Harga Beras Melambung, Kasihan Rakyat Miskin

Dikala para politisi di parlemen sibuk berpolemik dan bertengkar membahas kasus Bank Century, yang ujung-ujungnya ingin menjatuhkan menteri, wapres, dan presiden, ada berita yang luput dari perhatian para elit politik padahal masalah ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Tahukah anda bahwa harga beras akhir-akhir ini naik cukup tajam. Satu kg beras kualitas sedang harganya sudah mencapai Rp6500 hingga Rp7000, diperkirakan harganya akan terus meroket. Minggu lalu saya beli beras jenis pandan wangi harganya sudah 170 ribu per 25 kg (biasanya hanya Rp 160 ribu), sementara di kios lain sudah mencapai Rp 180 ribu. Alhamdulillah, saya sendiri masih sanggup membeli beras semahal apapun kenaikannya, tapi bagaimana dengan rakyat miskin yang penghasilannya pas-pasan, yang sehari-harinya hanya punya penghasilan Rp10.000? Dapat apa dengan uang segitu untuk memberi makan keluarganya? Baca berita menyedihkan ini.

Beras, bagaimanapun sangat penting bagi orang-orang miskin, terutama di desa-desa. Jika orang-orang kaya di kota bisa membeli roti jika mereka bosan makan nasi, tidak demikian halnya dengan orang desa. Satu buah roti yang harganya Rp5000 mungkin hanya untuk dimakan seorang, tapi bagi orang desa uang lima ribu itu bisa membeli satu kg beras untuk makan berempat. Pameo “belum makan sebelum makan nasi” memang benar adanya. Bagi orang-orang desa yang bekerja keras membanting tulang untuk membeli satu cangkir beras, nasi adalah sumber tenaga dahsyat yang tidak tergantikan.

Apa jadinya jika beras mahal dan tidak mampu dibeli? Makan nasi menjadi barang mewah, namun “kreatifitas” (dalam tanda petik) selalu muncul untuk menyiasati hal ini. Apapun dilakukan mereka asal tetap makan nasi. Bagi orang miskin di Jawa, mereka sudah biasa makan nasi aking. Nasi aking adalah sisa nasi yang sudah basi, kemudian dijemur hingga kering, selanjutnya direndam beberapa malam agar lunak, baru kemudian dimasak. Perhatikan gambar seorang nenek yang makan nasi aking dengan cucu-cucunya di bawah ini (gambar diambil dari sini):

Selain nasi aking, orang desa di Jawa sudah biasa makan nasi tiwul dan nasi jagung. Nasi tiwul adalah nasi yang dicampur dengan gaplek (singkong kering), sedangkan nasi jagung adalah nasi yang dicampur dengan tepung jagung. Biasanya, kalau beras sudah menipis, maka persediaan jagung kering yang ada di loteng rumah terpaksa diturunkan, kemudian biji jagungnya dipipil. Jagung ditumbuk, lalu beras dicampur dengan tepung jagung sebelum kemudian dimasak.

Jika harga beras tidak bisa dikendalikan, maka jangan heran akan muncul masalah sosial yang tidak kalah hebat dengan kasus Bank Century itu. Uang trilyunan rupiah “yang dirampok” Bank Century itu bisa membeli beras berjuta-juta ton untuk membantu orang-orang miskin yang tidak mampu membeli beras.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Harga Beras Melambung, Kasihan Rakyat Miskin

  1. hamka berkata:

    dilema pak, kalau harganya nggak naik kasihan petani juga, siapa lagi yang mau jadi petani nanti?
    Maka, harus diawasi bahwa kenaikan harga beras ini juga harus menaikkan kesejahteraan petani
    Kenaikan harga beras harusnya juga jangan sama rata di setiap daerah, tapi hanya di kota-kota besar saja, karena disitu rata-rata pendapatan lebih tinggi dan sudah banyak menikmati subsidi.
    dan yang terakhir, kenaikan harga ini jangan sampai jadi alasan buat impor beras…
    Pusing juga sih pak…😀

  2. bayu berkata:

    Miris memang pak. Melihat uang negara yg trilyunan di bank century, milyaran uang untuk mempertinggi pagar istana, milyaran mungkin nyampe trilyunan buat mobil baru mentri. miliaran untuk komputer baru DPR.
    Tapi untuk uang beras tidak ada. Sebaiknya org2 miskin berdoa untuk kondisi lebih baik pada saat ini karena doa org teraniaya sangat makbul🙂

  3. rinaldimunir berkata:

    @hamka: memang dilema juga, tapi jumlah petani beras tidak sebanyak jumlah penduduk miskin. Jadi, kepentingan orang banyak harus diprioritaskan.

    @bayu: politisi dan pejabat kita saat ini tidak punya “sense of crisis”. Mereka sibuk memperkaya diri, sementara rakyat di bawah menjerit kelaparan. Tadi saya baca di Detik.com, harga beras sudah mencapai kenaikan 25%. Baca di sini: http://www.detikfinance.com/read/2010/01/23/132450/1284494/4/harga-beras-melambung

  4. Nur Ali Muchtar berkata:

    saia malah udah pusing pak dengan pemberitaan yang ada di TV tentang kasus century. pasti sangat lama sekali selesainya. cz disana ada unsur saling menjatuhkan.
    tapi kasihan juga ya pak dengan rakyat yang ditinggalin ma “om-om” yang ada di sana!!
    hmmmmm

  5. yaniwid berkata:

    Menarik membaca artikel di Koran Tempo, bahwa ketahanan pangan dinyatakan berhasil jika kita berhasil melakukan diversifikasi pangan. Jadi, kita memang tidak bolah tergantung pada satu jenis makanan pokok saja, beras.
    Ayo kembali ke masa lalu: ada yang makan jagung, sagu,… sesuai dengan potensi daerah masing-masing.
    Tidak perlu dipaksakan semua makan nasi…

  6. ceuceu berkata:

    Ga juga Bang R, Kita2 yg di kampung pung sama bisa beli beras juga, hanya bedanya kalo yg di kota makannya nasi kalo kita di sini makannya bubur karena dibanyakin airnya biar cukup utk makan sekeluarga.
    Alhamdulillah hari ini kami bisa makan ….
    Jadi inget, peringatan utk keluarga yg berlebihan jangan suka menyisakan nasi di piring, tolong semuanya dihabiskan supaya alam ga marah.
    Di satu pihak kekurangan nasi di pihak lain nasi dibuang-buang, sayang kan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s