Nyepi dan Indonesia yang Toleran

Hari ini Senin, 15 Maret 2010. Pekan UTS baru saja dimulai di ITB. Anak saya yang di SD juga mulai UTS minggu ini. Selamat UTS semuanya….

Hari ini baru saja mulai bekerja setelah libur Sabtu dan Minggu, eh besok sudah libur lagi karena bertepatan dengan libur Hari Raya Nyepi, hari besar dalam Agama Hindu. Tadi pagi saya ketemu tetangga yang orang Bali, rupanya dia tidak masuk kerja karena sudah mengambil cuti untuk Nyepi. Setiap hari Nyepi saya lihat rumahnya gelap total, sangat kontras dengan tetangga kiri kanannya yang terang benderang dan lampu jalan yang juga menyala. Di luar sana motor dan mobil sekali-sekali melewati depan rumahnya, menimbulkan suara berisik. Bagi Wayan dan keluarganya, mereka sudah biasa ber-Nyepi di tengah suasana keramaian di sekelilingnya. Mereka satu-satunya keluarga Hindu di RW kami. Dia tetap setia sebagai seorang penganut Hindu yang taat menjalankan ritual agamanya di tengah lingkungan yang tidak kondusif seperti di Pulau Bali. Bagi orang Hindu Bali (saya sebut begitu karena orang Hindu di India tidak mengenal hari Nyepi), mereka melakukan perayaan Nyepi dimulai dari pukul 12 malam hingga pukul 12 malam hari berikutnya. Jadi, tahun ini Nyepi dimulai nanti malam tepat pukul 00.00 dan berakhir pada hari Rabu dini hari pukul 12 malam (ada juga yang nyepi sampai pukul 6 pagi). Selama Nyepi mereka tidak boleh menyalakan api (lampu), tidak boleh ke luar rumah untuk beraktivitas, dan tidak boleh berbicara. Benar-benar sepi.

Bersukurlah Wayan dan orang Hindu lainnya karena Indonesia menjadikan hari Nyepi sebagai hari libur nasional. Selain Idul Fitri (Lebaran) dan Natal, Indonesia juga menjadikan Hari Raya Waisak (agama Budha), Hari Raya Nyepi (agama Hindu) dan Hari Raya Imlek (bagi penganut Khong Hu Chu) sebagai hari libur Nasional. Bahkan untuk agama Kristen/Katholik ada 3 hari libur nasional selain hari Natal, dua lagi yaitu hari wafatnya Isa Almasih dan hari Paskah, sedangkan untuk agama Islam ada 4 hari libur nasional yaitu Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, dan Tahun Baru Hijriyah. Tujuan pemberian libur nasional itu hanya satu, yaitu agar setiap penganut agama dapat berkosentrasi menjalankan ibadahnya dengan khidmat dan tenang pada hari libur itu tanpa terganggu dengan aktivitas pekerjaan yang memang diliburkan.

Hanya di Indonesia — yang mayoritas penduduknya beragama Islam — semua hari raya agama dijadikan sebagai hari libur nasional meskipun jumlah penganut agama itu hanya sedikit (minoritas). Hindu misalnya, hanya 2% dari populasi nasional. Hal ini sangat berbeda dengan negara-negara lain yang mayoritas penduduknya bukan beragama Islam namun memiliki cukup banyak penduduk muslim. Di Inggris misalnya, dimana Islam merupakan agama kedua terbesar setelah Kristen/Katholik dengan jumlah penganut sekitar 3 juta orang, tidak ada hari libur untuk Idul Fitri atau Idul Adha. Begitu pula di Perancis dimana terdapat 5 juta penduduk muslim. Jangan tanya pula Amerika yang dianggap sebagai negara kampiun demokrasi, tidak ada hari libur untuk agama selain Kristen dan Yahudi. Jadi, bagi orang muslim di negara-negara itu, mereka harus mensiasati untuk shalat Ied di pagi hari sebelum berangkat kerja atau kuliah. Jangan berpikir untuk bisa makan ketupat, diperbolehkan terlambat saja karena shalat Ied dulu sudah sebuah keberuntungan.

Tidak usah jauh ke Eropa atau Amerika, di negara tetangga terdekat seperti Thailand yang mempunyai banyak penduduk muslim di Thailand Selatan dan Filipina yang juga mempunyai populasi muslim yang besar di selatan (Mindanao dan sekitarnya) juga tidak ada hari libur nasional untuk Idul Fitri.

Jadi kalau soal toleransi beragama, negara Indonesia dikenal paling toleran karena mengakomodasi semua agama. Tidak ada negara lain yang setoleran Indonesia dalam menghormati hari besar setiap agama. Tidak usah jauh-jauh mencontoh negara Amerika dalam toleransi beragama, contohlah Indonesia saja. Semua agama dilindungi dan diberikan tempat terhormat. Keragaman atau kemajemukan (pluralitas) yang ada di Indonesia adalah fakta yang tidak terbantahkan, itu semua adalah aset bangsa yang dirajut dalam bingkai bhinneka tunggal ika. Jadi jika ada yang menganggap Indonesia tidak toleran dalam kehidupan beragama, patut dipertanyakan apa dasarnya.

Buat Wayan, Made, Ni Luh, Nyoman, Ketut, Putu, Ida Bagus, dan lain-lain, baik yang di Pulau Bali maupun di tempat lain di wilayah Indonesia maupun di seantoro dunia, selamat merayakan Nyepi. Bagi yang bukan Hindu, selamat libur (lagi) besok. Bagi mahasiswa ITB, libur besok = belajar untuk persiapan UTS hari Rabu.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Nyepi dan Indonesia yang Toleran

  1. rosa berkata:

    “Bagi mahasiswa ITB, libur besok = belajar untuk persiapan UTS hari Rabu. ”

    kalimat paling tidak enak didengar bagi mahasiwa ITB😀.

    • rinaldimunir berkata:

      Betul Rosa, mestinya hari libur untuk berleha-leha, namun bagi mahasiswa ITB seperti di tempat saya (Informatika), hari libur adalah untuk menyelesaikan seabreg tugas (terbiasa dealiner) atau belajar buat ujian besok.

      • rosa berkata:

        Saya masih kebawa sampai sekarang Pak😀. Bukannya ngerjainnya mepet, tapi sering karena perfeksionis, akhirnya ngumpulinnya mepet😀.

  2. Nur Ali Muchtar berkata:

    hahah, sepakat dengan bu ROS di atas.

    hebat yah pak Indonesia, bisa setoleran itu. terkadang saya suka bingung dengan Amerika. mereka yang gembar-gemborin kata demokrasi. tapi sepertinya, mereka sendiri yang suka ingkar dengan alat propagandanya itu. tapi yang namanya kezhaliman dan kebatilan, suatu saat nanti, pasti akan tumbang dibawah bendera kebenaran.😛

  3. Agung berkata:

    Sepakat, Pak. Sharing saja, ada buku sejarah Islam Indonesia yang belum lama terbit, judulnya “Api Sejarah”. Di dalamnya tersirat sejarah toleransi Islam seperti ini sejak dahulu kala. Kayanya cocok sekali untuk bacaan Pak Rin🙂

  4. kompilatormalam berkata:

    Isra’ mi’raj ketinggalan Pak😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s