Mendadak Pakar (Kasus Roy Suryo)

Roy Suryo. Siapa yang tidak kenal nama itu? Lebih tepatnya KMRT Roy Suryo (KMRT adalah gelar “darah biru”-nya). Biasanya dia sering dimintai komentar tentang kasus foto atau video yang menyangkut selebriti atau tokoh terkenal, karena itulah media menyebutnya ‘pakar multimedia’. Sebagian media menjulukinya ‘pakar informatika’ dan bahkan ‘pakar telematika’. Wajahnya sering muncul di TV, wawancaranya sering dimuat di media massa, karena itu dia pun sekarang menjadi salah seorang pesohor (baca: selebriti).

Menariknya, tidak hanya masalah multimedia yang dia komentari. Masalah pesawat jatuhpun (kasus jatuhnya pesawat Adam Air di Selat Makassar awal tahun 2007) dia ikut menganalisis sebab musababnya, hingga bagaimana proses jatuhnya ke laut, seakan-akan dia lebih mengerti dan ahli dibandingkan pakar penerbangan.

Belum berhenti sampai di situ, dia pun mempermasalahkan lagu Indonesia Raya yang dikatakannya tidak asli, lagu yang asli tersimpan di Negeri Belanda dan dia mengklaim berhasil menemukan lagu yang asli itu (yang akhirnya klaim itu ternyata salah).

Komentar teranyar dari Roy Suryo adalah tudingannya tentang kasus deface beberapa situs web pemerintahan dan partai politik. Roy Suryo menuduh pelaku deface itu adalah para blogger dan hacker. Roy Suryo tampaknya tidak mengerti perbedaan antara blogger dan hacker, bahkan mungkin cracker. Padahal, blogger adalah orang yang suka mem-posting tulisan di situs web pribadi.

Cukup lama saya mengamati sepak terjang Roy Suryo di jagat teknologi informasi (TI), akhirnya gatal juga tangan ini untuk berkomentar.

Julukan ‘pakar’ bagi Roy Suryo melahirkan kontroversi. Menilik latar belakang pendidikannya, Roy Suryo sama sekali tidak mempunyai sejarah pendidikan di bidang informatika atau telematika. Roy Suryo adalah sarjana Ilmu Komunikasi UGM, yang nyata-nyata bidang sosial, jauh sekali kaitannya dengan multimedia, persinyalan pesawat, informatika, telematika, dan masalah eksakta lainnya yang dia analisis.

Darimana Roy Suryo mendapat semua ‘ilmu’ itu sehingga dia dijuluki sejumlah gelar pakar? Ini tidak aneh, karena sekarang banyak resource untuk belajar secara otodidak. Tidak perlu bersusah-susah dan berlama-lama dengan mengambil kuliah. Saat ini cukup mudah diperoleh buku-buku TI, bahan-bahan di internet, dan aneka program kakas, yang bisa dipelajari secara otodidak. Dengan jurus comot sana comot sini dari internet, maka seseorang dapat menulis tentang bidang yang sebenarnya bukan kompetensinya. Istilahnya gini, banyak orang bisa menjadi ‘pakar’ secara dadakan karena merasa sudah belajar pengetahuan secara informal itu. Dengan berbekal pengetahuan dadakan itu dia sudah bisa berbicara banyak di media massa seolah-olah dia memang ahli soal itu. Saya jadi ingat dulu ada rekan dosen dari jurusan lain yang berbicara di depan sebuah forum tentang intelgensia buatan (AI), padahal dosen tersebut tidak mempunyai kompetensi di bidang AI. Rekan tersebut berbicara seolah-olah dia tahu banyak soal AI, padahal yang dia katakan di dalam forum itu bagi orang Informatika hanyalah kulit-kulitnya saja, yang semua itu bisa dicari bahan-bahannya dari internet, tinggal copy-paste. Mengingat peserta forum awam mengenai AI, maka pernyataannya tentang AI dianggap sebagai kebenaran. Hal ini pula yang terjadi pada Roy Suryo.

Dalam konteks akademisi, menjadi seorang pakar adalah sebuah proses panjang. Untuk menjadi pakar seseorang harus mengikuti pendidikan formal dari jenjang yang lebih rendah (D3/S1) hingga ke jenjang yang lebih tinggi (S2/S3). Tapi, menempuh pendidikan saja belum cukup, perlu pengalaman intensif melakukan penelitian dan penerapan bidang ilmu di dunia nyata (lapangan) sampai akhirnya seseorang baru layak disebut sebagai pakar. Ibaratnya bidang ilmu itu sudah “mendarah daging” bagi orang tersebut. Jadi, seorang pakar memiliki dasar yang kuat secara teori dan pengalaman praktis yang berlangsung dalam rentang waktu yang cukup lama. Masalahnya Roy Suryo tidak memenuhi sebagian syarat itu, dia lebih banyak bergiat di bidang praktis semata sementara teori dia (mungkin) tidak mendalami. Oleh karena itu, menurut hemat saya Roy Suryo lebih tepat dijuluki ‘praktisi’ ketimbang ‘pakar’. Namun ini tidak mudah, media massa dan masyarakat sudah telanjur menganggapnya sebagai pakar telematika, pakar multimedia, dan pakar informatika, tiga gelar sekaligus. Parahnya lagi, Roy Suryo pun tidak membantah atau mengklarifikasi gelar pakar yang diberikan kepada dirinya.

