Menipu dengan Kabar Anak Kecelakaan, Modus yang Sudah Basi (Namun Banyak Juga Korbannya)

Beberapa hari yang lalu pembantu di rumah (kami semua sudah ke kantor dan anak-anak masuk sekolah) menerima telepon dari orang tidak dikenal yang mengaku guru anak saya bernama Agus. Orang bernama Agus itu mengabarkan anak saya jatuh dari tangga di sekolah dan pingsan dan sekarang dia dibawa ke rumah sakit. Agus meninggalkan nomor telepon untuk segera dihubungi.

Tentu saja pembantu di rumah panik, mana hanya dia sendiri di rumah. Namun pembantu saya masih bisa berpikir normal lalu menelpon istri saya di kantor. Istri saya mengabarkan bahwa itu penipuan, sebab tidak ada guru anak kami bernama Agus (itulah pentingnya mengetahui nama-nama guru di sekolah anak kita). Untuk lebih menyakinkan lagi, istri saya menelpon gurunya di sekolah, ternyata anak kami sehat-sehat saja tuh.

Ini kejadian kedua orang tidak dikenal menelpon ke rumah kami. Tahun yang lalu juga ada kejadian yang mirip, kali ini “menimpa” anak saya yang nomor dua. Jam sembilan pagi si penelpon mengabarkan bahwa anak saya yang sedang naik sepeda ditabrak oleh mobil dan sekarang sedang berada di rumah sakit. Dia mengaku sebagai orang yang membawa anak saya itu ke rumah sakit, kemudian meninggalkan nomor telepon untuk dihubungi kembali. Kebetulan waktu itu istri saya sedang berada di rumah karena sedang sakit, jadi pembantu yang menerima telpon langsung memanggil istri saya. Jelas sekali ini penipuan, sebab anak saya tidak mungkin main sepeda pada jam belajar sekolah. Sekolahnya sangat ketat sebab tidak membolehkan murid keluar areal sekolah selama jam sekolah. Jadi, mana mungkin dia berkeliaran di jalan raya pada jam segitu?

Modus penipuan model begini sudah sering terjadi dan korbannya sudah banyak. Modusnya mengabarkan anak atau anggota keluarga kita kecelakaan, lalu kita disuruh menghubungi nomor yang dia berikan. Kalau kita panik maka masuklah kita dalam perangkap si penipu. Orang yang kita hubungi itu ujung-ujungnya mengaku dokter dan mengatakan bahwa anak kita akan dioperasi, tetapi rumah sakit membutuhkan biaya operasi (untuk membeli obat, alat, dan sebagainya) yang harus ditransfer saat itu juga. Dokter gadungan itu menebar “ancaman” bahwa jika operasi telat dilakukan maka nyawa anak kita tidak bisa diselamatkan. Siapapun orangtua pasti tambah panik dan langsung ke ATM untuk mentransfer uang ke rekening dokter palsu.

Berdasarkan cerita yang saya dengar dari korban maupun dari cerita orang-orang, modus penipuan yang saya ceritakan di atas tergolong mudah dipatahkan karena “korban” dan keluarga masih dalam satu kota/lokasi. Bagaimana jika korban terpisah dalam jarak yang jauh? Modus yang pernah saya dengar adalah sebagai berikut:

Targetnya adalah anak atau anggota keluarga yang tinggal di kota lain (mungkin karena kuliah atau bekerja di kota yang jauh). Penipu itu terorganisir melalui jaringan dan sudah mengenal nomor telpon kerabat si target (keluarganya atau teman-temannya). Mula-mula si target ditelpon oleh seseorang yang mengaku polisi. Polisi itu meminta si target mematikan HP-nya dengan alasan sedang melacak sinyal telepon pelaku kejahatan (teroris, penebar narkoba, dsb). Selain si target, polisi gadungan itu juga menghubungi kerabat korban yang tinggal sekota (seperti teman kos, teman kuliah, teman kerja) dan meminta mematikan HP mereka selama satu jam dengan alasan yang sama.

