Prediksi Hasil Pemilihan Gubernur (PilGub) Jawa Barat 2013

Besok, 24 Februari 2013, Jabar Memilih. Penduduk Jawa Barat yang mempunyai hak pilih akan menentukan siapa yang akan menjadi gubernur baru Jabar periode 2013-2018.

Kampanye masing-masing calon gubernur dan wakil gubernur yang diadakan selama dua minggu yang lalu tidak terlalu disambut antusias oleh masyarakat, khususnya di perkotaan. Masyarakat kota yang lebih intelek lebih suka memperbincangkan cagub-cawagub melalui jejaring sosial di Internet. Kampanye juga tidak penting lagi mempengaruhi pilihan orang, sebab satu bulan sebelum kampanye pemilih sudah punya pilihan sendiri. Begitu juga jajak pendapat yang dilakukan berbagai lembaga juga tidak mempengaruhi pemilih. Artinya, kampanye atau jajak pendapat hanya asesori demokrasi saja.

Saya sudah menulis tentang masing-masing calon pada tulisan terdahulu (Baca: PilGub Jabar 2013, Semua Calon Kurang Bagus). Dari pengamatan saya selama ini, hanya ada dua pasang calon yang bersaing sangat ketat, baik dalam jajak pendapat maupun dalam perbincangan di jejaring sosial. Keduanya adalah masing-masing petahana gubernur dan wakil gubernur. Persaingan yahng terjadi dalam merebut juara 1 hanya antara pasangan Ahmad Heryawan – Deddy Mizwar dan pasangan Dede Yusuf – Lex Laksamaman. Pasangan lain seperti Rieke-Teten, Yance – Tatang, dan Dikdik – Cecep tidak pernah mencapai posisi 1 dan 2 dalam berbagai jajak pendapat.

Pemilihan gubernur Jabar kali ini cukup dramatis ditengah isu korupsi partai pengusung kedua calon pasang tersebut. Aher diusung oleh PKS, dan kita semuat sudah tahu Presiden partai ini ditangkap oleh KPK atas dugaan kasus suap daging sapi. Sementara Dede Yusuf diusung oleh Partai Demokrat, dan tadi malam Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, juga dijadikan tersangka oleh KPK atas dugaan kasus korupsi Proyek Hambalang.

Sedikit banyaknya referensi pemilih pasti juga dipengaruhi oleh kasus korupsi di partai pengusung. Jika melihat dari kedua partai itu (PKS dan PD), baik Aher maupun Dede sama-sama memikul beban moral dan kepercayaan yang berat. Namun, memilih tiga pasang calon sisanya juga cukup pelik karena elektabilitasnya kurang.

Jadi, tetap saja pasangan yang mungkin banyak dipilih masyarakat Jabar berkutat antara Aher-Deddy Mizwar dan Dede-Lex. Aher tertolong oleh popularitas Deddy Mizwar, tanpa Deddy mungkin dia tidak akan memperoleh raihan suara yang tinggi, sedangkan Dede – Lex sepenuhnya disokong oleh popularitas Dede Yusuf yang tampan.

Mengingat pemilihan gubernur tidak sama dengan memilih partai, maka menurut jajak pendapat kasus daging sapi dan korupsi dari parrtai pengusung (PKS dan PD) tidak signifikan mempengauhi pilihan pemilih.

Oleh karena itu, tanpa bermaksud mendahului takdir, maka berdasarkan analisis saya, pasangan Aher – Deddy tetap akan mendapat suara yang paling tinggi, namun bedanya sangat tipis dengan Dede – Lex. Jadi, saya memperkirakan susunan hasil PilGub Jawa Barat adalah sebagai berikut:
1. Ahmad Heryawan – Deddy Mizwar
2. Dede Yusuf – Lex Laksmana
3. Rieke Dyah Pitaloka – Teten Masduki
4. Irianto MS Syafiuddin (Yance) – Tatang Farhanul Hakim
5. Dikdik Mulyana Arief Mansur – Cecep Nana Suryana Toyib.

Kalaupun ada perbedaan hasil, yang berbeda hanya posisi 1 dan 2 saja, kalau tidak Aher – Deddy ya Dede Yusuf – Lex. Jadi, gubernur Jabar yang baru kalau nggak Aher ya Dede Yusuf. Siapa yang akan terpilih menjadi Gubernur Jabar akan ditentukan besok.

