“Terpenjara” Di dalam Bis Primajasa (Bandung – Bandara Soeta 19 Jam euy!)

Kemaren, 8 Mei 2008, jalan tol bandara menuju Bandara Soekarno-Hatta (Soeta) terputus karena banjir akbat pasang air laut menggenangi ruas tol bandara. Akibatnya jalan menuju bandara macet total. Perlu berjam-jam menuju bandara. Puluhan ribu orang di atas kendaraan terjebak di jalan tol.

Membaca berita di atas, saya jadi teringat pengalaman yang sama yang saya alami pada tanggal 1 Februari 2008 yang lalu. Saya “terpenjara” di atas bis Primajasa selama 19 jam karena terjebak macet total di jalan tol kota Jakarta. Ceritanya begini. Tanggal 1 Februari 2008 saya akan terbang ke Manado, Sulawesi Utara, guna melayani bimbingan Tugas Akhir mahasiswa di sana. Jadwal pesawat saya (Lion Air) adalah pukul 20.15 malam. Saya berangkat ke Bandara dengan bis Primajasa dari BSM Bandung pukul 13.30. Dengan asumsi ke Bandara Soeta pada siang hari memakan waktu 4 jam, saya perkirakan sampai di Bandara 17.30 atau kalau di Jakarta terkena kemacetan paling lambat tiba pukul 18.00 lah.

Memasuki Jakarta, perjalanan mulai tersendat. Ribuan kendaraan nyaris tidak bergerak. Berjalan sedikit, berhenti lagi. Saya sudah mulai panik nih, jangan-jangan saya ditinggal pesawat. Memasuki malam, saya masih berada di jalan tol Cawang. Jarak 1 kilometer saja ditempuh dalam waktu 1 jam lebih. Rupanya banjir di Jakarta membuat kemacetan total di mana-mana. Dari televisi di atas bis saya baru tahu ternyata kemacetan parah tersebut disebabkan oleh terputusnya ruas tol pada KM 26 di jalan tol bandara. Karena jalan tol Cawang terus menyambung hingga ke Bandara, akibatnya kendaraan yang menuju ke arah barat Jakarta tidak bisa bergerak. Hingga tengah malam saya masih berada di jalan tol dalam kota (mungkin di daerah Tebet barangkali). Saya sudah tidak memikirkan naik pesawat lagi karena pasti sudah tidak mungkin. Paling-paling saya berharap pesawat delay, tapi kalau sudah 5 jam lebih begini dari jadwal seharusnya apa masih mungkin delay? Hingga waktu subuh dinihari saya masih berada di kawasan Tomang.

Saya mau pulang saja ke Bandung tetapi tidak bisa sebab kendaraan tidak bisa mundur. Kalau pun saya turun di jalan tol, belum tentu ada kendaraan yang menuju Bandung atau ke terminal bis/kereta api. Akhirnya saya dan penumpang bis pasrah saja di dalam bis, tidak bisa berbuat apa-apa. Bis tidak bisa bergerak, benar-benar macet total. Penumpang di atas bis mulai didera rasa lapar. Mau makan tidak ada yang menjual makanan di dalam tol. Dari atas bis saya melihat masih puluhan kilometer kendaraan yang tidak bergerak di depan kami, sementara puluhan kilomter kendaran lain menungu di belakang.

Untuk urusan “ke belakang”, untung saja di atas bis ada toilet. Kebayang penumpang di dalam mobil atau bis tanpa toilet, bagaimana mereka itu mau melaksanakan urusan ke belakang di tengah kemacetan total di jalan tol itu. Kasihan lagi kalau ada bayi atau balita di dalam kendaraan, tentu mereka sudah stres. Semalaman para penumpang terjebak di jalan tol dalam kota dalam keadaan lapar, lelah, dan tanpa kepastian kapan penderitaan di jalan akan berakhir.

Pagi hari sampailah kami di jalan tol bandara. Dari jauh terlihat jalan tol tergenang banjir setinggi 1 meter. Kendaraan menuju Bandara dialihkan melewati kawasan Cengakareng. Di Cengkareng kemacetan juga luar biasa sebab bis kami memasuki jalan-jalan kampung yang sempit. Jam 9 pagi bis berhasil memasuki belakang bandara dan tiba di Bandara Soeta pukul 9.15. Total waktu dari Bandung ke Bandara Soeta adalah 19 jam lebih.

Tiba di Bandara saya tidak pikir panjang lagi, langsung balik ke Bandung dengan bis Primajasa yang lain. Rencana ke Manado saya urungkan. Perjalanan pulang ke Bandung juga tidak kalah macetnya karena bis tidak bisa melewati tol bandara. Kendaraan dialihkan ke kota Tengerang yang juga tidak kalah macetnya.

Menurut saya, jalan tol bandara itu sudah salah dari awal. Sudah tahu melewati rawa-rawa dekat laut, mengapa Pemerintah tidak membuat jalan layang saja di atas rawa itu sehingga tidak bakal terganggu oleh banjir. Jika jalan tol bandara sering putus karena bajir, apa Pemerintah tidak malu dengan program Visit Indonesia Year 2008?

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

6 Balasan ke “Terpenjara” Di dalam Bis Primajasa (Bandung – Bandara Soeta 19 Jam euy!)

  1. mursyid berkata:

    ya gitulah bang rin, penyakit kita (termasuk saya di dalamnya):
    1. tidak punya planning
    2. Kalaupun ada, planningnya tidak lengkap/detail
    yang lebih hebat lagi, kelemahan ini kita ulang2, jadi tambah parah.
    semoga ke depan lebih baik

  2. adywicaksono berkata:

    Semoga pembangunan merata seluruh Indonesia, Indonesia bukan cuman Jakarta, jadi mohon pemerintah bangun kota2 lain, hentikan pembangunan gedung2, jalan2 di Jakarta, kalau mau bangun silakan di luar Jakarta… pelan2 nanti sumber daya manusia akan menyebar keluar dari Jakarta… dan Jakarta gak akan overload, kalau overload ya kayak skrg ini

    Banjir Air
    Banjir Orang
    Banjir polusi
    Banjir uang
    Banjir Koruptor
    Banjir mobil
    Banjir motor
    Banjir semuanyaaaaaaaa

    Semua orang Indonesia matanya ke Jakarta semua buat cari uang….

  3. quibids review berkata:

    Thanks for your useful article. Other thing is that mesothelioma is generally a
    result of the inhalation of dust from asbestos fiber,
    which is a extremely dangerous material. It can be commonly seen among employees in the engineering industry that have long exposure to asbestos.

    It can also be caused by living in asbestos protected buildings for a long time of time,
    Family genes plays an important role, and some consumers are more vulnerable towards the risk when compared with others.

  4. Hello there! Do you know if they make any plugins to safeguard against hackers?
    I’m kinda paranoid about losing everything I’ve worked hard on.
    Any tips?

  5. And, even with light colors, don’t pick the entire gamut. That pretty much summarizes my current project, a bathroom remodel jobsing estimate to know what you are prepared to do because the levelof the remodel jobs will not be a bad idea, she thought.

  6. Ping balik: Mudik yang “Horor” dan Hilangnya Rasa Empati | Catatanku

Tinggalkan Balasan ke bathroom renovations perth Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.