Setelah HP si target dan kerabatnya mati, penipu yang mengaku dokter bernama X menelpon orangtua korban dan mengabarkan si target ditabrak mobil dan sekarang berada di rumah sakit. Dokter gadungan mengatakan si target akan dioperasi tetapi terkendala peralatan medis yang harus diimpor dari Singapura. Dokter gadungan meminta si orangtua mentransfer uang segera supaya alat medis dapat dipesan dan diterbangkan langsung dari Singapura secepatnya agar operasi dapat dilakukan.

Orangtua yang masuk perangkap penipu tentu jalan pikirannya tidak jernih lagi sebab dilanda kepanikan. Ketika HP si anak dihubungi, mati, begitu pula ketika teman-teman si anak dihubungi untuk menanyakan kepastian kecelakaan itu ternyata HP mereka juga mati, tambah paniklah si orangtua. Kondisi makin mencekam setelah dokter gadungan menelpon beberapa kali dengan mengabarkan kondisi si anak yang makin kritis. Jika orangtua masuk dalam perangkap penipu, maka puluhan juta uang melayang via ATM ke rekening penipu.

Seharusnya orangtua menenangkan diri terlebih dahulu lalu mencoba berpikir nomal bahwa rumah sakit manapun tidak punya prosedur menghubungi keluarga untuk meminta biaya operasi. Biaya operasi ditanggung rumah sakit, baru setelah pasien keluar dari rumah sakit biaya operasi dibebankan kepada keluarga korban. Tetapi, penipu memanfaatkan keawaman orang Indonesia yang tidak paham prosedur di rumah sakit. Lebih bagus lagi kalau orangtua memiliki nomor kontak rumah sakit yang dituju, lalu menanyakan apakah betul ada dokter bernama X. Kalau memang ada, tanyakan lagi apakah ada korban kecelakaan bernama anak kita, dan sebagainya. Intinya adalah cek dan ricek itu penting.

Dipublikasi di Pengalamanku | 1 Komentar

Dua dari Tiga Hakim Masuk Neraka

Hari Jumat yang lalu ada kejadian yang menghebohkan dunia hukum di negeri ini. Seorang hakim yang menjabat Wakil Kepala Pengadilan Negeri Bandung ditangkap oleh KPK di kantornya karena telah menerima uang suap sebesar 150 juta dari seseorang pengusaha (baca beritanya di sini).

Kasus hakim (termasuk juga jaksa) yang ditangkap karena menerima suap dari orang yang terlibat hukum sudah kesekian kali terjadi. Seakan tidak kapok-kapok saja dengan kasus yang serupa, hakim yang culas menjual integritasnya demi seonggok uang. Hakim yang bermental buruk seperti ini berkongkalingkong dengan orang yang terlibat perkara. Hukuman seseorang bisa diatur menjadi ringan atau bebas, tentu saja dengan imbalan berupa uang atau materi.

Di negeri ini apa saja bisa dibeli, termasuk hukum pun bisa dibeli. Kasus-kasus penegak hukum (polisi, jaksa, hakim, panitera) ditangkap karena terlibat korupsi membuat kepercayaan masyarakat kita kepada penegak hukum sudah mencapai titik nadir. Kalau penegak hukum saja sudah mempermainkan hukum, kepada siapa lagi kita harus percaya?

Hakim adalah orang yang dipercaya untuk memutus perkara dengan jujur. Allah SWT mempunyai 99 buah nama (asmaul husna), salah satunya Al-Hakim yang artinya Maha Bijaksana. Allah lah Hakim yang sebenar-benarnya adil karena Dia Maha Bijaksana. Allah memberikan sebagian sifat bijaksana-Nya itu kepada para hakim, agar para hakim dapat memutus perkara dengan adil sebagaimana sifat Allah yang Maha Bijaksana itu. Karena itu, tidak salah bila ada orang yang mengatakan bahwa hakim adalah “wakil Tuhan di bumi”. Kata Rasulullah SAW, Allah selalu bersama seorang hakim selama dia berlaku adil:

Allah beserta seorang hakim selama dia tidak menzalimi. Bila dia berbuat zalim maka Allah akan menjauhinya dan setanlah yang selalu mendampinginya. (HR. Tirmidzi).

Kepercayaan Rasulullah kepada hakim demikian besar, sampai-sampai Rasulullah berkata sebagai berikut:

Barangsiapa diangkat menjadi hakim maka dia telah disembelih tanpa menggunakan pisau. (HR. Abu Dawud).