Dipublikasi di Seputar Bandung | 3 Komentar

Pengalaman Shalat Jumat di Masjid PDAM Bandung

Hari ini saya datang ke kampus agak siang. Seperti biasa saya selalu melewati jalan Ciung Wanara yang rindang selepas keluar dari bawah jembatan layang Cikapayang. Berhubung waktu sudah mendekati shalat Jumat, saya memutuskan berhenti di masjid PDAM yang terletak di dalam kompleks PDAM Tirta Wening Bandung di Jalan Ciung Wanara itu.

Kompleks PDAM Tirta Wening Bandung

Kompleks PDAM Tirta Wening Bandung

Masjid PDAM Bandung sudah lama dikenal oleh mahasiswa dan karyawan ITB sebagai masjid dengan kecepatan “turbo”. Disebut demikian karena shalat Jumatnya singkat dan cepat bubaran. Jarak masjid ini dari Masjid Salman ITB hanya sepelemparan batu, sekitar 100 meter saja. Tidak semua mahasiswa dan karyawan “suka” shalat Jumat di Masjid Salman. Mungkin karena ibadah shalat Jumat di Salman durasi waktunya (khutbah + shalat) cukup lama sehingga bagi orang yang tidak ingin berlama-lama, mereka memilih shalat Jumat di Masjid PDAM saja. Atau, mungkin juga karena “keformalan” masjid Salman kurang cocok bagi mahasiswa yang senang kumpul-kumpul namun merasa biasa-biasa saja dalam agama, entahlah saya kurang tahu alasannya, karena itu soal pilihan saja.

Jamaah shalat Jumat di Masjid PDAM

Jamaah shalat Jumat di Masjid PDAM

Memang harus diakui shalat Jumat di Salman tergolong cukup lama, padahal shalat Jumat itu idealnya tidak perlu terlalu lama (ada hadisnya kalau tidak salah). Kumandang adzan di Salman dimulai lebih telat dari masjid lain. Khutbah Jumat di Salman memakan waktu 20 hingga 25 menit. Jadi, jika ibadah shalat Jumat dimulai pukul 12 siang, maka selesainya pukul 12.40.

Nah, di masjid PDAM memang super kilat. Shalat Jumat yang saya ikuti tadi khutbahnya tidak sampai 10 menit, shalatnya pun tidak sampai lima menit. Pukul 12.15 ibadah shalat sudah selesai dan jamaah pun berhamburan keluar. Benar-benar kecepatan turbo, pantesan jamaah masjid ini membludak hingga meluber ke jalan raya. Ketika saya keluar dan melewati masjid Salman, di sana masih sedang berlangsung khutbah.

Jamaah shalat Jumat meluber ke luar hingga ke jalan raya.

Jamaah shalat Jumat meluber ke luar hingga ke jalan raya.

Menurut saya, apapun alasan orang memilih shalat di Masjid PDAM, keberadaan Masjid PDAM menurut saya memang diperlukan. Melihat jumlah jamaah yang melimpah sampai ke jalan raya tadi, nggak kebayang deh kalau semuanya bakal tertampung di Masjid Salman. Areal masjid Salman saat ini sudah tidak dapat menampung lebih banyak lagi jamaah shalat Jumat. Jumlah mahasiswa ITB saat ini selalu bertambah setiap tahun. Di sekitar ITB juga terdapat sejumlah perguruan tinggi lain yang tidak mempunyai masjid kampus, plus banyak perusahaan, hotel dan FO di kawasan Dago yang karyawannya tentu perlu masid terdekat untuk shalat Jumat. Jadi, masjid PDAM dan masjid Salman saya kira saling melengkapi.

Begitulah pengalaman saya pertama kali shalat di Masjid PDAM yang karena kebetulan lewat saja.

Dipublikasi di Agama, Seputar ITB | 4 Komentar

Tidak Ada Lagi Mobil yang Parkir di Sini

Masih ingat dengan tulisan saya yang lalu berjudul Peraturan Untuk Dilanggar (Potret Calon pemimpin Bangsa. Tadi pagi saya lihat tidak ada lagi mobil-mobil mahasiswa ITB yang melanggar larangan parlir di Jalan Ganesha. Sudah bersih. Pihak ITB akhirnya bertindak juga meskipun sadar bahwa wilayah di luar pagar kampus bukan wilayah hukum ITB lagi. Di sepanjang Jalan Ganesha yang ada rambu larangan parkir sekarang dipasang tali rafia dan Pak Satpam ditugaskan untuk melarang mahasiswa parkir di sana.

