D.O

Ini bukan judul film komedi vulgar beberapa waktu yang lalu, tetapi tentang putus kuliah (drop out alias D.O) mahasiswa ITB. Bulan Juni dan Juli ini adalah masa-masa yang “sulit” bagi para pengambil keputusan akademik di ITB, khususnya Ketua Progarm Studi, Dekan, dan Wakil Rektor Bidang Akademik. Pada kedua bulan itu akan ditentukan nasib puluhan mahasiswa ITB, apakah harus di-DO atau masih boleh melanjutkan kuliah. Ada 3 alasan yang membuat mahasiswa ITB terpaksa DO: tidak lulus tahap TPB sampai waktu 2 tahun (karena IP < 2,0 atau masih ada nilai E), tidak lulus tahap Sarjana Muda sampai batas waktu 4 tahun khusus angkatan 2003 ke bawah (karena  IP < 2,0 atau masih ada nilai E) – angkatan 2004 dan seterusnya tidak ada lagi tahap Sarjana Muda, atau tidak lulus tahap sarjana sampai batas waktu 6 tahun (7 tahun untuk mahasiswa angkatan 2003 ke bawah). 

Sebenarnya istilah D.O sudah tidak ada lagi di ITB, yang ada adalah “mengundurkan diri”. Mahasiswa yang terkena batas waktu studi diminta membuat surat pengunduran diri, kalau tidak mereka diterminasi oleh ITB sendiri. Apapun namanya tetap saja artinya D.O. Di ITB ada ungkapan miris yang terkenal: “Lulus ITB lewat pintu mana? Lewat pintu Sabuga atau lewat pintu gedung rektorat?”. Kalau lewat pintu yang terakhir ceritanya berakhir dengan kesedihan.

Kenapa bulan Juni-Juli disebut masa yang “sulit”? Bulan Juni dan Juli adalah masa-masa akhir tahun ajaran. Pada bulan-bulan itulah ditentukan nasib masa depan sejumlah anak manusia. Para pengambil kebijakan akademik dihadapkan pada persoalan antara perasaan kemanusiaan dan penegakan aturan. Meskipun menurut aturan mahasiswa tersebut harus D.O, tetapi pertimbangan kemanusiaan tetap tidak bisa disingkirkan begitu saja. Yang namanya manusia pasti punya perasaan, bukan? Sedapat mungkin mahasiswa calon D.O itu diperjuangkan apakah masih bisa ditolong tanpa melanggar aturan di ITB sendiri. Kalau ada celah untuk bisa membantu mereka, kenapa tidak dicoba. Pemberian semester pendek bagi mahasiswa yang terkena kasus (istilah untuk mereka yang terancam D.O) adalah salah satu cara. Pada semester pendek ini mata kuliah yang bermasalah dibuka untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa kasus memperbaiki nilainya.

Mungkin orang luar bertanya-tanya kenapa mahasiswa ITB bisa D.O padahal mereka merupakan mahasiswa terbaik di negeri ini (diukur dari passing grade UMPTN yang tinggi). Kalau tidak berotak pintar tentu tidak bisa lolos masuk ITB, begitu kata sebagian orang. Nyatanya, setiap tahun ITB men-D.O puluhan hingga ratusan mahasiswa dari segala tingkat. Bukan faktor ekonomi yang membuat mahasiswa ITB D.O; tidak ada alasan karena tidak mampu secara ekonomi maka mahasiswa terkena D.O. Masalah ekonomi bisa diatasi, banyak pihak di ITB bisa membantu masalah ekonomi asalkan mahasiswanya mau mengungkapkan masalahnya. Kebanyakan mahasiswa D.O dari ITB bukan karena dia tidak cerdas. Masalah non teknis lah yang menyebabkan mahasiwa putus kuliah, dan kebanyakan karena faktor lingkungan dan persoalan psikologis. Misalnya, kehilangan motivasi, terlibat pergaulan yang tidak jelas sehingga malas kuliah dan mengerjakan tugas, memikirkan masalah keluarga (orangtua cerai misalnya), mempunyai kesenangan lain sehingga melalaikan kuliah, dan sebagainya.   

