Ketidakjujuran Massal di dalam Ujian Nasional (UN)

Ujian Nasional (UN) tingkat SMP dan SMA/SMK sudah lama berlalu, besok hari Selasa 4 Mei 2010 baru dimulai UN tingkat SD. Sebagai orangtua saya juga ikut deg-degan kalau mendengar UN, memang anak saya baru kelas 4 SD, tetapi 2 tahun lagi tidak terasa, bukan?

Meskipun UN SMP/SMA sudah berakhir, namun pelaksanaan UN ini masih meninggalkan banyak cerita. Pro kontra tentang dihapuskan atau dilestarikannya UN sudah mengemuka sejak tahun lalu, apalagi ketika MK memenangkan gugatan perkara siswa yang tidak lulus UN.

Pada mulanya saya agak kurang mengerti dengan alasan penolakan UN. Tujuan UN itu kan bagus yaitu untuk menghasilkan mutu standard pendidikan, begitu menurut saya dulu. Tapi, saya juga membaca berbagai alasan yang dikemukakan oleh pihak-pihak yang menentang UN, mulai dari alasan filosofis, teknis, hingga moralis. Nah, untuk yang terakhir ini saya mulai paham kenapa penentang UN mengajukan keberatan. Menurut mereka UN dituding sebagai wahana untuk menyuburkan praktek ketidakjujuran oleh siswa dan guru, karena para guru yang seharusnya memberikan contoh teladan malah menjerumuskan muridnya untuk berbuat curang dalam ujian.

Minggu lalu saya menerima kiriman email lewat milis dari seorang siswa SMP yang mengungkap kebobrokan pelaksanaan UN di sekolah tempat dia ujian. Si pengirim email yang mem-forward email tersebut menyamarkan nama siswa dan nama sekolah untuk menjaga keselamatan siswa itu. Berikut isi emailnya yang dikutip asli 100% tanpa diubah.

Saya A, murid kelas 9 di Sekolah X. Saya baru saja selesai mengikuti UN hari ini, saya melaksanakan UN di Sekolah Y. Insya Allah, saya melaksanakan UN dengan baik karena saya telah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Dan saya berharap semoga Allah memberikan yang terbaik pula untuk saya, agar saya lulus dangan nilai yang baik, Amiin.

Selama saya mengikuti UN di sekolah Y ada sesuatu yang membuat saya dan teman saya merasa geram, yaitu ulah para murid SMP itu yang berlaku curang dalam mengerjakan soal UN. Mereka mendapat kunci jawaban semua mata pelajaran UN, mereka mendapatkan kunci jawaban itu dari guru mereka sendiri. Hal itulah yang membuat saya menjadi semakin geram. Entah apa yang dipikirkan oleh guru mereka itu, sehingga memberikan kunci jawaban soal UN pada murid-muridnya. Dan bagi saya itu adalah ajaran moral yang sangat buruk dari seorang guru, karma seharusnya seorang guru itu mengarahkan murid-muridnya pada yang benar, bukan malah memberikan kesempatan pada muridnya untuk berlaku curang. Apa yang akan terjadi nanti pada anak-anak bangsa jika ada guru seperti itu yang tetap dibiarkan?

Pada hari-hari pelaksanaan UN itu, saya dan teman saya selalu melihat murid-murid SMP itu sibuk menuliskan kunci jawaban setiap pagi sebelum UN dimulai. Bahkan, dihari pertama UN, salah satu dari mereka sempat menawarkan kunci jawaban soal B.Indonesia pada teman saya, B. Tapi ketika B menolak
tawaran itu, dia malah mnjawab kalau kunci jawaban itu didapatkan dari guru mereka sendir, jadi tidak ada masalah. Jawaban itu sungguh membuat saya terheran-heran dan juga marah, tapi apa yang bisa saya lakukan?. Pada hari ketiga UN pun saya sempat ditawari kunci jawaban soal Matematika oleh salah satu dari mereka, tapi saya menolak dengan cara yang baik. Kemudian saya mencoba untuk menanyakan pada dia mengenai kunci jawaban itu dan saya mendapatkan jawaban yang sebelumnya tak terpikirkan oleh saya. Jawabnya, dia mendapatkan kunci jawaban itu dari guru dia sendiri, dan guru mereka berpesan, jika diantara mereka ada yang ketahuan mendapat kunci jawaban, mereka diminta untuk menjawab kalau mereka mendapatkan kunci jawaban itu dari sekolah lain, karna jika mereka menjawab kalau mereka mendapat kunci jawaban itu dari guru mereka sendiri, guru itu takut dipecat. Oh, sungguh jawaban yang membuat saya terkejut saat itu.

