Jangan Rasis, Plis!

Seratusan mahasiswa asal Papua di Bandung melakukan unjuk rasa di depan kampus ITB. Mereka menuntut agar mahasiswa Kimia ITB yang menuliskan kata-kata berbau rasial di akun fesbuknya dipecat dari ITB dan menuntut ITB meminta maaf di media massa (beritanya baca di sini). Tadi siang ketika saya keluar kampus sepasukan polisi berjaga-jaga di depan kampus mengantisipasi aksi demo tersebut.

Wajar saja mahasiswa asal Papua itu marah karena suku bangsa mereka dihina oleh seorang mahasiswa, mahasiswa ITB lagi, kampus tempat saya mengajar😦 (tapi apa yang dilakukan oleh mahasiswa itu tidak ada kaitannya dengan institusi ITB tempat dia kuliah, cuma karena mahasiswa Papua itu demo ke ITB, mau tak mau ITB ikut repot juga). Ceritanya begini, dua minggu lalu Persib main melawan Persipura di stadion Siliwangi Bandung. Nah, mahasiswa ini — nggak tahu apa dia bobotoh atau bukan — melontarkan kata-kata rasis di status fesbuknya. Saya baca screenshot fesbuk yang ditampilkan oleh Detik.com, bunyinya begini : Dasar orang Papua, bisanya tantang bola pakai otot bukan pakai otak maen bolanya, gak sekolah bodoh-bodoh semua, udah item idup lagi, sialan lu Papua…!.

Sangat kasar sekali omongan mahasiswa ini. Saya saja yang bukan orang Papua dan membacanya marah, apalagi orang Papua asli tentu lebih tersinggung dan terhina. Merendahkan sebuah etnik berarti merendahkan seluruh orang di etnik tersebut. Kabarnya masalah ini sudah sampai ke Majelis Rakyat Papua dan mereka meminta kasus ini diusut. Bercanda sih bercanda, tetapi akibatnya sangatlah fatal. . Pepatah lama berlaku: mulutmu harimaumu, akan menerkam dirimu sendiri.

Masih ingat dalam benak kita pada waktu perayaan Nyepi di Bali beberapa bulan yang lalu, seorang penduduk pendatang menulis di akun fesbuknya kata-kata rasis yang menghina ummat Hindu Bali dengan menulis kata-kata yang tidak pantas. Seluruh orang Hindu di Bali dan di seluruh dunia meradang dan meminta orang tersebut diusir dari Bali.

Saya melihat status di fesbuk sering digunakan untuk menuliskan kata-kata yang asal-asalan, yang penting tampil beda, plesetan, lucu, dan aneh-aneh. Tanpa disadari terlontar ucapan yang rasis dan menghina suatu komunitas. Apakah penulis kalimat rasis itu tidak menyadari bahwa dengan cepat kata-kata di akun fesbuknya menyebar di dunia maya dan dibaca ribuan hingga jutaan orang. Apalagi masyarakat kita saat ini gampang marah, mereka bagaikan rumput kering, disulut api sedikit mudah terbakar hebat.

Torang samua bersodara, demikian kata orang-orang di Manado, sebagaimana yang saya baca ketika ada kerjaan di sana. Aceh, Papua, Bali, Minang, Ambon, Jawa, adalah bagian dari bangsa Indonesia yang besar ini. Jika Papua sampai lepas, bubarlah Indonesia ini. Jika Aceh memisahkan diri, habislah kita sebagai sebuah bangsa. Karena itu berhati-hatilah, jangan rasis, plis. Jaga mulut dan tangan dari berkata-kata yang tidak pantas.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, Seputar ITB. Tandai permalink.

11 Balasan ke Jangan Rasis, Plis!

  1. Jodhi Kurniawan berkata:

    Pihak papua tidak bisa menuntut ITB meminta maaf, karena perbuatan seorang oknum mahasiswa bukan tanggung jawab ITB sebagai institusi.

    Pihak papua tidak bisa menuntut ITB memecat mahasiswa tersebut, karena hal itu berarti intervensi terhadap sistem belajar-mengajar di ITB.

    Pihak Papua bisa menuntut mahasiswa bersangkutan ke pengadilan untuk pencemaran nama baik, karena negara ini adalah negara hukum.

