Akankah Kereta Api Bandung-Jakarta Tinggal Kenangan?

Dalam beberapa hari ini saya bolak-balik Bandung-Jakarta dengan menggunakan mobil travel X-Trans. Ada banyak mobil travel yang menjalani rute Bandung-Jakarta pulang pergi. X-Trans ini salah satunya. Saat ini naik mobil travel ke Jakarta sudah menjadi  pilihan banyak orang. Kalau dulu hanya ada kereta api dan bus umum yang menjalani rute ini, sekarang moda transportasi bertambah dengan kehadiran travel. Sejak jalan tol Cipularang dibuka, Bandung-Jakarta hanya butuh waktu 2 jam saja. Bandingkan dengan kereta api Parahyangan yang memerlukan waaktu tempuh 3 jam bahkan lebih, sedangkan naik KA Argo Gede waktu tempuh hanya berkurang 20 menit hingga 30 menit. Kalau naik bus umum lebih lama lagi, sekitar 3,5 hingga 4 jam.

Kelebihan travel dibandingkankereta api atau bus umum adalah kejeliannya membuka rute yang tidak dilayani oleh KA/bus. Misalnya travel X-Trans ini, ia mempunyai rute ke Menteng (Jl. Blora), Kelapa Gading, Jatiwaringin, Bintaro, Lenteng Agung, dan lain-lain. Juga ada rute ke Bandara, Depok, Bekasi, dan Tangerang. Mobil travel berangkat ke setiap tujuan setiap 1/2 jam (ke Jl. Blora) atau setiap jam (ke Jatiwaringin dll).  Layanannya memang point-to-point, tetapi kita bisa turun di jalan yang dilewati, tidak harus di point tujuan. Harga tiketnya bersaing dengan harga tiket kereta api, yaitu berkisar antara 50 ribu hingga 60 ribu rupiah. Bandingkan dengan kelas eksekutif di KA Parahyangan seharga 50 ribu rupiah. Soal kenyamanan, naik mobil travel juga nyaman karena ber-AC dan setiap tempat duduk punya sandaran kepala, sandaran kursi juga bisa diatur. Kelebihan lainnya, karena persaingan sengit antar jasa travel, membuat mereka selalu menjaga keberangkatan tepat waktu (on-time).

Lalu bagaimana dengan nasib kereta api Bandung-Jakarta atau sebaliknya. Stasiun kereta api saat ini sepi penumpang. Tidak ada lagi antrian orang mengantre tiket seperti tahun 90-an hingga tahun 2002. Tidak lagi terlihat orang yang mempunyai tiket berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Benar-benar sepi. Sedih melihat nasib kereta api saat ini.  Penumpang mereka sudah direbut mobil travel dan penggunaan mobil pribadi yang intensif melalui jala tol Cipularang. Belum lagi penumpang ke Bandara Soekarno-Hatta yang direbut Bis Primajasa dari tempat mangkalnya di BSM. Padahal dulu, kalau kita mau naik pesawat dari Jakarta, dari Bandung kita naik KA dulu ke Gambir, lalu dari Gambir nak bis DAMRI ke Bandara. Sekarang cukup dari BSM saja dengan bis Primajasa, hanya 2,5 jam lebih kita sudah sampai ke Bandara. Benar-benar cepat. Ya, jalan tol Cipularang lah awal “malapetaka” bagi perusahaan kereta api di Bandung. Bahkan saat ini jadwal kereta api Parahyangan ke Jakarta sudah mulai dikurangi yang dulunya hampir selalu ada setiap jam atau setiap 2 jam, sekarang hanya beberapa jadwal saja yang dibuka. Kereta api hanya ramai pada waktu tertentu seperti liburan.

