Mengikuti Acara “Baralek” di Padang

Sabtu dan Minggu kemaren saya pulang kampuang ke Padang. Selain menengok ibu saya yang sakit, kepulangan ini juga untuk menghadiri pernikahan keponakan saya. Sebagaimana halnya orang Minang umumnya, acara pernikahan adalah momen istimewa. Di daerah Sumatera Barat acara pernikahan disebut baralek (artinya perhelatan). Kata baralek yang pada mulanya dipersepsikan sebagai acara resepsi yang diselenggarakan setelah akad nikah sekarang ini maknanya sudah bergeser. Kalimat bilo baralek? dapat juga diartikan “kapan menikah?”.

Acara baralek kali ini bukanlah baralek gadang (perhelatan besar), tetapi acara baralek yang sederhana saja. Kakak saya cukup kerepotan mengumpulkan biaya untuk biaya baralek anaknya ini, apalagi setelah kenaikan harga BBM harga makanan dan sewa peralatan pesta luar biasa mahalnya.

Sudah cukup lama saya tidak mengikuti acara baralek yang “sebenarnya” di kampung sendiri, maklum saya sudah lama jauh di rantau. Sebagian orang Minang masih mempertahankan acara baralek di rumah, meskipun sudah mulai banyak juga yang mengadakan perhelatan di gedung dengan alasan kepraktisan. Jika dulu orang-orang dari kampung datang untuk menyiapkan masakan, sekarang ini cukup jasa catering saja.

Di daerah Sumatera Barat, acara baralek di rumah dilakukan secara terpisah di rumah mempelai pria dan rumah mempelai wanita. Jadi, keluarga mempelai wanita (disebut anak daro) mengadakan baralek sendiri di rumahnya dan keluarga mempelai pria (disebut marapulai) juga baralek di rumahnya. Ada yang baraleknya pada hari yang sama, ada pula yang beda 1 atau 2 hari. Tidak mangkus memang, tapi itulah tradisi turun temurun. Jika dua rumah mendakan acara baralek, lalu bagaimana mempersandingkan keduanya di pelaminan? Di bawah ini protokolnya:

Prosesi pertama adalah acara manjapuik marapulai (menjemput pengantin pria). Karena di ranah Minang menggunakan adat matrilineal (garis ibu), maka pengantin pria perlu dijemput oleh keluarga pengantin wanita untuk dijadikan urang sumando di rumah keluarga anak daro. Mula-mula keluarga anak daro datang ke rumah marapulai membawa pakaian pengantin marapulai, carano yang berisi daun sirih, rokok, dan lain-lain, serta dua orang sumandan (dua orang perempuan yang akan mendampingi marapulai). Anak daro tidak ikut serta, dia menunggu di rumahnya saja. Di rumah marapulai kami disambut tuan rumah beserta keluarga besarnya. Di dalam rumah sudah terpasang pelaminan khas Minang yang warna-warni. Oh ya, sebelum masuk rumah ada pepatah-petitih dari keluarga anak daro dan keluarga marapulai (yang hakikatnya merupakan kata basa-basi). Setelah penyambutan selesai, kami masuk ke dalam rumah marapulai, duduk di depan pelaminan (klik foto untuk gambar lebih besar).

Perhatikan di depan pelaminan tersedia piring-piring yang berisi masakan Minang yang hmmmm… membangkitkan selera makan. Ada rendang, gulai ayam, gulai buncis, dendeng balado, gulai ikan, dan lain-lain. Semuanya masakan orang kampung yang dijamin beda rasanya dengan masakan rumah makan Padang di pulau Jawa.

Sambil menunggu marapulai mengenakan pakaian pengantin, kami dipersilakan makan. Makan pakai tangan, air basuhnya dengan kobokan. Meski perut sudah kenyang, masih disuruh tambuah, tambuah, dan tambuah lagi oleh tuan rumah.

Marapulai selesai didandani dan dipakaikan baju penganten. Dua orang sumandan mengapit marapulai keluar dari rumahnya untuk bersiap-siap menuju rumah anak daro.

Lihat, pakaian pengantain marapulai, unik bukan? Gabungan dari baju teluk belanga khas Melayu dan pakaian seorang pemain matador (ada sejarah yang mengatakan baju penganten pria di daerah Padang merupakan pengaruh kebudayaan Portugis di pesisir barat Sumatera pada zaman orang Portugis menjelajahi dunia mencari rempah-rempah). Sebilah keris diselipkan di pinnggang bagian depan (bukan di bagian belakang seperti adat Jawa).

Marapulai dan rombongan tiba di rumah anak daro diapit oleh dua orang sumandan.

Anak daro keluar rumah menyambut marapulai. Anak daro menggamit tangan marapulai dan membawanya masuk ke dalam rumah.

Anak daro memakai suntiang di atas kepala, semacam mahkota dari ratusan helai lempeng kuningan yang disusun seperti setengah lingkaran. Suntiang ini sungguh berat membebani kepala, dan jika dipakai dalam waktu lama (kedua pengantin harus duduk dan berdiri menerima kunjungan tamu dari jam 11 hingga jam 4 sore!) bisa membuat pusing kepala pemakainya.