Lidah seorang hakim berada di antara dua bara api sehingga dia menuju surga atau neraka. (HR. Abu Na’im dan Ad-Dailami).

Oleh karena hakim menjalankan sebagian sifat Allah yang Maha Bijaksana, maka sangat besar murka Allah kepada hakim yang tidak berlaku adil. Dalam sebuah hadis Rasulullah berkata bahwa dua dari tiga hakim masuk neraka karena mereka mengadili tidak dengan kebenaran (termasuk menjual hukum dengan uang):

Hakim terdiri dari tiga golongan. Dua golongan hakim masuk neraka dan segolongan hakim lagi masuk surga. Yang masuk surga ialah yang mengetahui kebenaran hukum dan mengadili dengan hukum tersebut. Bila seorang hakim mengetahui yang haq tapi tidak mengadili dengan hukum tersebut, bahkan bertindak zalim dalam memutuskan perkara, maka dia masuk neraka. Yang segolongan lagi hakim yang bodoh, yang tidak mengetahui yang haq dan memutuskan perkara berdasarkan kebodohannya, maka dia juga masuk neraka. (HR. Abu Dawud dan Ath-Thahawi).

Betapa berat pertanggugjawaban seorang hakim di akhirat kelak, karena itu janganlah para hakim (dan jaksa) mempermainkan hukum. Siksa Allah menunggu para hakim yang bisa dibeli.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | 3 Komentar

Berkunjung ke Kota Mataram di Pulau Lombok (Bagian 3): Ayam Taliwang, Pelecing Kangkung, dan Sate Bulayak

Ini tulisan terakhir dari seri tulisan jalan-jalan di Mataram. Tulisan pertama dan kedua sudah saya tampilkan beberapa waktu yang lalu. Tulisan ketiga ini menceritakan pengalaman saya menikmati kuliner di Mataram.

Berkunjung ke Pulau Lombok makanan apa yang teringat di dalam kepala? Tentu saja ayam taliwang dan pelecing kangkung. Ayam taliwang adalah masakan asli dari Lombok. Masakan ayam taliwang dapat kita temui dengan mudah di seluruh kota Mataram. Ayam taliwang dijual di restoran, kedai, hingga warung kaki lima.

Kedai ayam taliwang di Jalan Garuda.

Kedai ayam taliwang di Jalan Garuda.

Ayam taliwang adalah ayam kampung berusia muda yang dimasak secara utuh (tanpa dipotong-potong), bisa digoreng atau dibakar sesuai selera. Bila dibakar, maka bumbu-bumbunya adalah bumbu khas Taliwang.

Ayam taliwang sedang dibakar

Ayam taliwang sedang dibakar

Saya membeli seporsi ayam taliwang untuk dimakan di hotel. Satu porsi ayam taliwang terdiri dari satu ekor ayam goreng (atau bakar), pelecing kangkung, sambal pedas dan sambal manis, acar terung bulat, dan lalap ketimun. Hmmm… saya sudah tidak sabar lagi menikmati ayam taliwang sendiri di dalam kamar hote.

Seporsi ayam taliwang (sambal dan teman-temannya masih dibungkus plastik)

Seporsi ayam taliwang dan pelecing kangkung (sambal dan teman-temannya masih dibungkus plastik)

Nah, sambal, acar, pelecing kangkung, dan lalap mentimun sudah dibuka semua.

Nah, sambal, acar,dan sayuran sudah dibuka semua.

Mau?

Selain ayam taliwang, ada lagi makanan khas Lombok yang patut dicoba, yaitu sate bulayak. Sate ini terbuat dari daging ayam atau jeroannya, dan dimakan dengan bumbu yang gurih dan kental (dari santan?) Rasanya pedas dan maknyus. Sate bulayak dapat dimakan dengan lontong yang dibuat memanjang dan dibungkus dengan daun nyiur kelapa.

Sate bulayak dan lontong panjang

Sate bulayak dan lontong panjang

Pedagang sate bulayak dapat kita temui di kawasan kuliner di sepanjang jalan Cendana (jalan ke arah Bandara Selaparang, bandara lama).

