Pengalaman Mengisi Dokumen Sertifikasi Dosen

Sesuai dengan UU Guru dan Dosen yang sudah disahkan, setiap dosen di Indonesia diwajibkan menjalani sertifikasi. Sekarang ini tampaknya segala hal harus disertifikasi supaya mendapat pengakuan.

Beberapa hari yang lalu dosen-dosen di ITB menjalani sertifikasi. Kita diminta mengisi dokumen sertifikasi. Penilaian sertifikasi didasarkan pada penilaian: mahasiswa, atasan, teman sejawat, dan pernilaian diri sendiri. Jika salah satu penilaian tidak lulus, maka dosen gagal meraih sertifikasi dan harus mengulang lagi tahun depan (seperti mengulang kuliah saja, ha..ha). Makanya dosen harus berbaik-baik dengan mahasiswa supaya mahasiswa memberi nilai yang bagus, he..he (bercanda).

Nah, yang merepotkan dan cukup sulit adalah penilaian diri sendiri. Penilaian diri sendiri ini ada dua macam, pertama penilaian persepsional dosen yang mana mengisinya cukup mudah sebab kita hanya tinggal melingkari jawaban yang berupa skala nilai 1 sampai 5.

Kedua, instrumen deskripsi diri. Nah yang kedua ini yang lebih sulit karena kita harus mengisi jawaban pertanyaan dalam bentuk narasi/deksripsi. Jika jawabannya pendek-pendek (satu kalimat misalnya), maka dipastikan tidak lulus sertifikasi, karena jawaban pendek dianggap tidak mencerminkan deskripsi yang lebih terang. Itu pengalaman dosen senior saya yang sudah mumpuni di bidang ilmunya, sudah doktor, punya jabatan ketua ini dan itu, punya reputasi internasional, tapi tahun lalu dia gagal.

Kesulitan kedua muncul karena kita harus mendeskripsikan karakter diri kita sendiri (sifat, perilaku, dsb). Kalau menilai orang lain sih kita pasti bisa, tetapi menilai diri sendiri dalam bentuk deskriptif, alamaak ternyata tidak mudah.

Seperti apa contoh pertanyaanya dan seperti apa jawaban yang diinginkan? Contoh berikut ini bisa dijadikan gambaran (diambil dari contoh dokumen yang dibagikan):

Contoh Deskripsi:

Aspek : Prestasi kerja dosen

Pernyataan Dosen:
Sekitar tiga semester yang lalu, saya mulai menyadari bahwa mahasiswa saya kesulitan memahami kuliah yang saya berikan, ketika saya sajikan tanpa bantuan media visual. Saat itu saya belum memahami teknologi media dan saya mulai mempelajarinya. Secara bertahap saya menerapkan pemakaian media visual dalam perkuliahan, sehingga saya dapat memberi banyak ilustrasi dan melengkapi presentasi perkuliahan dengan animasi untuk memperjelas konsep, bahan, materi, proses terkait dengan bidang ilmu yang saya ajarkan. Kelas menjadi lebih bergairah dan hidup. Implikasi suasana pembelajaran itu, prestasi mahasiswa meningkat jika dilihat dari sebaran nilai ujian dan/atau kualitas tugas mahasiswa. Sekarang, semakin banyak dosen di universitas saya yang mengikuti model pembelajaran ini.

Nah, seperti itu contohnya. Ternyata pelajaran mengarang itu penting lho, nyatanya banyak teman-teman saya kesulitan dalam mendeskripsikan jawaban.

Seperti apa pertanyaan instrumen deksripsi diri itu? Di bawah ini daftar pertanyaannya.

Bagian 1
Pada Bagian I ini, uraikan apa saja yang telah Anda lakukan dalam beberapa tahun terakhir yang dapat dianggap sebagai prestasi dan/atau kontribusi bagi pelaksanaan dan pengembangan Tridharma Perguruan Tinggi, yang berkenaan dengan hal-hal berikut.

Pertanyaan:
1. Jelaskan usaha-usaha Saudara dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan bagaimana dampaknya!

Deskripsi jawaban: …………………….

2. Jelaskan karya-karya ilmiah yang telah Saudara hasilkan, baik dalam bentuk buku, penelitian, jurnal ilmiah, makalah yang dipresentasikan (dalam forum ilmiah), hak paten, hak cipta, artikel dalam media masa dan bagaimana keterkaitannya dengan pengembangan keilmuan Saudara! Berikan judul karya ilmiah (dan jurnalnya) Saudara!

3. Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam pengembangan manajemen pada unit kerja di perguruan tinggi Saudara, dan bagaimana implementasinya! Berikan contoh keterlibatan Saudara!

4. Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam kegiatan kemahasiswaan dan bagaimana implementasinya! Berikan contoh keterlibatan Saudara!

5. Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan bagaimana implementasinya! Berikan contoh keterlibatan Saudara!

Nah, Bagian I tidak terlalu sulitlah, jawabannya bisa diambil dari CV, daftar publikasi, dokumen histori, dan sebagainya.

Bagian II pertanyaannya lebih sukar dijawab, butuh usaha ekstra untuk menuliskan jawabannya. Saya sendiri membutuhkan 3 hari baru dapat merumuskan jawabannya.

Bagian II
Pada Bagian II ini, sebagai anggota komunitas sosial, berikan deskripsi diri Anda sendiri pada aspek-aspek berikut.

Pertanyaan:
1. Jelaskan karakter/kepribadian Saudara (pengendalian diri, kesabaran, empati, rasional) pada berbagai situasi! Berikan contohnya!

Hmmm…ternyata sukar juga bagi kita menggambarkan karakter/kepribadian diri kita sendiri, apalagi kita harus menuliskan jawabannya seobyektif mungkin secara panjang lebar, pakai contoh lagi.

2. Jelaskan etos kerja (semangat, target kerja, disiplin, dan ketangguhan) dan bagaimana cara Saudara menghadapi masalah! Berikan contohnya!

3. Jelaskan dan beri contoh integritas Saudara dalam kaitannya dengan kejujuran, keteguhan prinsip, konsistensi, tanggung jawab, dan keteladanan yang dapat ditunjukkan di lingkungan Saudara! Berikan contohnya!

4. Bagaimana Saudara menyikapi kritik, saran dan pendapat orang lain? Berikan contohnya!

5. Bagaimana kemampuan Saudara dalam menjalin kerjasama dan berkomunikasi dengan berbagai pihak (teman sejawat, staf administrasi, atasan, mahasiswa, dan masyarakat)? Berikan contohnya!

6. Jelaskan kemampuan Saudara dalam menemukan dan menerjemahkan ide-ide baru untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas dalam berbagai aspek pekerjaan Saudara! Berikan contohnya!

Demikian daftar pertanyaanya yang sulit-sulit-gampang. Setelah saya cek, total halaman jawaban saya ada sekitar 10 halaman. Lumayan melelahkan otak juga.

Yah nggak tahulah, bisa lulus sertifikasi apa nggak ya. Santai aja lagi.

Moral of this story: jangan menganggap remeh pelajaran mengarang. Mengarang itu penting, minimal untuk menjawab pertanyaan sertifikasi dosen ini, he..he.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

23 Balasan ke Pengalaman Mengisi Dokumen Sertifikasi Dosen

  1. reiSHA berkata:

    Waw… Mengarang alias ngemeng engineering ya Pak? Hehe…

    Semangat Pak. Orang tua saya yang 2-2nya guru dah dapet sertifikasi guru, hehe…

  2. rinaldimunir berkata:

    @reiSHA: betul, sha, yang namanya “ngemeng engineering” (ini istilahnya Bram, Brahmasta IF’03) itu perlu.

  3. reiSHA berkata:

    Hehe… Status YM-nya langsung diganti, hihi…

  4. azrl berkata:

    Hallo pak. Saya juga mengalami kesulitan yang sama. Untung sudah nulis-nulis blog. Jadi isian itu saya isi seperti nulis blog. Hehehe. Sebenarnya kalau kita sudah mengisi essay itu, maka unsur penilaian 1-5 itu menjadi relatif mudah. Kerna keduanya berhubungan erat ya.

  5. brahmasta berkata:

    Aduh jadi malu kalau ingat postingan saya tentang “Ngemeng Engineering” itu. Masih ada kan Pak tugas membuat makalahnya?
    Pasti dapet lah pak sertifikasinya. Masa bisa gak dapat? Hehe..

  6. dwinanto berkata:

    Waduh, sulit juga ternyata spesifikasi tugas dosen itu,. 🙂

  7. Catra berkata:

    guru-guru di sekolah sekarang juga lagi semangat2 nya nih pak untuk dapat sertifikasi. banyak yang (maaf) beli ijazah juga.biar gampang sertifikasinya.

