Mahasiswa Baru PTN 2013 Bebas Uang Pangkal???

Ini kabar gembira bagi mahasiswa baru PTN tahun 2013. Universitas Indonesia (UI) tahun ini membebaskan uang pangkal bagi mahasiwa baru (Baca ini: Tahun Ini Universitas Indonesia Bebas Uang Pangkal). Saya tidak tahu berapa uang pangkal bagi mahasiswa baru UI tahun lalu (sebagai perbandingan, uang pangkal bagi mahasiswa baru ITB tahun lalu maksimal Rp45 juta, sebelumnya pernah mencapai maksimal Rp55 juta). Soal uang pangkal yang besar itu selalu menjadi kegelisahan banyak orang tentang mahalnya biaya masuk kuliah di PTN. Yang jelas, uang pangkal itu nilainya sangat besar dan sangat berat bagi mahasiwa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Kesannya hanya orang kaya saja yang bisa kuliah di PTN, sedangkan orang miskin jangan harap bisa merasakan kuliah di PTN, begitu kritikan dari berbagai pihak tentang fenomena tingginya uang masuk kuliah di PTN.

Untunglah Pemerintah mendengar keluh kesah dan berbagai kritikan terseut. Pemerintah melalui Kemendiknas menghimbau PTN menghapuskan biaya masuk bagi mahasiswa baru. Sejauh ini baru UI yang sudah mengumumkan akan menghapuskan uang pangkal masuk UI, sedangkan perguruan tinggi yang lain belum terdengar melakukan hal yang serupa.

Bagaimana dengan ITB? ITB pun berencana menghapuskan uang pangkal itu mulai tahun ini (Baca: ITB Siap Hapuskan Uang Pangkal). ITB memang masih menunggu surat resmi dari Mendiknas tentang himbauan penghapusan uang pangkal tersebut, sambil menghitung-hitung pengeluaran setiap semester.

Jika uang pangkal dihapus, PTN tidak perlu takut kekurangan dana, sebab setiap PTN mendapat BOPTN (semacam BOS kalau di SD/SMP). BOPTN adalah singkatan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri). Dana BOPTN itu selalu meningkat setiap tahun dan nilainya cukup besar.

Uang pangkal hilang bukan berarti SPP setiap semester juga hilang. SPP tetap ada yang jumlahnya ditentukan oleh setiap PTN bersangkutan. Nah, disinilah yang harus dikritisi, sebab jangan sampai uang pangkal yang ditiadakan itu ternyata dialihkan dalam bentuk peningkatan SPP per semester. Jika itu terjadi ya sama saja bohong, hanya berganti baju saja. Sebagai contoh, SPP bagi mahasiswa di ITB saat ini (mulai angkatan 2009 kalau nggak salah) adalah Rp5 juta per semester, tidak tergantung berapapun jumlah SKS yang diambil per semester.

Saya sih berharap jangan sampai penghapusan uang pangkal 45 juta di ITB malah memberatkan mahasiswa baru dengan peningkatan SPP per semesternya (begitu juga harapan saya di PTN lain). Jangan sampailah ya, kasihan anak negeri ini yang punya harapan besar berkuliah di kampus Ganesha (khususnya) atau PTN (umumnya) namun tidak punya biaya. Kalau dapat SPP Rp5 juta per semester itu diturunkan lagi (mungkin nggak sih?) sehingga memberi akses seluas-luasnya bagi orang miskin untuk memperleh pendidikan tinggi. Itulah harapan saya kepada alamamater saya, tempat saya mengabdi saat ini.

