Tidak Ada Lagi Mobil yang Parkir di Sini

Masih ingat dengan tulisan saya yang lalu berjudul Peraturan Untuk Dilanggar (Potret Calon pemimpin Bangsa. Tadi pagi saya lihat tidak ada lagi mobil-mobil mahasiswa ITB yang melanggar larangan parlir di Jalan Ganesha. Sudah bersih. Pihak ITB akhirnya bertindak juga meskipun sadar bahwa wilayah di luar pagar kampus bukan wilayah hukum ITB lagi. Di sepanjang Jalan Ganesha yang ada rambu larangan parkir sekarang dipasang tali rafia dan Pak Satpam ditugaskan untuk melarang mahasiswa parkir di sana.

Sudah tidak ada lagi mobil yang parkir di sepanjang ruas jalan Ganesha yang ada rambu larangan parkir.

Sudah tidak ada lagi mobil yang parkir di sepanjang ruas jalan Ganesha yang ada rambu larangan parkir.

Bandingkan dengan foto beberapa minggu sebelumnya seperti di bawah ini:

Kondisi Jalan Ganesha dengan parkiran mobil-mobil mahasiswa di areal rambu larangan parkir.

Kondisi Jalan Ganesha dengan parkiran mobil-mobil mahasiswa di areal rambu larangan parkir.

Mudah-mudahan saja kondisi hari ini bertahan sampai seterusnya. Mahasiswa seharusnya sadar bahwa mereka melakukan pelanggaran aturan meskipun termasuk pelanggaran “kecil”. Pelanggaran besar bermula dari pelanggaran kecil.

Dipublikasi di Seputar ITB | 3 Komentar

Meskipun Empat Orang Tetap Jalan Terus

Semester ini ada yang unik dalam kuliah yang saya ampu. Saya mengajar mata kuliah pilihan (electives) yang berjudul Topik Khusus Informatika. Ini mata kuliah sejenis kapita selekta yang isinya dapat berubah-ubah setiap tahun. Dua tahun ini saya yang mengisi kuliah tersebut, topiknya adalah Metode Numerik dan Fuzzy Logic. Pada awal semester jumlah peserta kuliah sekitar 12 orang, tetapi setelah masa PRS (Perbaikan Rencana Studi) dilaksanakan minggu lalu, jumlah pesertanya menyusut menjadi empat orang saja. Mungkin setelah melihat daftar tugas kuliahnya (tugas programming dengan berbagai bahasa dan kakas) yang seabreg-abreg (karena kuliah ini full tugas sampai akhir semester), banyak mahasiswa yang mengundurkan diri.

Tahun lalu jumlah pesertanya masih lumayan bertahan hingga akhir semester, yaitu 12 orang, tetapi tahun ini hanya empat orang. Menurut aturan di ITB, jika jumlah peserta kuliah pilihan kurang dari lima orang, maka kuliah pilihan tersebut ditutup. Seharusnya saya menutup kuliah tersebut, dan seharusnya saya senang kuliah tersebut ditutup saja, sehingga beban mengajar saya berkurang (asyiiik kan?).

Tetapi, setelah ngobrol-ngobrol dengan empat orang mahasiswa yang tersisa itu, mereka rupanya ingin tetap meneruskan kuliah pilihan tersebut. Saya tidak tega juga menutup kuliah ini, jika ditutup tentu mereka kesulitan mencari kuliah pilihan pengganti, karena semester genap sudah berjalan selama empat minggu. Jika saya menuruti egoisme saya, tentu saya tutup saja, tetapi hal itu tidak saya lakukan. Saya memilih untuk tetap meneruskan kuliah pilihan ini sampai akhir semester. Setelah berkonsultasi dengan pegawai akademik, keputusan menutup atau meneruskan kuliah pilihan tersebut ada pada tangan saya, meskipun secara aturan boleh ditutup. Karena tanggung jawab secara moral dan tanggung jawab secara keilmuan akhirnya membuat saya memutuskan untuk melanjutkan perkuliahan sampai akhir semester.

Memberi kuliah kepada hanya empat orang mahasiswa rupanya asyik juga, serasa seperti memberi les privat saja. Ruang kuliah tenang. Tidak ada mahasiswa yang ribut atau mengobrol, konsentrasi menajdi fokus. Secara materi saya tidak perlu bersusah payah karena materi kuliah sudah saya buat sejak tahun lalu, tinggal sedikit perbaikan di sana-sini.