Sudah tidak ada lagi mobil yang parkir di sepanjang ruas jalan Ganesha yang ada rambu larangan parkir.

Sudah tidak ada lagi mobil yang parkir di sepanjang ruas jalan Ganesha yang ada rambu larangan parkir.

Bandingkan dengan foto beberapa minggu sebelumnya seperti di bawah ini:

Kondisi Jalan Ganesha dengan parkiran mobil-mobil mahasiswa di areal rambu larangan parkir.

Kondisi Jalan Ganesha dengan parkiran mobil-mobil mahasiswa di areal rambu larangan parkir.

Mudah-mudahan saja kondisi hari ini bertahan sampai seterusnya. Mahasiswa seharusnya sadar bahwa mereka melakukan pelanggaran aturan meskipun termasuk pelanggaran “kecil”. Pelanggaran besar bermula dari pelanggaran kecil.

Dipublikasi di Seputar ITB | 3 Komentar

Meskipun Empat Orang Tetap Jalan Terus

Semester ini ada yang unik dalam kuliah yang saya ampu. Saya mengajar mata kuliah pilihan (electives) yang berjudul Topik Khusus Informatika. Ini mata kuliah sejenis kapita selekta yang isinya dapat berubah-ubah setiap tahun. Dua tahun ini saya yang mengisi kuliah tersebut, topiknya adalah Metode Numerik dan Fuzzy Logic. Pada awal semester jumlah peserta kuliah sekitar 12 orang, tetapi setelah masa PRS (Perbaikan Rencana Studi) dilaksanakan minggu lalu, jumlah pesertanya menyusut menjadi empat orang saja. Mungkin setelah melihat daftar tugas kuliahnya (tugas programming dengan berbagai bahasa dan kakas) yang seabreg-abreg (karena kuliah ini full tugas sampai akhir semester), banyak mahasiswa yang mengundurkan diri.

Tahun lalu jumlah pesertanya masih lumayan bertahan hingga akhir semester, yaitu 12 orang, tetapi tahun ini hanya empat orang. Menurut aturan di ITB, jika jumlah peserta kuliah pilihan kurang dari lima orang, maka kuliah pilihan tersebut ditutup. Seharusnya saya menutup kuliah tersebut, dan seharusnya saya senang kuliah tersebut ditutup saja, sehingga beban mengajar saya berkurang (asyiiik kan?).

Tetapi, setelah ngobrol-ngobrol dengan empat orang mahasiswa yang tersisa itu, mereka rupanya ingin tetap meneruskan kuliah pilihan tersebut. Saya tidak tega juga menutup kuliah ini, jika ditutup tentu mereka kesulitan mencari kuliah pilihan pengganti, karena semester genap sudah berjalan selama empat minggu. Jika saya menuruti egoisme saya, tentu saya tutup saja, tetapi hal itu tidak saya lakukan. Saya memilih untuk tetap meneruskan kuliah pilihan ini sampai akhir semester. Setelah berkonsultasi dengan pegawai akademik, keputusan menutup atau meneruskan kuliah pilihan tersebut ada pada tangan saya, meskipun secara aturan boleh ditutup. Karena tanggung jawab secara moral dan tanggung jawab secara keilmuan akhirnya membuat saya memutuskan untuk melanjutkan perkuliahan sampai akhir semester.

Memberi kuliah kepada hanya empat orang mahasiswa rupanya asyik juga, serasa seperti memberi les privat saja. Ruang kuliah tenang. Tidak ada mahasiswa yang ribut atau mengobrol, konsentrasi menajdi fokus. Secara materi saya tidak perlu bersusah payah karena materi kuliah sudah saya buat sejak tahun lalu, tinggal sedikit perbaikan di sana-sini.

Saya terbayang teman-teman dosen di Program Studi Astronomi. Jumlah mahasiswanya termasuk paling sedikit di antara Prodi lain di ITB. Zaman saya kuliah misalnya, teman seangkatan saya di Astronomi hanya 11 orang. Dengan jumlah mahasiswa hanya sedikit, bagaimana suasana perkuliahan pada mata kuliah pilihannya ya? Tentu pesertanya ada yang hanya 2 orang, tiga orang, atau lebih. Kalau kuliah pilihan ditutup sesuai aturan ITB (karena tidak memenuhi kuota lima orang), tentu tidak ada orang yang akan mendalami bidang spesifik di Astronomi (melalui kuliah pilihan). Jadi, memang kembali kepada kesediaan dosennya saja. Mau lanjut silakan, mau ditutup silakan. Begitu pula dalam kasus saya sekarang.

