Orang Semakin Kaya Semakin Pelit

Teman saya bercerita, kalau minta permohonan dana kepada orang yang kaya-kaya ternyata tidak mudah. Semakin kaya seseorang maka ia semakin pelit mengeluarkan uang. Anggapan ini, meskipun tidak bisa digeneralisasi, banyak benarnya karena contohnya ada di sekeliling kita. Ada sebuah keluarga yang yang cukup saya segani. Secara kasat mata keluarga ini orang berada. Mobilnya saja dua, suaminya punya pabrik, sementara si istri kepala sekolah sebuah TK terkenal. Tetapi pembantunya mengeluh karena si istri pelit sekali. Pembantu sering kurang makan. Kalau ada makanan yang berlebih, maka si istri lebih suka membuang makanan tersebut ketimbang dikasihkan ke pembantu. Oh…

Pelit alias kikir alias medit adalah karakter khas manusia. Jika sedang tidak punya harta, manusia memohon kepada Tuhan agar diberi rezeki, tetapi ketika rezeki yang datang semakin lama semakin banyak, mulailah dia berhitung jika mengeluarkannya untuk amal. Mungkin dia merasa harta yang diperoleh adalah hasil jerih payahnya, maka tidak rela ia membagikannya secara ‘gratis’ kepada orang yang membutuhkan. Ingat kisah Qarun  yang diceritakan di dalam Al-Quran? Dulunya ia seorang yang miskin, tetapi ia bermohon kepada Tuhan agar diberi harta yang melimpah. Dia berjanji akan membantu orang miskin. Tuhan mengabulkan doanya. Hartanya semakin banyak, tetapi bersamaan dengan itu sifat kikirnya  pun timbul. Tuhan menghukum Qarun dengan menenggelamkan dia bersama hartanya itu (makanya kalau orang menemukan harta terpendam dikatakan menemukan harta karun).

Di dalam Al-Quran, orang yang kikir diibaratkan sebagai orang yang tangannya terbelenggu. Tangan yang terbelenggu (misalnya diborgol) tentu tidak bisa berbuat apa-apa, termasuk memberi, karena tangannya tertahan untuk melakukan sesuatu. Pernahkah anda ketika berjalan-jalan di sekitar Masjid Salman atau di tempat lain lalu melihat pengemis dan anda merasa tangan anda tertahan untuk memberi sedikit recehan? Hati-hati, itu pertanda tangan anda mulai terbelenggu.

Di dalam ajaran Islam, harta yang dimiliki seseorang juga berfungsi sosial, sebab di dalam harta itu terkandung hak orang lain, yaitu hak orang-orang miskin. Orang-orang miskin kalah dalam mencari rezeki karena kalah segala-galanya, sementara kita yang memiliki harta dan kedudukan menang karena mempunyai banyak kesempatan dan peluang. Orang-orang miskin kalah karena tidak berpendidikan cukup tinggi, tidak punya modal, tidak punya kesempatan, tidak punya akses, dan sebagainya. Jadi, secara tidak langsung orang-orang miskin itu punya andil dalam perolehan rizki kita. Karena itu, hak mereka harus kita keluarkan dari setiap rizki yang kita peroleh.  Hak tersebut harus dikeluarkan dalam bentuk zakat, infaq, sadaqah, dan sebagainya. Inilah cara Tuhan menyuruh kita membersihkan harta kita dari yang bathil (lawan dari hak adalah bathil).  Harta yang bersih membuat hidup kita bersih, tenang, dan bahagia. Lihatlah orang-orang yang memperoleh harta dari cara yang bathil, tidak pernah harta itu menjadi barokah buat dia. Entah rumahnya terbakar, keluarganya berantakan, anaknya masuk penjara, dan sebagainya.  

Erich Fromm pernah menulis di dalam sebuah buku bahwa modus hidup manusia itu ada dua, yang pertama adalah memiliki (to have) dan kedua menjadi (to be).  Ada orang yang mendasarkan kebahagiaan pada apa yang dimilikinya. Semakin banyak ia memiliki materi, ia semakin  merasa bahagia. Karena itu, orang yang punya modus hidup “memiliki” cenderung menjadi tamak dan rakus, sebab dia akan terus mengumpulkan materi sebanyak mungkin.  Kepentingan diri sendiri lebih dia utamakan daripada kepentingan orang lain. Dari sini sifat kikir itu muncul. Tetapi, pola hidup yang sehat adalah “menjadi”, yaitu bagaimana membuat hidup ini bermakna. Kebahagiaan diperoleh dari berbagi kepada orang lain, kebahagiaan diperoleh karena memberi. Orang lain bahagia karena pemberian kita, kita juga merasa bahagia karena telah ikut meringankan penderitaan orang lain.

