Ada Tiga Program Studi Baru di ITB tahun 2013

Bagi adik-adik SMA yang akan memilih ITB, tahun ini ITB menambah tiga Program Studi Baru yang dapat anda pilih pada SNMPTN atau SBMPTN 2013. SBMPTN adalah singkatan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. FYI, SNMPTN menggunakan jalur undangan (60%) dan SBMPTN jalur ujian tulis (40%).

Ketiga Prodi baru tersebut adalah:
1. Kewirausahaan
2. Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air
3. Rekayasa Infrastruktur Lingkungan.

Prodi pertama (Kewirausahaan) masuk dalam Sekolah Bisnis dan manajemen (SBM) ITB. Info lebih lengkap tentang Prodi Kewirausahaan dapat dibaca pada laman web ini: http://www.sbm.itb.ac.id/kewirausahaan. Prodi kedua dan ketiga masuk dalam Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (sampai tulisan ini dibuat belum tersedia laman web yang menginformasikan apa dan bagaimana Prodi Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air dan Prodi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan. Namun yang jelas, Program S2-nya sudah ada terlebih dahulu (info dari sini: http://www.ftsl.itb.ac.id/)

Pada tahun pertama, seluruh mahsiswa baru ketiga Prodi tersebut masih berkuliah di Kampus ITB Ganesha, namun pada tahun kedua dan seterusnya mereka melakukan aktivitas perkuliahan di Kampus ITB Jatinangor.

Tiga buah Prodi baru tersebut melengkapi tiga Prodi baru lainnya yang sudah dibuka pada tahun 2012, yaitu Rekayasa Hayati, Rekayasa Pertanian, dan Rekayasa Kehutanan (ketiganya di bawah Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, SITH, ITB). Perkuliahannya dilaksanakan di kampus ITB Jatinangor juga.

Tertarik? Silakan simak info Ujian Seleksi Masuk ITB pada laman ini: http://usm.itb.ac.id/

Dipublikasi di Seputar ITB | 2 Komentar

Fajar

fajar and meDua hari ini saya menunggui anak saya yang bungsu, Fajar, sakit. Badannya panas dan sering muntah-muntah. Tiap makanan dan minuman yang masuk ke dalam perutnya selalu dimuntahkan kembali, termasuk obat yang baru diminum. Sudah tidak terhitung muntahnya sejak kemarin sehingga isi perutnya sudah habis dimuntahkan, bahkan sampai muntahnya bercampur darah karena sudah tidak ada lagi isi lambungnya yang dikuras. Obat yang diberikan oleh dokter anak langganan saya, Dokter Nurrachim, sudah hampir habis, tetapi kemarin panasnya belum juga turun. Dengan perasaan khawatir saya mendatangi kembali dokter karena Fajar muntahnya tidak pernah berhenti. Karena khawatir deman berdarah, dokter menyarankan saya periksa darah di lab sore itu juga. Sore-sore hujan gerimis saya langsung membawa Fajar ke klinik Medika Antapani dengan becak untuk diambil sampel darahnya. Setelah sSetengah jam menunggu hasil tes lab keluar, dan alhamdulillah semuanya normal. Saya sedikit bernapas lega. Sekarang panasnya sudah turun dan sudah mau makan meskipun sedikit. Untunglah Fajar tidak muntah lagi dan mulai tampak ceria.

***********

Sambil duduk terkantuk-kantuk saya mengisi blog ini setelah seminggu lebih kosong. Saya merenungkan Fajar sambil mengingat masa-masa yang lalu. Anak saya yang terakhir ini lahir menjelang waktu subuh sehingga saya beri nama “Fajar”. Baru seminggu dia lahir dia harus masuk rumah sakit untuk disinar (karena kekurangan zat bilirubin). Kulitnya kuning karena kurang mendapat sinar matahari. Bulan Desember yang sering hujan sangat kurang cahaya matahari sehingga setiap dijemur ibunya pada pagi hari kurang mendapat sinar yang optimal.

Fajar masuk rumah sakit menjelang tahun baru. Bayangkan bayi yang baru seminggu umurnya harus berpisah dengan ASI ibunya. Ibunya tidak diizinkan Rumah Sakit untuk menunggui bayi sebab para perawat di rumah sakit sudah bertugas menjaga bayi yang lahir prematur maupun bayi yang sedang mengalami proses penyinaran. Fajar ditempatkan di dalam boks yang disinari dengan lampu berwarna biru. Matanya ditutup kain supaya sinar lampu tidak merusak matanya. Selama tiga hari tiga malam dia harus disinar secara terus menerus. Selama tiga hari tiga malam itu pula saya bolak-balik ke rumah sakit untuk mengantarkan ASI yang dipompa dari payudara ibunya. Jadwal mengantar ASI adalah tiga kali sehari, yaitu pagi, siang dan malam hari. Kadang-kadang ketika produksi ASI berlimpah saya mengantarkan ASI pada jam 01.00 dinihari sebab ibunya menahan sakit pada payudara bila ASI tidak dikeluarkan. Ketika orang-orang meniup terompet pada malam tahun baru saya malah menembus malam yang dingin mengantarkan ASI ke rumah sakit.