Pedagang sate bulayak

Pedagang sate bulayak

Selamat menikmati kuliner di kota Mataram!

Dipublikasi di Cerita perjalanan, Makanan enak | 6 Komentar

Toilet di Hotel Berbintang yang Tidak Indonesiani (dan Islami)

Menginap di hotel adalah kegiatan yang sering saya lakukan ketika ada konferensi ilmiah (nasiona/internasional), diundang sebagai pembicara, atau sebagai pembimbing TA, atau ada tugas dari kantor, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Rata-rata hotel tempat saya menginap adalah hotel bintang 3 atau 4. Baru sekali saja saya menginap di hotel bintang lima. Alhamdulillah, semuanya dibiayai oleh kantor atau pengundang.

Setiap kali saya menginap di hotel, saya sering mengamati kondisi toiletnya. Ini penting bagi saya, sebab kondisi toilet menentukan cara bersuci setelah hadas kecil (pipis) atau hadas besar (BAB).

Yang memprihatinkan bagi saya adalah banyak pengembang hotel mengabaikan budaya orang Indonesia dalam pembangunan hotelnya. Saya memperhatikan beberapa hotel berbintang (terutama hotel bintang empat ke atas) tidak menyediakan selang semprot untuk bersuci setelah hadas. Alat pembersih yang tersedia di samping kloset duduk hanya tisu gulung, seperti pada foto toilet di sebuah hotel di bawah ini.

Kloset duduk tanpa selang semprot buat bersuci.

Kloset duduk tanpa selang semprot buat bersuci.

Membersihkan hadas dengan tisu adalah kebiasaan orang Barat, bukan budaya orang Indonesia. Coba perhatikan toilet di rumah orang Indonesia, hampir tidak pernah kita temukan tisu gulung untuk pembersih hadas. Untuk bersuci setelah hadas yang digunakan adalah air. Orang bule yang datang ke Indonesia mungkin terkaget-kaget kalau menemukan toilet di rumah orang Indonesia hanya menggunakan air untuk bersuci setelah BAB, apalagi bila mengetahui cara membersihkan BAB adalah dengan cara cebok pakai tangan kiri. Mungkin mereka tidak pernah membersihkan hajat dengan teknik cebok itu, ha..ha..ha, mungkin terkesan jorok kali.

Khusus bagi umat Islam, pembersih yang disunnahkan setelah hadas adalah air (baca tulisan ini), hanya pada saat darurat ketika tidak ada air sajalah maka dibolehkan bersuci dengan kertas (tisu), daun, batu, dan sebagainya (baca ini: bersuci dengan batu, tisu, dsb).

Ketika menginap di hotel-hotel berbintang yang tidak menyediakan selang semprot air di samping kloset duduk –hanya ada tisu gulung– maka mau tidak mau kita harus sedikit “kreatif” setelah hadas, misalnya bersuci dengan air yang diambil pakai gelas kaca yang tersedia untuk gosok gigi atau kumur-kumur, atau menggunakan air dari kran atau shower yang terdapat di atas bathub seperti foto di bawah ini. Dari kloset kita harus mengangsur kaki sedikit ke arah kran atau shower tersebut untuk bersuci. Jorok ya, tetapi mau gimana lagi, begitulah kondisinya, jadi terpaksa harus kreatif.

Bathub dengan kran dan shower

Bathub dengan kran dan shower

Di luar negeri (bukan negara-negara berpenduduk muslim), kita menemukan kondisi toilet dengan pembersih hanya tisu gulung seperti foto di atas. Tidak hanya di negara-negara Barat, bahkan di negara di Asia pun kondisinya sama. Ketika saya berkunjung ke Korea tahun lalu, kondisi toiletnya juga sama, hanya ada pembersih hadas dengan tisu gulung, dan hal ini tidak hanya di hotel, tetapi juga di toilet umum, toilet di restoran, toilet di kampus, dan sebagainya.

Makanya saya heran dengan pengembang hotel di Indonesia, apakah mereka membangun hotelnya hanya untuk tamu orang asing saja? Faktanya mayoritas tamu hotel adalah orang Indonesia sendiri, bangsa kita sendiri, yang tidak punya budaya membersihkan hadas dengan tisu gulung. Apalagi dengan penduduk mayoritas bergama Islam, maka seharusnya pengembang hotel memperhatikan kebutuhan umat Islam bersuci dengan air.

