Mencari Kehidupan di tengah Kegelapan

Paling sedikit satu kali dalam sebulan saya selalu mendatangi panti pijat tuna netra “Wiyata Guna” di jalan Pajajaran, Bandung. Ini adalah panti pijat yang berada di bawah Departemen Sosial. Pokoknya kalau badan saya sudah terasa egal-pegal, saya pergi ke sana untuk dipijat oleh pemijat tuna netra. Setelah dipijat badan terasa segar dan lebih bersemangat. Apalagi saya jarang melakukan olahraga, sehingga untuk memperlancar peredaran darah saya pergi ke panti ini.

Saya merasa lebih nyaman kalau dipijat oleh tuna netra, disamping bisa membantu mereka dengan penghasilan dari memijat, juga secara islami saya merasa cocok karena mereka tidak bisa melihat aurat kita kala dipijat (aurat laki-laki adalah dari pusar hingga mata lutut). Pria dipijat oleh pemijat pria, sementara wanita dipijat oleh pemijat wanita juga. Jadi, kita terhindar dari hal-hal maksiat. Pemijat tuna netra ini adalah lulusan sekolah pijat yang dibina oleh Depsos. Teknik pijatannya bagus dan terampil, mereka tahu simpul-simpul saraf yang mesti dipijat, seberapa tekanan tangan yang diperlukan, dan sebagainya, tentu saja mereka tahu hal semacam ini karena mereka juga belajar anatomi manusia.

Bagi kalangan tuna netra, masa depan mungkin terlihat begitu suram. Tapi kalau mereka punya keahlian, mereka mampu untuk bertahan hidup. Banyak orang tuna netra yang berprofesi sebagai pemijat. Di Wiyata Guna ini contohnya. Sambil dipijat, saya sering menanyakan kehidupan mereka. Sungguh saya kagum dengan semangat hidup mereka. Dengan tertatih-tatih, mereka berjuang mencari nafkah dengan cara halal, pantang bagi mereka untuk mengemis. Satu jam pijat di sana tarifnya Rp 18.000, 60% adalah hak mereka, sementara 40% disetor ke panti. Jika sehari mereka memijat 2 sampai 3 orang, maka setidaknya sebulan mereka punya penghasilan mencapai satu juta lebih. Kadang-kadang mereka juga menerima panggilan pijat di rumah atau di hotel yang tarifnya tentu lebih besar. Tidak jarang di rumah kontrakan mereka juga melayani jasa pijat. Ya, kebanyakan pemijat di Wiayata Guna hidup mengontrak kamar atau rumah di sekitar jalan Pajajaran. Bahkan mereka juga membawa istri dan anak-anak mereka dari kampung asal. Istri mereka umumnya tuna netra juga, tetapi anak-anak mereka normal.

Kebanyakan mereka buta karena mendapat sakit panas waktu kecil. Jadi, sebelumnya mereka sudah pernah melihat isi dunia ini, tapi karena demam tinggi dan tidak punya uang untuk berobat, maka matalah yang terkena efeknya. Kaum tuna netra ini punya indera keenam yang lebih tajam daripada manusia normal. Mereka bisa berjalan jauh karena dituntun oleh perasaan mereka. Ada pemijat yang berasal dari Jambi. Ia bercerita pernah naik pesawat dari Jakarta ke Jambi untuk melihat anaknya. Bayangkan jalan yang harus ia tempuh, mulai dari rumah kontrakan, lalu ke terminal bus, kemudian ke bandara. Berikutnya naik pesawat, kemudian naik bus ke daerah pedalaman Jambi, lalu kembali lagi ke Bandung. Tentu saja banyak orang yang bersimpati kepada kaum tuna netra ini dengan cara membantu mereka menunjukkan arah jika berjalan jauh.

Allah SWT memang Maha Adil. Meski mereka diberi kekurangan, tapi Allah juga tidak membiarkan ummat-Nya hidup menderita. Asal bekerja halal dan mau bekerja keras, maka setiap orang, siapapun ia, dapat hidup dengan layak. Jika kita yang berpenglihatan normal saja masih suka berkeluh kesah dalam mencari kehidupan, mereka kaum tuna netra tetap tabah menjalani hidup dengan keterbatasan yang mereka miliki.

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

3 Balasan ke Mencari Kehidupan di tengah Kegelapan

  1. mahasiswa berkata:

    Assalaamualaikum ..

    Pak Rinaldi Munir,

    saya sering lihat nama anda di buku2 komputer di Palasari,
    apakah Bapak dulu pernah mengajar di sebuah kampus di Dayeuhkolot ?

    Saya ingin menyatakan apresisasi saya atas kepekaan Bapak
    yang Bapak tuliskan di blog ini,
    tentang hal-hal yang mungkin tampaknya remeh temeh, seperti kehidupan orang kecil,
    situasi kota bandung, kehidupan kampus dsb ..
    di sela-sela kesibukan Bapak yang pasti luar biasa ..

    Semoga semakin banyak intelektual lain yang seperti Bapak,
    sehingga negeri kita mempunyai banyak intelektual
    yang punya kepekaan dan kepedulian
    pada lingkungannya..

    Apalagi Bapak adalah pengajar dan pendidik,
    semoga Bapak bisa menularkan hal-hal seperti itu
    pada mahasiswa Bapak, di tengah kehidupan yang semakin
    materialis dan hedonis ini

    Terima kasih,
    selamat bertugas..

  2. rinaldimunir berkata:

    @mahahsiswa: memang benar saya yang menulis buku-buku yang anda maksudkan. Juga enar kalau saya pernah mengajar di STT Telkom kampus Dayeuhkolot.

    Terima kasih atas apresiasinya. Tulisan saay di blog ini hanyalah hal kecil yang bisa saya sumbangkan untuk negara ini.

  3. Ping balik: Keinginan Setelah Pandemi Corona | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.