Kuliah Pakai Sandal dan Kaos

Ketika menerima kunjungan mahasiswa ITS Surabaya, seorang mahasiswa ITS mengajukan pertanyaan: kenapa di ITB mahasiswa boleh kuliah pakai baju kaos? Di tempat kami di ITS mahasiswa tidak boleh kuliah pakai kaos.

(bagi pembaca mahasiswa/alumni ITS, harap diklarifikasi apakah benar ada aturan pelarangan memakai baju kaos di kampus ITS?)

Pertanyaan sederhana, namun menggelitik. Saya sudah cari-cari buku etika mahasiswa dan dosen ITB, sayang buku itu belum ditemukan. Setahu saya tidak ada larangan mahasiswa kuliah pakai baju kaos. Kenyataanya sebagian besar mahasiswa kuliah pakai kaos tuh. Malahan dosen ITB ada yang mengajar pakai baju kaos. Yang penting, selama masih dalam batas-batas kewajaran, maka penggunaan kaos masih bisa ditolerir.

Tetapi kalau kuliah pakai sandal, sebagian besar dosen ITB (termasuk saya sendiri) akan mengatakan: tidak boleh! (saya katakan sebagain besar karena ada juga dosen yang tidak mempedulikan hal ini, yang penting kemampuan otak mahasiswa bisa diandalkan).

Saya sering menemukan mahasiswa datang ke kampus memakai sandal. Ketika mereka memasuki gedung LabTek V tempat Prodi Informatika berada, biasanya mereka saya tegur dan saya omeli. Saya katakan: silakan pulang kembali pakai sepatu, baru boleh ke sini.

Sebagian mahasiswa ada yang berkilah bahwa yang mereka pakai adalah sepatu-sandal, yaitu setengah sepatu dan setengah sandal. Bagaimana “hukum” alas kaki jenis ini ya? Saya sedikit kebingungan menanggapi kilahan semacam ini.

Maksud saya begini, memakai sandal ke kampus adalah perbuatan tidak sopan. Masa pergi ke kampus disamakan dengan pergi ke WC atau ke pasar? Kampus adalah lembaga formal, maka tidak selayaknya area formal itu dimasuki dengan busana yang tidak formal juga, bukan? Mari kita buat analogi semacam ini: jika anda mengadakan pesta pernikahan, lalu ada tamu anda datang memakai sandal jepit, pasti anda tidak senang sebab merasa dilecehkan.

Pesan moral yang ingin saya sampaikan dengan larangan memakai sandal adalah: jika anda datang ke kampus dengan memakai sandal, berarti anda tidak menghargai diri sendiri. Apa tidak terbalik tuh? Bukannya tidak menghargai institusi? Tidak, tidak terbalik, bagaimana anda mau menghargai institusi jika anda tidak menghargai diri sendiri terlebih dahulu.

Kaos dan sandal hanyalah salah satu contoh saja. Saya memperhatikan akhir-akhir ini penggunaan busana bagi pelajar dan mahasiswa sangat memprihatinkan. Di atas angkot saya melihat ada siswa SMA, laki-laki, memakai celana yang hampir melorot. Kalau dia duduk atau membungkuk, maka kelihatan (maaf) celana dalamnya, lalu tiap sebentar dia menarik-narik celananya ke atas (kata saya dalam hati: udah tahu bakal repot menarik-narik celana ke atas, kenapa dipakai juga?). Entah mode apa pula yang melanda busana remaja saat ini sehingga mereka senang memperlihatan celana dalamnya kepada orang lain (perilaku eksibisionis kah?). Untunglah saya tidak menemukan mahasiswa saya seperti anak SMA di atas, entah ya kalau mahasiswa ITB lain (ada nggak?). Tetapi di beberapa PT di Bandung saya pernah melihat ada mahasiswanya yang memakai celana hampir melorot kayak gitu.

Beberapa tahun lalu di milis dosen IF pernah ada perdebatan tentang mahasiswi IF yang kuliah dengan pakaian yang ‘menantang’. Ada mahasiswi yang memakai baju yang bagian dadanya begitu terbuka. Ada mahasiswi yang pakai baju kaos yang ketat sehingga terlihat dengan jelas lekukan tubuhnya. Ini pergi kuliah atau pergi ke pesta sih? Seorang dosen menjawab begini: itu hak mahasiswa mau memakai busana apa, kita tidak boleh melanggar hak asasi orang lain toh? Seseorang tidak bisa dinilai dari pakaiannya saja, kan?