Saya rasa sangat berat untuk memutuskan nasib mahasiswa yang terancam D.O. Siapapun pejabat di ITB tentu tidak ingin mahasiswanya D.O. Sebelum vonis D.O diputuskan, biasanya orangtua mahasiswa sudah dipanggil datang jauh-jauh ke Bandung satu tahun sebelumnya untuk diberikan penjelasan. Sukur-sukur orangtua mahasiswa bisa memotivasi putra/putrinya untuk menggunakan kesempatan 1 tahun terakhir yang menentukan. Ada yang bisa lolos, tetapi banyak juga yang harus menerima nasib dikeluarkan. Waktu menjadi dosen Wali, entah sudah beberapa kali kami memanggil orangtua mahasiswa kasus ke sini. Suasana pertemuan kami dengan orangtua mahasiswa mengharu biru, penuh dengan air mata, terutama sang ibu mahasiswa. Jelas, orangtua mana yang ingin anaknya di-DO. Berbagai upaya dilakukan untuk “menyelamatkan” nasib si mahasiswa. Untuk kuliah yang saya pegang sendiri, saya masih bisa memberikan ujian perbaikan, tugas tambahan, dan sebagainya, tetapi untuk kuliah yang dipegang kolega saya belum tentu dia mau. Rekan-rekan saya ada yang strict dan ada juga yang toleran, bergantung orangnya. Saya kira itu wajar, karena mereka tidak ingin membuat perkecualian untuk 1 orang mahasiswa atau tidak ingin dianggap melanggar aturan. Kalau sudah begini masalahnya memang pelik, hati manusia berperang antara rasa kasihan dengan ketaatan pada aturan.

Beberapa orangtua ada yang tegar menerima nasib anaknya terancam D.O. Mereka berpandangan lebih moderat. Kalau anaknya tidak mampu kuliah di ITB tentu tidak bisa dipaksa. Mungkin dengan pindah ke perguruan tinggi lain si anak menemukan kecocokan. Menurut saya kesuksesan tidak harus tetap berkuliah di ITB, mungkin di tempat lain mahasiswa tersebut bisa lebih berhasil dibandingkan dengan kalau tetap kuliah di ITB. Banyak teman dan mahasiwa saya yang D.O dari ITB ternyata sukses menjadi pengusaha dan pekerjaan lain. Dari cerita tentang pekerjaan mereka (waktu ketemu saya), cara bicara, dan rasa percaya diri mereka yang tetap tinggi, mengesankan bahwa mereka adalah orang-orang yang cerdas, masih terlihat sisa-sisa kecerdasan pada wajahnya (he..he), hanya nasib saja yang membuat mereka harus keluar dari ITB dulu. D.O dari ITB bukanlah end of the world

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

25 Balasan ke D.O

  1. Hmmm, D.O., bagi saya kesalahan dari mahasiswanya sendiri… Waktu yang diberikan cukup banyak, jadi harusnya si mahasiswa yang bertanggung jawab… 😀

  2. Oemar Bakrie berkata:

    Ada mahasiswa perwalian saya yg sejak awal TPB sudah tidak semangat karena merasa tidak cocok jurusannya dan dia ingin berbisnis saja. Akhirnya setelah 2 th. di TPB dia mengundurkan diri. Waktu kebetulan ketemu lagi, wajahnya tampak segar berseri-seri, badannya kelihatan lebih tegap dan sehat. Kesimpulannya, minat memang tidak bisa dipaksakan dan ITB bukan satu-satunya pilihan …

