Mau Nonton Film “BCIA”, tapi Sudah Tidak Beredar di Bioskop

Maksud hati hendak menonton film Bahwa Cinta Itu Ada (BCIA), tapi apa daya sudah tidak beredar di bioskop.

Saya termasuk yang terlambat dalam banyak hal, termasuk soal film. Beberapa waktu yang lalu ini saya mendengar diluncurkannya film yang mengambil setting kampus ITB. Judulnya Bahwa Cinta Itu Ada (Gading-Gading Ganesha). Film ini diangkat dari novel Gading-Gading Ganesha yang ditulis oleh Dermawan Wibisono yang juga alumnus ITB dan sekarang menjadi dosen di SBM-ITB. Film BCIA diproduksi oleh para alumnus ITB yang tergabung dalam Ganesha Creative Industry Group.

Setahu saya baru ada 3 film Indonesia yang mengambil setting kampus ITB. Yang pertama berjudul Gema Kampus 66. Film yang dibintangi oleh Nurul Arifin, Didi Petet, dkk ini bercerita tentang perjuangan aktivis kampus pada tahun 1966 (masa-masa revolusi penumbangan rezim orde lama), Namun, idealisme mereka satu persatu berubah setelah mereka sukses dalam karir dan menjadi kaya raya. Saya pernah nonton film ini pada tahun 90-an, dulu… di LFM lagi (hi..hi..hi, ketahuan saya ini simpatisan LFM). Film bagus menurut saya, cuma sayang film ini tidak terlalu laris, mungkin karena ceritanya agak idealis.

Film kedua yang mengambil setting ITB adalah Jomblo, yang bersumber dari novel berjudul sama pada awal tahun 2000-an. Dari judulnya terkesan gaul dan memang kisahnya tentang mahasiswa masa kini lengkap dengan kisah cinta khas mahasiswa. Nah, kalau yang ini saya tidak pernah menontonnya. Waktu itu saya pernah melihat sekilas shooting film ini di jalan utama kampus. Saat itu saya juga mendengar ada suara-suara keberatan dari Keluarga Mahasiswa ITB tentang pengambilan shooting film Jomblo di dalam kampus, mungkin karena judul filmnya agak gimana gitu, sehingga memberi kesan sepele tentang kampus ITB sebagai perguruan sains dan teknologi. Ealaah…., apa hubungannya ya?

Nah, film ketiga adalah BCIA yang saya sebutkan di atas. Film ini bercerita tentang enam anak muda berasal dari daerah berbeda yang berjuang keras saat kuliah di ITB tahun 80-an. Keenam anak tersebut adalah Slamet dari Trenggalek (Ariyo Wahab), Poltak dari Pematang Siantar (Restu sinaga), Ria dari Padang (Eva Asmarani), Benny dari Jakarta (Rizky Hanggono), Gun Gun dari Ciamis (Denis Adiswara) dan Fuad dari Surabaya (Alex Abad). Mereka digambarkan sebagai karakter mahasiswa ITB yang selalu bersama dengan menjunjung tinggi idealisme. Tak lupa ada konflik percintaan ala anak kampus yang turut mewarnai kisah ini (sumber dari sini). Biarpun nggak sempat menonton filmnya, lumayan ada trailernya di YouTube:

Karena kesibukan menjelang “sidang”, saya tidak sempat melihat film BCIA di bioskop. Memang sih ada tawaran gratis nonton bareng alumni ITB di BIP, tetapi waktunya tidak cocok dengan jadwal saya. Dua minggu lalu saya melihat iklan film ini setiap hari di koran PR, lalu berancang-ancang mau menyempatkan diri untuk menonton pada hari ini atau hari itu (namun tidak kesampaian juga). Nah, sekarang saya ada waktu buat menontonnya, eh ternyata sudah tidak beredar lagi di bioskop kota Bandung. Ya udah tunggu DVD nya saja nanti (di situs Rileks ITB sudah ada pa belum film ini?)

Berarti masa edar film BCIA ini singkat sekali, tidak sampai 2 minggu (mungkin hanya 1 minggu plus beberapa hari). Dengar-dengar film ini kurang laku, penontonnya sedikit, sehingga pemilik bioskop tidak berlama-lama memasangnya (takut merugi). Mungkin target penontonnya alumni ITB yang jumlahnya puluhan ribu, tapi saya kurang yakin sebagian besar alumni ITB menonton film ini. Bahkan mahasiswa ITB juga saya lihat kurang berminat menontonnya, nggak tahu kenapa. Padahal kalau ada film-film bagus, mereka rajin menuliskannya di dalam blog tuh. Sayang juga ya, padahal saya dengar biaya produksi film ini Rp 6 milyar. Balik modal nggak ya?

