Kembali ke Sawah

Kalau soal jalan-jalan, saya sering membawa anak lebih dekat dengan alam sekitar. Ketimbang ke mal dengan mainan yang menjauhkan anak dengan lingkungannya, lebih baik saya membawa mereka ke alam. Seperti hari Sabtu kemarin, saya membawa mereka menyusuri sawah.

Masih ada sawah di kota Bandung. Itu tidak mengherankan, terutama di pinggiran kota. Namun sawah dekat pusat kota terbilang langka. Rumah saya berada di daerah pemukiman Antapani, hanya 4 km dari Gedung Sate. Dulu daerah ini adalah pesawahan yang luas, tetapi sejak dibangun perumnas di sana maka lambat laun sawah-sawah itu bertukar rupa menjadi real estat. Harga tanah di sini sudah mahal, sudah di atas Rp 2 juta – Rp 4 juta/m2.

Nah, ada satu pesawahan yang lokasinya sangat strategis, yaitu di mulut masuk kawasan pemukiman, tepatnya di pertigaan jalan Terusan Jakarta dan Jalan Purwakarta Raya. Sejak saya bermukim di sini hingga sekarang pemiliknya tetap mempertahankan sawah ini. Dia belum tergiur dengan tawaran pengembang real estat yang siap membeli tanahnya untuk dijadikan kompleks rumah mewah. Padahal kalau dia mau, pasti harga tanahnya itu sudah super mahal karena lokasinya yang memang sangat bagus.

Bagi orang Antapani sawah ini adalah hiburan cuci mata ketika berangkat kerja karena setiap keluar kawasan pasti melewati sawah ini. Di sela-sela kemacetan pada pagi hari ketika keluar kompleks maka mata dihibur dengan para petani yang tekun mencangkul, bajak yang ditarik kerbau, petani yang menyemai dan menanam bibit. Dengan berjalannya waktu padi-padi itu tumbuh subur, menghijau, dan menguning. Dari jauh kelihatan laksana permadani. Ingatan melayang ke alam desa, karena melihat sawah dan padi menguning memang menumbuhkan romantisme dengan alam pedesaan.

Ketika padi sudah menguning maka buruh-buruh tani pun datang untuk memanen. Mereka datang dengan anak-anaknya dari kampung, tidur dan memasak di pondok-pondok di tengah sawah.

Petani adalah orang yang berjasa memberi makan penduduk Indonesia. Tanpa beras maka orang Indonesia akan kelaparan. Beras yang enak tetaplah beras lokal karena dia diairi dengan air bumi pertiwi. Petani merawat padi dengan cinta kasih. Bulir-bulir gabah hasi panen dikumpulkan dan kemudian dijemur untuk mengurangi kadar airnya.

Si bungsu terkagum-kagum dengan tumpukan gabah. Ia mengira gabah itu seperti mainan pasir yang bisa diaduk-aduk.

Gabah ini masih perlu ditumbuk lagi untuk mengeluarkan berasnya. Beras inilah yang dimasak menjadi nasi hingga berada di dalam piring tempat makan. Perjalanan dari bibit padi hingga menjadi nasi adalah sebuah cerita jerih payah petani yang sangat dalam nilai-nilai filosofisnya. Karena itu, marilah kita berterima kasih kepada para petani.

Padi sudah dipanen. Yang tersisa adalah bonggol batangnya yang kemudian lapuk menjadi pupuk organik. Tidak berapa lama lagi datanglah penggembala bebek dari daerah Subang guna mencari sisa-sisa padi sebagai makanan bebek. Bebek-bebek mencari makan di sawah, lalu bertelur. Setelah bebek pergi, sawah siap diolah lagi dengan menanam sayur mayur sebagai tananam sela sebelum awal msuim menamam padi dimulai beberapa bulan lagi.

Dari kejauhan terlihat benteng perumahan real estat. Entah berapa lama lagi sawah ini akan bertahan, entah berapa lama lagi pemandangan alam desa ini dapat dilihat. Apakah gemerincing uang lebih merdu daripada segenggam beras yang sarat dengan falsafah kehidupan?

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

3 Balasan ke Kembali ke Sawah

  1. Andik Taufiq berkata:

    Jangankan persawahan, tanah lapang untuk bermain bola (gratis) saja sekarang sudah sangat jarang ditemui di kota besar seperti Bandung. Kadang sempat mengenang masa-masa kecil saya dulu, saat masih banyak lahan kosong di kampung untuk dimanfaatkan sebagai sarana bermain, sekaligus sebagai ajang tempat pembelajaran sosialisasi yang mungkin sangat sulit didapatkan oleh anak-anak yang hidup di masa sekarang. Saat itu sepengetahuan saya, rasanya sangat tidak lazim ketika melihat satu dua anak jalanan / gelandangan. Padahal sekarang sepertinya kehidupan anak jalanan sudah menjadi pemandangan yang tidak aneh ketika melintasi perempatan perkotaan. Mungkin karena zaman dulu untuk menghasilkan suatu permainan hanya membutuhkan kreatifitas, sementara sekarang fungsinya sudah tergantikan dengan uang. Miris memang jika berpikir jauh ke depan, kira-kira apa yang bakal terjadi dengan bangsa ini jika “budaya” seperti ini terus berlanjut. Bagaimanapun juga, generasi yang lebih muda pasti akan menggantikan generasi sebelumnya. Jika penggantinya bermental individualis materialistis dan tidak berwawasan lingkungan, apakah yang akan terjadi selain kehancuran?

    Terima kasih Pak Rin, artikelnya sangat inspiratif, saya benar-benar miris melihat kondisi anak-anak muda zaman sekarang.

  2. Brahmasta berkata:

    Saya punya pengalaman melihat sawah-sawah digusur Pak. Di Pekayon, Bekasi. Waktu baru pertama rumah dibangun tahun 1995, sekitar rumah saya itu masih sawah semua. Sekarang sudah jadi mall.
    Di Bali juga begitu, dulu sekitar rumah orangtua saya itu sawah, sekarang udah beralih menjadi ruko dan perumahan.
    Menurut saya itu nggak bisa dihindari dengan penduduk yang semakin banyak dan ekspansi kota. Seharusnya sawah juga bergeser, ke tempat yang tadinya bukan sawah menjadi sawah, sehingga jumlah lahan sawah tidak berkurang.

  3. Baskoro berkata:

    sawah memang enak buat tempat memanjakan mata, memandang hamparan hijaunya ketika masih baru di tanam, ketika tumbah dan ketika akan dipanen, berubah menjadi kuning, pagi hari, ketika tertimpa sinar mentari, tampak kuning keemasan…

    rindu dengan kabut pagi hari di tengah hamparan sawah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s