Nonton (lagi) Pagelaran Seni Budaya Minang di Kampus

Minggu lalu saya menyempatkan diri menonton pageleran kesenian minang yang diadakan oleh Unit Kesenian Minang (UKM) ITB. Pada malam minggu yang cerah di kota Bandung, gedung Sabuga sudah penuh sesak dengan penonton yang rata-rata mahasiswa itu. Selain itu banyak juga alumni, orang-orangtua dan perantau minang yang hadir. Katanya 3 hari sebelum pertunjukan karcis sudah terjual sold out. Benar-benar tinggi ekspektasi dan apresiasi orang terhadap pertunjukan UKM ini. Saya pun datang dengan harapan yang besar: berharap pertunjukan seni yang bagus.

Karena setiap tahun saya selalu menonton pagelaran UKM ini, tentu saya bisa membandingkan kualitas pertunjukan dari tahun ke tahun. Menurut saya pertunjukan tahun ini indak talalu rancak, kurang bagus dibandingkan dengan tahun-tahun lalu. Agak kecewa juga sih. Teman saya yang saya ajak datang juga berkomentar yang sama. Entahlah bagi penonton yang lain atau bagi yang baru pertama kali menonton. Menurut pengamatan saya format pertunjukan selalu tidak pernah keluar dari pakem drama minang yang diselingi dengan musik, tari-tarian, dan randai. Tidak ada keberanian bagi anak-anak muda di UKM ITB untuk melakukan terobosan yang berbeda dengan menggelar pertunjukan yang unik dan khas setiap tahun. Kreativitas adalah kata kunci untuk pertunjukan seni.

Drama kali ini mengambil setting gempa bumi yang terjadi di Tiku, Pariaman, pada tahun 1920, seolah mengingatkan peristiwa gempa besar yang melanda Sumatera Barat pada tahun lalu. Seperti biasa, dalam alur cerita selalu ada kelompok hitam dan kelompok putih, lalu pertarungan antara kelompok hitam dan kelompok putih itu. Mudah ditebak, kelompok putih menang dan cerita pun berakhir happy ending. Beberapa tarian ditampilkan dalam alur cerita, tapi sayangnya tarian yang ditampilkan masih itu-itu saja, tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya (jadi kangen mau lihat tari klasik seperti tari payung, tari sapu tangan, dll🙂. Supaya drama tidak terlalu serius, maka di dalam cerita ada adegan lawakan (ota maota bagarah-garah) untuk memancing tawa penonton, cuma sayangnya lagi lawakannya garing dan cendrung slapstick (dibuat-buat). Membosankan memang, apalagi pemain yang melawak ini tampil berkali-kali sehingga diteriaki huuuu… oleh penonton.

Pertunjukan drama diakhiri dengan tari piring yang dramatis. Disebut dramatis karena diakhir tarian para penari pria menginjak-injak pecahan beling yang tajam sambil memecahkan piring yang ada di tangan. Eh, saya lihat salah seorang penari telapak kakinya terluka akibat menginjak pecahan piring itu.

Untunglah pertunjukan terbantu oleh penataan yang apik, busana yang menawan, musik yang hidup, dan penggunaan sarana multimedia untuk memberi kesan megah. Semoga tahun depan lebih bagus lagi ya.

Pos ini dipublikasikan di Cerita Minang di Rantau, Seputar ITB. Tandai permalink.

16 Balasan ke Nonton (lagi) Pagelaran Seni Budaya Minang di Kampus

  1. Reisha berkata:

    Akhirnya ditulis juga😀 Penilaiannya hampir sama kaya yang dibahas di intern UKM, hehe. Tapi katanya randai dan sileknya makin bagus ya Pak…

    • rinaldimunir berkata:

      Randainya biasa saja tuh Reisha, malah terlalu banyak dan terlalu lama. Kalau sileknya kok mirip tae kwondo tuh😀, dan kesannya adu jotosnya seperti beneran ya, tendangannya itu lho menghantam badan.

  2. alam berkata:

    Kalau saya cukup terhibur dengan silatnya pak, paling realistis dibanding sebelum-sebelumnya😀

    **tapi saya bukan pecinta kekerasan lho :p

    • reiSHA berkata:

      Setuju da Alam *walau cuma liat waktu latihan* Kalau diperhatikan dengan seksama, gerakannya sih sudah diatur sedemikian rupa. Keliatan beneran, tapi ga keras sebenarnya. *sok tau*:mrgreen:

  3. Sari berkata:

    waaah agak mengecewakan ya? hmm kalo konsep acaranya randai, drama dan tari kayanya ga berubah ya sejak Pagelaran UKM tahun 2000.

  4. tama berkata:

    mudah-mudahan tahun besok labih bagus ya pak…
    hehehe
    catatan juga buat panitia…
    biar kedepannya lebih bagus…
    tapi tahun depan tetap datang kan pak??
    ^^

  5. edo edwardo berkata:

    yak…bener pak…mungkin memenag harus keluar dari pakem yang sudah ada..dan kita blending dengan format yang lain…semoga UKM tetap jaya..MERDEKA!!!hahah

  6. Musa berkata:

    Insya Allah tahun depan UKM-ITB bakal tampil beda Pak.. ^^

    • rinaldimunir berkata:

      Belum pernah melihat Catra ikut menari, randai, atau main musik. Tahun depan kamu harus ikut tampil, tahun depan adalah tahun terakhirmu di UKM, bukan?

      • Catra berkata:

        pengen sih pak, nampil. tapi, ntar bikin penonton jadi makin gemes liat saya tak sehebat teman2 saya.:mrgreen:

        pak, ide bapak untuk pagelaran dari bapak bagus juga tuh pak. untuk keluar dari pakem yang ada. Tahun besok mungkin bapak aja diskusi panitia materi nya pak. biar lebih maknyusss haha

        terlepas dari kekurangan yang ada Saya bangga pak,UKM termasuk unit yang aktif dan mempunyai SDM yang banyak dibandingkan unit kedaerahan lain.hehe

        Oya pak, jangan kapok membina kami dan Jangan kapok nonton lagi ya pak? 🙂🙂

  7. bitu berkata:

    kalo yg menang dari golongan hitam buliah juo mah pak,,lebih “galinggaman” penonton d bueknyo,,
    hehe:mrgreen:

    • reiSHA berkata:

      Masih sama donk formatnya dengan tahun2 sebelumnya kalau mikirnya cuma mengubah ending drama? Rombak total donk. Seperti kata uni Sari di atas, udah 10 tahun lho formatnya kaya gitu2 aja…

      Setuju sama Pak Rin, ditagih janji yang ditulis Dede a.k.a Musa di atas B-)

  8. aduh.. di jakarta udah susah kalo pengen liat pagelaran budaya gitu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s