Kenangan mengantarkan ASI ke rumah sakit itu sangat membekas sehingga anak ini agak istimewa dalam pandangan saya. Namun, ada satu peristiwa yang tidak pernah saya lupakan seumur hidup dan peristiwa itu menjadi titik balik perhatian saya yang sedikit lebih kepada Fajar. Peristiwa itu sangat dramatis dan hampir-hampir saya tidak akan pernah bertemu anak ini lagi selama-lamanya.

Begini ceritanya. Ketika itu Fajar masih berumur hampir empat tahun. Hari minggu pagi saya membawa anak-anak pergi bermain di Taman Lalu Lintas di Jalan Belitung. Tiga orang anak, termasuk Fajar, saya bawa naik angkot ke taman itu. Ibunya tidak ikut sebab sedang ada tamu yang datang. Puas bermain di sana kami bersiap untuk pulang, namun hujan turun dengan derasnya. Terpaksalah saya dan anak-anak menunggu hujan berhenti dulu.

Setelah hujan berhenti, banjir cileuncang menggenangi jalan-jalan di kota Bandung. Saya dan anak-anak berjalan di atas trotoar yang juga tertutup banjir. Saya harus mengawasi ketiga anak itu berjalan supaya tidak jatuh. Seorang di depan dan dua orang di belakang. Fajar berjalan di belakang saya. Disinilah letak kelalaian saya, saya tidak membimbing Fajar karena perhatian saya juga terpecah kepada kakaknya yang berjalan di depan.

Banjir cileuncang yang cukup deras itu membuat trotoar tidak lagi kelihatan. Saya tidak tahu kalau di atas trotoar itu ada lubang gorong-gorong yang tidak ditutup. Tiba-tiba anak saya yang nomor dua berteriak: “Yah! Adek jatuh”. Saya lihat ke belakang Fajar menjerit menggapai-gapai: “Ayaaahhh…!”. Kakiknya terperosok ke dalam lubang gorong-gorong, tangannya menggapai-gapai. Ya Allah, saya sangat kaget. Saya segera berlari mengejarnya dan meraih tangannya. Telat beberapa detik saja dia mungkin sudah hanyut dilarikan oleh air deras di dalam gorong-gorong, dan mungkin saja saya tidak akan bertemu lagi Fajar selama-lamanya. Saya peluk dia dan saya sesali kelalaian saya menjaganya. Ampuni Hamba, Ya Allah.

Saya mengucap pji syukur Fajar selamat dari kejadian yang mendebarkan itu. Tuhan masih sayang kepada saya sehingga anak saya masih berada di samping saya. Hingga sekarang kejadian itu selalu terbayang-bayang dalam benak saya. Sejak peristiwa hampir hanyut itu saya sudah berjanji kepada Tuhan untuk selalu menjaga dan mengawasi Fajar. Pun seperti saat sakit seperti sekarang saya membatalkan acara saya karena ingin selalu berada di dekatnya. Tuhan mengamanahkan anak kepada kami dan kami tidak boleh lalai menjaganya.

Dipublikasi di Pengalamanku | 2 Komentar

Yuuk Nonton Film “Habibie & Ainun”

Hari sabtu minggu lalu istri saya meminta nonton film Habibie & Ainun (H&A). Saya sendiri juga sudah berniat untuk menonton film tersebut. Jadilah kami menonton film H&A di BIP Bandung. Hampir saja kami tidak mendapat tiket sebab penontonnya membludak. Telat dua menit saja, apes deh, harus menunggu lagi pertunjukan jam berikutnya. Saya perhatikan kebanyakan yang menonton film ini adalah ibu-ibu yang memakai kerudung. Citra mantan Presiden Habibie sebagai tokoh yang islami dan kharismatis rupanya menarik kaum perempuan muslimah untuk menonton film H&A.

Habibie&Ainun2

Semula saya underestimate film ini akan laris sebab kisah biografi biasanya kurang menarik difilmkan. Tetapi sungguh mencengangkan ternyata film H&A menjadi box office. Jumlah penontonnya sudah menembus 2,5 juta orang (info dari sini). Film ini menjadi box office mungkin karena setting filmnya di tempat yang asli (sesuai kisah di dalam buku biografinya yang berjudul sama), mungkin karena aktornya yang ciamik memerankan Pak Habibie dan Bu Asri Ainun, atau jalinan ceritanya yang romantis, entahlah.

Menurut penilaian saya aktor Reza Rahadian sangat pandai memerankan profil Habibie, mulai dari gaya bicara, suara, gerakan tubuh, cara berjalan, dan lain-lain. Persis seperti Habibie yang asli. Cuma postur tubuh Reza Rahadian terlalu tinggi untuk ukuran Habibie. Kalau Bunga Citra Lestari yang memerankan Bu Ainun saya tidak bisa menilai, karena saya tidak punya referensi tentang karakter Bu Ainun.

Kata kunci penting di dalam film ini adalah Bandung, Jalan Ranggamalela, SMAK Dago, kota Aachen (Jerman) dan IPTN. Itulah tempat-tempat yang bersejarah dalam kisah biografi Habibie. Sayang ya ITB nggak disebut-sebut :-), padahal B.J Habibie adalah alumnus ITB lho meskipun kuliahnya cuma satu semester saja di ITB sebelum pergi ke Jerman. Bahkan warga Batam juga kecewa karena film H&A tidak menceritakan kiprah Habibie dalam membangun Pualu Batam.

