kesenian ini menampilkan cerita klasik yang diselingi dengan tari-tarian, randai, musik tradisionil Minang, dan lagu-lagu. Cerita yang dipersembahkan kali ini bertajuk Siti Palito, yaitu kisah perjuangan pahlawan wanita asal nagari Manggopoh, Agam Pasaman, atau dikenal dengan nama Siti Manggopoh.

Randai

Randai

Dari tahun ke tahun pagelaran kesenian dari adik-adik UKM tidak pernah berubah, selalu menampilkan format yang sudah pakem: drama klasik. Karena saya setiap tahun menonton acara pagelaran ini, maka saya merasa ada kejenuhan sebab yang ditampilkan selalu itu ke itu terus. Entah ya, adik-adik mahasiswa itu seakan-akan tidak “berani” think out of the box dengan membuat membuat pertunjukan yang beda, something new.

Dari sisi cerita, kisah Siti yang ditampilkan terkesan melompat-lompat dan tidak jelas apa ceritanya dan pesan yang ingin disampaikan oleh sutradara. Kalau memang itu kisah heroik, sayang tidak terlihat perjuangan Siti melawan penjajah, eh tiba-tiba saja pada akhir drama Siti diceritakan sudah berada di dalam keranda (sudah menjadi mayat). Kapan berperangnya?

Baiklah, sebenarnya bagi penonton cerita di dalam drama tidak terlalu penting (itu yang saya dengar dari salah seorang penonton), kalau dramanya bagus dan disampaikan dengan ciamik tentu akan menarik, tapi kalau tidak jelas seperti kemarin maka diabaikan saja. Dari sisi penonton saya menangkap kesan bahwa yang ingin mereka saksikan adalah glamor kesenian minang yang warna-warni. Ya, penonton sebenarnya menunggu-nunggu tari-tarian yang menawan, musik dan lagu yang enak, dan dialog bahasa minang (lawakan) yang bagarah-garah. Kritik soal dialog lawakan, ada pemain yang menghina fisik lawan, yaitu trik yang menjadi bahan lawakan grup lawak di televisi. Kalau mahasiswa ITB yang melawak seharusnya lawakan yang cerdas seperti stand up comedy itu.

Untunglah pagelaran kesenian itu “tertolong” oleh tari-tariannya yang rancak, namun saya mencatat tarian yang dibawakan sangat irit, hanya enam lima saja yaitu Tari Galombang Pasambahan, Tari Serampang 12 dan Saputangan, Tari Lenggang Bagurau, Tari Garak Kambang, Tari Rantak, dan Tari Piring. Mana nih tari kreasi baru atau yang jarang ditampilkan? Mana Tari Payung yang klasik itu? Dari semua tari itu, hanya Tari Serampang 12 dan Tari Piring yang ciamik dan rancak bana, sedangkan tarian yang lain biasa-biasa saja dan sudah sering dipertunjukkan setiap tahun. Bosan juga. Tari Piring yang menginjak-injak kaca itu dijadikan tarian pamungkas agar penonton tidak beranjak pulang sebelum acara selesai.

DSCF0537

Bagi adik-adik mahasiswa UKM, selamat anda telah memberikan yang terbaik untuk malam pagelaran kesenian minang. Mudah-mudahan tahun depan saya akan melihat sesuatu yang beda.

NB: foto-fotonya kurang tajam ya?

Ditulis pada Cerita Minang di Rantau, Seputar ITB | 9 Komentar

Tur Jalan Lingkar Timur dan Lingkar Barat di dalam Kampus Ganesha ITB

Baru-baru ini ITB sudah berhasil membangun jalan lingkar timur di dalam kampus Ganesha. Selama ini yang sudah ada adalah jalan lingkar barat yang berada sejajar dengan jalan Tamansari (dekat Kebun Binatang Bandung). Jalan lingkar timur berawal dari depan Gedung Lab Pengujian Doping (gedung baru) yang terletak di dekat Gedung kuliah GKU Timur lalu memanjang sejajar dengan jalan Ir. H. Djuanda. Jalan lingkar timur itu bertemu dengan jalan lingkar barat di belokan gedung SBM. Dengan keberadaan jalan lingkar timur itu, maka kampus ITB yang tidak terlalu luas itu dikelilingi oleh sebuah jalan lingkar. Yuk, ikuti jalan-jalan saya mengelilingi kampus Ganesha ITB yang indah itu melalui jalan lingkar timur hingga bertemu dengan jalan lingkar barat.

