Menyusuri Jalan Gardujati Bandung

Minggu lalu saya menyusuri Jalan Gardujati dengan sepeda motor. Saya mencari kendi buatan Kasongan yang dijual di sebuah kedai gerabah di sebuah perempatan jalan di sana. Kendi yang lama sudah pecah, padahal saya suka meminum air kendi karena rasa sejuknya yang tidak dapat terganti dengan air kulkas. Kalau anda tidak tahu Jalan Gardujati, maka jalan ini adalah terusan jalan Pasirkaliki, dekat Stasiun Bandung. Jalan Gardujati bersambung dengan Jalan Sudirman. Di belakang toko-toko pecinan di kedua jalan itu terdapat pemukiman penduduk yang sangat padat dan terkesan kumuh.

Saya merasa asing saja berada di Jalan Gardujati. Jalan Gardujati dan Jalan Sudirman adalah potret daerah “lampu merah” di Bandung. Di kawasan ini bertebaran pub, diskotik, tempat karaoke, panti pijat, rumah bilyar, dan yang nggak jauh-jauh dari bisnis maksiat. Apalagi di Jalan Gardujati terdapat tempat yang bikin mesem-mesem orang Bandung kalau ditanya, yaitu kawasan S*r*t*m. Siapa yang tidak kenal dengan Saritem? Lokalisasi prostitusi tertua di Bandung ini (yang katanya sudah ada sejak dibangunnya rel kereta api di Bandung pada zaman Belanda dulu) baru saja ditutup oleh Pemkot Bandung.

Jalan Gardujati (dan Jalan Sudirman) sangat gersang, segersang kehidupan malam dan maksiat di sana. Tidak ada pepohonan yang tumbuh atau ditanam di sepanjang jalan. Deru mobil dan motor berpacu di jalan itu siang dan malam. Para juru parkir tidak henti-hentinya memandu keluar masuk mobil pengunjung tempat-tempat hiburan. Sementara mang-mang becak terlihat menunggu penumpang.

Saya sudah menemukan kendi yang saya cari. Saya tidak ingin berlama-lama di jalan ini, entah kenapa. Mungkin karena suasana di jalan itu tidak cocok dengan kehidupan saya.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

10 Balasan ke Menyusuri Jalan Gardujati Bandung

  1. Apalagi di Jalan Gardujati terdapat tempat yang bikin mesem-mesem orang Bandung kalau ditanya, yaitu kawasan S*r*t*m. Siapa yang tidak kenal dengan Saritem?

    Hahaha… Pak, kalo akhirnya disebutin namanya, buat apa pake sensor2an segala?? 🙂

  2. rinaldimunir berkata:

    Zak, yang pertama teka-teki, yang kedua adalah jawabannya. 🙂

  3. abe berkata:

    Gimana dengan kulinernya pak?
    ngga dicoba? Menurut saya tidak selalu jalan Gardujati itu kesannya negatif, banyak kok makanan enak + hal positif lainnya disana, tapi klo emang ga cocok sih susah ^^ gaul pak :p

  4. anna maria berkata:

    beuh Abe ngeledek Pak Guru…

  5. uga berkata:

    ga nyobain s*r*t*m nya pa. he…

  6. blum tntu smua hal tuw d angap negatif, tergantung qta yg menilainya ,,,,,,,,,,,,,,,,, karna setiap mnusia, dan stiap orang mengsih pendapat sllu berbeda…………………….
    kalau masalah tempatnya bersih g pak ?………..

  7. dadan mulyana berkata:

    saya orang sana.. sekarang tinggal di desa… di desa ini saya hidup seperti dikelilingi preman… gardujati sangat cool… ga ada preman… walaupun di lokalisasi…tapi ngga ada preman… aman… bisa tidur nyenyak…

  8. iyehsolichin berkata:

    Salam kenal ……….
    makasih ya udah koment ttg jl. Gardujati. Harapan saya sbg org Bandung ingin nya daerah itu menjadi lahan terbuka hijau biar udara bandung segar dan ramah lingkungan

  9. alfin berkata:

    buset banyak banget tempat hiburan yg gak bener di jl.gardujati bandung

  10. Sugontoro berkata:

    Haha saya suka melewat kawasan ini, sangan senang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.