Dipublikasi di Seputar ITB | 3 Komentar

Tata Krama dan Etika itu Perlu Dipelajari

Keluhan yang sering dilontarkan orang-orang: anak-anak zaman sekarang kurang sekali dalam menjaga tata krama atau sopan santun. Cuek, kurang peduli aturan, kurang menghargai etika, dan kurang tahu berterima kasih.

Keluhan tersebut sudah biasa kita dengar, saya atau anda mungkin pernah merasakannya. Di negara Timur yang mengedepankan sopan santun, memang nilai-nilai etika adalah hal yang utama, sebelum menginjak ke substansi permasalahan. Sebab, seringkali tujuan atau maksud yang ingin diutarakan tidak tercapai karena ada etika yang dilabrak.

Dulu zaman saya sekolah dasar, pendidikan budi pekerti adalah bagian dari pelajaran wajib. Bagaimana menghormati guru, menghormati orang yang lebih tua, menghormati tamu, semua diajarkan dengan dengan detil. Murid-murud menyimak dengan seksama pelajaran dari guru. Kalau tidak mau mengikuti, hukuman dipukul dengan rotan pun siap menunggu.

Sekarang, dalam kurikulum pendidikan nasional, pelajaran budi pekerti tidak ada lagi, karena dianggap dapat dititipkan dalam pelajaran seperti Agama atau PKN. Tugas guru agama atau guru PKN lah yang mengajarkan murid budi pekerti, nilai-nilai moral, dan etika.

Tetapi, dengan pelajaran agama yang hanya 2 jam di sekolah umum (kecuali di sekolah bernuansa agama), menurut saya itu tidak cukup. Yang penting adalah prakteknya, memberi contoh langsung, tidak hanya sekadar pelajaran teori. Bagaimana anak didik bersikap sopan santun bila tidak dicontohkan sebagai sebuah aksi?

Namun, kita tidak boleh hanya menyalahkan anak-anak generasi sekarang dengan menuduh mereka tidak punya tata krama atau sopan santun, lalu membandingkannya dengan generasi zaman kita. Itu sungguh tidak fair. Anak-anak zaman sekarang tidak mengalami masa lalu kita sehingga mereka tidak mempunyai pembanding, sedangkan kita orang dewasa (baca: para orangtua) telah melewati dua zaman, yaitu masa lalu dan masa sekarang.

Kesalahan kita sebagai orang dewasa (atau orangtua) adalah tidak memberi contoh teladan kepada anak-anak generasi sekarang. Kita tidak memperagakan kepada anak bagaimana mengucapkan terima kasih, namun kita menuntut anak berterima kasih setiap ada pemberian. Orangtua meminta anak duduk sopan ketika makan, namun kita sendiri sering tidak sopan di hadapan mereka (misalnya makan atau minum sambil berdiri). Kita menuntut anak berpakaian sopan, tetapi kita sendiri sering hanya memakai singlet atau bertelanjang dada di rumah. Masih banyak contoh lainnya, semua itu karena kita alpa kepada anak sendiri tetapi lebih memperhatikan sikap di hadapan orang lain.

Jadi, yang utama dari semua pelajaran bukanlah aspek teoritis, tetapi prakteknya dalam kehidupan langsung. Teori hanya disimpan di dalam kepala, sedangkan praktek lebih riil dan aktual.

Dipublikasi di Budi Pekerti | 3 Komentar

Memulai Pertama Kali Itu Sulit?

Setiap orang tentu pernah punya perasaan malas memulai sesuatu. Bagi mahasiswa, memulai untuk menulis TA itu kadangkala terasa berat: darimana memulainya? Apa yang harus ditulis? Dan sebagainya. Akibatnya pekerjaan menulis laporan TA terpaksa ditunda-tunda. Karena sering ditunda-tunda akhirnya berlarut berlama-lama.

Saya juga begitu, ketika memulai menulis buku atau bahan kuliah, seringkali juga menunda, ah nantilah, ah santai dululah, dan sebagainya. Sebenarnya menunda-nunda pekerjaan itu tidak baik, sebab hal itu pertanda malas. Malas adalah penyakit mental. Malas timbul karena kita cenderung memandang negatif ke arah masa depan, kita merasa pekerjaan yang dihadapi itu berat dan membebani pikiran, akibatnya kita tidak mempunyai semangat untuk memulainya.