Banyak sekali cara mereka menyembunyikan kunci jawaban itu ketika UN berlangsung, diantaranya ada yang menuliskan kunci jawaban di sepotong kertas kecil, diatas papan jalar, diatas meja, didalam kaos kaki, dan masih banyak cara mereka yang lain.

Melihat semua itu membuat saya marah, bahkan membuat saya takut pada Allah karena saya tidak bisa melakukan apa-apa disaat saya menyaksikan itu semua. Tapi, kenapa mereka yang melakukan hal itu tidak punya rasa takut pada Allah?
dan kenapa guru mereka justru menjerumuskan mereka pada yang perbuatan yang salah?. Entah apa yang ada dipikiran mereka. Saya tidak suka melihat semua itu dan saya tidak terima jika mereka diluluskan, karena mereka menjawab soal UN itu dengan tidak jujur. Seharusnya mereka mengerjakan soa-soal itu sendiri dengan usaha dan kemampuan mereka sendiri, bukan dikerjakan dengan mengandalkan sebuah contekan kunci jawaban yang diberikan oleh guru mereka itu. Dan seharusnya mereka juga percaya dengan kemampuan mereka sendiri, kalaupun mereka tidak lulus, tapi setidaknya mereka telah jujur, karemna kujujuran lebih mahal dari segalanya. Saya dan teman saya pun begitu. Karena kita telah diajarkan oleh guru kita di sekolah kita untuk selalu jujur dalam segala hal. Dalam mengerjakan soal UN pun kita harus tetap jujur dan untuk selanjutnya kita tinggal bertawakal kepada
Allah dengan segala keputusan-Nya pada akhirnya. Karena apapun yang diberikan Allah pada kita, itu pasti yang terbaik untuk kita.