Jalur kereta api Jakarta-Bandung tidak bisa dikembangkan. Ini jalur tradisionil yang dibangun sejak zaman Belanda dulu. Bagaimanapun pihak kereta api mencoba mengeluarkan jurus untuk menarik penumpang (misalnya harga karcis diturunkan) tetap tidak mampu menaikkan jumlah penumpang secara signifikan. Alasan orang saat ini bukan karena faktor uang, tetapi karena waktu tempuh.  Kereta api pasti kalah dengan layanan mobil travel kalau soal waktu, kecuali kalau jalur kereta api dibuat sehingga shortest path. Tapi itu mimpi sebab membangun jalur kereta api sangat mahal. Tidak ada investor yang tertarik membangun jalur kereta baru dari Bandung ke Jakarta karena tidak menguntungkan.

Lalu, apakah kereta api Bandung-Jakata akan tinggal sejarah? Semoga tidak, sebab bagaimanapun juga naik kereta api ke Jakarta masih diperlukan. Bagi orang yang tidak perlu buru-buru, naik kereta api Parahyangan/Argo Gede bisa menjadi pilihan. Di kereta api kita bisa duduk nyaman  sambil membaca koran atau majalah (membaca sulit dilakukan di dalam mobil travel karena laju kendaraannya yang sangat kencang di jalan tol (80 km/jam) membuat kepala pusing jika dipaksakan membaca). Kereta api tidak mengenal macet karena hanya ia yang lewat di atas jalur. Beda dengan naik travel, kalau sudah masuk dalam kota Jakarta pada jam-jam keja, maka kita terjebak kemacetan parah di dalam kota Jakarta. Naik mobil travel belum tentu aman, karena kecepatannya yang tinggi bisa berakiba fatal kalau supirnya ngantuk. Waktu minggu lalu saya dari Jakarta tuh, saya sempat jantungan karena supir membawa kendaraan sangat ngebut dan sering menyalip kendaraan lain. Kalau naik kereta api, sekencang apapun dia masih tetap berada di jalur, sekali-kali sih emang pernah keluar rel juga karena faktor rel yang aus, tetapi tidak terlalu fatal dibanding mobil yang menabrak kendaraan lain atau menabrak pembatas jalan dengan keceepatan tinggi.

Semoga masih ada kereta api ke Jakarta.

Tulisan ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

31 Balasan ke Akankah Kereta Api Bandung-Jakarta Tinggal Kenangan?

  1. sandy eggi berkata:

    saya juga senang naek kereta argo gede dari jakarta ke bandung pak. enak, nyaman dan bisa tidur. anggap saja piknik. biasanya saya sebelum berangkat mampir dulu buat beli makanan untuk di makan di kereta. tak lupa beli majalah. abis nya tapi banyak gara-gara makanan dan majalahnya :D

    masalahnya pas di stasiun lebih dari jam 9 malam susah cari angkot dan terpaksa naik taksi. kalo sudah begini masalah dengan tukang taksi stasiun yang terkenal suka maksa :D

  2. Rizli berkata:

    Biarpun sudah ada cipularang, saya, ayah, ibu dan adik2 lebih memilih naik KA. Enak ngeliatin pemandangan dari dalam Kereta Api keluar pak… Bermacam2…

  3. rinaldimunir berkata:

    @Rizli dan Sandy: kalau boleh memilih, saya lebih senang naik kereta api jika tidak terburu2. Naik kereta lebih enak dan aman.

  4. irvan132 berkata:

    emang waktu tempuh masih masalah pak. tapi KA masih mungkin menang untuk keberangkatan jam 5 subuh. kayaknya travel pada belum berangkat jam segitu. CMIIW. :D

    -IT-

  5. rofiq berkata:

    PT KAI harus lebih inovatif lagi, mis pasang fee hot spot di kereta (termasuk ongkos karcis) ;-)

  6. Pemerhati KA berkata:

    Saya kebetulan bekerja di dunia perkeretaapian. Makanya saya tidak menyebut nama asli untuk menghindari “conflict of interest”.

    Setahu saya jalur Jakarta – Bandung masih menjadi tambang emasnya PT KAI, jadi kecil kemungkinan menjadi tinggal kenangan.

    Apakah Kereta bisa bersaing dengan travel ?

