Kisah Ginan, Mahasiswa IF Angkatan 2006, dan Perjuangannya Kuliah di ITB

Ketika saya mengajar kelas kuliah Struktur Diskrit (mata kuliah tingkat II di Informatika ITB, sekarang berganti nama lagi menjadi Matematika Diskrit) pada tahun 2007, ada seorang mahasiswa yang menarik perhatian saya. Dia tidak duduk di kursi kuliah seperti teman-temannya, tetapi duduk di atas kursi roda. Berhubung kursi-kursi sudah disusun sedemikian rupa sehingga sulit digeser lagi, mahasiswa tersebut mengambil tempat setelah kursi paling ujung di barisan depan. Dia duduk dengan tekun mendengarkan kuliah saya di atas kursi rodanya itu, sekali-kali tampak mencatat dan membaca diktat kuliah yang saya tulis.

Setelah beberapa kali kuliah, saya baru tahu namanya Ginan. Di dalam daftar hadir tertulis namanya hanya “Ginan” saja, tetapi sesungguhnya nama selengkapnya adalah Ginanjar Pramadita, sebuah nama khas Sunda. Sehari-harinya Ginan memang menggunakan kursi roda karena Allah SWT mentakdirkannya mempunyai kaki yang (maaf) cacat sejak lahir sehingga dia tidak bisa berdiri dan berjalan. Praktis kemana-mana Ginan selalu mengandalkan kursi roda untuk berpindah dari satu ruang kuliah ke ruang kuliah yang lain, atau dari satu lab ke lab lain yang berbeda lantai.

Rasa penasaran membuat saya ingin mengenal Ginan lebih jauh. Beberapa kali saya bertemu dia di lorong gedung LabTek atau ketika menunggu naik anggung (lift). Saat itu saya sempatkan bertanya banyak hal tentang dirinya sembari meminta izin untuk menulis profil dirinya di blog ini. Bagi saya profil Ginan adalah luar biasa, karena dia mampu menembus kuliah di Informatika (IF) ITB yang terkenal paling susah masuknya. Masuk ITB saja sangat susah, apalagi masuk IF. Dan yang lebih luar biasa adalah dengan kondisi fisiknya yang terbatas itu dia mampu eksis dan menunjukkan kemampuan akademik yang tidak kalah dengan mahasiswa lainnya. Terakhir dia menorehkan prestasi karena dia dan teman-temannya (Team Leader: Garibaldi Mukti) mewakili Indonesia di final ASEAN XML Superstar Programming Contest (semacam Imagine Cup-nya Microsoft lah, tetapi yang ini penyelenggaranya dari IBM). Lihat pengumaman finalisnya dengan mengklik pranala ini. Mudah-mudahan saja kelompok Ginan menang yang hadiahnya — katanya — adalah jalan-jalan ke Cina.

Di bawah ini potret Ginan ketika berada di ruangan saya. Kemaren dia minta izin tidak bisa ikut ujian karena mengikuti lomba programming contest itu. Dengan seizin Ginan saya memotret dia lagi tersenyum.

DSC00501

Saya berbincang-bincang dengan Ginan. Mendengar perjuangan Ginan kuliah di ITB membuat saya kagum pada anak ini. Semangatnya yang tinggi untuk menuntut ilmu patut diacungi jempol. Ginan adalah orang Bandung asli. Setiap hari dia diantar oleh ayahnya ke kampus ITB dengan naik motor. Ginan tidak perlu repot-repot membawa kursi roda setiap hari dari rumah ke kampus, sebab kursi rodanya disimpan di sebuah ruangan di lantai dasar LabTek VI (gedung tetangga IF). Kunci ruangan itu dipegang oleh Ginan sendiri (terima kasih buat pengelola ITB yang memberikan kemudahan buat Ginan). Dengan kursi roda itu Ginan menjalani kuliah seharian di ITB. Sore hari ayahnya datang untuk menjemput pulang dan kursi roda itu disimpan kembali di ruangan yang sama. Begitu setiap hari yang dilakukannya dari Senin sampai Jumat.

