Susah Mencari Mahasiswa Kurang Mampu di ITB???

Beberapa hari yang lalu beberapa orang mahasiswa di bawah perwalian saya datang menghadap meminta tanda tangan guna pengajuan permohonan beasiswa peningkatan prestasi akademik (PPA). Semester lalu dia dapat beasiswa, dan semester ini dia mau memperpanjang lagi. Dia mengatakan semester lalu banyak jatah beasiswa tidak terpakai. Itu informasi yang dia terima dari loket beasiswa.

Banyak jatah beasiswa tidak terpakai? Wah, sayang dong alokasi dana yang diperuntukkan untuk beasiswa menjadi menganggur. Saya menduga-duga apa kira-kira penyebabnya. Kemungkinan pertama mungkin informasinya tidak sampai kepada yang membutuhkan. Istilahnya sosialisasinya belum maksimal. Kemungkinan kedua, jumlah mahasiswa kurang mampu (secara ekonomi) di ITB makin berkurang. Saya tidak punya data tentang ini, jadi hanya bisa menebak-nebak saja.

Sukurlah jika banyak mahasiswa ITB saat ini tidak mengalami kesulitan lagi soal biaya kuliah, biaya hidup, dan segala jenis biaya lain selama hidup dan kuliah di Bandung. Tidak seperti zaman saya kuliah, begitu banyak mahasiswa yang kurang mampu namun mempunyai semangat tinggi untuk kuliah. Mereka terpaksa menghemat kiriman uang dari kampung, mencari tambahan biaya sebagai pengajar les privat, atau bekerja apa saja supaya ada pemasukan. Maka tidak heran jika peminat beasiswa membludak, namun banyak peminat terpaksa ditolak, hanya yang benar-benar sangat membutuhkan saja yang diprioritaskan. Harap dicatat jumlah beasiswa terbatas sementara permintaan sangat tinggi.

Sekarang para alumni yang dulu merasakaan pahit getirnya kuliah dengan kondisi pas-pasan itu tentu sudah menjadi orang sukses dan mapan. Hidup telah menempa mereka menjadi orang yang gigih, kesusahan telah melecut mereka untuk meraih mimpi. Semoga saja mereka masih ingat dengan “penderitaannya” dulu dan sekali-kali melongok kos-kosan mereka yang berada di gang sempit dekat masjid, atau warung makan tempat mereka sering berutang, apakah semuanya masih ada?

Zaman telah berganti. Warna kehidupan di kampus ITB juga sudah berubah. Sekarang ini kalau memperhatikan lautan mobil mahasiswa (ada yang menyebutnya “showroom mobil”) di seputaran Jalan Ganesha dan di tempat parkir, kita jadi maklumlah adanya. Puncaknya hari Rabu dan Kamis dimana perkuliahan sangat padat-padatnya dan mahasiswa sedang banyak-banyaknya di kampus. Pada saat itulah seputaran Jalan Ganesa sulit dilalui karena banyaknya mobil yang parkir.

Saya dan teman-teman yang pernah merasakan kehidupan pada tahun 80-an dan memilih tetap berada di almamater sebagai dosen tentu dapat merasakan perbedaan itu. Kondisi mahasiswa ITB saat ini sungguh jauh berbeda dengan sepuluh tahun atau dua puluh tahun lalu. Sejak ITB menerima mahasiswa lewat jalur “mahal” (USM), maka ITB dipenuhi mahasiswa dari kalangan atas. Apalagi setiap tahun persentase penerimaan jalur USM semakin tinggi dibandingkan dengan jalur tradisionial — SPMB atau apalah namanya sekarang, SNMPTN. ITB masih mending, UGM hanya menyisakan 10% buat jalur SNMPTN, sedangkan UI sedikit lebih tinggi. SNMPTN sebenarnya adalah harapan terakhir bagi calon mahasiswa yang kurang mampu di daerah untuk mencoba peruntungan masuk ITB. Sukurlah ada program ITB untuk semua yang ditujukan menjaring mahasiswa kurang mampu untuk kuliah di ITB. Semua siswa SMA dari berbagai kalangan mempunyai hak yang sama untuk kuliah di ITB.