Benar, kita tidak boleh melanggar hak asasi orang lain. Namun ingat, hak asasi itu tidak bersifat bebas mutlak, ia dibatasi oleh hak orang lain. Orang lain juga punya hak menikmati kenyamanan sosial. Dengan memakai busana yang “menantang seperti itu kenyamanan orang lain juga terganggu, orang lain yang melihatnya merasa risih atau jengah. Mau menegur nggak enak, tetapi kalau dibiarkan risih sendiri. Ini pertanda pemakaian busana semacam itu melanggar hak asasi orang lain juga.

Berdebat tentang sopan dan tidak sopan, pantas dan kurang pantas, tidak akan habis-habisnya (karena itu pula RUU APP belum berhasil disahkan menjadi UU karena perdebatan soal porno dan tidak porno itu tidak kunjung selesai, kaum penentang mengganggap RUU APP sebagai pembatasan kebebasan berekspresi). Sebagian orang memandang bahwa ukuran sopan-tidak sopan, pantas-tidak pantas itu relatif bagi tiap individu. Kalau saya berpandangan begini: norma umum mana yang berlaku di suatu tempat? Kalau norma individu yang dipakai, maka akan banyak aneka norma yang beragam pada diri manusia. Susah kalau berpegang norma individu ini. Maka, acuan yang digunakan adalah norma umum yang berlaku di tempat itu. Selama norma di kampus itu mengatakan bahwa memakai sandal atau memakai busana serba terbuka atau menantang adalah perilaku yang tidak sopan, maka siapapun tidak dibenarkan menggunakannya di area kampus (saya pikir ITB masih menggunakan norma sosial ini, entah ya beberapa tahun yang akan datang). Silakan menggunakannya di kamar sendiri atau di tempat lain yang menganggap berbusana semacam itu boleh-boleh saja.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

28 Balasan ke Kuliah Pakai Sandal dan Kaos

  1. oemar bakrie berkata:

    kalau kuliah saya melarang mahasiswa pakai sendal pak. Saya bilang kalau anda nggak bisa bedakan antara pergi ke kampus utk kuliah dg pergi ke WC, jangan salahkan kalau dosen ttidak bisa bedakan antara anda dapat A atau E ….

  2. sandclow berkata:

    Indonesia memang negara yg sangat memegang teguh nilai-nilai kesopanan ya Pak …..

    Di jepang masalah pakaian mahasiswa ndak ada yang peduli … cuman kalo ada presentasi aja yg harus pake baju resmi dan dasi …

    Kalo lagi musim panas, kaos minim, celana pendek dan sendal udah biasa …

    padahal kalo di Indonesia, tiap hari musim panas πŸ˜€

  3. gntong berkata:

    Tidak juga, di kampus saya diizinkan memakai sandal. Bahkan celana pendek juga diizinkan. Meskipun peraturan resmi di tingkat universitas tidak dibolehkan, tapi di tingkat fakultas dan program studi ini dilanjutkan. Bahkan di tingkat program studi ditekankan bahwa menghadiri kelas adalah HAK setiap mahasiswa, bukan KEWAJIBAN.

  4. Ady Wicaksono berkata:

    wah, pas diwisuda dulu pake sepatu sendal, habis gak punya sepatu…

  5. Catra berkata:

    saya gak berani pak, memakai sandal ke kampus, lagian emang gak nyaman klo kuliah make sandal pak.
    klo make kaos emang sebagian baju2 saya adalah kaos, kemeja terkesan ribet pak.

  6. Asri Rachman berkata:

    Jadi ingat, datang telat, pake baju kaos dan sandal plus belum mandi.
    Betul2 (bukan) mahasiswa teladan.

  7. Brahmasta berkata:

    Jadi ingat pernah ditegur Bu Inge dulu karena memakai sandal. Jadi kapok.

    Norma itu masih ada kok saya yakin Pak. Dan orang-orang yang tidak sesuai berpakaiannya, saya yakin lama-kelamaan akan menyesuaikan diri. Memang pada saat awalnya saja yang mengagetkan.