Sebenarnya desain baru lanskap dan gedung ITB sudah menyediakan jalur khusus bagi kaum penyandang cacat (pemakai kursi roda), misalnya Gedung CC yang baru serta jalur khusus mendaki menuju area kawasan gedung oktagon. Gedung-gedung yang baru juga dilengkapi anggung (lift) sehingga Ginan tidak perlu naik turun menggunakan tangga lagi. Tetapi, gedung-gedung kuliah yang lama belum dilengkapi anggung, misalnya gedung GKU, Oktagon, dan TVST. Ketika tahap TPB (tingkat I), hampir semua perkuliahan dilakukan di gedung-gedung itu. Ruang-ruang kuliah bertebaran di lantai 1, 2, 3, dan 4. Ginan bercerita, setiap kuliah di gedung GKU, ayahnyalah yang menggendong dia dari bawah ke atas menuju ruang kuliah d lantai atas (waah, saya ingin sekali bertemu ayahnya yang hebat dan penyabar itu). Kadang-kadang temannya yang baik hati yang menolongnya turun naik ke ruang kuliah. Sungguh merepotkan jika membayangkan bagaimana perjuangan Ginan kuliah di gedung-gedung yang tidak punya fasilitas anggung itu.

Tetapi itu cerita masa lalu. Di tahun kedua, hampir semua kuliah dan praktikum dilakukan di Informatika sendiri, yaitu di Gedung LabTek V (yang sekarang berubah nama menjadi Gedung Benny Subianto). Sebagian besar hari-hari mahasiswa Informatika ITB dihabiskan di gedung ini, sebab ruang kuliah, ruang dosen, lab, ruang TU, ruang himpunan, dan lain-lain berada di lantai 1, 2, 3, dan 4, dan setiap lantai dapat dicapai dengan menggunakan tangga atau anggung. Praktis sejak tingkat II Ginan tidak mengalami kesulitan lagi menuju setiap lantai. Jadi, Ginan sungguh terbantu dengan kondisi gedung kami ini. Salah satu pertimbangan Ginan memilih Prodi Informatika adalah karena di gedung Prodi kami tersedia fasilitas anggung. Kata Ginan pula, dulu dia sempat mau memilih Prodi Matematika, tetapi karena di gedung Prodi Matematika tidak ada anggung, dia urung memilih Prodi ini. Akhirnya dia memilih IF, ternyata dia hepi kuliah di sini🙂. Pun untuk memilih tempat Kerja Praktek (KP) pada bulan Juni mendatang, pertimbangan anggung juga menjadi prioritas Ginan. Ginan memilih KP di Risti PT Telkom yang gedungnya ada anggungnya.

Bagaimana kalau listrik mati di ITB sehingga anggung tidak berfungsi?, tanya saya. Kalau sudah begini maka seringkali Ginan tidak bisa kuliah (tidak datang ke kampus).

Ketika SMA, Ginan sekolah di SMAN 5 Bandung di Jalan Belitung. Ini salah satu SMA top di Bandung selain SMAN 3. Setahu saya gedung SMA 5 itu dua lantai, jadi bagaimana ceritanya ketika sekolah di sana? Ginan selalu meminta kepada pihak Sekolah agar selalu ditempatkan di kelas yang berada di lantai dasar. Kepala sekolah yang baik memaklumi hal ini, sehingga kelas 1, 2, dan 3 SMA kelas Ginan selalu ditempatkan di lantai dasar. Ketika sekolah di SD dan SMP 9 Bandung juga tidak masalah sebab gedung sekolahnya tidak bertingkat sehingga Ginan bisa menggunakan terus kursi rodanya.

