Rencana Penggunaan Indeks A, AB, B, BC, C, D, dan E di ITB

Wah, wah, setelah meluncurkan kurikulum baru 2008 – 2013, ITB akan melakukan perubahan sistem penilaian. Pada acara penyegaran dosen hari Jumat yang lalu, dipaparkan sistem yang baru ini (dari foto kopi laporan yang dibagikan). Jika selama ini sistem penilaian menggunakan 5 indeks (A, B, C, D, dan E), maka ke depan (belum pasti apakah mulai semester ganjil ini atau semester genap) ITB akan menggunakan sistem 7 indeks (A, AB, B, BC, C, D, dan E). Kabarnya sistem baru ini sudah disetujui Senat Akademik ITB, berarti tinggal menunggu waktu saja lagi.

Semula, ekivalensi dalam angka adalah: A = 4, B = 3, C = 2, D = 1, dan E = 0, maka dengan sistem yang baru ini, A = 4, AB = 3.5, B = 3, BC = 2.5, C = 2, D = 1, dan E = 0.

Emang sih, sistem 5-indeks nilai kurang menggambarkan kualitas mahaiswa ITB yang sesungguhnya. Jika dilihat dari kualitas masukan, ITB selalu mendapat input terbaik secara nasional, tetapi IP mahasiswa ITB selalu sangat rendah dibandingkan dengan lulusan PT lain. Hal ini menyebabkan banyak sekali lulusan ITB yang pagi-pagi sudah tersisih ketika melamar kerja atau memperoleh beasiswa karean IP-nya kecil-kecil. Sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi nilai mahasiswa, baik dari segi sumberdaya (lab, dosen, peralatan, buku, dll) maupun proses pembelajaran. Perbaikan ke arah itu selalu ada, tetapi sistem pemberian sepertinya perlu diperbaiki.

Dikutip dari laporan yang dibagikan pada acara penyegaran dosen kemaren:

Hipotesis: Mahasiswa ITB secara nasional berkualitas A dan B, hanya sebagian kecil saja yang berkualitas C, D, dan E. Karena gradasi kurang halus maka distribusi nilai cenderung terbagi rata antara A, B, C, D, dan E. Selain tidak menggambarkan kualitas sesungguhnya, juga merugikan lulusan ITB ketika bersaing dalam nilai transkip dengan lulusan PT lain. Jika dibuat gradasi yang lebih halus (A, AB, B, BC, C, D, dan E misalnya) diharapkan mayoritas lulusan ITB bernilai A dan B, yang lebih menggambarkan kualitas sesungguhnya.

Dengan sistem baru ini, mahasiswa yang mendapat B dibagi menjadi AB dan B, dan mereka yang mendapat nilai C dibagi menjadi BC dan C.

Hmm… sepertinya sistem penilaain di atas lebih fair dan yang lebih penting akan menguntungkan mahasiswa. Saya setuju saja, karena selama ini dalam memberi nilai akhir saya sering sedih berkepanjangan berhari-hari memikirkan mahasiswa yang mendapat B gemuk (dekat dengan perbatasan A), atau yang mendapat C gemuk (dekat dengan perbatasan B). Beberapa kali hasil perhitungan nilai akhir yang saya buat saya timang-timang kembali, ubah lagi batas-batas penilaian supaya yang di perbatasan itu bisa naik, sebelum akhirnya nilai diumumkan ke mahasiswa. Hanya karena kurang sedikit nilainya dia mendapat B, yang dalam angka berarti 3. Kalau saja yang B gemuk ini diubah menjadi AB, kan nilai angkanya menjadi 3.5, lumayan buat menaikkan IP.

Emang sih, sistem penilaian baru ini tidak akan menyelesaikan akar permasalahan kenapa IP lulusan ITB rendah-rendah. Selain dua faktor yang telah disebutkan di atas (sumberdaya dan proses pembelajaran), ada faktor non teknis lain yang beredar secara bisik-bisik, seperti ada dosen yang “pelit” memberi nilai, ada dosen yang “tidak rela” mahasiswanya banyak yang mendapat A, dll.

Kamu punya pendapat?

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

15 Balasan ke Rencana Penggunaan Indeks A, AB, B, BC, C, D, dan E di ITB

  1. david berkata:

    wah kurang keren terdengar pak. bisa dikira orang lg ngomongin golongan darah, padahal lagi bahas tentang nilai. hehehe.

