Kisah Asep Kecil Penjaja Batu Ulekan

Tadi pagi, ketika sedang menunggu angkutan kota di dekat Gedung Sate, saya melihat seorang anak laki-laki kecil yang duduk di pinggir trotoar. Bocah itu, sebut saja namanya Asep, menjual dagangan berupa batu untuk ulekan sambel (Bhs Sunda: cobekan). Dagangan itu dibawa dengan pikulan yang disandang di bahu kanannya. Sejenak saya memperhatikan ada lima sampai enam buah batu ulekan lengkap dengan anak ulekannya,mulai dari yang kecil sampai yang agak besar. Saya membayangkan betapa beratnya semua dagangannya itu dipikul kemana-mana. Jika rata-rata sebuah batu ulekan beratnya 2 kg, maka berarti dia memikul dagangan seberat 10 sampai 12 kg. Alangkah beratnya untuk ukuran seorang bocah kecil seperti Asep ini.

Saya dekati Asep, lalu saya tanya darimana dia membawa dagangan batu elekan ini. Dia menjawab dari Padalarang. Katanya, ayahnya yang membuat batu ulekan ini, lalu dia bersama teman-temannya atau saudaranya yang menjajakan secara berkeliling di kota Bandung. Sehari paling laku sampai 2 buah batu ulekan. Keuntungannya tidak seberapa dibanding dengan jerih payahnya berkeliling kota menjajakan batu uleken yang berat itu. Saya tanya, kenapa tidak dijual di pasar saja? Dia menjawab, kalau di pasar sudah banyak kios yang menjual dagangan serupa.

Asep ternyata tidak sekolah lagi. Dia keluar dari sekolah dan membantu keluarganya mencari nafkah. Karena kasihan, saya beli satu buah ulekan yang harganya Rp20.000 (padahal di rumah saya sudah punya alat dapur semacam ini), lalu dibungkus oleh Asep dengan kantong keresek hitam. Dia terlihat gembira karena dagangannya sudah laku di pagi hari itu, lalu uang Rp20.000 itu diusap-usapkannya ke dagangannya. Sebagai penglaris, katanya (sebuah tahayul yang banyak diyakini para pedagang di tatar Parahyangan).

Saya tinggalkan Asep sambil meernung di atas angkutan kota Cicaheum – Ledeng. M asih banyak Asep-Asep semacam dia yang berhenti sekolah karena tidak punya biaya disebabkan miskin, lalu membantu orangtua mencari nafkah. Masa kecil yang seharusnya diisi dengan sekolah dan bermain ternyata tidak dapat dinikmati oleh mereka, berhubung urusan perut lebih penting dari lainnya. Masa depan Asep dan kawan-kawannya tidak ada yang bisa menjamin, karena pendidikannya terhenti di tengah jalan. Kita yang membaca dan menyaksikan kisah-kisah hidup semacam ini mungkin hanya bisa berucap “kasihan”, karena kita juga tidak punya tahu bagaimana memecahkan persoalan kemiskinan yang sangat kompleks di negeri ini. Semoga Allah SWT selalu melindungi anak-anak kecil semacam Asep ini.

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan, Seputar Bandung. Tandai permalink.

3 Balasan ke Kisah Asep Kecil Penjaja Batu Ulekan

  1. Ping balik: Eksploitasi Anak-anak Penjual Cobek « Catatanku

  2. jegur berkata:

    Negara harusnya fokus, serius d dalam melakukan penanganan orang tua miskin ini, kemiskinan sudah semakin merajalela tetapi pemerintah masih bermain di program-program yang jelimet dan bahkan mempersulit si miskin..penanganan si miskin itu kan jelas baik di perkotaan maupun pedesaan..misalnya gimana agar kota terbebas dari anak jalanan….ya tangani yang serius anak jalanan ini sampai tuntas..cari LSM/Perusahaan yang benar benar peduli dengan penanganan tersebut

  3. Ping balik: Anak Kecil Penjual Serbet dan Keset | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.