    • rinaldimunir berkata:

      Setuju Jodhi, ini adalah tanggung jawab mahasiswa yang bersangkutan. ITB tidak ada sangkut pautnya dengan kasus ini. Jadi tidaklah relevan ITB dituntut untuk minta maaf sebab kejadiannya bukan di ITB dan tidak membawa-bawa nama kampus. Jangan-jangan SMA, SMP, dan SD- nya si Zul (panggilan mahasiswa tersebut) juga harus meminta maaf karena si Zul dulu sekolah di sana.

      Kata teman saya, si Zul ngomong gitu di Fesbuk sebagai pendukung Persib atau sebagai mahasiswa ITB?

  2. ImUmPh berkata:

    Sekarang pribahasa udah berubah, harusnya “Statusmu harimaumu”.😀
    Sebelum mengeluarkan pendapat lebih ditelaah lebih dalam terlebih dahulu supaya tidak menimbulkan amarah orang lain.

    Ya ampun…:mrgreen:

  3. akuputra berkata:

    Pak..ada baiknya juga ITB berbesar hati juga turun gunung untuk sekedar minta maaf agar suasana menjadi lebih dingin & adem seperti kota bandung…

  4. dwi berkata:

    yang paling harimau adalah “screenshot”
    it’s my stupid hobby.. hehehe

  5. Ping balik: makan menyehatkan « Fafadieva's Blog

  6. estimate berkata:

    saya setuju dengan anda semua bahwa ITB tidak bersalah dalam hal ini tetapi yang paling bersalah adalah individu orang tersebut dan etnisitasnya. Kenapa demikian karena etnisitas mengajarkan budaya yang masuk dan terbenam dalam jiwa raga orang tersebut sehingga jika ia melontarkan kata-kata rasis itu sama artinya berasal dari suku si rasis itu sesab sifat rasisnya sudh tertanam dalam jiwa dan raganya karena itu adalah bagian dari belahan jiwa nya.
    Jadi yang paling bertanggung jawab adalah suku si mahasiswa ITB yang rasis itu. Kalau di Kalimantan sudah melayang dia punya kepala kalau ngomong kayak gitu.
    Saya melihat fenomena bahwa orang Jawa suka menganggap dirinya paling hebat dan yang lain rendah. Kalau sudah berkuasa semua mau ditundukkinnya.
    Orang Kalimantan sudah tahu sifat jelek Jawa sehingga tinggal tunggu waktu saja kapan akan dibasmi.
    Sarawak dan Brunei serta Sabah itu sama dengan kami orang Borneo, tanpa Jawa mereka juga makmur sehingga kami di Kalimantanpun sangat yakin, tanpa Jawa Borneo akan makmur.
    Saya bicara begini karena saya juga sakit hati sering mendengar orang Jawa melecehkan orang Dayak.
    Sudahlah berada di tempat kami eh ngomongnya begitu pula. Sombongkan itu namanya?
    Kalau orang Dayak sudah marah tidak ada hukum, tidak ada HAM, tidak ada pri kemanusiaan. Sebab yang berprikemanusiaan saja tidak berprikemanusiaan sehingga prikemanusiaan itu tidak perlu karena itu hanyalah bulan Jawa saja untuk menguasai wilayah lain.
    Jadi kalau masih enak rasa nasi, jaga mulut dan sikap.

    • wineayuamanda berkata:

      aku juga sesama orang dayak, suku aku juga terlibat waktu kejadian di sampit, sampai sekarang aku pindah ke bandung pun tukang sate masih pada takut sama aku haha tapi emang bener siih orang orang di pulau jawa ini walaupun ga semuanya tapi tingkat kerasisannya lebih tinggi di banding orang orang luar pulau. jadi yaa sesama manusia tolong saling menghormati ajayaa. kita orang dayak di bandung pun sebisa mungkin menghormati warga lokal ko🙂

  7. bejo berkata:

    wajar kalau dayak marah nggak ada hukum..karena masih tinggl di hutan,,nggak usah di Kalimantan,,di Madura udah melayang kepalanya..NKRI HARGA MATI…SALAM KOMANDO

    • wineayuamanda berkata:

      wei mas belom pernah ke kalimantan yaa? ga semuanya hutan kali, bahkan beberapa bagian udah jauh lebih maju di banding bandung. iyalaah secara provinsi terkaya di indonesia haha

  8. Ping balik: Tugas Sosial Budaya Politik “Budaya Papua” | inast96

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s