Enak, Sayang Belum Terjamin Kehalalannya

Sewaktu berjalan-jalan di Istana Plaza Bandung, saya melihat toko roti BreadTalk penuh dengan pengunjung. Yang membeli roti di toko itu tidak hanya anak muda, bapak-bapak dan ibu-ibu berjilbab juga banyak yang ikut antri. Roti BreadTalk ini memang terkenal enak, halus dan lembut di lidah. Saya pernah memakannya dulu, waktu itu dikasih oleh mahasiswa saya. Toko roti ini merupakan waralaba dari pusatnya di Singapura. Di Indonesia pemegang hak waralaba adalah Johny Andrean yang juga dikenal sebagai pemilik salon rambut yang terkenal itu.

Sekarang saya enggan makan roti BreadTalk lagi. Apa pasal? Setelah membaca berita di Okezone dan di situs Era Muslim tentang kehalalan roti ini, saya memilih untuk tidak mengkonsumsinya lagi sampai dapat dipastikan roti ini mendapat sertifikasi halal. Emang sih pemiliknya menjamin roti ini 10% 100% halal, tetapi pernyataan lisan saja belumlah cukup. Kehalalan sebuah produk perlu legitimasi pihak yang punya otoritas, dalam hal ini LPPOM MUI. Menurut MUI, pemilik toko roti tidak memperpanjang sertifikat halal yang sudah berakhir pada tahun 2007. Karena sertifikat hanya berlaku 2 tahun, maka pihak BreadTalk dihimbau memperpanjang namun mereka tidak mengindahkannya. Pemilik BreadTalk Indonesia terlihat ‘menantang’ dengan jawaban begini: “Manajemen merasa ini (legalitas MUI) perlu atau tidak. Karena kan sudah dicek beberapa kali, cukup merepotkan ya. Lagipula kalau dilihat BreadTalk kan juga ada di Arab Saudi dan tidak masalah,” kata Tina Andrean, istri Johny Andrean. “Yang sedang dipermasalahkan MUI ini hanya soal legal kertas, tapi secara komitmen kami jamin kehalalannya,” imbuhnya. (Sumber: Okezone). Oh, beginilah nasib konsumen di Indonesia yang tidak mendapat perlindungan atas hak-haknya mendapat kepastian halal. UU yang mewajibkan pengusaha untuk mengurus sertifikasi halal belum ada, padahal konsumen terbesar di negeri ini adalah muslim.

Soal kehalalan sebuah produk makanan adalah hal yang prinsip di dalam ajaran Islam. Masalah halal dan haram terkait dengan ibadah. Jika seseorang mengkonsumsi makanan yang haram, maka selama 40 hari 40 malam ibadahnya tidak diterima oleh Allah SWT. Sebagian besar orang yang membeli roti di toko ini mungkin tidak mengetahui soal kepastian halal haramnya roti yang dia beli, atau mungkin mereka tidak peduli soal hal ini? Ah, nggak tahulah. Mungkin bagi mereka roti BreadTalk itu enak, itu saja, soal halal atau haram dianggap urusan pribadi. Mereka tidak pernah mempertanyakan apakah toko roti sudah mengantongi sertifikasi halal, takut dianggap pembeli yang rewel. Sewaktu saya membeli ayam goreng di gerai KFC, di dinding dekat loket pemesanan ditempel foto copy sertifikat halal dari MUI beserta masa berlakunya, sehingga saya merasa tenang membeli produk KFC tanpa khawatir berdosa.

Selain BreadTalk, saya juga menghindari membeli makanan ala Jepang di gerai Hokka Hokka Bento dan donat J.Co, karena sepengetahuan saya kedua produk makanan ini belum mengantongi sertifikasi halal dari MUI. Karena hukumnya syubhat (meragukan), maka lebih baik yang meragukan itu dihindari saja daripada mendapat dosa karena memakan produk yang tidak jelas kehalalannya.

