Terkenang dengan Buah Langka

Kemaren, waktu melewati Pasar Baru, saya menemukan penjaja buah-buahan yang menjual buah lokal yang sudah langka. Di Bandung buah itu bernama buah kesemek. Di kalangan anak-anak di tatar Sunda ada teka-teki yang bebunyi begini: buah apa yang suka bersolek? Jawabannya adalah buah kesemek karena kulit buahnya bertabur serbuk putih seperti bedak.

DSC00557

Ini gambar daging buahnya setelah dipotong:

DSC00558

Saya perhatikan pedagang buah itu sudah lama menanti pembeli namun buah kesemeknya tidak kunjung laku. Sudah nanar matanya menatap seliweran orang-orang di Jalan Otista (jalan di Pasar Baru), berharap ada pembeli yang tertarik dengan dagangan langkanya itu. Saya mendekatinya dan membeli satu kilo buah kesemek, pedagangnya menawarkan Rp 4000/kg. Barangkali hanya saya yang membeli buah ini, karena bagi orang lain mungkin bentuk buahnya tidak menarik atau kurang elit, ntahpapa. Namanya saja ‘kesemek’ yang bunyinya bagi sebagian orang terkesan kampungan, gitu. Buah kesemek pedagang itu kalah dengan buah mangga yang saat ini juga lagi musim di Bandung.

Buah kesemek kalau anda pernah mencobanya, rasanya manis-manis sepat. Saya jadi terkenang masa-masa kecil di Padang dulu bila mengingat buah ini. Waktu kecil saya beberapa kali pernah makan buah kesemek. Di Padang buah itu bernama apel pahit, karena bentuknya seperti buah apel dan rasanya memang agak pahit bercampur manis sepat. Buah itu baru bisa dimakan jika direndam dulu di dalam larutan air garam selama satu malam untuk menetralisir rasa pahitnya. Tapi buah kesemek yang di Bandung ini tidak perlu direndam dulu dan dapat langsung dimakan, mungkin jenisnya agak beda dengan yang di Sumatera.

Selain buah kesemek, saya juga kangen buah-buahan masa kecil yang sudah jarang ditemukan di pasaran, misalnya jambu kaliang (apa ya namanya di sini? buah jamblang?), kamuntiang (karamunting), dan jambak (jambu bol). Jambu kaliang bentuknya kecil ldan mirip buah anggur, warnanya hitam dan rasanya manis sedikit pahit. Biasanya dijual per liter (menggunakan takaran beras). Buah kamuntiang biasanya ditemukan pada tanaman di semak-semak, warnanya coklat, bentuknya kecil sebesar ujung jari kelingking, dan berbiji banyak seperti biji buah strawberi. Rasanya manis. Kami sering menemukan buah ini di semak-semak di dekat sawah. Jambak atau jambu bol bentuknya bulat seperti kedondong, warnanya merah keputihan, daging buahnya agak tebal tetapi bijinya besar.

Buah-buahan yang saya sebutkan di atas saat ini sudah tergolong buah langka, jarang ada yang menjual buah ini. Batang pohonnya pun mungkin sudah langka pula dan mungkin banyak ditebang karena buahnya tidak bernilai ekomomis tinggi, kalah bersaing dengan buah impor yang banyak membanjiri pasar. Buah-buah lokal saat ini makin terjepit oleh kehadiran buah impor yang datangnya begitu deras dari luar. Buah lokal yang bertahan hingga saat ini paling-paling hanya mangga, nanas, sawo, kedondong, bangkuang, jeruk, salak, dan belimbing. Selebihnya anak-anak kita lebih mengenal buah apel, pir, anggur, lengkeng, kiwi, strawberi, blueberry, dan aneka buah impor lainnya.

Buah-buahan lokal bagaimanapun, apalagi yang sudah langka, seharusnya mendapat perhatian dari Pemerintah untuk terus dilestarikan. Bagi saya, buah-buahan itu tidak hanya sekadar untuk dimakan, tetapi ada kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Dengan memakan buah lokal itu, kita mengingat jerih payah petani yang merawat tanaman itu dari kecil hingga berbuah. Ada filosofi yang begitu dalam bila kita melihat jauh ke belakang puluhan tahun silam. Pohon-pohon buah itu mungkin sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun, ditanam oleh kakek moyang mereka dan diteruskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Pohon-pohon itu dirawat dan dicintai karena dari tanaman itulah petani mendapat penghasilan. Ketika waktu kalah berpacu dengan uang, pohon-pohon itu mungkin harus mengalah: ditebang karena tawaran yang lebih menggiurkan dari bisnis tanah yang terus mencari mangsa hingga ke kampung-kampung. Buah-buah langka itu mungkin suatu hari tidak akan terhidang lagi di meja makan kita, tinggal menjadi sejarah saja.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

14 Balasan ke Terkenang dengan Buah Langka

  1. Ady Wicaksono berkata:

    Khusus buah ini, kapok makan lagi, bikin sakit perut 😀

  2. Nanda Firdausi berkata:

    how I miss srikaya….

