Masyarakat Pemarah

Apa yang anda rasakan ketika membaca berita mengenaskan yang dimuat di sebuah koran online seperti yang saya kutip di bawah ini? Saya sendiri merinding membaca berita tersebut. Tiga pemuda yang belum tentu bersalah dihakimi massa, lalu dibakar. Entah bagaimana hancur perasaan ayah dan ibu kandung ketiga pemuda itu, yang mengandung dari bayi hingga membesarkan anak hingga remaja, lalu tiba-tiba masyarakat pemarah menghabisi anak-anak mereka dengan sangat keji. Bagaimana kalau 3 pemuda itu adalah anak-anak kita atau kerabat kita yang kebetulan lewat di kampung orang lalu tiba-tiba disoraki sebagai pencuri??

Inilah wajah masyarakat kita saat ini: masyarakat pemarah, yaitu masyarakat yang mudah marah, mudah tersulut emosi karena hasutan dan fitnah yang tidak jelas kebenarannya. Mereka melakukan “cara” mereka sendiri untuk menyelesaikan masalah. Masyarakat kita sudah tidak percaya lagi dengan hukum, sehingga mereka sendirilah yang memberi hukuman pada seseorang tanpa perlu melalui peradilan.

~~~~~~~~
3 Pemuda Tewas Dibakar
(Dikutip dari http://www.kompas.co.id/metro/news/0601/13/091128.htm)

Tiga pemuda yang tengah bertamu ke rumah temannya dikeroyok massa hingga pingsan, kemudian dibakar sampai hangus. Para pemuda itu dituduh telah mencuri sepeda motor, namun mereka membantahnya.Wajah ketiga pemuda yang gosong sulit dikenali lagi. Polisi mengetahui jati diri mereka dari tanda pengenal yang hanya terbakar sebagian. Ketiga korban aksi main hakim sendiri tersebut adalah Dedi alias Kopral (31) serta kakak beradik Udin bin Jamali (28) dan Rakit bin Jamali (12).

Mereka dibakar Rabu (11/1) sekitar pukul 20.00, di sebuah lahan kosong di tengah hutan yang masuk wilayah Kampung Cibereum, Desa Cikandondong, Cikeusik, Pandeglang, Banten. Ketiganya dibakar bersama sebuah sepeda motor yang mereka kendarai. Pelaku pembakaran adalah puluhan warga Kampung Murui, Desa Cikadondong, Cikeusik, Pendeglang.

Dalam peristiwa ini, Polres Pandeglang menangkap 34 orang. Kemarin, 11 orang resmi dinyatakan sebagai tersangka, termasuk Cecep yang kehilangan sepeda motor. Sisanya masih diperiksa sebagai saksi. Polisi juga masih mengejar 15 orang lainnya yang ikut menyiksa dan memukuli tiga pemuda asal Desa Malimping dan Muncang, Lebak, tersebut.

Aksi main hakim sendiri itu berawal ketika Yani, salah seorang teman Cecep, melihat sepeda motor Honda Legenda yang mirip dengan milik Cecep yang hilang sepekan silam. Motor itu berada di halaman rumah Marda di Kampung Panyeredan, Desa Kertahardja, Banjarsari, Lebak.

Sebenarnya Yani hanya melihat motor itu sekilas saja saat ia dalam perjalanan melalui wilayah pesisir selatan Malimping. Namun ia mengaku cukup yakin bahwa yang dilihatnya saat itu adalah sepeda motor milik Cecep. Ketika itu, Dedi, Udin, Rakit, dan dua teman lainnya, sedang berkunjung ke rumah Marda. Mereka datang menggunakan sepeda motor Honda Legenda dan Yamaha RX King.

Petang itu juga, Yani menemui Cecep. Ia menyatakan melihat sepeda motor milik temannya tersebut berada di halaman rumah Marda. Awalnya, Cecep tidak terlalu yakin, tetapi Yani terus berusaha meyakinkan.

Rupanya, Yani dibakar rasa marah. Sebab, sebelumnya sudah dua kali terjadi pencurian sepeda motor di kampungnya. Atas pengaruh Yani, Cecep yang semula ragu berubah menjadi percaya. Lalu, keduanya bersama beberapa teman lainnya sepakat mendatangi rumah Marda malam itu juga.