    Jarak stasiun Gambir – stasiun Bandung itu sebetulnya cuma sekitar 170 Km.
    Berapa kecepatan kereta ? Di jalur utara, kecepatan maksimum yang diijinkan 100km/jam. Di jalur antara Purwakarta – Padalarang, saya kira sekitar 60km/jam. Jadi teoritis, waktu tempuh Gambir – Purwakarta cuma sekitar 1 jam, lalu Purwakarta – Bandung sekitar 1 jam juga. Berarti kalau keretanya mampu mencapai kecepatan tersebut, Gambir – Bandung bisa 2 jam. Jadi KA bisa bersaing bagus dengan travel.

    Kenapa tidak bisa 2 jam ? “Root of cause”-nya kurang pemeliharaan. Pemeliharaan loko dan gerbong yang “seadanya” menyebabkan kecepatan puncak KA tidak tercapai. Pemeliharaan sepur yang kurang, atau dilakukan tapi tanpa “Quality Control” yang baik menyebabkan pada banyak jalur KA harus mengurangi kecepatan untuk menghindari anjlok.

    Lebih optimis lagi, sebetulnya travel 2 jam itu bisa dibilang sudah merupakan prestasi puncak, sementara KA 2 jam, seharusnya itu prestasi minimal. Karena rel yang digunakan oleh PT KAI sekarang (UIC-54) seharusnya bisa dipakai untuk kecepatan lebih tinggi lagi. Dengan asumsi pemeliharaan berjalan baik, yang berikutnya diperlukan modernisasi kereta, menggunakan kereta yang lebih cepat, tidak perlu TGV (yang rekor terakhirnya April 2007 kemarin 574.8km/jam), cukup yang kecepatannya sekitar 200km/jam saja sudah berarti Jakarta – Bandung dapat ditempuh kurang dari 1 jam.

    #1- Kalau di stasiun Gambir, pilih saja Blue Bird, ada pangkalan khususnya. Kalau di stasiun Bandung, rasanya memang masih susah. Tapi semoga dengan ramainya Blue Bird di Bandung, layanan taksi Bandung secara keseluruhan menjadi makin baik.
    #4- Kalau nggak salah ada juga travel berangkat pagi.
    #5- PT KAI butuh Dirut yang “revolusioner” karena permasalahannya rumit, semacam ketika alm. Cacuk Sudariyanto merubah Perumtel (PT Telkom).

  7. dhany berkata:

    Kalau kereta api Jakarta – Bandung melaju dengan target waktu < 2 Jam seperti yang disampaikan “Pemerhati KA”, maka Pak Rin harus siap-siap sport jantung lagi. Yang dibaca jadi bukan buku/majalah, tapi ayat2 doa, mengingat jalur kereta yang begitu berliku.

  8. rinaldimunir berkata:

    @Dhany: apa kabar? Tapi itu baru sebatas impian, sepertinya tidak mungkin KA bisa 2 jam ke Jkt.

  9. Fadli berkata:

    Ironis.
    Persis sama seperti kereta api di Sumatera Barat.

  10. Ki Joko Lanang berkata:

    Wach respon temen2 oc bgt nech… namun demikian klo dirangkum hal yang dipaparkan diatas bener semua.. disini saya JG ingin sharing pengalaman bahwa jalur K.A Bdg-Jkt P.P kedepan masih ada prospek looh.. dengan catatan mutu, qualitas, dan layanan lebih ditingkatkan. Klo bicara tekhnis tentu rada njelimet mengingat morfologi daerah rute yg dilalui berbeda dengan jalur pantai utara, artinya pemilihan jenis rel, loko, gerbong serta sarana penunjang lainnya “berbeda” dan jgn disamakan. Hal penting dan harus digaris bawahi bahwa pada jalur ini terdapat jembatan exs jaman kolonial yang kondisinya saat ini sangat memprihatinkan dan jelas klo tidak ditangani dengan segera akan berakibat fatal… (dach pada kropos) gt dulu aja dech aki mau semedi lagi nihh…

  11. zur berkata:

    hidup…..tol cipularang!!!!!!!!!