Semua produk makanan yang saya tulis di atas memang enak-enak, sayang karena belum terjamin kehalalannya saya belum mau mengkonsumsinya. Rasa takut berdosa kepada Allah SWT mengalahkan rasa enak di lidah. Makanan yang enak-enak itu berakhir di septic tank, tetapi dosa baru berakhir di pengadilan Padang Mahsyar. Moga2 Allah SWT mengampuni kita.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

16 Balasan ke Enak, Sayang Belum Terjamin Kehalalannya

  1. He3x, just diskusi saja pak. Kalau logika yang sama kita pakai, apakah semua penjual makanan yang tidak mempunyai sertifikat halal harus kita anggap meragukan? Misalnya, kalau diambil contoh ekstrim, kantin di dalam kampus ITB, mungkin tidak punya sertifikat halal juga?

    Sejarah pemberitaan media memperlihatkan bahwa pernah ada makanan-makanan yang sepintas tidak mencurigakan, tetapi ternyata mengandung sesuatu yang ‘haram’ dimakan oleh umat Islam di dalamnya.

    Salam,
    Arry Akhmad Arman

  2. tekafc berkata:

    Setuju sama bapak Arry. . .

  3. economatic berkata:

    Enak nggak? wah, nggak pernah nyoba sich, abis di kota saya nggak ada …..

  4. Wah, baru tahu kalau Breadtalk belum memperbarui sertifikasi halal produknya. Tapi, belakangan ini saya jarang jajan di luar rumah, apalagi beli rotinya Breadtalk. Sekarang harganya makin mahal, lebih murah masak sendiri.

    Tapi, benar juga kata Pak Arry, jajanan di tempat lain juga belum tentu bersertifikasi halal. Jajanannya belum ada sertifikasi halalnya, jadi bisa dikonsumsi sebagai makanan yang halal dan thoyib, ga?

    Sebagai (calon) konsumen, harus kita sendiri yang lebih awas atas halal & thoyib nya jajanan tersebut. Apalagi kalau lihat acara investigasi yang mengupas kecurangan dalam penyajian jajanan. Demi materi yang lebih (sedikit), jajanan itu diberi pemutih, formalin, pengawet, pengempuk, yang jelas-jelas tidak thoyib! Gimana mau halal tuh jajanan.

    Lebih baik masak sendiri aja deh, Pak Rin. Lagian, Bapak kan jago masak, bukan?

  5. Dyah berkata:

    “Emang sih pemiliknya menjamin roti ini 10% halal, tetapi… ”

    Pak Rin, mungkin maksud bapak bukan 10%, tapi 100%. Kalo 10% belum terjamin halal atuh, Pak..😆

  6. Catra berkata:

    beberapa waktu yang lalu saya pernah baca, bahwa mengurus label halal dibuat rumit dan sangat mahal, lha, dengan demikian pengusaha jadi enggan karena yang ngurusin itu cuma satu lembaga saja dan memonopolinya. dasar, mencari kesempatan dalam “keuntungan”.:mrgreen:

  7. rinaldimunir berkata:

    @Ary: memang serba salah pak. Sertifikasi halal tampaknya baru menjangkau pengusaha menengah ke atas, sebab mereka mampu membiayai ongkos pemeriksaan kehalalan yang mungkin cukup mahal. Untuk warung2 makan dll yang bertebaran di berbagai tempat, seperti di kantin ITB, biasanya saya pakai insting saja. Semuanya terpulang pada iman kita, pak. Untuk sementara saya menghindari produk yang diragukan kehalalannya seperti roti BreadTalk, Hoka Hoka Ben+to, donat J.co, dan kue soes Merdeka (soes ini krimnya waktu saya cium bau rhum nya menyengat sekali, setahu saya rhum itu mengandung alkohol).

    @Dyah: ia, seharusnya 100%, lupa nolnya satu.

    @Fina: jago masak? tidak terlalu jago, tetapi bisalah.

    @Catra: saya kira ini bukan monopoli, karena masalah kehalalan terkait syariah agama, maka tentu pihak yang punya otoritas yang berhak mengeluarkannya, dalam hal ini majelis ulama. Mereka punya kompetensi untuk itu. Apakah kamu mau mempercayai sertifikasi halal yang dikeluarkan oleh lembaga yang tidak kompeten, misalnya dari Dep. perdagangan? Di Singapura misalnya, yang notabene bukan negara mayoritas muslim, sertifikasi halal dikeluarkan oleh MUIS (MUI nya Singapura) dan industri makanan tidak mempermasalahkannya. Mereka sadar kalau sertifikasi halal malah menguntungkan secara ekonomi. Di Indonesia masalahnya terlalu kompleks sih.