Kata Ginan, sebenarnya dia tidak selalu duduk di kursi roda. Kursi roda hanya digunakan ketika kuliah atau keluar rumah. Kalau sudah di rumah dia cukup ngampar saja di lantai dan berpindah tempat dengan cara mengesot. Untuk menggunakan toilet Ginan juga tidak kesulitan sebab dia mampu melakukannya sendiri tanpa dibantu.

Kalau saya perhatikan, teman-teman kuliah Ginan juga tidak memperlakukan Ginan secara istimewa. Biasa-biasa saja. Begitu juga sikap para dosen. Saya yakin Ginan juga tidak menginginkan dia diperlakukan khusus atau dikasihani. Ginan mempunyai kemampuan akademik setara dengan yang lain, secara prestasi dia juga tidak kalah dengan teman-temannya itu. Itu kelebihan dia. Di ITB mahasiswa dinilai dari intelektualitas dan integritas moralnya, penampilan fisik seperti cantik, jelek, tinggi, gendut, pendek, cacat fisik, dan sebagainya tidak menjadi ukuran penilaian. Kehadiran Ginan di ITB menambah keragaman mahasiswa ITB, khususnya di Angkatan 2006, dan hal ini juga membuktikan tidak ada diskriminasi kepada siapapun untuk memperoleh pendidikan, karena pendidikan adalah hak setiap warga negara. Saya yakin ITB bangga mempunyai mahasiswa seperti Ginan.

Semangat hidup dan semangat belajar Ginan sangat tinggi. Terus terang saya kagum dengan tekad bajanya yang pantang menyerah itu. Satu hal yang dia pikirkan adalah mengenai masa depan, apakah ada perusahaan yang mau menerima dia bekerja nanti dengan kondisi fisiknya yang terbatas itu?, demikian yang disampaikan Ginan kepada saya.Tetapi saya yakin, pasti ada, Ginan. Indonesia ini negara maju, dan saya yakin orang-orang yang berpikiran modern pasti menilai seseorang dari kemampuan otaknya, bukan dari penampilan fisik semata. Tidak ada undang-undang yang melarang kaum penyandang cacat untuk bekerja menjadi PNS, pegawai BUMN, perusahaan swasta, dan sebagainya. Kalaupun tidak bisa bekerja di perusahaan orang lain, saya yakin menjadi enterpreuner adalah pilihan yang juga dipikirkan oleh Ginan. Menjadi enterpreuner di bidang teknologi informasi tidak sulit sebab pekerjaanya lebih banyak di depan komputer dan tidak memerlukan mobilitas di lapangan.

Sosok Ginan mengingatkan saya pada mahasiswa saya yang lama yang juga mempunyai disabbilities dengan kondisi yang mirip seperti Ginan. Dulu ada mahasiswa IF angkatan 1993 namanya Taufik Hidayat. Kakinya juga (maaf) invalid dan untuk itu dia harus menggunakan sepasang tongkat untuk menyangga tubuhnya. Dengan bantuan kedua tongkat itu Taufik bisa berjalan pelan. Sekali lagi, untunglah di gedung jurusan kami ada anggung sehingga Taufik terbantu. Meski demikian, jika anggung tidak berfungsi, Taufik mampu berjalan naik turun tangga. Lulus S1 Taufik menjadi dosen di jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta hingga sekarang. Dia mengambil S2 di Jerman dan sudah mempunyai istri dan seorang anak. Waktu saya seminar di UII Yogyakarta saya ketemu Taufik. Setiap hari dia ke kampus dengan mengendari sepeda motor roda empat yang didesain khsusus untuk dia. Istri dan anaknya bangga dengan ayahnya itu. Salam buat Taufik Hidayat jika dia membaca tulisan ini.

Kembali ke Ginan. Satu hal yang menjadi impian Ginan adalah bisa hidup mandiri, artinya tidak selalu bergantung pada orang lain. Misalnya bisa berpindah secara mobile tanpa dibantu, bisa naik bis atau kendaraan umum yang menyediakan fasilitas bagi pemakai kursi roda, ada jalur khusus bagi pemakai kursi roda, dan sebagainya. Sayangnya negeri kita masih belum sepenuhnya menyediakan fasilitas buat kaum difabel. Kayaknya perlu waktu cukup lama baru ada fasilitas itu dijumpai di mana-mana.