Saya terbayang teman-teman dosen di Program Studi Astronomi. Jumlah mahasiswanya termasuk paling sedikit di antara Prodi lain di ITB. Zaman saya kuliah misalnya, teman seangkatan saya di Astronomi hanya 11 orang. Dengan jumlah mahasiswa hanya sedikit, bagaimana suasana perkuliahan pada mata kuliah pilihannya ya? Tentu pesertanya ada yang hanya 2 orang, tiga orang, atau lebih. Kalau kuliah pilihan ditutup sesuai aturan ITB (karena tidak memenuhi kuota lima orang), tentu tidak ada orang yang akan mendalami bidang spesifik di Astronomi (melalui kuliah pilihan). Jadi, memang kembali kepada kesediaan dosennya saja. Mau lanjut silakan, mau ditutup silakan. Begitu pula dalam kasus saya sekarang.

Dipublikasi di Seputar ITB | 3 Komentar

Tata Krama dan Etika itu Perlu Dipelajari

Keluhan yang sering dilontarkan orang-orang: anak-anak zaman sekarang kurang sekali dalam menjaga tata krama atau sopan santun. Cuek, kurang peduli aturan, kurang menghargai etika, dan kurang tahu berterima kasih.

Keluhan tersebut sudah biasa kita dengar, saya atau anda mungkin pernah merasakannya. Di negara Timur yang mengedepankan sopan santun, memang nilai-nilai etika adalah hal yang utama, sebelum menginjak ke substansi permasalahan. Sebab, seringkali tujuan atau maksud yang ingin diutarakan tidak tercapai karena ada etika yang dilabrak.

Dulu zaman saya sekolah dasar, pendidikan budi pekerti adalah bagian dari pelajaran wajib. Bagaimana menghormati guru, menghormati orang yang lebih tua, menghormati tamu, semua diajarkan dengan dengan detil. Murid-murud menyimak dengan seksama pelajaran dari guru. Kalau tidak mau mengikuti, hukuman dipukul dengan rotan pun siap menunggu.

Sekarang, dalam kurikulum pendidikan nasional, pelajaran budi pekerti tidak ada lagi, karena dianggap dapat dititipkan dalam pelajaran seperti Agama atau PKN. Tugas guru agama atau guru PKN lah yang mengajarkan murid budi pekerti, nilai-nilai moral, dan etika.

Tetapi, dengan pelajaran agama yang hanya 2 jam di sekolah umum (kecuali di sekolah bernuansa agama), menurut saya itu tidak cukup. Yang penting adalah prakteknya, memberi contoh langsung, tidak hanya sekadar pelajaran teori. Bagaimana anak didik bersikap sopan santun bila tidak dicontohkan sebagai sebuah aksi?

Namun, kita tidak boleh hanya menyalahkan anak-anak generasi sekarang dengan menuduh mereka tidak punya tata krama atau sopan santun, lalu membandingkannya dengan generasi zaman kita. Itu sungguh tidak fair. Anak-anak zaman sekarang tidak mengalami masa lalu kita sehingga mereka tidak mempunyai pembanding, sedangkan kita orang dewasa (baca: para orangtua) telah melewati dua zaman, yaitu masa lalu dan masa sekarang.

Kesalahan kita sebagai orang dewasa (atau orangtua) adalah tidak memberi contoh teladan kepada anak-anak generasi sekarang. Kita tidak memperagakan kepada anak bagaimana mengucapkan terima kasih, namun kita menuntut anak berterima kasih setiap ada pemberian. Orangtua meminta anak duduk sopan ketika makan, namun kita sendiri sering tidak sopan di hadapan mereka (misalnya makan atau minum sambil berdiri). Kita menuntut anak berpakaian sopan, tetapi kita sendiri sering hanya memakai singlet atau bertelanjang dada di rumah. Masih banyak contoh lainnya, semua itu karena kita alpa kepada anak sendiri tetapi lebih memperhatikan sikap di hadapan orang lain.

Jadi, yang utama dari semua pelajaran bukanlah aspek teoritis, tetapi prakteknya dalam kehidupan langsung. Teori hanya disimpan di dalam kepala, sedangkan praktek lebih riil dan aktual.

Dipublikasi di Budi Pekerti | 3 Komentar

Memulai Pertama Kali Itu Sulit?