  8. sahatmrt berkata:

    wah.. saya setuju Pak! memang kesopanan/kepantasan berpakaian sesuai norma sosial yang berlaku di suatu tempat perlu dipegang. Juga tampaknya kesadaran macam ini memang perlu disebarkan pada mahasiswa/i.

    satu hal yang bikin saya geli pengen ngakak dan gak habis pikir sih soal model celana para mahasiswi sekarang ini. udah sering saya lihat mahasiswi sekarang, setidaknya beberapa orang di tempat saya, model celana (jins) nya bagian pinggangnya rendah sekali sehingga celana dalamnya mengintip. jadi sering ketahuan deh warnanya. tidak dilihat pun memang sudah terlihat dengan sendirinya gituh.

    parahnya, saking rendahnya, kadang, maaf, belahan pantatnya aja sampe ngintip. buset dah saya pikir, pengen ngakak saya, dulu orang mengeluhkan belahan dada yang terlihat, sekarang belahan pantat! duh! perkembangan jaman makin aneh aneh aja nih :mrgreen: entah belahan apa lagi nanti yang terlihat :mrgreen:

    ah.. makasih Pak! tulisan ini bikin saya jadi ngakak! :mrgreen:

    salam!

  9. reiSHA berkata:

    Jadi ingat dulu pernah kumpul sama Bu Wanti (alm.) dan Bu Ita pas TPB ngebahas cara berpakaian mahasiswa… πŸ™‚

  10. ghifar berkata:

    semenjak tingkat III sy dah ga pake sendal atau sepatu sendal lagi ke kampus karena sepatu sendal sy ilang, he3.. yang penting ad kemajuan dalam berpakaian (mencoba berdalih πŸ™‚ )

  11. Galih berkata:

    Saya termasuk mahasiswa ‘nurut’ yang ke kampus selalu pakai sepatu dan pakaian sopan. Begitu kuliah di Italia, sempat culture shock melihat cara berpakaian di sini. Salah satu kejadian yang paling mengusik saya sampai sekarang adalah waktu teman kuliah (laki-laki) memakai kaos, celana sangat pendek (bukan sekadar di atas lutut), dan sandal ke ujian lisan! Saya hampir tidak bisa memandang teman saya waktu itu (malu sendiri). Dosennya sih tidak perduli, prinsip yang dipegang adalah, dosen tidak berhak menentukan pakaian mahasiswa. Hal-hal yang seperti ini yang membuat saya kangen Indonesia.

  12. beki berkata:

    Yg juga saya prihatin adalah mereka yg sudah berkerudung tapi pakaiannya terutama bawahannya (jeans) masih sangat ketat.

    Teman saya bilang seperti jenis karoseri mobil “full pressed body … ” atau orang sunda bilang “siga leupeut … ” (masih mending kalau leupeut kan lempeng-lepeng saja, nggak ada lekukan yg aneh-aneh) hehehe …

    Saya menghormati niat dan kemauan mereka untuk menutup aurat, tapi nampaknya masih harus belajar lagi bahwa tidak hanya sekedar tertutup.

  13. Randimurti berkata:

    Yap, lain tempat, lain norma. Kalo saya dulu kuliah di Jerman di musim panas udah biasa liat cewe2x kuliah pake hotpants dan tanktop. Sebagian dosen juga. hehe

  14. Raymond Ralibi berkata:

    Waduh. Ajaib nih…

    Saya pernah kepergok dosen saya (Bu Inge) jam 22.00 lewat (malem bener). Ketinggalan flashdisk di Lab. Saya pakai sendal lengkap dengan celana pendek dan sepeda diparkir di depan lift.

    Saya ga setuju sepatu sandal disamakan dengan sepatu. Kalo bisa disamakan dengan sepatu, berarti juga bisa disamakan dengan sendal.

  15. qnoi berkata:

    hahaha.. saya stuju ama pak oemar bakri:

    “kalau anda nggak bisa bedakan antara pergi ke kampus utk kuliah dg pergi ke WC, jangan salahkan kalau dosen ttidak bisa bedakan antara anda dapat A atau E ….”

    kalo saya jadi mahasiswanya.. mati kudu dahh.. haha..

  16. dikshie berkata:

    setuju@13. beda tempat beda norma.
    saya pikir jng dibandingkan indonesia dng negara eropa, usa πŸ™‚
    minggu lalu dosen saya masuk kelas pake kaos, celana pendek, plus sendal jepit. krn ruangan berkarpet, sendal jepitnya malah dilepas selama ngajar :-))
    disini kalau lagi musim panas (summer) udah biasa cewek2 kuliah pake kaos tipis, celana pendek πŸ™‚

  17. siti berkata:

    Da.. kayaknya yg celana melorot itu memang lagi musim.. ini beritanya: http://news.yahoo.com/s/afp/20080916/od_afp/usfashionjusticeoffbeat

    memang modelnya celananya dipake dibawah (maaf) pantat.. entah gimana cara ngiketnya biar ndak melorot sampai ke mata kaki…

    btw.. kalao ndak salah menurut berita ini… celana model ginian sekarang udah inkostitusional di USA… hehehe.. ada2 aja

  18. hamka berkata:

    sedikit setuju dengan “beda tempat, beda norma”. Kalo saya “beda dosen, beda norma”:D . Kadang saya pake sendal sepatu karna alasan kepraktisan dipakai saat dosen2 tertentu.
    Teman2 mahasiswa yang sangat mobile di dalam kampus (himpunan-unit-nginep-mandi), pasti punya sendal di lokernya πŸ˜€ .

