Musim Membuat Tandingan

Bangsa ini tidak pernah berpikir dengan jernih. Ketika kalah dari suatu pertandingan hati merasa tidak puas, lalu membentuk organisasi tandingan. Mereka belum ikhlas menerima kekalahan dan tidak mau mengakui kemenangan lawan. Ada DPR tandingan, ada gubernur tandingan, ada parpol tandingan. Entahlah nanti apa ada presiden tandingan.

Tahukah anda, penyebab semua itu karena nafsu berkuasa. Manusia di mana-mana tidak pernah lekang nafsunya untuk menguasai orang lain. Pada kasus di DPR, sekelompok fraksi (partai) yang kalah dalam pemilihan perangkat dewan (ketua dan wakil komisi), lalu mutung dan membuat dewan tandingan dengan ketua dan wakil dari kelompok mereka sendiri. Bapak/ibu anggota dewan yang terhormat itu telah mempertontonkan perilaku anak kecil kepada seluruh rakyat Indonesia.

Pada kasus gubernur tandingan, sekelompok masyarakat menolak gubernur yang sudah sesuai undang-undang, lalu memproklamirkan gubernur sendiri sebagai bentuk perlawanan. Mereka hanya mempertontonkan lawakan yang tidak lucu kepada masyarakat. Entah sampai kapan adu kuat antara kedua gubernur ini berlangsung. Secara undang-undanga tidak ada yang dilanggar, tetapi tetap saja perseteruan ini tidak elok dilihat.

Pada kasus parpol tandingan, sekelompok elit parpol yang tidak puas dengan keputusan elit lainnya karena tidak sekubu dengan penguasa lalu membuat munas tandingan. Dari munas tersebut lahirlah pengurus tandingan (yang berarti parpol tandingan). Sudah jelas arah dan kepentingan munas tandingan tersebut, yaitu untuk memberikan dukungan kepada penguasa sambil bermanis-manis lidah. Kritisme telah mati, karena jika sudah sekubu dengan penguasa maka tinggal mengaminkan saja semua keputusan penguasa tersebut.

Sekarang tinggallah kita sebagai rakyat biasa menyaksikan pertandingan antara barang yang asli dengan barang yang KW. Yang rugi adalah bangsa kita juga, karena yang bertarung itu sama-sama anak bangsa.

Dipublikasi di Indonesiaku | 3 Komentar

Jalan-jalan ke Gunung Bromo

Pada akhir bulan September yang lalu kami rombongan dosen dari kampus melakukan acara rekreasi ke Gunung Bromo, kota Malang, dan kota Batu. Tujuan utama sebenarnya ke Gunung Bromo yang merupakan ikon wisata Jawa Timur yang terkenal itu. Sungguh saya belum pernah pergi ke Gunung Bromo, jadi ini jalan-jalan pertama saya ke Bromo.

Kami naik pesawat sore dari Bandung menuju Surabaya. Harapan kami bisa sampai ke Gunung Bromo untuk melihat sunrise pada pagi dini hari. Dari Bandung kami naik Air Asia menuju Bandara Juanda Surabaya. Pesawat tiba lebih cepat dari jadwal karena keberangkatan (jam 19.00) juga lebih cepat dari jadwalnya.

Dari Bandara Juanda bus yang menjemput sudah menunggu. Setelah makan malam di Sidoarjo, bus langsung berangkat malam itu juga ke Gunung Bromo melewati beberapa kabupaten seperti Sidoarjo dan Pasuruan. Tepat tengah malam bus sampai ke hotel transit di Pananjakan. Ini berarti kami sudah sampai di kawasan Gunung Bromo. Tepatnya kami berada di kawasan pegunungan Tengger. Gunung Bromo adalah salah satu puncak gunung di Pegunungan Tengger.

Mendengar kata Tengger kita pasti teringat suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo. Orang Tengger umumnya beragama Hindu. FYI, menurut sejarah, suku Tengger adalah sisa penduduk Kerajaan Majapahit pada zaman dulu yang menolak agama Islam. Ketika Islam berkembang di Pulau Jawa melalui para Wali Songo, penyebarannya pun sampai ke kerajaan Majapahit. Sebagian penduduk Majapahit yang tidak mau masuk Islam mengungsi ke dua tempat, yang pertama ke Pegunungan Tengger menjadi suku Tengger, sebagian lagi menyeberang ke Pulau Bali, berasimilasi dengan penduduk asli di sana, dan menyebarkan agama Hindu di Pulau Bali. Demikian flashback sejarah yang saya ingat, CMIIW. Kalau kita melewati rumah-rumah suku Tengger, kita melihat keserupaan dengan desa-desa di Bali. Di depan rumah orang Tengger terdapat pura kecil tempat menaruh sesaji.

