Kisah Burung Koak di Jalan Ganesha

Semua warga ITB pasti tahu ‘kenakalan’ burung koak yang bersarang di atas pohon-pohon di jalan Ganesha dan sekitarnya. Sudah hampir 2 tahun burung yang entah darimana datangnya (burung migran?) membuat ‘perkampungan’ di sepanjang jalan Ganesha. Mula-mula keberadaan burung ini ini tidak mengganggu karena jumlahnya sedikit. Tetapi makin lama jumlahnya makin banyak dan berkembang biak. Mereka membuat sarang di dahan-dahan yang tinggi. Nah, di sini masalahnya, burung-burun ini sering menjatuhkan ‘bom’ dari atas pohon. Orang-orang dan kendaraan yang lewat di bawahnya terkena ‘bom’ yang berwarna putih ini. Sedang asik jalan dengan santai di jalan Ganesha, tiba-tiba dari atas kejatuhan kotoran burung koak. Sudah banyak terdengar omelan orang-orang yang bajunya atau kendaraannya kena kotoran burung. 

Saya sendiri beberapa kali kejatuhan ‘bom’ burung koak. Sepatu kena, celana kena, motor pun kena. Anehnya, kotoran burung koak ini begitu lengketnya sehingga jika sudah kering susah dibersihkan meskipun beberapa kali dicuci.  Seorang teman memberi tips jika mengendrai motor di jalan Ganesha jangan pelan-pelan, tapi tarik gas cukup besar supaya cepat terhindar dari kejatuhan ‘bom’ burung koak.

Kotoran burung koak juga membuat dahan-dahan pohon tua di jalan Ganesha menjadi lapuk dan meranggas. Kotoran burung ini tampaknya menjadi racun bagi pohon-pohon itu. Selain itu, dahan-dahan pohon yang masih muda rusak diinjak burung koak yang badannya relatif besar (sebesar bebek muda). Tidak itu saja, sebagian jalan Ganesha pun menjadi putih seperti dicat karena seringnya kejatuhan kotoran putih ini.

Gawatnya, sekarang ini lagi musim flu burung. Beberapa orang dosen melaporkan melihat beberapa ekor burung koak yang mati di tengah jalan atau tersangkut di dahan. Matinya karena apa? Karena virus avian kah? Atau karena sakit yang lain? Tidak seorangpun yang tahu. Kita sekarang ini dibuat parno (baca: paranoid)  setiap kali melihat ada unggas mati.

Sudah banyak cara yang diusulkan orang untuk mengusir burung ini dari kawasan Ganesha. Ada yang mencoba menembaknya, tetapi cara ini dianggap sadis dan menuai protes. Ada yang mengusulkan pakai bunyi-bunyian supaya burung ini lari (apa mempan tuh?),  pakai predator alami seperti ular (nah, cara yang satu ini bisa bikin masalah baru, iya kalau ularnya makan burung koak, kalau yang digigit anak kecil yang lagi jalan di bawah gimana?), bahkan pakai gelombang ultrasonik (wah, ITB sekali ya?).

Tampaknya, belum ada cara apapun yang pernah dicoba untuk mengusir burung-burung ini. Tidak ada yang sanggup, karena burung-burung ini rumahnya sangat tinggi.  Mungkin kita perlu sabar menunggu sampai burung-burung itu bosan bersarang di jalan Ganesha lalu pergi beramai-ramai mencari sarang baru di tempat lain.

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

5 Balasan ke Kisah Burung Koak di Jalan Ganesha

  1. Biho berkata:

    wah bahaya eta flu burung!

  2. sandclow berkata:

    wah saya pernah melihat juga seekor koak mati di samping jalan menuju aula barat. semoga bukan karena flu burung…

  3. reiSHA berkata:

    Hehe… Seru juga cerita si burung koak. Kalau kena “bom”nya saja masih mending Pak. Katanya ada yang parah, sampai tertelan, mungkin lagi menatap langit dengan mulut terbuka :p.
    Iya tuh, harus segera diatasi masalah koak ini. Sangat mengganggu. Jalan Ganesha menjadi tidak nyaman, padahal itu wilayah depan kampus, ITB lagi.
    Masih mending mereka punya keinginan keluar dari wilayah Ganesha, nah, kalau sampai merambah bagian dalam Kampus ITB?
    Huaaa, jangan sampai…
    Memang kasian jalanan di bagian depan kampus. Jalan kaki di sana harus ekstra hati-hati. Di bawah ada “ranjau” dari kuda, di atas sewaktu-waktu ada serangan “bom” dari koak. Ck..ck..ck..

  4. Ahmad Bio Unpad berkata:

    tertarik menanggapi.kbetulan saya sedang TA kowak. tentang pohon meranggas, umumnya terjadi ketika memasuki musim pengeraman telur dan pengasuhan sehingga predator dari darat dapat teramati. jenis burung air umumnya lebih mengantisipasi pemangsa yang datang dari darat. makanya, salah satu strateginya adalah menempatkan sarang mendekati puncak pohon.
    nah, kalo yang mati umumnya kowak yg baru belajar terbang tapi blum bener atau juga pengaruh bunyi2 keras.sering dijumpai koak yg mati terutama pada musim hujan yang langsung jatuh ketika mendengar suara guntur. atau juga terhembus angin kencang.maap kalo jadi mirip pembahasan skripsi.he..he..

  5. Ping-balik: Kemana Burung Koak Malam Pergi? « Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s