Jalan tengahnya adalah menyediakan dua alternatif untuk bersuci, tidak hanya menyediakan tisu gulung, tetapi juga menyediakan selang semprot di samping kloset seperti foto di bawah ini.

Kloset duduk dengan tisu gulung an selang semprot air (Sumber foto: http://muhammadrefa.wordpress.com/2012/01/28/mari-bermain-ke-wc-sma-negeri-12-bandung/)

Kloset duduk dengan tisu gulung an selang semprot air (Sumber foto: http://muhammadrefa.wordpress.com/2012/01/28/mari-bermain-ke-wc-sma-negeri-12-bandung/)

Beberapa hotel yang saya kunjungi menyediakan sekaligus tisu gulung dan selang semprot di samping kloset. Jadi, mau pakai cara apa untuk membersihkan hadas, silakan pilih cara mana yang suka.

Dipublikasi di Agama, Indonesiaku | 7 Komentar

Termasuk Gratifikasikah Ini?

Di milis dosen ITB beberapa waktu lalu pernah ramai diskusi tentang gratifikasi. Jadi ceritanya ada surat edaran dari Ketua KPK, Pak Abraham Samad, tentang larangan menerima gratifikasi. Gratifikasi secara sederhana adalah pemberian (berupa uang, barang, atau fasilitas) terkait dengan tugas dan wewenang seseorang, yang mungkin dapat mempengaruhi orang tersebut dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan si pemberi gratifikasi tersebut (waduh, definisinya masih rekursif). Gratifikasi tergolong dalam bentuk suap, dan perbuatan suap itu termasuk tindak pidana korupsi.

Setelah membaca surat himbauan KPK tersebut, saya jadi mikir-mikir sendiri. Wah, jangan-jangan selama ini saya telah menerima gratifikasi nih dari mahasiswa kami, he..he..he. Lha, kami para dosen sering tuh menerima pemberian dari mahasiswa. Misalnya mereka baru pulang dari kampung halaman sehabis lebaran atau libur panjang, lalu datang ke ruangan dosen membawa oleh-oleh. Ini Pak/Bu, sedikit oleh-oleh dari kampung. Mau ditolak, takut menyinggung perasaan sang mahasiswa, kalau diterima takut dituduh korupsi, serba salah kami jadinya, hi..hi..hi.

Namun, umumnya pemberian oleh-oleh tersebut kami terima juga dengan senang hati. Kami percaya ketulusan hati mahasiswa, mereka memberi oleh-oleh tidak bermaksud menyogok atau menyuap. Ini murni bentuk budaya orang Indonesia yang suka membawa oleh-oleh setelah pulang dari suatu tempat. Apakah oleh-oleh makanan itu kami laporkan ke KPK untuk dikembalikan? Mungkin setiba di KPK oleh-oleh makanan tersebut sudah basi kali.

Saya tidak percaya mahasiswa yang memberi oleh-oleh makanan tersebut bermaksud melakukan gratifikasi. Meskipun mahasiswa yang memberi makanan adalah mahasiswa bimbingan TA atau mahasiswa wali sekalipun, namun saya bisa membaca maksud hati dia tidak bermaksud melakukan suap. Mungkin ceritanya akan lain jika oleh-oleh yang diberikannya itu berupa barang bermerek atau barang berharga seperti ponsel, laptop, atau mobil (wah!). Nah, kalau hadiah seperti ini patut dicurigai, pasti ada udang dibalik bakwan. Jadi semua berpulang kepada hati nurani saja, ketulusan hati seseorang dapat kita ketahui apakah niatnya memberi untuk menyuap atau memang memberi sebagai bentuk keramahan.