    • Gregorius Yanotama berkata:

      terus terang ini terjadi pada saya pak,,

      saya angkatan 2005,

      saya punya hobi di bidang agroindustri, produk pangan dan pertanian, yang saya incer dulu adalah teknik pangan IPB, tetapi orang tua sangat menekan saya untuk masuk ITB, saya coba dan ternyata lolos, apapun alasan saya untuk tidak masuk tidak diterima, karena memang kita semua tahu mutu di ITB baik dan ternama, setelah itu saya merasa kehilangan semangat…

      tahun-tahun pertama saya habiskan dengan menjalani multilevel marketing, jualan kaos, dll

      saat ini saya membuka usaha ternak udang.

      sehingga saat ini saya merasa sangat terpaksa untuk melangkah, tapi yaa, karena sudah terlanjur basah, saya akan berjuang untuk menyelesaikan, tinggal sedikit sks yang harus saya ambil, saat ini saya di semester 10, semester depan hanya 3 sks mata kuliah wajib dan TA II dengan beban 4 sks,,

      mohon dukungannya…
      karena kalau bagi saya berat rasanya menjalani sesuatu ‘without passion inside’

  3. Rizal berkata:

    Jadi inget dulu nyaris D.O juga karena sarmud…

  4. yaniwid berkata:

    Jangankan menetapkan DO, menetapkan nilai mahasiswa di akhir semester saja selalu menjadi hal yang berat buat saya… Maunya semua lulus dan dapet A…

  5. Waduh Do menyeramkan. untung saya bisa lulus dan ga kena sistem kaya gitu..

  6. Ardian Eko berkata:

    Mari kita doakan teman kita yang hampir DO. Semoga masih bisa melanjutkan kuliah di ITB. Saya mahasiswa angkatan 2006, merasakan juga teman saya yang dalam jurang DO. Sedih rasanya.. Kenapa kita tidak bahu membahu membantu dia dengan belajar bersama..

  7. ramadhanchan berkata:

    Hiks hiks hiks…ngeri banget pak denger kata DO, saya stress banget lho pak kuliah di ex-poltek itb, saya benar2 kehilangan gairah dan semangat untuk belajar, punya saran pak ? sekarang ajah saya malah asik ngenet padahal senin depan udah uas… T,T

  8. anggriawan berkata:

    Banyak teman dan mahasiwa saya yang D.O dari ITB ternyata sukses menjadi pengusaha dan pekerjaan lain.

    ehm,, ini berapa % ya, pak.. 😀

    Steve Jobs & Bill Gates juga men-D.O.-kan diri, dan mereka (sangat) sukses..
    tapi.. saya pikir, mereka hanya secuil persen saja..
    mungkin one in a million *halah, ky judul lagu aja.. 😀

    (lagi, saya pikir) lebih banyak mahasiswa D.O. yang tidak sesukses mahasiswa yang lulus.. 🙂

    saya setuju sama zakka, setiap mahasiswa kan sudah diberi kesempatan yang cukup..
    bahkan cukup untuk mengulang kesalahan beberapa kali..
    nah, dengan D.O sudah saatnya mereka bertanggung jawab atas perbuatannya, bangkit, dan belajar dari kesalahan..

  9. rinaldimunir berkata:

    @anggriawan: berapa persennya sih saya tidak tahu, tetapi dari hampir semua mhs DO yang saya ketemu, mereka seperti yang saya tulis: sukses dengan pekerjaan lain. Sebagian dari mereka kan melanjutkan kuliah lagi di PTS.

  10. Affan berkata:

    Sebenarnya keluar dari ITB itu bukan hanya dari dua pintu pak (Sabuga atau Rektorat), ada pintu ketiga, yaitu : Pintu RSJ Riau…

  11. ndrewh berkata:

    @Affan:
    hmmm, one interesting way…

  12. lia berkata:

    Saya malah sudah dapat surat DO. Semua MK sudah lulus kecuali TA yang tidak kunjung usai. Dosen tidak bisa membantu banyak. Teman2 cuek2 saja. Saya seperti orang terlantar.. Berjuang beberapa smester demi lulus TA. Akhirnya gagal. Apa mungkin ada universitas lain mau menerima saya?. Semoga kedepannya bisa lebih baik. Amin.