1. Motor saya mengambil start dari depan Gedung Lab Pengujian Doping.
260420133221

2. Dari depan gedung doping tampaklah ujung jalan lingkar timur. Bangunan yang tampak di latar belakang adakah gedung sebuah perusahaan yang terletak di Jalan Ir. H. Djuanda.

260420133220

3. Ok, saya mulai menyusuri jalan. Kita dapat melihat gedung kuliah GKU Timur tampak dari samping.
260420133222

4. Lalu melewati belakang Lab Hidrolika
260420133224

5. Terus melewati Gedung Prodi Kimia, Teknik Geofisika, Teknik Perminyakan. Saya berhenti sebentar di depan pintu belakang yang tembus ke Rumah Dinas Rektor ITB. Rumah Dinas Rektor ITB terletak di Jalan Ir. H. Djuanda, jadi kalau pak Rektor mau ke kampus tidak perlu keluar melalui Jalan Djuanda yang sering macet, Pak Rektor cukup melewati pintu belakang ini dari rumahnya, maka dia sudah berada di dalam kampus Ganesha.
260420133226

6. Saya melewati gedung Teknik Geologi
260420133227

7. Saya terus memutar melewati Perpustakaan Pusat, kemudian melewati Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM)
260420133229

8. Saya berbelok melewati jalan lingkar barat
260420133228

9. Teruuusss….melewati belakang Teknik Industri dan Matematika, Teknik Mesin, dan Gedung Basic Science
260420133230

10. Jalan lingkar barat ini sungguh sangat rindang, banyak pohon besar dan terdengar suara kicauan burung.
260420133231

Saya cukupkan sampai di sini tur keliling kampus. Mau coba? Silakan datang ke kampus ITB.

Ditulis pada Seputar ITB | 3 Komentar

Terjemahan Nama Program Studi Informatika Menurut ABET

Ini kelanjutan tulisan saya terdahulu tentang Informatika ITB Menuju ABET. Saat ini proses akreditasi tersebut masih berjalan. Ada satu masalah yang sedikit mengganjal yaitu dalam hal terjemahan Bahasa Inggris untuk “Informatika” (saya lebih suka menyebutnya tanpa embel-embel kata “Teknik”, tentang hal ini sudah pernah saya ulas pada tulisan beberapa tahun yang lalu).

Sudah lama di kalangan orang Informatika, baik di ITB maupun di luar ITB, menerjemahkan “informatika” dalam Bahasa Inggris menjadi “informatics”. Jadi, kalau menyebut nama program studi “Teknik Informatika” maka bahasa Inggrisnya adalah Informatics Engineering. Istilah “Informatics Engineering” sudah menjadi khas di ITB, sehingga dalam surat-surat rekomendasi saya menulis institusi tempat saya bekerja sebagai Informatics Engineering Department atau Informatics Department. Terjemahan yang sama juga ditulis di dalam kop surat, transkip akademik dalam bahasa Inggris, maupun ijazah, bahkan dalam kaos atau jaket mahasiswa Informatika ITB.

Namun, ketika diajukan pada proses akreditasi internasional ABET, ternyata nama “Informatics” atau “Informatics Engineering” itu kurang disetujui oleh lembaga ABET. Mengutip email Wakil Dekan STEI-ITB, ketika ITB memasukkan nama program “informatics” dalam kategori Computing untuk diakreditasi pada “computer science program”, pihak ABET memberi tanggapan. Menurut ABET, nama “informatics” memiliki interpretasi yang berbeda dari satu negara ke negara lain, sehingga pihak ABET meminta ITB untuk memodifikasi terjemahan bahasa Inggrisnya sehingga mengandung frasa “computer science” yang mencerminkan konten dari programnya.

Begitu pula kalau “Informatics Engineering” dimasukkan dalam kategori engineering juga tidak ada tempatnya karena dalam kelompok engineering tidak terdapat bidang studi Informatika atau computer science. Yang termasuk engineering itu adalah bidang studi seperti Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Industri, dan lain-lain.

