Jalan untuk Panggung (“Nasib” Gedung Sate)

Setiap hari saya melewati jalan di depan Gedung Sate yang anggun itu. Jalan Diponegoro namanya. Namun, seringkali pengguna jalan seperti saya harus menahan kesal karena jalan itu ditutup karena ada panggung hiburan. Seperti tadi siang, entah mau bikin acara apa lagi nanti malam. Sebuah panggung besar sudah berdiri megah di tengah jalan.

Hanya di Bandung sebuah jalan utama harus sering ditutup untuk kegiatan hiburan. Siapa sih pemilik jalan itu sehingga bisa di-booking pengusaha untuk mendirikan panggung hiburan? Benar-benar mengganggu hak pengguna jalan😦.

Akibatnya jelas, lalu lintas terpaksa dialihkan ke jalan di samping Gasibu (Jalan Sentot Alibasya), lalu pengendara yang hendak ke Dago terpaksa memutar ke arah jalan layang.

Kemacetan parah pun tidak terbendung karena jalan itu menjadi leher botol (bottolneck) yang menampung aliran kendaraan yang dialihkan.

Hampir setiap minggu selalu saja ada acara hiburan yang menggunakan jalan di depan Gedung Sate. Stasiun televisi yang paling sering membuat panggung di depan Gedung Sate setiap kali mereka membuat pentas live dari Bandung. Tanya kenapa. Setelah dipikir-pikir, rupanya alasan favorit membuat panggung di jalan depan Gedung Sate (atau di lapangan Gasibu yang berada di depannya) adalah karena lansekap yang diciptakannya. Jika panggung hiburan disorot dari depan maka terlihatlah latar belakang berupa Gedung Sate dengan cahaya lampu yang menawan.

Yah, itulah “nasib” Gedung Sate, kecantikan gedung ini menjadi rebutan banyak orang untuk beraksi di depannya, termasuk para pedagang kaki lima yang mengadu nasib di kawasan ini setiap hari Minggu pagi dengan membuat pasar dadakan.


(kalau gambar yang ini diambil dari sini)

I love Bandung…. 🙂

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

5 Balasan ke Jalan untuk Panggung (“Nasib” Gedung Sate)

  1. Agust Andy berkata:

    Tiap hari Minggu jg ‘ditutup’ kan jalan itu?

  2. rosa berkata:

    I Love Bandung too Pak😀. Makanya gak balik kampung malah ngendon di Bandung. KTP juga udah KBB (Kabupaten Bandung Barat)😀.

  3. sunni berkata:

    yah, daripada untuk kuburan…
    kalau saya masih love jogja, yang belum macet…🙂

  4. iin berkata:

    iya pak, walaupun kadang terasa begitu semrawut, tp tetep cinta deh sama bandung tersayang🙂

  5. itulah uniknya Bandung. Demi komersialisasi, apapun bisa dilakukan, mulai dari mengubah fungsi jalan jadi panggung atau arena pameran, trotoar jadi
    parkir tetap restorant, dan sebagainya.

    Jadi, kalau kita anggap KAKI LIMA salah karena menggunakan lahan umum (trotoar) menjadi tempat jualan mereka, apakah pihak yang mengijinkan alih fungsi trotoar jadi tempat parkir tidak LEBIH SALAH LAGI???

    Memang ajaib kota ini………..

    Kita hanya bisa berdoa dan mengusap dada…..
    Berharap semoga segera diberikan pemimpin baru yang lebih AMANAH dan berpihak kepada warga kota nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s