Di hotel transit kami tidur sekitar dua jam. Jam dua pagi kami dibangunkan pemandu wisata karena petualangan ke Gunung Bromo akan segera dimulai. Pemandu wisata sudah menyewa belasan jip (jeep) menuju Gunung Bromo. Jip adalah kendaraan yang kuat untuk melewati lautan pasir dan jalan yang menanjak di sekitar Bromo. Satu jip diisi maksimal lima penumpang, satu orang di depan dan empat orang di belakang. Jip-jip itu dikelola oleh penduduk suku Tengger. Banyak sekali jip terdapat di halaman rumah orang Tengger. Kendaraan seperti Avanza, Xenia, atau merek lainnya jarang terlihat, mungkin karena kurang cocok untuk jalan di pegunungan dan tanah berpasir.

Puluhan jip parkir di sepanjang jalan menuju kawasan Bromo  (difoto pagi hari setelah sunrise)

Puluhan jip parkir di sepanjang jalan menuju kawasan Bromo (difoto pagi hari setelah sunrise)

Jalanan menuju kawasan Bromo sangat padat malam itu. Mungkin karena malam minggu sehingga banyak wisatawan yang ingin mengejar sunrise di Bromo. Bus tidak bisa sampai ke puncak Pananjakan karena sudah susah untuk parkir dan melaju ke atas. Akhirnya kami para penumpang jip berjalan kaki. Banyaknya wisatawan yang berjalan kaki menuju Pananjakan adalah rezeki bagi tukang ojeg. Puluhan tukang ojeg menawarkan jasa ke puncak Pananjakan, mereka berkali-kali mengatakan “masih jauh ke atas, Pak/Bu”. Tarif yang diminta adalah Rp15.000 per orang. Jika dua orang berboncengan maka tarifnya tetap dihitung Rp15.00/orang. Saya dan teman mengira puncak Pananjakan masih jauh, maka saya menyerah dengan tawaran tukang ojeg. Saya pun naik ojeg ke puncak Panajakan. Rupanya saudara-saudara… puncak Pananjakan itu hanya dekat saja, nggak sampai dua ratus meter dari tempat kami turun dari mobil jip. He..he..sedikit tertipu ya, tapi ya sudahlah, diikhlaskan saja Rp15.000 untuk jarak 200 meter itu.

Malam itu langit terasa sangat dekat, mungkin karena kami berada di atas gunung. Bintang-bintang bertaburan di atas langit Gunung Bromo, terasa begitu dekatnya. Belum pernah saya melihat langit malam yang bertaburan bintang seindah malam itu, bersih tanpa polusi. Kalau kita di kota besar seperti Bandung mana pernah lagi melihat langit malam sebersih ini. Sayang sekali saya tidak sempat memotretnya, karena tangan dan jemari saya sudah kaku akibat suhu di puncak Pananjakan begitu dinginnya. Sarung tangan, jaket tebal, syal, dan sebo tidak mampu menanahan dinginnya suhu. Oh iya, waktu terbaik mengunjungi Bromo adalah pada musim kemarau (Juli-Sepetember), karena cuaca saat itu sangat bagus, tiada hujan, dan langit begitu bersih. Cuman ya itu, dinginnya malam hari pada musim kemarau di gunung sangat menggigit kulit.

Ratusan orang sudah berkumpul di puncak Pananjakan. Banyak penjual hidangan hangat di sini seperti jagung bakar, wedang jahe, kacang rebus, tahu goreng, bakwan, dan lain-lain. Bagi yang mau sholat jangan khawatir, ada sebuah masjid dan sebuah gardu yang difungsikan sebagai mushola. Tapi air wudhunya itu mak, sangat dingin!

Jam empat dinihari remang-remang fajar mulai terlihat dari puncak Pananjakan. Inilah awal sunrise yang ditunggu-tunggu. Ratusan orang sudah siap dengan kameranya. Benarlah, di ufuk timur langit mulai memerah, pertanda matahari akan terbit. Fajar mulai menyingsing.

