Sebidang Tanah Kosong di Depan Rumah

Di depan rumah saya di kompleks Antapani Bandung ada sebidang tanah kosong. Tanah itu adalah milik Perumnas. Karena tidak dimanfaatkan, maka warga di dekat rumah memanfaatkan tanah kosong tersebut. Ketua RT di sana juga tidak melarang, toh daripada menjadi sarang nyamuk dan daripada tanah menganggur, lebih baik dimanfaatkan. Kalau Perumnas nanti memanfaatkan tanah itu untuk kepentingannya, ya nggak apa-apa, wong bukan tanah milik warga, tetapi milik negara. Nah, ada warga yang membuat tempat parkir mobil di atas tanah kosong tersebut, ada yang membuat garasi mobil semi permanen, dan ada juga yang memanfaatkannya untuk berkebun. Saya termasuk jenis yang terakhir ini. Saya mengolah tanah di depan rumah menjadi kebun kecil. Beberapa jenis tanaman saya tanam di sana, antara lain singkong, cabe, pisang, pepaya, tomat, dan lain-lain. Semua tanaman yang saya tanam tumbuh subur. Beberapa bulan lagi singkong bisa dipanen, bahkan cabe rawit sudah banyak berbuah, lalu saya bagikan ke tetangga. Ada rencana saya mau menanam semangka dan melon. Tanah di sana memang subur dan gembur.

Sebenarnya yang mulai mengolah tanah kosong tersebut adalah Bapak mertua ketika ia berkunjung ke Bandung menengok cucu. Lalu, ketika Bapak pulang kembali ke Bukittinggi, saya lanjutkan mengolah kebun tadi. Disamping tanah kosong di depan rumah, rumah saya juga mempunyai halaman depan dan halaman belakang yang ditanami berbagai tanaman seperi bunga dan buah. Saya memang senang menaman kembang dan tanaman buah, mungkin karena sejak kecil saya memang senang dengan tanaman. Entah sudah berapa uang yang dikeluarkan untuk membeli bibit tanaman tersebut. Sekarang, ketika semua tanaman tumbuh, begitu sedap memandang semuanya. Semuanya tumbuh subur, mungkin pertanda Allah menurunkan rizki-Nya kepada kami.?

Saya pernah membaca bahwa bercocok tanam – entah itu bertani, berkebun, atau sekadar menanam bunga – dapat menimbulkan ketenteraman hidup dan kedamaian jiwa. Ternyata memang betul setelah saya praktekkan sendiri. Keringat bercucuran ketika menanam tumbuhan, membersihkan tanah dari rumput, lalu menyiramnya setiap hari. Semua tanaman tersebut ternyata tahu berterima kasih. Mereka menunjukkan rasa terima kasihnya dengan tumbuh subur, hijau dan berwarna-warni. Jika sudah demikian halnya, maka muncullah rasa damai di jiwa ini tatkala memandang semua tanaman tersebut. Setelah seharian berkutat di kampus menyelesaikan tugas-tugas, maka tanaman-tanaman itulah obat pelepas lelah dan pelipur lara. Mungkin begitu pula perasaan Pak tani kita ketika mereka memandang tanaman padi menghampar subur di sawah. Damai dan tentram jiwa raganya, terobat jerih payahnya memandang tanaman padi yang menghijau bak permadani.

Tak heran jika bercocok tanaman sering dijadikan terapi yang ampuh bagi orang-orang penderita stroke, sakit jantung, dan penyakit modern lainnya. Tekanan hidup di kota-kota besar menimbulkan stres, lalu datanglah penyakit stroke, jantung, dan sebagainya. Kalau kamu ingin tahu obatnya apa, jawabnya adalah kembalilah dekatkan diri kita ke alam, misalnya dengan berkebun tadi.?Daun-daun yang hijau, bunga-bunga yang berwarni warni, dan tanaman yang tumbuh subur akan menimbulkan ketenteraman hati.

Jika kelak kamu membeli rumah dan punya uang yang lebih dari cukup, belilah rumah yang punya halaman cukup luas. Jangan biarkan halaman rumahmu kosong. Sisihkan waktumu setiap hari dengan berkebun. Niscaya, kamu akan merasakan ketenteraman?yang telah dirasakan oleh Pak Tani dan saya sendiri.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.