  13. Alugoro Alugoro berkata:

    Ngga lewat pintu GSG lagi ya pak?

  14. The O berkata:

    DO. Perjalanan saya benar-benar menyedihkan. 😦

  15. Pradipta berkata:

    Saya salah satu mahasiswa yang mengundurkan diri dari Informatika ITB. Saya merasa kesulitan kuliah di ITB karena bapak saya dipenjara selama 7 tahun dan ibu tidak bekerja, sehingga biaya hidup saya saat merantau di Bandung sangat pas-pasan. Apalagi biaya hidup di Bandung sangat tinggi dibandingkan kota asal saya dan tugas-tugas besar kuliah mengharuskan mencari sumber-sumber artikel di internet (kadang setelah dicari sampai berjam2 pun belum ketemu). Saya mencoba bekerja sambil kuliah tapi nilai kuliah saya semakin buruk.

    Saya dulu ingin sekali lulus S1 dengan IPK di atas 3,0 karena ingin mengejar beasiswa S2 dan S3. Perasaan saya selalu drop setiap melihat IPK saya tidak pernah bisa lebih dari 2,5 di ITB.

    Setelah 4 tahun di ITB bapak saya keluar dari penjara dan memberi saya alternatif untuk tetap melanjutkan di ITB atau kuliah di kota asal saya (Yogyakarta). Saya memilih untuk melanjutkan kuliah di Yogyakarta saja yang lebih murah dan saya ingin mengejar beasiswa di Yogyakarta. Akhirnya saya melanjutkan kuliah S1 saya di UII Yogyakarta, alhamdulilah saya akhirnya bisa lulus dengan IPK 3,4 dan mendapatkan beasiswa di universitas yang sama.

    Alhamdulilah saya sebentar lagi akan wisuda S2 dari UII dengan predikat cum laude, rencana saya setelah ini ingin langsung mengambil beasiswa S3 untuk mengejar cita-cita saya menjadi dosen. Masih bimbang mau mengambil S3 di UGM atau di ITB. Mau mencoba mengambil S3 di ITB tapi saya masih trauma dengan biaya hidup di Bandung yang mahal (hampir 3 kali di Yogya). Sampai saat ini saya masih malu karena merasa gagal saat di ITB.

    • rinaldimunir berkata:

      Halo Pradipta, saya kenal kamu. Selamat ya sudah lulus dari UII dan sebentar lagi lulus S2 di sana dengan predikat Cum Laude.

      Memang benar, mahasiswa yang D.O di ITB bukan berarti dia tidak mampu, tetapi mungkin di ITB tidak cocok baginya. Mungkin dia akan lebih berhasil jika kuliah di luar ITB, dan Pradipta adalah contohnya. Bagi saya, keberhasilan itu tidak selalu harus kuliah di ITB, bisa saja di tempat lain yang sesuai dengan minat, talenta, motivasinya, dll.

      Sukses ya Pradiptya..

      • Pradipta berkata:

        Terimakasih Pak. Meski sama-sama terakreditasi A, yang saya rasakan adalah kuliah di ITB tetap jauh lebih sulit dibandingkan di kampus saya dan mahasiswanya juga jauh lebih pintar.

        Saya dulu bercita-cita ingin menjadi ilmuwan, tapi setelah melihat ternyata di ITB banyak yang jauh lebih pintar dari saya, saya jadi minder dan mengurungkan cita-cita saya. Sekarang saya ingin mencoba berbisnis dengan teman-teman saya saat di ITB dulu, saya ada ide penemuan software bagus yang mungkin akan menghasilkan banyak keuntungan

      • Pradipta berkata:

        Sebenarnya penyebab utama kenapa saya memutuskan pindah kuliah ke Yogyakarta adalah karena Bapak saya yang memaksa saya untuk pindah ke Yogyakarta. Bapak saya menganggap mungkin saya akan lebih baik di Yogyakarta

        Dan syukurlah setelah saya pindah ke Yogyakarta saya bisa lebih sukses. Meski ada sedikit kekecewaan kenapa saya tidak suksesnya saat di Bandung saja. Mau menyalahkan Bapak saya juga tidak bisa.

