Ini Tragedi!

Apa kata yang tepat untuk menggambarkan perbuatan plagiasi makalah yang dilakukan oleh lulusan S3 ITB bernama Mochamad Zuliansyah (MZ)? Tragedi! Ya, ini adalah tragedi buat ITB, sebuah tragedi yang patut diratapi. Apa yang dilakukan oleh MZ telah mencoreng dan menghancurkan kerja susah payah yang dibangun oleh tradisi ITB selama puluhan tahun sebagai perguruan tinggi yang menjunjung tinggi integritas, baik integritas keilmuan maupun integritas moral.

MZ benar-benar keterlaluan. Parah, parah banget nih anak, perbuatannya benar-benar vulgar. Bayangkan, dia menyalin mentah-mentah 99,9% makalah orang lain, persis sama kata per kata hingga titik komanya. Dia hanya mengganti sedikit kalimat judul, namun ia mengganti semua referensi yang tertera di dalam daftar pustaka. Dia sama sekali tidak menyebutkan sumber makalah asli yang diconteknya. Parahnya lagi, dia mengaku ini sebagai keteledoran dalam melakukan content mixing dengan referensi. Dalam Bahasa Indonesia keteledoran artinya lalai karena faktor ketidaksengajaan, namun dapatkah tindakannya itu disebut teledor jika seluruh isi makalah sama persis dengan makalah orang lain? Artinya MZ melakukan itu semua dalam keadaan sadar. Tambah parah lagi ketika para alumni ITB melaporkan bahwa mereka telah menemukan 2 makalah lain milik MZ yang telah dimuat di sebuah jurnal di Universitas Indonesia dan Universitas Kristen Petra. Kedua makalah itu ternyata diambil dari makalah dan tesis orang lain di luar negeri. Jangan-jangan masih ada makalahnya yang lain yang juga diplagiasi. Ada indikasi disertasi S3 nya terkait dengan makalah yang ia palsukan itu. Dimana rasa malu ditaruh ya?

Perasaan geram, sedih, marah, dan gemas melanda civitas academica ITB dan para alumninya yang tersebar di seluruh dunia. Hingga saat ini diskusi di milis-milis masih ramai membicarakan tragedi yang memalukan itu. Saling salah menyalahkan mewarnai isi milis. Siapa yang salah? Apakah hanya MZ yang salah? Apakah pembimbingnya harus dipersalahkan? Apakah sistem di ITB yang salah? Apa moral dari cerita ini? Hikmah apa yang dapat diperoleh dari kasus ini?

MZ sendiri di dalam email yang ia tulis ke seorang kolega dosen STEI sudah mengakui kesalahannya ini sangat fatal, dan itu harus ia tangung baik di dunia sampai akhirat. Bahkan ia mengatakan ketika kasus ini terungkap dia merasa sudah tidak ada lagi tempat buat dirinya di dunia ini. Dimanakah muka mau disurukkan?

Tidak ada guna meratapi kasus ini terlalu lama. ITB memang tidak hancur oleh perbuatan MZ, tetapi citra ITB telah dipertaruhkan di mata komunitas ilmiah internasional. Khususnya di IEEE, sebagai kelompok ilmuwan elektronik yang sangat prestisius. FYI (for your information), bila seorang akademisi berhasil menempatkan makalahnya di jurnal-jurnal IEEE, maka biasanya karir akademisnya akan cemerlang sebab dia telah masuk ke jajaran ilmuwan berskala internasional (huhuhu… saya sendiri belum berhasil menembus jurnal internasional apalagi di IEEE, sering ditolak, mungkin saya belum pantas menjadi ilmuwan berskala dunia kali :-()

Alumni ITB bolehlah sedikit bernafas lega setelah mengetahui MZ bukan alumni S1 ITB. Dia adalah alumni sebuah sekolah tinggi teknik di daerah Bandung selatan sana. Tetapi dia S2 dan S3 di ITB, maka dia alumni ITB juga, bukan? Baiklah, tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah bagaimana menegakkan kejujuran bagi generasi muda di kampus ini. Bagi kami sendiri di ITB tidak pernah bosan-bosannya menyerukan pentingnya kejujuran dalam akademik. Saya pribadi sudah sering menghimbau kepada mahasiswa agar jangan melakukan kecurangan dalam akademik. Kalau mengutip sesuatu di dalam tulisan harus disebutkan sumbernya, kalau mengambil program orang lain harus disebutkan darimana. Nyontek dalam ujian atau dalam membuat tugas adalah perbuatan curang. Melakukan kecurangan dalam akademik adalah tindakan yang tercela. Kalau dalam kuliah saja tidak jujur, bagaimana dengan kehidupan di masyarakat nanti?