Dipublikasi di Pendidikan, Seputar ITB | 11 Komentar

Nasib PKS, Karena Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) saat ini sedang mengalami masalah yang sangat dahsyat. Presidennya, Luthfi Hasan Ishaq (LHI), ditangkap oleh KPK karena diduga menerima suap dari PT Indoguna terkait impor daging sapi. Memang baru “diduga” dan belum terbukti bersalah, namun di era media sosial yang masif seperti saat ini, berita besar penangkapan pucuk pimpinan partai Islam –yang selama ini dikesankan bersih dari korupsi– dengan cepat menyebar dan menimbulkan reaksi yang beragam. Umumnya reaksi mayarakat yang muncul di media adalah hujatan dan kecaman kepada partai ini. Bagaimana tidak, sebagai parpol berbasis agama yang seharusnya mengedepankan moralitas, ternyata para politisinya terjerat sangkaan melakukan perbuatan yang dibenci rakyat Indonesia: yaitu korupsi.

Korupsi di Indonesia memang sudah menjadi perbuatan yang sistemik. Kalau yang melakukan korupsi itu politisi dari partai nasionalis masyarakat masih bisa memaklumi, tetapi jika yang melakukan parpol berbasis agama (Islam) maka masyarakat tidak bisa menerimanya. Jelas masyarakat menjadi jengkel dan marah sebab ajaran agama yang seharusnya suci menjadi ternoda karena ulah oknum politisi partai tersebut. Masyarakat menilai partai yang membawa embel-embel agama ternyata sama saja dengan partai yang non-agama. Akhirnya masyarakat menjadi apatis dengan parpol termasuk partai yang membawa nama agama, toh perilaku elitenya sama buruknya dengan koruptor dari parpol lain.

Sayangnya reaksi politisi PKS justru menimbulkan masalah baru. Anis Matta, Presiden PKS yang baru, malah menuding penangkapan LHI itu sebagai bagian dari konspirasi untuk menghancurkan PKS. Padahal publik, termasuk saya, masih lebih percaya kepada KPK daripada tuduhan PKS, publik masih yakin bahwa KPK tetap independen dalam bekerja. Karena itu, alih-alih membantu KPK dalam menyelesaikan kasus LHI, PKS malah membuat blunder dengan pernyataannya sendiri tentang tuduhan konspirasi dan keterlibatan zionis. Saran saya, orang-orang PKS sebaiknya lebih banyak diam, tidak usah memberikan komentar yang menimbulkan masyarakat menjadi antipati.

Hari-hari ini PKS menjadi sasaran empuk media massa. Tahukah anda bahwa penghakiman oleh media justru lebih “kejam” daripada diadili oleh pengadilan resmi. Media, terutama media elektronik dan media online, dapat mengubah persepsi publik terhadap PKS. Partai yang selama ini dicitrakan sebagai partai dakwah dan bersih ternyata tidak seperti yang dikesankan. Masyarakat dibuat menjadi antipati dengan partai ini, dan jika benar terbukti LHI menerima suap maka hancurlah kepercayaan masyarakat khususnya umat Islam kepada PKS.

Saya yakin kasus penangkapan LHI akan berpengaruh terhadap raihan suara PKS pada pemilu 2014. Kalau para kader partainya (yang militan) mungkin tidak akan lari meninggalkan PKS, tetapi para voters PKS, yaitu massa mengambang yang selama ini menjadi simpatisan dan memilih PKS karena reputasinya yang baik, saya yakin akan meninggalkan PKS. Mereka akan menjadi goncang setelah melihat PKS sudah ternoda. Sungguh kasihan para kader PKS yang bekerja secara ikhlas di tataran akar rumput, namun perilaku elit partainya telah merusak perjuangan mereka.

Menurut saya, yang rugi tidak hanya PKS sendiri, tetapi parpol berbasis Islam seperti PPP, PKB, dan PAN akan terkena getahnya. Masyarakat menjadi tidak percaya lagi kepada parpol Islam, dan kemungkinan yang terjadi hanya ada dua: mereka akan golput atau memilih partai nasionalis. Jika itu yang terjadi, maka kerugian juga buat umat Islam sendiri, sebab aspirasi mereka tidak terwakili lagi di parlemen oleh parpol berbasis agama, disebabkan para calon legislatifnya banyak yang gagal masuk parlemen. Memang dilematis, tetapi masyarakat tidak bisa juga disalahkan dikarenakan tidak memilih parpol berbasis Islam, yang perlu disalahkan adalah perilaku elit parpol tersebut yang tidak bisa menjaga perbuatan dengan ideologi yang mereka anut. Benar kata sebuah peribahasa, karena nilai setitik rusak susu sebelanga.

