Antara Bahasa Malaysia dan Bahasa Indonesia

Tadi siang ada kunjungan mahasiswa Universiti Teknikal Malaysia Melaka, khususnya dari Fakultas Teknologi Maklumat dan Komunikasi. Saya diminta Kaprodi untuk menerima kunjungan tersebut. Ini kali kedua saya menerima kunjungan dari Malaysia. Biasalah, mereka ingin mendapatkan informasi mengenai Informatika ITB dan rencana kerjasama antara kedua universitas.

Apa yang menarik setiap kali kunjungan tamu dari Malaysia itu? Kalau tipikal orangnya sih seperti kita juga, tidak bedalah, maklum bangsa serumpun, sama-sama orang Melayu. Yang menarik adalah bahasanya. Agak sukar bagi saya memahami cakap Melayu orang Malaysia ini, perlu interpreter yang sedikit canggihlah. Sebenarnya saya sudah sering mendengar cakap Melayu, bukankah orang-orang dari Riau kepulauan, Deli, dan daerah lain di Sumatera Timur sudah biasa dengan bahasa Melayu. Kalau saya berkunjung ke Pekanbaru saya masih bisa paham maksud orang-orang Melayu di sana bila bercakap-cakap. Tetapi bahasa Melayu orang Malaysia terdengar aneh di telinga kita, mungkin sama anehnya bahasa kita di telinga orang Malaysia. Dari omong-omong saya dengan tamu dari Malaysia ini, saya menangkap kata-kata yang perlu diklarifikasi lagi artinya kepada mereka. Misalnya:

– kejuruteraan (Indonesia: kerekayasaan; Inggris: engineering)
insinyur = jurutera
– maklumat (Indonesia: informasi; Inggris: information)
sistem informasi = sistem maklumat
– timbalan (Indonesia: pembantu; Inggris: vice)
timbalan dekan = pembantu dekan

dan banyak lagi yang lain. Pusing deh kalau bicara cakap Melayu dengan orang Malaysia. Coba baca nih sebuah kutipan dari koran Berita Harian Malaysia pada rubrik komputer berikut ini:

Sebuah syarikat usaha sama Malaysia-Belanda akan memasarkan perisian baru yang direka bentuk untuk membantu memudahkan penyelarasan berkesan antara unit penyelamat dan keselamatan dalam membendung bencana.

Hayoo, apa yang dimaksud dengan “perisian baru” dan “penyelarasan berkesan”? Kalau kata-kata lainnya sih saya bisa paham. Kita lanjutkan lagi berita di koran tersebut:

Pengarah Urusan Han Dataport, W M Willem Bloem yang membangunkan perisian terbabit, berkata wakil syarikat itu akan membuat persembahan mengenai perisian itu kepada polis, jabatan bomba dan unit perubatan dan juga Majlis Keselamatan Negara.

Katanya di Malaysia, perisian itu boleh membantu mempermudah penyelarasan di kalangan pelbagai unit penyelamat dan juga pada peringkat tempatan, negara dan kerajaan persekutuan.

Anda mengerti? Sama, saya juga tidak mengerti.

Orang Malaysia juga merasa tanpa beban menyerap bahasa Inggris ke dalam bahasa Melayu sesuai dengan bunyi ucapannya, misalnya:
– enjin (dari kata engine). Mereka menyebut search engine sebagai enjin carian
– polis (dari kata police), kalau di Indonesia kata “polis” berkaitan dengan asuransi
– reviu (dari kata review)
– ais (dari kata ice)
– kolej (dari kata college)
– universiti (dari kata university).

Tapi untuk kata “universiti” ini orang Malaysia tidak konsisten, seharusnya “yuniversiti”. Indonesia juga pernah mengadopsi kata asing menjadi kata serapan sesuai bunyinya, misalnya “estat” untuk kata estate yang artinya perumahan.

Coba baca lagi kalimat ini (lagi-lagi dikutip dari Berita Harian):

– YAHOO, syarikat enjin carian maklumat dalam internet, melancarkan perkhidmatan pesanan segera bagi membolehkan pengguna sistem rangkaian komputer terus menerima pesanan walaupun berada di luar rumah atau pejabat.

– MICROSOFT baru-baru ini melancarkan satu perlindungan perisian yang mampu membaik pulih kerosakan serius dalam sistem operasi Windows dan Vista seminggu sebelum ia sepatutnya melancarkan kemas kini bulanannya.

Apa yang dimaksud dengan “membaik pulih”? Mungkin maksudnya recovery. Kalau “melancarkan kemas kini bulanannya”, apa artinya ya?

Novell turut memeterai memorandum persefahaman dengan tujuh universiti tempatan dan kolej bagi menawarkan sumber terbuka dan Linux sebagai sebahagian daripada kurikulum IT mereka.

Hmmm, coba saya artikan ya:
– “memorandum persefahaman” mungkin maksudnya MOU (Memorandum of Understanding).
– “sumber terbuka” = open source
Untuk dua kata di atas saya angkat topi dengan orang Malaysia, mereka begitu nyaman memelayukan open source menjadi “sumber terbuka” dan MOU menjadi “memorandum persefahaman”.
– “memeterai” = ….? (menandantangani? rasanya bukan)
– “tempatan” = …?

– KAKITANGAN syarikat gergasi elektronik Jepun, Sony Corp (Sony), Eiko Sato menunjukkan perakam audio Hi-Fi terbaru, NAC-HD1 yang memanfaatkan pemacu cakera keras dengan ruang simpanan 250GB, mampu menyimpan 380 album Hi-Fi atau 125,000 lagu.

Hayoo, tahu arti “kakitangan”? Ya, itu sama dengan “pegawai” kalau di Indonesia. “Kakitangan Pemerintah” = Pegawai negeri. Di Indonesia, kata “kakitangan” berkonotasi negatif, sama dengan “antek-antek”. “Kakitangan Belanda” = antek-antek Belanda.

Menariknya, rata-rata orang Malaysia dapat berbahasa Inggris dengan lancar, meski logat Inggris nya terasa gatal di telinga. Maklum Bahasa Inggris adalah bahasa resmi kedua di sana setelah Bahasa Melayu. Bahkan, kita yang orang Indonesia sampai perlu berbicara dalam Bahasa Inggris dengan orang melayu Malaysia karena kosa kata melayu keduanya tidak nyambung. Pengaruh Bahasa Inggris sangat kentara, sehingga tidak heran mereka sering mencampuradukkan Bahasa Melayu dan Bahasa Inggris kalau berkomunikasi. Beda sekali dengan orang Indonesia yang Bahasa Inggris-nya payah. Dari segi bahasa asing, Malaysia “diuntungkan” karena pernah menjadi koloni/jajahan Inggris. Hampir semua negara bekas jajahan Inggris rata-rata warga negaranya lancar berbahasa Inggris, misalnya India, Malaysia, Singapura, Hongkong, dan lain-lain. Andai saja Indonesia dulu dijajah Inggris, bukan Belanda, tentu orang Indonesia juga seperti rakyat Malaysia yang fasih berbahasa Inggris. Ah, itu cuma berandai-andai, penjajahan di manapun sangat tidak menyenangkan.