  8. aulia berkata:

    Kepikiran kenapa nggak dibalik aja jadi sertifikasi haram. Seperti yang pernah saya lihat di salah satu supermarket, makanan haram diberi label dan tempat khusus. Bukankah makanan itu hukum asalnya halal kecuali yang diharamkan?

  9. Arie berkata:

    #Pak Arry:
    Saya menggunakan standar ganda:

    1. Untuk perusahaan industri makanan yang sudah besar (halo Hoka Hoka Bento, BreadTalk, JCo!!), maka saya mewajibkan ada sertifikat atau logo halal pada produknya.
    Alasannya: masa sih, gak mampu bayar biaya sertifikat halal. Lain lagi kalau alasannya bukan karena biaya, berarti termasuk perusahaan yang ‘nantang’, kata Pak Rin. Dan kita sebagai konsumen berhak dong ga beli produknya…
    “Ayo dong konsumen! Mana harga dirimu?” * YLKI banget :p

    2. Untuk industri makanan skala kecil / menengah, saya biasanya gunakan beberapa faktor berikut:
    * Penjual (agak subjektif🙂)
    * Komposisi pembeli (orang yang suka barang haram biasanya secara tidak sadar, atau malah sadar, selalu mencari-cari barang haram)
    * Daftar bahan baku (tapi biasanya kurang reliable)

    #Aulia:
    Agak ragu juga bir Bintang yang 0% alkohol mau memasang sertifikat haram pada kemasannya. Hehehe…
    Apalagi kalo nanti rokok diumumkan keharamannya (bukan ‘diharamkan’ loh!), nanti di kemasan rokok ada logo ‘Haram’.😀

  10. Ping balik: Alhamdulillah, Hoka Hoka Bento Sudah Halal « Catatanku

  11. Kenalama berkata:

    “Oh, beginilah nasib konsumen di Indonesia yang tidak mendapat perlindungan atas hak-haknya mendapat kepastian halal. UU yang mewajibkan pengusaha untuk mengurus sertifikasi halal belum ada, padahal konsumen terbesar di negeri ini adalah muslim. ”

    Emang perlu ada ?
    Bukankah bukan suatu kewajiban untuk mengambil sertifikasi halal? Bila ada pihak tertentu yang ragu akan ke-halal-an suatu produk, ya tidak perlu memaksakan diri untuk makan, ataupun tidak perlu memaksakan orang lain (pemilik toko) untuk mengambil sertifikasi. Karena orang terkait (pemilik toko) dalam hal ini membuka usaha, untuk kepentingan bisnis atau dengan maksud memudahkan konsumen untuk mendapat makanan enak bukan?
    Dengan kata lain, kalau tidak mau dimudahkan untuk mendapat makanan enak, cobalah untuk tidak melirik kepada sang penjual.

    Tapi untung lah HokBen sudah mengurus hal ini🙂

  12. Soes Merdeka Halal atau Haram silakan klik http://goo.gl/lHAnx

  13. Hamba Allah berkata:

    Masalah sertifikat halal yang ada masa berlakunya, kalau antara penjual dan pembeli (konsumen) saling curiga, berprasangka, dan tidak saling percaya juga tetap bisa meragukan. Misalnya, prasangka, sertifikat halal berlaku mulai periode A sampai dengan B, nah, di antara periode itu siapa yang bisa menjamin bahwa produsen (penjual) tetap menjaga komitmen? Apakah MUI rajin mengontrol setiap hari? Tentu saja tidak. Maka, sebaiknya kita kembalikan saja persoalan tersebut ke dalam koridor agama Islam.
    Pertama. Prinsip jual beli (antara penjual dan pembeli/konsumen) adalah rasa saling percaya. Dalam hal ini penjual sudah dengan tegas menjamin bahwa kualitas barang yang dia jual (dalam kasus ini dia sudah secara lisan menjamin kehalalan makanan yang dia jual). Kalau ternyata apa yang dia sampaikan melalui lisannya itu ternyata tidak sesuai keadaan, artinya dia menipu, maka DOSA atasnya adalah pada si penjual. Karena Allah juga mengambil kesaksian atas apapun yang diucapkan lisan. Dalam hal ini, berarti si penjual termasuk kategori orang yang mengkhianati amanat.
    Kedua. Secara hukum fiqih. Merupakan sebuah keutamaan bagi seorang muslim untuk selalu bersifat wara’, yaitu berhati-hati dalam menjaga diri agar jangan tercebur ke dalam hal-hal yang diharamkan Allah SWT.Sifat wara’ ini merupakan sifat yang utama bagi seorang muslim dan merupakan jalan menuju menjadi orang yang berderajat muttaqin. Sebagaimana sabda nabi SAW:

    Dari ‘Athiyyah bin ‘Urwah As-Sa’diy berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba tidak akan sampai sebagai bagian dari orang bertaqwa hingga dia meninggalkan hal-hal yang tidak haram, karena takut sesuatu yang tidak haram itu menjadi haram. (HR. Tirmidzi)

    Demi mengamalkan kedua dalil di atas, maka bila ada seorang hamba yang sangat berhati-hati dalam masalah memakan makanan tertentu, lalu dia memilih untuk memasak dan mengolah sendiri semua makanan yang dikonsumsinya, jangan diejek dulu. Sebab sesuai dengan ijtihadnya, dia ingin bersikap hati-hati sesuai dengan suara hatinya.
    Namun sampai di mana rasa kehati-hatian ini masih dianggap wajar? Apakah semua muslim yang tinggal di negeri minoritas Islam, harus memasak dan mengolah sendiri semua makanannya, dan meninggalkan semua jenis makanan yan tersedia? Dan benarkah rasa hati-hati ini boleh digeneralisir hingga merubah status hukumnya?

    Kita tahu bahwa Islam adalah agama yang mudah, ringan dan tidak merupakan beban buat umatnya. Termasuk dalam masalah makanan. Dalam syariah Islam, kita diperintahkan untuk melakukan segala sesuatu berdasarkan dalil yang kuat, bukan dengan asumsi dan perasaaan.
    Ketika kita shalat dan yang kita lihat secara pisik bahwa pakaian kita bersih, tempat shalatnya juga bersih, maka kita harus meyakini bahwa keduanya suci dan bersih. Kita diharamkan bersikap was-was yang berlebihan, seperti was-was kalau-kalau ada setitik najis pada pakaian kita atau tempat shalat yang tidak kita sadari. Sehingga kemudian malah menyusahkan kita sendiri.

    Sikap berlebihan seperti ini justru dilarang dalam Islam. Sikap wara’ (berhati-hati) tidak bisa disamakan dengan sikap was-was dan ragu-ragu. Maka untuk membedakannya, ada kaidah yang berbunyi:

    Nahnu nahkumu biz-zhowahir, wallahu yatawallas-sarair. Kita memutuskan hukum berdasarkan bentuk zahirnya, sedangkan masalah yang tersembunyi menjadi urusan Allah.

    Keterkaitannya dengan hukum makanan di negeri minoritas muslim atau yang berasal dari negeri non muslim, maka kita patut berhati-hati, tetapi juga tidak boleh was-was berlebihan. Sehingga malah menyusahkan diri sendiri. Kalau kita selalu curiga kepada orang lain, maka hidup ini akan semakin sempit, dan agama ini juga akan semakin menyulitkan.