Fajar mulai menyingsing dari kejauhan.

Fajar mulai menyingsing dari kejauhan.

Di tempat lain, di kawasan bibir jurang di puncak Pananjakan, puluhan orang berkumpul untuk bersiap-siap melihat sebuah pemandangan yang akan memukau mata. Ketika matahari semakin memperlihatkan sinarnya menerangi langit malam, sesuatu yang terselubung gelap di seberang jurang perlahan-lahan mulai terlihat bentuknya. Mula-mula berupa siluet, dan akhirnya tampaklah pemandangan yang begitu indahnya, masya Allah, bagaikan sebuah lukisan alam yang terbentang dengan indahnya.

Tiga buah puncak Gunung dengan lautan pasir di bawahnya.  Gunung Batok di latar depan, di sebelahnya Gunung Bromo dengan kawahnya, dan di belakangnya Gunung Semeru.

Tiga buah puncak Gunung dengan lautan pasir di bawahnya. Gunung Batok di latar depan, di sebelahnya Gunung Bromo dengan kawahnya, dan di belakangnya Gunung Semeru.

Lansekap alam yang luar biasa indahnya.

Lansekap alam yang luar biasa indahnya.

Teman saya berhasil memotret dengan kamera yang lebih baik, di bawah ini fotonya. Lihatlah, Gunung Semeru di kejauhan tampak seperti penjaga yang menjaga kedua gunung di depannya, Bromo dan Batok.

Tiga gunung yang begitu indah. Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru (credit title: Bayu Hendradjaya).

Tiga gunung yang begitu indah. Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru (credit title: Bayu Hendradjaya).

Ratusan orang antri untuk memotret  pemandangan alam yang luar biasa ini.

Ratusan orang antri untuk memotret pemandangan alam yang luar biasa ini.

Bandingkan dengan fotto dari Wikipedia: Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Mtbromo.jpg)

Bandingkan dengan fotto dari Wikipedia: Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Mtbromo.jpg)

Narsis dulu di depan Bromo

Narsis dulu di depan Bromo

Puas berfoto-foto di pincak Pananjakan, kami kembali turun ke bawah. Di sana mobil jip sudah menunggu untuk membawa kami ke petualangan yang lebih seru lagi, yaitu melintasi lautan pasir. FYI, berjuta tahun yang lalu hanya ada Gunung Tengger di sana. Gunung ini meletus dengan hebatnya sehingga menciptakan kawah yang sangat luas yang disebut kaldera. Kaldera Gunung Tengger tersebut lama kelamaan tertutup pasir sisa letusan gunung api sehingga mengesankan sebuah samudera pasir. Dari dasar lautan pasir itu muncul gunung baru yang bernama Gunung Batok karena bentuknya mirip seperti batok kelapa, sedangkan bagian aktif Gunung Tengger melahirkan Gunung Bromo. Gunung Bromo inilah yang masih aktif hingga sekarang.

Gunung Batok di hamparan lautan pasir

Gunung Batok di hamparan lautan pasir

Puluhan jip mengantar wisatawan ke lautan pasir (kaldera Gunung Tengger).

Puluhan jip mengantar wisatawan ke lautan pasir (kaldera Gunung Tengger).

Lalu, di manakah Gunung Bromo yang kita lihat dari puncak Pananjakan? Gunung Bromo terletak di sisi kiri belakang Gunung Batok. Dari lautan pasir kita dapat melihat ratusan orang berjalan menuju puncak Gunung Bromo. Bukit yang berasap itulah puncak Gunung Bromo.

Menuju Gunung Bromo

Menuju Gunung Bromo

Untuk menuju puncak Gunung Bromo yang ada kawahnya itu, kita bisa berjalan kaki melewati lautan pasir, atau kalau malas berjalan bisa naik kuda yang disewakan dan dituntun oleh orang Tengger. Anda harus hati-hati menanyakan tarif naik kuda. Mula-mula pemilik kuda menawarkan jasa Rp100.000 pp (ke kaki Gunung Bromo dan kembali lagi ke jip di lautan pasir). Pengalaman saya ketika itu, mereka bilang tarifnya seratus ribu rupiah pulang pergi, tetapi ketika sudah sampai di kaki Gunung Bromo (perhentian terakhir menjelang tangga naik), mereka mengatakan tarifnya Rp100.000 untuk sekali jalan saja, kalau pulang pergi Rp150.000. Wah, saya pikir ini cara yang tidak baik, dan mencemari citra wisata Gunung Bromo.