Malas harus dilawan. Cara melawannya sederhana saja: kalau bukan saya yang mengerjakannya, lalu siapa lagi? Masa depan hanya saya sendiri yang menentukan, bukan orang lain. Kalau saya tidak memulainya, kapan akan selesainya? Jadi, saya harus mengerjakannya sekarang juga!

Biasanya kalau sebuah pekerjaan yang menjadi tugas kita sudah berhasil dimulai, maka semua inspirasi mengalir deras begitu saja, bahkan tidak bisa dihentikan karena keasyikan. Aneh ya? Padahal tadi memulainya sungguh sulit luar biasa.

Dipublikasi di Renunganku | 6 Komentar

Sudah Menginjakkan Kaki ke Beberapa Pulau?

Saat ini saya sedang berada di Pulau Lombok, NTB, dalam rangka menyajikan makalah pada sebuah konferensi nasional. Asyik juga saya sudah mengunjungi pulau yang populer sebagai alternatif wisata selain Bali. Nah, di sela-sela seminar saya sempatkan mengisi blog ini.

Jika dipikir-pikir saya sudah mengunjungi banyak pulau di Indonesia. Negara kita adalah negara yang luas, pulau-pulaunya bagaikan ratna mutu manikam permata yang berserakan di atas lautan. Sewaktu saya sekolah dasar saya mengetahui jumlah pulau di Indonesia asalah 13.677 buah pulau. Hasil perhitungan terbaru menunjukkan jumlah pulau seluruhnya 18.306 (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_pulau_di_Indonesia) dan hanya sepertiga dari pulau-pulau itu yang mempunyai nama.

Peta Indonesia (Sumber gambar: http://ksbdsi.wordpress.com/peta/peta-indonesia/)

Peta Indonesia (Sumber gambar: http://ksbdsi.wordpress.com/peta/peta-indonesia/)

Impian saya sejak dulu adalah mengunjungi seluruh pulau di tanah air, melihat keindahan alam, budaya, dan hal-hal unik di setiap pulau. Jika dihitung-hitung ternyata saya baru menjejakkan kaki pada sebelas pulau saja. Berikut daftarnya:

1. Pulau Sumatera
Ya, di sinilah saya lahir dan dibesarkan. Saya sudah melihat hampir semua kota di propinsi saya sendiri (Sumatera Barat). Namun anehnya, saya sama sekali belum pernah mengunjungi pulau-pulau kecil yang terdapat di propinsi tersebut. Di Pulau Sumatera saya sudah mengunjungi kota-kota: Medan, Banda Aceh, Pekanbaru, dan Bandar Lampung (yang terakhir ini hanya sekedar dilewati saja ketika pulang kampung dengan bus dari Jawa). Saya belum pernah ke Bengkulu, Jambi, dan Palembang. Mudah-mudahan nanti saya ada urusan ke sana, entah seminar atau urusan pekerjaan.

2. Pulau Jawa
Usai tamat SMA, saya kuliah di Bandung, Jawa Barat. Pulau Jawa adalah pulau kedua yang saya jejaki. Selama di Pulau Jawa saya sudah mengunjungi kota-kota: Jakarta, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Malang, Magelang, Muntilan, Jember, dan kota-kota lain di Propinsi Jawa Barat. Selain kota-kota itu, saya juga sudah mengunjungi daerah-daerah kecamatan atau kabupaten.

3. Pulau Bali
Pulau ketiga yang saya kunjungi adalah Pulau Bali pada acara jalan-jalan yang diadakan oleh Jurusan saya dulu. Pulau Bali adalah pulau tersering kedua yang didatangi penduduk Indonesia setelah Pulau Jawa untuk berwisata. Maklumlah Bali adalah pulau wisata yang mejadi magnet turis domestik dan asing datang ke sana. Selain Denpasar dan Kuta, saya sudah menyinggahi kota Singaraja yang terletak di Bali utara.

4. Pulau Madura
Ketika saya masih bujangan dan baru saja mejadi dosen di ITB, saya jalan-jalan ke Surabaya. Ke Surabaya tanpa mengunjungi Pulau Madura rasanya kurang lengkap, karena Pulau Madura hanya sepelemparan batu dari Surabaya. Dulu saya naik feri dari Pelabuhan Perak Surabaya ke Pulau Madura. Naik feri hanya perlu waktu 15 hingga 20 menit saja, maklum selat yang memisahkan Jawa dan Madura tidak lebar. Sekarang Pulau Madura bisa dicapai melalui jembatan Suramadu. Di Madura saya hanya keliling-keliling saja di sekitar kota Bangkalan dan tidak menginap, yang penting saya sudah menjejakkan kaki ke pulau garam itu.