Begitulah Malaysia dengan keunikan bahasanya. Orang asing di Indonesia sering menyebut kata “bahasa” kalau mereka ingin mengatakan bahwa mereka hanya sedikit bisa berbahasa Indonesia (I can speak Bahasa, but a little ), padahal yang dimaksud “bahasa” dalam kalimat itu adalah Bahasa Melayu. Orang bule mungkin menganggap Bahasa Melayu sama dengan Bahasa Indonesia. Bahkan, DVD yang beredar di pasaran memuat menu ragam bahasa terjemahan yang bisa dipilih pengguna, yaitu “English, Deutsch, Spain, Italian, dan Bahasa”. Kita pikir “Bahasa” itu adalah Bahasa Indonesia, setelah DVD diputar ternyata Bahasa Melayu (baca: Malaysia). Hal ini menunjukan bahwa Bahasa Malaysia lebih populer di kalangan distributor film ketimbang Bahasa Indonesia, padahal Bahasa Malaysia hanya dipakai sekitar 22 juta orang, sedangkan Bahasa Indonesia dipakai sekitar 220 juta orang. Itulah ironinya.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado, Titian Indonesia - Malaysia. Tandai permalink.

51 Balasan ke Antara Bahasa Malaysia dan Bahasa Indonesia

  1. Habib berkata:

    Saya tebak ya Pak🙂

    melancarkan kemas kini bulanannya : release monthly update
    tempatan = setempat?

  2. Petra Novandi berkata:

    tadi siang mereka mampir di MIC untuk melihat jalannya pelatihan. Dan benar – benar pusing berbicara dengan mereka. Terpaksa saya gunakan bahasa Inggris ^_^
    Soalnya mereka nanya itu kelas 13 atau 14….. (atau salah dengar saya ya) Jadi pusing ngejelasinnya >.

  3. siti berkata:

    hehehe… lucu.. dulu saya juga pusing alang kepalang ngadepin orang melayu… tapi setelah hampir setahun ‘gumbul’dengan mereka, saya jadi terbiasa. Bahkan anak2 saya sering dengan lancarnya bilang: “ih.. seronoknya…”. ngikutin omongannya spongebob di TV, juga obrolan mereka dengan teman2 sekolahnya.
    Saat ini kami tinggal di rumah kelamin. Sstt.. arti kata ‘kelamin’ disini tidak jorok lho. Kata ‘kelamin’ disini lebih populer, artinya ‘keluarga’.. hehehe.. Saya lagi mendalami ilmu di bidang ‘kejuruteraan perisian’ atau software engineering. BTW, nama ITB di malaisya sini sungguh harum lho.

  4. reiSHA berkata:

    – Setuju sama kalimat “Andai saja Indonesia dulu dijajah Inggris, bukan Belanda, tentu orang Indonesia juga seperti rakyat Malaysia yang fasih berbahasa Inggris. Ah, itu cuma berandai-andai, penjajahan di manapun sangat tidak menyenangkan“.🙂

    – ‘Bako’ saya sebagian tinggal di Malaysia. Dulu waktu masih di kampung, masih nyambung kalau ngomong pakai bahasa Minang. Tapi sekarang bahasanya sudah bercampur dengan bahasa Malaysia. Jadi agak aneh saja rasanya. Kadang mengirim sms juga pakai bahasa sana, suka bingung jadinya pada kosakata tertentu.

    • Dan berkata:

      Jangan salah, di luar sana banyak orang berbahsa inggris sangat kagum dengan bahasa inggris orang indo, karena bahasa inggris kita paling baik berdasarkan logatnya( sangat mirip logat inggris). Orang indo itu di anugrahi bahsa dan lidah netral (logatnya ada di diagfragma) bukan di lidah. Maka dari itu kita sangat mudah meniru logat dari bahsa yg kita pakai entah itu inggris, prancis ataupun arab. sy sering dengar orang malaysia yg notabenya sering bahsa inggris tapi loggatnya sangat-sangat gatal di telinga, apalagi orang india warganegara malaysia, orang singapur pun yg notabenya basha inggris tapi logatnya kanton.

  5. rinaldimunir berkata:

    Siti, jadi “perisian” = ‘software’ ya alias perangkat lunak. Mengerti saya. Pantesan waktu saya bicara dengan dosen Malaysia kemaren, mereka tidak mengerti dengan kata “perangkat lunak”. Bagi mereka kata “perangkat lunak” menarik sehingga dicatat di dalam bukunya. Memang yang datang kemarena ada dosen dari “kejuruteraan perisian” alias “software engineering” alias “rekayasa perangkat lunak”.

  6. RdH berkata:

    Keterangan:

    M’sia – English/Indo

    melancarkan kemas kini bulanannya – launching monthly update
    tempatan – local
    gergasi – giant/raksasa

    Tambahan:

    * istilah ‘kakitangan’ di M’sia sptnya tdk sama dg istilah ‘pegawai’ di Indonesia. ‘kakitangan’ diambil dari bhs Inggris ‘staff’ artinya sebutan utk ‘pekerja’ secara umumnya, sdgkan ‘pegawai’ di M’sia boleh dikatakan ‘pekerja pd top management’ ato yg sdh mempunyai jabatan yg tinggi. Jd dlm terminologi M’sia, ‘pegawai’ sdh pasti ‘staff’, tp ‘staff’ blm tentu ‘pegawai’.

    * ada bbrp perkataan dlm bahasa M’sia yg mempunyai arti yg paradox dlm bahasa kita, misalnya jangan sekali2 menyebutkan perkataan ‘butuh’ kpd seorg Melayu krn mungkin dia akan menjitak anda, disini ‘butuh’ berarti ‘kemaluan lelaki’, sdgkan ‘pantat’ artinya ‘kemaluan perempuan’, ‘pantat’ dlm bhs kita dlm bhs Melayu disebut ‘punggung’, sdgkan ‘punggung’ dlm bhs kita disebut ‘belakang’ dlm bhs Melayu. ‘pejabat’ dlm bhs M’sia, dlm bhs Melayu artinya ‘kantor’ dlm bhs kita. ‘Jabatan’ dlm bhs kita, org M’sia menyebutnya sbg ‘jawatan’. Binun kan, serta byk lagi istilah2 yg serupa tp tak sama semacam ini.

    * pernah suatu kali, saya n teman2 pergi ke kedai makan, ketika pelayan dtg, seorg teman Indo yg baru dtg ke M’sia dg confidence-nya ‘order’ makanan dg mengatakan: ‘bang, saya order sup buntut’, serta-merta si pelayan bengong (mgkin campur marah), sadar hal itu, lekas2 saya koreksi ‘minta maaf bang, kawan saya ni nak order sup ekor’. Apa pasal? ‘buntut’ dlm bhs Melayu artinya ‘pantat’ dlm bhs kita, ‘pantat’ kok dibuat sup.. ha ha..

    Salam dari seberang,

    RdH @ Skudai

  7. Nanda Firdausi berkata:

    Kemarin dulu naik kereta ketemu orang Malaysia. Menurut dia sih, bahasa Indonesia lebih terkenal. Contohnya saja, Quran terbitan Madinah hanya punya terjemah Indonesia dan tidak ada terjemah Melayu. Orang Malaysia pakai Quran terjemah bahasa Indonesia. Contoh lain lagi, universitas2 di Inggris banyak yang punya program bahasa Indonesia tapi bukan bahasa Melayu.