Berkuda mendaki puncak Gunung Bromo

Berkuda mendaki puncak Gunung Bromo

Saya naik kuda yang dituntun oleh orang Tengger mendaki Gunung Bromo. Dari ketinggian saya dapat melihat ke bawah, di bawah terhampar lautan pasir yang maha luas, puluhan jip yang menunggu di sana terasa kecil seperti mobil mainan saja, lalu tampak juga sebuah pura. Di latar belakang adalah tebing-tebing Gunung Tengger. Dari pemandangan ini dapatlah kita menyimpulkan bahwa tempat kita berada ini sesungguhnya adalah kawah gunung api purba.

Kaldera Gunung Tengger tampak dari kaki Gunung Bromo

Kaldera Gunung Tengger tampak dari kaki Gunung Bromo

Kuda yang saya tumpangi berhenti hingga kaki Gunung Bromo. Di sini terdapat tangga menuju kawah. Ratusan orang antri untuk menaiki tangga tersebut.

Tangga menuju kawah Gunung Bromo

Tangga menuju kawah Gunung Bromo

Antri menuju kawah

Antri menuju kawah

Antri

Antri

Setelah mendaki anak tangga yang jumlahnya ratusan, sampailah kami ke puncak Gunung Bromo. Di puncak gunung inilah terdapat kawah yang terjal dan bentuknya menyerupai kerucut yang runcing ke bawah. Hati-hati berada di bibir kawah ini, meskipun sudah diberi pagar tapi tetap saja harus berpegangan supaya tidak jatuh. Di kawah yang masih aktif itu setiap tahun dilangsungkan upacara Kasada atau Kasodo. Orang suku Tengger yang beragama Hindu melarung sesajen berupa hewan hidup ke dalam kawah seperti ayam, kambing, makanan, dan lain-lain sebagai persembahan kepada Sang Hyang Widi.

Kawah  Gunung Bromo yang masih aktif

Kawah Gunung Bromo yang masih aktif

Kawah Gunung bromo

Kawah Gunung bromo

Upcara Kasodo di Gunung Bromo (Sumber: Wikipedia)

Upcara Kasodo di Gunung Bromo (Sumber: Wikipedia)

Selesai berfoto-foto di kawah Gunung bromo, saya pun turun kembali ke lautan pasir. Di lautan apsir ini terdapat sebuah pura agama Hindu. Di pura inilah upacara Kasodo dimulai.

Anak saya befoto ddengan latar belakang Gunung Bromo. Di kaki Guunung Bromo terlihat sebuah pura.

Anak saya befoto ddengan latar belakang Gunung Bromo. Di kaki Guunung Bromo terlihat sebuah pura.

Pura di kaki Gunung Bromo

Pura di kaki Gunung Bromo

Kembali bertemu dengan Gunung Batok di tengah hamparan lautan pasir.

Kembali bertemu dengan Gunung Batok di tengah hampran lautan pasir.

Demikianlah pengalaman saya jalan-jalan ke Gunung Bromo. Akhirnya kesampaian juga keinginan saya mengunjungi gunung yang terkenal ini. Sungguh indah pemandangan alam di Gunung Bromo, sungguh indah ciptaan Allah SWT.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 5 Komentar

Menjadi “Tukang Ojeg” Anak

Selain sebagai PNS, “profesi” sampingan saya adalah merangkap sebagai “tukang ojeg”. Tentu bukan tukang ojeg dalam arti sebenarnya, tetapi mengantar (jemput) anak sendiri pergi (dan pulang) sekolah. Dengan sepeda motor yang setia, setiap pagi tugas saya adalah mengantarkan anak ke ke sekolahnya. Setelah mereka selesai mandi dan sarapan, maka saya menjadi tukang ojeg dulu untuk anak-anak tersayang.

Setiap hari saya selalu melakukan hal ini, dari hari Senin sampai Sabtu setiap pagi. Jika dihitung-hitung, saya sudah menjadi tukang ojeg anak sejak mereka mulai pra sekolah. Mulai dari sekolah di Play Group, TK, SD, bahkan hingga SMP. Selesai tahap sekolah si kakak, selanjutnya giliran adiknyalah yang saya antar (jemput) sekolah. Begitu seterusnya hingga sekarang bahkan secara bergantian, kakak dulu yang diantar pukul enam pagi, lalu nanti giliran adiknya pukul setengah tujuh pagi.