Media punya andil yang besar dalam fenomena Roy Suryo ini. Kesalahan media adalah sering merujuk sesuatu bukan kepada pakar akademisi, tetapi dari pakar dadakan itu. Media sering mengutip pernyataan Roy Suryo tanpa memeriksa ulang kebenarannya secara akademis. Pernyataan Roy Suryo akhirnya diterima sebagai kebenaran karena media dan masyarakat sebagian besar awam tentang teknologi informasi. Para pakar dan kalangan akademisi tidak bisa muncul untuk menjawab persoalan karena mereka tidak punya akses ke media massa, sementara Roy Suryo memilikinya.

Fenomena Roy Suryo memberi pelajaran berharga bagi para akademisi TI. Kebanyakan akademisi TI kalau berbicara di depan forum umum sering menggunakan bahasa terlalu teknis sehingga tidak dimengerti oleh kalangan awam. Oleh karena itu, mereka tidak mendapat tempat di media, sementara, Roy Suryo mampu mengartikulasikan masalah teknologi informasi dalam bahasa yang lebih sederhana dan mudah dimengerti awam. Hanya masalahnya Roy Suryo merasa seolah-olah tahu banyak padahal tidak. Para akademisi yang memiliki semua itu, pengetahuan lengkap teori dan praktek, perlu menggunakan bahasa yang lebih gamblang dan sederhana agar penjelasan mereka mudah dicerna masyarakat supaya masyarakat tidak selalu “dikibuli” terus oleh pakar dadakan.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

32 Balasan ke Mendadak Pakar (Kasus Roy Suryo)

  1. Habib berkata:

    Akhirnya RS masuk juga ke blognya Pak Rin πŸ˜€

  2. pebbie berkata:

    tinggal tunggu kunjungan pak pakar ke sini aja kyknya. mudah-mudahan pak rin tidak dicap sebagai hacker. πŸ˜›

    Hi Roy!

    • Mantoel Toeink berkata:

      Dan masalah video, foto, bisa diadu dengan profesor di IF kah analisa Bung Roy ini? πŸ˜€ πŸ˜€

      *curiga Bung Roy tidak mengerti mengenai histogram equalization utk pemrosesan gambar, wkwkwk*

      Hehe.

  3. coretanpinggir berkata:

    Gak tahan untuk tidak nulis KMRT ini ya Pak… he…he…he… saya setuju dengan Habib. judulnya adalah: Akhirnya nulis juga Pak Rin soal yg satu ini πŸ˜€

  4. joko sarwono berkata:

    wah, terinspirasi diskusi dari “milist” nih Pak…;)

  5. yunita berkata:

    Pak, supaya heboh, judulnya ganti aja
    “Mendadak Pakar” lebih sesuai sepertinya πŸ˜€

  6. rinaldimunir berkata:

    @Joko Sarwono: betul pak, tidak tahan untuk mengomentari fenomena RS ini

    @Yunita: iya, setuju, judulnya sudah saya ganti sesuai saranmu.

  7. ivan berkata:

    Dia kan pakar nyelidikin foto-foto bokep pak… :D… alias pakar pornomatika!

  8. zoel berkata:

    selalu om roy….. kapan saya nya πŸ˜€

  9. abasosay berkata:

    Kalau begitu saya juga bisa jadi pakar sistem informasi dong. Karena saya lulusan politik. 😈

  10. yugi berkata:

    Nah kalo pak Joko Sarwono ini benar-benar pakar..
    Silahkan check di situs ini
    http://www.detiknews.com/read/2008/06/25/162717/962301/10/pakar-forensik-akustik-itb-suara-artalyta-dan-urip-asli

    Salam hormat saya kepada para pakar πŸ™‚

  11. ramadhanchan berkata:

    Hehehehehe… om roy suka asbun (asal bunyi) dong kalo begitu ya pak?

  12. ardianto berkata:

    bahas Roy Suryo memang gak ada habisnya…
    -menghadirkan angka fenomenal 68%
    -menganggap blooger itu penipu
    -menemukan lagu Indonesia Raya

    πŸ˜†

    OOT:
    Pak, itu gambar viaduct Bandung dapet darimana? Keren!

  13. ghifar berkata:

    waduh, semoga ga terjadi peperangan ya pak, hehe

  14. rinaldimunir berkata:

    @ardianto: benar, itu gambar viaduct Bandung zaman Belanda dulu. Foto2 itu saya peroleh dari milis. Saya masih banyak menyimpan foto Bandung tempo doeloe. Kalau mau, silakan salin dari web saya: http://www.informatika.org/~rinaldi/Koleksi/Foto/Bandung%20Tempo%20Doeloe/bandung.htm

    @ghifar: perang pena boleh2 saja kan, malah saya dukung ada perangs emacam ini, supaya masyarakat mendapat informasi yang benar.