Setiap orang tentu pernah punya perasaan malas memulai sesuatu. Bagi mahasiswa, memulai untuk menulis TA itu kadangkala terasa berat: darimana memulainya? Apa yang harus ditulis? Dan sebagainya. Akibatnya pekerjaan menulis laporan TA terpaksa ditunda-tunda. Karena sering ditunda-tunda akhirnya berlarut berlama-lama.

Saya juga begitu, ketika memulai menulis buku atau bahan kuliah, seringkali juga menunda, ah nantilah, ah santai dululah, dan sebagainya. Sebenarnya menunda-nunda pekerjaan itu tidak baik, sebab hal itu pertanda malas. Malas adalah penyakit mental. Malas timbul karena kita cenderung memandang negatif ke arah masa depan, kita merasa pekerjaan yang dihadapi itu berat dan membebani pikiran, akibatnya kita tidak mempunyai semangat untuk memulainya.

Malas harus dilawan. Cara melawannya sederhana saja: kalau bukan saya yang mengerjakannya, lalu siapa lagi? Masa depan hanya saya sendiri yang menentukan, bukan orang lain. Kalau saya tidak memulainya, kapan akan selesainya? Jadi, saya harus mengerjakannya sekarang juga!

Biasanya kalau sebuah pekerjaan yang menjadi tugas kita sudah berhasil dimulai, maka semua inspirasi mengalir deras begitu saja, bahkan tidak bisa dihentikan karena keasyikan. Aneh ya? Padahal tadi memulainya sungguh sulit luar biasa.

Dipublikasi di Renunganku | 6 Komentar

Sudah Menginjakkan Kaki ke Beberapa Pulau?

Saat ini saya sedang berada di Pulau Lombok, NTB, dalam rangka menyajikan makalah pada sebuah konferensi nasional. Asyik juga saya sudah mengunjungi pulau yang populer sebagai alternatif wisata selain Bali. Nah, di sela-sela seminar saya sempatkan mengisi blog ini.

Jika dipikir-pikir saya sudah mengunjungi banyak pulau di Indonesia. Negara kita adalah negara yang luas, pulau-pulaunya bagaikan ratna mutu manikam permata yang berserakan di atas lautan. Sewaktu saya sekolah dasar saya mengetahui jumlah pulau di Indonesia asalah 13.677 buah pulau. Hasil perhitungan terbaru menunjukkan jumlah pulau seluruhnya 18.306 (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_pulau_di_Indonesia) dan hanya sepertiga dari pulau-pulau itu yang mempunyai nama.

Peta Indonesia (Sumber gambar: http://ksbdsi.wordpress.com/peta/peta-indonesia/)

Peta Indonesia (Sumber gambar: http://ksbdsi.wordpress.com/peta/peta-indonesia/)

Impian saya sejak dulu adalah mengunjungi seluruh pulau di tanah air, melihat keindahan alam, budaya, dan hal-hal unik di setiap pulau. Jika dihitung-hitung ternyata saya baru menjejakkan kaki pada sebelas pulau saja. Berikut daftarnya:

1. Pulau Sumatera
Ya, di sinilah saya lahir dan dibesarkan. Saya sudah melihat hampir semua kota di propinsi saya sendiri (Sumatera Barat). Namun anehnya, saya sama sekali belum pernah mengunjungi pulau-pulau kecil yang terdapat di propinsi tersebut. Di Pulau Sumatera saya sudah mengunjungi kota-kota: Medan, Banda Aceh, Pekanbaru, dan Bandar Lampung (yang terakhir ini hanya sekedar dilewati saja ketika pulang kampung dengan bus dari Jawa). Saya belum pernah ke Bengkulu, Jambi, dan Palembang. Mudah-mudahan nanti saya ada urusan ke sana, entah seminar atau urusan pekerjaan.

2. Pulau Jawa
Usai tamat SMA, saya kuliah di Bandung, Jawa Barat. Pulau Jawa adalah pulau kedua yang saya jejaki. Selama di Pulau Jawa saya sudah mengunjungi kota-kota: Jakarta, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Malang, Magelang, Muntilan, Jember, dan kota-kota lain di Propinsi Jawa Barat. Selain kota-kota itu, saya juga sudah mengunjungi daerah-daerah kecamatan atau kabupaten.

3. Pulau Bali
Pulau ketiga yang saya kunjungi adalah Pulau Bali pada acara jalan-jalan yang diadakan oleh Jurusan saya dulu. Pulau Bali adalah pulau tersering kedua yang didatangi penduduk Indonesia setelah Pulau Jawa untuk berwisata. Maklumlah Bali adalah pulau wisata yang mejadi magnet turis domestik dan asing datang ke sana. Selain Denpasar dan Kuta, saya sudah menyinggahi kota Singaraja yang terletak di Bali utara.

