Eksploitasi Anak-anak Penjual Cobek

Masih ingat dengan tulisan saya tentang kisah Asep kecil penjual batu ulekan (cobek)? Kalau lupa atau belum baca, silakan baca kembali ini. Makin lama makin sering saya temukan anak-anak ini berlalu lalang di pusat-pusat kota Bandung menyandang pikulan berkilo-kilogram batu cobek. Saya mencium ada yang tidak beres dengan pemandangan ini.  Kenapa anak-anak? Kenapa bukan orang dewasa yang menjajakannya?

Akhirnya saya menemukan jawabannya. Melalui diskusi dengan seorang teman di dalam perjalanan, saya berkesimpulan anak-anak itu dieksploitasi oleh perajin batu cobek untuk menimbulkan rasa kasihan bagi orang-orang yang melihatnya. Ternyata ini taktik dagang. Bayangkan, seorang bocah berusia antara 6 sampai 10 tahun menyandang pikulan yang sangat berat, berjalan tertatih-tatih menawarkan batu cobek kepada setiap orang yang lewat. Hati siapa yang tidak akan tersentuh dan iba melihat anak-anak ini. Rasa kasihan dapat membuat orang merogoh kantong untuk membeli batu cobek yang di rumah tentu sudah ada.  Sebagaimana halnya rasa iba kepada pengemis atau orang-orang dhuafa menyentuh orang untuk bersedekah.

Bagaimana mengatasi kasus eksploitasi semacam ini? Sangat sulit. Hukum tidak bisa menjangkaunya karena apa yang dilakukan oleh orang dewasa dan anak-anak itu tidak melanggar hukum (Saya tidak tahu apakah Undang-undang Perlindungan Anak mencakup kasus semacam ini atau bukan.) Siapapun, termasuk anak-anak, boleh berdagang, bukan? Lagipula, ini bagaikan lingkaran setan yang tidak berujung.  Orang dewasa pembuat batu cobek membutuhkan tenaga kerja untuk pemasaran, sedangkan anak-anak yang menjadi tenaga kerja butuh uang untuk membantu orangtuanya.

Bagaimana solusiya ya? Ada yang tahu?

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

5 Balasan ke Eksploitasi Anak-anak Penjual Cobek

  1. Deby berkata:

    Selamat malam pak, saya sangat tertarik dengan masalah pekerja anak khususnya anak yang menjual cobek ini. saya kuliah di STKS Bandung, angkatan 2003 jurusan rehabilitasi sosial. alhamdulillah, tahun ini saya sudah bisa menyusun KIA (karya ilmiah akhir). saya lulus seleksi judul yang bertemakan tentang ” Kondisi Kehidupan Pekerja Anak yang Menjual Cobek di Kotamadya Bandung”. Awalnya saya hanya melihat anak- anak seperti asep karena rasa kasihan, tetapi dari situ saya berniat untuk lebih ingin tau tentang kehidupan sehari- hari mereka. Awal bulan maret kemarin, saya menghampiri anak- anak itu di jalan Riau. sungguh ironis, anak- anak yang semestinya masih dalam masa perkembangan, harus bekerja seperti itu. saya pun sedang mencari solusi, bila tidak merepotkan saya ingin lebih banyak tau tentang anak- anak ini dari bapak. Sebelum & sesudah Terima kasih

  2. logic berkata:

    pak Munir,
    saya kira hukum bisa dibuat untuk hal2 seperti ini bahkan dengan redaksi yang sangat sederhana sekalipun. Sebagai contoh, ada perusahaan pertambangan yang membuat aturan bahwa pekerjanya harus bisa mengangkat beban seberat misalnya 25kg, nah dapat juga dibuat hukum misalnya ‘dilarang menyuruh/memerintahkan anak kecil dibawah 12 tahun untuk mengangkat barang seberat 2kg’
    yang penting ada pemikir yang mau memulainya

  3. Leo berkata:

    Sangat menarik sekali saudara2 pembahasan ini..Eksploitasi tenaga kerja anak memang sangat banyak di Negeri ini. alasan karena untuk menunjang kehidupan berikut nya.
    saya rasa saudara-saudara sangat iba dengan lihat si Asep yang menjajakan batu colek itu..terrmasuk juga saya. tetapi di negeri ini sebenernya sudah ada ada pembatasan bahwa anak di bawah umur tidak boleh di Eksploitasi di jadikan tenaga kerja.
    * Titik Perhatian/Permasalahan Hukum Perlindungan Anak adalah :
    1. Hak anak dalam kebebasan Asasi anak
    2. Hak anak Penyandang Cacad
    3. Perdagangan anak
    4.Frostitusi anak
    5.Pornografi
    6. Eksploitasi tenaga Kerja Anak
    Tetapi didalam Hukum kita ada yang mengatur nya seperti :
    1. Bahwa anak adalah Subjek Hukum
    2. Bahwa Anak adalah Penerus Generasi Bangsa
    3.Bahwa anak adalah memerlukan bantuan orang yang sudah Dewasa dalam bentuk apapun.
    Dalam pasal 88 UU no 23 tahun 2002, jika terbukti melakukan eksploitasi ekonomi kepada anak, pelaku dapat diancam pidana penjara 10 tahun dan denda Rp200 juta. ini salah satu dasar hukum yang kuat bagi yang memperkerjakan anak di bawah umur.
    jika dalam kasus tersebut terbukti adanya proses perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan dan penerimaan anak untuk tujuan mengeksploitasi anak, maka pelaku melanggar pasal 2 UU No 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang.
    Hanya ini yang bisa saya sampaikan saudara2.
    Kalau ada kata yang salah saya ucapkan Maaf beribu2 maaf.
    Terima kasih

  4. baba berkata:

    semua permasalahan sudah ada payung hukumnya jangankan persoalan anak, persoalan tentang permsalahan calon bayi saja sudah diatur semua oleh undang-undang, sekarang tinggal bagaimana kita bisa mengimplementasikan undang-undang itu dilapangan terutama bagi bapak-bapak kita yang berwewenang dalam masalah itu dan dengan mempertimbangkan hal yang harus di pertimbangkan tidak asal memutuskan dan menetapkan siapa yang harus disalahkan saya rasa pemerintah sudah proaktif dalam menangani permasalahan yang ada ……sekian dan terimakasih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.