Masih terkait dengan hadiah, ada cerita menarik lainnya. Mahasiswa bimbingan TA kami sering memberi hadiah kenang-kenangan setelah mereka selesai diwisuda. Mereka mengatakan ada titipan dari orangtua mereka sebagai tanda terima kasih telah membimbing putra/puteri mereka. Kenang-kenangan itu, selain berupa kue, kebanyakan berupa baju batik, baju koko (untuk shalat), dasi, ikat pinggang, dan sebagainya. Nah yang ini sukar ditolak, sebab merupakan amanat dari orangtua mereka. Orang Indonesia pada dasarnya tahu berterima kasih, mereka mewujudkan tanda terima kasih pada seseorang dalam bentuk pemberian kenang-kenangan. “Untung” saja (kalau dibilang untung) mereka memberikannya setelah proses TA selesai, tentu tidak ada pengaruhnya lagi terhadap nilai TA mereka. Kalau hadiah-hadiah tersebut diberikan selama proses bimbingan TA jelas akan saya tolak, dan untungnya lagi mahasiswa kami memang tidak pernah melakukannya.

Bicara mengenai bimbingan TA tersebut, saya teringat cerita teman yang menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi di luar Jawa (tidak perlu saya sebut nama PT nya, negeri atau swasta). Di PT tersebut ada budaya yang sudah mengakar turun temurun dan sudah menjadi cerita dari mulut ke mulut mahasiswa, yaitu tentang budaya gratifikasi. Oknum dosen di sana sering meminta syarat mahasiswa membawa oleh-oleh berupa barang atau makanan kalau melakukan bimbingan skripsi. Bimbingan skripsi sering dilakukan di rumah dosen. Sang dosen bahkan menentukan jenis barang apa yang dibawa, misalnya susu, biskuit, pizza, minuman, dan lain-lain, bahkan amplop berisi uang. Kalau mahasiswa tidak membawa oleh-oleh, pintu rumah dosen tidak akan dibuka. Karena sudah menjadi budaya, maka mahasiswa memenuhi permintaan dosen tersebut tanpa protes. Jelas saja mereka tidak mau protes, kalau protes atau merasa keberatan bisa-bisa urusan skripsinya akan panjang ceritanya, bahkan bisa-bisa tidak lulus karena mahasiswa tidak memenuhi permintaan dosen. Ya, di sebagian daerah dosen itu ditakuti mahasiswanya karena dosen punya kuasa mutlak untuk meluluskan atau tidak meluluskan mahasiswa.

Teman saya melanjutkan ceritanya, membawa oleh-oleh ke rumah dosen sudah menjadi budaya masif di sana. Memang tidak semua dosen melakukan perbuatan tidak pantas tersebut, ada juga satu dua orang dosen yang menolak melakukannya, tetapi yang menolak itu justru dianggap aneh. Lha, sudah menjadi budaya, maka kalau lain sendiri malah dianggap aneh. Mungkin lama-lama yang menolak itu akhirnya terseret arus dan ikut pula melakukannya.

Tidak hanya berkaitan dengan oleh-oleh, kata teman saya, tetapi ada juga transaksi gratifikasi yang berhubungan dengan mata kuliah. Mahasiswa ingin dapat nilai apa, dosen bisa menentukan nilai mata kuliah asalkan mahasiswa membayar sejumlah uang. Bahkan, bila mahasiswa jarang masuk kuliah, tidak ikut ujian, atau tidak membuat tugas, dia tetap bisa lulus dengan nilai ajaib karena sudah memenuhi keinginan sang dosen yang meminta uang sejumlah tetentu.

Saya percaya dan yakin di tempat kami di ITB tidak ada dosen-dosen yang melakukan perbuatan meminta-minta kepada mahasiswa. Saya pribadi tidak membolehkan mahasiswa melakukan bimbingan TA di rumah. Semua urusan terkait akademis harus diselesaikan di kampus. Untungnya juga mahasiswa tidak pernah datang ke rumah saya, kecuali yang mengantarkan undangan pernikahannya beberapa tahun setelah mereka lulus.

Saya mendukung surat himbauan Ketua KPK tersebut. Intinya mengingatkan kita, khususnya yang berkarir dalam bidang akademis, untuk tidak terjebak dalam pemberian gratifikasi dari anak didik.