Namun Ginan pantang menyerah. Sosok Ginan sekali lagi membuktikan bahwa Allah SWT sungguh Maha Adil. Dia tidak memberikan kekurangan pada makhluk-Nya tanpa ada kelebihan yang menyertainya. Di balik kekurangan yang ada pada Ginan, Allah SWT memberikan dia kelebihan yaitu otak yang cerdas sebagai modal bagi dia menapaki hidup kelak. Allahu akbar. Semangat hidup dan perjuangan Ginan patut ditiru dan semoga sosok Ginan memberi inspirasi bagi siapapun untuk meraih cita-cita. Kekurangan fisik bukanlah halangan untuk terus maju.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Informatika, Seputar ITB. Tandai permalink.

54 Balasan ke Kisah Ginan, Mahasiswa IF Angkatan 2006, dan Perjuangannya Kuliah di ITB

  1. anikeren berkata:

    Salut buat Ginan Pak, jadi ngiri saya. Masih sering meratapi “nasip sendiri”, padahal saya sudah lebih tua dari dia. Ternyata usia tua memang tidak selalu identik dengan kedewasaan.

    BTW, Taufik Hidayat itu adik kelas saya Pak, di IF sudah pasti🙂. Tapi SMA nya juga se SMA dari saya Magetan🙂. Kalau Pak Rinaldi tidak keberatan n punya kontaknya, boleh saya minta ke mujiono.sadikin@yahoo.com? Sudah lama mencarinya, terakhir dengar kirain “ngamen” di UI. Ternyata di Yogya….

    Terimakasih

    Wassalam

    Mujiono

  2. anonym berkata:

    Hehe.. menakjubkan..
    Bukan saja Ginan yang hebat, tapi ayahnya (dan keluarganya) juga…

    Saya juga disable (dalam hal lain), dan memiliki cara pandang dan semangat yg lain dibandingkan teman yg non-disable, dan somehow cara pandang, semangat, dll yang berbeda tsb, sering memberi suatu hal yg positif dalam hidup saya..

    Buat Ginan.. Selamat sukses.. Your life is going to be amazing..😀

  3. adywicaksono berkata:

    Salut. Tetap lanjutkan perjuangannya

  4. kopral cepot berkata:

    aduuuh jadi ngiri …. saya ngak bisa kul di itb … kalo masuk itb sih bisa he he he🙂
    Ginan emang Luar Biasa

  5. Oemar Bakrie berkata:

    Salut atas semangat dan kegigihannya. Mudah0-mudahan menginspirasi kita semua …

  6. pak rinaldi, sampaikan salam saya buat ginan..
    semangat ya..!

  7. rinaldimunir berkata:

    @anikeren: untuk mencari Taufik Hidayat gampang, tanyakan saja ke mbah Google. Saya yakin Taufik punya blog dan alamat lain yang bisa dihubungi, atau coba cari info ke web UII Yogya. Ntar kalau ketemu saya info kan,Ji

    @Billy: iya, nanti saya sampaikan

  8. addie berkata:

    luar biasa semangatnya… LANJUTKAN

  9. Bayu berkata:

    Jadi inget dulu pernah ketemu Pak Taufik Hidayat ini 2 tahun yang lalu di LIPI. Baru ngeh kalo dia senior saya setelah dia bisa menyebutkan nama2 dosen IF. Memang orang yg pantas diacungi jempol berhasil lulus computational logic Dresden yg terkenal susah. Semoga orang-orang seperti Pak Taufik dan Ginan ini memberi inspirasi bagi kita semua🙂

  10. Didin berkata:

    Subhanallah!