Saya tidak perlu menceritakan sinopsis film ini, silakan baca resensinya pada laman ini. Yang jelas anda perlu membawa saputangan atau tisu cukup banyak sebab film H&A menguras air mata (terutama buat para ibu-ibu). Saya sendiri juga sempat sembab dan berkaca-kaca pada beberapa adegan yang mengharu biru. Untunglah istri saya duduknya agak berjauhan (karena kami adalah dua penonton terakhir yang mendapat tiket namun duduk terpisah) jadi dia tidak melihat mata saya .

Komentar terakhir dari saya: film ini sangat bagus, layak untuk ditonton. Ada kisah tentang kesetiaan, kisah cinta, dan nasionalisme. Lima bintang deh buat film H&A.

Dipublikasi di Gado-gado | 6 Komentar

Jadi Gitu Toh Film “Cinta Tapi Beda”? Pesan Moralnya Sangat Buruk!

Sutradara Hanung Brahmantyo sekali lagi membuat film yang menyulut kontroversi. Kali ini orang Minang yang merasa dilecehkan oleh film Cinta Tapi Beda (CTB) yang dibuatnya. Dalam film tersebut digambarkan percintaan sepasang manusia yang berbeda agama. Sayangnya Hanung mengambil setting yang tidak pas. Dalam film itu Diana digambarkan gadis asal Padang tetapi beragama Katolik dan menjalin pacaran dengan seorang pemuda muslim asal Yogya. Bukan kisah cinta beda agamanya yang menjadi masalah sebab realitanya hubungan berbeda keyakinan itu memang ada dan cukup banyak, tetapi kalau berujung ke pernikahan akan terbentur aturan. UU Perkawinan di negara kita tidak membolehkan pernikahan pasangan yang berbeda agama. Dalam agama Islam KUA tidak akan mau menikahkan, setahu saya dalam agama lain juga sama kecuali jika pasangan yang berbeda agama berpindah keyakinan terlebih dahulu.

Yang menjadi masalah dalam film CTB itu adalah penggambaran Diana gadis asal Padang yang beragama Katolik. Hanung boleh saja berkelit bahwa yang dia maksudkan adalah Diana dari kota Padang, bukan Diana gadis Minang. Di kota Padang kan tidak hanya orang Islam saja yang tinggal di sana, tetapi orang bermacam-macam suku dan agama, bahkan ateis, hidup di sana. Dalam hal ini Hanung benar, Padang adalah kota besar, di Padang banyak orang Cina, Nias, Batak, dan lain-lain yang hidup damai. Orang Padang tidak seluruhnya orang Minang itu betul, dan orang Padang tidak seluruhnya bergama Islam, itu juga betul.

Tetapi, sukar membantah kalau Diana itu bukan gadis Minang. Setting film yang menggmbarkan musik saluang, Jam Gadang, masjid tua, apakah itu bukan menggambarkan Diana adalah seorang Minang? Saya menduga Hanung ini menyangka Minang itu sama dengan Padang, orang Minang = orang Padang seperti simplifikasi orang luar selama ini terhadao suku Minangkabau. Bahwa Diana gadis Minang makin dipertegas secara tidak langsung oleh pernyataan Hanung di media ketika meluncurkan film CTB: “Yang menarik dari film ini adalah bukan tentang agama, tetapi tentang profesi chef dan penari, yang satu Jawa dan yang satu Padang, yang satu patrilineal dan satu lagi matrilineal. Beda dalam arti yang luas bukan hanya tentang agama.” tukas Hanung. Nah, suku apa di Indonesia yang menganut asas matrilineal? Hanya suku Minang, tidak ada yang lain.

Hmm… lalu apa yang salah kalau Diana gadis Padang (baca: Minang) beragama bukan Islam? Tidak ada yang salah kalau ada orang Minang yang tidak beragama Islam. Lalu, apakah tidak boleh orang Minang beragama bukan Islam? Itu boleh-boleh saja sebab negara kita menjamin kebebasan rakyatnya untuk memeluk suatu agama atau berpindah agama sesukanya. Kasus-kasus orang Minang berpindah keyakinan memang ada, dan kebanyakan kasus karena hubungan perkawinan. Teman saya waktu kuliah, seorang perempuan berjilbab, sekarang sudah tidak muslim lagi karena menikah dengan lelaki beragama lain. Bahkan adik Buya Hamka (yang berbeda ayah) adalah seorang pendeta dan adik K.H Agus Salim pun pindah keyakinan menjadi seorang non-muslim.

Namun, setelah seorang Minang keluar dari agama Islam, maka secara adat dan budaya dia tidak disebut orang Minang lagi. Begitulah falsafah Minangkabau yang berbunyi adat basandikan syarak dan syarak basandikan Kitabullah (ABS-SBK), yang artinya adat bersendikan pada syariat agama (Islam) dan syariat agama bersendikan pada Al-Quran. Semua orang Minang paham dengan falsafah ini. Adat dan agama sudah menyatu dalam kehidupan seorang Minang, sama halnya seperti adat dan agama Hindu yang menyatu pada orang Bali. Jadi, kalau orang Minang itu identik dengan orang Islam memang sudah ada dasarnya dan itu dipahami oleh orang Minang sejak dulu, dan jika orang Minang keluar dari Islam maka otomatis ABS-SBK itu terlepas dari dirinya dan ia tidak dianggap lagi orang Minang.