    Selain itu dia bilang kalau yang benar itu bahasa Melayu dan bukan bahasa Malaysia. Dulu memang ada usaha mengubah namanya jadi bahasa Malaysia tapi kemudian diubah kembali jadi bahasa Melayu.

    Tapi setalah ngobrol beberapa jam dengan orang Malaysia, saya jadi capek😛 Capek juga mikir beberapa kali untuk mengerti perkataan orang lain.🙂

    Just correct me if I’m wrong🙂

  8. Ping balik: Kita dan Bahasa Daerah yang Memunah « agungprasetyo

  9. Agung berkata:

    Saya juga heran mengapa orang Malaysia begitu pede dengan bahasanya, padahal menurut kita mengartikannya saja sulit. Apa di sekolahnya diajarkan untuk mencintai bahasanya ya, dan tidak tergoda untuk lebih mengunggulkan bahasa Inggris? *Pak Rin, tulisan Bapak saya link ya.

  10. rinaldimunir berkata:

    Silakan, Gung…

  11. peminat_bahasa berkata:

    wah, menarik sekali ya diskusinya. Saya orang Malaysia tapi menetap di Sabah dan pada hemat saya, benar sekali Pak, contoh-contoh yang Bapak berikan dari Berita Harian itu pada saya juga membingungkan. Ayat-ayat tersebut memang dialihbahasa ke bahasa Melayu tetapi akhirnya saya yang bukan dari jurusan IT (information technology/teknologi maklumat) sendiri juga kurang dapat memahami erti berita tersebut.
    Saya terkejut dan sebenarnya agak malu, Pak, kerana Bapak dan yang lain-lain (yang pernah menghadapi situasi sama) terpaksa berbicara menggunakan bahasa Inggeris dengan tamu dari Malaysia. Itu sepatutnya tidak terjadi kerana di Malaysia, bahasa Melayu dijunjung sebagai bahasa Nusantara, malah ada ura-ura menjadikannya lingua franca ASEAN. Malangnya pada kami di Malaysia, jika tamu terdiri dari ahli akademik Malaysia tidak dapat berbicara atau memahami bahasa Indonesia hingga terpaksa tuan rumah negara serumpun berbicara menggunakan bahasa Inggeris, pengguna bahasa Melayu di Malaysia harus menanya diri sendiri:
    adakah bahasa Melayu di Malaysia sudah menjauh dari akar keNusantaraan sehingga rakan terdekat sampai terpaksa berbicara menggunakan bahawa Inggeris?;
    adakah perjuangan bahasa Melayu di Malaysia selama ini realistik atau sekadar retorik?;
    Bahasa yang diajarkan di universiti-universiti di Barat sebenarnya ialah bahasa Indonesia,apakah ini menunjukkan bahasa Indonesia lebih senang dipelajari dari bahasa Melayu di Malaysia yang penuh dengan istilah yang mungkin juga tidak digunakan oleh semua penutur bahasa Melayu di Malaysia (yang akhirnya memilih untuk menggunakan bahasa Inggeris untuk istilah-istilah tersebut?;

    Maaf Pak sekiranya komentar saya terlalu panjang, topik ini amat terkesan di hati saya kerana saya merasakan
    setiap bahasa itu wajar diberi pembangunan yang semulajadi dan tidak dipaksa untuk menjadi lebih besar, lebih lain, atau lebih itu dan lebih ini seperti apa yang seakan-akan terjadi pada bahasa Melayu di Malaysia. Saya kagum dengan bahasa formal Indonesia sama ada secara pertuturan atau penulisan, pada pendapat saya, tetap sama kosa katanya. Saya kira di Malaysia ini tidak terjadi kerana sering dalam pertuturan formal (ucapan dalam majlis, dan sebagainya yang formal) bahasa tidak formal digunakan mungkin. Bahasa formal digunakan hanya apabila membaca teks ucapan sahaja.

    Walau bagaimanapun, saya rasa kerjasama yang lebih mantap dan lebih erat antara pengguna bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia perlu ditambah. Sekiranya ini berlaku dengan sangat kerap, saya percaya, penutur bahasa Melayu dari kedua-dua negara bisa memahami dengan baik walau dengan kosa kasa yang berbeza. Ada keindahan dalam diversiti:).

    • Suhanto K berkata:

      Bagus uraian anda. Saya merasakan hal yang sama seperti yang anda rasakan saya di Malaysia hanya 5 hari terpaksa berbahasa Inggris. Seharusnya berbahasa Indonesa ya??!!

  12. Rinaldi Munir berkata:

    @ peminat_bahasa: setuju pak/bu, saya melihat bahasa Melayu sudah agak sulit digunakan anatar Malaysia, Indonesia, dan Brunei. Divergensinya semakin jauh.

  13. Indieshare berkata:

    Actually, orang malaysia lebih fasih ngomong bahasa inggris bukan hanya karena bekas jajahan inggris, bahasa inggris lebih sebagai bahasa persatuan mereka, ketika orang melayu bertemu dengan orang cina lokal atau india lokal mereka berbicara dalam bhs inggris, kalo di indo, kita juga punya bhs masing2 ada jawa, sunda, batak, cina, arab dsb, tapi kalo masing2 ketemu satu sama lainnya maka kita make bahasa persatuan kita bhs indonesia. Itulah enaknya, semua jadi lebih mudah walau akhirnya kemampuan bahasa inggris kita menjadi ala kadarnya.

    Tenang aja, bhs indonesia lebih diakui didunia drpd bhs melayu krn lebih mudah diucapkan oleh orang asing karena intonasi kita ketika berbicara lebih mudah daripada bahasa melayu. Nggak ada cengkok yang bikin orang bule keki. Nggak ada kata2 yang aneh. Sekarang ini banyak kata dari bhs indonesia juga sudah mulai diserap oleh org m’sia, ada yang bilang lebih puitis, lebih enak didengar.

    Kalo dibilang bahasa mrk terdengar aneh dan lucu, bagi gue itu kurang tepat, karena kita harus menghormati perbedaan pemakaian bahasa tiap negara. Kalo gue ngobrol ama temen2 gw orang m’sia, mereka juga bilang hal yang sama tentang bahasa kita.
    “Kalau dengar muzik indon, aku faham je apa yang korang ucapkan, tapi kalau aku nonton filem indon, peninglah, entah ape yang korang cakap.” Kata mereka seperti itu.
    So… semua memang balik ke budaya masing2 bangsa. Kalau memang terdengar aneh dan lucu, yach… mau gimana lagi, emang udah kayak gitu. hehehe…

    Semua ada yang lebih ada yang kurang,
    Di malaysia gersang buku2 berbahasa melayu, sedangkan disini semua diterjemahkan ke bhs indonesia. Sehingga kita punya banyak kesempatan untuk lebih paham ketika membaca buku2 bermutu terbitan luar yang sudah diterjemahkan. Bagaimana bisa jika anda punya anak yang dibesarkan dalam lingkungan budaya dan bahasa melayu harus belajar (sekolah) dengan buku2 bahasa inggris padahal anak anda pada saat itu juga lagi belajar bahasa inggris.