  12. bimo berkata:

    mendingan dibuka double track biar perjalanan kereta lebih cepat. perlu dukungan pemerintah dan pt kai

  13. OF berkata:

    menurut saya, salah satu prospek paling mencerahkan dari rute perjalanan KA Bandung-Jakarta adalah panoramannya yang sangat-sangat bagus, bahkan sedikit ‘menantang’ juga karena jembatan yang tinggi-panjang lebih tinggi dari tol cipularang menimbulkan pengalaman tersendiri bagi penumpang. Ya memang pihak PT.KAI sepertinya harus banyak-banyak promosi niy disamping tingkatkan Quality of Servicenya(terakhir saya naik, pada jalur Padalarang-Purwakarta kereta 4x berhenti karena ada perbaikan jalur).

    -Kereta Api untuk transportasi massal yang lebih baik-

  14. shinta berkata:

    setuju banget dengan komentar #6
    PT KAI perlu melakukan revolusi agar mampu bertahan di era kompetisi, jangan mau bernasib seperti PT DI, PT POS, BUMN-BUMN lain yang bertumbangan.

  15. Toto Supinto berkata:

    Negara ini akan maju jika filosofi kereta api dilakukan, dimana kereta api akan maju terus sesuai relnya. Relnya itu adalah SYARIAT ISLAM, lokomotifnya adalah MUJAHIDIN, gerbongnya adalah pengikut AHLUS SUNAH WAL JAMAAH.

  16. eka adimuryanto berkata:

    saya tetap naik KA ke Bandung dari Jakarta, karena lebih santai, tidak bikin pusing. bayangkan travel dengan kecepatan >100 km/j, guncangannya bisa bikin mabuk, apalagi bagi orang tua dan pas kondisi kurang fit. saya coba naik mobil teman lewat cipularang, pusing bgt, beda dengan naik parahyangan (walaupun bisnis), nyaman booo. mungkin PT. KAI bisa lebih menjual perjalanan Jakarta Bandung sebagai 1 paket dengan KA lokal Jabodetabek seperti KRL AC Serpong, Bekasi dan Bogor. tentunya dengan paket harga spesial, kalo perlu KA lokalnya gak bayar. Gak cuma di Jkt, di Bandung dipaket ama KA lokal ke Rancaekek misalnya, pasti pada mikir2 deh kalo make travel yang point to point. jelas gak kena macet dan mabuk. kalo perlu disediain ruang tunggu khusus saat transit di stasiun. sarana dan prasarana kan dah ada, tinggal sistim dibenahi. gak perlu ngoyo buru2 bikin jalur baru dll. promosiin aja paket ekonomis itu.
    lah, kan ada rencana bikin jalur bandara ke manggarai, dikoneksikan juga tuh, belum lagi jalur2 baru kaya percabangan di dekat depok.
    Pokoknya KA JAkarta Bandung musti survive, masih banyak penggemarnya kok.

  17. pilihyangtepatajamokeretaokemotraveloke berkata:

    kereta api ngak maksimal lajunya gara gara banyak yang tinggal d pinggir rel, kalo melaju kencang ditimpukin orang gara gara katanya berisik padahal kadang rel kereta udah dari jaman moyang, yah ibarat hewan hewan dihutan digusur manusia yang mengclaim empunya hutan.
    penggemar sih banyak tapi apa bisa mengalahkan dari sisi ekonomis biaya operasionalnya kondisi sekarang ? emang bener kalo revolusioner bagsu juga tuh tapi syusah liat aja telkom sekarang ibarat dinossaurus tua terseok seok.
    dan lagi kalo laju kereta api makin cepat apa yang mau diliat di jendela lah wong cuman wus wus wus sama aja pusink liatnya hahahhaahhaa

  18. Bondan Prasetyo berkata:

    ???
    PT KAI servisnya payah. Jadwalnya nggak tentu (sering ngaret), keretanya bobrok, maksa (kereta bobrok masih dipake), pelayanannya tidak profesional dan tidak ramah, informasi keberangkatan kereta payah, teknologi yang digunakan teknologi dinosaurus, kuno, tidak sebanding dengan biaya karcis yang dikeluarkan.