Dipublikasi di Indonesiaku, Pendidikan | 5 Komentar

Bajigur dan Kacang Rebus Aki Jupri

Hampir setiap hari di depan rumah saya lewat pedagang bajigur yang sudah aki-aki (bahasa Sunda, artinya kakek-kakek). Sambil mendorong gerobak kecilnya dia meneriakkan dagangannya, bajiguuurrr….bandreeekkk… kacang rebuuuus…. Terdorong karena rasa iba saya pun memanggilnya, sekalian ingin membeli dagangannya itu.

Gerobak bajigur dan bandrek Aki Jupri

Gerobak bajigur dan bandrek Aki Jupri

Pak Jupri namanya, tapi karena sudah aki-aki saya memanggilnya aki Jupri saja. Dia pedagang keliling di kawasan Antapani. Setiap pagi dia menjajakan dagangannya, tidak hanya bajigur dan bandrek, tetapi juga jajanan sehat lain yang serba rebus atau kukus, seperti ketimus, lepet pisang, singkong rebus, pisang rebus, dan kacang rebus.

Aki Jupri dan dagangannya.

Aki Jupri dan dagangannya.

Ketimus, lepet pisang, kacang rebus, pisang rebus, singkong rebus, semua ada di dalam gerobak bajigur aki Jupri

Ketimus, lepet pisang, kacang rebus, pisang rebus, singkong rebus, semua ada di dalam gerobak bajigur aki Jupri

Semua jajanan itu harganya murah meriah, hanya seribu rupiah per buah, sedangkan bajigur atau bandrek dua ribu rupiah per gelas besar. Hmm… rasa bajigurnya enak sekali. FYI, bajigur adalah minuman khas Bandung, terbuat dari campuran santan dan gula merah ditambah daun pandan. Rasanya yang manis lebih enak diminum dalam keadaan panas panas. Lebih enak lagi minum bajigur sambil ditemani makan jajanan tadi, seperti singkong, kacang rebus, dan lepet. Sedangkan bandrek adalah minuman hangat rasa jahe, terbuat dari air gula merah ditambah jahe dan ramuan lainnya. Bandrek lebih nikmat diminum pada hari dingin atau malam hari untuk menghangatkan badan.

Saya membeli dagangan aki Jupri cukup banyak dengan niat melariskan dagangannya. Ketimus, kacang rebus, singkong, lepet, dan segelas besar bajigur saya borong. Kalau pun tidak akan habis sendiri, pembantu di rumah bisa menghabiskan :-).

Aki Jupri sedang mengambilkan segelas bajigur

Aki Jupri sedang mengambilkan segelas bajigur

Ini jajanan aki Jupri yang saya beli

Ini jajanan aki Jupri yang saya beli

Tahukah anda, pedagang bajigur seperti aki Jupri ini masih banyak berjualan di Bandung. Mereka umumnya sudah tua-tua seperti aki Jupri. Gerobak dorongnya sangat khas, ya seukuran seperti pada gambar di atas. Mereka berdagang pada pagi hari atau sore hingga malam hari. Meskipun saat ini jajanan modern dan serba instan menyerbu toko-toko dan warung-warung, namun penggemar jajanan tradisionil masih ada.

Saya bertanya kepada aki Jupri, berapa umurnya sekarang. Betapa kaget saya, aki Jupri umurnya ternyata sudah 81 tahun! Dia sudah mengalami tiga zaman, yaitu zaman Belanda, zaman Jepang, dan zaman kemerdekaan sekarang. Aki Jupri sudah berdagang bajigur selama 31 tahun, yaitu sejak tahun 1982. Semua dagangannya itu dikerjakannya sendiri, mulai dari membeli bahan di pasar, mengolahnya, merebusnya, hingga menjajakannya. Semua bahan yang dia olah adalah dari kualitas nomor satu. Gulanya dari gula kawung, singkongnya singkong madu, pisangnya juga dari pisang yang bagus. Meskipun begitu, dia tetap menjualnya murah, hanya seribu rupiah per butir.