        Pak Rinaldi, bisakah saya minta tolong untuk dihapus semua komen saya di blog page ini. Terimakasih

      • Pradipta berkata:

        Bapak saya memaksa saya pindah ke Yogyakarta karena setuju dengan ide saya untuk mengejar beasiswa yang mensyaratkan IPK tinggi.

    • Pradipta berkata:

      Ibu saya yang tinggal sendirian di Yogyakarta dan sering mengigau memanggil2 saya karena saya semakin jarang pulang ke Yogyakarta juga membuat saya sangat khawatir dan memutuskan pindah kuliah ke Yogyakarta saja.

      Maaf Pak Rinaldi, bisa tolong dihapus saja semua tulisan atas nama “Pradipta” di page ini, karena saya tidak bisa menghapusnya. Terimakasih

  16. Pradipta berkata:

    Yang saya rasakan saat kuliah di universitas swasta di Yogyakarta adalah tekanannya lebih ringan dibandingkan ITB. Di ITB jika nilai UTS hancur maka setengah semester berikutnya selalu diliputi perasaan cemas karena satu-satunya kesempatan untuk memperbaikinya hanya UAS saja. Di universitas swasta saya dulu selalu ada ujian remediasi di akhir semester untuk mata kuliah apapun sehingga rasa cemas jika gagal saat UTS sudah tak saya rasakan lagi, bahkan saya selalu mengambil kesempatan ujian remediasi jika nilai saya belum A, termasuk jika nilai saya A-.

  17. Fadel berkata:

    Kepada:
    Yth Penulis Artikel ” D.O ”

    Assalamualaikum,

    Saya sangat berharap bahwa setiap Dosen di ITB memiliki sifat Toleran seperti Anda, karena sebagai Mahasiswa pastinya sudah berusaha walaupun hasilnya tidak sesuai harapan, DO bukanlah hal biasa meskipun terdengar biasa berdasarkan pandangan Akademis, tetapi yakinlah bahwa satu keluarga besar dari satu mahasiswa yang di DO akan sangat mengharu biru, sedih, rapuh, hancur, dan tidak sedikit yang menjadi putus asa.

    Saya harap ITB menerapkan ZERO D.O, karena DO tidak akan membuat mahasiswa itu menjadi lebih baik, tetapi justru semakin hancur & rapuh apabila mereka tidak berhasil untuk bangkit kembali.

    Solusi dari saya adalah; terapkan Zero D.O, bagi mahasiswa yang berkasus berilah mereka tugas sesuai keinginan Dosen tetapi mohon beri jaminan kepada mereka yang mengerjakan tugas untuk dapat lulus dari ITB di gedung SABUGA(tidak D.O), dan untuk mahasiswa yang kurang berminat di jurusannya saat ini mohon berilah mereka konsultasi dan kesempatan untuk pindah ke fakultas atau jurusan yang dia minati di dalam ITB.
    saya yakin dengan cara ini tidak ada haru biru, rasa takut & tegang yang selalu mencekam mahasiswa dari tahun-ke-tahun, dan tiada lagi D.O (Drop Out) yang tidak membangun & menguntungkan untuk siapapun.

    Saya mohon sekali dengarkan pesan saya ini, Insyallah berkah, efektif, menguntungkan satu-sama-lain,

    Terima-Kasih.

    Salam-Hangat,
    Fadel

  18. Rendi berkata:

    Saya adalah mantan mahasiswa S2 ITB yang di DO pada tahun 2015. Mau sharing Pak, adakah jalan untuk melanjutkan atau memproses pindah ke perguruan tinggi lain. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.