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

17 Balasan ke Ini Tragedi!

  1. dhimasln berkata:

    MZ,, sungguh terrrlalluuu [bang haji rhoma mode ON]

  2. Zalfany berkata:

    Pak Rin, sejauh pengetahuan saya, paper itu bukan diterbitkan di jurnal IEEE.

    Paper yang menghebohkan itu dipresentasikan di suatu conference di China (IEEE sponsored conference), sehingga ketika masuk ke proceeding, maka ikut di-index dan dimasukkan dalam database IEEE Xplore.

    • rinaldimunir berkata:

      Memang betul tidak diterbitkan di jurnal IEEE. Saya hanya mengatakan bahwa jurnal IEEE adalah jurnal impian bagi ilmuwan di bidang elektro dan informatika. Reviewer-nya betul-betul nomor wahid, makalah yang lulus di jurnal itu sudah teruji kevalidannya.

      • Udin berkata:

        Ko makalah jiplakan gitu bisa lolos conference itu? Apa kerjaan reviewer nomor wahid itu? Masa ga bisa menemukan kalo makalah itu jiplakan, kenapa bisa lolos? Jebakankah?!

      • Zalfany berkata:

        Eh iya, memang Pak Rin tidak menyebut papernya diterbitkan di jurnal ya. Saya yang terlalu cepet bacanya kemarin.

        Paper2 di jurnal IEEE memang biasanya paper yang komprehensif dengan kontribusi signifikan dan proses review yang lamaaa🙂 Mudah2an hasil riset Pak Rin suatu saat bisa dipublikasikan di salah satu jurnal IEEE.

  3. Bayu berkata:

    Wah akhirnya nulis juga tentang kasus ini ya Pak. Sudah saya tunggu2 tulisan Pak Rin sejak kasus ini marak. Memang bikin gregetan ulah si MZ ini.
    Setelah membaca kedua makalah (punya MZ dan makalah dr penulis aslinya), saya setuju bahwa alasan dia terjadi keteledoran mixing content itu gak bisa diterima. Keliatan kalau dia melakukan plagiarism secara sengaja dan sadar. Saya cenderung setuju kalo ada hukuman berat buat dia. SUpaya tidak ada lagi plagiarism seperti ini di ITB. Di Univ saya di Swedia, hukuman untuk plagiat adalah penjara meskipun yg dicontek cuma tugas kuliah dan bukan paper untuk di publish secara internasional.
    Sekedar menjawab bbrp pertanyaan Udin. Pekerjaan reviewer nomor wahid itu setahu saya ya me-review paper apakah layak dimasukkan ato gak. Tapi ya se wahid2nya reviewer, gak mungkin tahu semua paper yg ada didunia ini, bahkan yg sesuai dengan bidangnya, kemungkinan kecil semuanya dia tau apalagi hafal (maklum namanya juga manusia). Ada software untuk ngecek plagiarism dan sepertinya saya yakin IEEE memakai software ini untuk mengetahui kecurangan MZ. Cuma ya bisa saja ada hal yg bikin lama untuk mengetahui makalah ini adalah jiplakan. Misalnya telat mengindex ke dalam software, dll.
    Meskipun demikian, kemungkinan jebakan bisa saja. Walaupun saya pribadi cenderung tidak yakin IEEE sengaja melakukan itu untuk menjatuhkan ITB. Soalnya ada 151 (CMIIW) kesalahan dalam publikasi yg diungkap IEEE (termasuk yg dilakukan MZ) dan cuma satu yg berafiliasi dengan ITB. Selain itu jg saya lihat gak ada untungnya IEEE melakukan itu.
    Terlepas itu jebakan atau bukan, mencontek atau plagiat itu seharusnya tidak boleh dilakukan.

  4. mama adi&ian berkata:

    bersyukur.. skrg sudah ada software yg bisa mendeteksi plagiarism dg cukup detil dan teliti.. jadi reviewer ‘kelas gurem’ pun bisa dengan mudah mengetahui apaah sebuah paper adalah hasil plagiasi atau bukan, dengan menggunakan software tsb.

  5. liesfr berkata:

    Sangat menyedihkan……..
    Tetapi setahu saya di jaman saya dulu, akhir th 90-an ‘dibikinkan’ skipsi marak dikalangan kampus di Bandung, bahkan para alumni sendiri yang menjual saja membikinkan skipsi….mungkin tidak separah mem-plagiat….tapi sebenarnya sama aja, sarjana sperti itu cuma mngejar gelarnya saja…..tapi entah kalau sekarang……..mudah2 an tidak lah ya……nice post. Salam Kenal.