Jadi, dengan penggambaran Diana sebagai gadis Padang (Minang) yang beragama Katolik, jelas penggambaran itu melukai perasaan orang Minang. Ini yang tidak dipahami oleh Hanung dan produser film CTB. Mengapa Hanung tidak memilih setting Diana seorang gadis Manado atau gadis Batak atau suku lain yang memang tidak identik dengan agama Islam, yang tidak akan menghasilkan benturan nantinya? Atau, mengapa tidak menggambarkan Diana seorang gadis cina asal Padang dengan setting kawasan Pondok (kawasan pecinan di Padang)? Saya menduga pemilihan setting Minang did alam film CTB itu bukan suatu kebetulan, tetapi memang disengaja supaya terjadi benturan sebagaimana film-filmnya terdahulu yang terkesan melecehkan agama Islam (film Perempuan Berkalung Sorban dan film “?“). Kalau tidak ada benturan maka filmnya tidak heboh dan kalau tidak heboh maka tidak laku, dan nyatanya skenario itu berhasil untuk film CTB.

Masalah melukai perasaan orang Minang itu adalah satu hal, ada lagi masalah lain yang sangat buruk dalam film ini. Film tersebut sama sekali tidak mendidik generasi muda. Saya memang tidak menonton film ini (dan tidak akan mau menontonnya), tetapi membaca dari pengalaman orang yang sudah menontonnya, saya menyimpulkan pesan moral film ini sangat buruk. Di bawah ini adalah tweet Fahira Idris, putri pengusaha Minang dan mantan menteri Fahmi Idris, yang mengomentari film ini dari sudut edukasinya. Saya setuju dengan paparannya itu. Anda bisa membaca pada tautan ini: http://t.co/eDQetBwT


Baru saja nonton #ctb bersama Uda @iwanpiliang Uda @iwel_mc @irfan_zj @AngeliaQuw @vannypn @n0erhidayati @ZarIslam @gustisantana

#ctb 1. Tadinya saya kira Film CTB hanya menghina #Minangkabau tapi ternyata lebih dari itu..

#ctb 2. Film ini adlh Film Percintaan, salah satu message nya adlh : Menuhankan Cinta, tapi tidak Mencintai Tuhan…

#ctb 3. Banyak sekali Logika2 Dasar yg ditabrak.. Dan sy yakin bukan krn tidak disengaja.. Tapi krn DISENGAJA.. Pesanan !

#ctb 4. Bukan hanya #Minangkabau yg dihina di film ini, tapi juga etnis #Jawa – dan yg paling saya benci adlh Menghina #Islam

#ctb 5. Tidak ada urgensinya memakai #Minangkabau sbg latar belakang cerita yg sudah jelas2 ingin mengusung Pluralisme Yg Kebablasan!!

#ctb 6. Sy tau persis anda bukan orang bodoh! Film ini sangat menghina #Minangkabau dan #Islam !! Porsi hina etnis #Jawa hanya sedikit

#ctb 7. Sy bukan orang yg menolak pluralisme.. Sahabat sy banyak yg non muslim, tapi kami saling menghormati dan menghagai.. Saling SOPAN !

#ctb 8. Setiap hari kita sll mendengar keluhan ibu yg kerepotan menjaga anak2nya agar bisa tumbuh baik, beragama & juga mampu bertoleransi

#ctb 9. Tapi kalau kita semua lengah, anak2 kita bs di doktrin ke ajaran2 yg menyesatkan agama, dijejalkan dg Toleransi2 Pesanan!

#ctb 10. Dg Segala Hormat saya mau minta tolong sahabatku, Uda @iwanpiliang u/ membongkar, siapa yg mendanai film ini.

#ctb 11. Yg tinggal di Padang mmg bukan hanya yg beragama Islam saja, semua agama sampai yg atheis pun ada disana..

#ctb 12. Ngajarin orang/ anak2 bangsa u/ toleran boleh2 saja.. saya pun sll mengajarkan anak saya u/ toleransi.. Toleransi YANG BAIK & BENAR

#ctb 13. Diana Gadis Katolik Padang ini berpacaran dg Cahyo Muslim Jawa..

#ctb 14. Kalau Toleransi yg BAIK dan BENAR, ya harusnya benar2 dicontohkan yg baik dong.. Film ini ngajarin Toleransi yg memaksakan..

#ctb 15. Sangat jomplang perimbangan Toleransi di Film ini.. #Islam banyak di hina.. #Islam dipaksa hrs mengalah.. Diana Katolik yg dominan

#ctb 16. Kalau Diana mmg Gadis Katolik yg Toleran, dia tidak akan menyuruh Cayho memasakkan Babi Rica Rica, masakan keluarga mereka

#ctb 17. Kalau Diana Toleran, pd saat mengundang Cahyo secara Resmi ke rumah, kenapa harus dihidang kan 2 Masakan Babi.. ?????????????????

#ctb 18. Kalau saja saya Katolik, dan saya mau mengundang pacar saya ke rumah secara resmi, saya akan masakkan khusus makanan HALAL !!

#ctb 19. Walaupun tante nya masak juga yg non BABI, dg bilang bhw dimasak secara terpisah, tapi gambaran masak terpisahnya GAK ADA !!