  14. peminat_bahasa berkata:

    Pak Rinaldi: Terimakasih kerna menjawab komentar saya. Ya, benar, sudah agak jauh…kenapa ya? Saya percaya kepada keunikan bahasa setiap negara di dunia. Tapi, saya agak pelik, sekiranya ada badan bahasa MABBIM (dianggotai M’sia, Indonesia, dan Brunei) untuk semacam kesatuan bagi b.Melayu di tiga negara ini, kenapa makin menjauh malah sampai tidak boleh difahami sekiranya warga Indonesia berbicara santai dengan warga Malaysia?
    Mungkin, sekiranya lain kesempatan ada pelawat dari Malaysia, bapak tanyakan dengan mereka ya? Saya sangat tertarik untuk mengetahui komentar mereka.

    Indishare: Saya setuju dengan komentar Indieshare. Memandangkan saya berasal dari Sabah (Kepulauan Borneo, kami bersempadan saja dengan Kalimantan), pertuturan b.Melayu di Sabah bunyinya tidak sama dengan b.Melayu di Semenanjung M’sia (Kuala Lumpur umpamanya). Saya rasa lebih dekat dengan bunyi b.Indonesia hingga rata-rata penutur b.Melayu di Sabah tidak perlu subtitel b.Melayu bila menonton wayang Indo. Tapi pernah saya nampak wayang Indo yang mempunyai subtitel b.Melayu (yang dituturkan di Kuala Lumpur), dan rakan-rakan saya dari Semenanjung Malaysia ramai yang tidak dapat memahami wayang Indo. Terkadang bila mereka mengajuk cuba berbicara dalam b.Melayu (sabah malay dialect) mereka otomatis berbunyi seperti mengajuk b.Indonesia. Kerap saya katakan, tidak bukan begitu, itu Indonesia, tapi mereka kata, samalah! ..hehe… Sekiranya Indieshare ingin mendengar sabah malay dialect yang dituturkan di Kota Kinabalu, pastikan penuturnya Sabahan ya, sebab ramai juga yang kerja dan menetap di Sabah tapi berasal dari Semenanjung Malaysia dan kekal berbicara menggunakan accent/pelat dari Semenanjung.

    Tentang terjemahan, sungguh benar sekali, terjemahan di Malaysia sememangnya gersang.

    Oh ya, di Malaysia ini, apa-apa sahaja yang Indonesia bunyinya, disebut sebagai Indon. Contohnya, orang Indon, lagu Indon, wayang Indon (seperti contoh yg diberikan Indieshare), pelakon Indon, dan lain-lain.
    Tapi, sekiranya saya di youtube atau lain-lain website yang mempromosi apa-apa sahaja yang Indonesia, disebut sebagai wayang ‘Indo’ or ‘Indo’ movies. Secara peribadi, saya lebih setuju dengan ‘Indo’ sebagai adjektif pendek (sebab ‘Indonesian’ yang adjektif panjang) sebab itu yang diguna oleh warga Indonesia sendiri bukan? Pandangan pak Rinaldi gimana?

    p.s. Saya guna titel ‘ibu’.🙂

  15. rinaldimunir berkata:

    @peminat_bahasa: Sebutan “indon” itu bagi orang Indonesia terkesan melecehkan, singkatan “indo” lebih baik.

    Saya memimpikian kita sebagai rumpun melayu kalau berbicara dengan satu bahasa saja, yaitu Bahasa Melayu. Tetapi melihat perkembangan di Malaysia yang begitu ke-Inggrisan, saya melihat hal itu semakin jauh.

    @Indieshare: saya termasuk orang yang bangga berbahasa Indonesia. Di dalam diktat/buku yang saya tulis saya mengguankan padanan kata B Indonesia untuk istilah asing.
    Setuju, antara B Indonesia dan B Malaysia ada kelebihan dan kekurangan. Menutut kita memang B Malaysia itu aneh, dan saya pikir B Indonesia bagi orang Malaysia juga aneh. Samalah.

  16. Indieshare berkata:

    Pemanggilan “Indon” untuk orang Indonesia di malaysia, sudah menjadi kebiasaan seperti mereka memanggil orang bangladesh dengan “bangla” saja. Walau dalam pemenggalan kata pada ilmu bahasa indonesia itu adalah salah. Seharusnya in-do-ne-sia, tapi pemenggalan mereka menjadi in-don-esia.

    Tapi mau gimana lagi? kata2 tersebut sepertinya sepertinya sudah mendarah daging. Walau dirasa seperti menghina kita sebagai orang indonesia, tapi bagi mereka itu biasa2 dan sah saja. Kita merasa kata2 tersebut ditujukan oleh para pekerja indonesia disana yang kebanyakan orang kelas bawah. So kalo kita dipanggil “indon” sepertinya kita di cap pembantu rumah tangga, kuli bangunan, atau pelayan rumah makan. Padahal itu (menurut gue) hanya cara sebut dan budaya mereka. Anda mau protes besar2anpun tidak akan bisa merubah langsung sebuah kebiasaan.

    Sebenarnyapun kita melakukan hal yang sama pada orang keturunan tionghoa. orang2 di jakarta lah yang pertamakali memanggil orang tionghoa dengan sebutan “cokin” dan itu (sebenernya) sudah dianggap biasa sama kita2 yang melayu tulen, tapi pernahkah anda bertanya kepada rekan atau kerabat anda yang keturunan tionghoa, apakah mereka suka dipanggil seperti itu??? (coba anda cari sendiri jawabannya).

    Hanya saja di Malaysia, koran/akhbar/newspaper disana sering menulis kata “indon” pada terbitannya yang seharusnya itu tidak layak dipakai. Itulah yang jadi masalah, sampai2 untuk headline pun kalimat “Indon” dengan mantapnya ditulis besar2. Apakah koran2 kita menulis kata2 “Amrik”, “Malay” dll di koran kita untuk berita2 utama atau resminya? pastinya tidak. Karena kita punya aturan bahasa yang sebaiknya digunakan pada koran2 atau majalah2. kata2 “Amrik” misalnya dipakai untuk kolom2 santai yang bernada guyon atau rubrik2 remaja seperti “Ayo belajar ke Amrik”.

    Namun kadang saya suka baca di koran2 terbitan Jawa, bahasa campuran masih digunakan, sebagai contoh: Jawa Pos. Saya pernah baca ada judul berita yang ditulis “Para PKL yang tergusur nglurug ke DPRD”. Yah mungkin ingin terkesan lebih merakyat, tapi koran sebesar Jawa Pos seharusnya tidak memakai bahasa campuran untuk berita utama atau resmi, karena jadi terkesan “kampungan” (jadinya mirip2 seperti koran lampu merah dan poskota).

    Mas Rinald, saya juga pecinta bahasa Indonesia/melayu. Padanan kata2 bahasa indonesia untuk istilah asing ternyata banyak yang terasa lebih “asing” daripada ketika memakai bahasa inggris (yang sudah diserap) itu sendiri. Kadang ada hal yang membuat kata serapan jauh lebih dimengerti dan lebih bermakna dibanding dengan padanan katanya dalam B. Ind. Saya baru tau kata “mengunduh” setelah ada internet, dulu waktu masih jaman2 sekolah (tahun 80an-90an), kata-kata itu hanya terdengar dalam istilah “unduh mantu” dan itu ada di bahasa jawa. Ketika saya membuat puisi dengan judul “Satu Konstelasi” saya agak kebingungan mencari padanan katanya dalam B. Ind yang singkat dan dapat diterima secara seni kata. Gimana donk mas? hehehe…

    Salah satu bahasa kita agak menjauh dari akarnya juga karena banyaknya menerima kata serapan dari budaya kita sendiri terutama jawa. Umpamanya istilah yang ngetop abis sejak tahun ’98 yaitu “lengser” sekarang umum digunakan untuk memperhalus kata “turun jabatan”. Padahal saya “belum” menerima kata itu sebagai bagian dari B. Ind secara resmi. (karena memang bukan). Untung saja masih banyak koran yang menuliskannya dengan memakai tanda petik. Yang ini gimana lagi donk mas?

