Teroris Lagi, Teroris Lagi

Kemarin siang masyarakat kita disuguhi breaking news penggerebekan orang-orang yang diduga teroris di daerah Pamulang, Tangerang. Seperti biasa, liputan soal penggerebekan buruan Densus 88 ini memang selalu menjadi berita besar, apalagi kalau ada tembak-tembakan dan lemparan bom seperti aksi laga film-film Hollywood. Ingat waktu penggerebekan Dr. Azahari di Malang beberapa tahun lalu, media terutama televisi menyajikan secara live operasi penangkapan dan penembakan tersebut.

Kita yang merasa tenang-tenang saja dan mengira sudah tidak ada lagi teroris di Indonesia tentu saja merasa kaget dengan kejadian kemarin. Terroris lagi, teroris lagi. Seolah-olah selalu saja ada berita untuk mengalihkan perhatian dari kasus-kasus besar yang menguras konsentrasi publik seperti Century. Entah kenapa momennya selalu saja tepat.

Untuk peristiwa semacam ini bolehlah Densus 88 diacungi jempol karena dalam waktu hanya 10 bulan sudah berhasil menangkap dan men-dor orang-orang yang diduga teroris, sebut saja Noordin M Top, Ibrohim, dan masih banyak lagi (saya lupa siapa nama-namanya), termasuk korban kemarin yang diduga bernama Dulmatin.

Masalahnya, sebagian besar dari orang yang diduga teroris itu sudah tewas. Mereka sudah keburu mati didor tanpa mempunyai kesempatan untuk membela diri di pengadilan. Sebagai negara hukum yang menjunjung tinggi supremasi hukum, penerapan asas praduga tak bersalah tentu harus ditegakkan sebelum pengadilan menjatuhkan vonis apakah seseorang itu bersalah melakukan tindak kejahatan teror. Namun polisi sudah terlanjur bertindak sebagai hakim yang mengadili mereka sebagai orang bersalah dengan cara menembaknya. Menangkap tersangka teroris dalam keadaan hidup lebih bermanfaat daripada ditembak mati. Kalau seseorang sudah terlanjur mati, tentu dia tidak bisa ditanya lagi apakah betul dia yang melakukan aksi keji di sejumlah daerah di Indonesia maupun di luar negeri. Siapa saja anggota jaringannya, bagaimana ia mendapatkan bom, dan sebagainya.

Oleh karena itu, istilah yang adil kepada orang-orang yang berhasil ditangkap atau tewas didor oleh Densus 88 itu adalah orang yang diduga (suspect) atau tersangka teroris. Untuk suspect yang sudah terlanjur tewas, ya mau bagaimana lagi, tetapi bagi suspect yang berhasil ditangkap hidup-hidup biar pengadilan yang membuktikan keterlibatan mereka dalam jaringan terorisme, benar atau salahnya. Sebagai contoh Amrozy dkk sudah diadili dan pengadilan memutuskan mereka terbukti bersalah melakukan tindakan terorisme (yang akhirnya mereka dihukum mati).

Trorisme memang harus dilawan, apalagi yang mengatasnamakan agama. Tindakan terorisme sangan bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri, karena agama tidak pernah mengajarkan kekerasan. Terorisme yang mengatasnamakan agama lahir dari pemahaman agama yang sempit. Pelaku teror menyebut aksi mereka itu perang suci, tetapi sebenarnya tindakan mereka itu adalah sebuah kejahatan karena mereka ikut membunuh orang-orang yang tidak bersalah.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

9 Balasan ke Teroris Lagi, Teroris Lagi

  1. johnnie kyai berkata:

    Mungkin kita DPR perlu rapat lagi untuk menetapkan apakah Dasar Negara kita masih PANCA SILA, kalau tidak semua orang merasa benarnya sendiri, dan kalau kita masih tetap menggunakan Panca Sila sebagai dasar negara maka untuk selanjutnya kita tidak menggunakan kata TERORIS lagi tetapi PEMBERONTAK karena sepertinya mereka berusaha untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam, terima kasih

    • rinaldimunir berkata:

      Hmmm …saya kira tidak begitu. Kalau saya amati begini, teroris atau tersangka teroris tidaklah berjuang mendirikan negara Islam. Tujuan mereka bukan itu, tetapi membela ummat Islam lain di belahan dunia sana (Irak, Afghanistan, Palestina, dll) yang ditindas oleh Amerika dan sekutunya. Target serangan mereka adalah kepentingan Amerika dan sekutunya di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Terlepas dari benar atau salah cara “perjuangan” mereka itu, satu hal yang pasti banyak orang tidak bersalah ikut menjadi korban.

  2. Angga Sasmita berkata:

    teroris ya pak? yang secara definisi berarti orang-orang yang sengaja menimbulkan ketakutan sehingga menghambat kegiatan publik.

    Saya sempat berpikir bahwa teroris yang sebenarnya adalah media. Justru banyak ketakutan yang dialami hari ini adalah karena media yang mengaitkan terorisme terhadap hal-hal yang fundamental secara agama dan sebenarnya hal itu wajar.
    Sebagai contoh, dari sekian banyak objek, mengapa media memfokuskan perhatian pada atribut-atribut agama? Orang-orang jadi takut dengan mereka yang sehari-hari memakai atribut islami. Orang-orang jadi antipati ketika bahasa ayat menjadi percakapan sehari-hari. Dan bahkan wanita-wanita yang hendak menjaga kehormatan secara baik-baik seolah menjadi noda dengan atribut kerudungnya.

    Jadi…mengenai isu teroris ini, apakah hanya rekayasa media dan orang2 yang membenci suatu agama tertentu yang dikaitkan dengan “terorisme” tersebut, atau memang sebuah fakta…Menurut pendapat pribadi, saya sendiri masih ragu…

    kalau menurut bapak gimana? maaf ya pak, kalau bahasa saya tidak berkenan

    • rinaldimunir berkata:

      Setuju. Tindakan terorisme yang dilakukan oleh orang-orang yang mengatasnamakan agama (kebanyakan membawa nama Islam) membuat agama itu menjadi tercoreng. Akibatnya, simbol-simbol dan atribut yang berkaitan dengan agama (Islam) dijadikan bahan antipati/kecurigaan dan orang-orang yang mengenakannya mendapat stigma negatif. Media pun (terutama yang berseberangan) ikut membangun stigma negatif itu. Namun saya pikir semua ini adalah karena ketidaktahuan, ketidakmengertian dan kesalahpahaman semata, dengan berjalannya waktu orang akhirnya memahami bahwa simbol-simbol agama dan terorisme adalah dua hal yang berbeda.

  3. iwanbk berkata:

    Humor dari temen kantor:
    Apa bedanya antivirus dan densus 88 ?
    Kalo antivirus, mendeteksi dulu baru memusnahkan virusnya.
    Kalo densus, memusnahkan dulu baru mendeteksi.

  4. transfer factor berkata:

    Kita harus selalu waspada dan perhatikan sekitar kita dari ancaman teroris.

  5. arifg berkata:

    Assalamu’alaikum wr.
    Salam takzim kepada Uda Rinaldi yth.
    Saya arif…mungkin masih bpk ketahui saat masih sekost di daerah sadang serang no. 26…bagaimana kondisi keluarga di bdg? sdh berapa putranya?

    Salam dari semarang….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s