#ctb 20. Pada saat Cahyo mengajak Diana ke Jogja u/ diperkenakan ke Ortu Cahyo, tadinya Diana sdh mau menanggalkan kalung salib nya, tetapi

#ctb 21. Tetapi Cahyo bilang : Gak usah dilepas Kalung Salib nya.. Islam itu Toleran kok.. <<=== Kalau Toleran, Copot dong SALIB nya!!

#ctb 22. Nabi #MuhammadSAW sll mengajarkan umatnya agar hormat kepada Orang Tua, terlebih lagi terhadap Ibu..

#ctb 23. Tapi di Film ini Cahyo seorang anak yg baik tetapi sangat berani terhadap Ibu dan Bapak nya.. Bentak, Marah.. Semua di balik2..

#ctb 24. Jadi mrk mau bilang bhw, kalau kamu punya kemauan, Maki tuh Ibu kamu.. Maki bapak kamu.. gak papa kok.. Islam boleh.. BEGITU ????

#ctb 25. Sorry to say.. tapi Film ini benar2 asli dibuat u/ Merusak Moral Anak Bangsa.. & Merendahkan #Islam !! Film ini sangat BURUK !!

#ctb 26. Saya bukan pmerhati film, bukan pbenci agama lain, tapi saya gak suka bila ada fihak yg lengah meloloskan pembenaran2 yg GAK BENAR

#ctb 27. Saya bukan pembenci pernikahan beda agama.. Bukan Urusan saya, & bukan area pembahasan saya sehari hari pula..

#ctb 28. Semua Agama setau saya melarang pernikahan agama, semua orang tua pasti akan berusaha mencoba u/ meminimalisir terjadinya hal tsb

#ctb 29. Tapi di flim ini message nya jelas, & msupport anak2 bangsa bahwa, sudahlah dobrak saja larangan agamamu. kamu pasti bisa.. GILA

#ctb 30. Tante Diana adlh Muslim menikah dg Om yg Katolik. Om blg : Semoga mereka mau mencontoh kita (nikah beda agama) <– APEUUU..??

#ctb 31. Cukup lah saya ceritakan film ini, bagi yg lain gak perlu lah nonton film ini di bioskop.. Menonton = Menguntungkan Mereka

#ctb 32. Cahyo membentak bapaknya, yg dia nilai menyindir Diana.. Cahyo blg ke Ibu, Harusnya Bapak bisa jadi contoh Toleransi bg kelg..

#ctb 33. Dlm film ini Diana sll mengajak makan Cahyo di rest non muslim, tidak pernah ada gambar Diana makan di rest yg biasa..

#ctb 34. Yg parahnya, pd saat Cahyo menolak makan di rest itu, Diana marah & bentak2, memaksa Cahyo u/ makan menu lain yg non Babi..

#ctb 35. Toleransi seperti itu kah yg kalian maksud?? Tolernsi macam apa itu??

#ctb 36. Pd saat petugas KUA menolak mengawinkan mereka krn beda agama, Diana memaksa Cahyo mengaku beragama Katolik.. Ampun deh..

#ctb 37. Ibu Cahyo nasehatin Bapak Cahyo yg agak keras menolak, bahasa nya sih halus, tapi kalimat nya baru pernah saya dengar.. yaitu :

#ctb 38. RESTU adlh hak nya ANAK.. Orang Tua WAJIB untuk memberikan nya.. <<=== ASLI BARU DENGER MALAM INI.. Ajaran Sesat !!

#ctb 39. Pd saat ada pasangan beda agama mau menikah, petugas KUA menolak, kalau mau kamu nikah ke GEREJA aja.. knp gak ke MESJID opsi nya?

#ctb 40. Kesimpulan nya adlh, film ini sangat2 tidak bagus, mengajarkan Toleransi yg Kebablasan.. Semoga semua pd sadar dan TOBAT

#ctb sekian..

Kadang kalau melihat TL nya orang2 yg berani mengungkapkan fakta, saya suka terkagum2 melihat keberanian mereka.. Kok bisa ya?

Profesi saya bukan pen-tweet fakta fakta selama ini.. Kadang saya punya perasaan gak enak, takut, dll sbg nya kalau mau ungkap fakta..

Tapi u/ #ctb saya harus berani menceritakan yg sebenarnya, mengungkapkan kesedihan saya yg sedalam2nya.. Bukan bermaksud fitnah..

Sy mengajak u/ slg mhormati & menjaga lah.. Mari kita bertoleransi kpd saudara2 kita yg beda agama/ nikah beda agama.. Tapi yg BAIK & BENAR

Membuat Film atas nama kebebasan ekspresi boleh boleh saja.. tapi jangan terlalu kasarlah dlm menDobrak Norma2 yg sudah ada..

Mohon maaf sebesarnya bila dlm tweet #ctb ini ada yg tlalu kasar.. Smg besok saya bisa Move On.. No More #ctb di TL saya..

Plural Tapi Beda…

Toleran Tapi Maksa…

Jadi, saya menduga film ini memang “pesanan” atau ada yang mensponsori. Saya menduga Hanung yang dekat dengan kelompok Islam liberal lebih memilih film yang menghasilkan benturan ketimbang edukasi. Dia berani mengambil jalan yang berbeda dengan membuat film-film yang underestimate terhadap Islam (baca tulisan Mustofa B. Nahrawardaya ini). Sekali lagi atas nama kebebasan berekspresi maka orang berdalih boleh membuat film apa saja dengan embel-embel tambahan: kalau tidak suka ya tidak usah nonton, gitu aja kok repot.

