Suara-Suara Menyayat Hati Dikala Malam Diguyur Deras Hujan

Semalam hujan turun deras membasahi kota Bandung. Langit seperti menumpahkan beban berat yang dikandungnya sejak sore hari. Dikala malam dan hujan turun dengan deras, maka rumah adalah tempat yang nyaman untuk menghabiskan malam bersama keluarga.

Tiba-tiba dari luar rumah ada suara yang menyayat hati. “Bubuuur…., bubur ayam”, begitu teriakan dari luar rumah. “Bubuuur…, bubur ayam”, suara itu berulang kembali. Oh, itu suara pedagang bubur ayam yang sedang berkeliling mendorong gerobaknya ditengah deru hujan yang deras begini. Aneh, pikir saya, mana ada pedagang bubur ayam yang jualan malam-malam? Di Bandung pedagang bubur ayam umumnya berjualan pada pagi hari. Kalau pun ada yang berjualan pada malam hari, itu adalah pedagang yang mangkal di suatu tempat, bukan pedagang yang berkeliling dari rumah ke rumah.

Suara bapak pedagang bubur ayam itu sungguh memelas hati. Pilu. Pada saat orang-orang berkumpul di rumah dengan keluarga, apalagi saat hujan begini, dia tetap menembus hujan deras untuk menjajakan bubur ayamnya. Mungkin dia sangat memerlukan uang sehingga dia terpaksa berjualan bubur ayam di malam hari. Terbayang oleh saya mungkin anak istrinya menunggu di rumah, menunggu dengan harap-harap cemas apakah bapaknya berhasil membawa pulang uang ke rumah. Uang yang mungkin diperlukan untuk membeli obat anaknya yang sakit, atau untuk membayar SPP anaknya yang sudah nunggak beberapa bulan sehingga tidak boleh ujian, atau untuk membayar kontrakan rumah yang sudah ditagih berulang-ulang oleh pemiliknya? Apakah ada orang yang membeli bubur ayamnya pada saat hujan deras begini? Keluar rumah saja orang sudah malas, apalagi hendak membeli bubur ayam.

Tidak terasa mata saya sembab membayangkan si bapak pedagang bubur ayam itu. Suaranya tadi sangat menyayat hati. Saya tergugah hendak membeli bubur ayamnya, mungkin satu mangkok, satu mangkok saja yang harganya hanya Rp 3000 itu mungkin sangat berarti bagi dia. Tapi lamunan panjang saya sia-sia, si bapak itu sudah pergi jauh dan tidak terdengar lagi suaranya. Saya gagal membeli bubur ayamnya, gagal membantu — meskipun hanya semangkok — sedikit kesusahan hidupnya.

~~~~~~~~~~~

Ada banyak orang yang berjualan pada malam hari dengan cara berkeliling disaat kebanyakan orang lain tidur lelap atau berkumpul dalam kehangatan keluarga. Ada pedagang sate ayam madura, pedagang nasi goreng tek-tek, pedagang bajigur dan sekoteng, pedagang bakso, dan lain-lain. Mereka berjualan mulai selepas maghrib hingga larut malam, berharap masih ada orang yang masih lapar dan membeli dagangan mereka sepiring atau dua piring. Dinginnya malam, derasnya hujan bukanlah halangan untuk mencari rejeki. Bayangan anak istri yang menanti di rumah adalah semangat terbesar mengapa mereka mau berjuang keras setiap malam.

Saya teringat masa lalu ketika masih kecil di Padang. Saat malam mulai sepi, di depan rumah terdengar penjual telur asin dan telur katuang (katuang = penyu) meneriakkan dagangannya. Talua asiiiiin… talua, talua katuaaang…. talua, begitu teriakan penjual telur asin. Iba hati mendengar suaranya. Saat hujan menderu, suara penjual telur asin itu sayup-sayup sampai ditelan oleh suara air hujan.

Masih banyak orang yang tidak beruntung di luar sana. Penghasilan yang mereka peroleh setiap malam adalah riil, sebab hari itu berjualan maka hari itu pula dapat menghitung berapa keuntungan yang diperoleh. Sepuluh ribu atau dua puluh ribu rupiah yang diperoleh sudah alhamdulillah. Itulah hasil tetes keringat sendiri. Halal, dan mudah-mudahan barokah. Saya teringat dengan Gayus dan orang-orang semacam itu, begitu mudah bagi dia mendapatkan uang bermilyar-milyar dalam waktu singkat, namun sayangnya uang itu diperoleh dengan cara haram. Gayus seharusnya malu dengan pedagang bubur ayam, pedagang mie tek-tek, pedagang bajigur, pedagang sate ayam madura, pedagang telur asin dan telur katung, yang setiap malam berusaha keras mendapatkan uang yang hanya sepuluh ribu atau dua puluh ribu saja. Biarlah sedikit, yang penting halal.

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

7 Balasan ke Suara-Suara Menyayat Hati Dikala Malam Diguyur Deras Hujan

  1. Baskoro berkata:

    thanks buat sharenya, sering juga ku berfikir begitu, tapi tuk selalu membeli dagangan mereka, kadang berat juga, berfikir terlalu lama…

  2. Ardiansyah berkata:

    menyentuh sekali pak. dan di luar sana masih banyak org2 seperti tukang bubur tsb, yg terpaksa menjalani pekerjaan seadanya demi menyambung hidup…

  3. dwi berkata:

    menyayat hati, menyentuh jiwa.. paan dah gw…
    tapi ceritanya sangat menarik pak

  4. rosa berkata:

    Saya juga sering seperti Pak Rin, kasihan lihat orang jual sate pas hujan, atau beberapa orang jualan bakso chuanki di waktu bulan puasa, mereka jualan jam 1 malam. Saya sering miris, dan merasa lebih beruntung.

  5. cape berkata:

    dekat kosan saya ada tukang sate ayam yg gitu pak.kasian dengarnya,suaranya udah dipaksain teriak gitu tapi tetap aja ngga ada yg manggil buat beli.awak pengen bantu beli,tapi apa daya,jatah makan hanya 3 kali sehari,lebih dari itu ya menderita di akhir bulan,hehe.salut sama “pejuang-pejuang” seperti pedagang2 itu.

  6. jerietea berkata:

    Subhanalloh sekalie pa..tulisannya mengingatkan saya sebelum terbaring tidur, selalu terdengar suara-suara pedagang itu.Saya kadang malu dan merasa bisa jadi mereka lebih Mulia di hadapan ALLOH yang Maha kuasa karena kegigihan dan perjuangan mereka demi sesuap nasi untuk keluarga dan biaya hidup.Bisa jadi peluh keringat nya adalah penggugur dosa-dosanya.Yang insya Alloh kelak alloh yang akan mengangkat kemulyaan tuk mereka.Amien.

  7. mula berkata:

    tisu….mana tisu….gua ampe nangis…bagus tulisannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s