Saya pernah menulis bahwa Program Studi Informatika ITB merupakan gabungan dari computer science dan software engineering. FYI, menurut ACM Computing Curricula, bidang computing itu ada lima macam, yaitu Computer Science, Computer Engineering, Software Engineering, Information System, dan Information Technology. Di ITB semua bidang computing tersebut termasuk di dalam fakultas STEI-ITB. Computer Science dan Software Engineering sudah dicakup di dalam Program Studi Informatika, Information System dan Information Technology dicakup dalam Program Studi Sistem dan Teknologi Informasi, sedangkan Computer Engineering adalah salah satu opsi pada Program Studi Teknik Elektro.

Akhirnya kami menyepakati terjemahan nama untuk “informatika” adalah computer science/informatics. Pertimbangannya, jika informatika diterjemahkan menjadi computer science saja maka dapat menghilangkan nilai historis program studi Informatika di ITB. Memang tidak umum menggunakan nama program studi sebagai garis miring atau slash, tetapi nilai historisnya tetap terjaga selain dan dari sisi konten sudah mencakup computer science.

Nama “Computer Science/Informatics” diajukan ke ABET, dan mereka menyetujui terjemahan nama tersebut untuk Program Studi Informatika ITB. Jadi, untuk selanjutnya, terjemahan nama Informatika dalam Bahasa Inggris adalah Computer Science/Informatics.

Apalah arti sebuah nama menurut pujangga Shakespeare ternyata tidak berlaku dalam kasus akreditasi ini. Nama itu mencerminkan isi dan histori, jadi tetaplah sangat berarti.

Ditulis pada Seputar Informatika | Tinggalkan Komentar

Perbedaan S1, S2, dan S3

Mahasiswa saya pernah bertanya, apa sebenarnya perbedaan antara S1 dan S2. Jika ditambah dengan perbedaan S2 dan S3, maka pertanyaan lengkapnya adalah seperti judul di atas: Apa perbedaan S1, S2, dan S3? Pertanyaan seperti ini wajar muncul sebab setelah melihat Tugas Akhir (skripsi) mahasiswa S1, tesis mahasiswa S2, dan disertasi mahasiswa S3 kok tidak terlihat perbedaan yang signifikan? Tesis S2 dilihat oleh mahasiswa saya sama seperti pekerjaan TA mahasiswa S1, bahkan mungkin lebih rendah kualitasnya daripada TA mahasiswa S1. Mungkin juga disertasi S3 kualitasnya sama seperti tesis S2, atau bahkan lebih rendah lagi.

Di ITB saya sering menguji tesis S1 dan S2, kalau menguji mahasiswa S3 baru sebatas ujian kualifikasi yaitu menguji proposal mahasiswa S3 tahun pertama. Pernah ketika menguji tesis mahasiswa S2 saya merasa heran, tesis semacam ini kok bisa maju sidang, kualitasnya jauh di bawah TA mahasiswa S1 yang saya bimbing. Ah, mungkin dosen pembimbingnya asal menerima topik saja dan tidak memperhatikan substansi tesis, begitu dugaan saya. Sebaliknya ketika menguji TA mahasiswa S1 saya pernah takjub karena kualitasnya melampaui tesis S2 atau bahkan sudah hampir menyamai disertasi S3.

Kalau begitu apa sebenarnya perbedaan program S1, S2, dan S3? Kalau hanya melihat dari kualitas TA dan tesis saja tentu belum mendapat gambaran bedanya apa, harus dilihat juga kurikulumnya. Kurikulum S1 sifatnya umum (general), karena mahasiswa S1 perlu mempelajari semua subjek dalam bidang ilmunya. Sedangkan kurikulum S2 lebih spesifik mendalami suatu sub-bidang di dalam bidang ilmu itu. Meminjam istilah Pak Armein, S1 itu cenderung generalis sedangkan S2 itu cenderung spesialis.

Ambil contoh pada Program Studi S1 Informatika ITB, semua subjek di dalam bidang informatika/computer science dipelajari oleh mahasiswa, yaitu algoritma dan pemrograman, struktur data, matematika diskrit, basisdata, rekayasa perangkat lunak, sistem informasi, jaringan komputer, inteligensia buatan, komputer grafika, sistem operasi, otomata dan teori bahasa. Mahasiswa yang ingin mendalami suatu subjek tertentu di Informatika dapat mengambil mata kuliah pilihan seperti kriptografi dan keamanan komputer, pemrosesan bahasa alami, teknik kompilasi, temu-balik informasi, sistem pakar, dan lain-lain.