Rencana para pemuda itu diketahui warga kampung lain. Ternyata warga kampung itu memendam rasa marah pula karena ada warga kampung tersebut yang juga kehilangan sepeda motor beberapa waktu lalu. Maka, selepas magrib itu, puluhan orang berbondong-bondong menggunakan mobil bak terbuka mendatangi tempat tinggal Marda.

Bawa senjata

Bak pasukan yang hendak menyerbu benteng pertahanan lawan, massa juga mempersiapkan diri. Mereka menggenggam berbagai senjata, sabit, batu, hingga kayu. Rupanya, mereka khawatir dan bersiap-siap jika warga kampung tempat tinggal Marda memberikan perlawanan.

Kurang dari satu jam, rombongan itu tiba di depan rumah Marda yang letaknya tidak jauh dari Jalan Raya Malimping. Setibanya di sana, tidak semua orang masuk ke rumah. Hanya sebagian yang masuk, termasuk Yani dan Cecep.

Dengan memasang tampang seram, mereka segera menuding lima tamu Marda sebagai pencuri sepeda motor milik Cecep. Apalagi, mereka tidak dapat menunjukkan surat-surat kendaraan. Namun, Cecep saat itu justru bingung karena Honda Legenda yang diparkir di halaman rumah Marda tidak terlalu mirip dengan miliknya yang hilang.

Hanya saja, massa keburu marah dan mengepung rumah Marda. Sempat terjadi perang urat syaraf sebelum massa menjadi beringas. Karena merasa tidak puas, mereka kemudian menyeret lima tamu Marda keluar rumah, sedangkan Marda menyingkir ke belakang rumah untuk meminta bantuan warga kampungnya.

Sayang, upaya Marda terlambat. Lima pemuda yang bertandang ke rumahnya itu sudah keburu dihakimi di halaman. Hanya saja, dua pemuda dapat meloloskan diri dan kabur menggunakan sepeda motor Honda Legenda yang diparkir tidak jauh dari pagar.

Dua pemuda yang belum diketahui namanya itu lolos karena saat hendak dikeroyok, mereka mengelak. Mereka memanfaatkan situasi saat warga yang lain sibuk menginterogasi sambil memukuli Dedi, Udin, dan Rakit. Tidak lama kemudian, tiga orang ini digelandang masuk ke dalam mobil bak terbuka, lalu dibawa pergi. Sedangkan sepeda motor Yamaha RX King milik mereka dikendarai oleh salah seorang warga.

Beberapa belas kilometer kemudian, sebelum sampai Kampung Murui, mobil itu masuk ke areal hutan di Kampung Cibereum. Mobil berhenti lalu tiga pemuda yang dituduh mencuri itu kembali menjadi bulan-bulanan warga yang marah.

Jerit kesakitan yang diringi permintaan minta ampun ketiga pemuda tak digubris oleh massa yang membabi-buta melayangkan pukulan. Akhirnya, tiga orang itu tidak sadarkan diri. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan amarah massa. Belum jelas atas ide siapa, tiba-tiba saja tubuh Dedi, Udin dan Rakit mereka tumpuk bersama sepeda motor Yamaha RX King. Sejenak kemudian ada yang menyiramkan bensin. Setelah disulut api, tubuh Dedi, Udin, dan Rakit, hangus jadi arang.

Anggota Polsek Cikeusik dan Polres Pandeglang yang datang ke lokasi atas laporan warga kampung, sempat kebingungan saat melakukan identifikasi. Akhirnya mereka bisa memperoleh nama korban dari tanda pengenal yang hanya terbakar sebagian.

Sampai kemarin petang, jasad Dedi, Udin, dan Rakit, masih disimpan di Polsek Cikeusik. Polisi masih menyelidiki kasus ini sekaligus mencari keluarga ketiganya.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

3 Balasan ke Masyarakat Pemarah

  1. Citra Indah berkata:

    Astafirullah , hukum memang harus dilakukan , tapi harus dilakukkan dengan pihak yang berwajib dan adil , semoga kita semua dapat menghadapi masalah denngan kepala dingin dan hati yang tentram 🙂

  2. Ping balik: Masyarakat Pemarah (2) | Catatanku

  3. Ping balik: Masyarakat Pemarah (2) | Iklan Gratis Target Pegawai Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s