    Ya sudah… itu aja, maafkan kalo2 ada salah kata, sekian dan sampai jumpa di lain kesempatan. Merdeka!!!

  17. peminat_bahasa berkata:

    Pak Rinaldi, saya terbaca blog ini http://strozze.blogspot.com/2007/08/marah-cakap-inggeris.html

    Pada fikiran saya, penulis tersebut mungkin juga berpendapat seperti Pak Rinaldi semula menulis ‘Antara Bahasa Malaysia dan Bahasa Indonesia’:).

    Walau bagaimana pun, beza penulis tersebut dengan Bapak ialah beliau menggunakan label yang tidak baik dan seakan-akan mempersenda/mengejek warga Indo yang bertutur menggunakan B.Inggeris bila bertemu penutur B.Malaysia. Blog bapa tidak langsung membuat seperti demikian malah dapat saya rasakan keluhan sedih Bapak dengan keadaan penutur dari Malaysia berbicara menggunakan B.Inggeris dengan rakan-rakan dari Indonesia.
    Berdasarkan nada dalam blog Bapak, saya sebagai warga dari Malaysia turut duduk memikirkan bagaimana mau menyelesaikan hal tersebut. In short, your blog made me think.

    Saya pikir penulis blog itu mempunyai alasan untuk marah, cuma cara kritikannya saya tidak setuju. Tapi, mungkin ya begitulah, pendapat masing-masing.

  18. Taib Hampden berkata:

    Blog yang menarik. Saya pun orang Malaysia. Rasa tahu memang betul orang Malaysia mencampur-adukkan Bahasa Melayu & Inggeris tetapi ini juga berlaku di Singapura (Singlish=English+Chinese dialects+Bazaar Malay).

    Betul saya agak tersekat perbualan apabila terpaksa menerima kunjungan rakan Indonesia. Payah untuk faham Bahasa Indonesia spt juga orang Indonesia keliru dengan istilah Bahasa melayu di Malaysia.

    Isteri saya pernah berkata ini perubahan alami kerana arus pembangunan kedua-dua negara berbeza. (Divergence in all matters, including language occurs naturally) Contoh, kenapa orang Batam, Aceh dan Kalimantan Barat sanggup mengeluar banyak wang (uang) untuk menikmati transmission rancangan TV dari Malaysia? Faktor ekonomi jadi faktor penting bila yang negara ‘economically influential’ mempengaruhi yang lebih lemah. Ini satu debat yang saya pernah sertai dengan rakan Indonesia. Ini berlaku juga di antara Laos dan Thailand di mana orang Thai sudah tidah faham rakan dari laos walaupun akar bahasanya sama. Yang berlaku orang Laos pula lebih suka berbahasa Thai drpd bahasa ibunda.

    Saya cuma rasakan tidak salah ada ‘divergence’ bahasa kita asalkan ‘comprehension’ rumpun itu masih wujud. Wassalam.

  19. ARTI NOOR84 berkata:

    artikel yg sangat menarik !
    bhs indo pun sekarang jadi populer di m’sia gara2 serbuan musik,setantron,film indonesia
    contohnya banget jadi bangat mengantikan sangat, juga kata ngetop populer jadi bhs gaul abg m’sia. saya sendiri kalo denger org m’sia bicara terlalu cepat jd rada pusing juga.

    *salam*

  20. Sultan Muhammad Al Fatih berkata:

    Sebenarnya bahasa Indonesia dan Malaysia berasal dari sumber yang sama (Melayu Riau). Tapi, lama kelamaan kedua bahasa ini makin jauh berbeda. Sebabnya, Bahasa Indoensia tetap menggunakan kaedah atau prinsip bahasa melayu, namun terus mengalami perkembangan yang semakin modern dan maju. Sedang Bahasa Malaysia, menggunakan prinsip dan kaedah bahasa Inggris. Jadi otomatis, perbedaan kedua bahasa ini makin menjauh… Contoh bunyi yang diucapkan pada sebuah kata… Di Bahasa Indonesia, sebuah kata diucapkan sama persis dengan huruf yang ada. Sementara Bahasa Malaysia, tidak..

  21. vee berkata:

    tlg ulas tentang adat dan keseharian orang melayu dan indonesia ye!!thx

  22. Linda Jaafar berkata:

    “Maklum Bahasa Inggris adalah bahasa resmi kedua di sana setelah Bahasa Melayu”

    Waduh si… Nggak benar dong! Enggak adalah… Bapak baca dari mana ya?😉

  23. anikeren berkata:

    @Linda Jaafar: oh, bukan ya, jadi B Inggris itu bukan bahasa resmi kedua?

  24. Umarzuki berkata:

    Topik yang menarik. Pada pandangan saya, ramai rakyat Malaysia yang selesa menggunakan Bahasa Inggeris berbanding bahasa ibunda mereka, tidak kira apa bangsa pun. Sedih bila melihat si ibu bertutur di dalam bahasa penjajah kepada si kecil walhal sepatutnya bahasa ibundanya sendiri harus diberi penekanan. Mungkin inilah yang telah meracun Bahasa Melayu itu sendiri di Malaysia.

  25. John Chen berkata:

    Bahasa lisan dengan bahasa tulis itu berbeda. Hal ini yang pertama sekali harus dipahami.

  26. John Chen berkata:

    Bahasa lisan dengan bahasa tulis itu berbeda. Hal ini yang pertama sekali harus dipahami. Di masa lalu, semua film atau sinetron Indonesia pasti menggunakan bahasa yang baku, yaitu bahasa tulis, bukan bahasa percakapan yang sebenarnya. Namun kini bahasa yang dipakai dalam film dan sinetron adalah bahasa lisan yang tadi nya hanya dipakai di ibukota negara, yaitu Jakarta, saja (di akhir 90an media massa, terutama televisi, mulai menggunakan bahasa dialek jakarta dalam berbagai acara nya sehingga mempercepat proses pemakaian dialek ini di seluruh Indonesia). Karena itu tidak heran apabila percakapan sehari-hari pun dalam film atau sinetron Indonesia (yang jelas tidak menggunakan isitilah teknis tertentu) sulit dipahami oleh para penutur bahasa Melayu.

  27. strozze berkata:

    Salam,
    Sy org Malaysia. Dulu semasa sy tinggal di Johor Bahru, di selatan berdekatan dengan Singapura dan Batam, di rumah sy terjangkau televisyen Indonesia.

    Pertama kali sy mendengar siaran berita dari Indonesia, sy sungguh kagum kerana bahasanya amat tinggi dan puitis. Sy beranggapan kalaulah sy dpt menggunakan gaya bahasa yg sama, maka sy dengan mudah mendapat A1 (gred tertinggi) di dalam Bahasa Melayu SPM (peperiksaan tertinggi) sy.