Di rumah anak daro, kedua mempelai dipersandingkan di pelaminan yang meriah dengan hiasan-hiasan di langit-langit.

Satu hal yang menarik saya potret adalah tanda bahwa di sebuah rumah ada acara baralek. Kalau di Jawa, hiasan janur melengkung di mulut jalan, gang, dan di depan gedung resepsi adalah pertanda bahwa di dekat situ ada acara kondangan, maka di Sumatera Barat janur melengkungnya adalah umbul-umbul berwarna merah, kuning, hitam yang disebut marawa.

Itulah salah satu warna-warni budaya negeri kita yang kaya dengan ragam budaya. Saya selalu kagum dan terpesona dengan keanekaragaman budaya Indonesia.

Pos ini dipublikasikan di Cerita Ranah Minang. Tandai permalink.

16 Balasan ke Mengikuti Acara “Baralek” di Padang

  1. reiSHA berkata:

    Wah, kalau baralek, setelah dibandingkan sama acara baralek di gedung di Bandung (selama penampilan UKM 🙂 ), memang baralek di kampuang labiah seru Pak 🙂

  2. rinaldimunir berkata:

    @reiSHA: betul sha, yang namanya di kampuang pasti lebih membangkitkan romantisme dibandingkan dengan di perantauan. Bilo baralek, sha?

  3. Catra berkata:

    taPi minusnya yah ga ada tari piring nya dari kita2 kan pak? hehe

  4. istriorangpadang berkata:

    ikutan ya pak. Karena suami orang padang beberapa kali juga saya berkesempatan menghadiri acara baralek keluarga suami ini, walaupun bukan dikampuang aslinya karena kami dijakarta (biasanya diadakan digedung). Memang makanan disanding berjajar tidak ada maklum pake jasa katering.

    Tapi yang saya tahu dua orang sumandan yang menjemput marapulai selalu berpakaian hitam-hitam, kalo difoto ini sepertinya tidak ya pak….?

  5. rinaldimunir berkata:

    @Catra: sayangnya UKM tidak buka cabang di Padang, cat…

    @istriorangpadang: pakaian sumandan tidak harus hitam, kalau waktu saya kecil emang kebanyakan hitam, tapi sekarang zaman sudah berubah, semua warna yang menyala menjadi sah-sah saja digunakan sumandan.

  6. ari berkata:

    baralek ko panyakiknyo ciek:
    alah maraso sekali, maka hendak duo kali dan sterusnya….

  7. djonson djuli berkata:

    indak nampak samba lado jariang….

  8. 3n~jhi berkata:

    iyo bana klw baralek lamaknyo yo di kampuang, awak labiah leluasa ngecek samo tamu undangan n bisa lebih dakek samo kawan2 lamo.

    by. enji di jakarta

  9. eci berkata:

    mancaliak gambar2 td awak taragak nak pulang kampuang…
    lai taringek waktu dusanak baralek…

  10. aya berkata:

    maaf… mohon bantuanyo…
    saya mau baralek di kampuang…
    tapi sabab jauah dari jakarta nio pake WO ajo untuk baralek…
    ado info untuk WO di padang???
    mokasihnyo sabalunnyo….

  11. Ping balik: Laksana Batang Pisang, Meninggalkan Tunas Sebelum Mati | Catatanku

  12. CatRyn berkata:

    .. Ornamen2 pelaminan nya bnyk sekali y ..Jd tambah meriah .. rame eeuuyy ..

  13. datuak basah berkata:

    Lai ndak sasek tuh, anak daro manonsong marapualai ka lua rumah, malah mengganit tangan marapulai pula masuak rumah.. padahal belum ijab kabul…….?????????

    • Finni berkata:

      Baralek itu acaranya setelah akad nikah pak datuak, jadi sudah sah lah 🙂 Sama betul tahap2 yang kami lakukan dengan cerita bapak Rinaldi. Bedanya kalau di kami yang mendampingi marapulai masih dari keluarga marapulai. Tapi yang menjemput ke depan rumah tetap anak daro yang sudah berpakaian lengkap dengan suntiang

  14. Finni berkata:

    Yang paling berat itu pas jadi anak daro. Kalau saat memasang suntiang posisinya gak pas/seimbang siap2 cidera pasca acara baralek. Sebaiknya pilih sunting (suantiang) yang tidak terlalu berat dan metode pemasangannya ga banyak alat yang menusuk ke rambut. Ternyata cara pemasangan suntiang juga beda2 😀 Pengalaman saya baralek dua hari berturut2 berdiri dan bersalaman dari jam 11-6 sore menguras energi karena salamannya ‘sembari’ mengangkat suntiang. Hari pertama cukup tahan dan tidak ada keluhan. Hari kedua karena pakai ‘organizer’ dari pihak marapulai yang metode pemasangannya agak banyak (tidak sesimple hari pertama) akhirnya cidera juga kepala. Hehe tapi tak apa cukuplah untuk pengalaman sekali seumur hidup 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.