  8. rinaldimunir berkata:

    @azrl: betul pak, kalau biasa menulis blog atau menulis essay, maka mengisi jawaban sertifikasi itu mengalir saja. Yang sulit mencari contohnya, pak

    @brahmasta: masih Bram, setiap tugas kuliah saya (mulai dari Matdis, Stmik, Kripto), pasti selalu ada tugas makalah, tapi sekarang tidak pakai “ngemeng engineering” lagi, isinya yang penting-penting saja dan jumlah halaman dibatasi maksimal 6 halaman.

    @Catra: betul begitu, Cat? Kalau benar, menyedihkan ya Cat, sebab guru adalah orang yang digugu dan ditiru, tapi kok malah memberikan contoh yang tidak baik ya? Saya rasa tidak semua guru begitu ya, mungkin hanya bagi guru yang “silau” saja tergiur materi duniawi (pangkat, harta). Masih banyak kok guru yang rendah hati dan memegang teguh prinsip kejujuran.

  9. zamakh berkata:

    lega saya membaca ini pak, hehehe..

  10. rinaldimunir berkata:

    @zamakh: kok lega, zamak? Maksudnya?

  11. Bayu Dardias berkata:

    Thanks for sharing

  12. putri berkata:

    Yang penting narasi/deskripsi diri jujur, alias tidak membual, jangan sampai penilaian dari mahasiswa B, kita nulis kalau kita ini B. Nah itu yang mungkin dianggap meragukan. Tul gak?

  13. putri berkata:

    Eh salah,he..mhs nulis A, kata kita B maksudnya

  14. universitas kebanyaka pilih kasih dalam memberikan nama untuk serdos.knp harus gini?

  15. Saya suka karena seprofesi ya……

  16. lisma evareny berkata:

    Pak hari ini saya mendapatkan berita kegagalan walau pun belum pasti dalam serdos ini thn 2011 dari poltekkes padang, namun malamnya saya berusaha menerima dan mencari kesalahan yg saya lakukan kira kira apa, tapi dari tulisan bapak tepat sekali jawabannya harus punya kemampuan mengarang yg baik, walaupun bohong isinya ( ini pengalaman teman yg lain pak), tapi saya berpendapat dg kebenaran akan diridhoi Allah SWT. Ternyata saya menemui kegagalan

    • Rinaldi Munir berkata:

      Diterima saja dengan ikhlas, Bu. Ulang lagi tahun depan. Pengalaman rekan saya yang gagal, ia menulis jawaban pendek-pendek. Pada tahun berikutnya ia memperbaiki kesalahannya dan lulus.

  17. mila berkata:

    sekarang saya juga kesulitan mendeskripsikan diri pada bagian II pak, teryata cukup meras otak juga yo…tapi bekal suka cerita di blog kayaknya lumayan deh..ngarangnya…(menurut saya 🙂 ) tapi ga tau menurut asesornya nanti..

  18. anifaujiah@yahoo.co.id berkata:

    thanks udah berbagi,semoga kebaikannya segera dibalas Yang Maha Pengasih

  19. mom FaFey berkata:

    trimkasih sharing pngalamannya…jazakallah.smga saya bisa mnyelesaikan semua berkas yg diminta segera dlm bulan ini.cukup membantu sekali…trimakasih.

  20. ahmad bardi berkata:

    kalimat yang runtut biasanya lebih meyakinkan daripada kalimat yang pendek-pendek

  21. Mas Radite Abrit berkata:

    Kegagalan serdos karena kita menentang institusi yang korup, memang sesuatu yang menggelikan. Serdos yang sebenarnya urusan pribadi dosen, tapi malah dikoordinir oleh staff personalia yang gak jelas kinerjanya. Percuma kalau kalau kita baik-baik dengan para pejabat korup hanya lantaran supaya bisa lolos serdos. Itu sama dengan kita setuju dengan praktik korupsi yang mereka lakukan. Waspadalah, praktik jegal-menjegal itu. Sudah disuruh bayar mahal buat ikut pelatihan dan tes ini itu. Setelah tes lolos, tapi terganjal masalah internal kampus. Menggelikan. Benar-benar menggelikan…

  22. Ping balik: Dosen Co-pas, Mahasiwa Juga Co-pas | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.