Nonton Pagelaran UKM di Sabuga

Sabtu malam tanggal 3 Mei 2008 yang lalu, saya menyempatkan diri hadir pada pegelaran kesenian Minangkabau yang diadakan oleh Unit Kesenian Minang ITB. Tahun ini tema pagelaran adalah “Marantiang Budayo Mamaga Pusako”, yang kalau diterjemahkan artinya kurang lebih adalah “merentangkan budaya sambil menjaga pusaka”.

Memasuki ruang pertunjukan yang berbentuk seperempat lingkaran, hati ini berdecak kagum. Penonton membludak memenuhi setiap kursi. Bahkan, setelah pertunjukan berlangsung, penonton masih tetap mengalir masuk. Mungkin kalau UKM menggunakan seluruh ruang pertunjukan Sabuga (setengah lingkaran), setiap tempat duduk akan terisi. Tiket pertunjukan sebesar Rp 15.000 mungkin dianggap tidak terlalu mahal, buktinya penonton yang ramai itu. Penonton tidak hanya mahasiswa dan perantau minang di Bandung, tetapi tampak juga orang dari etnis dan suku lain. Tampaknya pertunjukan kesenian UKM ITB selama 2 tahun terakhir berhasil memancing minat orang-orang yang notabene bukan orang Minang untuk ikut menyaksikan. Selain UKM ITB, pada malam yang sama ada satu pertunjukan budaya lagi tetapi tempatnya di Aula Timur, yaitu dari unit PSTK (Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan) ITB, sebuah unit budaya Jawa.

Kembali ke pertunjukan kesenian UKM ITB. Pagelaran kesenian dibungkus dengan sebuah kisah drama yang mengambil setting zaman penjajahan Belanda di Nagari Koto Gadang, sebuah kampung dekat Bukittinggi. Drama diselingi oleh gerak tari Minang dan iringan musik talempong. Selain ada tarian, ada juga randai. Yang baru kali ini adalah dimasukkannya musik rebab sebagai musik pengantar dan penjalin cerita. Tukang rebab memainkan musik rebab sambil mendendangkan cerita. Sayang tukang rebabnya belum piawai memainkan rebab, begitu juga cengkok dendangnya masih belum terasa pas. Yang saya tahu, rebab itu mendayu-dayu sebagaimana halnya ombak laut yang menerpa pantai pada waktu malam (musik rebab itu dari pesisir pantai, khususnya dari Kabupaten Pesisir Selatan di Sumatera Barat). Tak apalah, maklum yang memainkannya mahasiswa, bukan pemusik rebab profesional.

Secara umum pertunjukan berlangsung sukses. Namun demikian, saya tidak memungkiri ada kekurangan pertunjukan kali ini. Meskipun saya ditunjuk sebagai dosen pembina unit ini, tapi hal itu tidak menghalangi saya untuk memberikan penilaian, bukan? Saya melihat masih ada yang perlu diperbaiki untuk pagelatan tahun depan. Begini nih penilaian saya. Ide cerita yang ditampilkan sebenarnya sudah baik, tetapi dibandingkan dengan pagelaran tahun lalu, pagelaran tahun ini kurang greget alias kurang memikat. Jalan cerita terkesan melompat-lompat. Tidak ada alur cerita sebelumnya yang menjelaskan kenapa Ibrahim dianggap sebagai musuh Belanda. Hanya ditampilkan Ibrahim yang kaget ketika Datuk Mangkuto Alam menyampaikan niat Belanda untuk masuk nagari. Itu saja. Drama lebih banyak didominasi diisi oleh banyolan beberapa pemain (yang nyaris mendominasi waktu pertunjukan). Tari-tarian yang ditampilkan sedikit sekali dan nyaris seragam. Untung saja ada tari piring yang “menyelamatkan” penampilan aneka tarian. Menari piring di atas pecahan kaca sungguh mendebarkan dan mengundang tepuk tangan penonton. Tari piring sengaja dijadikan tari pemuncak karena dihadirkan pada akhir acara.

Sayang sekali, pertunjukan drama tersebut dicampuri dengan banyak pesan sopnsor. Bank Nagari menjadi salah satu sponsor utama pagelaran ini. Pemain mempunyai beban moral untuk mengiklankan Bank Nagari dalam alur cerita. Tentu saja ini tidak nyambung. Belum lagi di tengah acara ada kata sambutan dari perwakilan bank yang betele-tele. Sebenarnya panitia bisa menyatukan rangkaian kata sambutan dan lain-lain di awal acara sehingga tidak mengganggu alur cerita. Oh ya, satu lagi, sistem suara kali ini agak jelek. Ini terbukti dari mike yang digunakan pemain sering mati sehingga dialog pemain kurang terdengar oleh penonton di belakang (kok bisa Sabuga yang megah itu mempunyai sound system yang jelek?)

Terlepas dari kekurangan yang ada, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada adik-adik maahsiswa ini. Di tengah jadwal kuliah yang ketat, ujian, tugas-tugas yang menumpuk, dan lain-lain, mereka rela meluangkan waktunya untuk berlatih dan terus berlatih setiap sore, malam, dan hari libur, sebelum akhirnya mereka berhasil menghadirkan pagelaran kesenian minang yang megah.

Sukses untuk pagelaran tahun depan ya….

Pos ini dipublikasikan di Cerita Minang di Rantau, Seputar ITB. Tandai permalink.