Saya tulis ‘jemput’ dalam tanda kurung karena jika saya belum berangkat ke kampus, maka saya menjemput anak dulu dari sekolah. Saya bisa begitu karena di kampus saya tidak ada keharusan dosen masuk pagi-pagi dan pulang sore secara teratur seperti pekerja kantor lain umumnya (istri saya yang juga PNS harus berangkat pagi-pagi dan pulang sore). Saya bisa berangkat ke kampus jam berapa saja. Jika jadwal mengajar siang, saya bisa pergi ke kampus menjelang jam kuliah. Karena jadwal yang fleksibel tersebut, saya mempunyai waktu lebih banyak di rumah untuk mengerjakan persiapan kuliah dari rumah, menulis, memeriksa ujian, dan sebagainya. Ketika masih di TK anak saya pulang jam sepuluh pagi, maka saya masih bisa menjemputnya dengan motor, jika tidak bisa menjemputnya maka dia pulang dengan becak yang sudah saya langgan sejak dia masih Play Group.

Kini ketika dua orang anak sudah SMP, saya tidak mengantarnya sampai ke sekolah lagi karena sekolahnya sudah jauh. Saya antar dia hinga ke tempat perhentian angkot, lalu dia pergi sendiri dengan angkot atau bis Damri ke sekolah. Untuk anak yang sulung karena tidak bisa berangkat sendiri (ABK, anak bekebutuhan khusus), maka saya sewa tukang ojeg beneran untuk mengantar jemputnya pergi dan pulang sekolah.

Mungkin anda anggap pekerjaan antar jemput anak ke sekolah itu adalah rutinitas biasa saja, sebab setiap orangtua pasti melakukannya ketika anak mereka masih belum mandiri. Namun saya memandangnya tidak sekedar tugas dan kewajiban orangtua semata, tetapi hal itu adalah momen-momen yang terindah di dalam hidup. Ketika mereka sudah mandiri dan bisa pergi sendiri, atau ketika mereka sudah dewasa dan tidak memerlukan kita lagi, maka momen-momen bersama anak itulah yang akan selalu terkenang. Anak kita tidak akan teringat dengan makanan dan mainan yang kita belikan, tetapi yang akan menjadi kenangan indah dalam hidupnya nanti adalah momen-momen bersama ayah bundanya. Anak kita tidak membutuhkan mainan-mainan  yang mahal, yang mereka butuhkan adalah kasih dan sayang orangtuanya.

Kini tinggal si bungsu yang saya antar setiap pagi ke sekolah. Kakaknya hanya sesekali diantar ke tempat perhentian angkot. Jika saya ada tugas ke luar kota, saya sering merasa sedih karena tidak bisa mengantar anak ke sekolah. Sebagai tukang ojeg anak, saya menikmati “profesi” tambahan ini, sebab kelak setelah dia dewasa saya tidak akan merasakan momen ini lagi. Dalam perjalanan naik motor ke sekolah biasanya saya bercerita, menanamkan nasehat, dan bersenda gurau dengannya. Sesampai di halaman sekolah, dia turun, saya cium keningnya, lalu dia berjalan masuk sambil memberi salim kepada guru-gurunya yang berbaris menyambut murid-murid yang baru datang. Saya pandangi anak saya berjalan hingga dia “hilang” berbelok masuk ke dalam kelasnya, sesudah itu barulah saya pulang kembali ke rumah.

Dipublikasi di Pengalamanku | 6 Komentar

Patung Si Dino T-Rex Setelah Pasar Seni Usai

Sudah seminggu lebih Pasar Seni ITB usai. Patung dinosaurus T-rex dari seng bekas masih teronggok di sana. Patung dino ini menjadi daya tarik utama pengunjung ketika Pasar Seni ITB 23 November yang lalu. Sekarang ia menjadi ajang foto-foto bagi orang yang datang ke kampus ITB. Saya merasa sayang saja jika si dino dibuang atau dibongkar, eksentrik sekali sih. Saya membayangkan si T-Rex ini dipindahkan ke dekat Aula Timur dekat FSRD dan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang datang ke kampus. Kalau saya punya tanah akan saya minta dinosaurus itu untuk dipajang di rumah supaya menjadi hiburan bagi anak-anak di kampung.

