Imlek dan Pembauran Tionghoa

Besok, 14 Februari 2010, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia siap-siap merayakan tahun baru Cina yang disebut Tahun Baru Imlek. Di zaman Orba perayaan ini sempat dilarang oleh Pemerintah, karena masih ada trauma dengan pemberontakan G30S PKI yang dituding didalangi oleh jalur Moskow-Peking (Ibukota RRC waktu itu). Tetapi, di zaman Presiden Gus Dur perayaan Imlek diperbolehkan kembali, sehingga kita orang awam menjadi terbiasa melihat hiasan lampion berwarna merah di pusat-pusat perbelanjaan menjelang Imlek ini. Juga, kita terbiasa membaca dan mendengar ucapan Gong Xi Fa Cai yang mungkin berarti selamat tahun baru.

Semasa kecil di Padang saya pernah merasakan perayaan Imlek. Di Padang ada daerah pecinan yang bernama daerah Pondok, letaknya di wilayah kota tua dekat pelabuhan Muara. Sekarang daerah ini sudah luluh lantak diayun gempa besar pada September 2009 yang silam. Di daerah Pondok terdapat puluhan ribu warga Tionghoa. Merekalah yang menggerakkan bisnis di kota Padang. Karena jumlah mereka cukup banyak, maka kontribusi mereka — termasuk budaya — pada kehidupan kota tidak bisa dipandang remeh. Saya masih ingat dulu perayaan Cap Go Meh (dua minggu setelah Imlek) sangat meriah di kota Padang. Perkumpulan Tionghoa membuat “lipan” terpanjang (liong?) diikuti dengan tandu panjang yang diusung oleh puluhan orang Tionghoa dewasa. Di atas tandu itu ada rumah-rumahan dan di dalam rumah-rumahan itu duduk manis anak-anak yang mengenakan pakaian tradisionil mandarin, lengkap dengan kipas dan asesoris mandarin lainnya. Dari daerah Pondok rangkaian panjang itu diarak melewati daerah Muara, lalu bergerak menuju Pasar Raya dan kembali lagi melewati jalan-jalan di daerah Pondok. Ribuan orang menonton pawai yang unik dan kolosal ini sebagai hiburan di tengah kehidupan yang sulit pada masa itu.

Di bawah ini foto rumah-rumahan yang diangkut dengan tandu panjang oleh pria dewasa pada perayaan Cap Go Meh di daerah Pondok, Padang. Setiap rumah-rumahan diisi dengan anak-anak yang duduk manis. Foto diambil dari situs ini (bercerita tentang sejarah Tionghoa di Padang).

Secara umum akulturasi budaya Mandarin di Indonesia sudah berurat berakar seperti halnya budaya Islam dan budaya Hindu. Ada jutaan orang keturunan Tionghoa di Indonesia, mereka sudah beranak pinak dan menganggap Indonesia adalah tanah air mereka. Namun, tetap saja ada satu yang terasa belum pas: pembauran orang Tionghoa di Indonesia masih belum tuntas. Masih terasa ada jarak antara orang Tionghoa dan orang yang disebut pribumi. Masih banyak orang Tionghoa yang menutup diri dan kurang mau berbaur. Mereka hidup mengelompok dan terkesan tertutup. Tetangga sebelah rumah saya adalah orang Tionghoa, sejak mereka pindah ke komplek kami tidak pernah sekalipun mereka bertegur sapa dengan tetangga, tidak pernah berbaur, tidak pernah ikut rapar RT, bahkan melapor ke RT saja tidak. Seakan-akan mereka memang ingin mengasingkan diri dari lingkungan. Namun, di kampus saya menemukan hal sebaliknya. Kolega saya Bu Harl*l* sangaaaaat baik dan ramah kepada siapapun, baik kepada mahasiswa maupun kepada karyawan dan dosen. Orangnya halus, lembut, dan sepintas terkesan bukan orang Tionghoa, tapi seperti wanita Jawa yang lembut. Jadi, memang kita tidak bisa menggeneralisasi perilaku suatu komunitas, pasti ada saja yang berbeda.

Zaman telah berubah, Indonesia sudah merdeka. Seharusnya sebagai bangsa yang besar dan plural tidak ada lagi sekat-sekat yang memisahkan warga Indonesia yang majemuk ini. Karena orang Tionghoa sudah ada di Indonesia sejak berabad-abad yang lampau, maka secara sosiologis mereka adalah bagian dari bangsa ini seperti halnya suku-suku bangsa yang sudah mendiami Indonesia sejak lama. Oleh karena itu, satu cara untuk menerima warga Tionghoa adalah dengan tidak menganggap mereka sebagai sebuah etnis lagi, tetapi menganggap mereka sebagai sebuah suku bangsa di Indonesia seperti suku-suku lain yang ada (Jawa, Sunda, Minang, Batak, Ambon, Dayak, dll). Suku Tionghoa, begitu istilahnya. Saya sendiri lebih suka menulis kata “tionghoa” daripada “cina” karena sebutan “cina” bagi orang Tionghoa terkesan melecehkan.