4. Pulau Madura
Ketika saya masih bujangan dan baru saja mejadi dosen di ITB, saya jalan-jalan ke Surabaya. Ke Surabaya tanpa mengunjungi Pulau Madura rasanya kurang lengkap, karena Pulau Madura hanya sepelemparan batu dari Surabaya. Dulu saya naik feri dari Pelabuhan Perak Surabaya ke Pulau Madura. Naik feri hanya perlu waktu 15 hingga 20 menit saja, maklum selat yang memisahkan Jawa dan Madura tidak lebar. Sekarang Pulau Madura bisa dicapai melalui jembatan Suramadu. Di Madura saya hanya keliling-keliling saja di sekitar kota Bangkalan dan tidak menginap, yang penting saya sudah menjejakkan kaki ke pulau garam itu.

5. Pulau Sulawesi
Saya pertama kali ke Pulau Sulawesi ketika ada tugas seleksi mahasiswa D3 Pos-Informatika ITB di Manado. Sekarang hampir setiap tahun saya ke Pulau Sulawesi karena saya membimbing TA jarak jauh di sebuah universitas swasta di Manado. Selain Manado, saya sudah mengunjungi kota Makassar, kota terbesar di Pulau Sulawesi dan kota terbesar di kawasan Indonesia Bagian Timur. Yang belum kesampaian adalah mengunjungi propinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Sulawesi Barat.

6. Pulau Bunaken
Ke kota Manado tanpa mengunjungi Pulau Bunaken rasanya kurang lengkap. Pulau Bunaken terletak di seberang kota Manado. Dibutuhkan waktu setengah jam naik speed boat ke sana. Di Pulau Bunaken terdapat taman laut yang terkenal di seluruh dunia. Saya hanya jalan-jalan saja di pantai Bunaken dan tidak menginap di sana, memang ke Bunaken tidak untuk menginap tetapi untuk menyelam melihat taman laut.

7. Pulau Kalimantan
Saya pertama kali ke Pulau Kalimantan ketika ada tugas ke kota Bontang. Dari Jakarta tidak ada penerbangan langsung ke Bontang, tetapi ke Balikpapan dulu. Dari Balikpapan ada pesawat carteran Pelita Air yang melayani kebutuhan transportasi bagi karyawan perusahaan industri di sana (Kaltim Prima Coal, Pupuk Kaltim, dan sebagainya), namun juga dapat digunakan oleh penduduk dengan prioritas terakhir. Kalmantan adalah pulau terbesar di Indonesia, penduduknya jarang, infrastruktur jalan raya antar kota di sana belum sebaik di pulau Sumatera dan Jawa. Karena itu, transportasi udara memegang peranan penting di Kalimantan. Bahkan, kota-kota dalam satu propinsi saja ditempuh dengan pesawat, seperti Balikpapan-Bontang atau Balikpapan-Tarakan. Kota yang baru saya kunjungi ya baru Bontang saja, sedangkan Balikpapan hanya sebagai kota transit saja. Saya belum pernah ke Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, atau Palangkaraya.

8. Pulau Penyu
Pulau Penyu terletak di Tanjung Benoa, Bali. Saya ke pulau ini ketika membawa keluarga jalan-jalan ke Bali. Dinamakan Pulau Penyu karena di sana terdapat penangkaran hewan penyu yang sudah langka. Pulau ini tidak berpenghuni dan untuk ke sana ditempuh dengan speed boat dalam waktu dua puluh menit dari Benoa.

9. Pulau Belitung
Pulau Belitung saya kunjungi dalam rangka jalan-jalan dosen fakultas pada bulan Januari yang lalu. Pulau Belitung menjadi terkenal sejak film Laskar Pelangi menjadi box-office empat tahun lalu. Di Belitung saya menginap di kota Tanjungpandan.

10. Palau Lengkuas
Belum ke Belitung kalau tidak menyempatkan berkunjung ke Pulau Lengkuas yang terletak di barat daya Pulau Belitung. Di Pulau Lengkuas terdapat menara mercu suar yang dibangun pada tahun 1828. Saya hanya berjalan-jalan saja di Pulau Lengkuas dan tidak menginap.

11. Pulau Lombok
Ini adalah pulau yang sedang saya kunjungi sekarang. Pulau Lombok adalah alternatif wisatawan yang sudah bosan dengan Bali yang sudah crowded. Saya belum menjelajahi Pulau Lombok, nanti akan saya tuliskan pengalaman di pulau ini. Di Pulau Lombok saya menginap di kota Mataram.

Nah, baru segitu pulau yang saya singgahi, masih sangat sedikit dibandingkan 18.306 pulau di tanah air. Pada dasarnya saya menyukai travelling, jadi saya masih memendam impian mengunjungi pulau-pulau indah lainnya seperti Flores, Sumbawa, Komodo, Timor, Halmahera, Banda, Ternate, dan sebagainya. Semoga.

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

PilGub Jabar 2013, Semua Calon Kurang Bagus

Rakyat Jawa Barat akan memilih Jabar 1 pada tanggal 4 Februari nanti. Siapa yang akan anda pilih? Menurut saya, semua calon gubernur dan wakil gubernur yang maju tidak ada yang bagus. Debat cagub-cawagub di TV isinya normatif semua, tidak ada yang memberikan langkah kongkrit yang menyentuh permasalahan rakyat Jawa Barat. Apa permasalahan warga Jawa Barat? Sebagai propinsi dengan jumlah penduduk nomor dua terbanyak setelah Jawa Timur, persoalan utama rakyat Jabar adalah kemiskinan dan pengangguran. Selama lima tahun masa jabatan gubernur yang lama memimpin, tidak banyak perubahan yang dirasakan masyarakat. Rakyat Jabar tetap saja banyak yang miskin, pengangguran di mana-mana. Belum lagi ditambah dengan pencemaran alam karena limbah pabrik, banjir yang tidak pernah berhenti pada musim hujan, anak-anak putus sekolah, dan sebagainya.

pilgubjabar

Marilah kita simak para calon gubernur dan calon wakil gubernur itu satu per satu, sesuai dengan nomor urutnya.

1. Dikdik Mulyana Arief Mansur – Cecep Nana Suryana Toyib.
Ini pasangan calon yang kurang dikenal, mereka maju melalui jalur independen. Siapa mereka sebelumnya? Sebagian Anda mungkin kenal mereka, tetapi jujur saja saya tidak tahu (menurut informasi terakhir yang saya baca, Pak Dikdik dulu adalah Kapolda Sumatera Selatan, tapi Sumsel itu kan jauh dari Jabar). Ketidaktahuan kita kepada pasangan ini berpengaruh terhadap pilihan, karena dalam memilih pemimpin orang cenderung melihat figur: dikenal apa tidak? Kalau tidak dikenal ya tidak masuk hitungan pemilih. Boleh dibilang Didkdik-Cecep adalah pasangan calon penggembira saja. Memang dari hasil-hasil survey pasangan Dikdik dan Cecep selalu berada pada elektabiltas paling bawah dari lima pasang calon. Dari segi calon independen sebenarnya mereka membawa harapan sebab mereka tidak terikat kepentingan dengan parpol. Namun, citra calon jalur independen langsung rontok gara-gara kasus Aceng (Bupati Garut yang juga berasal dari jalur independen). Orang-orang gampang saja menggeneralisasi, jangan-jangan nanti gubernur dari jalur independen seperti Aceng pula. Tentu tidaklah ya. Namun jangan kaget, Dikdik adalah calon gubernur paling kaya, harta kekayaannya saja 30 milyar bo!

2. Irianto MS Syafiuddin (Yance) – Tatang Farhanul Hakim
Ini adalah pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur dari Golkar. Pak Yance pernah dua kali menjadi Bupati Indramayu dan sejak dulu punya ambisi menjadi Gubernur Jabar (dia selalu memasang iklan setengah halaman secara rutin di kotran lokal dan koran nasional untuk menjual “kebaikan” dirinya). Sebelum proses penjaringan calon gubernur, baliho Pak Yance berukuran raksasa menghiasi tempat-tempat strategis di kota Bandung. Dari segi popularitas, Pak Yance satu tingkat di atas Pak Dikdik. Kans Pak Yance dan temannya untuk menang menurut saya sangat tipis. Mungkin dia dapat meraih suara yang cukup besar di daerah basisnya yaitu kawasan Indramayu-Cirebon, tetapi di tempat lain dia tidak terlalu dikenal.

3. Dede Yusuf – Lex Laksamana.
Mereka adalah Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusung oleh gabungan Partai Demokrat dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Siapa yang tidak kenal Dede Yusuf? Artis iklan “Bodrex” yang menjadi idola ibu-ibu. Dede Yusuf adalah calon petahana. Dia sudah pecah kongsi dengan gubernur Ahmad Heryawan. Tanda-tanda perpecahan sudah tercium sejak dua tahun lalu, mereka terlihat seperti dalam “perang dingin”, namun tidak sampai putus di tengah jalan. Pak Aher dan Dede tetap jaim seolah-olah di antara mereka tidak ada apa-apa, namun sesungguhnya ada apa-apa, dan tanda-tanda ketidakakuran sudah terlihat sejak lama. Rupanya Aher yang terlalu dominan dalam membuat kebijakan dan tidak melibatkan Dede Yusuf telah membuat hubungan mereka tidak harmonis. Sekarang Dede maju menjadi Cagub dan ingin menunjukkan eksistensinya bahwa dia pun mampu menjadi pilihan rakyat Jabar.

Apa ya yang sudah dilakukan Dede Yusuf selama lima tahun menjadi Wagub? Rasanya tidak banyak kiprahnya yang saya dengar, sebab sebagai orang nomor dua itu di mana-mana statusnya hanyalah menjadi “ban serep” gubernur. Ia tidak punya kuasa yang cukup besar untuk membuat kebijakan, sebab ia akan selalu dibayang-bayangi atasannya, yaitu sang gubernur. Namun, dari segi elektabilitas Dede bersaing sangat ketat dengan Aher, dan hasil-hasil survey selalu menempatkan Dede dan Aher saling kejar mengejar. Sesungguhnya dalam Pilgub nanti yang terjadi adalah rivalitas antara Dede dan Aher. Namun, karena Dede maju dari Partai Demokrat, kisruh Partai Demokrat yang dilanda persoalan korupsi dan diramalkan akan karam cukup berpengaruh pada persepsi orang Jabar terhadap Dede Yusuf. Sejauh mana rakyat Jabar menghubungkan Partai Demokrat dengan Dede Yusuf, itu sangat menentukan keterpilihan dia nanti.

4. Ahmad Heryawan – Deddy Mizwar
Ini adalah pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Sama seperti Dede Yusuf yang dipengaruhi oleh isu Partai Demokrat, Aher juga dibayangi masalah tidak sedap yang menimpa partainya, yaitu kasus suap daging sapi yang membuat ditangkapnya LHI, Presiden PKS. Sejauh mana kasus itu berpengaruh dalam pilihan rakyat Jabar bergantung pada sejauh mana orang mempersepsikan dirinya dengan PKS. Memang hasil survey terbaru menempatkan elektabilitas dia sedikit di atas Dede Yusuf, tetapi hasil-hasil sementara bisa saja berubah: naik atau turun, bergantung pada isu daging sapi yang akan menjadi bola liar dan sejauh mana PKS bisa meredamnya.

Ahmad Heryawan pada tahun 2008 bisa menang karena faktor dominan Dede Yusuf. Dia tidak dikenal oleh mayoritas orang Jabar, namun berkat popularitas Dede Yusuflah Pak Aher bisa terpilih menjadi Gubernur. Jadi, seharusnya Pak Aher ini berterima kasih kepada Dede Yusuf (yang ini tidak pernah diakuinya sebagai faktor kemenangan), namun di tengah jalan dia meninggalkan Dede Yusuf dan meniadakan perannya. Setelah pecah kongsi dengan Dede Yusuf, Aher pun mencari artis lain untuk mengimbangi popularitas Dede Yusuf. Pilihan pun jatuh pada Deddy Mizwar, si jenderal Naga Bonar. Berkat popularitas Deddy Mizwar, elektablitas Aher tertolong kembali, naik cukup signifikan. Diperkirakan Aher akan terpilih kembali bila tidak ada isu luar biasa yang menimpa Dede Yusuf selain isu Partai Demokrat.

Sama seperti Dede Yusuf, saya juga tidak melihat apa prestasi Aher selama menjabat menjadi gubernur. Yang mengatakan Aher banyak prestasi kebanyakan dari kader-kader PKS sendiri, lengkap dengan cerita-cerita betapa randah hati dan merakyatnya sang ustad (seperti tidak ingin kalah merakyat dengan Jokowi). Prestasi yang diklaim puluhan buah itu tidak bisa dianggap sebagai kesuksesan sang gubernur, sebab bisa saja sebagian prestasi itu adalah kerja keras staf atau bawahannya tetapi diangap sebagai prestasi gubernur. Oh ya, karena media tidak banyak mempublikasikan keberhasilan Pak Aher, maka para pendukungnya mensiasati dengan membuat puluhan baligo dengan wajah Aher tersenyum mendapat penghargaan, saya sampai muak melihatnya. Baligo-baligo yang menyanjung-nyanjung personal itu terasa ironi dengan ideologi partainya yang anti dengan pengkultusan individu.

5. Rieke Diah Pitaloka – Teten Masduki
Ini adalah pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusung oleh Partai demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Gerindra. Sayangnya Rieke meniru mentah-mentah gaya kampanye Jokowi, terutama simbol baju kotak-kotak. Orang melihat pasangan ini tidak punya rasa percaya diri dengan melakukan copy paste gaya Jokowi-Ahok. Rieke sepertinya ingin meniru keberhasilan Jokowi dalam Pilgub DKI, tetapi dia lupa masa euforia Jokowi sudah hampir selesai. Publik belum melihat “keberhasilan” Jokowi dalam menangani persoalan besar di Jakarta yaitu banjir dan kemacetan. Banjir besar di Jakarta bulan Desember yang lalu membuka mata publik bahwa Jokowi toh masih biasa-biasa saja, dia bukan superman seperti yang dibayangkan orang. Hanya gaya blusukan Jokowi yang membuat dia masih disambut meriah dan menjadi media darling karena blusukan itu membuat dia sangat merakyat.

Lagipula harus diingat bahwa medan Jakarta tidak sama dengan medan Jabar yang sangat luas dan lebih homogen. Jakarta multikultur, rakyatnya lebih terbuka dan well-informed, sedangkan Jabar terasa sangat nyunda dan tidak bisa dipisahkan dari agama (Islam).

Nah, Rieke alias Oneng telah mengambil strategi yang salah dengan mem-foto-copy Jokowi. Baju kotak-kotak ternyata tidak laku di daerah, buktinya dalam Pilgub Sulawesi Selatan pasangan kotak-kotak kalah telak oleh petahana. Hasil-hasil survey menempatkan elektabilitas Rieke nomor 3 setelah Aher dan Dede. Status Rieke sebagai aktivis buruh tidak cukup kuat mendongkrak elektabilitasnya. Selama menjadi aktivis dan anggota DPR prestasi apa yang telah diperbuatnya? Kebanyakan yang dipersepsi publik adalah Rieke hanya bisa cuap-cuap saja tetapi action tidak ada. Dan jangan lupa, rekam jejak Rieke sebagai pengusung paham pluralisme dan liberalisme (ingat penolakannya terhadap UU Pornografi) menjadi catatan tersendiri bagi kalangan muslim kritis. Rieke juga lupa bahwa rakyat Jawa Barat terkenal agamis dan sering menghargai simbol-simbol agama, maka dengan penampilannya tanpa memakai kerudung cukup menjauhkannya dari ibu-ibu majelis taklim, kalangan santri, dan kelompok-kelompok agamis lainnya.

Jadi, siapa yang anda pilih pada tanggal 24 Februari nanti. Pilihlah yang paling bagus dari semua calon yang tidak bagus itu.

Dipublikasi di Seputar Informatika | 13 Komentar

Mari Memudahkan Urusan Orang Lain

Materi khutbah shalat Jumat di Masjid Salman ITB tadi siang bagi saya cukup berkesan. Pak Ustad membacakan sebuah Hadis Nabi yang bunyinya sebagai berikut:

“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat…” (Hadis Riwayat Muslim).

Hadis tadi mengingatkan saya pada seorang teman kolegial di ITB yang sering menuliskan statusnya di fesbuk apabila dia bepergian ke luar kota untuk urusan yang terkait bidang keilmuannya. “Sedang dalam perjalanan ke kota X untuk memudahkan urusan orang lain“, begitu bunyi salah satu postingannya, atau “Alhamdulillaah, semoga hari ini niat mempermudah urusan orang lain diterima olehNya“, dan lain-lain. Memang salah satu tugasnya adalah membina, membimbing, dan memberikan kontribusi keahliannya kepada orang lain atau komunitas tertentu di tempat lain.

Mari baca lagi hadis di atas. Barang siapa yang menghilangkan kesulitan orang yang beriman, maka Allah akan membalasnya dengan menghilangkan kesulitan orang itu pada Hari Kiamat kelak, dan bagi siapa yang memudahkan urusan orang lain yang dilanda kesulitan, maka Allah menjanjikan akan memudahkan urusannya nanti di akhirat kelak.

Andai Hadis tersebut dibaca oleh orang-orang yang suka mempersulit urusan orang lain (yang seharusnya menjadi tugasnya), maka tentu kita tidak akan mendengar keluhan dan rasa kecewa orang yang dipersulit. Mengurus surat dipersulit, mengurus sertifikat dipingpong, mengurus perizinan diulur-ulur menjadi lama, dan sebagainya. Urusan yang mudah dibuat menjadi berbelit-belit, sepertinya ia belum puas kalau belum mengerjakan orang lain karena dirinya merasa punya kuasa. Sok kuasa, sok arogan, mungkin begitu istilah yang tepat bagi orang seperti itu. Mungkin saja hal ini dibuat menjadi peluang mendapat uang haram dengan menawarkan sejumlah besaran rupaih agar urusan orang lain menjadi lancar.

Saya pernah membaca sebuah surat pembaca yang isinya keluhan seorang konsumen yang membeli rumah dari sebuah developer dengan pembiayaan kredit dari bank. Setelah cicilan rumah lunas, dia menagih sertifikat rumahnya kepada bank. Namun apa mau dikata, bank melempar urusan itu ke developer. Bolak-balik dia dari bank ke developer, namun sertifikatnya masih saja ditahan dengan berbagai alasan. Sudah berulan-bulan dia menunggu janji tetapi sertifikatnya belum juga turun. Sudah mengadu kemana-mana, tapi tiada hasil. Sertifikat rumah yang seharusnya menjadi haknya tidak mudah dia dapatkan. Entah bank yang mempersulit atau developer yang lepas tangan, tak tahulah.

Dulu teman saya pernah bercerita tentang seorang temannya yang kuliah di Eropa. Dia membawa anak istrinya ikut bersamanya ke Eropa. Thesisnya dibimbing oleh seorang profesor yang kebetulan berdomisili di kota lain (masih di negara yang sama). Suatu hari dia sudah membuat janji menemui profesor itu dikotanya untuk melakukan bimbingan thesis. Namun, tiba-tiba anaknya sakit panas sehingga dia tidak bisa berangkat menemui profesornya. Jika dibatalkan dia merasa tidak enak, apalagi profesornya itu berencana akan pergi ke luar negeri beberapa hari setelah bimbingan. Jika menunggu profesor itu pulang perlu waktu yang lebih lama lagi, sebab profesor akan pergi berbulan-bulan untuk melakukan riset di universtas lain.

Nah, dia mengutarakan persoalan yang dia hadapi kepada profesornya melalui telepon. Tanpa disangka-sangka, profesor itu mengatakan bahwa dia akan mendatangi si mahasiswa tadi ke kotanya untuk memberikan bimbingan thesis. Bayangkan, seorang profesor bersedia mendatangi mahasiswanya yang tengah dilanda kesulitan, tanpa dia merasa risih dengan statusnya sebagai seorang mahaguru. Sungguh terbalik, padahal yang sering terjadi mahasiwalah yang harus mendatangi profesornya apapun masalah yang menimpanya. Tetapi, dalam cerita ini, profesor tersebut menyadari bahwa sang mahasiswa dilanda kesulitan yang membuatnya tidak dapat memilih antara pergi menemui dirinya atau meninggalkan anaknya yang sedang sakit. Profesor tidak ingin menambah kesulitan yang dihadapi mahasiswanya dengan menunggu kepergiannya ke luar negeri dalam waktu yang lama. Alangkah mulianya hati sanga profesor. Dia sudah menghilangkan kesulitan orang lain, dan dia telah mempermudah urusan mahasiswanya.

Kembali ke Hadis Nabi di atas. Menghilangkan kesulitan orang lain atau mempermudah urusannya tidak dibatasi oleh sekat-sekat agama, suku bangsa, warna kulit, atau latar belakang sosial, tetapi bersifat universal. Hadis tersebut tidak mengatakan kepada sesama orang Islam, tetapi kepada sesama orang beriman (mukmin artinya beriman) kita wajib mempermudah urusan atau menghilangkan kesulitannya. Janji Allah SWT itu pasti benar kalau kita beriman kepdana-Nya. Begitulah ajaran Islam yang mulia.

Karena itu, mari kita niatkan untuk selalu membantu orang-orang yang sedang dilanda kesulitan hidup, agar kelak Allah akan membantu memudahkan kita di akhirat kelak.

Dipublikasi di Renunganku | 4 Komentar