Jalan-jalan ke Kuala Lumpur (Bag. 2)

Konferensi ICEEI 2009 diadakan di kampus UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia), tepatnya di lingkungan FTSM (Fakulti Teknologi dan Sains Maklumat). Tidak banyak peserta yang datang, jadi konferensi ini nyaris sepi. Kami dari ITB ada 15 orang yang ke sana, lumayanlah untuk meramaikan konferensi dua tahunan itu. Menurut riset di IEEE, konferensi ilmiah yang sukses (dalam arti banyak peserta yang datang) adalah konferensi yang diadakan di daerah pantai, seperti Phuket, Bali, dan sebagainya. Maunya peserta adalah setelah presentasi langsung “kabur” ke pantai untuk berenang, hi..hi..hi. Kalau begitu konferensi ICEEI 2011 di Bali saja ah atau di Phattaya atau daerah pantai lainnya di kawasan Asia Tenggara, he..he.

Karena ada konferensi, maka mahasiswa FTSM diliburkan selama seminggu (kalau di ITB meliburkan mahasiswa itu jelas tidak mungkin, konferensi ya konferensi, kuliah tetap jalan). Konferensi diadakan selama 4 hari penuh. Menurut saya 4 hari terlalu lama, karena kalau kami di ITB mengadakan konferensi ilmiah paling lama 2 hari saja (lebih sering 1 hari penuh). Tetapi, saya kira ini adalah taktik pariwisata Malaysia agar para tamu lebih lama lagi di Malaysia untuk membelanjakan uangnya di sana, agar semain banyak devisa dari turis yang terkumpul. Cerdik juga ya.

Ini tampak depan kampus FTSM, masih keren Labtek V he..he:

DSC00605

Mahasiswa S2 dan S3 di UKM ini banyak yang berasal dari luar, umumnya dari Indonesia. UKM adalah universitas berbasis riset, jumlah mahasiswa S1 dan mahasiswa Pasca Sarjana nya hampir berimbang, tidak seperti ITB yang begitu jomplang perbandingan antara mahasiswa S1 dan S2/S3, dimana lebih banyak mahasiswa S1 nya (3 kali lipat jumlah mahasiswa S2/S3) padahal ITB sering mendeklarasikan diri sebagai research university.

Malaysia beberapa tahun belakangan ini sangat gencar mempromosikan universitasnya di Indonesia. Mereka “memburu” calon mahasiswa S1 dan S2/S3 di Indonesia. Menurut dosen di UKM, minat mahasiswa Malaysia untuk melanjutkan S2/S3 di perguruan tinggi di Malaysia sangat rendah, oleh karena itu mereka ekspansi ke Indonesia untuk menjaring mahasiswa. Jika tidak ada mahasiswa yang mendaftar bisa-bisa program studinya ditutup. Untuk “merayu” calon mahasiswa dari Indonesia, pihak universitas menawarkan beasiswa termasuk living cost. Jadi tidak heran jika banyak mahasiswa Indonesia yang mengambil S2/S3 di perguruan tinggi Malaysia itu termasuk di UKM. Tetapi saya mempunyai analisis tambahan lain mengapa banyak mahasiswa Indonesia di Malaysia, yaitu Malaysia tahu betul jika pelajar/mahasiswa dari Indonesia mempunyai kualitas akademik lebih bagus daripada mahasiswa negaranya sendiri. Kualitas akademik mahasiswa itu penting, sebab secara tidak langsung hal itu akan mengangkat kualitas universitasnya, sebab akan lebih banyak paper yang dihasilkan mahasiswa-mahasiswa itu dari riset-riset yang mereka lakukan dan dimuat di jurnal internasional, dan hal ini akan meningkatkan SCORPUS index sebagai salah satu indikator penilaian ranking universitas di seluruh dunia (world top university).

Untuk diketahui, universitas di Malaysia seperti UKM sangat berlimpah dana untuk membiayai kegiatannya. Mau melakukan apa saja tersedia dananya (membeli buku, seminar ke luar negeri, membeli peralatan, melakukan riset, mendatangkan dosen tamu dari luar, dll). Di UKM saya sempat bertemu dengan dosen sebuah PTS di Yogya yang mengambil S3 di sana. Katanya, di UKM mereka dberi ruang yang luas untuk residensi. Kalau mau beli peralatan (dia mengambil topik riset di bidang robotika), tinggal bilang saja, nanti dibelikan oleh pihak universitas. Mau buku, gratis. Wah..enak betul ya, makanya mahasiswa Indonesia betah kuliah di sana.