Mau tidak mau kondisi sosial mahasiswa ITB saat ini juga membuat irama kehidupan di kalangan mahasiswa juga berubah. Sebagai mahasiswa yang biasa hidup dalam lingkungan yang nyaman, maka kenyamaman itu juga dibawa ke kampus, salah satunya membawa mobil pribadi dari kosan yang sebenarnya tidak jauh ke kampus, nonton film terbaru di Blitz Megaplex, pentas musik, kumpul-kumpul di kafe, dan sebagainya.

Sebagai konsekuensi dari kondisi ini maka kemahasiwaan di ITB juga melempem. Sangat jarang mahasiswa ITB melakukan aksi demo terkait masalah-masalah bangsa ini, atau demo tentang ketidakadilan yang menimpa rakyat kecil. Kalaupun ada, maka yang ikut hanya sedikit, itupun yang benar-benar aktivis dan idealis. Susah sekali bagi KM ITB untuk mengumpulkan massa buat orasi atau demo-demo. Sebagian besar mahasiswa lebih memilih menikmati kenyamanan di kampus ketimbang berpanas-panas ikut aksi demo yang dinilai tidak jelas dan tidak menarik.

Mau tidak mau fakta ini harus diterima bahwa memang beginilah kondisi sosial mahasiswa ITB saat ini. Jadi kalau peminat beasiswa berkurang, mungkin memang sudah agak sulit mencari mahasiwa kurang mampu di ITB.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

10 Balasan ke Susah Mencari Mahasiswa Kurang Mampu di ITB???

  1. batampjb2 berkata:

    ternyata derajat perubahannya sangat jauh ya pak. Saran aja, untuk membuat ITB kampus online,ITB kuliah online, pembayaran SKS ITB online apapun itu yang jelas semua mahasiswanya ngak perlu datang ke kampus lagi dan mahasiswa yang di terimapun smakin banyak , jadi tidak ada lagi jalan macet. nah dari situ khan ketahuan yang kurang mampu misalnya yang datang dengan berjalan kaki atawa naik motor krn tidak punya komputer di rumah/keberatan bayar internet.
    Ataupun menjaring mahasiswa yang masih bisa diharapkan untuk memajukan KM ITB–trimakasih informasinya…

  2. ghifar berkata:

    kalau beasiswa untuk S2 selain voucher ada tdk pak?kalau ada yg tdk terpakai sy mau lah pak. sebagai mahasiswa S2, mgkn sy bisa dikategorikan mahasiswa yg ‘tidak mampu’

    • rinaldimunir berkata:

      Halo Ghifar, rasanya saya tidak pernah mendengar ada beasiswa untuk mahasiswa S2. Mungkin karena anggapan mahasiswa S2 itu lebih mapan daripada S1, karena dengan biaya kuliah S2 yang lebih mahal dari S1 toh tetap saja banyak peminatnya. Selain itu mungkin karena masa studi S2 yang lebih pendek (hanya dua tahun) sehingga tidak mendesak diberi S2 daripada S1.

      • petra berkata:

        Sebenarnya kalau ITB ingin jadi Research University, harusnya beasiswa untuk pascasarjana dialokasikan lebih banyak. Sekarang khan jalur fasttrack dan beasiswa voucher sudah banyak peminatnya.

        Selain itu sulit disamakan antara peminat S2 yang motivasinya karena permintaan lembaga tempat mereka bekerja (biasanya untuk syarat naik pangkat) dengan peminat S2 yang langsung (atau tidak terlalu jauh) dari S1. Kalau yang pertama khan biasanya dibayar oleh lembaga atau biasanya sudah cukup mapan. Tapi kalau yang kedua, yah gimana ya, baru juga lulus.

        Kalau di prodi sebelah labtek kita, Pak, saya pernah dengar ada program kerjasama beasiswa pascasarjana untuk alumni prodi tsb yang diberikan perusahaan tertentu dengan syarat mereka mau melakukan riset untuk perusahaan tersebut. Kira-kira kalau di IF ITB gimana ya? Ada tidak sih?