Dipublikasi di Indonesiaku | 14 Komentar

Kecanduan “Game Online” Bagaikan Narkoba

Artis dan para pesohor memakai narkoba mungkin sudah biasa. Mereka seperti orang yang bingung menghabiskan uangnya untuk apalagi, lalu dicarilah kebahagiaan semu dengan mengkonsumsi narkoba. Mula-mula ikut-ikutan akhirnya ketagihan karena kecanduan. Maka, jika para artis atau orang terkenal sering digerebek karena mengkonsumsi serta memperjualbelikan narkoba (seperti kasus penangkapan Raffi Ahmad cs baru-baru ini), itu berita yang sudah basi.

Jika para artis dan orang terkenal kecanduan narkoba, maka kalangan pelajar dan mahasiswa saat ini kecanduan game online. Mereka tahan duduk berjam-jam di depan komputer bermain game yang terhubung dengan internet. Kalau sudah main mereka sering lupa segala-galanya, lupa belajar, lupa tidur, dan mungkin lupa sekolah/kuliah. Padahal bermain game online tidak hanya melelahkan stamina, tetapi juga menguras uang (untuk membayar akses internet).

Pengaruh buruk bermain game online (termasuk video games yang tidak menggunakan internet seperti PS2) pada anak sudah banyak dibahas di berbagai media, misalnya anak menjadi agresif, berbicara kasar, kurang bersosialisasi, mengganggu pertumbuhan, dan sebagainya (baca tulisan ini: Efek Bahaya Dari Kecanduan Games Online). Namun tidak hanya itu saja, anak bahkan sampai nekat mencuri agar bisa terus bermain game online di warnet. Sudah banyak berita atau tulisan yang membahas kecanduan game online ini dapat membuat anak berperilaku kriminal (baca ini: Kecanduan-Game-Online-Anak-Bisa-Kriminal). Di Bandung baru-baru ini ada seorang anak mencuri motor agar dapat memperoleh uang untuk bermain game online di warnet (baca berita ini). Kasus terbaru adalah sekumpulan bocah SD yang membobol rumah dan mencuri barang di dalamnya untuk dijual sebagai biaya bermain game online (Baca: 7-siswa-dibawah-umur-nekat-mencuri-karena-kecanduan-game-online).

Contoh sebuah game online

Contoh sebuah game online

Anda jangan kaget jika game online tidak hanya membuat candu anak-anak, bahkan mahasiswa pun ada yang “terjerumus” kecanduan game online. Kasusnya terjadi pada mahasiswa ITB, kebetulan mahasiswa di lingkungan fakultas saya. Nilai-nilai kuliahnya anjlok.. jlok..jlok, bahkan terancam drop out (DO), setelah ybs kecanduan game online. Bisa dimengerti kenapa anjlok sebab ia jarang kuliah, tidak ikut ujian, dan tidak membuat tugas kuliah. Untung saja kasus ini dapat diketahui oleh dosen walinya sehingga orangtuanya dipanggil ke kampus. Namun untuk melepaskan si mahasiswa dari kecanduan game online rupanya tidak mudah, dia perlu didampingi dua orang piskolog sekaligus untuk melepaskan ketergantungannya pada game online. Seperti apa terapinya saya kurang tahu. Yang jelas dukungan dan perhatian dari orangtua, teman, dan lingkungan sangat dibutuhkan dalam proses melepaskan ketergantungan game online tersebut.

Saya tidak mendengar kabar selanjutnya tentang mahasiswa yang kecanduan game online tersebut, namun sekarang ganti mahasiswa di bawah perwalian saya sendiri yang terkena candu game online. Program TPB-nya (tingkat 1 di ITB) sangat kritis, dia terancam D.O sebab sebagian besar mata kuliah TPB-nya tidak lulus. Kesempatan terakhir tinggal pada semester ini saja untuk menyelamatkan nasibnya di ITB. Parah, parah, parah!

