Bandung Kota Agamis?

Minggu lalu ada berita yang cukup heboh di Bandung. Sebuah kafe di Pascal Paskal Hypersquare, namanya kafe Bellair, diciduk polisi karena menampilkan tarian striptis alias tarian (maaf) telanjang (baca beritanya di sini). Tidak tanggung-tanggung, beberapa hari kemudian Pak Walikota Dada Rosada langsung mendatangi kafe itu. Di sana Pak Dada sempat marah-marah kepada pengelola kafe yang nakal itu. Dia mengancam akan menutup kafe tersebut karena sudah mencemarkan wacana kota Bandung sebagai kota agamis.

Sejak dulu memang selalu berkembang wacana untuk menjadikan Bandung kota agamis. Kota agamis secara sederhana dapat diartikan sebagai kota yang bebas maksiat, dan maksiat dalam pengertian masyarakat adalah perbuatan yang diasosiasikan dengan bisnis esek-esek. Usaha ke arah itu sudah ada, misalnya ditutupnya lokalisai Sar*t*m, lalu eks lokasi pelacuran itu dijadikan Pesantren Attaubah. Namun, kesan yang ada di benak publik selama ini adalah aksi yang sering dilakukan untuk menjadikan Bandung sebagai kota agamis itu baru sebatas masalah prostitusi saja, padahal sebenarnya banyak aspek kemaksiatan lain yang belum tersentuh.

Bandung adalah kota hiburan dan kota pelesir warga Jakarta. Di sini banyak tempat hiburan malam mulai dari pub, klab malam, panti pijat, diskotik, kafe, dan sebagainya. Keberadaan tempat hiburan malam itu tidak bisa dilarang karena memang ada sekelompok orang yang kesenangannya adalah dugem dan menghabiskan waktu malamnya untuk senang-senang. Ini negara demokrasi dimana setiap orang bebas untuk melakukan apa saja yang dia mau. Namun, kebebasan yang diberikan itu ternyata disalahgunakan oleh sebagian pemilik hiburan. Di tengah persaingan hiburan malam yang sengit, mereka mencari upaya untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya, antara lain dengan menu tarian erotis semacam itu. Kesan bahwa tempat hiburan malam adalah tempat transaksi seks bebas, narkoba, dan mabuk-mabukan susah dihilangkan dari benak masyarakat. Jadi, bagaimana mau menjadikan Bandung sebagai kota agamis jika praktek kemaksiatan masih bebas berlangsung di tempat-tempat hiburan malam itu.

Sebagai kota yang dekat dengan Jakarta, maka perkembangan gaya hidup kota metropolitan mau tidak mau cepat pula merembet ke kota Bandung. Hal yang dulu tabu sekarang sudah menjadi pemandangan biasa. Masyarakat sudah tidak mempedulikan lagi orang-orang yang berpakaian seronok yang serba terbuka atau bersikap cuek dengan pasangan anak muda sedang berangkulan erat dan berpelukan di tempat-tempat umum. Laki-laki dan perempuan tampak bergaul begitu bebas. Tidak ada yang berani menegur atau mempersoalkan karena hampir semua orang berpikir itu adalah urusan privasi yang bersangkutan.

Itulah Bandung, kota gemerlap yang ingin menunjukkan dirinya sebagai kota agamis. Perlu waktu panjang dan usaha yang keras dari pengelola kota untuk menjadikan Bandung kota yang “bersih” dari kemaksiatan. Sulit memang, tapi tetap tidak boleh putus asa.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

3 Balasan ke Bandung Kota Agamis?

  1. 4liteknologi berkata:

    semoga bandung bisa menjadi kota agamis seperti yang diimpi-impikan. dan semoga suatu saat nanti, saia bisa menuntut ilmu di sana. AMIN

  2. arifrahmat berkata:

    Sedikit masukan Pak, setahu saya namanya Paskal (Pasir Kaliki), bukan Pascal 🙂

  3. jimmy berkata:

    pak wali kota bandung tolong tindak tegas prostitusi di kota kembang tersebut…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.