Gayus oh Gayus

Nama siapa yang paling populer saat ini? Tentu saja Gayus, atau lengkapnya Gayus Halomoan Tambunan. Dia populer bukan karena dia bagian dari kaum pesohor, tetapi karena perbuatannya yang mencengangkan. Bayangkan, seorang Gayus yang “hanya” PNS Golongan III-A tetapi mempunyai tabungan sebesar Rp 25 M. Gaji golongan IIIA (sudah termasuk segala tunjangan) di Direktorat Pajak adalah Rp 12,5 juta per bulan, bandingkan dengan gaji dosen PNS golongan IIIA di Perguruan Tinggi Negeri yang tidak sampai Rp 3 juta per bulan, itu sudah termasuk segala macam tunjangan. Jika ditambah dengan honor renumerasi lainnya maka total bisa mencapai hingga Rp 4 juta per bulan.

Baiklah, kata orang gaji boleh kecil tetapi lihat THP (take home pay) nya dong. Yang dimaksud dengan THP adalah penghasilan sampingan selain gaji PNS. Yang namanya PNS tentu tidak bisa hanya mengandalkan gaji PNS semata. Kebutuhan hidup makin lama makin tinggi, sementara gaji PNS kalah dengan kebutuhan hidup itu, oleh karena itu banyak PNS yang punya kreativitas mencari penghasilan sampingan. Ada yang buka usaha warung, toko, bengkel, jual beli pulsa, usaha warnet, rental play statsion (PS), menerima orderan skala kecil hingga besar, menjadi konsultan, menulis buku seperti saya, dan lain-lain. Bahkan, ada yang mampu mendirikan perusahaan namun bukan dia yang menjadi pejabat atau direkturnya (kalau ini dilarang) tetapi orang lain atau saudaranya. Sang PNS hanya berperan sebagai pemilik perusahaan, pemilik saham, atau orang yang bekerja di balik layar untuk mengendalikan perusahaan.

Selama usaha sampingan itu tidak mengganggu tugas utamanya sebagai PNS tentu tidak bisa dilarang. Selain itu yang paling penting adalah halal.

Lain halnya dengan Gayus. Usaha sampingannya itu euy… benar-benar ruarr biasa namun sayangnya…. haram. Karena bekerja di bagian komplain pajak, maka dia berhubungan dengan perusahaan-perusahaan yang ingin merekayasa pembayaran pajak. Perusahaan-perusahaan itu berkongkalingkong dengan Gayus supaya kewajiban pajaknya bisa seminimal mungkin (baca berita ini atau yang ini). Sebagai imbalan atas “jasa” Gayus, maka perusahaan-perusahaan itu memberi imbalan (yang tak lain “sogokan”) ke rekening Gayus. Tak tanggung-tanggung jumlahnya, ada 149 perusahaan yang memberi imbalan jasa kepada Gayus. Maka, tidak heran jika di dalam rekening Gayus ditemukan uang yang jumlahnya fantastis, 25 milyar bo!

Oh Gayus, untuk apa bagimu uang sebanyak itu? Tidak mengekalkan dan tidak membuat bahagia. Dibeli rumah banyak-banyak, tidak akan ditempati semua. Dibeli mobil banyak-banyak, tidak akan dipakai semua. Dibeli tanah berhektar-hektar, tidak banyak gunanya, hanya perlu ukuran 2 x 1 meter persegi saja untuk tempat beristirahat abadi nanti.

Hidup tidak akan bahagia dan tidak tenang karena mempunyai uang haram. Ada rasa bersalah (kalau masih punya nurani) di dalam hati. Kalau mau lari karena dikejar-kejar oleh aparat hukum, mau lari kemana lagi di planet bumi yang sempit ini. Ke ujung dunia akan terus dikejar, baik oleh aparat hukum maupun dikejar oleh rasa berdosa. Tidak ada tempat untuk bersembunyi, baik itu di Singapura atau di negara yang tidak punya perjanjian ekstradisi sekalipun. Jika pun lolos dari kejaran aparat di dunia, nanti tidak akan lolos dari kejaran malaikat di akhirat. Hukum Tuhan pun siap menanti.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Gayus oh Gayus

  1. rosa berkata:

    Saya tidak percaya orang pajak Pak. Ada teman dari STAN bercerita bahwa orang alim pun kalo kerja di pajak bisa jadi tidak alim, banyak amplopan, dan pernak-perniknya. Makanya jadi males bayar pajak, rasanya seperti “palakan” orang pajak aja. Orang pajak banyak yang tidak amanah.

  2. ismailsunni berkata:

    gayus tiba-tiba jadi tokoh yang mempopulerkan STAN…. banyak ibu2 menyarankan anaknya masuk STAN…

  3. Nur Ali Muchtar berkata:

    saya jadi malu pak atas kejadian gayus. sama-sama orang priok en sama-sama satu SMA lagi. mudah-mudahan saya dan kita semua senantiasa dilindungi oleh Allah agar ga ngerjain yang kayak-kayak gayus itu. amin

  4. Catra berkata:

    Hmm… sepertinya saya sedikit menyesal pak. Menyesal tak mengantongi kelulusan STAN kemarin.:mrgreen:

    • rinaldimunir berkata:

      Mau jadi Gayus kedua ya? Moralitas tidak ditentukan dimana kita sekolah, mau kuliah di ITB juga bisa korupsi. Hayo coba hitung sudah berapa banyak pejabat yang alumni ITB tersandung masalah korupsi? Sudah banyak. Itulah gunanya meningkatkan kadar keimanan dengan shalat yang benar. Kalau sudah benar shalatnya (memahami bacaannya) maka nggak mungkin akan korupsi. Lha shalat itu dapat mencegah berbuat kemungkaran. Jika orang yang sering shalat masih juga korupsi dan maksiat, berarti shalatnya belum benar.

  5. surya berkata:

    Kalau dulu gayanyo gayus itu berkedok menolong dan hampir semuanya setuju. Itu benar. Kini ndak lai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s