Mungkin anda berpikir bahwa mahasiswa pecandu game online tersebut jika diarahkan dengan baik dapat menjadi game developer kelak. Sepertinya logikanya gampang, orang yang maniak game tentu dapat menjadi pembuat game. Namun saya sangsi, bagaimana dia dapat menjadi pembuat game jika sebagain besar waktunya habis untuk bermain game. Kapan berpikirnya? Harus dihentikan dulu maniaknya bermain game, baru dia bisa diarahkan menjadi seorang pengembang game.

Dipublikasi di Pendidikan | 40 Komentar

Jalan-jalan ke Pulau Belitung (Bagian 3): Dijamu Pak Bupati Belitung

Ada catatan yang tersisa dari jalan-jalan ke Pulau Belitung. Catatan ini sekaligus menutup seri tulisan ini. Rupanya kehadiran kami di Pulau Belitung sampai juga ke telinga Bupati Belitung, Pak Darmansyah Husein. Kami dosen-dosen STEI-ITB diundang jamuan makan malam oleh beliau di rumah dinasnya (yang terletak disamping Rumah Adat Belitung yang saya ceritakan sebelumnya).

Rupanya Pak Bupati adalah alumnus ITB, yaitu dari Jurusan Planologi angkatan 1976.Kebetulan semasa kuliah dia juga aktif di Masjid Salman ITB sebagai alumni Lembaga Mujahid Dakwah (LMD) yang dibentuk oleh Bang Imad. Di antara dosen STEI-ITB ada yang dulu pernah menjadi aktivis Salman juga, jadi informasi kehadiran kami di Tanjungpandan mungkin berasal dari dosen STEI tadi.

Kami dihidangkan makan malam dengan menu masakan khas Belitung. Enak juga masakan orang sana, saya paling suka gulai ikannya. Setelah makan malam, Pak Bupati mempresentasikan pembangunan di kabupaten Belitung. Dia juga menceritakan kiprahnya selama 9 tahun (sudah dua kali periode) menjadi bupati di sana. Cerita dan presentasinya sangat menarik, sepertinya dia sangat menguasai persoalan.

Menjelang pulang, kami diberi suvenir kejutan, yaitu sebuah buku biografi tentang dirinya yang berjudul Utusan Negeri Serumpun. Sekarang memang zamannya para pejabat, pengusaha, dan orang terkenal membuat biografi dengan niat untuk mewariskan pengalaman hidup kepada generasi selanjutnya.

Biografi pak Bupati Belitung

Biografi pak Bupati Belitung

Setiba di Bandung saya membaca biografi tersebut sampai tuntas. Hmmm… menarik juga membacanya. Masa-masa kecilnya di Gantong, Belitung Timur, diceritakan dengan teliti, termasuk juga kisah dibangunnya SD Muhammadiyah Gantong yang menjadi tempat sekolah Andrea Hirata (penulis novel Laskar Pelangi). Rupanya ayah Pak Bupati inilah yang merintis sekolah itu bersama pengurus Muhammadiyah ranting Gantong. Hmmm… baru tahu saya.

Bagian paling menarik dari buku biografi Pak Darmansyah adalah suka dukanya kuliah di Bandung, yaitu di ITB. Saya jadi tahu seperti apa suasana belajar di ITB tahun 70-an dan kisah mahasiswa perantauan di Bandung. Juga dikisahkan tentang Asrama Mahasiswa Belitung di Jalan Supratman. Hampir setiap hari saya melewati asrama itu karena lokasinya persis di pinggir jalan besar, ternyata usia asrama tersebut sudah lama juga ya.

Bagian selanjutnya yang menarik perhatian adalah kisah pembentukan Propinsi Babel yang melepaskan diri dari propinsi induknya, Sumatera Selatan. Inilah propinsi baru pertama pada masa reformasi. Pak Darmansyah adalah ketua Pokja pembentukan Propinsi Babel kala itu karena dia pernah menjadi anggota DPR dari fraksi PBB mewakili daerahnya, Belitung.