  6. edratna berkata:

    Walau saya bukan alumni ITB, tapi suami dan anak saya alumni S1-S2 ITB
    Menyedihkan…atau memang kita harus introspeksi…

    Dari obrolan dengan teman (ini masih perlu penelitian dan pembuktian) , lebih mudah masuk S2 ITB dibanding S1 ITB. Dan ini juga berlaku untuk universitas unggulan lain, seperti UI, ITS, UGM dan lain-lain.

    Agar kapok, maka hukuman harus setimpal…agar nama ITB tidak rusak.

    • rinaldimunir berkata:

      Betul Bu, kualitas input untuk S2 di bawah kualitas input untuk S1. Seleksi S1 sangat ketat dan diikuti oleh ratusan ribu lulusan SMA seluruh Indonesia, sedangkan seleksi S2 untuk per program studi hanya diikuti oleh puluhan hingga ratusan orang saja. Input untuk S2 berasal dari lulusan S1 dengan latar belakang perguruan tinggi yang kualitasnya beraneka ragam. Jadi, jangan heran jika mutu S2 ITB malah di bawah mutu S1 nya.

  7. rosa berkata:

    Saya melihat anak S1 ITB yang tidak bisa masuk S2 ITB memang karena kurang persiapan, sepintar apapun kita semua harus dipersiapkan dengan baik, atau hanya akan menjadi arogan saja.
    Sebenarnya menyontek di Indonesia hampir menjadi seperti kultur saja. Banyak mahasiswa diluar ITB yang sudah tidak merasa bersalah ketika mereka menyontek, seperti halnya membajak software, jadi mereka banyak yang tidak merasa bersalah lagi. Padahal itu salah. Karena seringnya memang tidak ada sangsi yang jelas untuk tindakan ini.
    Menyontek sebenarnya diawali dari malas berusaha lalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkan, akhirnya orang-orang yang biasa menyontek akan biasa juga korupsi. Makanya korupsi banyak di Indonesia.
    Saya pernah mereset nilai mahasiswa saya padahal udah setelah UTS karena sebagian besar dari mereka menyontek. Agar mereka mengerti bagaimana jika kerja mereka tidak dihargai.
    Menyontek harus dihambat sejak dini di moral bangsa ini.

  8. Ping balik: Cikal Bakal Kultur Plagiat dan Korupsi yang Sudah Biasa di Indonesia « Muhammad Shalahuddin & Rosa Ariani Sukamto

  9. Andik Taufiq berkata:

    Memang sulit memperbaiki kultur yang sudah sangat kompleks busuknya dari bawah sampai atas. Jika dipikir juga jadi heran sendiri… rata2 kok rasanya biasa gitu ya, pdhl sudah menjiplak punya orang lain. Padahal kl saya pribadi, benar2 ga merasa nyaman dan tenang jika sampai mengakui sesuatu yg bukan karya pribadi saya. Karena memang dari dulu saya selalu berangapan bahwa karya yg saya buat itu bisa lebih baik drpd karya orang lain😀 . Jadi efeknya bisa terus belajar dan belajar. Mungkin inilah yg sekarang kurang ditanamkan ke orang2 Indonesia pada umumnya. Kurang mau merasakan proses dan pinginnya segera mendapat hasil yg instant. Padahal proses itu sangat indah jika kita bisa menikmati lika-likunya🙂 .

  10. arifrahmat berkata:

    Alumnus S1 Sekolah Tinggi Teknik di Bandung Selatan? Apa sekolah tinggi itu juga adalah tempat MZ menjadi dosen? Makin penasaran nih, Pak.

    OOT, blog Bapak juga secara otomatis di-aggregate di http://if99.net
    Kalau judulnya di-klik, pengunjung langsung mengarah ke blog aslinya.

  11. Aditya berkata:

    ITB boleh saja geram terhadap kasus plagiarisme skala besar ini. Namun, ITB tidak boleh tinggal diam terhadap plagiarisme-plagiarisme skala kecil yang dilakukan oleh mahasiswanya, seperti menyalin laporan praktikum, PR, menyontek saat ujian, dll. Sebab plagiarisme skala kecil inilah yang menjadi cikal-bakal plagiarisme skala besar. Caranya antara lain dosen dalam memberikan tugas/PR tidak memberi kesempatan untuk terjadinya contek-mencontek, seperti dengan soal yang bervariasi dsb. Juga dengan memberikan pendidikan moral bagi para mahasiswanya.

  12. okky berkata:

    mahasiswanya saja yang keterlaluan, karena setiap instruktur di ITB pasti sering mengingatkan mahasiswanya tentang integrity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s