  19. emily berkata:

    hihi,, mahasiswa its ikutan nimbrung ah..
    iya neh ngga boleh,, sempet denger kalo cewek boleh pake kaos.. tp pada kenyataannya pada g ada yg berani kecuali jurusan tertentu seperti Despro karena menurut mereka bebas mengekspresikan diri πŸ™‚
    tapi kalo dah ngga ada kuliah dan di lab terus,, ya kaos terus yg dipakai.. tapi kalo ke kampus tetep pake sepatu kecuali hari libur πŸ™‚

  20. Anto berkata:

    Inget jaman kul dulu. Kalau pakai kaos berkerah sih rasanya oke saja. Nah alas kaki biasanya cukup sepatu kets murahan beli di kaki lima, diinjak belakangnya. Kalau mau menghadap dosen tinggal naikin. Sudah sah, meski harga sepatunya jauh di bawah harga sandal tetapi secara formal sudah memenuhi persyaratan.

  21. Arie berkata:

    Duh maaf ya Pak, kemarin saya waktu silaturahim ke IRK malah pake sendal. Diajakin temen ke kampus secara mendadak. Mau pulang lagi ke rumah, nampak terlalu jauh & kelamaan.

    Ya udah deh, dengan malu2 masuk ke IRK… 😦

  22. rdn berkata:

    Inilah pentingnya etika diri, sayang sekarang di kurikulum yang baru sudah gak ada. (Berarti gak penting kah di lingkungan ITB?) Ini harusnya menjadi pelajaran pertama seseorang di lingkungan tertentu, semacam kalo di perusahaan dikenal istilah “Budaya Perusahaan” atau “Corporate Culture”. Apa saja corporate culture itu, saya rasa ITB perlu mendefinisikan dan selanjutnya menjadikannya sebagai kristal-kristal budaya di lingkungan ITB yang harus dilestarikan. Tugas siapa ini? Tentu saja tugas dari seluruh komponen yang terlibat di dalam ITB. Kalau terhadap mahasiswa, yaa pak/ibu Dosen-nya.
    O iya, apabila corporate culture spt ini tidak dikristalkan, sering muncul culture2 dalam lingkup sub-corporate yg menguat. Contoh pada lingkup jurusan. Sy masih ingat kalo kuliah di ITS jrs T.Mesin pake kaos oblong, pake sendal, gak mandi sambil merokok…dosen cuek saja karena sudah terbiasa. Ini semacam culture jurusan, karena di jrs lain gak memungkinkan. Eee…begitu tiba di ITB IF, wahh boro2 bisa melakukan hal yg sama, paling yg bisa dilakukan hanya gak mandi…langsung kuliah….hehehe. Kultur-nya sudah beda.
    Supaya tidak per sub-corporate seperti itu, saya rasa sudah saatnya di ITB mendefinisikan “Corporate Culture” yang bisa diterima dan diterapkan di seluruh lingkungan ITB.

  23. Anwar berkata:

    klo pake sandal ke kampus terlalu parah………..
    klo kaos sich biasa menurut gue kan lebih santai gtu…..
    justru klo berpakaian resmi dan berdasi tiap hari sprti anak SD……..pak oya 1 lagi pak klo pake kaos kan lebih simple dan santai, justru klo santai otak kita kan fresh jadi mudah nangkap plajaran gtu…..

  24. rinaldimunir berkata:

    @Anwar: di ITB boleh kok pakai kaos, Anwar, yang tidak boleh adalah pakai sandal. Baca lagi tulisan di atas ya.

  25. sup kendo berkata:

    awal2 kuliah aja yang masih pake sandal + celana bolong2 + kaos…. tambah lama tambah sadar terus pake sepatu dan celana ga bolong2 tapi tetap pake kaos..

    setelah tingkat 3 saya pake sandal ke kampus kalo lagi tidak ada acara perkuliahan, jadi sewaktu acara himpunan atau acara selain perkuliahan.

    menurut saya, berhubung tinggal di Indonesia, berpakaian sopan dan rapi sewaktu kuliah adalah suatu norma sosial. jadi sebaiknya tidak pake sandal apalagi sandal jepit sewaktu kuliah. kaospun sebaiknya bukan kaos untuk tidur yang dipakai untuk kuliah melainkan kaos gaul.