Pak Bupati sedang memberi tanda tangan pada buku biografinya

Pak Bupati sedang memberi tanda tangan pada buku biografinya

Bagian akhir bukunya tidak antusias lagi saya baca, karena isinya melulu karir politiknya yang berpindah partai ke PAN serta presentasi tentang keberhasilannya membangun infrastruktur di Belitung. Ha..ha.., kalau ini sih sudah politis, sehingga saya baca sepintas saja. Mungkin Pak Darmansyah ingin mengadu peruntungan untuk menjadi calon Gubernur Babel atau siapa tahu menjadi menteri bila Pak Hatta Radjasa terpilih menjadi capres atau wapres? Wallahu alam, hanya beliau yang tahu.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 4 Komentar

Jalan-Jalan ke Pulau Belitung (Bagian 2): Pantai Belitung nan Indah

Apa yang membuat banyak orang kepincut dengan Pulau Belitung setelah menonton film Laskar Pelangi? Apalagi kalau bukan pantainya yang alami yang didominasi batu-batu granit berukuran besar. Ke Pulau Belitung tanpa mengunjungi Pantai Tanjungtinggi tempat lokasi film Laskar Pelangi rasanya kurang lengkap.

Adegan film Laskar Pelangi di pantai

Adegan film Laskar Pelangi di pantai

FYI, kisah Laskar pelangi itu kejadiannya di Belitung Timur, tetapi lokasi shooting filmnya di Belitung Barat. Pulau Belitung dibagi menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Belitung (barat) dan Kabupaten Belitung Timur. Penduduk Pulau belitung tidak sampai 300 ribu orang. Pantai Tanjungtinggi terdapat di Kabupaten Belitung (lebih tepatnya agak ke selatan pulau). Kami pun pergi mengunjungi Pantai Tanjungtinggi yang terkenal itu.

Memasuki lokasi pantai kita mulai melihat batu-batu granit berukuran besar berserakan di mana-mana, tidak hanya di dekat laut tetapi juga di daratan. Tentu beratnya berton-ton ya, tetapi batu itulah yang menjadi kekhasan Pantai Tanjungtinggi.

Papan yang menyebutkan disinilah lokasi film Laskar Pelangi.

Papan yang menyebutkan disinilah lokasi film Laskar Pelangi.

Yuk ah… saya tidak sabaran melihat pantainya yang berbatu-batu granit besar itu. Wow… memang eksotis menikmati pemandangan pantai di sini. Batu-batu granit ini sudah ada sejak jutaan tahuan yang lalu, entah bagaiamana asal muasalnya muncul ke permukaan bumi. Berikut foto-fotonya.

Pemandangan ke arah laut (1)

Pemandangan ke arah laut (1)

Pemandangan ke arah laut (3)

Pemandangan ke arah laut (2)

Pemandandangan ke arah laut (3)

Pemandandangan ke arah laut (3)

Pemandangan ke arah laut (4)

Pemandangan ke arah laut (4)

Nah, kalau foto yang di bawah ini adalah pantai yang agak landai. Pasirnya putih dan halus. Air lautnya bersih dari sampah manusia, yang tampak hanyalah sampah rumput laut yang berserakan di pinggir pantai.

Pantai Tanjungtinggi yang indah

Pantai Tanjungtinggi yang indah

Pantai Tanjungtinggi yang indah

Pantai Tanjungtinggi yang indah

Rasanya kurang lengkap ke pantai tanpa mengunjungi pulau-pulau di sekitarnya. Salah satu pulau yang wajib dikunjungi adalah Pulau Lengkuas. Di pulau ini terdapat menara mercu suar yang dibangun pada zaman Belanda (tahun 1882). Air laut yang biru menemani kami sepanjang berlayar naik perahu ke Pulau Lengkuas. Waktu tempuh ke Pulau Lengkuas kira-kira setengah jam. Sepanjang perjalanan menuju Pulau Lengkuas, di lautan yang luas, bersih, dan biru, terhampar pulau-pulau yang dibentuk dari batu-batu granit. Batu-batu granit itu seperti menyembul dari dasar laut.