  11. Ayub berkata:

    Hm…

    Di sekolah saya (wwwh.shrs.pitt.edu), banyak sekali studi tentang disabilities dan rehabilitation-nya. Ada standardisasi sebutan untuk orang seperti Ginan.

    Disable person -> sangat tidak dianjurkan
    Person with disabilities -> tidak dianjurkan
    Person with different abilities -> dianjurkan

    Kalo dalam bahasa Indonesia, Pak Rinaldi lebih jago menuliskan ;D

  12. yaniwid berkata:

    Salut buat Ginan dan ayahnya…
    Perhatian (terutama sarana dan fasilitas) untuk person with different abilities di Indonesia masih harus ditingkatkan…

  13. yusak berkata:

    art ny keren pakk..

  14. Lola berkata:

    salut buat Ginan & keluarganya….
    always good luck……….god bless u…

  15. eya berkata:

    perhatikan wajah ginan..
    wajah orang ikhlas..
    tampak damai..

  16. khuupz berkata:

    Allahu akbar,,

    Baru saja sore tadi saya dan teman-teman sekelompok saya (IF 2007) men-demo-kan tugas besar Algoritma & Struktur Data kami dengan Mas Ginan ini yang menjadi asisten penilai tugas kami, yang mana beliau menguji dengan sabar program kami yang belum sempurna tsb. Eh, sekarang saya menemukan tulisan ttg sekilas profil beliau tanpa sengaja melalui blogwalking !

    Saya pribadi salut sekali dengan beliau karena pun dengan keadaannya ia tetap mampu menjalankan kuliah di ITB (IF, apalagi) bahkan menjadi asisten Laboratorum Programming (wow kk wow) !!

    Semoga Mas Ginan ini bisa menjadi inspirasi bagi rekan-rekan lain yang memiliki keadaan serupa, agar mereka tidak menyerah dalam mencapai mimpinya…

    Mohon maaf sekali sebelumnya jika ada kata-kata dari saya yang kurang berkenan karena saya tidak bermaksud apapun .

    –khuupz

  17. Andy Marbun berkata:

    Inspiring real stories.., thank you.

  18. hilda widyastuti berkata:

    orang hebat…salut untuk perjuangan Ginan dan keluarganya

  19. rosa berkata:

    Orang besar (great people) tumbuh dari keluarga yang besar (great family).

  20. ikhwan alim berkata:

    ginan and his father are inspiring persons..

  21. ghifar berkata:

    Nan, tugas program kriptografinya dua2nya bagus looh, hehe..

    Btw, sebagai person with common abilities, aq jadi malu sama diri sendiri yang masih suka males2an buat kuliah. Ga kebayang perjuangan Ginan khususnya selama TPB.

    Salut buat ginan !!

  22. KARDI berkata:

    ginan memang beruntung, saya juga pakai kursi roda.Saya merasakan apa yang dirasakan Ginan, negeri ini memang kurang memperhatikan sarana dan fasilitas bagi penyandang cacat. salam buat Ginan.

  23. mary berkata:

    jejak orang-orang yang berprestasi memang selalu luarbiasa

  24. arifrahmat berkata:

    Menyedihkan ya kalau lift di IF mati berbulan-bulan…

  25. Sulis berkata:

    Sungguh sebuah inspirasi..
    dimana ada kemauan disana ada jalan..
    terus berjuang ginan,,

  26. zuhri berkata:

    salam kena pak rin…
    mohon izin untuk forward real stories ini
    ke milis kcb…
    syukron..

  27. rinaldimunir berkata:

    @zuhri: oh, silakan saja mas Zuhri…

  28. Abid Famasya berkata:

    Benar2 kisah yang inspiratif..

    Aku harap esok bisa (setidaknya) seperti mas Ginan. Amin..

  29. restya berkata:

    Subhanallah…

    Saya sering sekelompok ama Ginan. Ginan sering jadi ketua kelompok yang mengerjakan paling banyak bagian tugas.