Ulasan lain tentang film CTB dari sudut pandang budayawan Minang dapat dibaca di sini: http://www.lenteratimur.com/ketika-minangkabau-merasa-terhina/

Dipublikasi di Cerita Ranah Minang | 31 Komentar

Ind*mi* Cabe Ijo Tidak Enak

Akhirnya saya menjadi korban iklan juga, he..he. Sesekali melihat tivi, ada iklan mie instan yang wara-wiri setiap malam, begitu pula iklannnya yang gencar di media cetak. Namanya Indo*mi* cabe ijo. Kalau mau lihat gambar produknya, klik ini. Ini jenis mie goreng tetapi memakai cabe hijau sehingga setelah diaduk mie menjadi berwarna hijau.

Saya seperti orang Indonesia lainnya adalah penggemar sambal cabe hijau. Kayaknya sih enak dan menggiurkan setelah melihat tampilan gambar mie gorengnyanya di tivi. Saya pun mencoba mencarinya ke toko swalayan. Nihil. Ke toko supermarket Yog*a, jaringan supermarket yang terbesar di Bandung, pun sama: kosong. Lha kok bisa? Rupanya menurut pegawai toko, jenis mie goreng cabe hijau ini laris manis diserbu pembeli, makanya cepat habisnya. Lucu juga ya, setiap saya pergi ke supermarket untuk membelinya selalu tidak ada, habis bis bis bis. Sebegitu hebohkah mie itu bagi orang Bandung? Ah, mungkin orang banyak membelinya karena penasaran saja, saya kira.

Akhirnya dua hari yang lalu istri saya berhasil mendapatkannya, entah di mana membelinya. Saya pun langsung memasak mie goreng instan tersebut. Pertama melihat sambal cabe hijaunya saya sudah ragu apakah itu betul cabe hijau seluruhnya? Kok warnanya lebih cerah daripada warna cabe biasa? Ah, pasti ditambah zat pewarna.

Setelah sambal diaduk dengan mie, mie goreng tersebut berwarna hijau. Saya makan, saya coba sesendok. Rasanya aneh, tidak ada sensasi cabe hijaunya. Kesimpulan saya mie cabe hijau dari Ind*mi* itu rasanya tidak enak. Cukup sekali saja saya memakannya dan tidak mau lagi mencobanya. Menurut saya tetap lebih enak mie gorengnya yang biasa.

Dipublikasi di Gado-gado | 7 Komentar

“Ngangkang Style” yang Membuat Heboh Dunia

Dua minggu ini berita di media diisi dengan pro kontra tentang seruan larangan duduk ngangkang (diplesetkan di jagad maya sebagai “ngangkang style”, meminjam istilah Gangnam Style yang populer) yang dikeluarkan oleh Pemkot Lhokseumawe, Aceh. Larangan duduk ngangkang itu diberlakukan bagi para perempuan yang duduk membonceng di atas sadel sepeda motor, baik dengan mahram, bukan mahram, atau sesama perempuan, kecuali dalam keadaan darurat (baca ini).

Bagi para perempuan di Lhokseumawe, aturan duduk di atas motor yang dibolehkan adalah duduk menyamping, seperti yang lazim kita lihat pada perempuan yang memakai rok atau kain.

Sontak seruan larangan duduk ngangkang itu menjadi pembicaraan di mana-mana, bahkan media di luar negeri pun ikut membahasnya. Pro dan kontra berseliweran di jagad maya maupun dalam dunia nyata. Kelompok yang kontra menilai larangan ini mendiskriminasikan perempuan. Sebagian orang menilai duduk menyamping di atas motor justru tidak aman karena membuat motor menjadi tidak seimbang. Sedangkan kelompok yang mendukung menilai larangan duduk ngangkang itu dari sudut kesopanan, bahwa duduk menyamping di atas motor bertujuan untuk mengembalikan marwah orang Aceh. Pihak yang kontra menilai Pemkot Lhokseumawe kurang kerjaan saja karena mengurusi hal-hal yang tidak urgen, masih banyak masalah penting yang harus diselesaikan daripada mengurusi urusan cara duduk perempuan, begitu kata mereka.

Hmmm… apakah dudduk menyamping di atas motor itu berbahaya? Kalau menurut hipotesis jelas berbahaya karena, seperti yang disebutkan di atas, duduk ngangkang membuat kedudukan motor tidak seimbang, apalagi jika sang perempuan adalah seorang ibu yang menggendong bayi. Tapi, itu semua kan baru hipotesis, belum ada data statistik yang memperlihatkan berapa banyak penumpang yang duduk menyamping menjadi korban kecelakaan. Malah justru lebih banyak penumpang yang duduk ngangkang menjadi korban kecelakaan.

Lagian, duduk menyamping sudah dilakukan para perempuan sejak zaman dulu karena terkait kesopanan, tidak hanya di Aceh saja. Ibu-ibu di Jawa yang memakai kain tentu duduk menyamping, begitu juga perempuan yang memakai rok juga duduk menyamping. Bahkan, dengan perubahan zaman, masih banyak perempuan yang tetap duduk menyamping meskipun memakai celana panjang. Masalahnya ya itu tadi, budaya dan kesopanan. Sebagian perempuan tetap merasa risih duduk di atas motor dengan cara mengangkang.

