Terkenang Pasar Balubur

Bagi mahasiswa ITB, ada dua pasar tradisionil yang terkenal dan mempunyai kenangan yang tidak terpisahkan dengan kehidupan mahasiswa. Itulah Pasar Simpang di Dago dan Pasar Balubur di Tamansari. Kedua pasar ini terkenal karena berada di kawasan kos-kosan mahasiswa. Di sekitar Pasar Balubur terdapat kawasan kos-kosan seperti Jl. Kebon Bibit, Jl. Kebon Kembang, Jl. Pelesiran, Jl. Taman Hewan, Jl. Tamansari bawah, dan sebagainya. Sedangkan Pasar Simpang berada di kawasan kos-kosan Jl. Cisitu (lama dan baru), Jl. Tubagus, dan Jl. Dipati Ukur, dan Jl. Sekeloa.

Pasar Balubur terletak persis di depan gedung rektorat ITB di Jl. Tamansari (di Indonesia mungkin hanya di ITB gedung rektoratnya terpisah jauh dari kampusnya. Kampus ITB di Jalan Ganesha, sedangkan rektor berkantor di Jl. Tamansari 64). Di bawah ini foto gedung rektorat ITB yang difoto dari depan pasar Balubur.

Pasar Balubur sebenarnya kecil dan kumuh, namun punya arti penting bagi mahasiswa ITB karena letaknya yang persis di depan Rektorat. Saat pendaftaran ulang belum online seperti sekarang, pasar ini ramai dengan mahasiswa yang mau beli map dan alat tulis, foto copy, cetak pas foto, dan sebagainya. Di sekitar pasar ini banyak warung makan murah. Jika malam datang, mahasiswa mencari makan malam di pasar ini karena banyak pedagang kaki lima menjual aneka makanan seperti soto ayam, ayam goreng, nasi goreng, sate, dan sebagainya. Saya yang dulu kos di Jl. Pelesiran hampir setiap hari ke pasar ini guna mengisi kebutuhan perut🙂 atau sekadar beli gorengan buat camilan belajar malam.

Ketika jalan layang Pasupati dibangun dan melewati pasar ini, maka Pasar Balubur dibongkar. Padagangnya menempati tempat penampungan sementara di tanah PDAM di jalan Gelapnyawang (sebelah Jalan Ganesha). Kumuh sekali kondisi tempat penampungan ini. Sudah kumuh, sepi lagi, tidak banyak orang yang berbelanja (lihat foto di bawah). Nasib pasar tradisionil dimana-mana begitu, terseok-seok dan diabaikan oleh pemerintah daerah yang silau dengan kehadiran pasar modern yang dibangun oleh pemodal besar.

Setelah jalan layang Pasupati selesai dibangun, maka di tanah bekas pasar Balubur yang lama dibangunlah pasar baru berbentuk mal atau plaza. Namanya bukan lagi pasar Balubur, tetapi Pusat Belanja Balubur. Tentu saja yang membangun pasar ini adalah pemodal besar. Minggu lalu pasar baru Balubur sudah dibuka untuk umum. Kemarin saya sempatkan ke sana untuk melihat-lihat seperti apa kondisi pasar yang baru ini.

Di bawah ini jalan layang difoto dari Pasar Balubur yang baru:

Pasar Balubur yang baru (saya lebih suka menyebutnya begitu ketimbang nama Pusat Belanja Balubur) ada 3 lantai dan satu basement. Bisa dipastikan pedagang lama yang menjual dagangan basah seperti sayur-sayuran, bumbu, ayam, daging, dan sebagainya akan ditempatkan di lantai basement. Nasibnya akan sama dengan pedagang di Mal Cicadas yang ditempatkan di basement. Dulu pasar (tradisionil) Cicadas ramai dikunjungi orang, tetapi sekarang setelah pasar itu dibongkar dan dibangun mal, pedagang yang ditempatkan di basement mengaku sepi pembeli.

Hmmm…pasar (atau mal) yang megah, seakan-akan dulu di sana tidak pernah ada pasar tradisionil yang menyimpan banyak cerita bagi civitas academica ITB.