    Tapi baiknya, walau bisa mengerjakan tugas kelompok menjadi tugas individu.. Ginan selalu menyisakan tugas buat teman2 yang lain. Juga nggak ragu2 buat mengajari teman2 yang lain.

    Keluarganya juga baik. Kalau nugas di rumah Ginan, ibunya selalu menyediakan makanan, snack, dan minuman. Pernah tengah malam (sekitar pukul 1 dini hari), ibunya bangun sekedar untuk menyiapkan mie rebus untuk kami yang menginap dan begadang.

  30. ahmad berkata:

    Inspiratif sekali pak.
    Barangkali jika tidak keberatan saya mau minta kontak beliau. PM saja pak.
    Hatur nuhun

  31. meliza766hi berkata:

    baru baca, pak..

    saya juga salut buat temen saya..
    tak hanya semangat nya yg patut diteladani..
    tp sikap hidup yang berbagii…
    tak heran, banyak yg berguru dan bertanya pada ginan dalam hal studi,, dan ginan slalu terbuka untuk mengajarkan😉

  32. ariandy berkata:

    Permisi Pak, “LabTek VI (gedung tetangga IF)” kebetulan juga menjadi gedung Prodi Teknik Fisika..
    😀

  33. Dimas P P berkata:

    @Ginan : Saya yakin akan ada banyak perusahaan berbaris ngantri untuk memperoleh keahlianmu…

    Saya jg yakin seyakin2nya, dgn semangat bajamu dan bimbingan Allah, pastilah kmu akan mendapati jalan mjd pengusaha yg bermanfaat…

    Oya, profesi IF mensyaratkan byk waktu duduk berlama2 di depan komputer, sedikit waktu diantaranya tentu utk memprogram, namun kuncinya adalah banyak waktu diantaranya utk berexplorasi kemudian berinspirasi berutak-atik mencari solusi/hal2 dgn inovasi dan metode2 baru, to be exclusive, Dare to be different! so tunggu apa lagi?

  34. ilo berkata:

    sebelumnya salam kenal pak,

    wah, kisahnya menarik sekali pak.
    smoga saya bisa mempunyai smangat baja seperti bung ginan.

  35. inspiratif bgt…

    ternyata keterbatasan gak menyulutkan seorang tuk bergelut di bidang IT…

    jd semangat lagi Pak..

    terimakasih telah share…

    ntuk Ginan..maju terus Ginan..Buktikan km lebih baik dari yg lain…

  36. Dwi berkata:

    Subhanallah…Ginan dulu satu SMA sama saya,walaupun tidak pernah satu kelas. hal terburuk yang saya ingat waktu itu saya pernah nyerobot antrian di WC SMAN 5 padahal Ginan sudah mengantri sebelum saya,tetapi itu juga saya kira Ginan lagi g ngantri di WC.. ckckckck, saya minta maaf Ginan…Buat Pak Rinaldi, terima kasih Pak, tulisan blog anda bagus-bagus

  37. Ping balik: Yang Tersisa dari Wisuda ITB Juli 2010 « Catatanku

  38. Ganjar berkata:

    Saya malu jika melihat perjuangan Sodara Ginan, mudah-mudahan bisa terus sukses dan tetap bersabar.. dan sukses selalu
    Subhanalloh
    Salam Kenal Pak.. ^_^

  39. Una berkata:

    Meski sudah lama, mohon izin share, kisah inspiratif..trima kasih..

  40. dennisa icha berkata:

    Inspiratif, menggugah….
    BTW, saya juga kenal sama pak Taufik Hidayat dosen TI UII juga lho pak….kebetulan saya dan istri beliau kenal cukup baik. Tahun 2008-2009 saya cukup sering berkunjung ke rumah beliau. Dan kalau tidak salah, kini beliau sudah memiliki 3 anak, yg terakhir lahir di Jerman…atau mungkin sudah nambah lagi? Yg jelas, Indonesia seharusnya bangga dan sepatutnya bangga memiliki pak Ginan dan pak Taufik Hidayat….
    semoga kita semua terinspirasi dengan kegigihan dan keuletan mereka….