  15. Dyah berkata:

    Mungkin gelar pakar didapatkan bukan saja karena RS pandai bersilat lidah, Pak.. media massa juga ‘bertanggung jawab’ atas pemberian gelar ini. Misalnya karena tuntutan dan deadline pekerjaan πŸ˜†

    Lebih jelasnya bisa dibaca di sini :

    http://riyogarta.com/2008/04/12/kemudahan-mendapatkan-gelar-pakar/

  16. rinaldimunir berkata:

    @Dyah: dua-duanya bertanggung jawab, ya media massa ya RS nya. RS ikut bertanggung jawab karena dia tidak mengiyakan dan juga tidak membantah julukan itu (klarifikasi maksud saya).

  17. Ping balik: Roy Suryo vs Ruby Alamsyah? Mari kita lihat CV-nya « Yasir Alkaf

  18. bidansmart berkata:

    RS itu kena sindrom power kali pak..ketakutan kalo kekuasaan dan gelar yang dia sandang selama ini disabet oleh Rb ZA. hi…hi..hi…Semoga indonesia terus melahirkan pakar-pakar yang benar2 kompeten, profesional dan jujur pada keilmuannya pak, sehingga masy awam tidak gampang tertipu .

  19. syukriy berkata:

    Terkadang kompetensi dan kapabilitas tidak menentukan untuk menjadi terkenal dan mendapat pengakuan. Ilmu dan pengetahuan bukan hal yang teramat penting di negeri populis ini….

  20. Ping balik: Roy Suryo vs Ruby Alamsyah? Mari kita lihat CV-nya « Herlin Makabe

  21. dwi berkata:

    duh pak selaku blogger newbie yg doyan memantau si pakar dadakan… ya memang begitukah si doi..
    ya namanya juga orang berduit? haha
    salam. πŸ™‚

  22. Ping balik: CV Roy Suryo vs Ruby Alamsyah « Blog "My Name is Faisal Saleh"

  23. Ping balik: Roy Suryo vs Ruby Alamsyah? Mari kita lihat CV-nya !! « Life is Never Flat

  24. Ping balik: CV Roy Suryo vs Ruby Alamsyah « Resi Andriani Blog

  25. Alex© berkata:

    Fenomena Roy Suryo memberi pelajaran berharga bagi para akademisi TI. Kebanyakan akademisi TI kalau berbicara di depan forum umum sering menggunakan bahasa terlalu teknis sehingga tidak dimengerti oleh kalangan awam.

    Ini benar :mrgreen:

    Bahasa yang terlalu tinggi dan terkadang tidak sesuai dengan kapasitas orang yang dihadapi, cuma akan membuat orang malah tidak mengerti πŸ˜€

    Oleh karena itu, mereka tidak mendapat tempat di media, sementara, Roy Suryo mampu mengartikulasikan masalah teknologi informasi dalam bahasa yang lebih sederhana dan mudah dimengerti awam.

    Nah di sini, media dan awam sebenarnya dua hal yang berbeda. Akan sangat lucu kiranya jika ada media yang – meski tidak khusus dipasarkan untuk bidang IT – tapi memiliki kolom/rubrik utk ulasan IT justru kemakan omongan RS. Media massa begini ini kalau bukan penulis kolomnya yang “melacur” atau “malas” atau “masa bodoh”, ya berarti media massanya itu yang memang tidak kompeten.

    Lagian sudah rahasia umumlah kalau media massa seperti pasar komersil, terserah pada mainstream πŸ˜†

    Hanya masalahnya Roy Suryo merasa seolah-olah tahu banyak padahal tidak.

    πŸ˜†

    Para akademisi yang memiliki semua itu, pengetahuan lengkap teori dan praktek, perlu menggunakan bahasa yang lebih gamblang dan sederhana agar penjelasan mereka mudah dicerna masyarakat supaya masyarakat tidak selalu β€œdikibuli” terus oleh pakar dadakan.

    Amen to that! :mrgreen:

    Mungkin gaya seperti Pak Onno yg bisa gamblang bicara RT/RW-Net bisa diikuti oleh akademisi/praktisi IT lainnya. Jangan keenakan di menara gading lah, lalu misuh-misuh saat pakar jejadian muncul di media massa πŸ˜€

  26. AMK berkata:

    Ternyata diam itu “tetep” emas ya mas.
    dan ilmu padi sebenarnya masih relevan di jaman sekarang ini πŸ™‚

  27. Ping balik: Roy Suryo vs Ruby Alamsyah? Mari kita lihat CV-nya « Riezquchiha's Blog

  28. Ping balik: CV Roy & Ruby « Fiza Criziest

  29. grandiyf berkata:

    seharusnya di bikin film tuh judulnya “Mendadak Pakar” πŸ˜€

  30. Barents berkata:

    Saya juga sebagai seorang praktisi multimedia, bingung….darimana datangnya julukan “PAKAR” itu..cuma MEDIA yg mem-pakar kan dia
    dasarnya org komunikasi ya dia tau bgm me-lobby media

Tinggalkan Balasan ke zoel Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.