Pagelaran UKM-ITB yang … rRuarr Biasa

Sabtu malam, 28 April, 2007,Unit Kesenian Minang ITB (UKM-ITB) mengadakan pagelaran seni dan budaya Minang dalam rangka dies-nya yang ke-32. Tempat pagelaran kali ini cukup wah, yaitu di Sabuga ITB, biasanya kan “cuma” di Aula Barat. Sabuga yang sering jadi tempat pertunjukan musik para artis ibukota maupun artis bule, malam itu berjodoh dengan “artis-artis” UKM ITB. Judul pagelaran seni kali ini adalah “Aso Palarai Ratok”, yang kalau di-Indonesiakan artinya kurang lebih “Harapan Pengobat Tangis”. Maklum Sumbar bebrapa bulan lalu dirundung bencana gempa bumi dan terbakarnya istana kerajaan Pagaruyung, istana kebanggaan urang awak. Namun cerita yang ditampilkan di pagelaran itu tidak ada kaitannya dengan musibah bencana alam. Cerita utama yang ditampilkan diangkat dari kisah klasik ranah Minang. Tidak menariklah untuk diceritakan di sini jalan ceritanya.

Sebagai “Bapak” UKM ITB (walah…walah, maksudnya Dosen Pembina UKM), tentu saya wajib hadir untuk memberikan kata sambutan. Okelah, saya datang dengan teman dari T.Sipil 85 dan si “kalene” alias anak saya yang selalu minta ikut kalau saya mau pergi kemana-mana. Memang tidak seluruh ruang pertunjukan utama Sabuga yang disewa UKM ITB, hanya sepertiga saja, tetapi ruang sebesar itu terisi penuh dengan penonton, belum lagi penonton yang duduk di barisan depan. Penonton yang datang tidak hanya mahasiswa ITB, tetapi juga mahasiswa “urang awak” dari PT lain di Bandung, termasuk para perantau Minang yang bekerja di Bandung. Ajang pegelaran semacam ini memang sering dijadikan acara temu teman-teman sesama “urang awak”. Tidak hanya mahasiswa Minang saja yang menonton, tetapi saya lihat beberapa mahasiswa saya orang Jawa dan Batak hadir juga di dalam. Entahlah apakah mereka mengerti dengan dialog para pmaian di panggung yang berceloteh dalam Bahasa Minang.

Pertunjukan kolosal yang terdiri dari randai, tari, dan musik talempong malam itu memang luar biasa. Para pemain begitu apik memainkan perannya. Gerak tari minang yang dinamis, pakaian penari dan pemain drama yang meriah dengan warna-warni, musik tradisionil yang mengikat emosi urang awak, semuanya berpadu menghasilkan pertunjukan yang patut diacungi jempol. Salah satu karakteristik pagelaran UKM ITB beberapa tahun terakhir ini adalah dimasukkannya unsur komedi di dalam cerita. Beberapa pemain yang memerankan “anak buah” raja tampil bergurau atau “maota” (ngobrol-ngobrol) dengan logat dan gaya bicara khas orang Minang. Strategi memasukkan komedi ini rupanya berhasil, para penonton dibuat terpingkal-pingkal dengan gurauan khas Minang (bahasa Sunda-nya” “heureuy”). Hal ini mengingatkan masa lalu kami di kampung halaman, dimana kami kalau bergurau dengan teman sering menggunakan bahasa “cemeeh” (artinya ledekan). Ah, pertunjukan menjadi hidup karena dialog yang memancing tawa. Tidak terbayang kalau pegelaran itu hanya sekadar menampilkan tari dan drama yang datar-datar saja, pasti penonton cepat bosan. Salutnya, gurauan atau dialog yang ditampilkan sama sekali tidak menyerempet ke arah pornografi (sesuatu yang menjadi menu wajib acara komedi di televisi). Ke depan, unsur komedi dalam pagelaran UKM semalam harus selalu dipertahankan agar acara pegelaran UKM ITB menjadi hidup.

Berikut beberapa foto pagelaran UKM (kiriman Srizalman dari T. Sipil 85 dan dari webblog Widya Wardani :

Pagelaran UKM ITB 2007 (1)

Pagelaran UKM ITB 2007 (2)

Pagelaran UKM ITB 2007 (3)

Pagelaran UKM ITB 2007 (4)

Pos ini dipublikasikan di Cerita Minang di Rantau, Seputar ITB. Tandai permalink.

8 Balasan ke Pagelaran UKM-ITB yang … rRuarr Biasa

  1. reiSHA berkata:

    Ni Widya UKM’03 dah naruh beberapa foto pagelaran UKM di blog nya, Pak. Ada di http://towet.wordpress.com/2007/05/01/reply-a-request/

  2. Ping balik: Ntah Pa Pa... « reiSHA hUMaira di siNi …

  3. rinaldimunir berkata:

    Oke, akan saya coba kunjungi web Widya tsb.

  4. Brahmasta berkata:

    Hm, acaranya emang bagus banget pak. Saya meski orang Jawa+Bali tapi pernah hidup di Riau yang banyak orang Minangnya, jadi ngerti sebagian😀. Makanya saya datang🙂

    Salutnya, gurauan atau dialog yang ditampilkan sama sekali tidak menyerempet ke arah pornografi

    Setuju pak. Itu juga saya rasakan kemarin. Tidak ada lawakan atau gerakan-gerakan tarian yang berbau pornografi. Malah ada pembacaan ayatnya di awal. Itu yang bikin tambah salut.😀

  5. reiSHA berkata:

    @Brahmasta: Pasti ga biasa ya, di sebuah acara kesenian ada pembacaan ayat suci Al-Qur’an-nya segala, hehe… Kayanya juga dirasakan orang lain, lihat aja tulisan Aisar

  6. rinaldimunir berkata:

    Bram, saya beberapa kali ke Pekanbaru. Pekanbaru itu kulturnya Minang, karena sebagain besar penduduk kota itu adalah perantau Minang. Waktu saya ke sana, saya sering mendengar percakapan orang dalam Bahasa Minang, serasa saya berada di kota Padang saja layaknya.

  7. momon berkata:

    mokasih yo pak!!!

  8. catra berkata:

    pak,, dies 33 menjelang pak.

    promosiin sm dosen2 lain y pak

    hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s