Nasib Kota Pelesiran

Beginilah kota Bandung pada saat long weekend, bertepatan dengan libur hari raya Waisak. Macet sangat parah. Ratusan ribu kendaraan dari arah Jakarta menyerbu kota ini. Susah sekali bergerak di pusat kota, dimana-mana macet dan banyak kendaraan. Hari ini saya datang ke kampus karena ada sedikit keperluan, eh… ternyata mulai dari kawasan Dago hingga jalan-jalan di sekitar kawasan kampus ITB susah sekali melewati kendaraan yang terjebak macet. Jalan Ciung Wanara yang sehari-hari sepi mendadak susah dilalui tadi siang (gambar di bawah).

Pada saat yang sama ribuan siswa SMA dari seluruh Indonesia (terutama dari Jabotabek) baru saja keluar dari kampus sehabis mengikuti ujian masuk ITB (USM-PMBP). Orangtua mereka menunggu di luar dengan memarkirkan mobilnya di jalan-jalan yang sempit itu. Meskipun ITB turun peringkat pada sususan world top university yang dirilis baru-baru ini, hal itu tidak menyurutkan minat siswa-siswa SMAi untuk mencoba berjuang masuk ITB. Itu artinya kepercayaan masyarakat kepada ITB tidak berubah hanya karena peringkat yang tidak ‘adil’ itu (disebut tidak adil karena lembaga pemeringkat menyamaratakan universitas umum dengan institut yang spesifik).

Oke, kembali kepada masalah kemacetan tadi. Di Bandung ada Jalan Pelesiran yang sekarang menjadi kawasan kos mahasiswa. Jalan ini kecil saja dan agak menurun. Letaknya di depan PDAM di Jalan Tamansari. Asal mula nama ini karena di dekat jalan ini ada Kebun Binatang Bandung. Ke bonbin inilah warga indo-Belanda dan warga Bandung zaman dulu bergi berekreasi alias jalan-jalan alias pelesir. Pelesir artinya pergi bersenang-senang. Hingga hari ini kawasan kebun binatang yang terletak di sebelah kampus ITB tetap menjadi kawasan pelesir bagi warga menengah ke bawah.

Begitu pula kota Bandung saat ini, menjadi tempat pelesir warga Jakarta. Tujuan mereka ke Bandung apalagi kalau bukan untuk makan dan belanja. Kalau wisata alam kan hanya itu-itu saja, tetapi kalau soal makanan memang kreativitas orang Bandung tidak habis-habisnya, dan itulah yang membuat orang Jakarta tidak pernah bosan datang ke sini. Biarpun jalan di Bandung sudah bolong-bolong dan banyak yang rusak, mereka nggak jera datang. Dari sisi ekonomi kehadiran wisatawan Jakarta itu ke Bandung menggerakkan sendi-sendi ekonomi kota, mulai dari tempat penginapan, restoran, rumah makan, pedagang pakaian, pedagang oleh-oleh, hingga pedagang makanan. Negatifnya hanya satu yaitu kemacetan yang parah itu. Itulah menu orang Bandung pada saat akhir pekan, terutama pada saat long weekend ini.

Pada masa-masa yang akan datang begini teruslah nasib kota yang cantik ini setiap akhir pekan. Kota yang didesain Belanda hanya untuk 800 ribu penduduk, sekarang sudah dipadati oleh 2 juta jiwa, dan pada akhir pekan mungkin bisa mencapai 3 juta jiwa.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

9 Balasan ke Nasib Kota Pelesiran

  1. Zulfikar berkata:

    Long weekend + USM ITB. Lengkaplah sudah Pak. Hahahaha

    Kemarin ini jam 3 saya baru pulang dari jalan sunda. Tamansari dan Juanda sudah kayak tempat parkir sahaja. Mobilnya ga jalan2 >..<

    Akhirnya saya muter dan ke arah dipatiukur. Beruntung ke arah sana tidak begitu macet.

  2. ibu koko berkata:

    … Jalan Pelesiran.. khususnya nomer 4.. sudah ‘mencetak’ 5 orang doktor… cewek semua..😉

  3. Zulfikar Hakim berkata:

    aduh iya… Salah baca >.<

  4. Ping balik: makan menyehatkan « Fafadieva's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s