Jadi, jika universitas di Malaysia memiliki dana dalam jumlah yang besar, sebaliknya dari segi SDM kurang. Kontras sekali dengan kondisi perguruan tinggi di Indonesia yang selalu menghadapi masalah klasik: dana. Karena kekurangan SDM, universitas Malaysia tidak segan-segan menawarkan dosen di Indonesia untuk mengajar di sana. Beberapa orang rekan kami ditawari untuk mengajar di Malaysia, bisa 3 bulan atau dua minggu sekali ke sana. Tentu saja bayarannya tinggi.

Kalau saya ditawari mengajar di UKM, saya tidak mau. Alasannya sederhana, soal perut: saya tidak cocok dengan masakan Malaysia, bisa-bisa saya tambah kurus di sana, hi..hi..hi. Beberapa hari di Malaysia saya tidak bisa makan karena rasa masakannya aneh saja menurut lidah saya. Rendangnya manis banget serasa kita makan kolak saja, satenya juga begitu, bumbunya manis karena diberi gula pasir, ayam goreng Kentucky di sana pakai bumbu kari. Rasa sotonya juga aneh entah pakai bumbu apa tuh, benar-benar asing di lidah saya dan susah menelannya. Masakan Malaysia tidak ada yang pedas, kebanyakan manis. Aneh ya, padahal masakan melayu di Medan pedas-pedas lho, tapi di Malaysia lain sendiri. Saya hampir tidak bisa makan masakan di hotel. Nasi lemak yang saya coba tidak ada rasanya, hambar. Saya terpaksa membeli masakan padang dan membawanya ke hotel untuk sarapan. Kebetulan dekat hotel ada restoran padang yang diklaim otentik, namanya restoran Sari Ratu.

DSC00627

Saya beli dendeng balado di restoran itu dan membawanya untuk sarapan pagi di hotel. Teman-teman saya ketawa melihatnya. Soal selera saya memang “payah”, susah beradaptasi dengan makanan lokal, he..he. Kalau tidak ada pedasnya, saya tidak bisa makan. Kapan-kapan kalau ke Malaysia lagi nanti saya harus membawa bekal sendiri seperti rendang, dendeng, dan sambal balado, supaya tetap sehat di negara orang. Asli urang awak benar saya ini, hi..hi.

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan, Titian Indonesia - Malaysia. Tandai permalink.

7 Balasan ke Jalan-jalan ke Kuala Lumpur (Bag. 2)

  1. yaniwid berkata:

    Saya dengar kabar, setelah ketemu masakan Padang, Pak Rin langsung segar tampangnya…🙂

  2. limaapril berkata:

    wah pak rin tampaknya akan kesulitan dong kalau meneruskan sekolah di luar negeri ?

    Tapi,tenang pak, restoran padang akan selalu ada disetiap Simpang Ampe’, buka Pagi Sore, kalau Bagadang Malam juga masi buka, ada yang khusus untuk Bundo Manganduang,tersedia bagi orang2 yang Sederhana, pokok nya lengkap deh :p

  3. rinaldimunir berkata:

    @yaniwid: betul sekali, Bu Yani. Kalau tidak…. waaah nggak kebayang jalan-jalan tanpa semangat🙂

    @limaapril: Tidak akan kesulitan, Puja, karena saya lagi menempuh sekolah (S3) di ITB juga.

    Hmmm… pernyataanmu selanjutnya perlu diperbaiki:
    – Simpang Ampe’ —> yang benar: Simpang Ampek
    – Bundo Manganduang —> yang benar: Bundo Kanduang

    Apalagi di Pekanbaru, di kota asalmu, rumah makan itu juga ada di Simpang Lima

  4. Sari berkata:

    setuju Pak… makanan dsana ga enak.. :p

  5. jamal pak tongkol berkata:

    masakan padang itu apa di PADANG, SUMATERA..???..itu kan di MALAYSIA jaga ya…?..jadi jangan sombong lah kawan..aku juga pernah ke jakarta..malah tiap hari hanya makan KFC..kerna masakan lainnya aku bisa muntah jika memakannya.walau rasanya sangat tidak enak bagiku..tapi tetap menghormati makanan negara kamu..!!

  6. khadijah berkata:

    salam…
    saya khadijah pelajar sarjana upsi..ingin bertanya adakah rinaldi pelajar ukm yang buat tesis tajuk..Tahap penggunaan multimedia dalam kalangan pensyarah-pensyarah di institusi sumatera barat?
    kalau ya,tolong balas email saya..sebab saya ingin bertanya lanjut ttg kajian tuan..tq
    khadijahadenan@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s