    Jadi, inilah keadaannya di Malaysia. Penuturan Bahasa Melayu sangat lemah bahkan di kalangan org Melayu sendiri. Persoalannya bahasa Melayu ada loghat tersendiri di setiap negeri. Bahasa yg diajarkan di sekolah adalah bahasa standard/piawai yg sepatutnya menggunakan loghat Johor/Riau. Jadi penuturannya jelas tidak sama dengan yg standard atau yg baku. Dulu semasa zaman Anwar Ibrahim menjadi Menteri Pendidikan, bahasa baku diketengahkan. Namun kini berbalik ke asal. Bahasa Melayu di Malaysia menggunakan bahasa KL yg ramai org mengatakan ianya standard. Namun tidak.

    Jadi, gaya percakapan org Malaysia sendiri byk menggunakan bahasa pasar KL. Bayangkan kalau seorg bercakap loghat Jakarta dan seorang lagi loghat KL, pastinya tidak bertemu titik pemahaman. Org Indonesia bila bercakap dengan orang Malaysia boleh/bisa berbalik ke Bahasa Indonesia baku namun org Malaysia tidak ramai yg berkemampuan utk kembali ke Bahasa Malaysia standard. Jadinya, inilah penyebab jurang tersebut. Perbendaharaan kata Bahasa Melayu yg lemah juga penyebab akan hal ini. Cuba tanya org Malaysia berapa ramai yang tahu makna guntur, citra, bening dsb. Ramai yg menjawab ini bahasa Indonesia sungguhpun perkataan ini adalah perkataan bahasa Melayu juga.

    Org bandar Malaysia termsuklah org Melayu lebih senang menggunakan Bahasa Inggeris. Bagi sy, mereka ini menghirup udara Inggeris. Bercakap Inggeris, gaya hidup Inggeris dan mahu kelihatan moden. Bagi mereka, berbahasa Inggeris lambang kemajuan. Bercakap Melayu lambang kemunduran. Bahasa Melayu hanya layak dituturkan dengan golongan bawahan seperti di pasar, memesan makanan dengan pekerja India di kedai mamak, bercakap dengan pembantu rumah atau buruh binaan Indonesia, ataupun bercakap dengan Bangla(desh) yg berkerja di pam-pam minyak.

    Bhs Melayu yg dulu menjadi lingua franca penduduk Malaysia kini terhakis dengan penggunaan bahasa Inggeris. Dulu Cina dan India bercakap Melayu sesama mereka, kini berbahasa Inggeris. Maaf, ada org bukan Melayu seperti Cina dan India yg langsung tidak tahu bertutur dalam bahasa Melayu hatta bahasa Malaysia adalah bahasa kebangsaan. Org Cina Indonesia berbangga berbahasa Indonesia tetapi tidak di sini. Bahasa hanya dilihat dari sudut wang Ringgit. Tidak tahu berbahasa Melayu tidak apa asalkan wang Ringgit masuk ke poket.

  28. strozze berkata:

    oh ya, baru perasan , ada link ke blog sy! terima kasih peminat_bahasa…

  29. Al-Jufri berkata:

    Salam,

    Saya juga dari Malaysia (lebih tepat Johor Bahru), juga terjangkau siaran TV Indonesia spt SCTV dan RCTI (bahkan sesetengah tempat siaran TPI juga boleh dijangkaui). Jadi, saya bisa faham dan berbicara dalam Bahasa Indonesia walau mungkin tidak begitu lancar atau nyambung dech.

    Saya agak terpanggil juga untuk berkomentar di sini terutama tentang Bahasa Melayu / Indonesia. Secara jujur, walau saya sendiri lulusan Sains Matematika, minat saya lebih tertumpah dalam bidang linguistik / antropologi seperti ini. Untung koq ketemu situs ini.

    Malaysia dan Indonesia perlu bersatu dalam hal bahasa ini. Keperluan untuk memartabatkan Bahasa Melayu / Indonesia di peringkat global wajar diutamakan. Para pemimpin kedua-dua negara harus memandang serius permasalahan ini. Harap akan lebih berjaya pada masa hadapan.

  30. Suhanto K berkata:

    Memang benar orang Cina Indonesia juga pandai berbahasa Indonesia dan juga panai berbahasa Daerah. Mengapa sebab di Indonesia tidak ada Sekolah Jenis Cina. Komentar anda saya sangat setuju. Marilah kita bersatu Indonesia dan Malaysia mengembangkan kecintaan pada Bahasa Indonesia/Melayu.

  31. Andri berkata:

    Terima kasih, rekan. Saya senang mengamati soalan yang satu ini, dan senantiasa senang rasanya membaca dan menambah pengetahuan dengan membaca artikel-artikel terkait soal ini di berbagai media online. Saya ada menulis tentang ini, dan berusaha menyusun daftar singkat kata-kata yang perlu kita perhatikan dengan baik, agar tidak menimbulkan salah paham antara penutur dua dialek (saya lebih menyebutnya “dialek” – karena bahasa akar dari Melayu Malaysia atau Melayu Indonesia adalah sama, yaitu: Bahasa Melayu).

    Daftar itu saya taruh di: http://www.turkindorus.com/komunikasi-bahasa-melayu/

  32. Osamudera berkata:

    lihat, kalau kita saling menggunakan bahasa baku kita jadi saling mengerti, baik yang dari malaysia ataupun dari indonesia. saya sebagai orang indonesia tetapa akan menggunakan bahasa indonesia tanpa melupakan ibu bahasa saya, bahasa jawa. karena bahasa daerah adalah kekayaan bangsa juga.
    terkadang saya membaca blog malaysia. saya paham dengan maksud kalimat-kalimat yang digunakan karena menggunakan tata cara baku.
    mungkin tata cara baku ini yang patut digencarkan/galakkan.
    (maaf EYD-nya kurang sesuai, malas ngetik pake shift)

  33. ahmad berkata:

    mari menggunakan bahasa melayu yang baku, salam satu nusantara.

  34. heriyadi berkata:

    mohon saran dan bantuannya, saya seorang guru bahasa Inggris sma di Sumatera Selatan Palembang. saya sedang membimbing siswa di sekolah membuat penelitian bahasa yang digunakan di film animasi Upin dan Ipin. diskusi ini sangat menarik. wassalam. Heriyadi.

    • Andaiyani berkata:

      Belajar Bahasa Malaysia sama saja dengan belajar Bahasa Bangka Barat/Bangka Mas…Cuma bahasa Malaysia lebih disisipkan Bahasa Inggrisnya…Saya pernah pergi ke Malaysia,dan tidak mengalami kendala berarti disana…karena mereka faham apa yang saya ucapkan…tapi dengan catatan saya menggunakan bahasa bangka…bukan bahasa Indonesia

  35. lohu berkata:

    ya…hmpir semua kosakata bhs malaysia tu ada di indonesia..tpi pnggunaannya brbeda..shingga kita kdang jdi salah paham

  36. cut maya berkata:

    MalaYsia lebih memuliakan nama “bahasa melaYu” menjadi bahasa nasional mereka.
    Sedangkan indonesia malah enggan menamakan bahasa nasionalnya sebagai “bahasa melaYu”, malah menyebutnya dengan istilah “bahasa indonesia”.