Masih sepi pasarnya, kios-kiosnya masih banyak yang belum terisi. FYI, kota Bandung telah kelebihan mal. Banyak mal yang tidak laku dan sepi pengunjung, kios-kios atau toko-toko di mal itu hanya sedikit terisi oleh pedagang. Di mal Cicadas dan mal Lucky Square di Bandung Timur (dekat Antapani) misalnya, sepi pedadang dan pembeli. Nasib ex pedagang tradisionil lebih menderita lagi. Akankah pasar baru Balubur ini bernasib sama dengan mal-mal yang tidak laku itu?

Dari lantai 2 di pasar ini membentang jalan layang Pasupati dan kawasan Tamansari yang padat. Sepertinya sangat bagus jika dilihat pada waktu malam dari arena food court pasar ini.

Oh iya, dulu saya menyangka Jl. Kebon Bibit disamping pasar Balubur akan hilang karena pembangunan mal yang baru ini. Ternyata masih ada dan dipertahankan, ini fotonya (persis di samping area parkir).

Di jalan Kebon Bibit di belakang pasar Balubur ini berjejer rumah-rumah kos di gang-gang sempit yang berliku-liku bagai labirin. Lewat gang inilah saya mengambil jalan pintas ke tempat kos saya di Jalan Pelesiran. Banyak rumah-rumah kos di belakang pasar ini terpaksa dibongkar akibat pembangunan jalan layang.

Begitulah kenangan saya pada Pasar Balubur.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung, Seputar ITB. Tandai permalink.

21 Balasan ke Terkenang Pasar Balubur

  1. addie berkata:

    Saya termasuk yg punya kenangan dengan pasar ini. Saya dulu kos di Jl Pelesiran, beli kasur pertama di pasar balubur ini.

  2. ImUmPh berkata:

    Hampir tiap hari saya lewat sini.. Kebetulan saya lagi kerja di ITB. Jadi tau banget daerah dan gedung2 ini! hehehehe

    Iya… di Bandung banyak mall yang tidak efektif.
    Harusnya ga usah dibangun mall2 baru lagi, Bandung udah sesak!😀

  3. rosa berkata:

    Kan pembangunan mall banyak memberi angin buat yang berkepentingan tanpa peduli efektif atau tidak, semua orang juga dah tau itu kayaknya he he he he…….

  4. mama adi&ian berkata:

    sedih juga…bandung sejuta kenangan bakal ndak terlacak lagi situs-situsnya…
    dulu saya kos di plesiran.. kalo mau ke tempat kos kawan di kebon bibit.. ada rumus yg harus saya hafal.. masuk gang di sebelah fotocopy murah banget setia abadi (masih ada ndak ya sekarang).. setelah itu setiap ketemu persilangan gang: belok kiri.. lalu kanan.. lalu kiri.. lalu kanan dst.. selang seling kiri kanan.. lupa satu langkah aja.. tersesat deh dalam labirin itu..

    • hajid berkata:

      masih ada kok fotokopi itu.. ya tapi kondisinya engap-engapan.

      iya. balubur memang penuh kenangan. Anak SR kalo waktu TPB pasti ada gambar suasana pasar di balubur, dan itu oke dan seru banget.
      ndak kebayang saya anak SR nggambar pasar balubur baru.. ndak ada seru2nya. Standar pisan…

  5. iqul berkata:

    Salam Kenal

    hmm.. saya kos di taman hewan, tingkat pertama. Baru tahu kalau pasar balubur sekarang cuma sementara dan saya kira emang aslinya sudah kayak gitu..

    Betul sih, di Ciroyom juga gitu. Sebelum dibangun jadi Pasar Bermartabat Ciroyom ramai, sekarang justru proyek nggak selesai, si pedagang nggak mau direlokasi..huft

  6. dedy berkata:

    kasian pedagang kaki limanya gak tau pada kemana,tapi yang pasti balubur sekarang lebih mewah dan keren karena ada mall Baluburnya………….

  7. merin berkata:

    Kaget banget pas liat dari jalan layang, ada mall di balubur. Saya dulu ngekost di kebon bibit, dah kegusur ngga ya…itu tukang batagor yg jual malem2 di depan pasar masih jualan ngga..