  3. ekoph berkata:

    beberapa hari ini, kesemek menjadi salah satu bagian yang hadir di meja makan… hmmmm…. manis, sepat, kering, pokoknya rasanya khas banget….
    kenal cempedak ?

  4. rinaldimunir berkata:

    @Ady: mosok sakit perut, rasanya manis kok dan sedikit sepet, nggak asem.

    @Nanda: srikaya, wah saya belum pernah makan buah ini. Termasuk langka juga saya kira.

  5. ady wicaksono berkata:

    tergantung orangnya pak, saya tergolong yg bisa dibikin mules kalau makan kesemek 😀

  6. Yanti berkata:

    Jambu kaliang (kaliang= hitam ) masih ada sampai sekarang di pasar Padang, masih di jual dengan tekong (kaleng bekas susu kental manis) nama di Jawa Jamblang, saya baca begitu. Pertama beli Jambu kaliang waktu itu anak saya masih SD, saya mainin anak dengan bilang ” nih mama beli anggur” dengan gaya cuek naroh di meja. Anak saya juga heran, tumben beli anggur sebanyak itu, kan mahal ? gaya mama juga cuek kaya dah biasa beli anggur tiap hari.

    Pas dia makan, aku ngakak, karena mukanya kecut banget ” mamaaa, asam nih, anggur apaan”

    Karamuntiang, sekerabat dengan sikaduduk itu buah yang sampai sekarang masih banyak di semak-semak kampus Limau Manih, Unand ( dulu areal kampus itu memang namanya bukik Karamuntiang), saya tidak lihat lagi orang jual karamuntiang di Pasar Padang.

    Di Kinali (tempat saya tinggal sekarang) masih di jual kapunduang (Menteng ?), walau tidak banyak yang beli, dan juga kerabatnya rambai (rambe ?)

    Saya tertarik dengan buah langka. Kalau saya menerangkan keanekaragaman hayati di kelas, saya selalu menyinggung tentang buah langka ini. Dan sering mengatakan pada siswa”Coba, buah apa biasanya tersaji di meja makan sinetron Indonesia?” Siswa menjawab:apel, anggur, jeruk.

    Nah, siswa saja tahu, kenapa ya para sutradara tidak menyajikan jambu air, sawo, belimbing, jambu biji, jamblang dan buah asli Indonesia lain di meja makan sinetron Indonesia ? Gengsikah ?

  7. sunflo berkata:

    aku juga suka ma kesemek, n ketemu ma adiknya kesemek indo, kali ini yg ga pake bedak…persimmon namanya…

  8. ceuceu berkata:

    Kesemek termasuk buah langka yg saya suka, lainnya srikaya atau adiknya buah nona, jamblang di sini (indramayu) masih banyak. Tp yg paling kangen sih sawo putih (kecik) yg ada di halaman selatan Mesjid Salman, masih ada sekarang or dah ditebang Bang R?
    Besok2 kalo lewat tolong liatin ya, kalo masih ada, lagi berbuah ga Bang. kalo masih saya mau mampir kalo ke bandung hehehehe….
    Punten nge”rep”
    Terima kasih

  9. sony moses berkata:

    Di kampung saya ada buah yg kalau di parut dan di campur di makanan yg mentah,contoh kalau ikan mentah dibumbui pake jeruk dan bawang pakai buah ini,ga bakalan sakit perut
    terus kalau bikin rujak nanas doang pakai buah ini kalau makan banyak ga bakalan sakit perut

  10. sony moses berkata:

    dan buahnya bisa disimpan tahunan ga bakalan rusak

  11. rozi679 berkata:

    salam..
    saat ini saya menjual CD cara berkebun strawberi yang benar, hanya dengan harga 60 ribu (sudah ongkos kirim).
    CD bukan berisi ebook PDF atau paparan data melainkan video interaktif/audio visual bagaimana prakteknyalangsung di lapangan.
    dan tersedia juga buku panduannya (berwarna dan bergambar) harga 60 ribu.
    jika berminat silahkan hub.saya di 081-911857815 atau email rozi679@gmail.com.
    terima kasih

  12. cape berkata:

    buah langsek (langsat) juga enak pak,hehe.

  13. Anto berkata:

    Siapa yang tahu gimana mendapatkan bibit pohon kesemek? saya ingin mengoleksinya tanaman buah lokal indonesia. mohon info di email dibawah ini.

  14. Ping balik: Buka Puasa dengan Buah Kesemek | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.