    Sungguh terdengar lucu & aneh bagi siapapun yg mendengar istilah “bahasa indonesia”.
    Nama “INDONESIA” ini saja baru muncul di dunia ini belum 1 (satu) abad lamanya, tapi koq udah bisa (seolah-olah) telah menciptakan/merumuskan sebuah bahasa negara.
    Padahal bahasa nasional indonesia itu adalah bahasa melaYu itulah adanya, tanpa ada pengaruh bahasa lain.

    Bahasa melaYu juga sudah digunakan sebagai lingua franca di seluruh pelosok nusantara dari sejak dahulu, bahasa melaYu digunakan sebagai bahasa perdagangan dan bukan saja ditutur oleh masyarakat di kepulauan melayu (sumatera, borneo, selebes), bahkan di wilayah selatan thailand & kepulauan filipina juga mengenal bahasa melaYu.

    Jika ingin mengembalikan harga diri negara indonesia, maka gantilah istilah “bahasa indonesia” yg selama ini populer di masyarakat, menjadi BAHASA MELAYU.

    Karena itulah bahasa ibu kita.
    MalaYsia, brunei, singapura menamakan bahasa nasional mereka sebagai “BAHASA MELAYU”, tapi kenapa indonesia tidak mau menamakan seperti itu?

    Sungguh angkuhnya orang indonesia ini terhadap ibunya sendiri.

  37. pris berkata:

    topik yang menarik. saya setuju dengan indieshare, b.malaysia bukanlah bahasa yg pelik ataupun lucu mungkin bagi mereka b.indo juga terdengar aneh tapi hendaknya kita kena saling menghargai bahasa satu sama lain.
    ditempat saya orang2 menggunakan b.melayu sbg bahasa keseharian malahan orang2 yg menggunakan b.indo di anggap sombong. b.melayu di tempat saya 99% sama dengan b.malaysia jadi saya tidak menemukan kendala apapun saat mendengar orang malay berbicara bahkan anak2 kecil disini pun mengerti dengan baik b.malaysia. tapi saya tetap bangga karna b.indo bisa mendunia..

    terima kasih.

  38. udin berkata:

    menurut saya. bahasa malaysia itu sama saja dengan bahasa indonesia.. hampir semua kosakata malaysia itu ada dibahasa indonesia.hanya saja dalam pemakaiannya mereka sering memakai kosakata yang tidak lazim/jarang digunakan oleh orang indonesia.walaupun bisa dipahami.tapi harus dianalisis dulu..haha.. yang beda itu logatnya

  39. Rian berkata:

    @cut maya, memang bahasa Indonesia akarnya bahasa melayu, bahasa Indonesia sekarang memang wajar disebut bahasa Indonesia, bukan melayu. karena bahasa Indonesia sudah menyerap banyak kata” dari bahasa daerah yg ada di indonesia. malahan aneh jika bahasa Indoensia diganti dengan nama bahasa Melayu, karena bahasa melayu sendiri pun banyak jenisanya di Indonesia.

    jika ditinjau dari segi sejarah dan politik pun sangat wajar dinamakan b. Indoensia, karena bahsa Indoensia bisa dituturkan oleh semua orang Indoensia, baik cina, dayak dipedalaman kaliamantan, jawa, papau dan lain-lain.

    • Rusli berkata:

      saya setuju dengan Bapak ….
      Indonesia bukanlah Malaysia atau singapore yang hanya bisa dikelilingi dalam hitungan beberapa jam, tetapi Indonesia adalah Negara yang terbentuk dari banyaknya pulau – pulau yang ada di Nusantara, secara langsung / otomatis akan terdapat perbedaan bahasa di setiap pulau atau di setiap daerahnya, maka dari itu di ciptakanlah bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dari banyaknya bahasa atau dialek daerah yang ada di Indonesia, B.Indonesia tercipta bukan untuk menghapus atau menghilangkan B.Melayu sebagai bahasa Ibu kita, akan tetapi justru dengan adanya B.Indonesia bahasa Melayu akan lebih baik penuturannya karena telah disempurnahkan
      yang salah bukanlah B.Indonesianya tetapi yang salah adalah penuturnya, kita bisa lihat bagaiman media begitu cepat mempengaruhi budaya kita tak terkecuali dalam berbahasa, siaran Tv contohnya, pusat dari siaran tv itu kan ada di Jakarta maka otomatos bahasa yang digunakan pun akan dipengaruhi oleh logat dan dialeg Betawi yang kita kenal sekarang dengan kata Gue, lo, banget, dan masih banyak lagi kalimat yang bersumber dari tv yang asalnya dari Jakarta, dan itu sudah menyebar di seluruh wilayah Indonesia.tanpa disadari kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar sedikit demi sedikit akan hilang dikarenakan pengaruh bahasa dari Jakarta yang kita anggap lebh gaul ….
      Bahasa Indonesia tetaplah bahasa Melayu bahkan lebih bagus dan rapi dalam pengucapannya serta sangat mudah dipahami, namun yang membuat Bahasa Indonesia itu susah bagi orang luar adalah cara pengucapannya yang sudah dipengaruhi oleh bahasa Televisi …..

  40. Irang disana juga ngomongnya agak campur campur dengan bahasa inggris… Hehe

  41. Cuba kita kembali ke era 50an 60an. tak banyak perbezaan ketara antara Bahasa Melayu dan Indonesia.
    Kita seharusnya kembali ke Bahasa Melayu Tinggi. bahasa kitab, bahasa
    ilmu.

    Bukannya bahasa yang banyak mencedok Inggeris mahupun Jawa.

    Mudahkan memahami lagu Bing Slamet dan P Ramlee?

    50an-80an berbezaan tak begitu ketara walaupun di musiknya.

    Janganlah menjadi semakin Inggeris atau semakin Jawa bahasa Melayunya.

  42. aswad berkata:

    Bahasa melayu di malaysia berasaskan bahasa melayu empayar johor-riau-lingga memandangkan pengaruh besar empayar tersebut di nusantara terutamanya di Semenanjung tanah melayu, sumatera dan kalimantan. Realitinya, kurun 17, 18 dan 19 majoriti rakyatnya menuturkan bahasa melayu yang sama dan saling memahami antara satu sama lain. Apa yang membezakan adalah loghat (slang) atau slanga kenegerian. Negeri sembilan, selangor dan sebahgian melaka bertutur bahasa melayu dengan loghat minang dan mendahiling. negeri kedah, perlis, perak utara dan pulau pinang dengan loghat utara. Kelantan, terengganu dan sebahagian pahang dengan loghat pantai timurnya. Loghat atau slanga ini bukan kelainan bahasa atau tatabahasa tetapi sekadar kelainan dari segi alunan lontaran sebutanya. Rata-rata penutur di johor, pahang, melaka, selangor, perak, brunei, riau, singapura, lingga dan siak menuturkan dengan loghat yang tidak begitu ketara antara satu sama lain. Di Malaysia, bahasa melayu di negeri-negeri tersebut dianggap mempunyai loghat. Manakala di sabah dan Sarawak, dapat dikenali dengan loghat negeri masing-masing. Selain itu, di semua negeri di Malaysia masih terdapat penutur bahasa sub-etnik melayu seperti jawa, rawa, batak, banjar, minang dan sebagainya tetapi terhad di suatu kawasan tertentu. Saya ada mendengar titah ucapan Duli Yang Mulia Sultan Brunei dan saya dapat memahaminya 100%. Begitu juga dengan ucapan Perdana Menteri Singapura Lee Hsein Loong semasa upacara penghormatan kepada mendiang Lee Kuan Yew. Bahasa melayunya amat jelas sekali dan sangat baik berbanding pemimpin cina di malaysia sendiri. Begitu juga ketika membaca puisi-puisi karya Indonesia. Amat mudah dicerna oleh akal fikiran saya. Tetapi apabila mendengar ucapan calon presiden Indonesia iaitu Pak Joko Widodo semasa kempen pemilihan umum yang lalu dan selepas dilantik menjadi presiden indonesia, saya merasa sedikit kecewa kerana hanya 70-80% sahaja ucapannya yang saya fahami. Daripada penelitian saya, pak jokowi banyak mencampuradukkan bahasa melayu dan bahasa jawa selain perkata-perkataan daripada bahasa sub-etnik melayu lain yang kurang popular menyebabkan penutur bahasa melayu diluar Indonesia, sukar memahami apa yang diucapkannya. Selain itu, di dalam KBBI terlau banyak perkataan-perkataan yang bukan berasal daripada bahasa melayu riau sebaliknya perkataan- perkataan kurang popular daripada bahasa sub-etnik melayu yang lain menyebabkan bahasa melayu riau alias bahasa Indonesia semakin tercemar keasliannya. Jika difikirkan secara logik akal, sekiranya dipihak Malaysia mengangkat bahasa melayu johor sebagai bahasa kebangsaan malaysia dan di pihak indonesia mengangkat bahasa melayu riau sebagai bahasa kebangsaan Indonesia sudah pasti kedua-duanya tidak jauh berbeza. Ini kerana, semasa kegemilangan kerajaan melayu johor, empayarnya meliputi sebahagian besar sumatera selatan (riau, lingga, siak…) dan Kalimantan barat/selatan dan johor muncul sebagai pusat perdagangan, pengembangan agama islam dan pusat persuratan melayu. Dengan kata lain, sudah pasti bahasa yang digunakan oleh pemerintah dan rakyat di bawah jajahan takluknya adalah bahasa yang sama. Dengan kata lain juga, bahasa melayu johor dan bahasa melayu riau adalah bahasa melayu yang sama? Betul atau tidak? Tetapi apa yang terjadi pada hari ini, bahasa indonesia sudah sangat berbeza dengan bahasa melayu yang dituturkan di malaysia, singapura dan brunei sedangkan malaysia, brunei dan singapura adalah 3 buah negara yang berbeza pemerintahnya justeru kaedah pengembangan bahasa juga turut berbeza tetapi masih mampu menuturkan bahasa melayu yang sangat-sangat mirip sekali. Apa yang dapat saya simpulkan adalah, bahasa melayu riau diangkat sebagai bahasa kebangsaan indonesia hanyalah sebagai alat pak soekarno untuk membeli hati dan jiwa sultan-sultan dan orang-orang melayu di sumatera dan kalimantan supaya bergabung ke dalam indonesia yang ketika itu kebanyakan pimpinannya adalah dikalangan orang-orang jawa. Apa yang berlaku pada hari ini adalah satu cubaan pemerintah indonesia untuk men’jawa’kan bahasa melayu atas nama bahasa indonesia. Walau bagaimana pun, sekiranya presiden indonesia dari awal kemerdekaan indonesia adalah tulen penutur bahasa melayu, mungkin kesannya terhadap bahasa indonesia tidak separah hari ini. Inilah akibat apabila memilih peminpin berketurunan jawa untuk bertutur bahasa melayu. Inilah akibat apabila pusat persuratan dan media berada di pulau jawa tetapi bahasa persuratannya adalah bahasa melayu. Inilah akibat apabila bahasa dijadikan alat berpolitik. Keaslian dan identiti bahasa itu akan semakin menghilang dan terhakis. Lama-kelamaan generasi berikutnya tidak mengetahui asal mausul bahasa yang dituturkannya setiap hari…

  43. Wafie Ali berkata:

    salam dari malaysia.
    kata memeterai mungkin tidak bisa saya artikan ke bahasa indonesia. cuma mungkin saya bisa kasih misalannya sepertinya termeterainya = berlakunya.

    beberapa kata saya titipkan. mungkin bisa sedikit membantu:-
    BI = BM
    instansi = agensi
    menyangkut/terkait = berkaitan
    departemen/direktorat = jabatan
    rekening/akun = akaun

    saya senang belajar bahasa indonesia, bukan karena kebutuhan tetapi atas dasar diplomasi.
    terima kasih.

  44. Wil Syahrazad berkata:

    Tempatan = lokal. Kami menggunakan istilah ini di Pekanbaru

  45. Eddie berkata:

    Perisian-perangkat lunak
    Tempatan-setempat/lokal
    Melancarkan-meluncurkan
    Kemas kini-memperbaharu(update)
    Penyelarasan-koordinasi
    *Maklumat=maklum+akhiran -at
    -informasi jg diguna pakai(mengikut konteks)
    Cth:akhir+at,hakiki+at,tabii+at

    Bahasa Inggeris bukanlah bahasa rasmi ke-2 tapi sekadar bahasa Kedua kerana kebanyakan dari kami fasih dan Bahasa Inggeris meluas dipertuturkan terutama di kawasan kota.Di sekolah tempoh waktu pengajaran Bahasa Inggeris sama dengan pengajaran Bahasa Malaysia dan wajib lulus/kredit,di peringkat pendidikan tggi(Tingkatan 6,Universiti) wajib menduduki Malaysian University English Test(MUET) dan Malaysia punya Manglish(Malaysian English;penggunaan bilngual jg bermaksud bahasa Inggeris yg disesuaikan dgn keadaan budaya dan bahasa2 setempat serupa dgn Singlish di Singapura) mcm dalam catatan ini tentang “bahasa” misalnya;kami ingin bertanya jika seseorang bisa berbicara bahasa Malaysia dlm bahasa Inggeris,kami akan mengucapkannya begini..
    Do you speak Bahasa?
    No,I don’t speak Bahasa.
    Bahasa di situ bermaksud Bahasa Malaysia
    *Matcha,you want to makan here ot tapau?(so Manglish)
    Matcha(Tamil for abang),makan is Of course Eat & tapau(chinese)Tapau means Bungkus.

    *Bahasa Indonesia juga selalunya sulit dimengerti hehe terutama istilah pinjaman Belanda dan istilah Jawa

  46. dede berkata:

    Saya sudah 7 taun di malaysia tpi gak paham klo orang malaysia ama orang malaysia ngobrol
    ritmenya cepat dan dialeknya naik turun
    tpi klo sama orang cina ngobrol sama kayak orang indo,,,
    standar mudah di pahami
    klo sama orang malayu ngobrol kadang suka mikir dulu
    seperti
    merayu wanita = mengurat wanita
    kan pening, saya jadi senyum senyum
    ma,af klo saya salah
    ini adalah hasil penelitian saya slama di malaysia
    dan sampe sekarang logat indo saya masih kental gak ada mirip miripnya dgn malaysia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s