Program S2 adalah kelanjutan program S1, oleh karena itu mata kuliah di S2 lebih advance dan yang dipelajari adalah sub-bidang yang lebih spesifik. Pada program S2 Informatika ITB terdapat beberapa opsi atau pilihan, yaitu opsi computer science, opsi Sistem Informasi, opsi Rekayas Perangkat Lunak, opsi Teknologi Informasi, opsi Game, opsi Keamanan Informasi, dan lain-lain. Masing-masing opsi mempunyai kurikulum yang berbeda namun terdapat mata kuliah yang sama (common) untuk semua opsi tadi. Dengan tawaran berbagai opsi tadi mahasiswa dapat menekuni sub-bidang yang akan menjadi spesialisasinya nanti.

Program S3 jelas berbeda dengan S1 dan S2. Di S3 tidak ada kuliah kelas (kecuali kuliah filsafat ilmu), sebab kuliah S3 fokusnya adalah riset mandiri, mahasiswa melakukan riset selama bertahun-tahun untuk mengembangkan pengetahuan baru. Seringkali riset itu berangkat dari suatu hipotesis, dan melalui rangkaian metodologi penelitian ilmiah yang terstruktur hipotesis itu dibuktikan kebenarannya. Kebenaran hipotesis itu menjadi sebuah metode baru sebagai kontribusi bagi ilmu. pengetahuan.

Dalam bahasa saya yang sederhana, perbedaan antara S1, S2, dan S3 dapat dinyatakan dalam sebuah kalimat sebagai berikut: di S1 mahasiswa mempelajari (satu atau lebih) metode, di S2 mahasiswa mengembangkan metode, sedangkan di S3 mahasiswa menghasikan metode (baru). Oleh karena itu, Tugas Akhir mahasiswa S1 adalah mengaplikasikan suatu metode untuk menyelesaikan sebuah persoalan, Tesis S2 mengembangkan metode yang spesifik agar dapat diaplikasikan untuk persoalan yang lebih luas, sedangkan disertasi S3 menghasilkan metode baru yang lebih baik daripada metode yang sudah ada sebelumnya.

Ditulis pada Pendidikan | 6 Komentar

Kue Pagi Serba Seribu

Coba amati jalanan di kompleks pemukiman di kota Bandung. Kita akan banyak menjumpai pedagang kue yang harganya murah meriah, hanya Rp1000 per buah (kecuali beberapa jenis kue yang harganya Rp1500). Kue-kue beraneka rupa itu disusun di dalam wadah-wadah plastik. Hampir semua kue adalah jenis kue basah yang hanya tahan selama satu hari, dan karena dijual pada pagi hari maka saya menyebutnya kue pagi. Di bawah ini adalah foto pedagang kue pagi di kawasan Antapani.

200420133203

200420133201

Pedagang kue pagi saat ini memang sedang menjamur di Bandung. Kue-kue yang beraneka bentuk dan warna di dalam wadah-wadah plastik itu sungguh menggoda. Harga yang murah hanya Rp1000 adalah daya tariknya. Ada kue-kue tradisionil seperti bakwan, risoles, lepet, kue lumpur, nagasari, dadar gulung, apem, lemper, bolu kukus, hingga kue-kue modern seperti rainbow cake, brownies, donat, kue keju, dan lain-lain. Di bawah ini adalah foto pedagang kue Gendhis di kawasan Arcamanik.

200420133199

200420133198

200420133196

Kue-kue itu dipasok oleh perajin kue yang bertebaran di penjuru kota. Pemasok kue sendiri yang mengantarkan produknya ke pedagang. Pemasok yang sama juga mendistribusikan kue ke toko-toko. Pelanggan kue pagi ini cukup banyak, umumnya ibu-ibu yang menyiapkan kue sebagai bekal anaknya ke sekolah atau untuk acara arisan, pengajian, rapat, dan lain-lain.

Kue yang sama di toko-toko harganya dua atau tiga kali lipat, maka di pedagang kue jalanan harganya hanya seribu perak saja. Jadi, pilih yang mana, pilih gengsi atau kuenya? Terserah anda.

Ditulis pada Makanan enak | 3 Komentar