  8. thomasalpha berkata:

    jadi ingat jaman2 kuliah di ITB, makan malam di depan pasar balubur, ada 1 nasi gorengan yang lumayan enak + banyak sampai kasih nama nasi goreng kemeng(dalam bahasa indonesia = capek) kalau mengunyahnya hehehehehe

    nice info

  9. Sonny Jos berkata:

    Hemmm…setuju banget,bandung udah kelebihan mal,kasian banget banyak mal yg ngap-ngapan kembang kempis….kmrin minggu gue puter-2 ngantar saudara keliling nyari tempat buat usaha, mulai dr MTC,BTM,Lucky square gue kunjungi…..tp smuanya gk ada yg recomended…mal nya sepi semua,kios-2 pada tutup dan pengunjungnya bs dihitung dng jari….hemm hari minggu aja sepi banget apalagi hari-2 biasa……………….

  10. andi berkata:

    bener sepiiiii mall nya, informasi dari marketing mall macem macem…… ada yg bilang hanya untuk di jual harga kios per m2 42 juta, rata rata 10,5 m2 bayar dulu DP nya 30 %, sisanya dicicil 12 bulan katanya tanpa bunga, hanya sebagai hak pakai selama 30 tahun hi hi, ada lagi yng bilang bisa di sewa, pake deposit 300 ribu aja, perbualan hanya bayar service charge 25.000 per m2., diluar listrik dan air. mana yang beneeer nih, saking sepinya kali dibanting aja harga sewanya……..siapa mau coba dagang disana mari silahkan!!!

  11. Ping balik: Daerah Kebon Bibit dari Atas Pasar Balubur | Catatanku

  12. ikhwanalim berkata:

    saya jadi pengen tau pak. sebenarnya ada pasar ga siy dulu, sebelum tahun 2005 di bawah jembatan pasopati? yang sekarang ditempati sama pusat belanja balubur?

    kalau tidak salah dengar, pasar itu kebakaran. dan para pedagang di pindahkan di sisi barat jalan gelap nyawang. setelah pusat belanja balubur jadi, mereka dipindahkan ke pusat belanja balubur. betul tidak, pak?

    • rinaldimunir berkata:

      Memang benar, dulu memang ada pasar tradisionil di sana, namanya Pasar Balubur, persis di depan Rektorat dan lokasinya tempat mal Balubur sekarang.

      Pasar tsb tidak pernah terbakar, namun karena ada proyek jalan layang, pasar Balubur dihancurkan dan pedagangnya direlokasi ke Jl. Gelap Nyawang.

  13. adi wali berkata:

    saya dulu kos di jln kebon bibit itu, jika sudah dekat habis bulan kita tinggal masuk sedikit gang , maka kita akan menemukan tempat makan yang murah meriah dan nasinya yg banyak….sekarang ada ngak yah…( semoga ibu yg jual warung murah) yg banyak membantu mahasiswa2 yg kehabisan uang saat habis bulan sudah jadi makmur sebelum dibongkar jadi jalan layang

  14. arzul berkata:

    ada yang tau gak..tukang jual batagor yg di kbn bibit skrg pindah kemana? mantab tu batagornya

  15. ester berkata:

    hemmm…sampe gak tahu lagi dimana rumah tempat aku dilahirkan..38 thn yng lalu…balubur..oh balubur…

  16. Sekarang pasarnya pindah di basement pak, jadi atasnya kaya mall tapi di bagian bawah jualannya kaya pasar tradsional. Tapi memang sepi sih

  17. Indra Pratama berkata:

    Kalau saya liat via Google Earth, ujung jalan lama Kebon Bibit yang bermuara di depan gedung rektorat ITB memang menghilang karena digusur buat pembangunan Baltos ( ex Pusat Belanja Balubur ) dan ujung Jalan Kebon Kembang pada awalnya dia cuma gang sempit. Sekarang, jalan Kebon Bibit memang udah dibikin yang barunya yaitu lewat terowongan basement nya Baltos dan menyatu dengan Jalan Kebon Kembang, jadinya ujung Jalan Kebon Kembang (depan toko Anam) dibuat jadi lebih lebar.

  18. fired berkata:

    bikin mall di bandung timur dong. ujungberung dan arcamanik. tapi yg ada bioskop, bilyard dan karaoke keluarga. jangan tanggung seperti lucky square yg akhirnya sepi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s