  2. david berkata:

    Tambahan lagi… Sayang sekali baru muncul sekarang sistem seperti ini. Saya banyak dirugikan oleh nilai B selama ini. 😦

  3. Kenapa hanya 7 ya? Menurut saya lebih adil jika terbaginya menjadi A, A-, B+, B-, C+, C, D, E… Tampak lebih banyak pilihannya πŸ™‚

    Ato, kenapa perlu indeks? Saya bahkan jauh lebih sepakat jika nilai seorang mahasiswa dituliskan apa-adanya… Oke, konversi yang dipakai adalah konversi terhadap nilai, mungkin si peraih nilai tertinggi otomatis jadi 100, diikuti yang dibawahnya… Jadi kayanya lebih adil aja…

    Sistem 7 nilai ini ujung2nya bakalan nyakitin yang, katakanlah, AB gemuk… Kan, sayang juga nilainya… Tetep 3.5 juga πŸ˜€

  4. pebbie berkata:

    wah, repot dong dosen ngasi nilainya Pak?

  5. ismailfaruqi berkata:

    Siap2 istilah baru…

    AB gemuk…
    AB kurus…
    BC gemuk…
    BC kurus…

    hehehe…

  6. aulia berkata:

    Lebih mending yang 7 indeks, gradasi lebih tipis. memang tetap akan muncul masalah misalnya yang dapat nilai AB gemuk, tapi sudah lebih baik daripada hanya dengan 5 indeks.

    UGM sudah lama tu pakai sistem seperti itu.

  7. alumni IF berkata:

    Lebih halus lagi kalo gradasinya 0 – 10 kayak di SD yg notabene juga dipake di Belanda sampe ke lulusan master.

    Kalo mahasiswa/i IF, kali yg pantes fungsi gradasinya gini ya:

    int index(const char *nilai)
    {
    return reinterpret_cast(nilai);
    }

    Jadi bisa dikonversi nilainya dari “rajin dateng”, “kurang presensi”, “tukang ngocol”, “pendiem”, dll ke 7 indeks. :-))

  8. Resdy berkata:

    Dengan indeks seperti ini akan membantu mendongkrak IP, terutama untuk yang nilainya di perbatasan. Waktu saya ambil MM di Prasetiya Mulya juga menggunakan sistem seperti ini.

  9. Galih berkata:

    Setelah iseng berselancar, dapat info bahwa sistem penilaian di Indonesia terdiri atas: A, A-, B+, B, B-, C+, C, C-, D. Tapi sampai sekarang saya tidak tahu perguruan tinggi apa yang menggunakan sistem ini.
    http://en.wikipedia.org/wiki/Academic_grading_in_Indonesia

    Saya baru tahu bahwa tiap perguruan tinggi bisa membuat sistem penilaian sendiri dan boleh tidak mengikuti standar penilaian nasional (mungkin karena memang tidak ada standar nasional?).

    Di universitas yang saya datangi sekarang, dosen bisa memilih cara memberi nilai, yaitu salah satu di antara: dengan angka (0 — 30), huruf (A — E), dan penerimaan (diterima / tidak diterima). Saat kelulusan, semua nilai mahasiswa akan dikonversi menjadi angka untuk menghasilkan GPA.

  10. brahmasta berkata:

    Mungkin di sisi baiknya bisa menggambarkan hasil penilaian proses belajar mahasiswa jadi lebih presisi. Jadi pelanggan B kurus akan beda dengan pelanggan B gemuk πŸ˜€

    Saya rasa istilah kurus dan gemuk akan berkurang pemakaiannya gara-gara rangenya untuk setiap nilai jadi kecil.

  11. ardianto berkata:

    Betul, saya setuju, penilaiannya jadi lebih enak…
    Sayang juga nilai yang dulu sebelum ini diberlakukan, yang dapat B gemuk…
    *ngarep* πŸ™‚

  12. Ping balik: Menghitung Nilai AB dan BC « Catatanku

  13. sunarto (Stabat) berkata:

    Pak Rin, apa ada data yg menunjukkan berapa persen alumni ITB yg gagal dalam proses perekrutan karena IP?
    Kalau persentasinya kecil, ITB gak perlu lah ikut2an meninggikan2 IP yang penting kualitas lulusannya yang menurut saya justru lebih penting dari sekedar IP.

    Selama saya bekerja di beberapa perusahaan, saya belum pernah mendengar ada candidate yang di-drop karena IP.
    Secara umum, kebanyakkan hanya BUMN, instansi pemerintah, dan konsultan beken yang menetapkan batas minimal IP tertentu.

  14. rinaldimunir berkata:

    @sunarto: nggak ada, hanya berupa pengamatan dari beberapa kasus yang sering terjadi. Saya kira IP alumni ITB perlu ditinggikan, karena sering terjadi mereka sudah tersingkir duluan di tahap awal karena di bawah threshold. Kalau kualitas kan tidak bisa diukur pada tahap awal seleksi?

  15. piyu berkata:

    Di kampus saya penilaian mahasiswa terbagi menjadi 11 tingkat:
    A
    A-
    AB
    B+
    B
    B-
    BC
    C+
    C
    D
    E

    Sistem penilaian ini sangat adil bagi mahasiswa, seperti penilaian angka 0-10 saat di sekolah dulu. Dan mahasiswa tidak ada yang protes karena mendapat nilai B gemuk atau C gemuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.