Tapi, olala, ternyata ada kabar si dino sudah terjual, dibeli oleh alumni ITB ’81 untuk dipasang di kampus ITB Jatinangor. Semoga saja setelah dipasang di kampus Jatinangor, si T-Rex tidak berjalan-jalan pada malam hari dan membuat takut penghuni asrama. Hi..hi..

Dipublikasi di Seputar ITB | 2 Komentar

Larangan Rapat di Hotel

Menpan yang baru, Yuddy Chrisnandi, mengeluarkan aturan berupa larangan bagi PNS melakukan rapat di hotel (baca ini). Pada prinsipnya saya setuju dengan semangat aturan tersebut. Maksudnya baik, yaitu gerakan melakukan penghematan nasional. Sudah punya ruang rapat di kantor tetapi rapat kok di hotel?

Bagi kami di ITB, rapat di hotel bukan kebiasaan, hanya sesekali saja untuk refreshing untuk mengurangi efek jenuh. Kalau mengadakan acara rapat di luar kota pasti di hotel karena sekalian menginap di sana. Tapi kalau nanti tidak boleh, ya sudah rapat di kantor saja.

Namun saya pikir aturan ini tidak bisa dipukul rata sebab bisa menjadi kontraproduktif. Kalau memang instansi memiliki ruangan pertemuan yang besar dan representatif, kenapa harus rapat di hotel? Bagaimana jika peserta rapat banyak dan tidak ada ruangan yang mencukupi. Pinjam ke instansi lain? Wah, bisa saja sih, tetapi apa memang segitunya?

Saya katakan tidak bisa dipukul rata karena persoalannya harus dilihat kasus per kasus. Bagi kami di kampus, pertemuan tidak selalu bisa dilakukan di dalam kampus, kadang-kadang harus di luar kota. Misalnya dalam penyusunan kurikulum, kami mengadakan pertemuan dengan alumni untuk mendapatkan masukan. Karena sebagian besar alumni bekerja di Jakarta dan waktu mereka terbatas, maka pertemuan dengan alumni pasti dilakukan di Jakarta. Kalau di Jakarta ya di mana lagi kalau bukan di hotel.

Jadi, jangan dilihat kemangkusannya saja (efisiensi), tetapi juga harus dilihat mana yang lebih sangkil (efektif).

Dipublikasi di Indonesiaku | 1 Komentar

Pantai Sanur (Lagi)

Minggu lalu saya ke Pantai Sanur, Bali, lagi karena ada konferensi internasional yang diadakan di sana. Konferensi diadakan di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, dan kami panitia menginap di hotel yang sama.

Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur

Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur

Ini kali kedua saya ke Pantai Sanur. Kali pertama ketika jalan-jalan bersama keluarga tahun lalu. Menurut saya Pantai Sanur jika dilihat dari dekat biasa-biasa saja. Namun jika dilihat dari atas barulah tampak keindahannya, seperti yang saya potret dari lantai 10 hotel tersebut.

Pantai Sanur tampak dari lantai 10 hotel

Pantai Sanur tampak dari lantai 10 hotel

Pantai Sanur tampak dari sisi kiri

Pantai Sanur tampak dari sisi kiri

Pada pagi hari air laut di Pantai Sanur surut, tetapi siang hingga malam hari air laut kembali pasang. Pantai ini cocok untuk berenang karena ombaknya jauh di tengah dan pantainay dangkal. Di pinggir pantai tidak ada ombak, sehingga jika berenang di pinggir pantai serasa berenang di dalam danau.