Saya berharap kasus ini ditangani dengan baik, karena saya tidak ingin kejadian ini kembali terulang ditahun-tahun selanjutnya. Apa yang akan terjadi di Indonesia jika semua itu dibiarkan saja? Dan bagaimana kualitas orang-orang di
Indonesia nanti jika itu tetap dibiarkan?.

~~~~~~~~~~~~~

Jadi, bagaimana? Apakah UN harus ditiadakan? Menurut saya tidak begitu, bukan UN nya yang dilibas, tetapi guru-gurunya yang berbuat keecurangan itu yang dilibas, termasuk siswa-siswa yang melakukan kecurangan juga perlu diberi hukuman, misalnya tidak lulus. Meskipun sulit membuktikannya, namun “mafia pendidikan” ini harus diberantas. Ini sudah menyangkut “moral hazard”, masih sekolah saja sudah biasa melakukan kecurangan, bagaimana nanti d tengah masyarakat?

Kalau peristiwa semacam ini terjadi di ITB, waahhhh…. sungguh berat hukumannya. Mahasiswa terancam dipecat dari kampus. Itu sudah terbukti pada para mahasiswa yang terlibat joki SNMPTN. Tidak ada kompromi buat kecurangan, baik dalam ujian maupun dalam pembuatan tugas. Berbuat curang dalam pengerjaan tugas saja sudah diberi hadiah “E” untuk mata kuliah tersebut, apalagi jika kecurangan yang lebih besar lagi. Keep honesty, please.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, Pendidikan. Tandai permalink.

10 Balasan ke Ketidakjujuran Massal di dalam Ujian Nasional (UN)

  1. Agust Andy berkata:

    Ada yang ‘lucu’ di berita yang menyangkut UN tahun ini. “Banyak siswa tidak lulus UN karena kunci jawaban palsu”, tulis berita itu. D’oh, segitu parahnya sampai menyalin kunci jawaban secara membabi-buta.

  2. rosa berkata:

    Di luaran menyontek itu sudah biasa Pak, saya sampai sekarang trauma memberi tugas di rumah, karena ternyata dari pengalaman sebelumnya hampir 100 % mahasiswa saya menyontek. Masalah UN, ada yang berkata, jika banyak siswa yang tidak lulus, guru-gurunya dimarahi. Jadi……., ya lingkaran setan Pak, mulai dari kualitas orang-orang yang menjadi guru, lalu moralitas orang-orang Indonesia. Berat Pak menjadi guru yang baik, yang amanah, kena terpaan angin sana sini. Sering kita sudah berusaha keras yang baik, masih saja dianggap jelek. Kadang saya sudah agak “desperado” jadi dosen. Fiuhhhhh………

  3. Angga berkata:

    izin komen ya pak…
    IMHO
    Kalau perkaranya UN sebagai standardisasi pendidikan, bukankah siswa pun memiliki track record berupa buku laporan yang bisa dijadikan pertimbangan?

    Lagipula sepertinya kemampuan menjawab soal UN yang dimiliki siswa tidak menunjukkan bahwa siswa memang mengerti materi2 yang dia pelajari. Terbukti dengan adanya mahasiswa yang lolos ke ITB (pertanda bahwa dia lulus UN+seleksi PTN) tapi tidak lulus TPB (pertanda bahwa dia tidak mengerti materi2 SMA yang diulang).

    Jadi dalam satu sisi, mungkin cukup rasional apabila sistem UN yang ada sekarang diganti dengan sesuatu yang meniadakan UN

    • ray rizaldy berkata:

      saya izin balas pak.
      mahasiswa ITB yang tidak lolos TPB tidak bisa begitu saja dijadikan tanda bahwa dia tidak mengerti materi2 SMA. Bisa saja saking mengertinya dia malas masuk kuliah. Bisa jadi juga akibat faktor2 psikologis.

      Kalau untuk menghasilkan standar mutu pendidikan, lebih baik kualitas fasilitas pendidikan dan pengajarnya dulu yang diperbaiki. lagi pula, untuk menghasilkan standar mutu tidak harus mengorbankan riwayat pendidikan para remaja itu bukan? CMIIW Pak🙂

  4. alyassar berkata:

    Apakah ini merupakan suatu ciri kemunafikan suatu bangsa? apakah hal ini yang membuat kita selalu terpuruk?Lantas bagaimana solusinya?

  5. Sari berkata:

    Mungkin akan lebih baik kalo proses pendidikannya di audit untuk memastikan standar pendidikan itu. Kalo prosesnya baik insyaallah keluarannya juga baik. Klo hasil akirnya saja yang dilihat apalagi berupa UN maka orang akan cenderung mencari segala cara agar nilai UNnya jadi lebih baik, bukan mencari cara agar proses pendidikannya menjadi lebih baik. Ditambah lagi dengan rendahnya moral para pelakunya akitnya ya bgitu deh… sibuk mencari contekan dan memberi contekan agar semua selamat…
    Mau jadi apa bangsa kita ini…hiks…

  6. dwi berkata:

    memang miris nasib bangsa kita…

  7. arifromdhoni berkata:

    Mungkin masalahnya pada kepercayaan diri dalam mengerjakan ujian. Siswa mencontek karena merasa kurang percaya diri bahwa dia bisa lulus. Klopun guru yg memberi contekan, itu masalah moral, etika, dan dosa. Seharusnya siswa diberi suntikan kepercayaan diri (misal:memperbanyak latihan soal,dll), bukan malah dibuat ragu.

    Tapi, mungkin jumlah mata pelajaran di sekolah terlalu banyak. Bandingkan saja dgn mahasiswa. Kurikulumnya mungkin seharusnya diubah shg siswa lebih pede dan siap menghadapi ujian.

  8. didin berkata:

    dampak sistemik dong ini ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s