9 Balasan ke Nonton Pagelaran UKM di Sabuga

  1. reiSHA berkata:

    Siiip Pak, terima kasih banyak buat evalusinya. Nanti disampaikan pada rapat panitia. Semoga UKM makin sukses🙂

  2. kang4roo berkata:


    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SITUS “Leoxa.com”
    (Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)

    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

  3. Velly berkata:

    Wah, sayangnya saya gak dateng pas tahun lalu pak. Tapi dibanding jaman saya yg masih pentas di Aula Barat saya menilai pagelaran kali ini lebih bagus. Sound system Albar waktu itu jauh lebih parah dr yg kemarin. Lighting yg skrg jg bagus.
    Selain itu pemusik kmrn jg bagus pak. Saya merasa dari tahun ke tahun, bidang musik UKM tambah solid dan kreatif.
    Klo tari, saya emang agak lebih kritis, soalnya ini lahan saya dulu :)). Memang tari-tarian yg ditampilkan gak beda dari tahun ke tahun, tapi atraksi injak2 piringnya bagus. Bikin penonton terkesima. Dan pastinya, pengorbanan buat latihan itu lebih berat (diselingi dengan darah dan airmata :p)

    Salut buat UKM!

  4. rinaldimunir berkata:

    @Velly: tari piriangnya memang bagus sekali, tapi kalau tarian yang lain biasa saja. Pagelaran akan lebih lengkap lagi jika tidak hanya tarian dan randai, tapi juga lagu minang dengan tema lagu yang menyesuaikan dengan tema cerita.
    Penilaian di atas adalah pendapat pribadi, mungkin saja penonton lain mempunyai penilaian berbeda, maklumlah rambut memang sama hitam, tapi isinya berbeda-beda.

  5. banyak sekali kekurangannya ya pak. saya juga berpikiran seperti itu, kali ini juga tidak tokoh yang menonjol, seperti pemeran utama, ibrahim juga jarang tampil tidak tampak sosok kepahlawanan pada ibrahim.
    saya juga tidak bisa berbuat banyak pak, maklum angkatan termuda yang tidak menjadi tim materi.
    tarian 3 Warna yang menggabungkan 3 tari sekaligus juga saya pikir membosankan penonton.
    semoga tahun depan bisa lebih baik lagi.

    http://sutanmudo.co.cc

  6. Rian berkata:

    wow,
    Pak rinaldi keren. Ga salah kami minta Bapak jadi pembina 3 tahun lalu. hehe

    Penilaian Bapak mungkin senada dengan yang saya rasakan. Hampir semuanya. Tp hal-hal itu juga telah kami prediksi sebelumnya (kebetulan saya dan teman2 beberapa kali liat gladi resik adik2). Tapi dari evaluasi dan perbaikan yang kita sarankan mungkin itulah hasil terbaik yg dapat ditampilkan. Kalau bisa untuk pagelaran2 yang akan datang kita minta Bapak untuk menonton gladi dan memberikan sedikit pengarhan. Biar adik2 tambah semangat juga pak.

    Tp jujur saja saya sangat2 terkesan dengan pagelaran tahun ini. Salah satunya dengan membludaknya penonton (ini penonton terbanyak pagelan ukm). Selain itu sambutan p[enonton juga sangat2 wah sampai ke detail2nya. Selain itu, Kemasan kali ini cukup berbeda dengan sebelum2mya. Mungkin untuk tahun depan harus lebih diperhatikan lagi khususnya kekurangan2 yang sudah bapak evaluasi. Masalah promosi saya juga salut pada UKM sekarang. KITA suda hmendekati profesional. hehe

    Chayo UKM
    Thanks adiak2 kalian telah buat kami Bangga
    Makasih Banyak juga untuk pak Rinaldi yang telah mau membimbing adiak2 kita

    Regard
    Rian UKM01

  7. bayu berkata:

    wah, saya setuju banget dengan penilaiannya pak..

    utk saya, dies plg bagus ttp “Baralek Gadang” th 2000..

  8. Robby Permata berkata:

    salam kenal P Rinaldi…
    kalo jaman sy d UKM dulu pembimbingnya masih P Benny Khatib.

    saya cuma heran, rasanya sejak tahun 2000, konsep acara pagelaran dies/lustrum mirip2 semua ya? pdhal sebelum dies Baralek Gadang tahun 2000 konsep acaranya berbeda tiap tahun :

    – Minang Rintak Malaka tahun 1999 berisi full tari, musik, dan sastra (kenapa sekarang tidak ada ide untuk mengeksplorasi sastra??) tanpa drama lucu2an.
    – Takajai tahun 1997 memilih format lomba lagu pop minang se jawa-bali..
    – Mambangkik Batang Tarandam tahun 1996 merupakan pagelaran musik dan tari yang tematik..
    – dst..

    Setelah Baralek Gadang, semua pagelaran UKM jadi mengandalkan drama lucu2an, porsi tari dan musik jadi sedikit berkurang (atau cuma perasaan saya aja?? hehe..). Dies Kaba Saisuak tahun 2001 mulai mempopulerkan Randai, yg ternyata juga masih d copy idenya sampai sekarang..

    Saya salut dengan terobosan baru seperti Lomba karya tulis ilmiah, wisata kuliner (ini yg paling top!! hehehe..), dan lokasi acara yg di sabuga.. tp ya tolong jangan dilupain isi pagelarannya dong!🙂

    -Rp- ==> Sipil 97

  9. harrywardana berkata:

    salam kenal Pak..

    senada dengan bapak,
    menurut saya lebih “seram” dan “sakral” dies32, sukses selalu ukm itb!
    dies34 piro lagi kan? mantap!

    (simpatisan di IT Telkom, hehe)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s