  26. iwanharefa berkata:

    Di kampus saya dulu sebagian dosen memperbolehkan mahasiswanya menggunakan sandal dan kaos. Kebanyakan yang memperbolehkan menggunakan sandal dan kaos adalah dosen2 bule. Sementara dosen2 pribumi lebih ketat harus menggunakan sepatu dan pakaian berkera.

    Yah,, Setiap dosen dan Perguruan Tinggi ( PT ) mempunyai perbedaan peraturan mengenai pengunaan cara berpakaian. dll

  27. aziz berkata:

    malam pak,, sudah lumayan lama artikelnya.
    terimakasih atas tulisanya, sesuai yang sedang saya ingin tau, tadinya nyari digoogle masalah sopan santun sendal, dan akhirnya ketemu deh blog ini.
    kebetulan saya juga civitas ITB, mahasiswa ITB angkatan 2013.
    bisa dikatakan saya adalah mahasiswa yang tidak sopan bila dihubungkan dengan artikel di atas hampir setiap hari saya menggunakan sandal ketika berkuliah. awalnya saya memakai sandal ketika sepatu saya basah dan bau karna hujan. setelah itu saya ketagihan memakai sandal karena tak perlu repot-repot memikirkan masalah basah dan bau. lalu hal lain yang membuat saya nyaman memakai sandal adalah ketika mau sholat dan wudlu lebih mudah melepasnya bila dibandingkan dengan sepatu. saya merasa lebih pratis dan ergonomis. setelah beberapa bulan saya baru mendapatkan teguran dari dosen, katanya itu tidak sopan, yang malu bukan mahasiswanya, tapi dosen yang mengajarnya katanya. saya juga pernah dapat teguran ketika saya berkunjung ke suatu perusahaan.

    namun tetap setelah baca artikel diatas dan komentar-komentarnya juga, saya masih belum merasa terjawab pertanyaan yang saya pikirkan
    hampir sebagian besar komentar di atas setuju kalau sandal tidak sopan ketika berada dilembaga formal.

    (saya fokuskan ke sandal)
    artikel diatas singkatnya mahasiswa yang memakai sandal itu mahasiswa yang melanggar norma sosial di ITB, seperti itu?

    mohon maaf sebelumnya.
    tapi, dari saya sendiri belum merasa melanggar norma sosial. dari sudut pandang saya kenapa saya sendiri merasa tidak bersalah karena saya belum tau pasti apa akibatnya kalau saya memakai sandal. banyak pertanyaan yang terpikirkan.. ( pengingat: saya menulisnya dengan santai, ekspresi santai. sengaja saya kasih tau, karena tulisan tidak begitu mewakilkan ekspresi penulis, takutnya ketika saya menulis santai, yang membaca mengekspresikan berbeda mungkin karna bbrp faktor suasana atau yg lain)

    kenapa sandal tidak sopan dan sepatu sopan, padahal sama-sama alaskaki?,
    kalo berbicara norma, sandal itu tidak sopan, bagaimana kalo berbicara bentuk, apa yang membuat bentuk sandal tidak sopan dibandingkan dengan sepatu, apakah karna sandal terbuka dan sepatu tertutup? memang kenapa kalo sandal terbuka dan kaki terlihat? tidak enak dipandang? saya rasa tidak.
    apakah karena tidak sesuai fashion yang dikenakan rapi lalu menggunakan sandal? sekarang banyak jenis sandal sesuai fashion masing-masing.
    apakah karena sudah menjadi budaya kalau sepatu lebih sopan dan sandal tidak? jika iya apakah relevan sampai sekarang?
    apakah sandal hanya dibawa ke WC?, saya ke WC malah tidak pake alas kaki
    apakah karena sandal terlihat tidak rapi? rapi kualitatif menurut saya.
    kalo misal karena norma/aturan di ITB sandal itu tidak sopan, dari mana asal norma itu muncul? apa alasannya norma itu muncul?
    masih banyak pertanyaan sebenarnya pak, tapi bgg nyusun kata-katanya, dan ini sudah cukup pnjng.

    mohon maaf kalo ada salah
    terimakasih pak.

  28. alifsussardi berkata:

    Dosen saya ngajar pake sendal kok. Kampus tempat berkumpulnya berbagai budaya. Beberapa kebudayaan menganggap sendal, bahkan nyeker sopan. Asal tidak ada peraturan yang melarang, why not

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.