    Sesuai dengan kaidah “Lâ syak likatsir al-syak”, katsir al-syak (seseorang yang memiliki keraguan berlebihan) tidak boleh mengindahkan keraguannya. Sesuai dengan pandangan mayoritas fukaha, kaidah ini, tidak terkhusus pada shalat, melainkan juga mencakup pendahuluan-pendahuluan shalat seperti wudhu, mandi, dan tayammum, demikian juga mencakup ibadah-ibadah rangkapan seperti haji, transaksi-transaksi dan masalah ideologis.
    Mereka menyodorkan dalil-dalil untuk menjelaskan pandangannya; seperti bahwa kaidah “Lâ syak likatsir al-syak”, merupakan sebuah sebab yang memiliki hukum general. Dengan syarat bahwa orang itu memiliki keraguan yang berlebihan dan keraguannya bersumber dari was-was; sedemikian sehingga secara urf orang-orang berkata bahwa ia memiliki keraguan yang berlebihan. Mereka menyodorkan dalil-dalil untuk menjelaskan pandangannya; seperti bahwa kaidah “Lâ syak likatsir al-syak”, merupakan sebuah sebab yang memiliki hukum general.[1] Dengan syarat bahwa orang itu memiliki keraguan yang berlebihan dan keraguannya bersumber dari was-was; sedemikian sehingga secara urf orang-orang berkata bahwa ia memiliki keraguan yang berlebihan. Karena itu mereka berkata: KERAGUAN (SYAK) YANG BERSUMBER DARI WAS-WAS TIDAK BOLEH DIINDAHKAN (TIDAK BOLEH DITURUTI) KARENA WAS-WAS BERASAL DARI SYETAN. MAKA DARI ITU SETIAP MUKMIN DIANJURKAN UNTUK MEMOHON PERLINDUNGAN DARI PENYAKIT HATI YANG BERNAMA WAS-WAS, YANG MERUPAKAN GANGGUAN DALAM IBADAH KETAATAN.

    Kehati-hatian (wara’) yang berlebihan justru dapat merusak amal ibadah, karena dalam hal ini seseorang bisa terjerumus dalam sikap memandang rendah orang lain dan menganggap diri paling beriman dan bersih. Contohnya dalam hal makanan yang tidak bersertifikat halal, padahal pihak penjual telah menjamin secara lisan bahwa makanan tersebut halal. Ada beberapa prasangka yang dilarang di sini, yaitu artinya menuduh si penjual tidak jujur karena tidak mensertifikasikan dagangannya, kalau ternyata apa yang dikatan oleh si penjual itu benar dan ia jujur, artinya perkara tersebut telah berubah menjadi fitnah. Yang berikutnya, artinya memandang hati dan akhlak orang lain itu rendah karena beranggapan (berprasangka) bahwa apa yang dikatakan oleh lisannya itu bohong atau tidak jujur, padahal Islam sendiri telah melarang seorang mukmin memandang rendah orang lain karena bisa jadi orang yang disangka buruk itu justru lebih baik dari yang menyangkanya.
    Berikutnya, lisan dan segala macam indra akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Jadi ketika seseorang itu mengeluarkan jaminan dengan lisannya, maka sesungguhnya iitu akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Jadi, dalam ucapan lisan pun juga berlaku dalam hukum Allah SWT.

    Ketiga. Sikap was-was akan selalu menimbulkan berbagai prasangka buruk. Hal ini pun secara tegas dilarang dalam Islam sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. Al Hujuraat 12 :
    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah mengunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

    Wallahu a’lam bishshwab.

  14. david berkata:

    Assalamualaikum wr wb

    Saya tertarik dengan pembahasan ini . Seperti yang kita ketahui banyak sekali para penjual makanan dan minuman di pinggir jalan . Dan mereka pun tidak mencantumkan sertifikasi halal lembaga yg berwenang . Apa bisa disebut makanan yg mereka jajakan itu haram karna tidak mengantongin ijin tersebut ?

    Saya berpendapat. Memang orang kita sangat menjunjung nilai kejujuran . Atau hanya pasrah dengan ketidaktahuan mereka

  15. Jun berkata:

    Saya semalam datang di breadtalk di mall taman anggrek Jakarta kasirnya kurang ajar sekalian saya batalin beli udah marah saya udah Antri dibilang nyerobot.

  16. benny berkata:

    Alhamdulillah dapat pencerahan.
    Sebagai muslim tentu saja kita WAJIB menghindari sesuatu yang haram dan yang kehalalannya meragukan.
    Semua tergantung dari masing-masing individu krn amal atau dosanyapun kelakakan dirasakan oleh pribadi ybs.
    Yang penting bapak sudah mengongatkan, semoga menjadi amal buat bapak. Selebihnya terserah maing2 hendak memilih jalan yang mana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s