Boediono di Ujung Tanduk

Bagai telur di ujung tanduk, begitulah nasib Wapres Boediono dan Sri Mulyani saat ini. Rekomendasi Pansus Century yang berakhir klimaks hari Rabu kemarin sudah menyatakan bahwa bailout Bank Century bermasalah dan para pejabat yang terkait bailout itu — antara lain Boediono dan Sri Mulyani — harus diproses secara hukum.

Saat ini rakyat menunggu apakah rekomendasi itu hanya sebatas pepesan kosong yang tidak ada tindak lanjutnya ataukah memang betul-betul ‘berisi’ dan bernyali? Bola ada di tangan Kajaksaan. Berani tidak mereka membawa kasus ini ke ranah hukum?

Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa sebagian besar rakyat Indonesia tidak paham kasus Bank Century itu. Maklumlah sebagian besar rakyat kita ini pendidikannya masih rendah, mana pula mereka paham soal bailout, dampak sistemik, dan istilah yang asing bagi mereka. Mereka tidak tahu siapa yang benar dan salah dalam kasus ini. Rakyat hanya mengikuti saja apa yang terjadi di parlemen. Media massalah yang berperan dalam membentuk opini kebenaran itu. Saat ini, siapa yang menguasai media, merekalah yang memenangkan perang opini.

Kembali ke soal nasib Boediono dan Sri Mulyani tadi. SBY jadi serba salah dibuatnya, bagai buah simalakama. Mempertahankan Boediono dan Sri Mulyani juga tidak baik efeknya, sebab kedua orang ini akan terus menjadi beban bagi Pemerintahannya. Pemerintahan menjadi tidak stabil. Para politisi akan selalu ‘ribut’ mempersoalkan kedudukan Boediono dan Sri Mulyani selama yang bersangkutan tidak atau belum mengundurkan diri. SBY akan selalu diserang oleh lawan-lawannya, Boediono dan Sri Mulyani akan selalu dicecar dan dipermasalahan.

Tapi, memberhentikan Boediono juga tindakan yang aneh. Presiden dan Wapres itu satu paket dalam Pemilu yang lalu, jadi kalau mau memakzulkan Boediono berarti juga harus memakzulkan SBY. Tidak ada aturannya dalam UU atau Tap MPR atau apalah namanya tentang pemakzulan Wapres. Inilah ‘lubang’ dalam UU yang dibuat oleh wakil rakyat kita.

Maka ada yang mengatakan bahwa Boediono adalah sasaran antara saja dalam kasus Century ini, sasaran utama sebenarnya adalah SBY. Jika Boediono bisa dimakzulkan, maka pintu untuk memakzulkan SBY tinggal selangkah lagi. Itulah politik di negara kita, senang melihat orang lain dijatuhkan.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

5 Balasan ke Boediono di Ujung Tanduk

  1. Nur Ali Muchtar berkata:

    setuju itu pak: “Itulah politik di negara kita, senang melihat orang lain dijatuhkan”

    btw pak, ga buat tulisan tentang mahasiswa HMI yang “tawuran” dengan polisi? ditunggu ya pak
    salam

  2. Kang Jodhi berkata:

    menurut pendapat saya, boediono tidak bisa dipersalahkan. dia itu tipe manajer konservatif yang berprinsip safety-first, tidak mau ambil resiko. karena itu dia memutuskan selamatkan saja bank century apapun resikonya.

    sri mulyani? kurang lebih sama. hanya dia bisa bermasalah bagaimana dana yang tadinya 632M bisa membengkak jadi 6.7T (merujuk kesini, http://www.inilah.com/news/politik/2010/01/15/282412/sri-mulyani-merasa-tertipu-bi/)

    menurut saya, sebaiknya presiden mengambil alih tanggung jawab kasus ini, daripada membiarkan para pembantunya jadi bulan-bulanan media.

  3. Aswin berkata:

    Secara jujur, gw percaya ama boediono dan sri mulyani…. Dua2nya orang hebat…. Integritas tak perlu dipertanyakan…..
    Langkah bailout Bank Century merupakan keputusan yang harus diambil cepat karena kl nunggu efeknya muncul, ya jadi keputusan yang terlambat… Terkadang keputusan harus diambil sebelum kondisi muncul seluruhnya.

  4. ikhwanalim berkata:

    “Itulah politik di negara kita, senang melihat orang lain dijatuhkan”

    iya,pak. yg penting jatuh dulu. masalah pengganti itu ntar aja.
    CUMA ADA DI INDONESIA,LHO..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s