  19. antown berkata:

    di madura kapan ada kereta ya?? jembatan aja belom jadi hehehe

  20. pangeran cinta berkata:

    ya pada intinya kita blom bisa mengembangkan dengan maksimal saja sarana transportasi kereta api…
    tinggal bagaimana dengan PT KAI, mau bersaing dengan gaha atau hanya menjadi pecundang?
    saya harap kerta api indonesai bisa maju…
    saya baca di Majalah KA liputan dipo induk kereta api di Belanda sudah maju….
    bahakan sangat maju…
    padahal dulu indonesia pada saat di kelola belanda juga maju..
    ayoooooo!!!
    jangan mau kalah dengan bangsa lain, bersainglah dengan gentle!!!
    salam damai dan cinta

  21. gusnaedi berkata:

    Bandung – Jakarta tidak akan ditinggal oleh peminatnya. Bahkan kalau jalur Bandung-Palasari-Banjaran-Soreang-Ciwidey dihidupkan lagi……..h alangkah nikmatnya. Minggu lalu saya tracking jalur tersebut samapi di Dayeuh Kolot dengan naik sepeda. Karena tidak tahu awal dari rel kereta tersebut maka saya coba tracking dari stasiun Kiara Condong dengan menyisir rel hidup yang menuju ke Kosambi dan ternyata stasiun awalnya bukan di Kiara Condong akan tetapi justru dari Kosambi. Kemudian saya balik arah menyusuri rel tersebut. Pada umumnya rel masih utuh akan tetapi kiri kanan telah ditempati masyarakat dan rumah-rumah. Sampai samping BSM kondisi rel masih baik termasuk jembatan kecl yang ada melintasi sungai. Melintasi jalan Gatot Subroto sampai dengan jalan Sukarno Hatta sebagian rel masih ada akan tetapi penduduk juga telah mendirikan rumah diatas Rel. Lewat jalan Sukarno Hatta – sampai dengan Pasar Kordon rel telah ditimbun aspal sebagian.emudian dari pasar Kordon sampai dibawah Jembatan Tol rel masih ada dan jalan kereta tersebut justru telah menjadi gang sempit. Tracking rel berakhir sampai disini. Kereta terakhir yang pernah saya lihat disini adalah pada saat pembangunan Jln Sukarno Hatta sekitar tahun 1980. Pada saat itu sebenarnya rel masih utuh. Akan tetapi kemudian karena kereta tidak pernah lewat maka berangsur-angsur rel tersebut ditempati penduduk. Sungguh sangat disayangkan, karena untuk membangun baru di Jakarta saja menuju Bandara Sukarno Hatta sepanjang +/-20 Km sampai hari ini belum bisa, dan biaya juga sangat mahal. Untuk Bandung – Ciwidey sebenarnya perlu keputusan strategis dfari pemerintah Jawa Barat. Kalau diserahkan ke PT KAI saya kira tidak akan sanggup. Jika rel ini digunakan kembali maka kemcetan di kota bandung saya kira akan berkurang banyak. Sekarang ini saja dari Dayeuh Kolot ke Kosambi dengan jarak 15 km dibutuhkan waktu 1-2 jam. Jika kereta jalan lagi paling dibutuhkan 20 menit . Sekarang bagaimana caranya memindahkan penduduk ?? Yang perlu komitmen PEMDA, kalau pemda sepakat, saya yakin akan ada jalan keluarnya dan penduduk juga akan mundur sendiri dengan konpensasi karena menyadari bahwa tanah yang ditempatinya adalah bukan hak dan miliknya.

  22. orang-bandung berkata:

    kereta api sekarang sering anjlok, kenapa ya? mungkin orang dari PT KAI bisa menjelaskan.

  23. fefit berkata:

    kalo kita mau membenahi perkeretaapian harus dengan sepenuh tenaga contohnya masyarakat harus merawat kerata api beserta fasilitasnya jangan malh di rusak

  24. Iman berkata:

    Dimana-mana KA adalah angkutan massal yang ekonomis. Di negara-negara majupun Kereta api tetap dijalankan. Jadi kalau kita berfikir bahwa KA Jakarta- Bandung akan tinggal kenangan, saya kira pemikran itu justru terbalik.