Jadi, duduk menyamping di atas motor sudah menjadi kebiasaan sebagian perempuan Indonesia sejak dulu, tetapi sekarang dipermasalahkan karena berupa seruan larangan dari sebuah Pemda. Saya berpikir positif saja, saya pikir tentu Pemkot Lhokseumawe mempunyai alasan tersendiri mengapa mereka mengeluarkan duduk ngangkang style tersebut. Mungkin modernisasi telah banyak menggerogoti budaya orang Aceh, misalnya pergaulan muda-mudinya yang kelewat bebas, cara berpakaian yang memperlihatkan aurat atau lekuk tubuh. Masih ingat kan beberapa waktu lalu Pemda Aceh Barat mengeluarkan larangan memakai celana jeans bagi perempuan. Oleh karena itu, larangan duduk ngangkang itu mungkin mewakili kegelisahan banyak orang Aceh melihat kondisi msayarakatnya yang jauh dari budaya Islami.

Aceh memang menerapkan satu-satunya hukum Syariat Islam di daerahnya, dan sebagian pihak yang kontra mereduksi larangan duduk ngangkang itu sebagai syariat agama. Menurut pendapat saya, dan juga pendapat para ulama yang saya baca di media, larangan duduk ngangkang itu bukanlah bagian dari syariat Islam. Tidak ada hadis ataupun ayat Al-quran yang menyebut soal boleh tidaknya duduk ngangkang. Menurut pendapat saya masalah duduk ngangkang adalah masalah adat, budaya, dan kebiasaan penduduk setempat. Di Bandung para siswi SMA yang memakai rok sering saya lihat duduk ngangkang dibonceng teman cowoknya. Kalau saya pribadi risih melihatnya, tetapi bagi orang Bandung duduk ngangkang itu tidak dipermasalahkan. Jadi, duduk ngangkang tidak sopan bagi penduduk suatu wilayah namun biasa-biasa saja bagi wilayah lain.

Saya tidak mendukung dan juga tidak menolak larangan ngangkang style itu. Saya berpandangan seruan larangan duduk ngangkang itu terkait dengan kearifan lokal suatu wilayah, termasuk di Lhokseumawe itu. Jadi, saya kira sah-sah saja mereka mengeluarkan aturan untuk warganya sendiri, dan kita sebagai bukan orang yang tinggal di sana tidak perlu sewot segala. Orang Aceh sendiri tidak ribut (kalau pun ada, jumlahnya saya kira tidak seberapa), eh kenapa orang luar Aceh yang blingsatan? Apa hak mereka mengatur orang Aceh sementara mereka tidak tinggal di Aceh? Marilah kita hargai apa pendapat orang Aceh, mereka yang lebih tahu apa yang baik buat masyarakatnya.

Terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan larangan ngangkang style, menurut hemat saya yang harus diperhatikan justru busana orang yang duduk di atas motor daripada cara duduknya. Duduk ngangkang tetap lebih aman daripada duduk menyamping namun sebaiknya memperhatikan pakaian yang dikenakan. Jangan duduk di atas motor dengan memakai rok namun tetap memaksakan duduk mengangkang. Dalam pandangan saya perempuan yang memakai rok, apalagi rok pendek selutut, tapi duduk mengangkang tetap saja kurang sopan, seperti “menantang” lelaki di depannya, gitu.

Dipublikasi di Indonesiaku | 4 Komentar

Kurikulum SD 2013 Menjadi Lebih Ringan(?)

Insya Allah bulan Juli 2013 ini anak saya yang bungsu akan masuk SD. Seleksi masuk SD sudah dilakukan pada bulan Desember tahun 2012 kemarin. Tahun ajaran baru 2013/2014 masih jauh, tetapi beberapa SD swasta favorit sudah melaksanakan seleksi jauh-jauh hari, termasuk sekolah anak saya itu. Dia memilih SD di tempat kakaknya, yaitu SD Islam yang termasuk RSBI pertama di kota Bandung.

Nah, ada yang baru tahun pada ajaran 2013/2014 nanti. Seperti yang sudah kita ketahui dari media, mulai tahun 2013 ini akan diberlakukan Kurikulum 2013 untuk semua jenjang pendidikan, termasuk SD. Mata pelajaran SD yang aslinya 10 pelajaran (pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya dan keterampilan, pendidikan jasmani olah raga dan kesehatan, serta muatan lokal dan pengembangan diri), maka pada Kurikulum 2013 nanti dipangkas menjadi enam saja, yaitu pendidikan agama, pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, seni budaya dan prakarya, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan.

Tentu saja banyak pihak yang pro dan kontra tentang Kurikulum 2013 ini. Beberapa pelajaran menjadi “hilang” seperti IPA dan IPS (sebenarnya tidak hilang, tetapi materinya diintegrasikan dengan pelajaran lain seperti IPA dimasukkan ke dalam pelajaran Bahasa Indonesia, IPS dimasukkan dalam pelajaran PKN, namun pada kelas 4, 5, dan 6 pelajaran IPA dan IPS akan berdiri sendiri lagi). Muatan lokal seperti bahasa daerah, bahasa Inggris, TIK, dan lain-lain juga “hilang”. Wajar saja sih jika ada yang setuju dan tidak setuju, rambut sama hitam tetapi isi kepala bisa berbeda-beda.