  41. Afsisna Fitra berkata:

    Saya adalah disability (mungkin lebih dari kak Ginan). Tapi salut deh buat kak Ginan dan keluarga. Ternyata Tuhan adalah Maha Adil…

  42. Satrio berkata:

    Ini temen SMP saya, beda SMA, tapi ketemu lagi pas sama-sama kuliah di ITB.
    Pas SMA, ketika hari libur saya beberapa kali mengunjungi rumahnya buat silaturahmi.
    Selain cerdas di bidang akademik, Ginan ini juga punya bakat dalam seni, ngelukis dan musik.

    Ya itulah kehidupan, Positive and Negative things always go simultaneously. =)

    • Eka Sakti berkata:

      Subhanallah… Ginan! Kangen banget! Dia temen sebangku saya pas smp kelas 3. Anaknya baik, pinter banget, jago ngelukis, jago debat, maen gitar, suka ngajarin saya juga kalo ga ngerti pelajaran.
      Pernah berkunjung ke rumahnya. Disaat seumuran saya senengnya baca komik, dia sukanya baca buku tentang komputer dan programming. Lost contact setelah lulus, begitu baca artikel ini.. terharu sekali…

  43. Ping balik: Kisah Ginan, Mahasiswa IF Angkatan 2006, dan “Perjuangannya” Kuliah di ITB | Frizzers

  44. Bukti kebesaran Allah swt. Allahu Akbar. Kiranya orang yang berpikir bisa mengambil hikmah. Jangan banyak mengeluh

  45. Hamba berkata:

    Wah menginspirasi sekali Mas Ginan. Membuat diri ini perlu berkaca lagi dan perlu bersyukur lebih.

  46. Afrizal Fikri berkata:

    Wah jadi malu sama diri sendiri pak. Belum maksimalkan kuliahnya😦

  47. AFadius berkata:

    Reblogged this on AFadius.

  48. Abdul Havidz berkata:

    jadi malu sama diri sendiri pak. InsyaAllah akan lebih semangat lagi dalam memuntut ilmu !!.

  49. chibiromano berkata:

    jadi buat semangat untuk belajar lebih banyak dan bersyukur pada Allah SWT atas semua nikmatnya.
    Inspirasi sekali buat ujian minggu depan, mudah-mudahan semangat nya kang Ginan ketular ke saya.
    Dulu sewaktu SMA ada teman juga yang tidak bisa berdiri normal tapi masih bisa berjalan. Hanya kalau naik turun tangga tidak bisa. Teman-teman saya yang sabar menggendongnya, kalau pulang juga teman yang mengantarkan.

  50. ali berkata:

    tulisan yang sangat inspiratif.. saya alumni ITB magister FMIPA kimia angkatan 2013, saya kangen kuliah di ITB..🙂 saya suka statement “Di ITB mahasiswa dinilai dari intelektualitas dan integritas moralnya, penampilan fisik seperti cantik, jelek, tinggi, gendut, pendek, cacat fisik, dan sebagainya tidak menjadi ukuran penilaian”. sukses selalu pak

  51. 14051987 berkata:

    salut dan bangga buat ginan, merasa sangat terhormat pernah duduk dibangku kuliah dengan dosen yang luar biasa seperti pak taufik hidayat🙂 , salam dari mahasiswa PPS MI Informatika Medis Angkatan 07 UII Yogya. salam hormat buat guru dari guru saya pak rinaldi munir

  52. R-nensia berkata:

    SAYA BELUM KENAL ITB SEPERTI APA, APALAGI DENGAN SAUDARA GINAN. TAPI KISAH NYA INSPIRATIF SEKALI… TULISAN NYA JUGA BAGUS. SUKSES UNTUK SEMUA YA.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s