Saya pribadi belum merasa menjadi orang kaya dan memang tidak bercita-cita menjadi orang kaya. Saya ingin hidup sederhana saja. Setiap kali saya memperoleh rizki dari Allah SWT saya takut berlaku kikir. Harta ‘kan tidak dibawa mati, hanya amal shaleh yang akan menemani hidup kita di alam kubur. 

Tulisan ini untuk mengingatkan diri saya sendiri supaya tidak menjadi orang yang tangannya terbelenggu. 

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

14 Balasan ke Orang Semakin Kaya Semakin Pelit

  1. aulia berkata:

    Setuju Pak…
    Doakan agar tidak menjadi orang yang kikir.
    Namun sering kali saya menahan tangan saya untuk memberi pengemis2 di salman.
    Diantara orang2 yang tangan saya tertahan untuk memberi adalah pengemis yang merokok (ada lho) dan pengemis laki-laki yang secara jasmani masih kuat untuk bekerja.
    Mungkin benar perda di jakarta yang melarang orang memberi kepada pengemis karena sering kali pengemis bukan fakir miskin yang benar-benar membutuhkan uluran tangan. Sering kali mereka adalah orang-orang yang malas bekerja meski tidak semua. Mungkin lebih baik infak kita disalurkan melalui lembaga-lembaga terpercaya semacam rumah amal salman atau rumah zakat. Dengan adanya lembaga2 itu mungkin infak kita yang terbatas ini akan lebih tepat sasaran.

  2. rinaldimunir berkata:

    @Aulia: memang, tidak semua pengemis perlu dikasihani, terutama yang berpura-pura, masih kuat, anak-anak yang disuruh orangtuanya untuk menegmis, dsb. Ada satu atau dua yang benar-benar perlu dikasihani. Secara kasat mata kita bisa menilainya sendiri.

  3. adywicaksono berkata:

    setuju sama pak Rin dah

  4. nanungnurzula berkata:

    Yang pasti kalau mau kaya tidak salah lho.
    Ada realitas kok kalau harta orang kaya itu berbeda jauh jumlahnya dibandingkan yang sedikit kurang kaya. Aku hanya khawatir kalau nggak ada orang kaya dan nggak mau berniat kaya, terus siapa yang menyangga perekonomian ini. Nanti kalau yang kaya bukan dri golongan kita, kita nggak terima. Tapi kita sendiri membenci orang kaya. Apa mau kaya tapi belajar dari orang miskin ??? Seperti jaman dulu apa mau bisa teknologi informasi tapi belajar dari yusuf randi, yang dari yang punya blog ini lah !!!

  5. rinaldimunir berkata:

    @Nung: tidak salah kok nung, mau kaya mau hidup sederhana, semuanya boleh. Tapi sejak dulu memang saya sudah dilatih hidup sederhana, tidak berlebihan, tidak juga kekurangan. Sederhana kan filosofi hidup, tidak berarti miskin. Ya kan Nung?

  6. didin km berkata:

    Jadi ingat QS.47:38
    ..kamu adalah orang yg diajak untuk menginfakkan hartamu di jalan Allah, lalu ada diantaramu orang yg kikir, dan barang siapa yg kikir maka sesungguhnya ia kikir thd dirinya sendiri. Dan Allah lah yg Mahakya, dan kamulah yg membutuhkan karunia-Nya….

    Serem juga ya kalo kikir, nanti ‘dikira’ Allah dah sangat kaya dan tidak ‘membutuhkan-Nya’ lagi.. naudzubillah

  7. nanungnurzula berkata:

    waktu masih baru-baru di Institut Tebelah Bonbin, aku sering omongan orang luar,
    eh kalo mahasiswa disitu “ini” and “itu”
    contoh kalimatnya
    “wah susah anak itb mikirnya aneh”
    “50 % penghuni rsj bandung anak itb”
    “jangan kepinteren nanti kayak anak itb”
    “anak itb sombongnya minta ampun”
    [btw itu padahal itb, apalagi kalau spesifik jurusan Ilmu komFuter]
    kalau didistribusi normal memang seh msh itb itu termasuk error variance
    jadi sama yang nggak error variance yaaaaaa pantaslah dapet komentar semacam itu atau mungkin lebih negatif lagi
    BEGITU JUGA BUAT YANG KAYA
    atau dalam bahasa statistiknya ukuran kecerdasan atau kepandaian itu diganti kekayaan
    ingat temuan pareto 80% kekayaan ditangan 20% orang, itu hukum alam, jangan coba dilawan
    apalagi temuan thomas stanley tentang 1% yang paling kaya di amerika
    yaaaa kira-kira yang dalam distribusi kekayaannya termasuk error variance ya dapet komentar seperti judul ini makin kaya makin pelit, makin pinter makin gila
    tapi jangan lupa baik kepandaian ataupun kekayaan itu keunggulan
    menjadi yang 5% terpandai harus diraih dengan hal-hal yang positif
    begitu juga menjadi kaya, sebaiknya kita belajar menjadi kaya
    karena kalau menjadi pandai kita sudah bisa, setidaknya itulah klaim anak cap gajah

  8. simpri berkata:

    terimakasih sudah diingatkan, kikir bukan monopoli orang kaya. Tidak perlu kaya untuk menjadi kikir. Seperti tidak perlu kaya untuk menjadi dermawan.

  9. Fina Martiningtyas berkata:

    Semoga kita tidak menjadi orang yang kikir.

    Kita memang tidak boleh menilai orang dari penampilannya. Tapi, kita juga harus mengecek kebenaran cerita orang, Pak.
    Barangkali orang yang sedang dibicarakan memang sedang kesulitan.

  10. Derri berkata:

    Klo sy pribadi lbh cndrung bcita2 jd orang kaya tp kaya yg ‘barokah’. Knp? Krn dg kaya pintu unt bsdkah, pintu unt b’ibadah lbh tbuka lebar. trus bgmana biar ga pelit? byk2lah melihat kebawah u mslh dunia dan pbyk lah melihat keatas unt mslh akhrot (Sy lupa hadistny). Bcita2lah stinggi langit tp jgn lupa tetap menapakkan kaki dbumi.

  11. Kodariyah berkata:

    Ya allah,,bos saya sangat pelit terhadap saya,gaji saya dicicil2,kalo ada makanan dimeja juga saya kdang tidak dikasih (pilih2 kalo yg enak2) ,dia baik dimuka umum,tapi sama saya dia sangat pilih kasih, tidurpun aq diatas dipan yg rusak dan tak layak,,,

  12. BOY berkata:

    PENGALAMAN : dulu saat saya msh kerja dan punya uang bnyk. Saudara saudara saya pada nganggur. Saya merasa kasihan kpd mrk. Saya kdng memberi pakaian, sepatu kpd mrk. Saya juga kdng mentraktir mrk. Tapi sekarang saya nganggur dan tdk punya uang. Saudara saudara saya sdh pada kerja dan jadi org sukses. Mrk ternyata sombong dan pelit kpd saya. Saya ingin ikut kerja kpd mrk, mrk tdk memperbolehkan saya. Saya pinjam uang kpd mrk tp tdk diberi. Shg saya berubah jadi benci dan memusuhi mrk.

  13. BOY berkata:

    SAAT SAUDARA SAYA MSH MISKIN. DIA SERING DIREMEHKAN KERABAT KERABAT NYA. SAYA YG PALING SIMPATI KPD DIA. TP STLH DIA KAYA, DIA MALAH AKRAB DG KERABAT KERABAT NYA YG DULU MEREMEHKAN DIA. SAYA YG DULU PALING SIMPATI DG DIA, MALAHAN SAYA DIJAUHI SAMA DIA.

  14. Dona berkata:

    Hidup itu memang sepertinya hanya untuk cari uang dan uang. Orang kaya maupun yg miskin sibuk cari uang,yg kaya aja masih cari uang terus apalagi yg miskin. Orang kaya memang banyak yg pelit. Kebanyakan dari mereka itu hanya mau memberi sumbangan ke lembaga atau organisasi yg juga bisa menguntungkan mereka. Mereka jarang memberi orang yg di jalan yg benar benar keliatan orang susah dan kurang peduli sm orang susah di lingkungannya. Orang yg benar benar miskinpun belum tentu selalu mereka tolong. Bahkan orang miskin pinjam uangpun tidak selalu di kasih,apalg kalau orang miskinnya minta cuma cuma. Wajarlah kalau si orang miskin kadang ada yg merasa sakit hati terhadap orang kaya. Orang mana ada yg mau miskin,orang miskin juga pasti sudah banyak usaha tapi tidak mencukupi kebutuhannya ya terpaksa minta tolong sama orang kaya,ternyata tidak semua orang kaya itu dermawan yg tulus. ini fakta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.