Ada juga yang menggunakan pendekatan sosio-religius untuk melakukan pembauran, karena agama dipandang sebagai salah satu alat pemersatu. Pendekatan sosio-religius itu mengatakan bahwa agar bisa berbaur dan lebih diterima maka orang-orang Tionghoa sebaiknya mengikuti agama yang mayoritas di tempat dia tinggal. Di Thailand orang Tionghoa sudah menyatu dengan bangsa Thai karena orang Tionghoa juga beragama Budha seperti agama orang Thai. Di Filipina juga begitu karena orang Tionghoa beragama Katholik seperti agama mayoritas orang Filipina. Saya menemukan contoh menarik ketika jalan-jalan ke kota Manado. Di sana orang Tionghoa sudah menyatu dengan orang Manado asli karena warga Tionghoa juga beragama Kristen seperti orang Manado. Jadi, jika pendekatan ini diterima, maka di Bali orang Tionghoa sebaiknya mengikuti agama Hindu, di Ambon mengikuti agama Kristen dan Katolik, di Padang mengikuti agama Islam, dan sebagainya. Tentu saja ada yang pro dan kontra dengan pendekatan ini.

Allah menciptakan manusia dari berbagai suku dan bangsa untuk saling kenal mengenal, bukan untuk saling bermusuhan, seperti tertulis di dalam Al-Quran Surat surat Al Hujuraat ayat 13 ini :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Indah sekali bunyi ayat Al-Quran di atas. Kata Allah di dalam ayat tersebut, orang yang paling mulia bukanlah orang Arab, atau orang Yahudi, atau orang Tionghoa, atau orang Jawa, atau orang Eropa, atau orang Jepang, dan sebagainya. Orang yang paling mulia di antara suku-suku dan bangsa-bangsa itu adalah orang yang bertaqwa. Bertaqwa artinya mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Bahkan, Allah SWT melarang kita mengejek atau mengolok-olok suatu suku (kaum), karena boleh jadi suku (kaum) yang diejek itu ternyata lebih baik dari kita. Ini tertulis di dalam SuratAl-Hujurat ayat 11:

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.

Memanggil orang dengan sebutan atau gelar yang buruk saja dilarang, apalagi memperolok dan mengejek sekelompok orang.

Begitulah Allah SWT memberi tuntunan bagaimana seharusnya kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda suku bangsa dan agama dengan kita.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku. Tandai permalink.

5 Balasan ke Imlek dan Pembauran Tionghoa

  1. Mantoel Toeink berkata:

    Gong Xi Fa Cai memang artinya selamat tahun baru (Imlek) kok, Pak.๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

    Dan soal menutup diri, nggak usah antar yang non- Tionghoa dan yg Tionghoa, Pak. Di lingkungan saya jg ada tetangga baru yang datang gabrush gak kenal tetangga2 sama sekali (kenalnya milih2 pun jg nggak) alhasil pas kemarin rumahnya kenapa2, org sekitar jg cuma ngeliat ada apa dan ya udah gak ada tindak lanjut krn gak tahu masalahnya apa (daripada salah tindakan).

    Selain itu, yah, sebenarnya trauma masa2 kerusuhan jg masih tersisa sih, Pak, kalau di kasus lain. Bbrp orang masih takut sama penerimaan, jadi daripada ditolak, mgkn memilih tidak maju sama sekali. Saya dan seorang teman saya yg pada masa2 kerusuhan masih SD (tdk bnr2 sadar apa yg terjadi di bulan Mei 98 itu) sekarang saat mendengar cerita masa lalu itu jg merasa seram sendiri.

    Kira2 begitulah, Pak.๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

  2. rosa berkata:

    Ada hal yang saya kagumi dari teman-teman saya yang cina, mereka pekerja keras, mungkin itu bedanya dengan orang pribumi, kenapa Cina yang imigran ke Indonesia banyak yang berhasil. Selain itu saya sering tidak menganggap mereka Cina lagi Pak. Misal Bu Inge, saya menganggap Bu Inge orang Jawa tulen karena logat jawanya kental sekali๐Ÿ˜€.

  3. mama adi&ian berkata:

    Daaaa… salam kangen buat bu Harlili ya…

  4. Kang Jodhi berkata:

    Betul pak, memang “Bu Harl*l* sangaaaaat baik dan ramah kepada siapapun”. Mana pintar lagi๐Ÿ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s