Pulau-pulau yang berserakan dari batu granit

Pulau-pulau yang berserakan dari batu granit

Salah satu pulau batu granit yang unik adalah Pulau Garuda. Dinamakan Pulau Garuda karena dari jauh kelihatan batu granit seperti paruh burung garuda (lihat fotonya di bawah ini).

Pulau Garuda

Pulau Garuda

Setelah menempuh perjalanan setengah jam dan laut yang bergelombang cukup besar, terlihatlah Pulau Lengkuas dengan mercu suarnya yang cantik.

Pulau Lengkuas dari jauh

Pulau Lengkuas dari jauh

Sampailah kami di Pulau Lengkuas. Kami disambut oleh menara mercu suar yang menjulang tinggi. Kira-kira tingginya ada 80 meter kali ya.

Mercu suar yang dibangun pada tahun 1882

Mercu suar yang dibangun pada tahun 1882

Berani menaiki mercu suar setinggi itu? Mercu suar tingginya 20 tingkat, setiap tingkat dihubungkan dengan anak tangga. Kebayang ya betapa sulitnya membangun mercu suar setinggi itu pada Abad 19. Sungguh sayang ke Pulau Lengkuas kalau tidak mencoba menaiki mercu suar itu.

Yuk, ah, saya mau uji ketahan tubuh dengan menaiki tangga menara mercu suar yang melingkar dan banyaknya 20 buah itu. Uff…, ngos-ngosan deh naik tangga yang tinggi itu. Saya istirahat dulu di salah satu tingkat menara. Ini foto bagain dalam mercu suar.

Pemandanagn salah satu tingkat di dalam mercu suar

Pemandanagn salah satu tingkat di dalam mercu suar

Setelah mendaki tangga selama lima belas menit lebih, akhirnya sampailah saya di puncak mercu suar. Wow… betapa indah pemandangan dari puncak mercu suar. Lihatlah lautan luas dengan pulau-pulau dari batu granit berserakan di mana-mana.

Pemandangan dari puncak mercu suar

Pemandangan dari puncak mercu suar (1)

Pemandangan dari puncak mercu suar (2)

Pemandangan dari puncak mercu suar (2)

Pemandangan dari puncak mercu suar (3)

Pemandangan dari puncak mercu suar (3)

Lampu mercu suar yang tidak bisa berputar lagi, tapi masih bisa berfungsi memancarkan sinar

Lampu mercu suar yang tidak bisa berputar lagi, tapi masih bisa berfungsi memancarkan sinar

Di Pulau Lengkuas, seperti pantai Pulau Belitung, terdapat banyak bantu granit berukuran besar. Saya berfoto narsis di depan batu granit ini.

Narsis di Pulau Lengkuas

Narsis di Pulau Lengkuas

Oke, sebelum meninggalkan Pulau Lengkuas, saya berfoto-foto dulu di sini bersama anak saya yang nomor 2.

Foto bareng anak

Foto bareng anak

Langit sudah terlihat mendung, sebentar lagi badai akan datang. Kami pun bergegas meninggalkan Pulau Lengkuas dan kembali lagi ke Pulau Belitung. Suatu saat saya ingin kembali ke Pulau Lengkuas lagi.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 3 Komentar

Jalan-Jalan ke Pulau Belitung (Bagian 1): Tanjungpandan Kota Kecil yang Tenang

Pertengahan Januari kemarin kami rombongan dosen-dosen STEI-ITB mengadakan jalan-jalan ke Pulau Belitung. Tahu Pulau Belitung? Dulu sebelum ada film Laskar Pelangi tidak banyak orang yang tahu pulau yang satu ini, tetapi setelah film Laskar Pelangi menjadi box-office, Pulau Belitung mendadak menjadi terkenal, dan arus wisatawan pun mengalir deras ke sana, termasuk kami rombongan dosen ITB yang kepincut dengan Belitung.