Pantai yang nyaris tiada ombak

Pantai yang nyaris tiada ombak

Berenang di sini serasa di  danau karena tidak ada ombak di pinggir pantai

Berenang di sini serasa di danau karena tidak ada ombak di pinggir pantai

Kembali ke hotel tempat kami menginap. Hotel Inna Grand Bali Beach punya sisi cerita yang unik. Cerita tentang tingginya yang melewati tinggi pohon kelapa sudah saya ceritakan pada tulisan terdahulu. Nah, kali ini ceritanya agak mistis. Di hotel ini ada sebuah kamar yang sekarang menjadi kamar suci bagi orang Hindu, yaitu kamar nomor 327. Kamar tersebut adalah kamar yang pernah didiami oleh Bung Karno. Kamar dengan nomor 327 ini tidak disewakan untuk umum, hanya dibuka ketika hari Kamis saja dan pada jam tertentu saja untuk keperluan persembahyangan orang Hindu. Kabarnya Megawati sering mengunjungi kamara ini ketika dia mengunjungi Bali. Menurut cerita, ketika hotel Inna Grand Bali Beach terbakar (?), kamar nomor 327 luput dari amukan api. Wallahu alam. Ada kejadian anehkah di kamar tersebut? Menurut cerita pelayan hotel, sering terdengar suara ketokan dari dalam kamar, tetapi ketika kamar dibuka tidak ada orang di dalamnya. Ah, pasti itu ulah jin, kata saya dalam hati.

Kamar nomor 327

Kamar nomor 327

Meskipun di lingkungan Hindu, hotel ini menyediakan mushola kecil di lingkungan hotel. Lumayanlah menajdi tempat sholat bagi tamu-tamu hotel yang tidak menginap di sana.

Mohola Al Ikhlas di Hotel Inna Grand Bali Beach

Mohola Al Ikhlas di Hotel Inna Grand Bali Beach

Mushola kecil tampak dari depan

Mushola kecil tampak dari depan

Di depan mushola berdiri sebuah pura yang cukup besar. Pura digunakan oleh pegawai hotel untuk bersembahyang, dan juga (mungkin) bagi tamu yang kebetulan beragama Hindu. Hmm… sebuah bentuk toleransi beragama skala kecil di Pulau Bali.

Selain mushola, juga ada pura persis di depannya.

Selain mushola, juga ada pura persis di depannya.

Begitulah catatan perjalanan saya ke Pantai Sanur (lagi).

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 1 Komentar

Ponsel Pintar 4G dari Kampus ITB

Beberapa waktu yang lalu media sosial ramai mem-posting beriuta dari sebuah media nasional tentang ponsel pintar (smart phone) dengan teknologi 4G yang dibuat oleh dosen ITB. Ponsel tersebut diberi nama Ivo. Silakan baca beritanya di sini: Keren, ITB Sukses Bikin Ponsel Lokal Berteknologi 4G.

Berita tersebut menjadi istimewa karena ada rasa bangga bangsa kita mampu memproduksi ponsel sendiri, apalagi ponsel pintar dengan teknologi terbaru 4G. Namun jika disebut ponsel buatan dalam negeri atau buatan ITB tidak benar juga, mungkin lebih tepat disebut sebagai ponsel pintar dengan tingkat komponen dalam negeri 30% dan pakar dari ITB (tepatnya dari fakultas STEI-ITB) terlibat di dalamnya. Seperti dikutip dari berita di atas, “Mayoritas komponen produk dari Cina, karena di sini masih sulit didapat,” katanya. Adapun lokasi perakitan dan pembuatannya di Batam. Lokasi itu dipilih karena pabrikan di sana sudah beroperasi selama 22 tahun dan bebas pajak”.

Sebenarnya berita peluncuran ponsel pintar tersebut bukan berita baru. Media sudah mempublikasikannya sejak bulan Juli yang lalu (baca: Smartphone 4G Lokal Didesain ITB). Spesifikasi ponsel Ivo tersebut bisa dibaca pada tulisan ini: Ivo, Smartphone 4G Buatan Indonesia yang Siap Menggebrak) dan ini.

Saya berkesempatan melihat ponsel tersebut. Beberapa ponsel Ivo dibagikan kepada beberapa orang di fakultas saya. Di bawah ini beberapa foto ponsel Ivo yang saya jepret dari ponsel rekan saya. Menurut yang memakainya, ponsel Ivo rancangan Mikroelektronika ITB tersebut kencang sekali operasinya, mungkin karena kecepatan prosesornya yang bagus.

Tampak depan ponsel Ivo dengan sistem operasi Android

Tampak depan ponsel Ivo dengan sistem operasi Android

Tampak belakang ponsel Ivo

Tampak belakang ponsel Ivo

Dengan harga sekitar dua juta ke bawah dan terintegrasi dengan paket internet BOLT, apakah ponsel buatan dalam negeri ini akan merebut hati pengguna ponsel di tanah air? Wallaahu alam.

Dipublikasi di Seputar ITB | 1 Komentar