Aki Jupri dengan latar belakang gerobaknya

Aki Jupri dengan latar belakang gerobaknya

Aki Jupri mempunyai banyak anak, cucunya saja sudah 17 orang. Salah seorang anak aki Jupri adalah lulusan ITB. Dengan anak-anak yang sudah mapan, sebenarnya aki Jupri bisa hidup tenang di rumah, sebab secara materi anak-anaknya sering mengirimkan uang. Kata aki, anak-anaknya sudah melarang aki untuk tidak berdagang lagi, kasihan, kata anak-anaknya, biar aki istirahat saja di rumah. Namun bagi aki Jupri, justru kalau duduk-duduk saja di rumah malah membuatnya sakit. Memang, orang kalau biasa bergerak lalu disuruh berhenti justru penyakit yang datang. Saya perhatikan badan aki Jupri terlihat sehat, mungkin hal ini karena efek berjalan kaki sambil mendorong gerobak yang dilakukannya setiap pagi. Memang yang terbaik buat aki adalah terus berjualan sampai dia sudah tidak mampu lagi berjalan.

Bagi aki Jupri, berjualan bajigur bukan lagi untuk mencari nafkah, tetapi untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap sehat. Sekarang saya jadi pelanggan aki Jupri. Mudah-mudahan aki Jupri selalu diberi kesehatan oleh Allah YMK, agar saya tetap bisa membeli bajigurnya seringkali.

Dipublikasi di Romantika kehidupan | 3 Komentar

Bawang Putih dan Bawang Merah Disebutkan Secara Eksplisit di dalam Al-Quran

Bumbu masak yang menjadi “hot topic” bulan ini adalah bawang merah dan bawang putih karena harganya yang melonjak luar biasa. Gara-gara kedua komoditas masak itu hebohlah masyarakat senegara. Fenomena ini mengingatkan kita beberapa tahun yang lalu ketika harga cabe meroket. Kenapa tidak, bawang merah dan bawang putih adalah pelengkap masak yang sangat penting. Saya rasa tidak ada masakan Indonesia maupun masakan asing yang tidak menggunakan bawang putih atau bawang merah. Tanpa bawang rasa masakan menjadi hambar tidak berselera. Begitu pentingnya keberadaan bawang bagi bangsa Indonesia, maka ketika harganya berlipat-lipat tidak seperti biasanya seperti sekarang, maka yang timbul adalah kehebohan nasional. Bayangkan harga sekilo bawang putih saat ini Rp80.000, sedangkan bawang merah lebih dari Rp40.000 (biasanya tidak sampai belasan ribu sekilo). Tidak hanya ibu-ibu yang mengeluh, tetapi para pedagang makanan seperti pengusaha rumah makan, pedagang bakso, pedagang nasi goreng, dan lain-lain ikut terkena dampak.

Saya tidak akan membicarakan tentang sebab musabab mahalnya harga bumbu dapur tersebut, tapi kali ini hubungan bawang dengan kitab suci. Percayakah anda bahwa bawang putih dan bawang merah ternyata disebutkan secara eksplisit di dalam kitab suci, yaitu Al-Quran. Selain disebutkan nama bawang, juga mentimun, dan kacang adas. Di dalam Al-Quran tidak banyak nama-nama tumbuhan yang disebutkan dengan jelas. Yang saya ingat adalah korma, gandum, bawang merah, bawang putih, mentimun, dan kacang adas. Ada yang lain?

Begini ceritanya penyebutan bawang putih dan bawang merah. Ketika itu Nabi Musa a.s membawa umatnya (bangsa Yahudi) keluar (eksodus) dari negeri Mesir menuju tanah yang dijanjikan. Rombongan itu terdiri dari kabilah-kabilah (suku-suku) yang sangat banyak jumlahnya. Namun umat Nabi Musa ini sangat cerewet kepada nabinya. Mereka selalu meminta Musa memohon kepada Tuhan agar diturunkan beraneka jenis makanan dari langit. Setelah bosan dengan makanan manna dan salwa, mereka lalu meminta lagi yang lain, seperti disebutkan di dalam Surat Al-Baqarah ayat 61:

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.” (Al-Quran, Surat Al-Baqarah ayat 61)

Nah, itulah yang saya maksud bahwa bawang putih dan bawang merah disebutkan secara jelas di dalam Al-Quran. Itu artinya umat manusia sejak zaman dulu pun sudah tergantung pada kedua bumbu ini. Jadi, ketika harga kedua bumbu dapur tersebut melejit sangat tinggi, wajarlah heboh senegara.

Dipublikasi di Gado-gado | 7 Komentar