Mengapa Harus Yogya?

Minggu lalu, 17 Juni 2006, saya sempat ke Yogyakarta untuk mempresentasikan makalah di seminar yang diadakan oleh Universitas Islam Indonesia di sana (lihat website seminar di http://snati.informatika.web.id). Panitia seminar hampir saja gamang untuk memutuskan apakah seminar tersebut diteruskan, ditunda, atau dibatalkan. Wajar saja, musibah gempa pada tanggal 27 Mei 2006 yang lalu masih menyisakan trauma bagi warga Yogyakarta, maupun pengunjung kota Yogyakarta (catat lho: “Yogya”, bukan “Jogja” ataupun “Djogdja”).

Sayang sekali saya tidak sempat melihat kondisi Kabupaten Bantul yang merupakan daerah paling parah dilanda gempa dan dengan korban tewas paling banyak. Saya hanya sempat melihat kerusakan beberapa rumah dan gedung di dalam kota Yogyakarta. Sempat juga dari jauh saya melihat lelehan lava yang keluar dari puncak gunung Merapi.

Secara umum, situasi di kota Yogyakarta saat ini terlihat hidup kembali. Jalan-jalan tampak ramai, begitu juga kawasan Malioboro yang malam itu saya kunjungi (sambil menunggu KA Lodaya berangkat) tampak sangat ramai, seolah-olah tidak ada kejadian besar yang telah melanda kota ini. Tampaknya warga kota sudah mulai melupakan trauma kejadian gempa hebat tersebut dengan beraktivitas secara normal.

Belum usai kesedihan karena gempa bumi, kawasan Yogyakarta dan dan Jawa Tengah menghadapi bencana alam baru, yaitu letusan gunung Merapi. Sampai saat ini aktivitas Gunung merapi tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan, malah semakin lama semakin membahayakan. Lava dan awan panas keluar setiap waktu. Tidak ada kepastian kapan aktivitas Merapi ini berhenti. Jika di selatan Yogya dilanda gempa, maka di utara dilanda letusan Merapi.

Sebagai orang yang beriman tentu kita berpikir bahwa bencana alam ini mungkin saja ujian dari Tuhan atau mungkin juga azab karena manusia sudah banyak yang kufur terhadap nikmat Allah. Kemaksiatan mudah ditemukan di mana-mana, batas antara yang halal dan haram semakin kabur. Kitab suci Alquran menyatakan bahwa musibah yang menimpa manusia disebabkan oleh dosa-dosa manusia. Banyak bukti di dalam kitab suci yang menyatakan hal tersebut, misanya Kota Sodom, kota tempat diutusnya Nabi Luth a.s, dibalikkan oleh Allah SWT karena penduduknya melakukan homoseksual. Begitu juga kaum Nabi Nuh a.s dilanda banjir bah besar karena kaumnya durhaka kepada Allah SWT. Pertanyaan yang masih menggelayut di benak sebagian orang adalah: mengapa harus Yogya? Mengapa bukan Jakarta? Padahal kemaksiatan, korupsi, dan kejahatan lainnya paling banyak terjadi di Jakarta. Tentu hal ini merupakan rahasia Allah SWT. Kita hanya bisa menduga-duga saja kesalahan apa yang dilakukan oleh manusia sehingga Allah SWT mengirimkan musibah alam kepada kita.

Mungkin saja di Yogyakarta tidak terlalu banyak terdapat kemaksiatan, tetapi yang paling anyak adalah kegiatan yang mempersekutukan Allah SWT. Dengan kata lain kegiatan syirik, seperti larungan sesaji di laut selatan untuk Nyai Roro Kidul, labuhan sesaji ke kawah Gunung Merapi, kepercayaan kepada benda-benda seperti keris, gamelan, pakaian raja, dan sebagainya. Begitu juga budaya kraton yang banyak mengandung unsur sinkretisme. Pada gempa 27 Mei yang lalu, keraton Yogya rusak, termasuk makam Imogiri yang dikeramatkan, dan benda-benda pusaka yang selama ini disembah tidak menunjukkan kesaktiannya, sama saja seperti benda-benda lain yang rusak dan hancur dilanda gempa.

Sayangnya, ketika gempa dan gunung Merapi meletus, masih saja orang mengaitkannya dengan hal-hal tahayul yang berbau syirik. Misalnya menyatakan bahwa gempa disebabkan Nyi Roro Kidul marah karena perhatian semua orang waktu itu (sebelum gempa) hanya tertuju pada Gunung Merapi. Begitu juga ketika Gunung Merapi meletus, banyak orang yang lebih meyakini Mbah Maridjan ketimbang Tuhan. Nyatanya, gunung Merapi tetap saja mengeluarkan isi perutnya, tidak peduli penduduk memasang sarang yang terbuat dari daun kelapa di pintu-pintu rumah. Laharnya tanpa ampun menghantam desa tempat Mbah Maridjan berada.

Demikianlah, semoga kejadian-kejadian musibah yang menimpa kita menjadikan ibrah (pelajaran) buat kita. Bukti-bukti nyata dari bencana alam ini seharusnya membuat kita untuk lebih mendekatkan kepada Allah SWT, bukannya mempercayai hal-hal klenik dan tahayul yang justru menjurus kepada perbuatan syirik. Hanya kepada Allah lah kita bermohon dan berlindung, bukan melalui perantara benda-benda atau “makhluk” yang tidak jelas apakah ada atau tidak. Hanya kepada Allah SWT pula kita kembali.

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.