Menghadiri Acara Pengukuhan Profesor

Hari Sabtu kemarin saya datang ke gedung BPI (Balai Pertemuan Ilmiah) ITB di pertigaan Jalan Dipati Ukur dan Jalan Ir. H.Djuanda (Dago, depan jembatan layang Pasupati) guna menghadiri acara pengukuhan Profesor Bambang Riyanto Trilaksono. Wah..wah, profesor (guru besar) di Fakultas STEI makin bertambah nih. Bersamaan dengan Pak Bambang juga turun SK Profesor untuk Pak Kuspriyanto dan Pak Andriyan Bayu Suksmono. Mantaaap. Btw, IF sendiri baru punya 2 profesor yaitu Pak Iping dan Pak Benhard.

Kebetulan Pak Bambang adalah dosen pembimbing disertasi saya, jadi kalau saya tidak datang malu juga awak, nanti ditanya-tanya kenapa tidak datang, bisa gelagapan saya, hi..hi..hi, padahal Pak Bambang mengundang via SMS lho. Oh ya, Pak Bambang Riyanto Trilaksono dikukuhkan sebagai profesor di bidang Teknik Elektro.

Selain Pak Bambang, ada satu orang lagi yang dikukuhkan pada hari itu, satunya lagi Profesor Biranul Anas Zaman dari Program Studi Kriya Seni FSRD.

Pak Bambang lahir pada tahun 1962, sedangkan Pak Biranul tahun 1947. Kontras sekali ya, yang satu mencapai gelar profesor pada usia muda, sedangkan yang satu lagi sudah menjelang senja. Tak apa-apa, mendapat gelar profesor saja sudah bersyukur banget, susah lho itu. Asal tahu saja, ada 4 tingkat jabatan fungsional setiap dosen di Perguruan Tinggi:
1. Asisten Ahli
2. Lektor
3. Lektor Kepala
4. Profesor

Bagi yang baru menjadi dosen, jabatannya pertama kali adalah Asisten Ahli. Kalau sudah bergelar Doktor (S3), bisa langsung ke Lektor. Dari setiap jabatan fungsional ke jabatan fungsional lebih tinggi ada syarat kenaikan yang diukur dari credit cum yang dicapai. Nilai cum itu diperoleh dari 3 aspek Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan/Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Cum dari Penelitian menempati porsi paling tinggi. Jadi, kalau seorang dosen malas meneliti dan menulis paper, ya susah naik ke jabatan lebih tinggi. Seorang dosen mendapat profesor berarti dia sudah banyak menulis paper dari hasil penelitiannya. SK Profesor ditandatangani oleh Presiden R.I.

Nah, kembali ke acara pengukuhan profesor tadi. Baru kali ini saya menghadiri acara pengukuhan profesor. Acara ini diselenggarakan oleh Majelis Guru Besar (MGB) ITB. Undangan yang hadir adalah dari kalangan keluarga profesor yang dikukuhkan, para guru besar, dosen, dan mahasiswa. Acara pengukuhan hanya punya satu agenda tunggal, yaitu orasi ilmiah dari profesor yang bersangkutan. Pak Bambang menyampaikan orasi tentang kendali dan sistem cerdas, sedangkan orasi Pak Anas tentang serat kain dalam seni kriya kebanggaan Indonesia.

Orasi Pak Bambang:

Orasi Pak Biranul:

Tidak penting benarlah apa isi orasi kedua profesor ini. Cuma, yang menarik kali ini adalah peragaan busana pada akhir sesi orasi Pak Biranul. Berhubung beliau mempresentasikan tentang tekstil, maka sejumlah mahasiswi senirupa berlenggang-lenggok di depan hadirin memperagakan busana yang didesain oleh mahasiswa dan alumni FSRD. Waaah…, acara orasi yang tadinya kaku dan formal, tiba-tiba menjadi meriah dengan peragaan busana tadi. He..he, bukan FSRD namanya kalau tidak membuat acara menjadi meriah dengan pertunjukan yang unik dan aneh-aneh🙂.

Baiklah. Selamat ya Pak Bambang, selamat ya Pak Biranul. Semoga gelar profesornya ketularan kepada saya (kapan ya?).

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

7 Balasan ke Menghadiri Acara Pengukuhan Profesor

  1. petra berkata:

    Semangat Pak Rin!😀

  2. reiSHA berkata:

    Semangat Pak😀 Moga nanti bisa datang di pengukuhan Bapak sebagai profesor. Hehe…

    • rinaldimunir berkata:

      Masih jauuuuuh…, Reisha. Percaya atau tidak, menjadi profesor bukan obsesi saya, belum merasa pantas. Mengerjakan yang terbaik dalam profesi saya sebagai dosen itu sudah lebih dari cukup.

  3. mama adi&ian berkata:

    haaa?.. pak Andriyan dah jadi professor???
    Dia kan teman kita di piksi dulu ya Da… hebat!
    .. hehehe.. jadi malu nih.. teman2 seumuran udah pada jadi professor.
    Selamat deh.. semoga makin banyak aja profesor2 muda di Indonesia.

  4. Nur Ali Muchtar berkata:

    aaaaminnnnnnnn pak. semoga bisa jadi profesor secepatnya. ga harus nunggu rambut rontok dulu khan pak?

  5. prasetyoandyw berkata:

    semangat Pak!

    Sekedar ingin cerita, waktu itu saya mendapat tugas writing tentang rasio yg cukup antara profesor dan mahasiswa, dan saya memaparkan kalau di IF tempat saya kuliah dulu (padahal baru beberapa bulan yg lalu wisudanya :P) cuma ada 2 profesor dengan ratusan mahasiswa. membaca paparan saya itu guru les saya menanyakan alasan mengapa cuma ada 2 profesor vs ratusan mahasiswa. Saya pun waktu itu bingung menjawab pertanyaannya, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s