Kepuluan Bangka dan Belitung, di sebelah timur Pulau Sumatera

Kepulauan Bangka dan Belitung, di sebelah timur Pulau Sumatera

Pulau Belitung (penduduk di sana menyebutnya Belitong) bersama Pulau Bangka sekarang menjadi propinsi tersendiri dengan nama Propinsi Kepulauan Bangka-Belitung (Babel), setelah memisahkan diri dari propinsi induknya, Sumatera Selatan. Ibukota Propinsi Babel adalah Pangkalpinang di Pulau Bangka. Dua pulau besar, yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung dipisahkan oleh Selat Gaspar. Masing-masing pulau mempunyai kota dan bandara sendiri. Di Pulau Bangka ada kota Pangkalpinang dengan nama bandara Depati Amir, sedangkan di Pulau Belitung ada kota Tanjungpandan dengan nama bandara H.A.S Hanandjoedin (diambil dari nama Bupati Belitung yang pertama berasal dari daerah Belitung sendiri).

Meskipun kota kecil, tetapi penerbangan dari Jakarta ke Tanjungpandan ada 4 kali sehari yang dilayani oleh maskapai Sriwijaya Air (tiga kali) dan Batavia Air (1 kali). Nah, kami naik pesawat Sriwijaya Air dari Jakarta ke Tanjungpandan. Penerbangan dari Jakarta ke Tanjungpandan memakan waktu 1 jam. Pesawat penuh dengan penumpang yang sebagian besar adalah wisatawan dan pebisnis. Ini berarti pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Pulau Belitung meningkat pesat sejak berkah film Laskar Pelangi itu, terutama sekali karena orang-orang terpukau dengan keindahan pantai Belitung yang menjadi salah satu lokasi shooting (akan saya ceritakan pada tulisan selanjutnya).

Bandara HAS Hanandjoedin, Tanjungpandan, Belitung

Bandara HAS Hanandjoedin, Tanjungpandan, Belitung

Narsis di pintu bandara

Narsis di pintu bandara

Kami dijemput oleh tour guide di Bandara Hanandjoedin. Menyusuri jalan-jalan di kota Tanjungpandan dari Bandara seperti memyusuri kampung-kampung di Sumatera, sepi seperti tidak ada orang, maklum penduduknya sedikit. Lalulintasnya tidak ramai dengan kendaraan, terasa sekali kota ini sangat tenteram. Kami sampai di pusat kota yang ditandai oleh tugu replika batu satam. Batu satam ini konon adalah meteorit yang jatuh di Pulau Belitung. Warnanya hitam dan bersifat magnetik. Sewaktu kami makan di pusat kota, ada penduduk lokal yang menawarkan sebutir batu satam yang berukuran sebesar bola pingpong. Mau tahu harganya? Rp200.000. Wow!

Tugu batu satam

Tugu batu satam

Jalan-jalan sepi di kota Tanjungpandan

Jalan-jalan sepi di kota Tanjungpandan

Ufff… lapaar. Kami belum makan sejak berangkat dari Jakarta. Pemandu wisata mengajak kami makan mie belitung (penduduk lokal menyebutnay mie belitong). Mie Belitung ini adalah mie kuah seafood yang menjadi sarapan pagi orang Belitung. Mie-nya dibuat sendiri, lalu disiram dengan kuah seafood dan ditambah udang. Makan mie belitung lebih enak jika ditemani es jeruk kunci. Jeruk kunci adalah semacam jeruk peras tetapi berukuran kecil, kalau di Manado disebut jeruk cui.

Mie belitung yang menggoda selera

Mie belitung yang menggoda selera

Setelah makan, berhubung kami belum bisa check-in hotel, kami diajak jalan-jalan city tour. Pertama-tama kami mengunjungi Rumah Adat Belitung. Rumah adat Belitung berbentuk rumah panggung seperti jamak rumah adat di Pulau Sumatera.

Rumah adat belitung

Rumah adat belitung

Ruangan lapang di dalam rumah adat

Ruangan lapang di dalam rumah adat

Beranda rumah adat ini sangat nyaman untuk leyeh-leyeh, bisa terkantuk-kantuk di sini ditiup angin sepoi-sepoi.