5. Pulau Sulawesi
Saya pertama kali ke Pulau Sulawesi ketika ada tugas seleksi mahasiswa D3 Pos-Informatika ITB di Manado. Sekarang hampir setiap tahun saya ke Pulau Sulawesi karena saya membimbing TA jarak jauh di sebuah universitas swasta di Manado. Selain Manado, saya sudah mengunjungi kota Makassar, kota terbesar di Pulau Sulawesi dan kota terbesar di kawasan Indonesia Bagian Timur. Yang belum kesampaian adalah mengunjungi propinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Sulawesi Barat.

6. Pulau Bunaken
Ke kota Manado tanpa mengunjungi Pulau Bunaken rasanya kurang lengkap. Pulau Bunaken terletak di seberang kota Manado. Dibutuhkan waktu setengah jam naik speed boat ke sana. Di Pulau Bunaken terdapat taman laut yang terkenal di seluruh dunia. Saya hanya jalan-jalan saja di pantai Bunaken dan tidak menginap di sana, memang ke Bunaken tidak untuk menginap tetapi untuk menyelam melihat taman laut.

7. Pulau Kalimantan
Saya pertama kali ke Pulau Kalimantan ketika ada tugas ke kota Bontang. Dari Jakarta tidak ada penerbangan langsung ke Bontang, tetapi ke Balikpapan dulu. Dari Balikpapan ada pesawat carteran Pelita Air yang melayani kebutuhan transportasi bagi karyawan perusahaan industri di sana (Kaltim Prima Coal, Pupuk Kaltim, dan sebagainya), namun juga dapat digunakan oleh penduduk dengan prioritas terakhir. Kalmantan adalah pulau terbesar di Indonesia, penduduknya jarang, infrastruktur jalan raya antar kota di sana belum sebaik di pulau Sumatera dan Jawa. Karena itu, transportasi udara memegang peranan penting di Kalimantan. Bahkan, kota-kota dalam satu propinsi saja ditempuh dengan pesawat, seperti Balikpapan-Bontang atau Balikpapan-Tarakan. Kota yang baru saya kunjungi ya baru Bontang saja, sedangkan Balikpapan hanya sebagai kota transit saja. Saya belum pernah ke Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, atau Palangkaraya.

8. Pulau Penyu
Pulau Penyu terletak di Tanjung Benoa, Bali. Saya ke pulau ini ketika membawa keluarga jalan-jalan ke Bali. Dinamakan Pulau Penyu karena di sana terdapat penangkaran hewan penyu yang sudah langka. Pulau ini tidak berpenghuni dan untuk ke sana ditempuh dengan speed boat dalam waktu dua puluh menit dari Benoa.

9. Pulau Belitung
Pulau Belitung saya kunjungi dalam rangka jalan-jalan dosen fakultas pada bulan Januari yang lalu. Pulau Belitung menjadi terkenal sejak film Laskar Pelangi menjadi box-office empat tahun lalu. Di Belitung saya menginap di kota Tanjungpandan.

10. Palau Lengkuas
Belum ke Belitung kalau tidak menyempatkan berkunjung ke Pulau Lengkuas yang terletak di barat daya Pulau Belitung. Di Pulau Lengkuas terdapat menara mercu suar yang dibangun pada tahun 1828. Saya hanya berjalan-jalan saja di Pulau Lengkuas dan tidak menginap.

11. Pulau Lombok
Ini adalah pulau yang sedang saya kunjungi sekarang. Pulau Lombok adalah alternatif wisatawan yang sudah bosan dengan Bali yang sudah crowded. Saya belum menjelajahi Pulau Lombok, nanti akan saya tuliskan pengalaman di pulau ini. Di Pulau Lombok saya menginap di kota Mataram.

Nah, baru segitu pulau yang saya singgahi, masih sangat sedikit dibandingkan 18.306 pulau di tanah air. Pada dasarnya saya menyukai travelling, jadi saya masih memendam impian mengunjungi pulau-pulau indah lainnya seperti Flores, Sumbawa, Komodo, Timor, Halmahera, Banda, Ternate, dan sebagainya. Semoga.

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar