Jalan-Jalan ke Pantai Purus, Padang

Tulisan ini masih merupakan catatan yang tersisa ketika saya mudik ke Padang pada akhir bulan Oktober yang lalu. Berhubung jadwal pesawat saya ke Jakarta pukul 20.30 malam, maka siang hari bersama anak saya menyempatkan jalan-jalan ke Pantai Purus.

Selama ini orang tahunya Pantai Padang yang di Muara. Duduk-duduk di pinggir pantai ini sambil menikmati sunset di sore hari sudah merupakan hal yang biasa. Namun, untuk berenang atau bermain-main di pasir pantai sudah agak susah karena bagian berpasirnya sudah semakin susut akibat terkikis ombak Samudera Hindia yang ganas. Lagipula air lautnya tidak terlalu bersih sebab bercampur dengan sampah yang dialirkan oleh Sungai Batang Harau di Muara.

Nah, ada pantai yang cukup landai tidak jauh dari Pantai Padang, namanya Pantai Purus atau lebih dikenal dengan nama Danau Cimpago. Letaknya ke utara sekitar 2 km dari Pantai Padang. Sayangnya pantai Purus tidak dilalui oleh angkutan kota, jadi saya bersama anak naik ojek saja ke sana.

Pantai Purus, Padang, nan landai

Pantai Purus, Padang, nan landai

Pantainya sungguh cantik, landai, dan area pasirnya cukup luas. Banyak tenda dengan kursi santai yang disediakan oleh pedagang di sana. Kalau mau duduk di tenda ini, tidak enak rasanya kalau anda tidak membeli dagangan mereka seperti minuman, makanan, atau snack lainnya.

Tenda-tenda sepanjang pantai

Tenda-tenda sepanjang pantai

Pantainya yang landai dan pasirnya yang halus memang cocok tempat bermain anak-anak, ya mandi-mandi di laut atau bermain pasir.

Asyiknya bermain pasir di Pantai Purus

Asyiknya bermain pasir di Pantai Purus

Menariknya, di pantai ini terjadi pertemuan antara sebuah sungai besar (saya lupa namanya) dengan air laut. Air laut yang berwarna coklat (akibat hujan di daerah hulu) bercampur dengan air laut yang berwarna biru. Kedua jenis air ini tampak tidak bisa bercampur, terlihat jelas batasnya.

Pertemua air sungai dan air laut di Pantai Purus

Pertemua air sungai dan air laut di Pantai Purus

Nah, di tempat berrtemuanya air sungai dan air laut itu, banyak orang yang terlihat asyik memanncing. Mengasyikkan ya menghabiskan waktu dengan memancing.

Memancing

Memancing

Pada siang hari, pantai ini terlihat sepi. Tetapi, jika sore menjelang, pantai semakin ramai saja, dan pada malam hari banyak anak muda di kota Padang menghabiskan waktu di kafe-kafe yang berjejeran di sepanjang jalan raya sepanjang pantai. Sayangnya pantai yang bagus ini menjadi arena berbuat maksiat bagi para anak muda itu. Tenda-tenda yang terletak di sepanjang pantai pada malam hari menjadi tempat mojok asyik masyuk bagi orang yang berpacaran. Kata orang Padang, kalau siang tendanya masih tinggi, tetapi bila malam tiba ketinggiannya merosot hingga setinggi orang duduk (sering disebut “tenda ceper”), di dalamnya pasangan muda-muda asyik masyuk entah berbuat apa. Saya baca di koran lokal, Walikota Padang sempat marah dengan keberadaan tenda-tenda ceper tersebut, lalu memerintahkan Stapol PP membakarnya. Ada pengaruhnya kah dengan membakar tenda-tenda itu? Entahlah…

Padang dan Ranah Minang sekarang ini memang sudah jauh berubah. Falsafah “adat basandi syarak dan syarak basandi kitabullah” sepertinya tinggal slogan. Gaya hidup bebas yang tidak mengindahkan norma agama sudah merebak di kalangan anak mudanya, salah satunya dapat anda saksikan di Pantai Cimpago Purus ini pada waktu malam.

Dipublikasi di Cerita Ranah Minang | 3 Komentar

Es Durian Pondok Padang yang “Yummy”

Ini cerita oleh-oleh waktu pulang kampung ke Padang pada akhir bulan Oktober yang lalu. Sudah lama ya, tetapi baru sempat menuliskannya sekarang. Tulisan ini untuk megisi kekosongan blog yang tidak sempat saya isi karena kesibukan pekerjaan.

FYI, kawasan Pondok adalah kawasan pecinan di kota Padang. Tidak jauh dari Pondok terdapat kawasan kota Padang yang lama yang dibangun pada zaman kolonial Belanda pada abad 18 dan 19.

Pondok juga menjadi kawasan wisata kuliner di kota Padang. Nah, yang saya ceritakan di sini adalah es durian Pondok yang sudah terkenal ke mana-mana. Pelopor kedai es durian ini adalah seorang cina Padang yang dipanggil dengan nama Incek Sinyo. Di Padang, pedagang tionghoa sering dipanggil incek, tidak tahu kenapa disebut incek, sebab incek (Bahasa Minang) artinya biji. Nah, kedai es durian pondok itu sekarang bernama Ganti Nan Lamo, terletak di Jalan Pulau Karam No. 103B.

Kedai Es Durian "Ganti Nan Lamo"

Kedai Es Durian “Ganti Nan Lamo”

Kedai Ganti Nan Lamo di kawasan pecinan, Pondok, Padang. Masjid dan kelenteng berdekatan lokasinya.

Kedai Ganti Nan Lamo di kawasan pecinan, Pondok, Padang. Masjid dan kelenteng berdekatan lokasinya.

Ganti Nan Lamo artinya ganti yang lama. Dulunya kedai ini terletak di seberangnya, tetapi sekarang pindah ke tempat yang sekarang. Jangan salah, di dekat sini banyak sekali kedai es durian dengan nama yang mirip-mirip seperti Iko Gantinyo dan Nan Lamo. Meskipun pedagangnya orang tionghoa, tetapi mereka memakai aksen bahasa Minang dalam penamaaannya. Di Padang hubungan orang cina dengan penduduk pribumi cukup erat.

Lukisan es durian di dalam kedai Ganti Nan Lamo

Lukisan es durian di dalam kedai Ganti Nan Lamo

Es durian adalah durian yang ditambah dengan es serut. Aslinya adalah satu gelas yang berisi daging durian (tanpa biji) yang ditambah dengan serutan es (disebut es durian tok), tetapi sekarang sudah banyak varian menu, ada yang memakai tambahan cincau, delima, susu coklat manis, dan sebagainya.

Saya memesan satu porsi es durian, maunya saya sih es durian tok, tetapi karena belum berpengalaman makan es di sana, saya memilih sembarang saja, ternyata es durian yang dicampur dengan cincau, delima, dan susu coklat.

Satu porsi es durian

Satu porsi es durian

Rasanya amboiii… lezat sekali, sangat terasa benar duriannya. Lebih enak lagi minum es durian sambil makan sate padang. Di kedai ini juga tersedia sate padang yang hangat dan berkuah merah kental.

Rahasia kelezatan es durian terletak pada pemilihan duriannya yang berkualitas. Duriannya dipilih yang berdaging tebal dan berwarna kuning. Sumatera Barat adalah penghasil durian yang lezat.

Oh ya, satu porsi es durian itu harganya Rp14.000, tidak terlalu mahal saya kira. Kalau anda mampir ke kota Padang, jangan lupa singgah mencicipi es durian yang legendaris ini.

Dipublikasi di Cerita Ranah Minang, Makanan enak | 7 Komentar

Dari Bakso Tikus Hingga Bakso Babi

Pada tahun 2006 yang lalu masyarakat di negara kita pernah dihebohkan dengan bakso tikus (baca tulisan saya terdahulu: Formalin dan Baso Tikus). Sebegitu hebohnya kala itu sehingga selama beberapa waktu penyuka bakso berhenti makan bakso karena merasa jijik dengan bakso dari daging tikus. Efeknya ternyata berantai, para pedagang bakso mengalami masa suram karena dagangan mereka tidak laku. Padahal yang menjual bakso dari daging tikus itu hanya segelintir pedagang, tetapi semua pedagang bakso terkena efeknya.

Kejadian yang serupa terulang lagi, tetapi sekarang baksonya dari daging babi atau campuran daging sapi dengan daging babi. Menyiasati harga daging sapi yang melambung tinggi, produsen bakso berbuat nakal dengan memproduksi bakso yang menggunakan campuran daging babi.

Kata “babi” sangat sensitif bagi orang Islam, sebab daging babi hukumnya haram dimakan. Karena mayoritas orang Indonesia beragama Islam, yang berarti mayoritas penikmat bakso adalah orang Islam, maka tak pelak berita bakso yang terbuat dari daging babi membuat masyarakat resah. Seperti efek bakso tikus, maka dagangan bakso kembali dijauhi orang karena khawatir baksonya terbuat dari daging babi.

Saya tidak akan membahas tentang bakso babi ini. Saya pikir ini tidak hanya kesalahan segelintir produsen bakso, tetapi juga kelalaian Pemerintah dalam menjaga pasokan daging sapi sehingga ada produsen yang tega mencari untung dengan menghalalkan segala cara.

Saya akan membahas mengapa daging babi itu diharamkan di dalam Islam. Al-Quran dengan sangat jelas menyebutkan larangan memakan daging babi. Ayat yang mengharamkan memakan daging babi antara lain terdapat di dalam Surat Al Baqarah ayat 173:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan kepada kamu memakan bangkai, darah, daging babi dan binatang-binatang yang disembelih tidak kerana Allah, maka sesiapa yang terpaksa (memakannya kerana darurat) sedang dia tidak mengingininya dan tidak pula melampaui batas (pada kadar benda yang dimakan itu), maka tidaklah dia berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. (Q.S.2:173)

Ayat-ayat lain yang mengharamkan daging babi dapat dibaca di dalam Surat Al Maa’idah (5) : 3, Al An `Aam (6) : 145, dan An Nahl (16) : 115.

Tidak ada penjelasan lebih rinci di dalam Al-Quran mengapa Allah mengharankan daging babi. Ketika saya kecil, guru agama saya menjelaskan mengapa daging babi diharamkan, dan semua alasan ditinjau dari sudut medis. Antara lain dikatakan oleh guru saya karena babi itu hewan yang kotor, di dalam tubuhnya terdapat cacing pita yang jika termakan oleh manusia dapat menimbulkan penyakit pada liver. Lebih lanjut tinjauan babi diharamkan dari sudut medis dapat dibaca pada tulisan ini dan ini.

Tetapi, argumentasi tentang kebersihan dan cacing pita itu saya pikir tidak cukup kuat dan kurang relevan lagi pada zaman modern ini. Kenyataannya saat ini babi sudah diternakkan secara modern, makanan dan kebersihannya terjaga, sehingga citra babi sebagai hewan kotor tentu bisa dipatahkan oleh kelompok yang menghalalkan daging babi. Begitu juga teknologi pengolahan makanan dari daging babi, teknik memasaknya sudah maju sedemikan rupa sehingga telur dan cacing pita di dalamnya dagingnya (kalau ada) pasti akan mati. Nyatanya banyak orang non-muslim yang biasa makan babi toh tetap sehat-sehat saja.

Kita manusia hanya dapat menduga-duga saja dengan menalar menggunakan ilmu pengetahuan untuk memberi argumentasi logis (terutama dari sudut medis) mengapa daging babi haram dikonsumsi. Tentu saja cara menalar kita seperti itu sah-sah saja dan saya pikir tidak salah, sebab manusia memang diberi akal dan pikiran untuk menerjemahkan ayat-ayat qauniyah, termasuk untuk memahami mengapa Allah mengharamkan daging babi. Namun, ilmu manusia itu sangat terbatas dalam menerjemahkan Firman Tuhan. Hanya Allah sendiri yang tahu persis alasan mengapa daging babi Dia haramkan.

Saya punya pandangan agak berbeda mengapa memakan daging babi diharamkan, tetapi tidak dari sudut pandang medis. Saya mengambil analogi babi dengan buah khuldi pada kisah Adam dan Hawa yang melanggar larangan Tuhan. Ingatkah anda dengan kisah Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa yang terusir dari syurga gara-gara memakan buah khuldi? Allah membolehkan Adam dan Hawa memakan buah apa saja di dalam surga, kecuali satu, yaitu buah khuldi.

“Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini (khuldi), yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS Al-Baqarah [2]: 35).

Namun, setan (Iblis) selalu membujuk Adam dan Hawa untuk memakan buah khuldi itu, sebab menurut Iblis memakan buah khuldi itu dapat membuat Adam dan Hawa kekal di syurga:

“Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (kekekalan) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (QS Thaha [20]: 120)

Akhirnya Adam dan Hawa pun tergoda, mereka memakan buah khuldi itu, dan sebagai hukumannya Allah SWT mengusir mereka dari syurga:

“Maka keduanya memakan buah tersebut, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah dia.” (QS Thaha [20]: 121)

Jadi, buah khuldi itu adalah simbol kepatuhan Nabi Adam dan Siti Hawa kepada Allah SWT. Dia menjadikan buah khuldi itu sebagai ujian bagi keduanya, apakah mereka mematuhinjya atau tergoda mencicipinya.

Seperti buah khuldi, daging babi itu juga simbol kepatuhan kita terhadap Allah SWT. Maksudnya, dengan menyebutkan daging babi itu haram, Allah ingin menguji kepatuhan kita, apakah kita mau menaati larangan-Nya itu? Allah ingin tahu siapa dari para hamba-Nya yang mematuhi larangannya memakan daging babi.

Wallahu alam bissawab, hanya Allah yang Maha Tahu, sedangkan saya adalah makhluk yang dhaif.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | 4 Komentar

Dunia (Belum) Akan Kiamat

Sebagian orang di dunia saat ini dihebohkan dengan berita dunia akan berakhir (kiamat) pada tanggal 21 Desember 2012. Ramalan kiamat itu didasarkan pada akhir kalender suku Maya di Amerika Latin yang menyatakan bahwa tanggal terakhir dunia ini adalah 21 Desember 2012. Tanggal 21 Desember itu bertepatan dengan kelahiran anak saya yang bungsu.

Heboh kiamat tahun 2012 sudah dimulai dua tahun lalu ketika film berjudul “2012″ menjadi topik hangat di seantero dunia. Sebelumnya, umat manusia di dunia sudah sering meramalkan hari kiamat sejak berabad-abad yang lalu (baca ini: 9 Kiamat yang Gagal), namun tidak pernah terbukti.

Saya tidak percaya dengan ramalan-ramalan itu. Sebagai orang Islam –dan kebanyakan orang Islam pun berpandangan sama dengan saya– hari kiamat adalah rahasia Tuhan. Hanya Allah SWT yang tahu kapan terjadinya hari kiamat itu. Jangankan Nabi dan Rasul, para malaikat saja tidak mengetahui kapan akhir dunia ini. Allah berfirman:

“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.” (QS. Thaha:15).

Saya masih ingat pelajaran agama di sekolah dulu. Guru agama saya menerangkan bahwa sebelum hari kiamat benar-benar akan terjadi, Allah SWT menurunkan tanda-tandanya sebagai peringatan bagi manusia untuk segera bertaubat. Ada tanda-tanda kecil dan ada pula tanda-tanda besar. Tanda-tanda kecil misalnya — seperti dikutip dari laman ini– perzinahan dilakukan terang-terangan dan sudah menjadi suatu kebiasaan di masyarakat luas, banyak wanita yang berdandan/berpenampilan seperti pria, begitu juga sebaliknya, dan sebagainya. Untuk bacaan lebih lengkap tentang tanda-tanda hari kiamat, sila baca tulisan ini: Tanda-Tanda Hari Kiamat).

Tanda-tanda kecil memang sudah terjadi, tetapi tanda-tanda besar belum. Salah satu tanda besar yang saya ingat dari guru agama saya adalah bahwasanya nanti sebelum hari kiamat tiba, Nabi Isa a.s akan turun ke bumi bersama Imam Mahdi untuk meluruskan ajarannya. Para ulama meyakini bahwa Nabi Isa ketika dikejar oleh penguasa Romawi, dia diselamatkan Tuhan dengan mengangkatnya ke langit, tidak mati seperti yang diyakini oleh saudara-saudara kita dari iman kristiani. Sebagian ulama menafsirkan Nabi Isa itu masih hidup di sisi Allah SWT, dan nanti di suatu masa menjelang Hari Akhir ia akan diturunkan kembali ke bumi. Setelah beberapa tahun di bumi untuk meluruskan ajaran tauhid yang diterimanya dari Allah SWT, Nabi Isa akan diwafatkan oleh Allah SWT secara alami seperti manusia lain umumnya, dan barulah sesudah itu malaikat Israfil membunyikan sangkakala dimulainya kehancuran alam semesta.

Nah, saat ini belum terdengar berita ada orang yang mengaku Nabi Isa dan mewartakan akan meluruskan penyimpangan ajarannya. Itu artinya Nabi Isa belum diturunkan ke bumi, dan artinya belum pertanda dunia akan kiamat dalam waktu dekat ini. Jadi, kenapa ada orang yang mempercayai hari kiamat tanggal 21 Desember 2012? Wallahu alam bissawab, pengetahuan manusia sangat minim.

Dipublikasi di Agama | Tinggalkan komentar

Berkunjung ke Korea (Bagian 5): Sudut-Sudut Kota Seoul

Ini tulisan bagian terakhir dari perjalanan saya ke Korea. Tulisan ini berisi dokumentasi foto-foto pemandangan kota Seoul yang sayang untuk dilewatkan.

1. Gedung-gedung perkantoran di dekat KISA
DSCF0055

2. Kantor Kedubes RI di Seoul
DSCF0063

3. Perkantoran di depan Kedubes RI
DSCF0065

4. Pasar Namdaemoon, semacam pasar murah di Seoul
DSCF0073

5. Suasana pusat berbelanjaan yang ramai
DSCF0075

6. Ruang masuk teater NANTA performance, teater kontemporer yang terkenal di seluruh dunia.
DSCF0078

7. Narsid di teater NANTA
DSCF0080

8. Pasar Insa-dong, pusat penjualan souvenir khas Korea
DSCF0106

Dipublikasi di Cerita perjalanan | Tinggalkan komentar

Berkunjung ke Korea (Bagian 4): Ke Korea University dan KAIST

Agenda selanjutnya adalah mengunjungi dua universitas besar di Korea, yaitu Korea University dan Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST). Tujuan mengunjungi kedua universitas ini adalah untuk studi banding mengenai program graduate tentang Keamanan Informasi.

Korea University adalah universitas swasta yang menemnpati rangking top di Asia dan di dunia. Kalau tidak salah ingat nomor 2 di Asia.

Gerbang kampus Korea University

Gerbang kampus Korea University

Rektorat KU

Rektorat KU

Brrr.... dingin sekali di KU

Brrr…. dingin sekali di KU

Kampusnya super luas, seperti sebuah kota saja. Mahasiswanya sekitar 40 ribu orang dan berasal dari berbagai negara. Ada dua bagian kampus yang dibelah oleh jalan raya.

Narsis di KU

Narsis di KU

Mereka mempunyai program pascasarjana tentang keamanan informasi dengan nama Graduate School of Information Security. Waaah, keamanan informasi saja menjadi satu fakultas sendiri ya, S2 dan S3 lagi.

Gedung fakultas Graduate School of Information Security.

Gedung fakultas Graduate School of Information Security.

Gedung-gedung megah dan besar di kampus KU

Gedung-gedung megah dan besar di kampus KU

Mahasiswa KU melintas dengan jaket tebal. Musim dingin sih.

Mahasiswa KU melintas dengan jaket tebal. Musim dingin sih.

Narsis di pusat keamanan informasi KU

Narsis di pusat keamanan informasi KU

Dari Korea University, keesokan harinya kami mengunjungi perguruan tinggi sains dan teknik yang terkenal di Korea, yaitu KAIST (Korea Advanced Institute of Science and Technology). KAIST terletak di kota Daejeon. Dibutuhkan waktu 3 jam perjalanan dari Seoul ke Daejeon melalui jalan tol yang lebar. Oh ya, tidak seperti di negara kita dimana kendaraan berjalan pada lajur kiri, di Korea kendaraan berjalan pada lajur kanan, sedangkan lajur kiri untuk mendahului.

Gerbang kampus KAIST

Gerbang kampus KAIST

KAIST dapat dianggap sebagai ITB-nya Korea Selatan, dan Korea University dapat dianggap sebagai UI-nya Korea. Ibarat Seoul itu Jakarta dan Daejeon itu Bandung. Kampus KAIST sangat luas, tetapi tidak seluas kampus KU. Di sini hanya ada program studi Sains dan Teknologi saja.

Gedung-gedung fakultas di KAIST. Salju menyelimuti kampus ini.

Gedung-gedung fakultas di KAIST. Salju menyelimuti kampus ini.

Poster kegiatan di KAIST, terpengaruh Gangnam Style juga rupanya, he..he

Poster kegiatan di KAIST, terpengaruh Gangnam Style juga rupanya, he..he

Seperti di KU, d KAIST juga terdapat program pasca sarjana keamanan informasi. Ketika kami beraudiensi di gedung pasca mereka (mirip mal) di sana, seorang mahasiswa pasca keamanan informsi memperagakan teknik hacking yang bisa meng-hack situs web apa saja dengan teknik terbarunya. Hi..hi..hi, dia ternyata berhasil meng-hack situs web ITB (www.itb.ac.id) dan menyisipkan pesan pada salah satu laman web ITB. Gawat! Rupanya situs we ITB mempunyai pertahanan yang lemah, jangan-jangan database nilai mahasiswa ITB juga bisa di-hack dan diubah nilainya. Memang kebutuhan ahli di bidang keamanan informasi sudah sangat mendesak di Indonesia.

Gedung Graduate Program on Informatio Security di KAIST, lebih mirip mal daripada gedung fakultas.

Gedung Graduate Program on Informatio Security di KAIST, lebih mirip mal daripada gedung fakultas.

Oke deh, segitu saja laporan perjalanan kami ke KU dan KAIST. Mudah-mudahan tahun depan program S2 Keamanan Informasi di STEI-ITB bisa segera terwujud dan mulai menerima mahasiswa baru. Amin.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 3 Komentar

Berkunjung ke Korea (Bagian 3): Susah Makan di Korea

Saya tidak terlalu menikmati makan di Korea. Apa pasal? Selama makan di luar (setiap hari makan di berbagai restoran, kecuali sarapan pagi di penginapan) pemandu kami selalu mengajak makan dengan menu ala table manner. Jadi, dengan ala table manner itu, makanan dikeluarkan satu per satu, mulai dari makanan pembuka, utama, dan penutup. Nah, kami sering makan di restoran Jepang atau Korea dengan menu daging ikan mentah atau seafood mentah lainnya. Ikannya kelas ikan mahal sih, ada ikan salmon, kerang dalam, gurita, tuna, dan lain-lain.

Saya tidak suka makan ikan mentah, sejak dulu tidak mau, tidak cocok saja dengan lidah saya. Teman saya enak saja tuh makan sayatan ikan mentah, tetapi saya hanya bisa melihat saja. Selain ikan mentah, menu hidangan lainnya juga tidak cocok selera, alhasil saya hanya makan lalap sayur mentah atau nasi saja. Sayang ya, payah benar selera saya ini, padang minded, he..he.

Untunglah tidak selalu makan ikan mentah, ada satu menu masakan yang menjadi favorit saya di sini, yaitu bibimbap. Bibimbap adalah semacam nasi campur yang dihidangkan dalam mangkuk panas. Di dalam mangkuk ada nasi, lalu di atasnya diletakkan sejumlah sayur kukus, ikan, telur setengah matang, dan bumbu-bumbu.

Bibimbap (sebelum diaduk)

Bibimbap (sebelum diaduk)

Cara memakannya, semua nasi dan bahan-bahan di atasnya diaduk rata kira-kira tiga menit. Panas dari mangkuk membuat smeua bahan menjadi matang dan ada kerak nasi yang terbentuk. Setelah itu baru dimakan dalam keadaan panas. Bunyi krenyes-krenyes dari kerak nasi menghasilkan sensasi tersendiri. Rasanya krispi dan gurih.

Bibimbap setelah diaduk-aduk

Bibimbap setelah diaduk-aduk

Selama di Korea, hampir setiap hari saya makan kimchi sampai bosan rasanya. Setiap menu makan di manapun di Korea selalu dihidangkan kimchi sebagai hidangan pembuka. Mernurut saya kimchi itu hampir sama dengan asinanbogor, he..he.

Kimchi

Kimchi

Orang Korea banyak yang sudah tidak tahu lagi cara membuat kimchi (begitu kata pemandu kami). Sekarang imchi juga bisa dibuat secara instan dengan menggunakan peralatan elektronik. Ketiak berjalan-jalan ke toko elektronik, saya menemukan mesin bermerek Samsung sebesar mesin cuci yang rupanya khusus untuk membuat kimchi.

Mesin pembuat kimchi

Mesin pembuat kimchi

Ketika mengunjungi kota Daejeon dalam rangka ke KAIST, kami makan di restoran yang menghidangkan sup ayam ginseng bernama Samgyetang. Sup ayam ini dicampu dengan bubur nasi sehingga makan satu mangkuk saja sudah kenyang. Ayamnya besar sekali bo, saya tidak habis memakannya.

Samgyetang

Samgyetang

Selain ketiga macam makanan di atas, saya juga mencoba bulgogi, yaitu semacam yakiniku pada masakan Jepang. Terakhir, di bawah ini semacam martabak telur kalau di Aceh, tapi dicampur dengan sayuran. Apa namanya ya, lupa, tetapi agak asin.

Martabak telur

Martabak telur

Karena tidak terlalu menikmati makan di Korea, tiba di penginapan saya mengeluarkan makanan pamungkas yang saya bawa dari Indonesia, apalagi kalau bukan pop mie dan bubur ayam instan. Kayaknya ke mana saja ke seluruh dunia orang Indonesia banyak yang membawa mie instan jika patah selera di negeri orang, termasuk saya, he..he.

Dipublikasi di Cerita perjalanan | 4 Komentar