Beranda rumah adat ini sangat nyaman untuk leyeh-leyeh, bisa terkantuk-kantuk di sini ditiup angin sepoi-sepoi.

Usai dari rumah adat, kami mengunjungi Museum Tanjungpandan. Di sini dipamerkan sejarah Pulau Belitung, termasuk sejarah tambang timah. Ya, seperti Pulau Bangka, di Pulau Belitung juga ditemukan timah. Dari atas pesawat kita dapat melihat Pulau Belitung bopeng-bopeng akibat digali rakyatnya untuk mencari timah.

Museum Tanjungpandan

Museum Tanjungpandan

Barang-barang yang dipamerkan di dalam museum

Barang-barang yang dipamerkan di dalam museum

Pecahan keramik cina yang ditemukan di laut sekitar Pulau Belitung.

Pecahan keramik cina yang ditemukan di laut sekitar Pulau Belitung.

Di halaman belakang museum terdapat hewan peliharaan, salah satunya buaya besar. Kalau anda pernah menonton film Laskar Pelangi dimana ada adegan teman si Ikal dihadang buaya besar, maka inilah buayanya, yang dipinjam untuk keperluan shooting.

Buaya yang digunakan di dalam film Laskar pelangi.

Buaya yang digunakan di dalam film Laskar pelangi.

Hari sudah menejlang siang, terakhir sebelum check-in di hotel, kami menyempatkan diri belanja oleh-oleh di sebuah toko. Oleh-oleh dari pulau ini adalah kaos dengan gambar khas Belitung, lalu hasil kerajinan dari laut seperti kerang. Kalau makanan khasnya seperti kerupuk ikan, kemplang, kopi Belitung, dan lain-lain.

Toko oleh-oleh

Toko oleh-oleh

Oke, cerita Bagian pertama sampai di sini dulu, nanti dilanjutkan pada tulisan bagian kedua.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 4 Komentar

Ada Tiga Program Studi Baru di ITB tahun 2013

Bagi adik-adik SMA yang akan memilih ITB, tahun ini ITB menambah tiga Program Studi Baru yang dapat anda pilih pada SNMPTN atau SBMPTN 2013. SBMPTN adalah singkatan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. FYI, SNMPTN menggunakan jalur undangan (60%) dan SBMPTN jalur ujian tulis (40%).

Ketiga Prodi baru tersebut adalah:
1. Kewirausahaan
2. Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air
3. Rekayasa Infrastruktur Lingkungan.

Prodi pertama (Kewirausahaan) masuk dalam Sekolah Bisnis dan manajemen (SBM) ITB. Info lebih lengkap tentang Prodi Kewirausahaan dapat dibaca pada laman web ini: http://www.sbm.itb.ac.id/kewirausahaan. Prodi kedua dan ketiga masuk dalam Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (sampai tulisan ini dibuat belum tersedia laman web yang menginformasikan apa dan bagaimana Prodi Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air dan Prodi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan. Namun yang jelas, Program S2-nya sudah ada terlebih dahulu (info dari sini: http://www.ftsl.itb.ac.id/)

Pada tahun pertama, seluruh mahsiswa baru ketiga Prodi tersebut masih berkuliah di Kampus ITB Ganesha, namun pada tahun kedua dan seterusnya mereka melakukan aktivitas perkuliahan di Kampus ITB Jatinangor.

Tiga buah Prodi baru tersebut melengkapi tiga Prodi baru lainnya yang sudah dibuka pada tahun 2012, yaitu Rekayasa Hayati, Rekayasa Pertanian, dan Rekayasa Kehutanan (ketiganya di bawah Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, SITH, ITB). Perkuliahannya dilaksanakan di kampus ITB Jatinangor juga.

Tertarik? Silakan simak info Ujian Seleksi Masuk ITB pada laman ini: http://usm.itb.ac.id/

Dipublikasi di Seputar ITB | 2 Komentar