    Faktor utama adalah perlu dibangun double track antara Purwakarta dan Padalarang selain perawatan rel dan lokomotif atau gerbong. Sehingga pada jalur ini kecepatannya akan sama dengan jalur Jkt-Purwakarta.

    Berbagai ide kreatif saya rasa dapat dikembangkan. Bukankan orang kita terkenal banyak akalnya?

    Saya juga mengusulkan agar jalur2 KA di luar Jkt-Bdg yang sudah tidak dipakai dapat dihidupkan kembali.

    Panjang jalur KA dibanding jaman Belanda dulu justru berkurang. Ini yang benar2 pemikiran terbalik. Seharusnya justru bertambah karena KA adalah angkutan darat yang dapat mengangkut penumpang paling banyak.

  25. Him him berkata:

    Ka bandung jakarta sebenarnya bisa lebih menjual lagi apabila jadwal kereta disesuaikan dengan jadwal masuk dan pulang kantor, sekarang jadwal tiba di gambir sekitar jam 8 terlalu siang karena rata2 jam kantor sekitar jam setengah 8nan jadi idealnya jam 7 sudah tiba di gambir, sedangkan untuk jam pulang idealnya jam setengah enam dari gambir

  26. Hari kuntjoro berkata:

    menurutku kalo jalur itu akan mati total juga enggak tapi memang apa yang telah diutarakan teman2 diatas benar, kereta yang lewat dari bandung ke jakarta rasanya berat untuk lari diatas 70 km/jam dengan 6 ato7 gerbong, pertama jalannya menanjak dan sering menikung tajam, lokomotif terlalu ngeden dan saat menikung rodanya berderit karena ditikungan ada rel tambahan untuk penahan roda, kecepatan bisa ditambah dikit kalo loko yang dipakai adalah jenis saudaranya yang dipakai amtrak di amerika dengan tenaga 4500 hp, coba bayangin yang dipakai parahiyangan cc203/204 kemampuannya cuman 2000 an hp
    jadi waktu nanjak ya gak akan bisa lari diatas 40 km/jam, kemudian relnya apa betul semua telah pakai R 54, menurutku untuk jalur ini harus pakai rel type R 60 akan lebih kuat dan aman. Jadi kalo jalur ini pingin tetap eksis memang jarak tempuhnya agar dipersingkat lagi, karena dimana – mana penumpang berharap selain nyaman juga cepet dibanding moda lain, kalo mau buat doubel track di jalur ini tentu akan menghabiskan dana suangat besaaar sekali.

  27. adadeh... berkata:

    sebagai seorang railfans, aku sedih jika liat kereta api mulai ditinggal penggunannya. belum lagi jika ada orang yang pakai kereta api namun tidak mau menjaga kebersihannya.
    hikzz………

  28. Dhika berkata:

    kereta api tuh ga laku gara2 kebijakan pemerintah aja yg salah. Kayak bikin jalan tol kan salah satu kebijakan yg salah.. Apalagi seluruh Jawa maw dikasih jalan tol, salah deh tuh

    perlu diingat bahwa sebenernya tuh kereta api adalah alat transportasi yang paling efisien drpd alat angkutan lainya.
    Coba deh, bila anda iseng2 bandingin konsumsi bbm dari setiap alat angkutan, trus abis itu dibagi penumpang yg ada di dalem situ, pasti konsumsi bbm yg paling dikit utk 1 orang itu kereta deh…
    dijamin…

    Jadi aneh aja dong kalo tarif kereta tuh lebih mahal daripada mobil kecil, karena kereta itu paling efisien.

    Kalo pesawat sih konsumsi bbm utk 1 orang justru lebih banyak daripada mobil. Jadi harap pikir dulu kalo ada tiket pesawat murah

  29. trainlover berkata:

    luph argo gede !

  30. wisnu berkata:

    Betul…moga2ruteKA JKT – BDG tetap survive, selain lebih aman – nyaman, kita juga disuguhi pemandangan indah yg ngga mungkin bs disaingin ketika kita naik moda transportasi selain KA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s