Hmmm… kapan ya membuat film dengan setting kampus ITB, tetapi ceritanya tidak melulu soal cinta (apa benar ya kisah cinta mahasiswa ITB digambarkan seperti di dalam trailer film itu?). Bukan karena anak ITB tidak punya waktu soal cinta atau pacaran lantaran sibuk kuliah (itu duluuu, sekarang mah anak ITB gaya), tapi coba bikin film dengan tema berbeda. Misalnya, bagaimana membuat film yang bercerita tentang penemuan teknologi oleh insan kampus yang menimbulkan kehebohan, lalu ada intrik-intrik dan aksi kejar-kejaran seperti film laga. Yah, semacam film science fiction lah, seperti Beautiful Mind atau film yang bercerita tentang mahasiswa Harvard University. Mimpi kali yee….

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

13 Balasan ke Mau Nonton Film “BCIA”, tapi Sudah Tidak Beredar di Bioskop

  1. dhimasln berkata:

    aye juga belom nonton, Pak. sibuk mempersiapkan sidang (*boong banget. padahal masih lama:mrgreen: ) . nunggu keluar di rileks aja kaliya😛

    hmm,, kalo soal film Jomblo, itu sempet diprotes. karena IMHO isinya kurang memperhatikan masalah moral. yah,, bisa dibilang film yang sedikit vulgar gt, karena novelnya juga agak2 gimanaa gitu ya.

  2. rosa berkata:

    Mmmmm, sekarang apa yang dijual seringnya memang harus memperhatikan selera pasar Pak agar minimal balik modal. Mo gimana lagi itulah bisnis dimana pasar sangat penting.

  3. Zakka berkata:

    Ada pak satu film lagi yang mengambil setting di ITB, yaitu Cin(T)a

  4. Nur Ali Muchtar berkata:

    wah, keliatan nieh idealismenya pak Rinaldi dari kata-kata ini:

    “membuat film yang bercerita tentang penemuan teknologi oleh insan kampus yang menimbulkan kehebohan, lalu ada intrik-intrik dan aksi kejar-kejaran seperti film laga. Yah, semacam film science fiction lah, seperti Beautiful Mind atau film yang bercerita tentang mahasiswa Harvard University”

  5. Nur Ali Muchtar berkata:

    btw pak Rin, tulisan-tulisan seputar IT kok jarang ditampilin di blog ini ya pak? kalo ada, saya pasti sangat senang sekali membacanya. tulisan-tulisan bapak itu asyik sekali kalo dibaca. hehe😛

    • rinaldimunir berkata:

      Kalau menampilkan tulisan tentang informatika (saya lebih senang menyebutnya begitu, kalau IT itu terlalu luas dan definisinya belum baku), nanti blog ini jadi garing. Maksud saya menulis di blog ini adalah untuk tulisan yang bersifat feature dan humanis. Tunggu deh, nanti dalam beberapa bulan lagi saya akan membuat blog yang isinya khusus tentang bidang saya.

  6. Mantoel Toeink berkata:

    Kalau saya, jujur aja sih pas liat posternya juga film BCIA ini agak kurang berhasil memikat (org mudah terpikat dgn sesuatu yg sifatnya visual, kalo film ya awalnya dari posternya😀 :D). Kalau–misalnya–disandingkan dengan poster Laskar Pelangi atau Merantau, ketilep lah poster film BCIA ini.

    Faktor lain: orang bosan dengan film yg temanya kalo gak horor (semi-b*kep seringnya) ya drama percintaan.

    Hehe.

  7. ray rizaldy berkata:

    wah, ternyata Pak Rin sadar rileks juga ya? hehehe,
    daku baru baca review bukunya pak. gak terlalu suka, jadi agak males untuk nonton filmnya.😀

  8. Kang Jodhi berkata:

    saya juga tidak menonton film ini, mungkin karena saya tidak satu generasi dengan sutradara atau penulis cerita film ini. jadi secara ada generation gap begitu. kalau baca resensi rasanya kok ada kesan menggurui begitu.

    saya dulu menonton film jomblo karena film ini mewakili merepresentasikan kelucuan gaya Bandung dengan baik sekali. Apalagi penulis ceritanya angkatan 96, jadi saya mudah mengerti apa yang hendak dia tuturkan :p

  9. anggriawan berkata:

    Filmnya jelek, Pak. Kalau ada pembaca novelnya yg bilang novelnya itu biasa-biasa saja, nah.. novelnya itu sbny jauuuh lebih baik dari filmnya.

    Mendingan nonton “3 Idiots”, Pak. Recommended.🙂

  10. Byaryoga berkata:

    Wadududuh. Bagaimana kalau perihal R***ks disensor saja?🙂

    Saya juga mendukung agar Bapak menonton “3 Idiots”. Film India, tapi hampir tipikal ITB. Keyword: Institut teknik terkemuka, idealisme pendidikan, mahasiswa rantau. Joget a-la Bollywood sudah direduksi hingga minimum.

    Tidak harus nonton sendirian (di meja?), kalau tidak salah di bioskop masih ada.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s