  3. Soni Satiawan berkata:

    Wah, sayang juga ya pak alokasi dana beasiswa yang ga digunain.

    Saya jadi ingat dengan teman saya yang tidak mendapatkan beasiswa ketika itu karena tidak lolos di LPKM, padahal menurut saya, dia sangat membutuhkan. Soalnya saya tau tentang dia serta keluarganya. Malahan teman yang dimata saya mampu dari segi finansial mendapatkannya.

    Saya juga agak sedikit miris dengan kehidupan mahasiswa kampus pak. Apalagi rasa kepedulian kepada masyarakat dan bangsa yang agak sedikit menurun..
    Saya pernah ikut demo loh pak ketika itu (ketika itu saya harus mengorbankan tidak ikut latihan lustrum 6 UKM , padahal saya personil tari), soalnya mengapa saya mau ikut demo karena bait 2 yang terdapat di lagu “kampusku” yang saya dapatkan ketika OSKM dulu, berikut penggalannya

    “…berjuta rakyat menanti tanganmu
    Mereka lapar dan bau keringat….”

    Sangat membekas bagi saya pak, dan sampai sekrang, walaupun saya udah kerja. Saya belum dapat memberikan sumbangsih yang berarti rasanya pak..

  4. rosa berkata:

    Mungkin ITB juga perlu memperhatikan mental orang-orang yang bukan dari kalangan atas, beberapa teman yang DO sebenarnya mereka bukan orang bodoh, cuman kalah mental saja. Dan saya merasakan lumayan berat jadi orang tidak berduit di tengah yang berduit😀, butuh keteguhan mental tingkat tinggi.

  5. Ade berkata:

    Saya mahasiswi TPB. Di angkatan saya sendiri, PPA justru diambil oleh teman yang cukup mampu.

    Saya sendiri tidak mengambil PPA karena jumlahnya terlalu kecil dibandingkan dengan biaya hidup dan biaya SKS sendiri (mulai angkatan saya 125rb/SKS). Sedangkan jika sudah mengambil PPA, tidak diperkenankan untuk menerima beasiswa dari sumber lain. Jadi untuk tahun ini, saya ambil beasiswa dari luar😀

  6. tomo berkata:

    sudah rahasia umum bahwa pembangunan hanya di lakukan di pulau jawa saja sedangkan di luar jawa cuma dapat sampah2 nya aja.

  7. Lemo berkata:

    Kalau memang peminat beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu kini lebih sedikit, kenapa tidak dialokasikan untuk mahasiswa S2 tanpa memandang faktor ekonominya, asalkan yang bersangkutan dapat mengajukan proposal yang jelas dan kontributif bagi universitas dan masyarakat? Apakah beasiswa hanya untuk mereka yang kurang mampu secara ekonomi dan mereka yang brilian secara akademi?

    Ini pendapat pribadi dan bukan justifikasi, tetapi saya kira mereka yang berada di posisi ‘tanggung’ ini sebenarnya paling sulit situasinya. Tanggung bagaimana? Tanggung dari segi finansial dan nilai akademis.

    Mahasiswa dari kalangan berada bisa membiayai kuliah S2 baik dalam dan luar negeri, berapapun tingginya. Sedangkan mahasiswa dari golongan ekonomi lemah bisa mendaftar beasiswa untuk mereka yang tidak mampu. Lalu, di mana kesempatan bagi mereka yang di tengah kedua kutub tersebut? Mereka dianggap kurang memenuhi ‘syarat’ untuk mendapatkan beasiswa berdasarkan kesulitan finansial, tetapi juga kurang pantas kalau diberikan beasiswa merit-based. Padahal, jika ingin menilik lebih dalam, mahasiswa dari ekonomi ‘nanggung’ ini mungkin sulit untuk melanjutkan S2 karena kurangnya biaya. Namun, mereka tidak bisa mendaftar karena secara etika dan peraturan mereka tidak dikategorikan tidak mampu. Ini sebuah kondisi sosial yang mungkin kurang mendapat perhatian karena bantuan pembiayaan pendidikan hanya berfokus pada kutub-kutub ekstrem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s