Nah, saya tidak akan membahas tentang pro dan kontra itu. Menurut saya kurikulum yang sedang berjalan saat ini memang terlalu berat bagi anak SD. Jumlah pelajarannya banyak, lebih dari 10 buah. Anak saya yang sekolah di SD Muhammadiyah misalnya, jumlah pelajarannya jika dihitung ada 14 buah, yaitu:
1. Matematika
2. IPA
3. IPS
4. PKN
5. Agama
6. Bahasa Indonesia
7. Pendidikan jasmani (Olahraga)
8. Seni budya dan ketrampilan (SBK)/KTK (apa ya kepanjangannya?)
9. Bahasa Sunda (muatan lokal)
10. Bahasa Arab (muatan lokal)
11. Bahasa Inggris (muatan lokal)
12. TIK (muatan lokal)
13. Kemuhammadiyahan (muatan lokal)
14. Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)

Hmmm… banyak sekali, bukan? Semua bahasa saja ada (Indonesia, Inggris, Sunda, Arab). Kuliah di PT saja tidak sebanyak itu yang diambil per semester, paling banyak tujuh mata kuliah saja. Lha ini siswa SD jumlah pelajarannya segudang. Lemari belajar anak saya di rumah penuh dengan buku-buku, mulai dari buku cetak, buku bantuan BOS, buku latihan, buku PR, dan lain-lain. Setiap hari anak saya harus membawa buku yang banyak dan berat ke sekolah. Tas sekolahnya jadi penuh. Sekolahnya semi full-day, masuk pukul 6.45 dan pulang pukul 14.00, hari Senin sampai Jumat. Hari Sabtu tidak ada pelajaran wajib, tetapi murid-murid tetap masuk untuk mengikuti berbagai ekskul dan pelajaran tambahan. Pulang sekolah sudah banyak PR yang menunggu untuk dikerjakan.

Berat, sunguh berat kurikulum anak SD sekarang. Zaman saya SD tidak sebanyak itu jumlah pelajarannya, tetapi anak SD zaman sekarang dijejali banyak pelajaran yang membuat stres hidup mereka. Kebanyakan isi pelajaran bersifat hafalan. Terlalu banyak menghafal akibatnya daya nalar mati dan daya kritis tumpul. Anak-anak tidak dilatih untuk belajar menalar karena pemahaman aspek logika kurang mendapat porsi. Konten pelajaran saat ini berat-berat dan tidak sesuai umurnya, masa sih anak SD sudah belajar lapisan-lapisan bumi, batuan sedimentasi, stratosfir, berkembang biak dengan spora, sperma, ovovivipar, gaya magnet, katrol, pengungkit, dan lain-lain. Itu kan pelajaran anak SMP (dulu, waktu saya SMP). Tuntutan zaman kah yang mengharuskan anak kecil sudah mempelajari materi yang sudah advanced? Apakah anak SD harus mempelajari banyak hal yang sebagian besar bersifat hafalan?

Dengan jumlah pelajaran yang seabrek itu, kapan lagi waktunya untuk belajar untuk pengembangan kreativitas? Kapan anak-anak dilatih untuk berbicara secara lugas dan berani mengemukakan pendapat (seperti anak-anak Amerika yang sangat percaya diri kalau berbicara)? Kapan anak-anak diajak untuk menalar dan bukan sekadar menghafal? Waktu mereka tersita untuk menelan semua materi pelajaran yang menurut saya sangat berat untuk muat dalam otak mereka.

Saya setuju dengan penyederhanaan jumlah pelajaran. Biar sedikit asal fokus tetapi mencakup yang fundamental. Dengan penyederhanaan jumlah pelajaran menjadi enam pada kurikulm 2013 itu, anak-anak menjadi mempunyai waktu lebih banyak untuk pengembangan kreativitas diri. Saya memimpikan anak-anak Indonesia selain cerdas dan kreatif, mereka memiliki rasa percaya diri. Bagaimana anak-anak Indonesia bisa maju jika mereka gagap dalam berbicara, menulis, dan mengekspresikan dirinya. Jika mereka terlalu banyak dijejali pelajaran di sekolah, mereka menjadi orang yang gamang, sebab mereka dituntut harus bisa semua pelajaran, tidak boleh ada nilai yang merah. Akibatnya, waktu mereka habis tersita untuk jago pada semua pelajaran di sekolah.

Namun, penerapan Kurikulum 2013 perlu paralel dengan penyiapan guru yang kreatif pula. Dengan kualitas guru SD yang rendah seperti sekarang ini, diversitas kualitas pendidikan yang timpang di berbagai wilayah di Indonesia, agak sulit berharap untuk memperoleh mutu lulusan sekolah yang menggembirakan dalam waktu singkat. Tidak ada jaminan ganti menteri akan ganti kurikulum lagi. Pendidikan di Indonesia sudah terlanjur menjadi ajang uji coba sejak dulu. Kurikulum 2013 merupakan ajang “pertaruhan” yang menentukan kulaitas SDM Indonesia masa depan.

Dipublikasi di Pendidikan | 26 Komentar